Episode 2 - Ajakan (1)


Jam telah menunjukkan pukul lima sore. Bersama Isal, Noel sedang berdiri di depan Hippo Plaza, mall terbesar di kota ini. Di belakang mereka, hiruk-pikuk angkutan umum, para pengantar berbasis aplikasi O-Jek, dan kendaraan pribadi menghasilkan latar suara deru mesin bercampur suara klakson. Niat awalnya untuk segera pulang berubah menjadi menemani Isal untuk berkeliling dan berbelanja.

Sambil mendesahkan nafas seolah sedang memikul sebuah beban, bersama-sama mereka memasuki pintu geser otomatis. Noel sekadar mengikuti arah Isal yang sedang berjalan di sampingnya.

"Ayolah. Masa mau langsung pulang?"

Tak ada respon. Isal lanjut bertanya karena penasaran.

"Jangan-jangan... kamu itu anak rumahan, ya?"

Ingin sekali Noel membalas perkataan Isal dengan mengatakan bahwa dia dulunya tidak memiliki lingkungan pergaulan yang normal, tidak pernah keluar kecuali les atau kebutuhan sekolah lainnya. Jika tak ada kegiatan sama sekali, maka hanya tinggal satu aktivitas yang terpikirkan, bahkan dapat dijabarkan dalam lima langkah singkat, padat, dan jelas dalam kamar: Menekan tombol tengah V-ring-nya, mengatur proyeksi hologram menyerupai sebuah laptop, mengunci posisi hologram, memilih sebuah game, anime, atau manga, dan memulai pilihan aktivitasnya sampai bosan atau mengantuk.

Tapi... bagi Noel, hal seperti itu adalah sebuah aib.

Noel membalasnya dengan alasan lain, dan bukan kebohongan.

"Bukan! Itu karena aku tidak pernah dan tidak tertarik memasuki mal."

"S-Serius?" tanya Isal dengan nada dan ekspresi suram.

"Tentu," dengan bangga Noel menjawabnya sambil bertolak pinggang, akan tetapi dia mulai merasakan sesuatu yang salah dengan kebanggaannya.

"Baru kali ini ada yang orang ku kenal mengatakan bahwa dia sangat bangga dengan dirinya yang tidak pernah memasuki mal, sambil bertolak pinggang pula," balasnya sambil tertawa. Merangkul Noel dengan tangan kirinya, dia berkata sambil tersenyum. "Kamu itu unik."

Unik?

Dalam hatinya, Noel tak tahu harus merespon bagaimana akibat kurangnya pengalaman pergaulan. Dia hanya bisa berharap, semoga saja Isal tidak menganggapnya aneh dan akhirnya tidak mau berbicara lagi dengannya.

"Aku benar-benar bersyukur...," langkah keduanya terhenti bersamaan. Noel dengan ekspresi terkejut dan wajah tersenyum Isal saling bertemu, "karena... orang pertama yang benar-benar ku ajak bicara sebagai mahasiswa adalah orang anti-mainstream(1) macam kamu." Matanya berbinar-binar.

Noel yang terkejut dengan ucapannya langsung meresponnya dengan senyum kecil. Walau bersyukur, anggapan Isal kalau dirinya adalah orang aneh tetap tak bisa diterima.

"Kamu juga sama saja." Noel mulai meluruskan lengannya ke bawah. Kelopak matanya sedikit menyipit. "Mana ada orang yang dengan bangga mengatakan kalau dirinya adalah pedofil?"

"Bukan pedofil, tapi lolicon. LO-LI-CON."

"Sama saja TAHU!"

"Nggak SAMA!" Isal melanjutkan sambil berpose menggoyangkan jari telunjuknya. "Pedofil adalah kejahatan. Lolicon adalah kesenangan."

Melihat mata Isal yang membara, membuat niat untuk meyakinkannya menciut. Lagipula, berapa kali pun dijelaskan, kalau selalu dibalas dengan semangat seperti itu percuma saja. Meski begitu, Noel merasakan kesenangan tersendiri saat beradu keyakinan seperti tadi.

"Ah sudahlah." kata Noel mengalah.

Bagai orang yang baru saja memenangkan sebuah kompetisi, senyum lebar Isal sudah tak dapat dibendung lagi.

"Nah, yok lanjut."

Bagi Noel, paksaan Isal yang membuatnya memasuki mal untuk pertama kali telah terekam sebagai sebuah pengalaman baru baginya. Seiring dengan perjalanan, dia melihat sekumpulan manusia, lebih tepat disebut lautan, berkumpul untuk berbelanja. Berbagai promo tersedia pada tiap stan dalam bentuk Holoscreen(2). Pada aula besar tepat di tengah-tengah, sebuah Grand V-recorder(3) membantu mempromosikan berbagai produk yang baru dan berpotensi populer.

Dari sekian banyak, ada beberapa terlihat pergi hanya untuk sekedar window shopping, melihat-lihat barang tanpa membeli. Ada juga yang menjadikan mal sebagai tempat nongkrong karena ramainya.

"Kalau sendiri, mana mau aku pergi ke tempat kayak gini?" Responnya setelah melihat kondisi sekitar.

"Makanya aku ajak, apalagi kamu teman bicara yang asik."

Kata-kata Isal membuat hati Noel merasa terharu. Enam tahun tanpa pergaulan normal telah membuatnya dihantui rasa minder. Dia sungguh-sungguh melihat Noel sebagai seorang teman. "Semoga hal ini bukan hanya anggapanku saja." Bisik batin Noel.

"Ngomong-ngomong...," ucapnya sambil berjalan bersama. "Hanya untuk memastikan, sodara. Pernah menggunakan levitator?"

Dulu dikenal sebagai elevator. Levitator tidak menggunakan ruang kubus atau silinder sebagai media untuk berpindah lantai. Ia berbentuk sebuah tabung yang menjulang tinggi layaknya jalur sebuah elevator, tetapi menggunakan prinsip kutub gravitasi satu arah pada tiap-tiap ujung tabungnya, mengendalikan arah massa benda. Seseorang akan 'terbang perlahan ke atas' saat memasuki salah satu ruangan tersebut, dan akan 'mendarat secara perlahan' jika memilih tabung yang berbeda.

"Aku... nggak segaptek yang kamu bayangkan." Balas Noel sambil menatap tajam.

Mereka berdua tiba di hadapan dua pasang ruang masuk levitator yang masing-masing terdapat simbol laki-laki dan perempuan. Tiap-tiap lantai terdapat dua assist boy dan assist girl yang bertugas membantu prosesi tiap pengunjung kala memasuki dan keluar ruangan. Kedua mahasiswa baru itu memasuki ruang levitator laki-laki yang mengarah ke lantai atas.

Saat masuk, tak ada pijakan. Akan tetapi, mereka terlihat seperti berjalan di udara. Tubuh keduanya tidak terlihat goyah oleh gravitasi karena manipulasi kutub gravitasi tidak menyebabkan ruangan tersebut memasuki fase gravitasi nol. Levitator hanya mengontrol massa tubuh mereka, lalu mengarahkan arah jatuh gravitasi massa tersebut. Setelah melewati satu lantai, Isal keluar dari ruangan. Noel menyusul.

Lantai tiga menjadi milik stan bagian elektronik. Isal berhenti sejenak untuk melihat-lihat. Pandangan matanya berubah menjadi radar pendeteksi. Kemudian, sambil berjalan dengan memalingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, dia menyisir tempat itu. Sekitar lima menit kemudian, Isal terlihat seperti telah menemukan apa yang telah dicarinya. Noel yang sejak tadi memilih diam, cuma menemani Isal tanpa tahu apa yang ingin dibelinya mulai angkat bicara.

"Sebenarnya mau beli apa sih?"

"Perangkat buat main AW loh, di Kendari alatnya baru ada."

Game? Noel belum bilang kalau dia sudah berniat berhenti bermain untuk memperbaiki kehidupan sosialnya. Demi menghindari kesalahpahaman lebih jauh, dia mengutarakan niatnya.

"Emm... sebenarnya... aku sudah nggak bermain game lagi."

"Eh? Kenapa emang?" Tanya Isal penasaran.

"Menurutku, untuk mencari teman bicara, aku harus berhenti, karena bermain game berarti menghabiskan waktu untuk menghindari pergaulan. Meski ada game online, tapi fitur chat saja tidak cukup unt--"

"Lah, kalau cuma alasan itu main AW 'kan nggak masalah," kata Isal menyela, sambil menghentikan pencariannya sejenak dan mulai menatap Noel dengan serius. "Pernah dengar atau baca slogan AW?"

"Nggak, soalnya sekarang aku udah nggak ngikutin perkembangan dunia game lagi."

"Wah pantas. Bunyi slogannya tuh 'game yang bukan sekedar game lagi'."

Rasa heran dan penasaran langsung muncul di benaknya. Pikirannya mulai fokus memikirkan arti dari orang yang telah dianggap sebagai teman pertamanya dalam enam tahun terakhir. Meski niatnya adalah tidak bermain game lagi, tidak ada salahnya mendengarkan penjelasannya lebih jauh.

"Tolong katakan."

"Maksud dari slogan itu ada tiga. Yang pertama, interaksi sosial yang sama seperti dunia nyata." Isal sedikit menghela nafas sebelum melanjutkan. "Karena kesadaran kita akan dibawa kedalam game. Jadi, selain avatar yang akan kamu gunakan dan fitur menu game yang bisa diakses dengan menggunakan tangan, semuanya sama."

Mendapat penjelasan sedemikian rupa, Noel mulai membayangkan dirinya seperti dia dan Isal yang saat ini sedang berbicara satu sama lain, tapi dengan wujud dan dunia yang berbeda. Sayangnya...

"Kesadaran dibawa ke dunia game? Berarti tubuh kita berada dalam kondisi tidak sadarkan diri dong?" kata Noel sambil memperbaiki posisi topinya.

"Lebih tepatnya, tubuh akan berada dalam kondisi tertidur dan kesadaranmu sedang berada di dalam game. Berdasarkan itu pula, terdapat alasan kedua." Dengan senyum tipis dan alisnya yang mulai sedikit menukik, Isal melanjutkan penjelasannya. "Waktu untuk istirahat atau tidur bisa digunakan untuk beraktifitas dalam AW."

Setelah dipikir-pikir, memang benar juga. Dalam situasi game sebelum kemunculan AW, manusia harus meluangkan sejumlah waktu aktif mereka dalam memainkan sebuah game. Jika waktu aktif manusia normal berkisar antara 16-18 jam perhari, 6-8 jam waktu yang tersisa hanya dipergunakan untuk mengistirahatkan kinerja tubuh. Dengan kemunculan AW, bahkan waktu tidur sekalipun bisa dipakai.

Benar-benar terobosan yang sangat luar biasa, kagumnya dalam hati.

Sangat sesuai dengan namanya, Another World benar-benar membuat seseorang seperti hidup di dua dunia, dunia nyata dan dunia virtual. Tentunya, tanpa perkembangan pesat teknologi realitas virtual, memasukkan kesadaran seseorang ke dalam sebuah permainan adalah hal yang mustahil.

"Untuk yang kedua, aku bisa ngerti. Enak yah, saat tidur sekalipun bisa digunakan untuk bermain. Ngomong-ngomong, aku sampai kepikiran satu hal. Waktu kamu bilang beraktifitas, apa maksudnya hanya bermain saja?"

Isal yang mendengar pertanyaan itu senantiasa memandang Noel dengan mengangkat posisi wajahnya sedikit keatas sambil mempertahankan tatapannya. Cara pandang yang benar-benar terkesan meremehkan.

"Yah nggak lah, kalau mau, kamu bisa kerja tugas sekolah dalam AW."

"S-Serius!? Gimana caranya?" tanya Noel ingin tahu.

"Utopia secara langsung terhubung dengan V-ring yang kita miliki. Jadi, semua data yang terdapat di dalamya juga terbawa ke dalam AW"

Noel terkagum-kagum saat mendengarnya. Slogan game yang bukan hanya sekedar game lagi benar-benar bukan isapan jempol belaka. Cukup dengan dua alasan pertama, niatnya untuk tidak bermain game saat ini mulai goyah. Dalam hatinya terselip sebuah kalimat, "MANTAP! Kerja tugas nanti udah gak perlu sampai begadang."

Noel kembali bertanya demi menyelesaikan rasa penasarannya

"Alasan berikutnya... alasan ketiganya bagaimana?"

"Hmm..."

Isal mencoba merangkai kata untuk menjelaskannya, tapi baginya mungkin kata-kata saja tidak akan cukup.

"Kurasa... mengenai alasan ketiga... lebih baik kalau kamu login ke dalam gamenya dulu. Nanti kujelaskan di sana"

Seolah mengajakku untuk bermain bersama, keyakinan Noel benar-benar semakin goyah. Apalagi, Noel sudah menganggap Isal sebagai seorang teman. Belum lagi, dua alasan menarik yang sudah dijelaskan sebelumnya. Meski begitu, demi mempertahankan niatnya, dia kembali mempertanyakan ajakan Isal dengan nada serius.

"Memangnya kenapa? Apa karena hal itu bisa langsung ditemukan di dalam game?"

"Yap, yang satu ini berhubungan dengan para pemain. Memang sih bisa kujelaskan, tapi akan lebih mudah dipahami kalau kamu masuk ke dalam gamenya."

Beberapa saat setelah mendengar hal itu, isi hati Noel berujar, "ah sudahlah. Kulihat saja dulu. Lagipula kalau hanya melihat tidak bisa dikatakan bermain."

"Okelah.... Tapi perangkatnya gimana? Aku nggak punya uang buat beli."

"Tak perlu khawatir." Isal langsung mengakses menu hologram miliknya, dan memperlihatkan dua baris kode tiga puluh digit yang terlihat seperti sebuah password. "Ini adalah kode serial yang sudah kubeli untuk mendapatkan perangkatnya. Kalau kamu tertarik untuk bermain, satu kodenya langsung kuberikan ke kamu sekarang."

"Aku cuma login buat memastikan perkataanmu aja loh," kata Noel meyakinkan posisinya.

"Gak apa-apa. Toh... sebelum membeli, pihak penjual akan mengizinkan sang pembeli untuk mencobanya terlebih dahulu. Gimana? Deal?"

"Deal."

Layaknya dua orang yang baru saja menyepakati sebuah bisnis, mereka saling berjabat tangan. Tanpa membuang waktu lagi, Noel dan Isal menuju ke tempat penjualan utopia. Isal langsung memperlihatkan kedua kode serial miliknya. Setelah diverifikasi, seorang karyawan memanggil mereka berdua.

"Saya akan memandu kalian dalam menginisiasi e-dream," ucap karyawan itu.

Sebelumnya, program utopia telah dikirimkan ke dalam V-ring mereka via e-mail. Mereka berdua langsung diminta melakukan instalasi program.

Si pemandu menginginkan mereka untuk berbaring di atas matras khusus yang telah dipersiapkan. Mula-mula, dia memasukkan colokan nirkabel Utopia pada lubang sakelar. Kemudian, dengan tenang orang itu memandu cara menghubungkan jaringan antara utopia yang ukurannya telah disesuaikan berkat auto adjust alat tersebut agar tidak terlepas dari leher. Petugas tersebut meminta mereka mengaktifkan menu V-ring untuk mengakses menu 'Mengaktifkan Utopia' dan memilih 'Ya'. Layar opsi tersebut menghilang dan Utopia mulai bersinar, menandakan bahwa perangkatnya telah mulai beroperasi.

Tiba-tiba saja tubuh Noel dan Isal merasakan sensasi kenyamanan yang luar biasa. Seketika, mata mereka terasa sangat berat untuk dibiarkan terbuka. Mungkin seperti ini rasanya jika seseorang diberikan obat tidur, pikir Noel dalam hati. Merelakan dirinya ditelan oleh rasa kantuk itu, dia segera menutup matanya.

Saat Noel berhasil membuka matanya. Dia telah melihat dirinya telah dikelilingi oleh huruf-huruf dan angka-angka yang berterbangan dalam ruangan serba putih. Pakaian yang dikenakannya telah berubah menjadi sepasang baju lengan panjang dan celana hitam polos dengan jaket putih tak berlengan yang sedikit melewati pinggang.

Akan tetapi, Noel tidak sendirian. Sekitar sepuluh meter dari posisinya, terlihat sesosok humanoid bertubuh metalik silver setinggi kurang lebih dua meter. Kepalanya menyerupai piring terbang. Gaunnya putih polos, dengan motif empat mahkota bunga membentuk huruf X di sekitar perut menutupi dari bagian dada sampai menyentuh lantai tempatnya berpijak.

Sambil menatapnya dengan pandangan yang dingin dan kaku, wanita(?) itu mendekati Noel dengan gerakan kaki patah-patah khas robot dengan posisi salah satu tangan menggenggam tangan lainnya tepat di depan pinggang. Langkahnya terhenti ketika jarak mereka tersisa satu meter.

"Tuan, dimohon untuk memilih nama karakter sebelum bergerak ke fase berikut."

Nada bicaranya datar dan sumbang, apalagi ditambah dengan bentuk kepala anehnya. Noel hanya bisa terheran-heran akan selera tim pengembang dalam mengembangkan desain Non-Player Character (NPC).

Di antara mereka berdua, muncul sebuah layar kosong dengan fitur keyboard menghadap ke arah Noel. Sesuai instruksi yang diberikan, dia langsung mengetik sebuah nama yang sering dipakainya ketika bermain, yaitu nama panggilannya sendiri, tapi dengan titik sebagai perantara dan tiap hurufnya merupakan huruf kapital.

"Terdapat kesalahan dalam penulisan nama. Penggunaan simbol dan angka tidak diperbolehkan. Dimohon untuk meninjau kembali nama yang akan dipergunakan."

"Kalau gitu fitur kibornya gak usah munculin simbol dan angka KELES!" Balas Noel menyarankan dengan nada kesal.

"..."

Tak ada respon. Nampaknya, NPC tak mampu merespon apa yang dikatakan oleh player. Hanya ada instruksi dari mereka. Dengan kata lain, dia tak mampu melakukan percakapan.

Tak ingin berlama-lama, Noel mengubah ejaan namanya. Sederhana saja, cukup menghilangkan tanda-tanda titik. Sambil menutup mata, dia menekan tombol enter sebagai penyelesaian.

"Menuju fase berikutnya, membuka portal dimensi menuju kota awal 'Rondo, City of Endless Night. Memulai proses integrasi 'NOEL' menuju koordinat perjanjian."

Mendadak, tubuh Noel dikelilingi oleh bulatan cahaya biru muda. Cahaya itu berkumpul, menyelubunginya, lalu membentuk sebuah bola. Setelah diselubungi oleh cahaya putih, Bola itu menghilang bersamaan dengan kilatan cahaya.



Catatan kaki:

1. Antonim dari kata umum, atau sebuah hal yang terlihat berbeda dari biasanya.

2. Perangkat fiktif berwujud gambar atau tulisan dalam layar holografis. Cara kerja maupun penggunaannya serupa dengan presentasi menggunakan fitur Microsoft Office Power Point.

3. Perangkat fiktif berupa rekaman video tiga dimensi berukuran 5-10 kali lebih besar dari objek yang terekam. Dalam dunia bisnis, perangkat ini ditujukan kepada seorang model beserta dengan benda yang akan diiklankan.


Catatan Pengarang:

Bagaimana dengan update kali ini? Semoga menarik buat pembaca.

Pada bagian ini, saya pribadi memfokuskan diri dalam elemen sains fiksi demi kemajuan dan kesan futuristik cerita ke depan. Mengenai update selanjutnya, elemen game yang menjadi salah satu faktor utama akan mulai disentuh.

Salam.