Episode 74 - Pulau Dua Pongah


Di sebuah ruangan yang lapang ditopang pilar-pilar berukuran sedang, seorang perempuan dewasa berdiri menatap tajam ke depan. Suasana ruang yang temaram selaras dengan sorot matanya yang menyibak amarah.

“Apa yang ada dalam benakmu!?” bentak perempuan dewasa dengan postur tubuh tinggi itu. Ia lalu menyilangkan tangan di depan dada. Dapat dipastikan, ia adalah sosok yang sama dengan seseorang yang menonton pertarungan Bintang Tenggara melawan Gundha dari kejauhan tempo hari. Ia juga yang menyelamatkan Rembulan Kaca dari ledakan jurus kesaktian unsur api milik Canting Emas di panggung kejuaraan.

Di hadapannya, seorang anak gadis bertubuh langsing berdiri lemah. Wajahnya pucat. Akan tetapi, tubuh lemah dan wajah pucatnya bukan disebabkan oleh rasa takut. Sebaliknya, sorot matanya menatap tajam!

“Apa yang salah dari perbuatan ananda?” jawab sang gadis. Selama dua pekan terakhir ia terbaring tak berdaya di tempat tidur. Ia sudah mengetahui alasan pemanggilan hari ini. 

“Kau tak mengakui kesalahanmu!?” bentak perempuan tersebut.

“Oh, Ibunda… Maha Guru Kesatu. Ananda hanyalah meminjam Cincin Gundala…,” jawab Canting Emas santai.

“Kau mengambil pusaka keluarga tanpa ijin!”

Padahal, Maha Guru Keempat sesungguhnya telah mengabari bahwa Cincin Gundala digunakan anak didiknya. Akan tetapi, Maha Guru Kesatu tetap merasa perlu mendisiplinkan anak gadisnya itu.

“Pusaka yang tak pernah berguna… Sejak kapan pernah ada garis keturunan keluarga kita memerlukan sebuah cincin pusaka yang mengandung unsur petir? Seharusnya kita berbangga karena cincin itu kini bermanfaat,” hardik Canting Emas.

“Apa pun itu alasannya, kau mengambil tanpa ijin!”

“Ah… terlalu lambat bila harus meminta ijin,” cibir Canting Emas.

“Kau…”

“Bila ananda memohon ijin, maka Ibunda akan menolak…. Lalu Ananda memohon kepada kakek, yang pastinya disetujui. Akan tetapi, Ibunda kemudian akan menunda-nunda…”

“Mengapa kau selalu bersikap kurang ajar!” kembali sang ibu membentak.

“Apakah hanya perihal kecil ini yang ingin Ibunda bahas? Ananda menerima apa pun itu hukuman yang menurut Ibunda pantas,” Canting Emas acuh tak acuh.

Sang ibu melotot, baru ia hendak melanjutkan memarahi anak gadisnya, terdengar suara menyela…

“Maha Guru Kesatu, mohon maaf, ada pesan dari Sesepuh Ketiga…,” terdengar suara seorang kakek tua

Maha Guru Kesatu hanya menoleh.

“Maha Guru Kesatu diminta menerima seorang tamu di Balairung Perguruan,” sambung kakek tua tersebut.

“Ananda membutuhkan istirahat,” dengan demikian Canting Emas melengos meninggalkan ibunya.

“Hmph… Aku tak tahu bagaimana mendisiplinkan anak itu?” keluh Maha Guru Kesatu.

“Maha Guru…,” terlihat sang kakek ragu-ragu. “Kapan terakhir kali Maha Guru berbicara dengannya?”

“Maksudmu…?”

“Sudah ratusan tahun tak seorang pun dalam keluarga yang membangun harkat keserasian dengan jurus Ksatria Agni sedemikian tinggi… Apakah Maha Guru Kesatu telah mengucapkan selamat atas pencapaian wujud jurus Canting Emas?”

“…”


“Yang Terhormat Maha Guru Keempat,” tegur kakek penjaga pintu benteng. Sepertinya ia kelelahan karena terpaksa menapak ke dalam hutan dari kediamannya di dekat pintu benteng.

“Sesepuh Ketiga meminta Maha Guru Keempat menemui seorang tamu di Balairung Perguruan.”

“Bintang Tenggara, kau ikut denganku. Ada sesuatu yang ingin kutugaskan nanti,” ujar Maha Guru Keempat sambil melangkah pergi.

Balairung Perguruan terletak megah di Kota Gapura. Beberapa orang penjaga terlihat bersiaga di pintu masuknya. Mendapati kedatangan Maha Guru Keempat, mereka lalu menunduk dan mempersilakan masuk.

Baru hendak memasuki Balairung, seorang perempuan dewasa dengan postur tinggi mendarat di samping Maha Guru Keempat. Mereka hanya saling tatap, lalu melangkah berdampingan ke dalam Balairung. Bintang Tenggara menyusul di belakang.

Ini adalah kali pertama Bintang Tenggara menapak ke dalam Balairung Perguruan. Ruangan dalamnya demikian luas, bahkan lebih luas dibandingkan Balai Budi Arda. Pilar-pilar besar terlihat menjulang tinggi seperti menyangga langit. Aroma di dalam Balairung demikian menyegarkan. Yang unik, berbagai bentuk formasi segel pertahanan terasa kental dari dalam Balairung.

Di satu sudut ruang Balairung, beberapa kursi dan meja tertata rapi. Seorang lelaki bertubuh besar terlihat duduk tegak di salah satu kursi. Kumis tebal melengkung, runcing dan perkasa bertengger di atas mulutnya; alis tebal pun menghias di atas kedua mata besarnya. Ia mengenakan sebuah tutup kepala yang dibuat dari kain batik atau biasa dikenal sebagai blangkon. Pembawaannya sangat berwibawa.

Setelah mendekat, baru Bintang Tenggara menyadari kehadiran seorang anak remaja yang berlutut sambil menundukkan kepala. Ia hanya diam. Dari gaya dan pakaiannya, Bintang Tenggara sepertinya mengenal betul anak lelaki tersebut.

“Selamat pagi, Kakang Adipati… Angin apa gerangan yang membawa dikau bertandang jauh ke Perguruan Gunung Agung?” tegur Maha Guru Keempat ramah.

“Heh… Berawa dan Cawan Arang… Hanya kalian berduakah yang bernyali menemui aku?” ejek lelaki yang bergelar Adipati. “Pantas saja perguruan kalian tak kunjung tumbuh besar…”

“Adipati Jurus Pamungkas, janganlah bersikap lancang…,” Cawan Arang, Maha Guru Kesatu, terlihat kesal.

Jurus Pamungkas…? Gumam Bintang Tenggara dalam hati. Nama seperti apa itu!? Tak diragukan lagi, anak remaja yang berlutut, menunduk dan membatu itu adalah… Aji Pamungkas!

“Kalian yang lancang!” Adipati Jurus Pamungkas segera berdiri. “Atas alasan apa kalian berani menerima putraku sebagai murid? Ia sepantasnya mengasah keahlian ke tempat terbaik… di Perguruan Maha Patih di Kota Ahli!”

“Putramu mengikuti ujian masuk dan diterima secara sah di Perguruan Gunung Agung. Kami tidak pernah mendiskriminasi siapa pun yang hendak dan pantas menjadi murid,” Maha Guru Kesatu mulai panas.

“Heh… Kalian yang tak pantas mendidik putraku!”

“Jurus Pamungkas… janganlah dikau menguji kesabaranku…,” Maha Guru Kesatu menggeretakkan gigi.

“A… Ayahanda Kanjeng Gusti Adipati…,” terdengar suara Aji Pamungkas gemetar. “Ananda mengikuti ujian masuk Perguruan Gunung Agung atas kehendak sendiri…”

Sang Adipati melotot ke arah Aji Pamungkas. Kedua alisnya berkerut, kumis tebalnya semakin melengkung.

“Heh! Apa yang kalian ajarkan kepada putraku sampai ia menjadi tak tahu adat!” hardik sang Adipati mengangkat dagu ke arah Maha Guru Kesatu.

“Srash!” Api berkobar dari tubuh Maha Guru Kesatu! Kursi-kursi dan meja yang tadinya tertata rapi berhamburan ke segala penjuru!

“Swush!” Angin berputar deras mengelilingi tubuh Adipati Jurus Pamungkas, mendorong kursi dan meja yang belum sempat mendarat menjadi terpental semakin jauh!

Bintang Tenggara berlindung di balik Maha Guru Keempat. Aji Pamungkas terpelanting, namun dapat mendarat dengan mulus di kejauhan.

“Kalian berdua maju bersamaan sekalipun aku tak gentar!” tantang Adipati Jurus Pamungkas.

“Kakang Jurus Pamungkas… Kakak Cawan Arang… bersabarlah sejenak,” Maha Guru Keempat berupaya menengahi. Ia langsung muncul di antara mereka. Kilatan petir terlihat menari di sekujur tubuhnya.

Bintang Tenggara terpana. Apa jadinya bila ketiga tokoh yang dipastikan berada pada Kasta Emas ini bertempur!? Ia siap melancarkan teleportasi jarak dekat dari Jurus Silek Linsang Halimun. Jangan sampai gajah bertarung melawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah.

“Ayahanda Kanjeng Gusti Adipati, kumohon dengarkan Ananda!” teriak Aji Pamungkas dari kejauhan. Wajahnya kusut.

Adipati Jurus Pamungkas hanya menoleh sepintas. Lalu kembali menatap Maha Guru Kesatu.

“Ayahanda... adalah keinginanku pribadi bergabung di Perguruan Gunung Agung!” suara Aji Pamungkas mulai terisak. Ia tak lagi dapat membendung emosi.

Adipati Jurus Pamungkas memutar tubuh dan menatap putranya. “Kau menentang Ayahandamu?”

“Ananda tidaklah berani…,” air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya.

“Kau tenang saja, aku akan membawamu pulang hari ini juga,” sergah Adipati Jurus Pamungkas.

“Ananda masih hendak menetap!” teriak Aji Pamungkas. Lendir pun mengalir dari lubang hidungnya.

Perlahan Aji Pamungkas menyerongkan posisi ia berdiri. Ia lalu mengangkat lengan kiri, telapak tangan terkepal. Lalu, ia mengacungkan ibu jari ke atas dan jari telunjuk ke depan. Lengan kanannya pun turut mengangkat pelan dan sikutnya menekuk. Postur Aji Pamungkas persis seperti hendak memanah! Namun, tak ada busur dan anak panah yang ia keluarkan dari Batu Biduri Dimensi.

“Panah Asmara, Bentuk Keempat: Cinta Pandangan Pertama!”

“Swush!” Tetiba pusaran angin berputar deras di ujung jari telunjuk kiri Aji Pamungkas, mirip tornado mungil. Perlahan, tornado itu pun membesar. Jemari tangan kanan Aji Pamungkas lalu menyentuh angin yang berpusar deras itu dan menarik sisi luar tornado seperti menarik dawai busur. Lalu, tornado mini berubah wujud menjadi melengkung dengan sudut lancip di sisi atas dan sisi bawahnya. Tingginya menjadi sekitar dua meter!

Adipati Jurus Pamungkas tersentak mundur setengah langkah. Maha Guru Kesatu dan Maha Guru Keempat sama bingungnya. Bintang Tenggara menyaksikan lengkungan berwarna biru yang demikian perkasa… Mungkinkah…?

“Wujud dari kesaktian unsur angin…?” Adipati Jurus Pamungkas terpana. “Bulan sabit!”

Tiga orang ahli Kasta Emas sampai terkejut menyaksikan sebuah bulan sabit berwarna biru, setinggi lebih dari dua meter. Bulan sabit tersebut tidaklah statis, ia bergerak mengayun-ayun karena memang terbuat dari pusaran angin. Yang lebih mencengangkan, bulan sabit angin tersebut terlihat berfungsi sebagai busur bagi Aji Pamungkas!

Meski merapal jurus yang demikian perkasa, Aji Pamungkas masih terisak dan berlinang air mata. Lendir dari hidungnya pun terus mengucur. Ia menangis tak henti-henti. Wajahnya sudah tak karuan lagi.

Adipati Jurus Pamungkas segera melesat ke arah putranya. Ia menggenggam jemari tangan kiri Aji Pamungkas, membantu membatalkan jurus tersebut.

“Mari kita segera pulang…,” ujar sang ayah lembut.

Aji Pamungkas hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepala sambil menunduk. Sepertinya ia tak dapat menolak keinginan sang ayah; tapi di saat yang sama, ia memiliki kehendak sendiri.

“Kami akan mewakili Perguruan Gunung Agung dan memenangkan kejuaraan antar perguruan di Kota Ahli!” teriak Bintang Tenggara ke arah Adipati Jurus Pamungkas, sepertinya ia terbawa emosi.

“Cecurut, siapakah gerangan engkau?” hardik Adipati Jurus Pamungkas.

“Namaku Bintang Tenggara!”

“Swush!” Tetiba Adipati Jurus Pamungkas muncul tepat di hadapan Bintang Tenggara. Saking terkejutnya, anak remaja itu jatuh terjerembab ke belakang. Maha Guru Keempat menepuk jidat, melihat anak didiknya berlaku nekat.

“Putra dari Balaputera…,” gerutu Adipati Jurus Pamungkas. “Aku tak pernah menyukai nyali ayahmu, dan aku juga tak suka melihat nyalimu…”

“Ananda akan pulang bilamana tak berhasil menjuarai kejuaraan di Kota Ahli!” teriak Aji Pamungkas dari kejauhan. Jika diperhatikan seksama, ia seperti baru saja melewati pertarungan terberat seumur hidupnya. Teriakan Aji Pamungkas juga menghentikan langkah Maha Guru Keempat yang baru hendak menarik Bintang Tenggara.

“Baiklah… bila kau menang, kau dapat tinggal di sini. Bila kalah, kau akan pulang dengan suka rela,” gerutu Adipati Jurus Pamungkas. Ia sedikit melunak setelah menyaksikan wujud bulan sabit dari unsur kesaktian angin.

Ia lalu mendekat ke arah Aji Pamungkas, “Ananda, sejak kapan unsur kesaktianmu memiliki wujud?”

“Baru kali ini, Ayahanda,” Aji Pamungkas menyeka air mata dan lendir di hidung.

“Bagus, bagus… Ayahanda sungguh bangga padamu. Bawalah pusaka keluarga ini…,” ia menyerahkan sesuatu mirip mainan kereta kepada Aji Pamungkas.

“Berawa, kutitipkan putraku,” sang Adipati memutar tubuh.

“Baik, Kakang.”

“Cawan Arang, suatu hari kita pasti akan bertukar satu-dua jurus,” sang Adipati mengingatkan.

“Cih…,” decak Maha Guru Kesatu. “Mengapa harus menunda-nunda!?” jawabnya balik menantang.

Bintang Tenggara kini menuju ke arah gerbang dimensi. Ia hendak pergi ke Kota Taman Selatan. Maha Guru Keempat menugaskan dirinya untuk mengambil sesuatu di suatu tempat. Maha Guru Keempat… sungguh pelik jalan hidupnya. Sang Maha Guru itu tadi bersusah payah memisahkan sang Adipati dan Maha Guru Kesatu yang siap bertempur. Lebih lama lagi, mungkin ia yang akan menangis seperti Aji Pamungkas.

Terkait Aji Pamungkas, terlepas dari kelakuannya yang aneh-aneh, tak perlu diragukan bila sejak awal ia memiliki kepiawaian jauh di atas rata-rata anak remaja seusianya. Bagaimana tidak, selama ini ia dilatih langsung oleh seorang ayah yang menyeramkan, baik penampilan maupun perangainya.

Lalu, Bintang Tenggara baru mengetahui bahwa Maha Guru Kesatu adalah ibu kandung dari Canting Emas. Ibu dan anak yang sama-sama bersumbu pendek! Entah seperti apa hubungan ibu-anak itu, Bintang Tenggara tak berani membayangkan.

“Kumohon kirimkan keping-keping perak dan emas ini ke Pulau Belantara Pusat…,” tetiba terdengar suara yang tak asing.

Bintang Tenggara menoleh dan melihat sebuah gedung dengan papan besar menggantung dan bertuliskan ‘Serikat Dagang’. Serikat Dagang memiliki perwakilan di seluruh penjuru Negeri Dua Samudera. Dengan bayaran jumlah tertentu, mereka biasanya bersedia menerima titipan para pelanggan untuk disampaikan. Tak lama, Kuau Kakimerah keluar dari pintu. Wajahnya terlihat senang sekali.

“Bintang di langit tenggara… apakah kau juga hendak mengikuti kuliah dari Sesepuh Ketujuh.”

“Eh…” Karena perjalanan searah, keduanya melangkah menuju sebuah balai berukuran sedang. Bintang Tenggara akhirnya mendapat sedikit kejelasan tantang keluarga Kuau Kakimerah di Pulau Belantara Pusat. Bahwa karena suatu alasan yang belum diketahui, kehidupan mereka sangat sulit dan sepenuhnya bertopang pada hutan. Oleh karena itu, kiriman keping-keping perak dan emas dari Kuau Kakimerah akan sangat berarti.

“Silakan masuk…,” seorang penjaga pintu aula membukakan jalan ketika melihat kehadiran Kuau Kakimerah.

Kedua lalu memasuki ruang berukuran sedang yang telah dipenuhi sekitar duapuluhan murid-murid lain. Sepertinya mereka sudah tak kebagian tempat duduk…

“Bukankah itu anak didik Sesepuh Ketujuh yang baru diangkat beberapa hari lalu…?” terdengar suara bisik-bisik.

Kuau Kakimerah dan Bintang Tenggara lalu dipersilakan duduk di barisan paling depan. Bintang Tenggara mengamati sekeliling… Tak perlu menduga-duga lagi siapa yang dimaksud anak didik Sesepuh Ketujuh, karena tak lain adalah gadis mungil yang sedang duduk di sebelahnya.

Tanpa suara, Sesepuh Ketujuh memasuki ruangan. Perempuan tua itu lalu berdiri di balik sebuah meja. Sebentuk lesung batu kemudian ia keluarkan dari ruang dimensi penyimpanan.

“Ramuan Pasak Raga Kasta Perak,” gumamnya pelan.

Kemudian, Sesepuh Ketujuh melambaikan tangan kanan dengan ringan. Beberapa lembar daun mirip rerumputan lalu melayang tepat di atas lesung batu. Jemarinya pun menari… lalu, serat daun mengering dan setetes sari pati terlihat berpisah dari daun.

Setelah itu, Sesepuh Ketujuh mengulang proses yang serupa. Kali ini, lambaian tangan kirinya mengubah akar menjadi serbuk. Lalu, beberapa lembar daun tebal menjadi adonan. Terakhir, sebongkah umbi sebesar kepalan tangang, hanya dengan lambaian tangan berubah menjadi jus!

Apakah ini keterampilan khusus peramu? Bintang Tenggara terus mengamati.

Sekarang terlihat sari rerumputan, serbuk akar, adonan daun, dan jus umbi melayang berputar di atas lesung batu. Satu persatu Sesepuh Ketujuh mencampurkan ke dalam lesung batu dan mengaduk. Sejak awal, semua proses dilakukan menggunakan mata hati.

Lesung batu tetiba bersinar temaram… Tak lama berselang, melayang keluar beberapa tetes ramuan. Sesepuh Ketujuh meraih sebuah sebotol kecil, mengisinya dengan ramuan yang baru saja selesai, meletakkan di atas meja, lalu meninggalkan ruangan.

Napas seluruh hadirin tertahan. Tak seorang pun bersuara. Andai saja setetes keringat jatuh, maka suara gemericik yang ditimbulkan dapat didengarkan oleh semua yang hadir. Keterampilan khusus peramu tingkat tinggi!

Baru kali ini Bintang Tenggara menyaksikan seseorang yang bermodal keterampilan khusus sebagai peramu beraksi. Sejauh ini ia sudah memahami bahwa seorang pawang binatang siluman mengandalkan mata hati untuk mengontrol binatang siluman mereka. Sekarang, ia pun mengetahui bahwa seorang peramu mengutamakan mata hati untuk memilah dan mengolah bahan dasar ramuan.

Sungguh keterampilan khusus yang menantang kodrat alam, pikirnya dalam hati. Meski demikian, Bintang Tenggara juga menyadari bahwa kemampuan yang baru saja ia saksikan adalah milik peramu yang berada pada Kasta Emas.

Hari jelang malam. Setelah berpisah dengan Kuau Kakimerah, Bintang Tenggara melangkah ke dalam gerbang dimensi dan kini berada di depan Monumen Genta untuk menunaikan tugas dari Maha Guru Keempat.

“Putra dari Balaputera…,” tetiba terdengar suara menggunakan jalinan mata hati. Jauh tinggi di udara, terlihat Adipati Jurus Pamungkas. Rupanya ia belum pulang.

“Sesungguhnya ada alasan khusus mengapa aku menginginkan putraku kembali…,” ujar sang Adipati. “Tak lama lagi, kemampuan mata silumannya akan terbuka… Bila itu terjadi, kuharapkan kau bersedia mengawasi.”

Bintang Tenggara hanya terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa.

“Tentunya, aku bersedia memberikan imbalan…,” Sang Adipati berhenti sejenak. “Rahasia di balik kepergian ayahmu, mungkin?”

Bintang Tenggara tertegun. Dunia keahlian memanglah unik adanya. Para ahli ini saling kait-berkait antara satu sama lain. Mereka pun saling memantau, pada saat yang sama berupaya untuk memendam rahasia rahasia masing-masing.

“Baiklah,” jawab Bintang Tenggara cepat. Bahkan tanpa tawaran imbalan pun, tak mungkin ia menolak. Sosok berkumis dan beralis tebal itu sungguh mengerikan.

Hari jelang malam dan Bintang Tenggara baru saja mengambil paket yang ditugaskan padanya. Ia hendak kembali ke Perguruan Gunung Agung ketika…

“Kyaaa!”

“Ada pembunuhan!”

“Pembunuh bayangan!”

Suara derap kaki tanda pengejaran lalu terdengar beriringan. Segerombolan ahli melintas di depan Bintang Tenggara. Wajah mereka tegang. Terdengar pula mereka berbisik-bisik bahwa seorang pembunuh bayangan baru saja mencabut nyawa majikan mereka.

Tak merasa perlu melibatkan diri, Bintang Tenggara meneruskan langkahnya. Lagipula, sungguh aneh… malam belum terlalu larut bagi pembunuh bayangan untuk beraksi.

Baru beberapa langkah, tetiba kedua mata Bintang Tenggara menangkap bayangan sosok tubuh berwarna hitam berkelebat cepat. Bayangan tersebut menuju arah yang berlawanan dari para pengejar. Dirinya yang sedari awal tak tertarik, mau tak mau seolah mengikuti karena memang tujuannya kebetulan searah. Di satu sudut, bayangan tersebut berbelok dan entah atas dasar alasan apa, ia pun diam-diam mengikuti bayangan tersebut. Mungkin rasa penasaran mulai tumbuh.

Bintang kini berada di salah satu sudut Kota Taman Selatan. Ia kemudian mengamati bahwa sosok tersebut bertemu dengan sosok lain. Mungkin teman komplotan pembunuh, pikirnya sambil memutar tubuh. Ia tak hendak terlibat lebih jauh lagi.

Akan tetapi, di saat memutar arah itulah sudut matanya menangkap teman komplotan sang pembunuh bayangan. Meski dalam gelap malam, cahaya remang obor menyibak sosok yang mengenakan jubah hitam, dimana warna raut wajahnya pucat, bertolak belakang dengan warna jubah.

“Kuyakin kau berhasil,” ujar Kum Kecho ke arah Melati Dara yang baru saja tiba.

“Benar, Tuan Guru!” jawab Melati Dara bersemangat.

Kum Kecho lalu membuka gerbang dimensi untuk segera kembali ke Partai Iblis.

Di kejauhan, Bintang Tenggara terpana. Pemikirannya sederhana. Kum Kecho > Partai Iblis > Lintang Tenggara > cara memperbaiki mustika retak!

Komodo Nagaradja saat ini sedang kehilangan kesadaran karena memaksakan penggunaan tenaga dalam untuk membantu Panglima Segantang. Utang Bintang Tenggara kepada sang Super Guru semakin bertumpuk. Sementara, Lintang Tenggara merupakan satu-satunya harapan untuk mengetahui teknik memulihkan mustika retak!

Akan tetapi, tak ada yang tahu dimana Markas Besar Partai Iblis. Mungkin kali ini adalah satu-satunya kesempatan mencari tahu lokasi Partai Iblis. Sesudah tubuh Komodo Nagaradja pulih, bukan tak mungkin mendatangi Lintang Tenggara suatu hari di masa depan.

Di saat Bintang Tenggara sedang berpikir di kejauhan, Kum Kecho dan Melati Dara sudah melompat ke dalam gerbang dimensi yang sebentar lagi menutup.

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana! Bintang Tenggara mengambil keputusan dan bergerak secepat kilat ke arah gerbang dimensi.

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut! Dengan melancarkan teleportasi jarak dekat, Bintang Tenggara menghilang ke dalam gerbang dimensi yang sebentar lagi memudar.

“Lapor Yang Terhormat Gubernur, seorang penyusup baru saja memasuki wilayah Pulau Dua Pongah.”