Episode 75 - Perburuan Dimulai


Gerbang antar dimensi merupakan sarana teleportasi jarak jauh yang menghubungkan dua lokasi yang terpisah ruang. Ia memanfaatkan setidaknya dua formasi segel untuk membuka semacam terowongan dimensi. Bila hendak menggunakan gerbang dimensi, seseorang harus mengaktifkan formasi segel kemudian memberikan perintah tujuan melalui kode-kode tertentu.

Biasanya, ketika masuk ke dalam gerbang dimensi, pengguna akan pasrah dibawa menelusuri lorong sampai ke gerbang tujuan. Akan tetapi, kali ini berbeda…. Singkat kata, Bintang Tenggara melompat ke dalam sarana teleportasi jarak jauh, menggunakan jurus yang mampu melakukan teleportasi jarak dekat. Walhasil, sesampai di dalam gerbang dimensi, ia tak sengaja menembus sisi lorong dan keluar sebelum sampai ke gerbang tujuan!

“Swush!”

Bintang Tenggara terlontar keluar dari lorong dimensi dan mendarat di pasir. Segera ia menyapu pandang. Bulan setengah yang menggantung di langit memberi sinar temaram. Angin laut terasa dingin membelai.

Dimanakah Kum Kecho dan temannya? Bintang Tenggara menebar mata hati mencari keberadaan ahli lain di sekitar. Akan tetapi, ia tak menemukan aura mustika sama sekali.

“Dimanakah lokasi penyusup?” tanya seorang lelaki dewasa bertubuh besar tinggi.

“Yang Terhormat Gubernur, sinyal siaga berasal dari wilayah barat pulau.”

“Segera kirim regu pemantau. Pastikan apakah penghuni pulau lain… ataukah dari luar Kepulauan Jembalang. Pastikan juga apakah pelarian atau penyusup.”

Setelah memberi perintah, Gubernur Pulau Dua Pongah melangkah menuju sebuah jendela besar. Ia menatap jauh ke arah barat. Ada perasaan janggal yang tak dapat ia jelaskan.

Bintang Tenggara menapak ringan ke arah tengah pulau. Sedikit banyak ia ketahui bahwa telah terjadi penyimpangan arah ketika memasuki gerbang dimensi, karena menggunakan teleportasi jarak dekat. Jadi, saat ini ia belum pasti apakah benar berada di wilayah Partai Iblis. Kalau pun benar berada di wilayah partai iblis, maka sekarang ia perlu mencari gerbang dimensi untuk kembali.

Baru sekarang pula ia menyadari telah melakukan tindakan yang teramat ceroboh. Jika tujuan awal mencari tahu posisi Partai Iblis, maka bagaimana cara menandai agar suatu saat dapat kembali? Bila dilihat dari rasi perbintangan, maka ia tak memiliki pemahaman yang memadai untuk menandai lokasi ini. Satu-satunya jalan adalah dengan mencari lokasi tertentu yang mencolok, misalnya sebuah gunung atau petanda alam lain yang khas agar nantinya bisa ditelusuri.

Samar-samar, Bintang Tenggara merasakan semacam formasi segel yang melingkupi keseluruhan wilayah. Akan tetapi, ia tak ambil pusing karena tak memahami dan tak merasa terancam oleh formasi segel tersebut.

Dari kejauhan, tetiba Bintang Tenggara merasakan aura tenaga dalam Kasta Perunggu mendekat. Paling tidak, sepuluh jumlah mereka. Apakah kebetulan belaka? Apakah ada yang mengetahui kehadiran diriku? Bintang Tenggara memutuskan untuk bersembunyi sambil mengawasi situasi.

Silek Linsang Halimun, Bentuk Pertama: Terhimpit di Atas, Terkurung di Luar!

“Apakah hanya aku seorang yang tadi merasakan kehadiran aura Kasta Perunggu?” tanya salah seorang anggota regu pemantau.

“Tidak, aku juga merasakan sesuatu tadi…,” terdengar jawaban. “Mari kita telusuri lebih seksama.”

Enam jam berlalu. Bintang Tenggara cukup sabar menanti di ruang dimensi kecil yang diciptakan oleh Bentuk Pertama dari Silek Linsang Halimun. Untungnya, konsumsi tenaga dalam Bentuk Pertama ini tak sederas Bentuk Ketiga dalam melakukan teleportasi jarak pendek. Akan tetapi, ia tak bisa tidur, karena bila ia tertidur maka jurus Silek Linsang Halimun akan batal dengan sendirinya.

“Siapakah kiranya di Kepulauan Jembalang yang berani menyelinap ke wilayah Pulau Dua Pongah…?”

“Siapa pun itu, sepertinya ia memiliki kemampuan untuk bersembunyi….”

Dengan demikian sepuluh orang yang telah menelusuri wilayah dimana Bintang Tenggara menyembunyikan diri pun berlalu. Mereka kembali dengan tangan kosong.

“Yang Terhormat Gubernur, selamat pagi… Regu pemantau telah kembali karena tak menemukan apa-apa. Namun, menurut laporan, mereka sempat merasakan kehadiran aura Kasta Perunggu.”

“Hm…? Segel Benteng Bening tak pernah keliru. Tugaskan regu pelacak!”

Bintang Tenggara sedang menapak ke dalam hutan. Setelah para pencari pergi, ia masih menunggu di dalam ruang dimensi selama beberapa jam. Ia pun menyadari bahwa kemungkinan kehadirannya di pulau ini diketahui oleh siapa pun penguasa pulau. Dari regu pemantau ia mencuri dengar bahwa pulau ini bernama Pulau Dua Pongah di Kepulauan Jembalang. ‘Pongah’ berarti sangat sombong atau angkuh, sedangkan ‘Jembalang’ berarti hantu. Ia mulai berasumsi bahwa benar berada di wilayah Partai Iblis, namun tidak diketahui di bagaian mana persisnya.

“Oh rupanya kau kecoa kecil yang berkunjung ke Pulau Dua Pongah…,” tetiba terdengar suara menyapa.

Bintang Tenggara terkejut bukan kepalang. Sejak awal ia cukup waspada dan selalu menebar mata hati sejauh mungkin. Akan tetapi, bagaimana mungkin seseorang bisa hadir di dekatnya tanpa disadari!?

Seorang remaja lelaki yang lebih tua berdiri di dahan pohon di atas tubuh Bintang Tenggara. Tubuhnya seolah menyatu dengan dahan dan daun pepohonan. Kemungkinan seorang ahli Kasta Perunggu Tingkat 6 atau 7. Hanya pembunuh bayangan yang biasanya memiliki kemampuan kamuflase seperti ini…

“Aku tak sengaja tiba di pulau ini…,” ujar Bintang Tenggara berpura-pura tersasar. “Sudikah kiranya Kakak Ahli mengabari dimanakah gerangan ini?”

“Hm…? Kau sepertinya tak berasal dari Kepulauan Jembalang… Ungkapkan jati dirimu!”

“Oh, Bunglon Malam… Kau sudah menemukan si penyusup…?” terdengar suara seorang gadis remaja menyela.

“Sungguh aku tak mengetahui berada dimana…,” ujar Bintang Tenggara lagi.

“Hm… Bila kau berasal dari pulau-pulau lain, tunjukkan lencanamu! Bila tak memiliki lencana, maka pastilah kau dari Dunia Luar!” sergah gadis yang baru tiba.

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana!

Dengan cepat Bintang Tenggara memasang gerakan pemberani, lalu melesat secepat kilat ke arah semak-semak! Sekarang ia sudah pasti bahwa pulau ini adalah markas Partai Iblis. Ia berisiko tertangkap, dan bila tertangkap bukan tak mungkin bertemu orang-orang yang mengenalinya, seperti Lintang Tenggara, Guru Muda Anjana, Maha Guru Keenam, atau Kum Kecho!

Silek Lintang Halimun, Bentuk Pertama: Terhimpit di Atas, Terkurung di Luar!

Segera setelah berhasil menjaga jarak aman, Bintang Tenggara langsung menyembunyikan diri. Ia berharap mengulangi upaya semalam. Di dalam dimensi penyembunyian kecil ia berpikir keras. Dari mana mereka memperkirakan lokasi keberadaan diriku?

Tetiba Bintang Tenggara merasakan ada yang aneh dari dimensi persembunyiannya. Rasanya seperti ada yang berupaya membuka paksa…

“Plop!” Bintang Tenggara terlontar keluar dari dimensi persembunyian!

“Heh! Kau kira bisa bersembunyi dari indera penciumanku…?” ujar gadis remaja yang sebelumnya berdiri di depan Bintang Tenggara. “Sepanjang aku mengingat aromamu, kau tak akan mungkin bisa bersembunyi dari seekor tikus.”

“Sungguh jurus yang aneh…,” remaja lelaki yang berjuluk Bunglon Malam juga tiba. “Tikus Awan, sebaiknya segera ringkus kecoa ini.”

Seketika itu juga gadis berjuluk Tikus Awan segera merapal formasi segel. Ia lalu melontarkan formasi segel tersebut ke arah Bintang Tenggara! Dalam keterkejutan menyaksikan sebuah formasi segel, Bintang Tenggara terlambat bergerak. Segera tubuhnya terkurung dalam semacam kotak persegi!

Pantas saja, pikir Bintang Tenggara berupaya tetap tenang dan mengamati formasi segel yang mengurung dirinya. Rupanya Tikus Awan memiliki keterampilan khusus segel, sehingga bisa membuka paksa ruang dimensi jurus Silek Linsang Halimun.

Tikus Awan lalu melambaikan tangan, membuat segel persegi yang mengurung Bintang Tenggara sedikit melayang di atas tanah. Keduanya lalu melangkah di hadapan, membawa tawanan yang mudah saja mereka tangkap.

“Sebaiknya kita segera menyerahkan mangsa hari ini sebelum yang lainnya tiba…,” ujar Tikus Awan.

“Swush!” Tetiba Bintang Tenggara melompat keluar dari formasi segel yang mengurung dirinya. Tak perlu waktu lama bagi Bintang Tenggara untuk mengutak-atik lalu membuka segel tersebut!

Menyadari tawanan mereka melepaskan diri, Bunglon Malam segera menghilang! Tidak hanya tubuhnya menghilang dari pandangan, bahkan aura mustika tenaga dalamnya tak dapat dirasakan.

Bintang Tenggara segera melompat ke samping… Akan tetapi, nalurinya mengatakan ada bahaya dari arah belakang. Benar saja, sebuah tendangan mengincar kepala bagian belakang!

Silek Linsang Halimun, Bentuk Kedua: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting!

Tendangan tak kasat mata dari Bunglon Malam hanya menyapu bayangan kepada lawan. Bintang Tenggara bergerak cepat ke arah Tikus Awan!

“Bugh!” Tiga tinju berkecepatan cepat menghantam telak di ulu hati Tikus Awan yang menantikan temannya meringkus buruan mereka. Gadis tersebut bahkan tak bersiaga atas serangan. Ia lengah karena meremehkan lawan.

“Brak!” Tinju cepat Bintang Tenggara kini menghantam pergelangan kaki Tikus Awan. Sederhana… Bagi Bintang Tenggara, Tikus Awan adalah ancaman terbesar. Semaksimal mungkin ia akan melumpuhkan lawan, dan tindakan tersebut harus dilakukan tuntas. Tak ada keraguan dari sorot mata Bintang Tenggara yang baru saja mencederai pergelangan kaki lawan. Meski tak fatal, cedera tersebut memastikan bahwa Tikus Awan tak akan dapat berjalan dalam waktu dekat, bahkan mungkin dalam beberapa bulan ke depan.

Bunglon Malam melancarkan serangan deras ke arah Bintang Tenggara yang terus berkelit menjauh. Meski tubuhnya tak terlihat dan aura mustika tenaga dalamnya tak dapat dirasakan, tendangan dan pukulannya menghasilkan desir angin yang dapat dirasakan pada detik-detik akhir. Dengan modal latihan konsentrasi sesuai panduan Komodo Nagaradja, Bentuk Kedua Silek Linsang Haliman dapat menghindar tepat waktu.*

Bintang Tenggara bergerak semakin menjauh dari posisi Tikus Awan yang tergeletak tak berdaya. Serangan dari Bunglon Malam pun tak lagi deras. Kemungkinan besar ia tak hendak bergerak terlalu jauh dari rekannya. Bintang Tenggara pun akhirnya terlepas dari incaran lawan. Ia lalu terus berlari semakin dalam ke arah hutan.

“Haha… tak kusangka kalian berdua kewalahan menangkap seekor kecoa!” terdengar suara mengejek ke arah Bunglon Malam.

“Merpati Lonjak!” seru Bunglon Malam geram. “Sedari kapan kau hanya mengamati?”

“Cukup lama untuk melihat dua ekor pecundang kewalahan memburu seekor kecoa…,” ejek remaja lelaki yang melayang di udara. Ia mengenakan sebuah rompi yang memiliki sepasang sayap besar di bagian punggung. Sepertinya sebuah rompi tersebut merupakan sebuah peralatan pusaka yang memungkinkan penggunanya untuk terbang.

“Mengapa kau tak membantu kami!? Kita sama-sama bertugas melacak!” hardik Bunglon Malam ketika tiba di samping Tikus Awan yang masih tak sadarkan diri.

“Kalian dua pecundang kembalilah… Aku yang akan meringkus buruan hari ini.” Seketika itu juga Merpati Lonjak terbang ke arah larinya Bintang Tenggara.

Bintang Tenggara terus berlari. Dalam hati ia meringis. Pertarungan di atas panggung yang memiliki tata cara, tentu berbeda sekali dengan pertarungan yang mempertaruhkan nyawa. Apa pun itu, aku tak boleh tertangkap oleh orang-orang ini.

“Bum!” tetiba sebuah ledakan kecil terjadi tepat di sebelah Bintang Tenggara. Ia pun terjungkal berjumpalitan beberapa langkah ke samping. Segera ia amati sekeliling namun tak mendapati dan merasakan ada pengejar. Apakah Bunglon Malam yang masih mengejar dan membawa peledak!

“Swush!” Sepintas Bintang Tenggara mendengar desir angin.

“Bum!” Kali ini Bintang Tenggara sempat mundur beberapa langkah ke belakang. Spontan ia menengadah dan melihat sesosok manusia bersayap yang melayang tinggi di udara!

Tanpa basa-basi, Bintang Tenggara segera melompat ke balik pepohonan. Dari celah dedaunan, ia menyaksikan anak remaja lelaki yang memegang sebuah katapel di tangan kanannya.

“Kecoa, apakah kau kira dapat bersembunyi dari Merpati Lonjak?” Lalu ia terlihat mengeluarkan sebongkah batu kecil seukuran kelereng, dan mengimbuhkan kesaktian unsur api!

“Bum!” Kembali sebuah ledakan terjadi, kali ini mengincar dahan tempat Bintang Tenggara berteduh dari pantauan musuh. Segera setelah itu, terjadi pula ledakan-ledakan beruntun. Merpati Lonjak ingin memangkas pepohonan!

Bintang Tenggara bergerak cepat ke pepohonan lain. Akan tetapi, hal yang sama terjadi berulang-ulang. Katapel dan batu yang diimbuh unsur api dengan mudahnya meledakkan pohon demi pohon tempat Bintang Tenggara bernaung.

Hari beranjak siang. Bintang Tenggara memutuskan untuk terus berlari dengan mengandalkan tabir pepohonan. Dari waktu ke waktu, ia menyempatkan diri untuk mengumpulkan buah-buahan yang dapat dimakan dan mencari sumber air bersih.

Si pemburu yang mengintai dari udara terus mengikuti dengan tenang. Sesekali ia menarik katapel dan melepaskan bebatuan yang mengandung kesaktian unsur api. Sepertinya, ia sangat menikmati pemainan ini.

Bintang Tenggara belum dapat melepaskan diri dari pengejarnya. Ia tak memiliki pengalaman yang memadai untuk dapat berkelit menghindar. Segala daya upaya yang ia tempuh tak membuahkan hasil. Ia mencoba berlari dengan kecepatan unsur petir, bahkan menggunakan teleportasi jarak pendek, namun sepertinya si pemburu mengandalkan mata hati untuk mengejar. Andai saja Super Guru Komodo Nagaradja dapat memanduku…

Petang menjelang. Bintang Tenggara sudah mulai terbiasa dengan pengejarnya. Ia hanya melompat ringan dari bawah satu pohon ke pohon lain. Bilamana memungkinkan, ia akan mengambil waktu untuk beristirahat dan menyerap tenaga alam memanfaatkan jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Akan tetapi, beberapa jam belakangan, jumlah tembakan ketapel bertambah banyak. Sepertinya, dalam pertarungan kesabaran dan daya tahan ini, si pemburu mulai merasa kehabisan waktu.

“Plop!” Bintang Tenggara merapal Bentuk Pertama dari Silek Linsang Halimun. Ia ingin mencoba bersembunyi ke ruang dimensi kecil. Meski demikian, ini adalah pertaruhan. Ia sangat berharap tak ada lawan yang memiliki keterampilan khusus segel seperti Tikus Awan.

“Bum!” Bintang Tenggara terlontar keluar dari ruang dimensi persembunyian!

“Hahaha… Apakah kau pikir hanya batu yang diimbuh unsur api amunisiku?” ejek Merpati Lonjak.

Bintang Tenggara menyapu pandang sekeliling. Tak ada orang lain selain mereka berdua. Ia lalu menatap ke atas dan merasakan sebongkah batu kecil seukuran kelereng di tangan Merpati Lonjak mengandung formasi segel. Sepertinya, amunisi tersebut khusus untuk membuka formasi segel, termasuk ruang dimensi. Akan tetapi, Bintang Tenggara juga menyadari bahwa batu kecil tersebut tidak diimbuh langsung oleh Merpati Lonjak. Khusus untuk batu dengan formasi segel, Merpati Lonjak mengeluarkan dari tempat penyimpanan tersendiri. Pastilah jumlahnya terbatas, pikir Bintang Tenggara.

“Hei, Kecoa!” seru Merpati Lonjak. “Aku punya penawaran baik untukmu… Bagaimana bila kau menyerah saja. Syaratnya pun mudah, kau berdiam dan aku akan menembakmu sekali saja…,” tutup Merpati Lonjak sambil tertawa lebar.

Tabir malam turun tanpa pernah dapat dicegah. Di saat berlari dari satu pohon ke pohon berikutnya, tetiba Bintang Tenggara melihat sebuah goa. Sigap, ia pun memanfaatkan unsur petir untuk melesat cepat.

Merpati Lonjak menyadari rencana Bintang Tenggara. Ia pun menembakkan serangkaian peluru yang mengandung kesaktian unsur api. Akan tetapi, karena memang lintasan gerak unsur petir tak beraturan, Merpati Lonjak kesulitan membidik dengan tepat. Ledakan-ledakan yang terjadi di tanah tak satu pun mengenai sasaran.

Merpati Lonjak memicingkan mata. Ia lalu mengeluarkan sebongkah batu yang lebih besar, seukuran buah jeruk, dan membidik. Terlambat. Bintang Tenggara telah melesat masuk ke dalam mulut goa!



Catatan:

*) Bintang Tenggara dipaksa berlatih konsentrasi di tengah hujan di atas geladak kapal oleh Komodo Nagaradja dalam Episode 46.