Episode 3 - Ajakan (2)


Rondo adalah kota ciptaan pertama, sekaligus menjadi kota asal muasal kemunculan ras asing bernama manusia di Historia, tanah petualangan. Kota ini berdiri di atas tanah tempat terjadinya legenda perang 777 tahun antara manusia dengan para monster, atau ras non-manusia. Salah satu bukti terjadinya perang itu adalah fenomena endless night, yang kemudian menjadi julukan kota ini, akibat ulah sihir ekstrim dari monster jenis undead, penyebab tidak adanya kehadiran sinar mentari. Sebagai kota asal, Rondo telah beradaptasi menjadi sebuah tempat untuk memandu kemunculan manusia-manusia yang baru tercipta. Memiliki daya tampung sekitar 8 juta jiwa, Rondo sekaligus menjadi kota ciptaan manusia terbesar sete--


"Oi Noel, kamu pakai nama asli untuk main game?"

Sambil duduk dengan pose melebarkan kedua lengannya, Noel sedang membaca sebuah deskripsi setelah mendapatkan cara bagaimana mengaktifkan menu dalam dunia game yang bernama Historia sambil melakukannya di atas bangku panjang berbahan kayu; katakan saja begitu karena semuanya adalah rekaan sekumpulan data poligonal. Dia ditegur oleh seseorang yang sudah ditunggunya sejak tadi. Dengan wajah kesal, Noel membalas ucapan orang itu dengan nada sedikit mengejek setelah memilih 'close menu' yang merupakan tanda silang pada bagian kanan atas, mengakhiri sesi bacanya.

"Iya. Masalah?” Tatapan Noel menajam. Wajahnya mendongak, menatap lawan bicaranya. “Ngomong-ngomong Sal, kok lama? Kan cuma isi nama," ujarnya kesal, walau sambil menyingkat nama Isal untuk pertama kali. Supaya terlihat lebih akrab, menurutnya.

Warna muka Isal berubah merah. Noel mendadak heran dengan perubahan ekspresinya yang begitu tiba-tiba. Dia tak menyangka bahwa orang yang sudah meneriakkan kebanggaannya sebagai seorang lolicon di hadapan para teman seangkatan… masih dapat merasakan malu.

Isalmembungkukkan badan untuk menyamakan ketinggian. Wajah mereka berdekatan.

"Anu... di sini, namaku itu Tempest. Tolong jangan panggil aku dengan nama asliku apalagi kalau sedang berada di tempat umum." Bisiknya sambil merapatkan satu jari telunjuk ke bagian bibir, pertanda untuk mengecilkan suara. "Tadi aku lama soalnya aku kebingungan memilih nama yang bagus."

Noel teringat satu waktu saat dia sedang bermain sebuah game online menggunakan nama Kenshin. Kala itu, dia merasa ada kebanggaan tersendiri ketika memakai nama itu, karena terasa keren dan heroik. Selain itu, ketika seseorang menegur di chat dengan menggunakan nama aslinya, dia tiba-tiba merasa terganggu, meski hal itu bukanlah sebuah aib. Sepertinya, perasaan dirinya ketika itu kurang lebih sama dengan yang dirasakan oleh Isal sekarang.

"Oke deh Tem... pest," balas Noel dengan ragu-ragu.

Keraguan-raguan itu bukanlah tanpa alasan. Berbeda dengan mengetik nama ataupun menggunakan voicechat saat sedang bermain sebuah game MMORPG, dia mengucapkan nama itu dengan bibirnya di hadapan orang itu, nama yang sangat tidak biasa jika digunakan dunia nyata. Meski Noel telah terbiasa dengan atmosfir game, mengalaminya secara langsung dan memainkan sebuah permainan dari balik layar adalah dua hal yang berbeda.

Teringat kembali dengan ucapan Isal, Noel menanyakan alasan yang menjadi penyebab dia menemaninya memasuki AW.

"Bagaimana dengan alasan ketiga?"

"Ikuti aku," balasnya setelah kembali berdiri tegak. Noel dengan segera beranjak dari tempat duduk lalu berjalan di belakang Isal, meninggalkan tempat 'terciptanya manusia' di Historia bernama Dimensional Monument, bangunan berupa tiang hitam raksasa yang dikatakan sebagai 'koordinat perjanjian' oleh NPC robot berkepala piring terbang.

Apa yang sedang mereka tempati saat ini adalah sebuah kota besar berciri fantasi, bercampur nuansa abad pertengahan; Bangunan, rumah-rumah, dan jalan-jalan yang terbuat dari batu dan kayu terlihat telah disusun dengan perencanaan yang matang. Barisan panjang cahaya lampu dari batu berbentuk bintang, melayang setinggi tiga meter di pinggiran jalan. Melihat ke langit, Noel melihat puluhan orang terbang dengan cara yang berbeda. Ada yang menggunakan karpet, sapu, pegasus1, dan gryphon2. Ada juga yang terbang tanpa menggunakan alat atau hewan khusus.

Padahal ini hanya ciptaan dari poligon-poligon data. Tapi tetap saja, dibandingkan dengan dunia nyata, berada di sebuah tempat berlatar medieval memberikan kesan yang tidak biasa, meski hal ini hanyalah sebuah ilusi mimpi.

Mereka berhenti di depan sekumpulan pilar berbahan kristal biru terang. Pilar-pilar tersebut membentuk sebuah lingkaran dengan alas garis cahaya melingkar.

"Kita akan pergi ke tempat yang akan kutunjukkan melalui crysport ini." Sambil menunjuk sebuah lingkaran bergaris cahaya dalam sekumpulan pilar.

Tidak paham, Noel menunjukkan ekspresi bingung, membuat Isal menambahkan penjelasannya.

"Kita akan berteleportasi."

Anggukan Noel menandakan bahwa dia telah mengerti situasinya. Mereka akan bergerak secara instan menuju tempat tujuan. Rondo memang kota yang sangat besar. Karena itu, jika tidak ada teleportasi, waktu yang dimiliki untuk memasuki AW hanya akan habis untuk berjalan, bahkan tidak cukup.

Mereka berdua berhenti di tengah garis cahaya lingkaran. Masing-masing mendapatkan layar menu mereka terbuka dengan tulisan 'pilih tempat yang akan akan dituju'. Di bawah tulisan itu membentang sejumlah nama tempat untuk dipilih.

"Pilih Aurora's Edge."

Mengikuti urutan kamus, sangat mudah untuk menemukannya. Noel dan Isal masing-masing menekan tulisan itu dengan telunjuk kanannya. Tubuh mereka berdua langsung dibaluti dari bawah ke atas dengan cahaya biru terang. Pandangan mereka berubah menjadi biru untuk sesaat. Saat pandangan mereka kembali normal, terkecuali ruang teleportasi dan sekumpulan pilar biru terang, apa yang terlihat selanjutnya adalah tempat yang berbeda.

Sebuah lembah, lebih tepatnya ujung lembah. Tanahnya dilapisi oleh rumput-rumput biru pendek, menghasilkan titik-titik cahaya. Angin bertiup sepoi-sepoi. Di belakang terdapat sebuah hutan yang terdiri dari berbagai tumbuhan dengan daun kebiruan. Terdapat banyak orang di sana. Kebanyakan duduk beralaskan tikar, walau sebenarnya mereka tidak perlu takut merasa kotor karena semua hanyalah virtual; Tidak akan ada debu atau kotoran yang akan melengket ke tubuh dan pakaian. Di atas semua itu, pemandangan lurus ke seberang lembah adalah sesuatu yang mungkin menjadi penyebab banyaknya orang berkumpul di sini.

Tujuh warna bergerak kesana kemari seolah sedang bermain-main. Warna-warna itu membelah langit menjadi dua, menemani sang malam. Bagian bawahnya terlihat seperti gorden yang sedang tertiup dan bagian atasnya adalah langit bertabur bintang.

Mulut Noel sedikit menganga dan posisi kedua alis terangkat. Perasaannya dipenuhi decak kagum dengan kreatifitas tim pengembang game atas karyanya menciptakan background seperti ini. Isal melihat ekspresi itu dengan senyum tipis, lalu mulai mengutarakan maksudnya.

"Yang kamu lihat saat ini… adalah penyebab alasan ketiga."

"Penyebab?"

"Pemain dalam AW, diklasifikasikan menjadi menjadi dua jenis kelompok, yaitu visitor dan explorer. Visitor bisa dikatakan sebagai kelompok turis dan explorer adalah gamernya."

"Maksudnya?" Noel bertanya lebih lanjut seputar dua istilah itu. Dia belum pernah mendengar istilah seperti itu dalam game online. Sangat jelas bahwa dua istilah itu hanya akan ditemukan dalam AW.

Setelah menyandarkan punggungnya pada sebuah batang pohon sambil berdiri, Isal lanjut menjelaskan. "Visitor hanya memasuki AW untuk bersantai dan menikmati berbagai macam tempat wisata ekslusif dalam game. Dalam kondisi tertentu, jika tempat wisatanya harus melewati suatu bahaya, mereka akan menyewa para explorer. Explorer...," Isal berhenti sejenak untuk menengadahkan kepalanya ke atas. "menjelajahi berbagai tempat untuk berburu, menemukan tempat baru sekaligus mempromosikan tempat-tempat menarik bagi para visitor dengan menggunggahnya dalam bentuk dokumentasi."

Secara tidak langsung, alasan ketiga sekaligus menggambarkan bagaimana bisnis berbentuk jasa turis dilakukan. Tidak akan aneh jika di dalam game ini, ada sebuah guild yang bertujuan sebagai guild pemandu situs wisata. Akan tetapi, semua hal itu hanya akan mungkin terjadi karena kerja dan dedikasi yang dilakukan oleh desainer grafis dan desainer latar project ALAStor selaku pencipta dan pengembang game.

Noel merasakan bahwa mereka telah berada di dalam game dalam waktu yang cukup lama, mengingat tubuh mereka masih berada di mal. Dia mengingatkan kepada Isal seputar tubuh mereka. Menganggukkan kepala, Isal membuka menu jendela miliknya, memilih menu paling bawah 'log out'. Sebelum melakukan hal serupa, Noel merenungkan kembali keinginan dirinya untuk tidak bermain game.

Noel kembali merenungkan alasannya pensiun bermain game. Dia ingin agar dirinya bisa bersosialisasi dengan orang lain, makanya dia meninggalkan dunia game. Melihat kondisi dan keistimewaan game AW, dengan slogan dan alasannya dari seorang 'teman', walau alasan ketiga tidak berhubungan sama sekali, dia mengubah pemikirannya. “Gapapa lah. Toh cuma AW.”

Noel teringat kata-kata dari seorang gamer bahwa niat berhenti bermain game hanyalah sebuah modus untuk membohongi diri sendiri. Kata-kata itu sekarang sangat mengena pada dirinya. Niatnya dari hari pertama masuk kampus langsung hancur dalam setengah hari. Bagaimanapun juga, AW tetap digolongkan sebagai sebuah game.

Oh well, this is my story.


*****


Jam telah menunjukkan pukul 10.00 malam. Dua jam sebelumnya di ruang makan, ibu Noel menanyakan perihal hari pertama anaknya sebagai mahasiswa. Sebagai seorang ibu, sangat wajar ketika mereka ingin mengetahui kondisi tentang keadaan anaknya, khususnya jika itu menyangkut kehidupan sosial sang anak di lingkungan baru. Sayangnya, wujud perhatian dari ibunya hanya dianggap sebelah mata.

Tidak.... Noel tidak membenci ibunya. Dia juga tidak membenci pertanyaannya. Yang dibencinya hanya kebiasaan buruk ibunya: mengulang pertanyaan yang sama secara berurutan.

Setelah mencuci muka dan menyikat gigi, dengan sepasang piyama putih bergaris biru miliknya dia bergegas untuk tidur. Noel mengambil perangkat yang baru saja dibelikan oleh Isal lalu dipasangkan ke lehernya. Perangkat itu bernama Utopia, kain khusus berwarna hitam membentuk Huruf U, dengan sisi bawah membentuk lingkaran, berpatokan pada dua sisi melengkung sampai ke pusat garis penghubung yang menghubungkan kedua sisi lurus tersebut, dengan kedua sisi ujungnya berbentuk setengah lingkaran. Alat itu menjadi perantara seseorang dari dunia nyata menuju dunia fiksi fantasi, menciptakan sebuah avatar dari gambaran alam bawah sadar otak dari polygon dan piksel data berdasarkan wujud penampilan di dunia nyata.

Setelah menginisiasi e-dream, NOEL kembali di "Aurora's Edge", tempat dia log out. Dia telah ditunggu oleh seseorang bernama Tempest, nama Isal di dalam game. Dialah teman pertamanya selama enam tahun sekaligus menjadi orang yang mengajaknya bermain AW.

"Yok ke Field of Beginning."

Sebelum mereka berpisah di mal, mereka berdua telah berjanji untuk bertemu kembali di AW pada jam sepuluh malam. Mereka berdua sepakat untuk bermain sebagai gamer atau seorang explorer.

Noel yang masih buta informasi seputar AW, kembali bertanya soal tujuan mereka kali ini.

"Apa yang akan kita lakukan di sana?"

"Kita akan mengambil quest untuk menentukan tipe bertarung."

"Tipe bertarung? Maksudnya kelas? Job?"

"Tidak ada sistem seperti itu di AW."

Isal menyadari sesuatu setelah sejak awal terus-menanyai soal AW. Noel mungkin saja belum membaca manual seputar aturan dan sistem bermain.

"Habis ini, baca deh manualnya. Aku juga bosan sejak awal ditanyai mulu," ucap Isal dengan kesal sambil membentuk diagonal kiri bawah- kanan atas dengan bibirnya.

Merasa tidak enak, Noel membungkukkan badan membentuk sudut 135 derajat sambil meminta maaf. Mengingat apa yang dia lakukan selama ini, sangat jelas kalau secara tidak sadar, dia telah membuat Isal seperti 'kamus berjalan' AW.

“Tunggu dulu, kenapa aku tiba-tiba meminta maaf?” Pikiran Noel bertanya-tanya pada reaksinya sendiri.

Penyebab Noel bermain AW adalah Isal. Apa yang dikatakannya adalah penyebab perubahan niat pada dirinya. Bahkan, Isal adalah orang yang telah membelikan Noel Utopia demi memastikan mereka bermain bersama.

Melihat posisi Noel yang tiba-tiba membungkuk, Isal berusaha menahan tawanya, mengingat dirinya sangat tidak menduga pose Noel.

"Kayak orang Jepang saja." Ucapnya sambil tertawa kecil "Lagipula, ngapain minta maaf? Yang ngajak kan aku."

Tiba di tempat teleportasi, Noel dan Isal langsung memilih tempat tujuan. Mereka tiba di sebuah dataran hijau polos. Langitnya biru tak berawan. Sejauh mata memandang, hanya ada tanah hijau. Di sisi kanan jauh, terlihat dinding cokelat lebar melingkar jauh dengan langit berwarna hitam. Dinding itu adalah dinding kota bernama Rondo, kota abad pertengahan berlangit malam abadi.

Mereka berdua bergegas menuju NPC untuk quest yang dibutuhkan. Bukan hanya Isal dan Noel, sejumlah orang-orang berpakaian sepasang baju lengan panjang dan celana hitam polos dengan vest putih tak berlengan, sama dengan pakaian mereka, bergerak menuju arah yang sama.

"Mereka juga pasti para pemain baru," ujar Isal

Tiba-tiba saja, muncul api raksasa yang muncul secara melingkar, mengurung mereka semua.



Catatan kaki:

1. Kuda yang punggungnya memiliki sayap.

2. Makhluk dengan badan dan ekor khas kucing, dengan kaki depan dan wajah khas burung.


Catatan Pengarang:

Ehm... Maaf kalau infonya terasa kebanyakan.

Tapi ini masih tergolong dikit sih karena ke depan akan ada manualnya. Nggak tau manual? Buku panduan.

Terima kasih banget dah udah mampir. Kalau yang baca sampai akhir memberi komentarnya yang positif pula. Penulis mana pun pasti akan senang. Kalau komentar negatif? Tenang penulisnya nggak akan depresi. Semua demi kepentingan cerita kok.

Rencananya, penulis akan menerbitkan ceritanya 2x dalam seminggu. Tapi itu tergantung keinginan jumlah pembaca tetap yang suka ama cerita ini. Kalau dah banyak baru diizininkan.

Salam penulis.