Episode 4 - Eksplorasi Jalur Spiral



Rabu, 27 April 2051

Serangan pedang Noel berhasil menusuk <Burny >, monster cairan padat kecil merah berjambul oranye. Garis hijau yang dikenal sebagai HP bar1 di atas kepala monster itu turun sekitar 65%. Garis itu adalah ukuran nyawa untuk setiap makhluk yang berada di dunia ini, baik manusia ataupun monster. Jika habis, maka makhluk itu akan pecah, lalu lenyap begitu saja.

“Nggak bisa one-hit kill.

Sambil menggerutu dalam hati, wajah Noel menunjukkan ekspresi kekecewaan. Bagaimana tidak? Monster yang sedang dihadapinya saat ini adalah monster berjenis slime, monster menyerupai bola tanpa kaki dan tangan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di game RPG manapun, slime adalah salah satu jenis monster pertama yang akan ditemui para pemain dan dikelompokkan sebagai salah satu monster terlemah.

Ada sembilan <Burny> yang masih memiliki HP penuh, sepuluh dengan monster yang tadi ditusuknya. Mereka bergerombol pada sisi depan Noel dan bersiap untuk mengeroyokinya. Berwajah panik, dia memutuskan untuk mundur dan mengambil langkah seribu, keluar dari tempat itu.

Dalam dunia virtual, pemain tidak bernafas. Meski Noel terus berlari kencang sepanjang kurang lebih 200 meter, dia terlihat santai. Jika hal serupa terjadi di dunia nyata, maka Noel akan terlihat ngos-ngosan. Melihat kondisi ini, dapat disimpulkan bahwa dalam situasi normal pemain tidak dapat merasakan lelah.

"Untung selamat." Tangan kanan si pengguna pedang tipis bertepi satu, membentuk segitiga siku-siku itu menyentuh dadanya sambil menutup mata. Dia tepat berdiri di samping salah satu tiang sebuah gapura batu seukuran raksasa. Puncak di atasnya terlihat dari bahan kayu jati dan menghubungkan kedua tiang itu dengan bentuk menyerupai pelangi. Tulisan Mount Liq berada pada ukirannya, tepat di tengah-tengah.

Melihat kebelakang, sebuah gunung gersang kecoklatan dengan jalan landai bergaris-garis membentuk spiral dari dasar gunung sampai puncak. Terdapat bebatuan yang terjal dan menjulang tinggi disekitarnya. Semakin diperhatikan, tanah putih dari jalannya membuat gunung itu seperti dihiasi oleh krim kue. Terlihat banyak kelompok orang dengan pakaian serupa dengannya masuk dan keluar di sekitar gapura, menuju gunung itu. Tempat ini menjadi adalah satu-satunya jalan masuk ke sana.

Tadi adalah pertama kalinya Noel memasuki zona ekplorasi. Sebenarnya, dia telah diminta menunggu oleh Isal, dipanggil dengan nama Tempest dalam AW. Mereka berdua berencana untuk mencari pengalaman, material monster, dan Zen, mata uang di Historia, sampai ke puncak gunung. Akan tetapi dia salah melihat waktu dan malah datang lebih cepat setengah jam dari waktu pertemuan. Iseng mengisi waktu, dia memasuki tempat itu sendirian.

"Yo, lama menunggu?"

Suara itu datang dari arah berlawanan dengan arah zona eksplorasi. Dia tidak berjalan sendirian. Di sampingnya adalah seorang wanita cantik dengan rambut hitam lurus sampai pinggang. Tingginya sama dengan dahi milik Tempest. Noel hanya memikirkan satu pertanyaan, dan itu adalah hal yang lazim terpikirkan jika melihat sepasang muda-mudi berjalan bersama.

"Pacarmu?"

Pertanyaan itu dipicu dengan fakta bahwa avatar pemain dibuat berdasarkan preferensi wujud asli di dunia nyata. Tidak akan ada laki-laki yang menjadi perempuan ataupun sebaliknya karena dengan dasar penciptaan avatar serupa, tidak ada pemilihan gender. Jika ini adalah game MMORPG biasa, wanita asing yang muncul di hadapan mereka saat ini, belum tentu adalah seorang wanita.

Tempest langsung menggelengkan kepalanya. Wanita itu sedikit mengambil jarak dari orang yang menemaninya dan melihat Noel dengan tatapan tajam. Noel menyadari kalau terkaannya tidak hanya salah, karena dia telah menciptakan situasi canggung untuk mereka bertiga.

"Dia orang baru yang sama seperti kita. Ngomong-ngomong, dia juga bersama kita dalam insiden kemarin dulu."

Noel teringat kembali dengan apa yang terjadi pada mereka dua hari yang lalu. Kala itu, mereka semua mati terkurung di dalam api ciptaan seorang pemain nakal dan tidak bertanggung jawab. Korban pada saat itu ada sekitar dua puluhan. Saat itu adalah pembantaian masal dalam sebuah sangkar api. Jika berkaitan, wanita ini adalah satu korbannya.

“Tolong... hal itu jangan diungkit lagi.”

Tangan si wanita terlihat bergetar saat Tempest menyebut kejadian itu. “AAAH! Ma-maaf,” sambil menengadahkan kedua telapak tangannya ke arah perempuan cantik itu.

“Sekarang, aku hanya ingin membiasakan diri dengan aturan main game ini. Invite party dulu.”

Sebuah layar bertuliskan 'apakah kamu menerima undangan Tempest?' dijawab dengan menekan ya. Tampak di kiri atas pandangannya, ada tiga nama; NOEL (Melee), Tempest (Caster), dan Windy (Ranger), nama wanita itu.

Kata yang berada di samping masing-masing nama mereka adalah tipe bertarung. AW tidak menggunakan aturan penentuan sistem kelas seperti game-game RPG lainnya. Skill dan kelebihan masing-masing tipe bertarung telah dijelaskan dalam manual sembilan poin explorer pemula.

1. Pemain akan memilih satu dari tiga tipe bertarung dominan (Melee, Ranger, Caster). Masing-masing tipe bertarung akan diberikan kelebihan tersendiri.

2. 'Melee' adalah tipe bertarung yang dikhususkan untuk pertarungan jarak dekat. Jika memilih tipe ini, pemain akan diberikan skill pasif berupa 'gerak cepat' atau 'ketahanan tubuh'.

3. 'Ranger' adalah tipe bertarung yang dikhususkan untuk pertarungan jarak jauh. Jika memilih tipe ini, pemain akan diberikan skill pasif berupa 'panduan tembak'.

4. 'Caster' adalah tipe bertarung yang dikhususkan untuk menggunakan sihir. Jika memilih tipe ini, pemain akan diberikan kebebasan lebih tinggi dibandingkan tipe lain dalam hal 'pelafalan mantra'.

5. Sistem skill adalah custom-based. Pemain menciptakan skillnya sendiri dan itu termasuk dengan nama dan deskripsinya. Jika deskripsi tidak dapat diterima (tidak masuk akal atau berpotensi curang), sistem tidak akan mengesahkan skill bersangkutan.

6. Untuk Melee dan Ranger, cara menciptakan skill adalah dengan merekam pergerakan yang telah dilakukan. Untuk Caster, skill diciptakan dengan menggunakan deret baris kata sambil membayangkan imej yang akan diciptakan. Kekuatan skill bergantung pada teknik pelafalan, pemilihan kata, dan imej konsep.

7. Melee dan ranger dapat mempelajari skill bertipe caster, tapi hanya satu elemen dan skill bersangkutan berupa buff2 dari elemen dasar terpilih (api, air, tanah, angin, cahaya, kegelapan).

8. Untuk caster, pemain tidak disarankan mempelajari skill dengan efek yang benar-benar berlawanan (elemen dasar yang bertolak belakang, efek baik atau buruk, serangan dan penyembuhan, dll). Jika menguasai elemen/skill khusus, maka elemen dasar tak dapat digunakan, kecuali jika elemen khusus merupakan gabungan dari elemen dasar tertentu.

9. Skill hanya akan aktif jika namanya disebutkan terlebih dahulu.

"Ngomong-ngomong, kalian berdua mestinya berkenalan dulu."

Terkejut dan bingung menghiasi wajah NOEL. Seumur hidup, dia tidak pernah memulai perkenalan dengan seorang wanita. Ditambah lagi, dirinya tidak merasakan secara langsung bagaimana rasanya bergaul secara normal dengan orang lain dalam 6 tahun terakhir. Meski Tempest adalah teman pertamanya, Noel hanya sekedar mengikuti arus percakapan. Dia dipilih menjadi teman oleh Tempest, bukannya memilih.

"Anu...,” kedua tangan Noel menyatu dan mengepal di depan pinggang. “ini adalah pertama kalinya aku berkenalan dengan wanita,"

"Terus? Ngga penting amat," balasnya sambil tertawa. Setelahnya, Tempest merangkul Noel, lalu mengarahkan tangan kanannya untuk membuat pose jabat tangan. "Gini aja kan bisa."

Windy tidak membalas pose itu. Dia hanya membungkukkan badan, sama seperti saat Noel meminta maaf kepada Tempest di Aurora's Edge.

"Salam kenal Noel, Namaku Windy. Namamu sudah kulihat di sisi kiri pandanganku."

"Ah...." Noel ikut membungkukkan badan setelah melepaskan diri dari rangkulan Tempest. "Sori sori... namamu juga udah kuliat sejak tadi."

"Kalian... ada ciri-ciri jodoh."

Mereka berdua saling memalingkan wajah ke arah Tempest dengan tatapan sinis.

"Hah?" Balas mereka bersamaan dengan nada rendah.

Melihat mata mereka, Tempest mundur selangkah sambil menggerakkan kedua telapak tangannya selaras bahu.

"Cuma bercanda kok, hehe."

"Jadi, kapan kita mencobanya?"

Meski masih menjadi orang asing, Windy menanyakan hal itu kepada kami dengan ekspresi yang berbinar-binar. Noel dan Tempest jelas tidak menduga, karena sejak awal yang terlihat dari dirinya adalah seorang gadis yang pendiam dan pemalu. Jangan menilai buku dari sampulnya. Pepatah itu sangat pas dengan keadaan ini.

Tak perlu kata-kata lagi. Melihat Windy yang telah duluan melalui gapura itu, Noel dan Tempest mengikutinya dari belakang dan bersama-sama memulai eksplorasi pertama mereka dalam sebuah party.


***


Setengah perjalanan telah berhasil ditempuh. Mereka terus-menerus dihalangi oleh komplotan slime, tapi semua itu tidak berarti apa-apa. Pada awalnya, mereka bertiga mengalami masalah karena belum pernah bekerja sama, akan tetapi Noel dan Isal berhasil menemukan cara agar mereka bisa menghabisi para monster itu dengan mudah. HP ketiganya masih terlihat penuh.

Noel bergerak ke arah sebuah kelompok monster, lalu menebas salah satunya sekali. Walau tidak cukup untuk membunuh monster itu, sudah lebih cukup bagi Noel mengalihkan perhatian kelompok untuk mengejarnya sambil bergerak ke arah kelompok lain. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang dalam radius kurang lebih 20 meter. Apa yang dilakukan Noel adalah metode klasik game MMORPG bernama mob gathering.

Kemudian, Isal mengarahkan kedua telapak tangannya lurus ke depan.

"Wahai penguasa angin, atas panduanku, menerjanglah! Sayatilah musuh melalui anak-anakmu, membelah jiwa dan raga <<Aero Vector>>.”

Di hadapan Isal, angin termaterialiasi menjadi puluhan wujud padat mini menyerupai bumerang transparan. Benda-benda itu bergerak kencang secara linear, menerjang ke arah Noel yang sedang bergerak ke arah sang caster bersama dengan gerombolan <burny>, <squirty>, <groundy>, dan <windy> di belakangnya. Tepat sebelum terkena serangan, Noel sedikit bergerak ke samping dengan 'gerak cepat' miliknya.

Sebagian besar para slime teriris dan terbelah menjadi potongan-potongan kecil. Tubuh dari HP bar mereka yang telah habis berubah menjadi butiran-butiran merah kecil, berterbangan sesaat, kemudian menghilang. Mayoritas dari mereka yang masih bertahan adalah <windy>, slime berwarna hijau dengan tato badai tornado pada kedua samping bibirnya.

Berikutnya, Noel telah memposisikan tangan kirinya sedikit miring dengan ujung pedang hampir menyentuh jari-jarinya. Fokus pandangan sang pengguna pedang sesuai dengan arah senjata miliknya, mengarah lurus ke depan para monster yang sedang berada dalam kondisi stagger3.

<<Instant Thrust>>.

Sistem mengambil alih tubuh Noel. Pedangnya diarahkan ke depan dengan tangan kanannya, dan dengan dorongan kuat dari kaki kanan, dia telah tiba di sisi seberang mereka, dengan cahaya garis hitam merekam arah jejak gerakan pedang. Menekan momentum, dia membalikkan badan, mencodongkan diri sambil menekuk kedua sendi lututnya.

Jika masih ada monster yang sanggup bertahan, HP mereka hanya tersisa sedikit. <<Instant Thrust>> kedua akan menyelesaikan semuanya.

Terakhir, mereka bertiga mengumpulkan benda dan material dari monster yang telah dikalahkan. Tidak seperti dunia nyata, cukup disentuh dengan jari, maka benda tersebut akan menghilang dan masuk ke dalam kantong data bernama inventaris. Untuk Zen, otomatis akan masuk ke dalam kantong anggota party setelah dibagi rata oleh sistem.

Strategi itu dilakukan secara berulang-ulang. Pada dasarnya, hanya itu satu-satunya rencana para trio untuk menuju puncak akibat mereka tak memiliki persiapan sama sekali. Modal mereka hanyalah senjata dari quest pemilihan tipe bertarung, skill yang baru-baru ini mereka ciptakan, dan semangat 45.

Meski bertiga, ketika memasuki fase pertarungan, hanya dua orang yang bertarung. Windy sekedar berdiri di belakang Tempest, menonton pertarungan mereka berdua dan ikut memanen hasil dari mengalahkan para monster. Tak tahan lagi, Noel menunjukkan kekesalannya.

"Jangan mentang-mentang cewek, lantas tidak melakukan apa-apa."

Bukannya sadar diri dan meminta maaf atas tingkahnya, dia membalas ucapan itu dengan sikap santai.

"Aku kan baru pertama kali main game, jadi aku nggak tahu. Makanya aku cuma melihat."

"Alasan!" Suara NOEL agak meninggi. "Kami juga sama-sama pemain baru. Bantu kami atau keluar party, PILIH!" Ancamnya.

"Sudah kukatakan aku nggak tahu apa-apa. Masa nggak ngerti juga?"

"Kalau gitu tanya-tanya! Jangan cuma diam saja."

"... Nggak tahu mau nanya apaan."

"Kalau inisiatif pasti ada."

"STOP BERDRAMA RIA!"

Suara Tempest yang menggelegar, menghentikan perdebatan NOEL dan Windy. Wajah mereka terfokus menuju sumber suara.

"Windy kan udah bilang kalau dia nggak tahu. Masa masih maksa? Kan jelas kalau Windy tidak ingin mengacaukan kerja sama kita."

Noel menunjukkan ekspresi mengeluh sambil menggaruk-garuk rambut di atas daun telinganya."Tapi..."

"Dari tingkahnya, kamu pasti sadar kan kalau AW adalah game pertamanya?" Potong Tempest.

Terlihat Windy sedang tertawa kecil menyaksikan dirinya diberikan nasehat oleh Tempest. Tentu saja Noel tahu, tapi tetap kesal akibat tingkahnya. Tidak peduli laki-laki ataupun perempuan, ketika mereka menyandang nama sebagai seorang gamer, mereka harus melakukan sesuatu ketika bermain. Jika tidak, mereka hanyalah seorang leecher, sekedar numpang tempat orang lain tanpa melakukan apapun.

Selesai berbicara dengan Noel, Tempest mengalihkan pandangannya ke Windy. "Untuk Windy, yang dikatakan Noel ada benarnya. Kita sudah setengah jalan, mestinya kamu udah terbiasa dengan pergerakan kami. Akan selalu ada yang namanya langkah pertama. Kalau ada kesalahan kita perbaiki sama-sama."

Mendengar hal itu, Windy hanya menundukkan kepalanya. Noel mulai merasakan perbedaan sikap terhadap dirinya dan Isal dari tingkahnya saat pertama kali bertemu di dasar gunung, kelakuannya saat kami bertarung dan sikapnya saat diceramahi oleh Tempest. “Mungkinkah? Tapi itu bukan urusanku,” pikirnya. Masih menundukkan kepalanya, Windy mengalihkan pembicaraan.

"Sebenarnya… ada yang membuatku terganggu sewaktu kalian membasmi monster."

"Hm? Katakan saja." Balas Isal dengan senyuman

"Pasti soal namamu dan nama salah satu monster disini." Tebak Noel. Dia telah menyadarinya sedari tadi.

"Iya, seputar namaku dan nama monster itu. Aku jadi kecewa dengan nama yang kupakai."

Maksudnya? Noel terheran. Kenapa merasa terganggu hanya karena namanya sama dengan salah satu monster? Dia benar-benar tidak mengerti dengan perasaan wanita yang berada di hadapannya saat ini. Akan tetapi, dari balik kebingungannya masih ada satu hal yang bisa dijelaskan oleh Noel.

"Kecewa? Namamu yah namamu, nama monster itu yah nama monster itu."

Tidak hanya Windy, Isal juga tidak mampu menangkap maksud perkataan Noel.

"Kamu menggunakannya karena kamu menginginkannya kan? Apa kamu tidak merasa senang saat memilih nama itu? Aku tidak tahu darimana nama itu berasal, tapi kuingatkan satu hal. Tetap bangga dengan apapun yang telah kamu pilih, bahkan jika itu adalah sebuah nama."

Apa yang diungkapkan oleh Noel tidak diucapkan untuk menggurui Windy, tapi sebagai wujud kekesalan dirinya karena tak mampu memahami perasaan orang lain, apalagi wanita. Baginya, mereka seringkali meributkan hal tidak berarti, seperti membicarakan kehidupan pribadi seorang artis, menggosipkan seseorang, mengeluh soal pilihan-pilihan kecil, apapun selama itu mengganggu perasaan mereka. Tentu saja tidak semua. Tapi secara umum, itulah yang terlihat dari matanya.

NOEL membalikkan badan, memperlihatkan punggungnya yang ditempeli pedang tersarung menyilang kepada mereka berdua. "Sebelum monster tadi muncul lagi, lebih baik kalau kita melanjutkan perjalanan," ujarnya mengingatkan. Tempest dengan segera bergerak ke samping NOEL.

“Windy? Yok,” ajak Isal. Kemudian, dua laki-laki itu berjalan bersama. Windy yang berada di belakang mereka terus-menerus menatap ke arah Noel semenjak tadi.

"Kenapa juga yah aku merasa terganggu?" Ucapnya dengan suara kecil, diakhiri dengan sebuah senyum samar.


Catatan kaki:

1. Ukuran nyawa seseorang dalam game. HP sendiri adalah singkatan dari Health Point.

2. Efek dukungan. Secara umum memperkuat, mempercepat, dan/atau mempernyaman hal tertentu.

3. Kondisi dimana korban sebuah serangan tak dapat melakukan apa-apa.


Catatan pengarang:

Semoga update kali kembali memuaskan pembaca. Kalau mengikuti dari cerita sebelumnya, ada bagian cerita yang tidak saya sentuh secara mendalam. Ada yang tahu?

Minggu depan, penulis akan memperlihat peta zona awal untuk dari eksplorasi game. Bukan peta dunia ya, soalnya ada potensi spoiler berat.

Di kolom komentar akan ada contoh model dari monster dalam cerita ini. Sengaja tidak saya masukkan karena bukan milik saya. Takut dituduh plagiat, soalnya topik ini lagi sensitif-sensitifnya.

Salam Penulis.