Episode 1 - Kuliah Hari Pertama


Senin, 25 April 2051.

This is my story.

Berkali-kali kalimat bahasa Inggris itu selalu terucap dalam hati, kalimat yang rasanya keren. Entah sejak kapan Noel melakukannya? Mungkinkah sejak awal masuk SMP?

Jam dari V-ring (dibaca: viring) yang baru saja tersematkan di jari telunjuk tangan kirinya menunjukkan pukul 05:37 pagi WITA dan yang dilakukannya hanya berbaring dengan pandangan kosong ke arah langit-langit, menunggu tradisi harian sang ibu dari balik pintu.

"Noeeel."

"Iyaaaa."

"Banguuun."

"Iyaaa."

"Noeeel." Suaranya lebih keras.

"Iyaaa."

"Banguuun."

"Iyaaa."

"..."

"Tumben ulangnya cuma dua kali," pikir Noel.

Dimulai dengan duduk bersila diatas kasur, Noel menghirup nafas panjang, kemudian menghembuskannya dengan mulut terbuka lebar. Setelah sekali menggelengkan kepala dan menepuk pipi sampai tiga kali, dia membuka tirai jendela kaca di samping kirinya, lalu merapikan semua demi rutinitas baru yang akan berjalan kurang lebih selama empat tahun ke depan.

Hari ini adalah hari pertama Noel menjadi mahasiswa. Benar-benar sebuah pengalaman baru yang sangat berbeda dengan kehidupan saat masih di sekolah menengah. Itulah yang terpikirkan setelah mencuri dengar dari berbagai orang.

Jam 07:12. Dengan berpakaian kemeja lengan panjang berkerah dengan motif merah kotak-kotak garis putih dan celana jins hitam, Noel bergegas keluar sambil merapikan potongan rambut pendek lurus miliknya yang sebenarnya tidak perlu sampai disisir, apalagi karena dia selalu menggunakan topi saat berpergian. Tujuannya adalah kampus Sultra, terletak di Kota Kendari, salah satu ibukota di pulau Sulawesi yang berpenghuni hampir 400.000 jiwa.

"Ke kampus Sultra, ya...," kata Noel kepada seorang pengendara motor asing yang baru saja dipanggil dengan aplikasi O-Jek.

Berasal dari keluarga cukup berada, Noel sudah sering ditawari oleh keluarganya untuk dibelikan motor atau mobil sendiri. Tapi dia tidak mau karena tidak bisa. Noel tidak tahu cara membawa kendaraan, bahkan sepeda sekalipun.

Sambil dibonceng, dia terus mengutak-atik layar-layar hologram yang dibiarkan keluar dari V-ring miliknya untuk mengakses Facenote tanpa tujuan jelas. Semakin dekat dengan kampus, semakin tidak tentu pula mood yang dirasakan, bukan karena efek suasana baru, bukan karena hari ini adalah hari pertama, bukan pula karena rasa penasaran seperti apa itu kehidupan kampus.

Aku ingin menjadi lebih baik.

Saat Noel mengingat masa-masa tanpa teman bicara sewaktu masih di sekolah menengah dulu, seketika membuat dirinya merasa gugup. Enam tahun waktu bebas yang didapatkannya dari sekolah menengah hanya dihabiskan untuk menikmati berbagai jenis game, anime(1), dan manga(2) akibat kemampuan komunikasi miliknya yang sangat buruk.

Kemarin menjadi hari terakhir dirinya bermain game. Sebagai buktinya, dia telah menghapus semua aplikasi game dalam V-ring miliknya.

Kendaraan yang dia tumpangi telah tiba di fakultas tempat dimana Noel akan menimba ilmu, fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Setelah melepas helm dan membayar sang pengantar, Noel memulai langkah pertamanya menuju bangunan jurusan bahasa Inggris yang berada sekitar 50 meter di depan.


***


".... Perlu diingat bahwa mulai minggu depan kalian akan diberikan teks untuk menguji kemampuan kalian lebih dalam aspek speaking. Sekian."

Kalimat itu menjadi akhir dari seratus menit pertemuan pertama mereka dengan pak Julius, dosen mata kuliah Integrated English Course. Tanpa membuang waktu, beliau kemudian bergerak ke sisi kiri, keluar dari ruang perkuliahan.

"Noel..."

Bersamaan dengan suara itu, Noel merasakan bahu kirinya disentuh dengan telapak tangan. Tanpa mengarahkan pandangan ke arah si pemanggil, Noel merespon suara itu sambil merapikan catatan holografik di atas meja berbahan jati di hadapannya.

"... Lisa?"

Namanya adalah Lisa. Akan tetapi, suara itu adalah suara seorang laki-laki.

"Isal...."

"Ah..." Noel membalikkan badan. Penglihatannya bertemu dengan wajah seorang laki-laki. "Maaf maaf... belum tahu nama panggilanmu soalnya."

"Tadi... pas diabsen kan udah aku sebut. Masa nggak dengar?"

"Maaf maaf...." Balas Noel, memaksakan diri untuk tersenyum.

Namanya adalah Lisa Merdekajaya, seorang mahasiswa baru seperti Noel. Tentu saja saat dipanggil oleh pak dosen, semuanya tidak menyangka kalau nama itu milik seorang laki-laki tulen tinggi, berambut ikal dengan kemeja berkerah, berlengan pendek biru polos.

"Mau jalan-jalan keliling kampus? masih buta info soalnya."

"Sama sih, tapi... cuma berdua?"

"Gak apa-apa kan? Emang ada masalah?"

Noel bertanya demikian karena dia teringat dengan meme(3) yang sering dibacanya di media sosial. Seorang laki-laki mengajak laki-laki untuk jalan berdua memiliki satu kesan vulgar; menyimpang.

"... Bodoh," kata itu terucap tanpa sengaja dari mulut Noel.

"Hah? Bodoh apanya?"

"Ah.... Bukan.... Maksudku...."

Matanya melihat ke arah yang tak tentu. Noel menggaruk-garuk kepalanya, tapi bukan karena gatal. Dia kesulitan menemukan kata-kata yang tepat.

"T-Tadi... asal ucap saja."

Ekspresi wajah Isal tak berubah. Dia tidak merespon kata-kata itu. Kebingungan, Noel memilih untuk berbicara apa adanya.

"Sori sori... Tadi pas kamu ngajak... tiba-tiba aku langsung kepikiran kata... menyimpang," jujurnya.

"Njir!" Alis mata Isal meninggi. "Dianggap menyimpang.... Dilihat dari MANAAAA, coba?"

"Hanya terlintas aja kok di kepalaku. Maaf maaf.... Maaf bangeeet," wajah Noel terlihat sedikit murung.

"Santai."

Sambil mendengarkan nada tertawanya, Noel berdiri dengan kepala sedikit tertunduk karena malu akibat percakapan mereka, terlebih lagi kalau sampai terdengar oleh orang lain. Dia takut kalau percakapan tadi memberikan kesan buruk bagi siapa pun yang mendengar.

"Yok, Noel."

Noel memang belum mengiyakan perkataannya, tapi itu tidak perlu. Dengan segera dia mengenakan topi miliknya.

Memiliki tinggi badan yang hampir sama, mereka melangkahkan kaki di ruangan bertehel putih itu, menuju pintu keluar, dan langsung menuju tangga di sebelah barat dari ruangan lantai tiga tempat mereka kuliah.

Tanpa basa-basi, mereka bergerak menuju berbagai tempat yang masih dapat dijangkau dengan jalan kaki; ruang fakultas, perpustakaan, ruang tata usaha, kantin kampus, ruang ujian, lab Bahasa, ruang multimedia, dan lain-lain. Tentu saja tidak hanya sekedar menginjakkan kaki, mereka juga mencari tahu fungsi dan apa saja yang dapat mereka lakukan sebagai mahasiswa ke depan, kecuali kantin karena cuma jadi tempat makan sambil nongkrong.

Tiba-tiba, Isal berhenti melangkah, lalu menekan tombol cincinnya. Sebuah layar menu holografik dengan empat deret angka pada kanan atas yang terapitkan oleh simbol titik dua muncul di depannya.

"Duh.... Lima belas menit lagi kuliah sejarah teknologi informasi dan komunikasi,"  kata Isal setelah menonaktifkan V-ringnya.

Jam menunjukkan pukul 13:15. Untung saja, tempat mereka berdua saat itu tidak begitu jauh dari ruang multimedia, ruang kuliah selanjutnya. Melawan teriknya panas matahari, Noel dan Isal mempercepat langkah kakinya tanpa memperdulikan tempat atau jalan yang teduh, sebelum terlambat mengikuti perkuliahan.


***


"Lah.... Dosennya telat," ucap Isal sambil mengetuk meja dengan empat ujung jari terpanjang di tangan kanannya.

Duduk di sisi kanan Isal, Noel mencoba mengindahkan suara gemerutuk jari itu dengan memeriksa kembali catatan mata kuliah pertamanya, tapi tak sanggup karena tertarik dengan pola suaranya. Sangat wajar bagi Noel untuk merasa familiar dengan ketukan yang terdengar, karena menciptakan suara khas kemenangan dalam seri game klasik berjudul Final Fantasy.

Suasana yang terlihat menggambarkan pandangan normal namun miris di mata Noel. Selama enam tahun menjadi pengamat tak langsung teman-teman sekelasnya, selalu ada kesan hubungan pertemanan yang terkotak-kotakkan terlintas. Seseorang hanya mau berbicara dengan orang yang hanya dianggapnya menarik. Tentu saja itu normal dalam interaksi sosial. Akan tetapi, bagaimana dengan orang-orang yang tidak menarik? jelas diabaikan. Dilihat saja mana sudi?

Tidak... aku malah lebih buruk dari mereka.

Dalam hatinya, Noel mengatakan itu karena dia terbiasa untuk tidak mengingat nama-nama teman sekelasnya. Meski ada sesi perkenalan lewat absen, dia tidak pernah mendengarkannya dengan seksama. Bagaimana mungkin aku dapat mengingat nama-nama itu disaat aku tidak pernah merasa berteman dengan mereka?

Sekitar dua puluh menit kemudian, sesosok pria paruh baya berpakaian putih polos dengan celana kain hitam seperti baru saja disetrika, memasuki ruangan sambil menutup pintu ruangan yang tadinya dibiarkan terbuka. Dalam sekejap, ruangan menjadi hening.

"Mahasiswa dan mahasiswi yang duduk mendekati jendela, tolong tutup jendela dengan melepas tali gorden yang berada di belakang atau samping kalian."

Ruangan yang mulanya terang seketika menjadi gelap, walau tidak segelap malam hari tanpa penerangan apapun. Sekelompok gorden merah yang digunakan memang hanya didesain untuk meredupkan cahaya masuk, membuat mata masih sanggup untuk melihat secara normal.

Sang pria paruh baya dengan sigap memasang perangkat keras putih berbentuk kotak pendek tipis di atas meja sang dosen. Setelah menyambungkannya ke colokan yang tersedia, orang tersebut keluar dari dalam ruangan.

Loh... loh... loh... Pak dosennya keluar?

Sepertinya bukannya hanya Noel, mahasiswa lain juga memikirkan hal yang sama. Bisik-bisik kecil mulai terdengar di dalam ruangan.

"Selamat siang."

Ucapan salam yang terdengar, bersamaan dengan kemunculan sesosok gambar proyeksi tiga dimensi. Lebih tepatnya, sebuah kepala manusia plontos dengan kacamata minusnya, berukuran kurang lebih sepuluh kali ukuran kepala normal, muncul tepat diatas perangkat tersebut. Noel dengan segera menyadari kalau perangkat itu adalah alat untuk menyajikan medan virtual berskala besar dan wajah itu merupakan merupakan wajah bapak dosen untuk mata kuliah kali ini.

"@#%@#*#!!!"

Kehebohan itu berasal dari seorang mahasiswi yang duduk di sekitar sisi kiri tengah ruang kelas. Dia terlihat terkejut dengan kemunculan dan suara yang muncul secara tiba-tiba.

"Gaptek bener nih cewek.... Masa lihat hal kayak gitu aja kaget?" bisik Isal kepada Noel.

"Begitu, ya?"

Noel yang membalas perkataan Isal, sebenarnya tidak begitu peduli dengan apa yang baru saja terjadi. Akan tetapi, suara bisik-bisik di ruangan kemudian muncul, sang mahasiswi pun menjadi topik pembicaraan.

Nggak penting amat membahas aib kayak gitu. Makanya aku sama sekali nggak paham pemikiran orang-orang pada umumnya.

Walau Noel ingin mengubah dirinya untuk mampu bergaul dengan orang lain, kenyataan mengenai mayoritas orang-orang yang sering membahas seputar hal kecil, apalagi mengenai hal yang memberikan kesan buruk, menjadi salah satu dinding penghalang baginya untuk lebih terbuka dan lebih peduli terhadap keadaan orang-orang di sekitarnya.

"HARAP TENANG!!!"

Suara yang terdengar agak keras dari beliau langsung menenangkan seisi ruangan.

"Siapkan catatan kalian sebelum bapak memulai pembelajaran. Selain itu, bapak akan mulai mengabsen nama kalian."

Semua mahasiswa bergegas menekan tombol cincin mereka, mengunci posisi layar yang keluar, lalu dengan sentuhan tangan, proyeksi hologram diarahkan ke meja di hadapan para mahasiswa.

Setelah mengabsen, beliau masuk ke dalam materi. Tak tanggung-tanggung, kurang lebih selama satu jam mahasiswa disuguhi dengan kuliah berbentuk ceramah. Murid pak dosen benar-benar dibuat menjadi pasif, cukup mendengarkan saja.

Tiga puluh menit pertama menjadi waktu yang sangat membosankan bagi sebagian mahasiswa. Selain karena metode ceramah yang monoton, penjelasan beliau juga benar-benar kompleks. Setidaknya Noel mampu menarik dua garis besar dari apa yang menjadi pembahasan beliau, yaitu pemahaman seputar perkembangan ilmu komputer, dari komputer raksasa sampai dengan era smartphone dan sejarah dan perkembangan internet.

Apa yang dibahas setelah itu menciptakan rasa ketertarikan tersendiri bagi Noel, yaitu sejarah perkembangan teknologi virtual. Semula hanya sekedar menciptakan proyeksi holografi berbentuk tiga dimensi dalam lingkungan terbatas, perkembangan teknologi virtual telah menciptakan inovasi dan tren tersendiri dalam perkembangan IPTEK. Sekarang, tak ada lagi telepon genggam, radio, komputer, laptop, dan televisi. Semua telah tergantikan oleh kehadiran perangkat berupa sebuah cincin stainless steel dengan sebuah tombol untuk menciptakan proyeksi holografi.

"Berikutnya bapak akan memperlihatkan contoh-contoh perangkat yang menggunakan konsep realitas virtual."

Proyeksi yang terlihat memunculkan berbagai media dan objek dalam penerapan konsep virtual reality atau realitas virtual di kedua samping proyeksi beliau. Pandangan mata Isal langsung tertuju pada salah satu contoh perangkat yang diperlihatkan. Dengan jari telunjuknya, dia menyentuh pundak Noel, mengisyaratkan dirinya untuk memulai percakapan.

"Opo?"

"Coba lihat gambar perangkat di sisi kanan bawah. Bukannya itu Utopia?"

"Utopia?"

Noel memfokuskan pandangannya ke arah model proyeksi yang ditunjukkan oleh Isal. Sebuah model perangkat berlapis kain khusus membentuk Huruf U, dengan sisi bawah membentuk lingkaran, berpatokan pada dua sisi melengkung sampai ke pusat garis penghubung yang menghubungkan kedua sisi lurus tersebut, dan kedua sisi ujungnya berbentuk setengah lingkaran.

"Nggak tahu? Itu loh... perangkat untuk game Another World."

"AW ya? Aku nggak begitu tahu soal itu." Pandangan Noel terus menatap layar di depan.

"Serius?" Isal memasang wajah terkejut. "Padahal AW lagi ngetren sekarang. Gamenya udah rilis di Indonesia. Masa nggak main?"

Tanpa mempedulikan pertanyaan darinya, Noel kembali memfokuskan diri ke ceramah sang dosen.

Memang benar yang dikatakan oleh Isal, Another World, biasa disingkat dengan AW, sedang menjadi topik pembicaraan hangat bagi para netizen. Pada dasarnya, AW adalah game pertama yang dirilis dengan genre VRMMORPG, game online berbasis realitas virtual. Tapi, walau populer dan dibekali dengan pengalaman enam tahun memainkan berbagai jenis game online, Noel yang sudah bertekad untuk meninggalkan dunia game tidak mengetahui soal Utopia, perangkat ekslusif game virtual ciptaan Project ALAStor.

Tanpa disadari, jam telah menunjukkan pukul 15:00, yang berarti bahwa pelajaran akan berakhir dalam sepuluh menit.

"Sebelum saya tutup, ada yang ingin ditanyakan?"

Dengan mengacungkan tangan kanannya setinggi mungkin, seorang mahasiswi bertubuh seukuran anak SD normal merespon tawaran beliau.

"Ketua tingkat... Adelia, kan? Silahkan."

Mahasiswa itu adalah ketua tingkat yang mewakili 30 mahasiswa bahasa Inggris angkatan 2051, Adelia Nurfitri. Ketua tingkat, jika diibaratkan seperti sekolah memiliki fungsi yang mirip seperti ketua kelas. Perbedaannya hanya dalam tingkat kepemimpinan. Jika ketua kelas bertugas sebagai pimpinan suatu kelas, ketua tingkat bertugas sebagai pimpinan angkatan di jurusannya.

Noel baru mengetahui kalau dia adalah ketua tingkat karena hari ini adalah hari pertamanya memasuki kampus. Tidak seperti mahasiswa lainnya, hari pertama mereka adalah minggu lalu. Mahasiswa baru menjalani masa orientasi, yaitu perkenalan umum seputar jurusan, temu sapa dengan para senior, dan penentuan ketua tingkat berdasarkan rekomendasi para panitia orientasi. Saat itu, Noel masih berada di luar kota bersama kedua orang tuanya.

"Apa yang membedakan holografi dengan realitas virtual jika keduanya merupakan bentuk proyeksi berbentuk tiga dimensi?"

"Noel silahkan jawab," ucapnya setelah melirik Noel.

"He?"

Noel benar-benar terkejut. Tanpa aba-aba atau tanda apapun, Pak dosen langsung memintanya menjawab pertanyaan dari Adelia. Meski begitu...

Secara umum... ini mudah.

"Gerakan."

Kata kunci yang disebutkan oleh Noel menghasilkan ekspresi kebingungan di wajah Adelia.

"Gerakan? Bisa lebih diperjelas?"

"Holografi memproyeksikan bentuk tiga dimensi yang tak bergerak, sedangkan realitas virtual proyeksinya ialah bentuk tiga dimensi yang mampu bergerak."

"... Maksudnya?"

"Perbedaannya seperti yang sudah saya jelaskan."

"... Nggak ngerti."

"..."

Masa nggak paham sih? Intinya kan hanya dari segi gerakan.

Noel yang terlihat bingung karena Adel yang tidak paham perbedaannya membuat pak Dosen memberikan sebuah petunjuk.

"Coba berikan contoh."

"B-Baik pak."

Meski Noel langsung merespon saran beliau, dia sama sekali tidak kepikiran contoh yang bagus. Isal yang duduk disampingnya lantas membisikkan sebuah analogi.

"Gambarkan seperti foto dan video saja."

Mendengar bisikan Isal, Noel mencoba memahami apa yang dimaksudkannya. Dia pun kembali angkat bicara.

"Bayangkan saja fotomu dalam bentuk tiga dimensi, itulah contoh holografi. Bayangkan pula videomu yang direkam secara langsung dalam bentuk tiga dimensi, itulah contoh realita virtual. Bagaimana?"

Sambil mengarahkan pandangannya ke arah Adelia, Noel melihat senyuman dan anggukan darinya. Noel menganggap bahwa Adelia sudah mendapatkan jawaban yang sesuai.

"Baik. Karena waktu pertemuan sudah selesai, kita akan bertemu lagi Minggu depan. Materi hari ini silahkan diunduh pada situs fakultas." ucapnya sebelum proyeksi dirinya lenyap.

Hanya ada dua mata kuliah untuk hari ini, yang berarti bahwa kuliah hari pertama telah selesai. Sesaat setelah Noel berdiri, dia melihat Isal dan mengingat pertolongan tadi. Kalau bukan karenanya, mungkin saja Adelia akan tetap kebingungan. Memang hanya sebuah hal kecil, tapi bantuan tetaplah bantuan.

"Makasih banget sodara."

Isal merespon dengan wajah bertanya-tanya, tidak menyadari kata kunci yang diucapkannya beberapa saat lalu. Sambil mengingat-ngingat apa yang dimaksudkan oleh Noel, akhirnya dia menyadari, tapi tidak menganggap bahwa bisikan yang diucapkannya akan berbuah ungkapan terima kasih.

"Santai.... Toh cuma iseng doang."

"Iseng?"

Wajar jika Noel terkejut. Bisikan tadi hanya dianggap sebagai sebuah keisengan, yang berarti bahwa Isal tidak benar-benar berniat membantunya.

"Maksudnya apa coba?" tanya Noel

"Tadi aku cuma berasumsi. cewek kan suka berfoto, apalagi kalau aku lihat, ketua tingkat kita menurutku cantik dan imut jadi dia pas-"

"Ha?"

Memang Adelia terlihat memiliki kulit wajah mulus dan bening. Tapi tingginya itu, sampai-sampai membuat Noel kepikiran kalau-kalau Isal adalah seorang lolicon(4).

"Kamu itu, suka sama yang kecil dan imut ya?"

"Yap." Kepalan tangan kiri Isal menempel pada dadanya. "PROUD TO BE LOLICON!"

Ruangan kelas mendadak menjadi hening. Mayoritas pandangan mahasiswa yang berada dalam ruangan lantas tertuju pada dua orang di sisi kiri ruangan. Wajah tersenyum lepas Isal dan wajah Noel yang memerah secara instan seketika terekam dalam pandangan para mahasiswa seangkatan mereka.

Hancur sudah langkah awalku untuk menciptakan kesan yang bagus.

Wajar saja, bagi seseorang yang belum benar-benar saling mengenal satu sama lain, kesan pertama menjadi penilaian yang sangat penting dalam pergaulan. Rencananya, Noel menginginkan kesan dirinya sebagai seorang mahasiswa yang terlihat cerdas dengan menonjolkan kemampuannya dalam berbicara menggunakan bahasa Inggris. Bahkan, beberapa hari sebelumnya dia sampai berlatih di depan cermin dan merekam suaranya berulang-ulang untuk mendapatkan hasil yang bagus. Oleh karena itu, Noel masih berusaha untuk terlihat low-profile sebelum kuliah yang berhubungan dengan materi percakapan dimulai, sampai semua itu dihancurkan oleh satu kalimat bodoh.

Seolah mewakili tatapan mereka, Adelia yang posisinya tidak begitu jauh dengan Isal dan Noel, menyuarakan penyebab sumber keheningan saat itu.

"Lolicon... itu apa?"

Pertanyaan itu lantas menjadi sebuah kenangan bodoh bagi Noel, karena dia malu di tempat, waktu, dan situasi yang salah. Kalau yang mendengar tadi adalah orang-orang yang memiliki hobi seputar anime atau manga, pastinya mereka akan dicap sebagai sepasang orang mesum pecinta perempuan imut.

"Ah sudahlah.... Yok kita pulang sama-sama."

Meski tanpa sadar diucapkan, untuk pertama kali Noel mengajak seseorang untuk pulang bersamanya.



Catatan kaki:

1. Kartun animasi bergaya Jepang, targetnya beragam mulai dari anak-anak hingga dewasa

2. Komik yang berasal dari Jepang, target pembacanya sama dengan anime

3. Dibaca mim. Sebutan untuk fenomena yang dikenal pada media sosial. Bentuknya berupa video, gambar atau foto yang terkadang di dalamnya memuat sebuah tulisan. Isinya mengandung tingkah laku atau ide yang dianggap lucu dan aneh, serupa dengan viral.

4. Istilah dari Jepang yang mendeskripsikan gambar seorang perempuan bertubuh mungil dan berciri fisik layaknya anak-anak. Mereka dianggap imut. Meski lebih berkaitan dengan gambar, istilah ini cukup umum digunakan terhadap perempuan berciri serupa di kehidupan nyata.


Catatan Pengarang:

Terima kasih bagi yang sudah membaca cerita awal saya sampai akhir. Walau cerita ini bertema game Virtual Reality (VR), saya berusaha membuat agar cerita ini dapat menyentuh tidak hanya dari kalangan pemain game Online. Fokus cerita bukan terletak pada gamenya, tapi pada kehidupan karakter yang berada dalam cerita baik dalam game maupun dunia nyata. Ini termasuk dengan persepsi berbagai orang mengenai apa arti game di mata mereka.

Maaf kalau kepanjangan. Update selanjutnya tidak akan begini kok.

Salam penulis.