Episode 77 - Perburuan Berlanjut


Bintang Tenggara sepenuhnya mengakui bahwa ia melakukan kesalahan. Nekat memasuki gerbang dimensi menuju Partai Iblis hanya untuk ‘memburu’ keberadaan Lintang Tenggara bukanlah tindakan bijak. Saat ini, ia justru balik diburu oleh sekelompok orang dari Pulau Dua Pongah.

Padahal, di saat melihat Kum Kecho memasuki gerbang dimensi, adalah cukup memadai dengan mengingat lokasi gerbang dimensi itu saja. Ia lalu tinggal mempelajari cara merapal gerbang dimensi di Perguruan, sehingga di kemudian hari dapat membuka dan mengunjungi Kepulauan Jembalang. Walau, sepertinya tidak sesederhana itu, lokasi gerbang dimensi miliki Partai Iblis yang tersebar di Negeri Dua Samudera pastilah berpindah-pindah lokasinya secara berkala.

Meski demikian, Bintang Tenggara pun menyadari bahwa informasi yang ia miliki saat ini hanya bisa diperoleh karena berada di Kepulauan Jembalang secara langsung. Bilamana ia tak melompat ke dalam gerbang dimensi itu, maka akan sangat sulit memperoleh pengetahuan ini.

Terkait Lintang Tenggara dan Kum Kecho, masih ada kemungkinan bahwa mereka bukan merupakan warga Pulau Dua Pongah. Saat ini Bintang Tenggara memutuskan untuk mengeyampingkan kedua tokoh tersebut. Rencana yang ia susun adalah mengunjungi salah satu kota besar terdekat. Setibanya di sana, memanfaatkan gerbang dimensi menuju ibukota Pulau Dua Pongah. Baru dari ibukota nanti ia akan menyelinap dan memanfaatkan gerbang dimensi demi kembali ke Dunia Luar, Negeri Dua Samudera.

Bintang Tenggara sepenuhnya sadar bahwa ia memiliki lebih kurang satu bulan dan satu pekan untuk kembali. Bila tidak, maka ia kemungkinan besar akan kehilangan kesempatan mengikuti kejuaraan antar perguruan di kota ahli.

Sesuai peta yang tercantum dalam buku Bunga Rampai Partai Iblis, maka kota terdekat adalah sekitar enam hari perjalanan kaki. Bintang Tenggara menghela napas panjang. Ia pun kembali hendak beristirahat…

“Bum!” Bintang Tenggara segera melompat ke samping. Segera ia menengadah. Berkat penerangan temaram bulan setengah, ia mendapati Merpati Lonjak melayang tinggi di udara. Perban putih melingkari keningnya, wajahnya kesal penuh amarah.

Bintang Tenggara segera melesat ke balik pepohonan. Ia pun berlari secepat mungkin menghindar dari jangkauan katapel yang membidik ke arahnya. Meski demikian, kini Bintang Tenggara telah memiliki tujuan pasti. Ia pun berlari ke arah utara, sebuah kota besar menanti di sana. Tugas penting saat ini adalah menjaga jarak aman dari Merpati Lonjak.

Satu malam berlalu. Kejar mengejar kali ini berlangsung sengit. Amarah Merpati Lonjak membuatnya sangat agresif. Setiap ada kesempatan, ia akan melepaskan tembakan demi tembakan yang membuat Bintang Tenggara kewalahan. Bahkan beberapa tembakan katapel dengan peluru unsur api itu beberapa kali nyaris mengenai tubuh sasaran. Serpihan-serpihan batu yang berterbangan berhasil ditepis oleh Sisik Raja Naga di lengan dan kaki. Meski demikian, beberapa serpihan batu menghantam paha Bintang Tenggara. Darah mengalir dari beberapa luka yang terbuka.

Mengabaikan rasa perih, Bintang Tenggara terus berlari tanpa henti. Sehari semalam berlalu dan keduanya sudah mulai merasa lelah. Kecepatan terbang Merpati Lonjak pun mulai melambat. Kondisi ini adalah wajar adanya karena rompi bersayap yang ia kenakan mengkonsumsi tenaga dalam cukup signifikan. Oleh karena itu pula, frekuensi tembakan dari katapelnya pun mulai berkurang

Selalu ada kompensasi dari kemampuan yang luar biasa, demikian petuah yang sering disampaikan Super Guru Komodo Nagaradja. Hal ini pula yang menjadi pegangan Bintang Tenggara. Sekali lagi, dalam pertarungan daya tahan, ia cukup sabar untuk terus bertahan. Andai saja kesadaran Komodo Nagaradja saat ini tidak menghilang, maka dipastikan bahwa akan ada sejumlah petuah-petuah tambahan dalam berkelit dari pengejaran ini.

Dalam pelarian, Bintang Tenggara juga menyempatkan waktu untuk mengamati salah satu peluru yang diimbuh unsur api yang ia pungut. Prinsipnya sangatlah sederhana. Alirkan tenaga dalam dan unsur ke dalam batu, lalu perintahkan dengan mata hati agar batu tersebut meledak bilamana bersentuhan dengan apa saja.

Jarak yang memisahkan mereka semakin melebar. Bintang Tenggara berhenti sejenak, menyerap tenaga alam menggunakan jurus Delapan Penjuru Mata Angin, lalu lanjut berlari. Ketika tenaga dalam lawan menipis, ia justru tetap menjaga jumlah tenaga dalam agar selalu terisi. Matahari pagi baru saja terbit.

Tiba-tiba, Bintang Tenggara merasakan keanehan dari arah depan. Burung-burung di pepohonan beterbangan ke segala penjuru! Lalu, terdengar dengus napas dari puluhan ekor binatang bergegas ke arahnya. Merasakan sensasi bahaya, secepatnya ia membelok arah. Namun terlambat…

Seekor monyet tetiba menerkam ke arahnya. Ukurannya tidaklah besar, mirip monyet biasa. Akan tetapi, monyet tersebut terlihat sangat beringas! Ia membuka rahang lebar bersiap menancapkan taring-taring tajam ke tubuh mangsanya!

Bintang Tenggara terkejut. Spontan ia menangkis mengenakan lengan kanan yang telah dibungkus Sisik Raja Naga. Sungguh malang nasib monyet itu, taring-taringnya segera berpatahan ketika berupaya mencabik pelindung dari sisik siluman sempurna itu. Akan tetapi, seekor monyet lain menerkam ke arahnya… diikuti oleh seekor lagi… dua ekor… tiga ekor… Tak terbilang sudah jumlah ekor monyet yang mengerubungi Bintang Tenggara!

Asana Vajra, Bentuk Kedua: Virabhadrasana!

Setelah memasang gerakan prajurit, kilatan listrik membungkus kedua belah lengan Bintang Tenggara! Kedua cakarnya lalu menebas monyet-monyet yang menerkam ke arahnya. Monyet-monyet yang ditebas segera terpental jauh dan kehilangan kesadaran…

“Bum! Bum! Bum!”

Tiga ledakan beruntun telak mengincar tubuh Bintang Tenggara, menandakan ketibaan Merpati Lonjak. Sisik Raja Naga menangkis, namun gelombang ledakan mendorong tubuhnya enam sampai delapan langkah ke belakang. Sesudah itu, beberapa monyet kembali menerkam beringas!

Kewalahan. Serangan datang dari udara dan dari pawang binatang siluman. Meskipun belum terlihat ada ahli dengan keterampilan khusus pawang yang muncul. Bintang Tenggara yakin betul bahwa ada seorang yang bersembunyi dan mengintai. Namun, ia tak memiliki waktu untuk menelusuri di mana posisi pawang tersebut.

Bintang Tenggara memanfaatkan dorongan dari gelombang ledakan untuk terus bergerak menjauh. Belasan ekor monyet beringas bergerak cepat hendak menerkam.

“Bum! Bum! Bum!”

Kembali terdengar tiga ledakan beruntun. Satu ledakan berhasil dihindari dengan melompat ke samping. Ledakan kedua ditepis menggunakan Sisik Raja Naga. Akan tetapi, ledakan ketiga menghantam telak di pundak. Hanya setelah menerima tembakan itu baru ia merasakan keampuhan jurus peluru katapel Merpati Lonjak. Pertama, peluru batu sebesar kelereng menusuk, lalu ia meledak!

Di saat kritis, Bintang Tenggara sempat membugkus bahu dengan tenaga dalam. Walhasil, bahunya hanya sedikit berlubang dan mengeluarkan darah akibat peluru kelereng. Daerah sekitar lubang tersebut pun hanya membengkak, terselamatkan dari luka bakar. Bintang Tenggara jatuh terjerembab ke tanah. Segera ia hendak bangkit ketika merasakan belasan ekor monyet sedang menerkam!

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!

Meski terluka cukup parah, tenaga dalam Bintang Tenggara belum terlalu banyak terpakai. Teleportasi jarak dekat berhasil menyelamatkan dirinya dari sergapan monyet-monyet. Ia pun melanjutkan berlari, menahan rasa perih di bahu kiri.

“Buk!” Tendangan yang tak terduga arahnya datang tiba-tiba. Bintang Tenggara jatuh tersungkur, berguling di tanah. Menahan rasa perih di bahu kiri, ditambah kini nyeri di rusuk kanan, ia kembali berdiri dan berlari ke arah semak belukar nan lebat!

“Tahan dia!” seru Merpati Lonjak ke arah dua temannya. Hanya ia yang berada di udara menyadari bahwa di balik semak-semak tersebut… menanti sebuah jurang curam! Kedalaman jurang tak dapat terukur… hanya kegelapan yang menanti.

“Sruk!” Bintang Tenggara yang terlalu berfokus untuk menyelamatkan diri, tentu tak menyadari keberadaan sebuah jurang. Ia pun menerobos masuk ke semak-semak… dan serta-merta terjatuh tak berdaya!

“Merpati Lonjak! Kita wajib menginterogasi bagaimana penyusup itu dapat menembus formasi segel Benteng Bening!” seru Bunglon Malam. Ia berharap Merpati Lonjak bersedia terbang menuruni jurang. Tugas utama mereka adalah menangkap hidup-hidup musuh tersebut, bukan membunuhnya.

“Tenaga dalamku hampir terkuras habis,” ujar Merpati Lonjak sambil mendarat. Napas terengah, dan keringat membasahi sekujur tubuhnya. “Monyet Centil, kau saja yang memeriksa. Tugaskan binatang silumanmu ke bawah sana.”

“Percuma saja... Jurang ini terlalu terjal bagi ahli Kasta Perunggu yang terluka. Kuyakin ia telah menemui ajal,” ujar seorang gadis remaja yang berpenampilan mencolok keluar dari balik pepohonan. Ia lalu berdiri di ujung jurang.

“Kita perlu menuntaskan misi ini,” tambah Bunglon Malam ke arah Monyet Centil.

“Kalian tidak becus… sehingga aku yang perlu turun tangan. Kau saja yang turun ke bawah sana,” jawab Monyet Centil. “Aku harus kembali mengawal Nona…”

***

“Salam hormat Kakak Mayang Tenggara…”

“Oh, Berawa… apa yang membawamu terdampar jauh ke Pulau Paus?”

Mendengarkan ramalan dari Sesepuh Kedua, Maha Guru Keempat semakin cemas. Ia lalu melanjutkan pencarian Kota Taman Selatan, bahkan sejumlah tempat lain di Pulau Dewa. Pada akhirnya, ia menempuh satu-satunya harapan yang tersedia untuk mencari kejelasan. Dengan kecepatan penuh, sehari semalam ia habiskan untuk terbang tanpa henti menuju Pulau Paus.

“Sudah hampir sepekan Bintang Tenggara menghilang…,” wajah Maha Guru Keempat terlihat kusut.

“Hm…?” Secara naluriah Mayang Tenggara menyentuh keempat liontin berwarna biru lembayung yang bergelayutan di Untaian Tenaga Suci.

“Mungkinkah ia pergi bersama gurunya…?” Maha Guru Keempat berharap bahwa guru pertama dari anak didiknya, salah satu Jenderal Bhayangkara, adalah yang membawa Bintang Tenggara pergi.

“Mungkin saja…,” Mayang Tenggara menjawab ringan. Ia mengetahui bahwa Komodo Nagaradja akan selalu ada bersama anaknya itu. Meski tak bisa bergerak leluasa, Komodo Nagaradja pasti menjaga keamanan mereka berdua. Lagipula tak ada petanda bahaya dari liontin yang ia kenakan. Jadi, kecuali dalam kasus khusus dan mendesak seperti ancaman dari anak pertamanya, Mayang Tenggara tak merasa perlu melakukan apa-apa.

“Tentunya Kakak Mayang mengenal baik gurunya itu…,” Maha Guru Keempat setengah berharap mendapatkan informasi tambahan tentang sang guru.

“Benar,” jawab Mayang Tenggara cepat. “Terima kasih kuucapkan padamu karena turut bersedia membimbing anak kedua kami.”

“Sungguh lebih besar utangku kepada Kakak Balaputera dan Kakak Mayang Tenggara,” timpalnya cepat. Maha Guru Keempat lalu terdiam sejenak. Ia kelihatan ragu-ragu.

“Apakah Kakak Mayang pernah mendengarkan sebuah ramalan kuno?” Maha Guru Keempat menepis keraguan dalam benaknya.

“Ramalan yang tak lengkap itu…?” Mayang Tenggara mengingat-ingat sesuatu. Lalu kembali seperti sedia kala, sepertinya ia tak mau ambil pusing. Perkara ramalan bukanlah perihal penting baginya saat ini.

“Tentunya Kakak Mayang lebih banyak tahu daripada aku…”

“Kembalilah segera ke Pulau Dewa. Sampaikan salamku kepada Sesepuh Kedua...,” ujar Mayang Tenggara. Tentu tiada gunanya mengasingkan diri, bila ahli berkasta tinggi datang berkunjung dan memberi hormat.

***

“Aku memiliki firasat buruk!” seru Panglima Segantang di dalam benteng milik Maha Guru Keempat. Tempat ini sudah menjadi tempat perkumpulan rutin.

“Aji Pamungkas, mungkinkah ayahmu menculik Bintang Tenggara?” ujar Canting Emas. Berdasarkan penelusuran keluarganya, ada seorang ahli yang tak sengaja menyaksikan bahwa Bintang Tenggara berkomunikasi dengan seorang lelaki berkumis dan beralis tebal nan mengerikan. Tokoh tersebut juga mengenakan blangkon.

“Mungkin saja…,” jawab Aji Pamungkas sambil memicingkan mata. Ia seperti mulai percaya bahwa Bintang Tenggara diculik ayahannya sendiri. Setidaknya, dengan demikian Bintang Tenggara tak terancam bahaya.

“Ca-Em, sebaiknya engkau membalas dengan menculik aku… Menyekap aku di kamarmu selama berhari-hari...,” tambah Aji Pamungkas penuh harap.

“Lupakan saja kecurigaan tadi… tak mungkin ahli dengan harga diri tinggi seperti Adipati Jurus Pamungkas perlu menculik seorang anak remaja. Jikalau berkehendak, maka ia hanya perlu memanggil…,” jawab Canting Emas. Matanya sepintas menatap Aji Pamungkas… Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa kualitas diri Adipati Jurus Pamungkas tak menurun ke anak lelakinya itu…?

“Aku masih berfirasat buruk!” ulang Panglima Segantang.

“A… Aku berbeda pandangan…,” Kuau Kakimerah angkat bicara. Di antara mereka berempat, ia adalah yang terakhir menghabiskan waktu bersama Bintang Tenggara. “Mungkin ada seseorang yang harus ia temui….”

“Apa maksudmu?” sela Canting Emas. “Apakah guru misterius yang selama ini mengajarkan keahlian kepadanya.” Banyak yang telah berkesimpulan bahwa sebelum tiba di Pulau Dewa, pastinya ada guru digdaya yang sempat mengajarkan persilatan dan kesaktian kepada Bintang Tenggara.

Panglima Segantang mundur setengah langkah. Ia baru tersadar bahwa Komodo Nagaradja adalah sosok guru Bintang Tenggara. Secara tak langsung, dirinya juga memperoleh tunjuk ajar dari siluman sempurna itu. Panglima Segantang pun masih mengingat bahwa Komodo Nagaradja sempat masuk ke alam bawah sadarnya. Jadi, saat kejuaraan berlangsung, tokoh tersebut juga turut berada di wilayah gelanggang dan ikut menonton. Jika demikian, bukan tak mungkin Bintang Tenggara pergi sejenak bersama gurunya untuk meningkatkan keahlian. Demikian Panglima Segantang berkesimpulan.

“Hei, Panglima Segantang…,” sergah Canting Emas. “Apa yang kau pikirkan?”

“Apa yang kau rahasiakan…?” sambung Aji Pamungkas curiga.

“Tak ada apa-apa. Kuyakin Sahabat Bintang baik-baik saja,” jawab Panglima Segantang gelagapan.

“Kau sangat mencurigakan…,” Aji Pamungkas kembali memicingkan mata, dan bergerak mendekati Canting Emas.

“Sudahlah… tak ada gunanya mengira-ngira. Biarkan Perguruan yang mencari Bintang Tenggara,” ujar Canting Emas menjauh dari Aji Pamungkas. “Aku rasa ia baik-baik saja. Hari ini aku ingin membahas tentang Kejuaraan Antar Perguruan di Kota Ahli.”

Canting Emas lalu melanjutkan bahwa sistem yang digunakan pada kejuaraan tersebut berbeda dengan kejuaraan internal yang pernah mereka ikuti. Nantinya, mereka tidak akan bertarung satu lawan satu, melainkan langsung lima lawan lima. Jadi, akan ada sepuluh orang di atas panggung bertarung secara bersama-sama. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama yang baik antar anggota regu.

Setiap dua tahun, hanya ada 32 perguruan besar dari seantero Negeri Dua Samudera yang diundang mengikuti kejuaraan. Meski demikian, sebagian besar perguruan memang berasal dari Pulau Jumawa Selatan sebagai tuan rumah. Dengan kata lain, kejuaraan tersebut sebenarnya diperuntukkan untuk menjaga standar mutu perguruan di Pulau Jumawa Selatan. Sebagai tambahan, Perguruan Gunung Agung tak pernah masuk ke dalam urutan sepuluh besar.

“Aku masih perlu beristirahat selama sepekan lagi. Jadi, aku hanya akan memandu kalian bertiga dalam berlatih,” tutup Canting Emas.

“Aku banyak mendengar tentang kejuaran ini,” Aji Pamungkas angkat bicara. “Kita harus memiliki jurus simpanan bila hendak berhasil.”

“Jurus simpanan?” Panglima Segantang terlihat penasaran.

“Benar. Sebuah jurus penentu kemenangan yang dapat dikerahkan bersama-sama,” ujar Aji Pamungkas dengan wajah serius.

“Jurus seperti apakah itu?” timpal Kuau Kakimerah.

“Mari… aku akan mengajarkan langsung kepada Ca-Em dan Kukame. Apalagi kalau bukan jurus… Beulut Darat!”