Episode 11 - Pertengkaran Pagi Hari

Badut terbangun untuk ke sekian kali. Setelah sekian tahun tinggal di rumah ini, dia baru menyadari ruang tengah merupakan wilayah teritorial populasi nyamuk. Maka, tidur di sofa adalah tindakan melanggar hukum di negeri para nyamuk. Itu artinya, Badut punya urusan serius dengan para nyamuk. Mereka, para nyamuk, pun tidak akan membiarkan Badut tidur nyenyak. Meskipun, menurut beberapa nyamuk, darah Badut tak lezat bahkan untuk ukuran nyamuk kelaparan sekalipun.

Badut mengambil cairan pembunuh serangga. Tetapi, botol itu tidak punya apa-apa lagi buat disemburkan. Akhirnya, Badut memutuskan untuk menghampiri Bastian yang tengah tidur nyenyak di kamarnya. Dia ingin membangunkan Bastian, menyeretnya ke ruang tengah dan mengikatnya, kemudian melihat sebuah pertunjukan dengan dua kemungkinan akhir: seorang lelaki menyebalkan mati karena kehabisan darah atau para nyamuk mati kekenyangan. Tetapi, Badut menyadari dia masih membutuhkan Bastian. Maka, Badut kembali ke sofa, menggosok tangan kanan ke ketiaknya yang basah, lalu mengusapnya ke beberapa bagian tubuhnya. Paling tidak, pikirnya, ada beberapa bagian tubuhnya yang selamat dari santapan para nyamuk sialan.

**

Badut baru terlelap beberapa jam, ketika tepukan keras membangunkannya. Rasa kantuk yang belum tuntas itu pun jadi beban berat di kepalanya. Samar-samar matanya menatap sosok Bastian. Badut mengucek mata untuk memfokuskan objek di depannya. Sekarang, dilihatnya Bastian dalam balutan kaus putih, celana pendek, dan sepatu olahraga.

“Bangun, Beruang Pemalas!” bentak Bastian.

“Bas! Aku baru tidur beberapa jam karena merelakan kasur nyamanku kamu tiduri!”

“Mas Badut, mulai sekarang, kamu berada di bawah pengawasanku satu kali dua puluh empat jam. Jadi, aku akan mengatur semuanya. Semua kegiatanmu mulai sekarang cuma punya satu tujuan: mendapatkan kembali Claudya.”

Badut hendak mempertanyakan korelasi antara bangun pagi dengan mendapatkan Claudya. Namun, belum sempat tanyanya terlontar, Bastian mengatakan, “Bangun! Biarkan matahari membakar lemak di tubuhmu yang menjijikkan itu!”

**

“Jadi, sementara aku lari, kamu naik motor, hah?!” protes Badut, pada Bastian yang sudah siap melaju di atas sepeda motornya.

“Lihat, apa lelaki bertubuh ideal seperti aku masih butuh olahraga, huh?”

“Ini nggak adil! Kalau kamu mau mengubah seseorang, maka sebaiknya kamu juga harus memberi contoh.”

Bastian memandang tajam ke arah Badut. Kemudian, dia turun dari motor dan berpose layaknya model di hadapan Badut.

“Aku pikir aku memang dilahirkan untuk memberi contoh bagaimana dampak positif rajin lari pagi.”

Badut menatap sinis Bastian.

“Aku pikir, aku nggak mau lari pagi hanya untuk menjadi lebih kurus, pendek, dan pandai membual.”

“Sudah, Mas Badut! Kamu sebenarnya serius nggak, sih, mau mendapatkan Claudya kembali?”

“Untuk urusan Claudya, aku nggak pernah bercanda.”

“Oke, kalau begitu lakukan apa yang aku perintahkan dong!”

Badut menundukkan wajahnya ke wajah Bastian.

“Oke. Aku akan lari pagi. Tapi ingat, ini aku lakukan untuk mendapatkan kembali Claudya. Dan, aku tak pernah tertarik menjadi kurcaci menyebalkan sepertimu.”