Episode 76 - Ramalan


Di sisi timur, satu regu yang beranggotakan sepuluh orang terlihat sedang merapal sesuatu. Perlahan dan dalam diam mereka berupaya membuka celah pada formasi segel di pinggir pantai Pulau Dua Pongah. Sepertinya mereka telah melakukan persiapan yang cukup matang.

Setelah berhasil memasuki Pulau Dua Pongah, mereka bergerak cepat dan beriringan. Kesemuanya mengenakan pakaian berwarna hitam yang menutup sekujur tubuh. Hanya kedua mata dan telapak tangan yang terbuka. Tak ada keraguan dari sorot mata dan gerak tubuh mereka.

Anehnya, pergerakan regu yang baru tiba ini tak memicu sinyal siaga dari formasi segel Benteng Bening itu. Padahal, begitu saja Bintang Tenggara tiba di Pulau Dua Pongah sehari sebelumnya, formasi segel tersebut segera bereaksi.

Kesepuluh orang berpakaian gelap berhenti sejenak. Mereka saling tatap, tak satu pun di antara mereka bersuara. Ketika sudah waktunya melanjutkan perjalanan, salah satu dari mereka menggerakkan tangan layaknya berbicara menggunakan bahasa isyarat. Ia membuka telapak tangan dan meregangkan jemari seperti hendak menyampaikan bilangan lima. Entah apa artiya, mungkin berpisah menjadi kelompok yang terdiri dari lima orang, atau mungkin perlu lima hari bagi mereka untuk mencapai tujuan…

“Hm…? Apakah ada sesuatu yang aneh di wilayah timur?” tanya Gubernur Pulau Dua Pongah merasa tak nyaman.

“Tak ada sinyal siaga dari wilayah timur, Yang Terhormat Gubernur,” jawab seorang petugas cepat.

Bintang Tenggara baru saja memasuki goa. Ukurannya tidaklah terlalu besar, hanya pas untuk ditelusuri oleh seorang saja. Tak perlu banyak langkah, liang goa sudah menemui jalan buntu. Anak remaja itu lalu mulai menimbang-nimbang. Mungkinkah masuk ke goa ini bukalah pilihan yang tepat? Kini, ia justru terkurung dan hanya memiliki satu jalan keluar, yaitu pintu masuk tadi.

Tabir malam sudah sepenuhnya turun menyelimuti hutan. Merpati Lonjak terbang mengitari goa beberapa kali. Rompi sakti yang ia gunakan terlihat begitu perkasa dengan menyibak sepasang sayap besar. Perlahan, ia lalu mendarat di sebuah dahan pohon besar tepat di depan mulut goa.

Sebagai ahli yang ditugaskan melacak, Merpati Lonjak memiliki kelebihan di udara, dan percaya diri yang besar. Saat ini ia sedang menyusun rencana selanjutnya. Karena, berdasarkan pengamatan atas wilayah sekitar goa, besar kemungkinan bahwa goa tidaklah terlalu dalam. Pertanyaan yang berkutat di benaknya adalah apakah meringkus buruan saat ini, atau menunggu keesokan hari.

“Bum!” terdengar suara ledakan dari luar goa.

Bintang Tenggara mengerutkan dahi. Ia menyadari bahwa Merpati Lonjak menembakkan kelereng-kelereng batu berunsur api ke arah pintu masuk goa, sebagai cara untuk memancing keluar buruannya. Ia menyimpulkan bahwa lawan yang waras tentu saja akan keluar karena tak terkubur hidup-hidup!

“Bum!” suara ledakan kembali terjadi. Bongkahan tanah dan bebatuan mulai berjatuhan.

Beberapa ledakan kemudian, mulut goa sudah sepenuhnya tertimbun oleh tanah dan bebatuan. Merpati Lonjak merasa heran... Ia masih dapat merasakan keberadaan mustika tenaga dalam Kasta Perunggu di dalam goa. Mengapa buruannya tak segera melangkah keluar?

Meski demikian, Merpati Lonjak masih cukup waspada. Ia menunggu di atas dahan. Tiga jam berlalu cepat. Merpati Lonjak mulai tak sabar. Bisa saja sang buruan memutuskan untuk beristirahat, bahkan mungkin melelapkan mata di dalam goa yang kini terkunci itu. Sedangkan dirinya, ia harus berjaga di atas dahan pohon.

“Hei! Kau yang di dalam goa, apakah kau hendak membusuk di dalam situ!?” seru Merpati Lonjak.

Hening.

“Bum!” Merpati Lonjak melepaskan satu tembakan lagi ke mulut goa.

Hening.

Merpati Lonjak semakin tak sabar. Bila tak ditugaskan melacak penyusup tersebut, saat ini tentu ia berada di kediamannya tertidur lelap. Sempat terlintas di benaknya bahwa mungkin seharusnya tadi ia membantu Tikus Awan dan Bunglon Malam sehingga tak perlu bersusah payah seperti ini. Galau, ia pun menuruni pohon, dan berjalan pelan ke arah mulut goa. Tetap waspada.

“Apakah kau menjadi tuli di dalam sana!?” sergah Merpati Lonjak.

Hening. Merpati Lonjak pun melangkah semakin dekat ke mulut goa yang sudah terkubur itu.

“Badak!” tertiba terdengar jawaban dari balik reruntuhan, disusul suara bergelegar memekak telinga. Tanah dan berbatuan pun berhamburan deras melesat ke arah Merpati Lonjak yang saat ini berdiri di depan mulut goa!

Dalam pertarungan kesabaran, jangan sesekali berani melawan Bintang Tenggara. Ia cukup tenang menantikan lawan kehilangan kesabaran dan akhirnya melangkah ke mulut goa. Sehari sebelumnya pun ia sabar, bahkan menghabiskan waktu selama enam jam bersembunyi di dalam ruang dimensi jurus Silek Linsang Halimun. Jadi apa yang ia lakukan selama enam jam jika tak bisa tertidur karena merapal jurus? Ia membaca Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Sederhana. Bahkan tadi, ia menghabiskan waktu dengan mengutak-atik Segel Penempatan. Terkurung sejenak di dalam formasi segel Tikus Awan sehari lalu memberikan sedikit tambahan pemahaman tentang formasi segel.

Merpati Lonjak cukup gesit melejit tinggi ke udara. Hanya beberapa bongkah batu menghantam tubuhnya. Meski, salah satu bongkahan batu sebesar satu kepal tangan menggores pelipis kirinya, dan darah segar mengalir ringan sampai ke dagu.

Menyadari lawan telah berada jauh di udara, Bintang Tenggara segera melesat ke arah pepohonan. Ia kembali berlari di bawah satu pohon menuju pepohonan berikutnya. Merpati Lonjak terlambat mengejar sepersekian detik karena melesat tinggi, lalu menyeka darah dari pelipisnya. Demikian, jarak yang memisahkan mereka kini mencapai 300 m.

Kegiatan mengejar dan dikejar kembali berlangsung. Karena jarak yang terpaut cukup jauh, Bintang Tenggara tidak lagi berlari dari pohon ke pohon. Ia berlari seperti biasa saja. Bila jarak menyempit maka ia akan menggunakan kesaktian unsur petir. Bilamana kembali menjauh, maka ia hanya berlari dengan mengimbuh tenaga dalam ke otot dan sendi di kaki.

Sesekali Melati Lonjak menembakkan peluru unsur api dari katapel di tangan kanannya. Akan tetapi, jarak yang memisahkan mereka membuat bidikan tak pernah tepat sasaran. Paling banyak, hanya meledakkan dahan pohon atau tanah di dekat Bintang Tenggara.

“Plush…” Sebuah batu seukuran kelereng yang diimbuh unsur api mendarat di depan Bintang Tenggara. Akan tetapi, peluru tersebut tidak meledak seperti biasanya. Ledakan tak terjadi kemungkinan karena peluru katapel terbang terlalu jauh sehingga kehilangan daya hentak yang menjadi pemicu ledakan. Mungkin saja… Apa pun itu alasannya, Bintang Tenggara segera memungut peluru yang bapet itu.

Enam jam berlalu dan malam pun beranjak subuh. Bintang Tenggara dan Merpati Lonjak sama-sama menahan kantuk. Terlebih lagi, Bintang Tenggara praktis belum tidur selama dua malam. Ia harus segera melepaskan diri dari pengejar di udara agar dapat beristirahat.

Dua jam kembali berlalu. Matahari pagi bersinar cemerlang menyilaukan pandangan mata. Bintang Tenggara berlari di sela-sela pohon mencari keteduhan dari balik dedahan dan dedaunan. Saat ini ia sedang menelusuri aliran sungai.

Merpati Lonjak mulai frustasi. Bagaimana tidak, Bintang Tenggara tak sengaja tiba di wilayah barat, dan kini berlari ke arah pusat pulau, yaitu ke arah timur. Matahari pagi yang baru terbit menyengat tepat di mata Merpati Lonjak yang semalaman belum tidur. Ditambah lagi, luka di pelipis kananya terasa nyeri. Kepalanya pusing. Oleh karena itu pula, ia terlambat menyadari bahwa tak jauh di hadapan mereka, kini terdapat sebuah tempat keramaian!

Bintang Tenggara menangkap demikian banyak aura mustika tenaga dalam tepat dari arah depan. Ia pun mempercepat langkah, sambil tetap waspada. Ketika sudah dalam jarak pandangan mata, senyum tipis menghias ujung bibirnya. Keramaian yang ia rasakan berasal dari… pasar pagi!

Tanpa ragu, Bintang Tenggara segera masuk ke dalam wilayah pasar. Ia pun mulai membaur dalam keramaian. Di kanan-kiri terlihat berbagai macam gerai yang menjajakan kebutuhan pokok serta kebutuhan-kebutuhan lain. Sudut matanya menangkap bahwa kegiatan jual-beli dilakukan dengan menukarkan keping-keping perunggu atau perak. Bintang Tenggara memiliki cukup banyak kepingan perak hasil dari kejuaraan dua pekan lalu.

Di belakang, jauh di udara, Merpati Lonjak terdiam membisu. Di sebuah pasar yang sedang ramai-ramainya, ia kehilangan sosok penyusup tersebut. Penyesalan memang selalu datang belakangan.

Pasar terlihat sibuk, dan terdengar ramai. Ratusan gerai terlihat berbaris teratur. Sangat ramai orang terlibat dalam dalam tawar-menawar. Perdagangan di wilayah ini hidup sekali. Bintang Tenggara lalu membeli sebuah jubah bertudung berwarna cokelat tua.

“Adik kecil, aku ingin menguji pengetahuanmu... Bila kau bisa menjawab, maka akan kuberikan tiga keping perunggu,” ujar Bintang Tenggara setengah mengantuk ke arah seorang anak berusia enam atau tujuh tahun yang sedang bermain sendiri.

Dalam pengejaran, rasa kantuk sedikit memudar; namun saat tak lagi berlari, kelopak matanya terasa berat sekali. Meski demikian, ia tetap harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.

Si adik kecil menatap lawan bicara yang mengenakan jubah cokelat itu… “Maaak! Ada orang jahat!” teriaknya sambil berlari.

Bintang Tenggara terkejut bukan kepalang. Beberapa pasang mata langsung mengarah ke dirinya. Menyadari rencana mencari informasi yang gagal, dan berisiko dicurigai sebagai predator anak-anak, ia pun segera melangkah pergi.

“Aku hendak membeli buku ini…,” ujar Bintang Tenggara kepada penjaga di gerai buku dan kitab, sambil menyerahkan sebuah buku berukuran sedang. Pada halaman muka, tertulis besar sebuah judul: ‘Bunga Rampai Partai Iblis’. Seharusnya sedari tadi saja ia menempuh cara ini.

Bintang Tenggara melangkah kembali menelusuri keramaian pasar. Setelah membeli makanan, kini tujuannya adalah sesegera mungkin mencari penginapan untuk merebahkan tubuh dan melelapkan mata.

“Itu dia!” Terdengar suara hardikan dari seorang perempuan dewasa bertubuh gemuk. “Itu dia remaja yang tadi mencoba mendekati anakku!” seru perempuan itu sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah Bintang Tenggara.

“Berhenti!” tetiba dari arah yang sama terdengar seruan. Empat atau lima orang ahli yang mengenakan seragam bergegas ke arahnya.

“Ck…,” Bintang Tenggara hanya mendecakkan lidah. Kesalahpahaman yang sempat terjadi tadi, rupanya berbuntut panjang.

Mau tak mau, Bintang Tenggara segera memacu langkah menuju kerumunan massa. Akan tetapi, para pengejarnya kali ini cukup lincah bergerak di tengah-tengah orang ramai. Sepertinya terlatih sekali mereka dalam melakukan pengejaran.

Bintang Tenggara tiba di sisi luar pasar. Hamparan hutan kembali terbentang luas. Tak ada pilihan lain, ia pun segera menuju hutan. Rupanya para pengejarnya tak hendak meneruskan pengejaran. Mungkin wilayah wewenang mereka hanya terpaku dalam wilayah pasar tersebut.

“Yang Terhormat Gubernur, Bunglon dan Tikus telah kembali. Tikus mengalami cedera di pergelangan kakinya sehingga tak bisa meneruskan tugas,” terdengar suara melapor.

“Bagaimana dengan Merpati?”

“Kami juga baru menerima laporan dari Merpati. Ia juga kehilangan jejak si penyusup.”

“Panggil Monyet yang kebetulan sedang berada di wilayah itu. Tugaskan kembali Bunglon dan Merpati!” perintah sang Gubernur. “Sebar ciri-ciri penyusup itu. Kabari juga kota-kota besar dan kecil untuk bersiaga.”

Ketika perhatian Istana Gubernur Pulau Dua Pongah sedang terpaku pada Bintang Tenggara. Kelompok penyusup lain bergerak cepat ke tengah pulau. Tak sekali pun mereka berhenti bergerak.

Bintang Tenggara akhirnya memutuskan mencari perlindungan di hutan. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam ia berhenti. Di dalam rongga sebuah pohon besar ia pun beristirahat.

Malam telah tiba ketika dirinya terbangun dari tidur. Pulas sekali tidurnya. Setelah menyantap perbekalan, ia pun membuka buku Bunga Rampai Partai Iblis. Bintang Tenggara langsung membuka halaman tentang Pulau Dua Pongah.

Buku tersebut menjabarkan tentang Markas Besar Partai Iblis yang berada di Kepulauan Jembalang. Terdapat satu pulau utama, serta lima pulau besar yang mengelilingi pulau utama tersebut. Setiap pulau memiliki otonomi sendiri-sendiri dan dipimpin oleh seorang Gubernur. Pulau Dua Pongah adalah pulau yang paling tenteram. Pemimpinnya berlaku adil dan sangat dihormati oleh warga.

Wilayah Pulau Dua Pongah merupakan satu-satunya pulau di Kepulauan Jembalang yang memiliki formasi segel pertahanan yang membentengi sekeliling pulau. Segel Benteng Bening adalah sebutannya, dan berfungsi untuk melindungi warga pulau dari ancaman ‘Dunia Luar’ serta dari pulau-pulau lain di Kepulauan Jembalang.

“Dunia Luar?” gumam Bintang Tenggara. Sehari sebelumnya, gadis berjulukan Tikus Awan juga mempertanyakan apakah dirinya berasal dari Dunia Luar. Bintang Tenggara lalu membolak-balik sejumlah halaman menelusuri buku… Dunia Luar ternyata adalah Negeri Dua Samudera itu sendiri.

Jadi, kesimpulan yang dapat ditarik adalah sesungguhnya Kepulauan Jembalang ini tidak terletak di suatu tempat di Negeri Dua Samudera, melainkan berada di dalam dimensi tersendiri. Dimensi yang mirip dengan dimensi berlatih di Perguruan Gunung Agung! Akan tetapi, siapa gerangan yang bisa membuka ruang dimensi sebesar ini!?

Kembali ke halaman-halaman tentang Pulau Dua Pongah. Sebuah pulau yang merupakan hamparan hutan lebat, sungai bercabang, dengan sebuah gunung berapi. Ukurannya sedikit lebih besar dari Pulau Dewa. Terdapat enam kota besar dan puluhan kota kecil di semerata pulau.

Setiap kota besar terhubung oleh gerbang-gerbang dimensi. Satu-satunya gerbang dimensi yang bisa digunakan untuk meninggalkan Pulau Dua Pongah menuju pulau-pulau lain dan Dunia Luar tersedia di ibukota yang berada di tengah pulau, di kaki gunung berapi. Tanpa menggunakan gerbang dimensi antar kota, maka akan membutuhkan waktu sepekan untuk mencapai ke tengah pulau.


***


Tiga hari telah berlalu sejak Bintang Tenggara meninggalkan Pulau Dewa. Maha Guru Keempat terlihat gusar. Ia menyesal telah menugaskan anak didiknya itu ke Kota Taman Selatan. Ia kini terbang berputar-putar di atas kota, sambil menebar mata hati.

Informasi yang Maha Guru Keempat peroleh adalah anak didiknya telah mengambil paket sesuai perintah di malam itu. Namun, yang membuatnya semakin cemas adalah di malam yang sama, telah terjadi peristiwa pembunuhan. Apakah ada kaitannya dengan hilangnya Bintang Tenggara?

“Sesepuh Kedua menantikan kehadiran Maha Guru Keempat di Balai Agung,” terdengar suara dari Lencana Perguruan milik Maha Guru Keempat.

Berat rasanya bagi Maha Guru Keempat untuk meninggalkan Kota Taman Selatan dan segera kembali ke Perguruan Gunung Agung. Akan tetapi, tak mungkin ia mengabaikan panggilan dari salah satu Tri Baghawan Agung. Selama ini, kepemimpinan Perguruan dijalankan oleh Sesepuh ketiga. Sedangkan Baghawan Agung lainnya, yaitu Sesepuh Kedua dan Sesepuh Keempat, lebih banyak menghabiskan waktu dalam tapa.

Apa kiranya yang hendak di disampaikan oleh Sesepuh Kedua? pikir Maha Guru Keempat menebak-nebak.

Sesampainya di Balai Agung, Maha Guru Keempat mendapati Sesepuh Ketiga, Sesepuh Kelima, Sesepuh Ketujuh dan Maha Guru Kesatu sedang berbincang-bincang di balik sebuah meja bundar yang besar. Apakah ada hal yang mendesak? Apakah ada ancaman terhadap Perguruan?

“Saudara dan saudariku sekalian…,” tetiba terdengar suara renta dari salah satu sisi meja buntar.

Tak lama berselang, terlihat seorang tua duduk bersila di salah satu bangku yang mengelilingi meja bundar itu. Sosoknya terlihat sangat uzur. Setiap helai rambut, alis, serta janggutnya berwarna putih. Kedua belah matanya terpejam.

“Lantaran perkembangan yang terjadi belakangan ini, dan kemungkinan akan sejumlah kejadian di masa depan…,” Sesepuh Kedua berhenti sejenak. Sedari muncul secara tiba-tiba, tak ada satu pun bagian tubuhnya yang bergerak. Ia pun berbicara menggunakan jalinan mata hati.

“Aku hendak menyampaikan ramalan kuno yang telah cukup lama kusimpan… Meski, aku hanya memiliki sepenggal dari ramalan itu.”

Setiap ahli di dalam ruangan itu hanya diam dan sabar menanti. Bahkan Sesepuh Ketiga, yang secara struktur memiliki jabatan yang setara dengan Sesepuh Kedua, tak hendak menyela.

“Bintang di langit tenggara.

Agar ditopang sembilan unsur.

Langkah pertama menuju agung.

Tindak kedua memikat putih…”