Episode 73 - Ganesha


“Apa menurutmu yang dapat aku lakukan…?” Komodo Nagaradja menjawab seruan Bintang Tenggara di episode sebelumnya.

“Kumohon sadarkan dia…,” ujar Bintang Tenggara menyibak mata hati. Di saat yang sama, sejumlah pandangan mata sempat mengarah ke dirinya karena terdengar berteriak tak menentu entah kepada siapa...

“Sepuluh…,” terdengar wasit menghitung mundur ke arah Panglima Segantang yang tergeletak tak berdaya.

“Lalu apa yang akan terjadi bila aku menyadarkannya…?” nada Komodo Nagaradja datar. “Ia hanya akan menjadi samsak daging…”

“Sembilan…”

“Super Guru pernah meminta aku menyelamatkannya, sekarang aku menuntut balas budi!” seru Bintang Tenggara.*

“Delapan…”

“Ah…,” reaksi Komodo Nagaradja seolah baru teringat akan sesuatu.

“Tujuh…”

“Guru, wariskan kepadanya kelanjutan dari jurus Gema Bumi…,” pinta Bintang Tenggara. Ia sepenuhnya tahu bahwa Panglima Segantang menemui kesulitan meraih pencerahan akan jurus kesaktian. Lagipula, Komodo Nagaradja mewariskan Tinju Super Sakti menggunakan jalinan mata hati, jadi bukanlah sesuatu yang mustahil mengajukan permintaan tersebut.

“Enam…”

“Heh… Kau kira perkara gampang!? Saat mewariskan jurus kepadamu aku masih hidup…,” jawab Komodo Nagaradja setengah hati.

“Saat ini pun Super Guru masih hidup!” sergah Bintang Tenggara.

“Lima…”

“Bila aku memaksakan diri menggunakan tenaga dalam dari mustika retak, maka kemungkinan aku akan hilang kesadaran selama beberapa bulan…,” Komodo Nagaradja melunak. Adalah benar bahwa saat ini ia masih hidup, dan itu dikarenakan upaya super murid itu.

“Super Guru, kumohon…”

“Empat…”

“Hmph!”

Hanya bentangan gelap… Tak diketahui sampai sejauh mana bentangan kegelapan, karena kedalaman warna hitam ini memang tak bisa diukur. Meski demikian, hamparan kegelapan juga memberikan kesan yang menenangkan. Sampai-sampai, bagi seseorang yang tiba di sini, maka ia seolah enggan beranjak pergi.

“Hei! Bangun!” terdengar suara menyergah.

“Plak!”

“Bangun, kataku!”

“Hah!” Panglima Segantang tersadar layaknya baru kembali dari mimpi buruk! Hamparan hitam masih terlihat tanpa dasar. Hanya dirinya saja yang melayang di tengah-tengah… Tubuhnya sama sekali tak bisa bergerak. Tak berdaya.

“Dimanakah ini? Apa yang terjadi?” Panglima Segantang mengingat bahwa terakhir dirinya terkena hantaman keras… kalah. Ia mengecewakan harapan sahabatnya yang berdiri di sisi panggung. Apa mau dikata… ia sepenuhnya sadar bahwa lawan memang jauh lebih tangguh.

Tetiba, di tengah gelap hitam, mata Panglima Segantang menangkap titik berwarna merah, yang kemudian membesar menjadi bayangan sosok gergasi berwarna merah… Setelah dipastikan lebih seksama, bentuknya mirip seekor… komodo!

“Aku menerobos ke alam bawah sadarmu…,” ujar Komodo Nagaradja. Kini, sosok binatang siluman komodo lebih jelas terlihat.

“Kodomo Nekat Rajam…,” gumam Panglima Segantang. Matanya berbinar.

“Plak!” tetiba ia merasa pusing.

“Komodo Nagaradja, namaku…,” terdengar suara menghardik sebal.

“Maha Sesepuh Komodo Nagaradja…,” ucap Panglima Segantang yang masih tak bisa berbuat apa-apa.

“Mohon menerima rasa terima kasihku karena telah mengijinkan aku mendalami kitab jurus Gema Bumi.”

“Simpan keluh-kesahmu… apakah kau hendak memperoleh bentuk kedua dari jurus itu?”

“…”

“Sahabatmu itu meminta aku membantu…,” keluh Komodo Nagaradja.

“Sahabat Bintang?”

“Jadi, apakah kau masih mau kembali bertarung di atas panggung!?”

“Ya!” jawab Panglima Segantang cepat. Tak ada keraguan dari dirinya.

“Tiga!” seru wasit masih melanjutkan hitung mundur.

“Uhuk!” Panglima Segantang terbatuk. Bulir-bulir darah menyembur dari mulutnya.

“Dua!”

Panglima Segantang sudah berdiri tegak. Luka yang ia derita seolah sembuh dengan sendirinya. Atyasa yang tadinya sudah membelakangi lawan, karena merasakan ada yang aneh, segera memutar tubuh. Kedua matanya melotot, tak percaya bahwa lawan masih dapat berdiri.

“Gema Bumi, Bentuk Kedua: Hancur Badan Dikandung Tanah!”

Seketika itu juga tanah di atas panggung mencuat ke arah Panglima Segantang. Membungkus kedua bahu, sikut dan melingkari pinggang. Tak hanya sampai di situ, tanah juga membalut lutut sampai tulang kering. Terakhir, tanah melingkupi dada dan pundak Panglima Segantang.

“Bum!”

Massa tanah lalu berubah menjadi… batu granit berwarna hitam! Gumpalan-gumpalan tanah tadi, kini lebih layak disebut sebagai pakaian tempur! Akan tetapi, pakaian tempur ini berbeda sekali dengan baju zirah milik Canting Emas yang merupakan perlengkapan, karena pakaian tempur Panglima Segantang terbentuk dari unsur tanah. Jadi, pakaian tempur tersebut adalah unsur kesaktian itu sendiri!

Di sudut panggung, Bintang Tenggara terlihat lega sekaligus terpana akan dua hal. Pertama, mata hatinya merasakan bahwa tenaga dalam di mustika retak milik Komodo Nagaradja nyaris terkuras habis. Kedua, pakaian tempur batu granit di bagian dada Panglima Segantang walau terlihat layaknya bebatuan granit kasar, tapi bila diperhatikan dengan seksama maka terbersit wujud kepala yang menunduk geram, yang bentuknya seperti… kepala seekor komodo!

“Ha!” Maha Guru Kelima yang merasa sudah cukup kebal dengan kejutan dalam sehari ini, sunguh-sungguh terpana. “Jurus apakah gerangan itu? Ia juga memiliki wujud!”

Pohon petir, padma api, kemudian disusul pakaian tempur komodo. Dalam sehari, tiga anak remaja mengungkapkan keserasian terhadap jurus sakti masing-masing. Bahkan, mereka mencapai harkat jurus yang sedemikian tinggi!

Atyasa dan seluruh penonton bak meyaksikan sosok gagah tiada tara di atas panggung. Aura yang terpancar demikian menekan. Hanya dari berdiri diam, Panglima Segantang menyibak keperkasaan layaknya penguasa daratan bumi. Sekali saja kau menyinggung perasaannya, maka matilah engkau ditelan bumi!

“Brak!” Melihat lawan masih mampu merapal jurus, Atyasa sedikit gentar tapi tak hendak membuang waktu. Ia segera menyerbu menghantam tepat di dada Panglima Segantang!

Panglima Segantang berdiri tak bergeming, malah kelihatan kebingungan. Ia menekuk siku dan mengangkat kedua lengan, mengepalkan jemari beberapa kali. Sungguh ia merasakan sensasi yang tak pernah ia alami sebelumnya.

“Brak! Brak! Brak!” Atyasa yang masih dalam mode Raga Bima menghantamkan pukulan demi pukulan ke arah perisai kepala komodo yang membujur dari tulang selangka sampai ke perut Panglima Segantang. Meski, Atyasa belum sepenuhnya mengerahkan seluruh tenaganya, karena memang merasa tak perlu.

Panglima Segantang terseret beberapa langkah ke belakang, meninggalkan bekas guratan di lantai panggung. Wajahnya masih terlihat sedikit kebingungan. Ia kemudian menatap ringan ke arah Atyasa. Atyasa bergidik…

“Hragh!” Panglima Segantang merangsek menyerang. Anehnya, meski bebatuan menempel erat di beberapa bagian tubuh, ia tak merasakan adanya beban sama sekali.

Atyasa yang sejauh ini tak merasakan ancaman dari Panglima Segantang merasakan sensasi yang sangat membahayakan. Berkat jurus silat Raga Bima, bobot tubuhnya jelas lebih besar dari lawan, namun kini ia merasakan bahwa sosok Panglima Segantang seolah menjadi gergasi yang besar!

Panglima Segantang menghantamkan tinjunya ke arah lawan. Atyasa tak sempat berkelit. Spontan Ia menyilangkan lengan di depan dada.

“Brak!” Atyasa terpental beberapa langkah ke belakang!

Panglima Segantang terus merangsek menyerang. Mereka kembali melakukan pertukaran pukulan. Namun, kali ini keadaan berbalik. Pelan dan pasti, Atyasa semakin tersudut. Kekuatan yang selama ini ia banggakan tak lagi dapat mengimbangi lawan!

“Hyah!” Atyasa mengumpulkan selurus tenaga dan berupaya mendorong balik. Akan tetapi, langkahnya sia-sia. Dengan mudah Panglima Segantang bergerak menahan setiap pukulan.

“Bugh!” Panglima Segantang menemukan celah dan melesakkan

sebuah tinju menohok ke atas yang telak menghantam ulu hati Atyasa, bahkan tubuhnya sampai terangkat. Pukulan tinju yang sama dengan sebelumnya ketika Atyasa merobohkan Panglima Segantang. Demikian, Atyasa memuntahkan darah segar dan seketika itu juga roboh di tempat.

Wasit segera menghitung mundur. Seluruh mata memerhatikan sosok perkasa si atas panggung. Tubuh besar terlihat mengenakan perisai yang terbuat dari unsur kesaktian itu berdiri perkasa. Pemandangan ini benar-benar sesuatu yang langka bagi para murid Perguruan Gunung Agung, apalagi murid-murid perguruan-perguruan yang lebih kecil. Di antara banyak ahli yang mengutamakan persilatan, terbersit perasaan ngeri dari sang penguasa bumi, jauh di dalam lubuk hati.

“Panglima Segantang memenangkan pertarungan dan menjadi juara di Blok Panca!”

Beberapa saat kemudian baru terdengar suara gemuruh sorak-sorai para penonton di seluruh penjuru tribun. Sungguh mereka tak menyangka bahwa kejuaraan internal Perguruan Gunung Agung kali ini menyuguhkan tontonan yang dapat membuat napas menjadi sesak dan jantung berdebar-debar.

Walhasil, Kuau Kakimerah menjuarai Blok Eka, begitu pula Aji Pamungkas menjuarai Blok Dwi, Bintang Tenggara di Blok Tri, Canting Emas di Blok Catur, serta Panglima Segantang di Blok Panca.

Kecuali Canting Emas dan Kuau Kakimerah yang berada di Balai Pengobatan, ketiga anak remaja lelaki berdiri di atas panggung bergelimang dukungan dan pujian dari seluruh penjuru gelanggang kejuaraan. Mereka baru saja melalui acara penganugerahan juara.

Aji Pamungkas tersenyum lebar. Ia mengangkat kedua tangan tinggi, melambai-lambai, kemudian berjalan mengelilingi panggung pertarungan. Panglima Segantang berdiri tegar. Bintang Tenggara segera melangkah menuruni panggung, wajahnya kusut.

“Super Guru Komodo Nagaradja!” sergahnya menggunakan mata hati. Namun, tak ada jawaban dari mustika tenaga dalam retak milik Komodo Nagaradja.

“Super Guru pikun!” sergahnya lagi memancing amarah sang guru.

Tak ada jawaban. Walau, ia tetap merasa bahwa jiwa Komodo Nagaradja masih berada di dalam mustika retak. Rupanya, bukanlah kata-kata kosong dari Komodo Nagaradja yang mengungkapkan bahwa kesadaran dirinya akan mengalami hibernasi dalam jangka waktu tertentu bila menggunakan mata hati dan tenaga dalam secara berlebihan. Bintang Tenggara hanya dapat berharap bahwa kesadaran gurunya itu benar-benar hanya akan meredup dalam beberapa bulan saja.


***


Sepekan berlalu sejak kejuaraan berakhir. Pembicaraan tentang kejadian pada Babak Akhir kejuaraan masih saja menjadi topik utama dan hangat di kalangan murid-murid Perguruan Gunung Agung.

Bintang Tenggara, Aji Pamungkas dan Kuau Kakimerah melompat golongan menjadi Murid Utama dan menjabat sebagai Putra dan Putri Perguruan Gunung Agung. Dengan demikian, mereka menggeser posisi tiga orang murid lain dan masuk menjadi bagian dari ke-50 Murid Utama.

“Kurang dari dua bulan lagi kau akan berangkat menuju Pulau Jumawa Selatan…” ujar Maha Guru Keempat di saat Bintang Tenggara melanjutkan latihan.

“Saat meninggalkan Perguruan dan berangkat menuju Kota Ahli nanti, kusarankan engkau agar selalu waspada…,” tambah Maha Guru Keempat terlihat ragu.

“Murid mengerti, Maha Guru.”

“Meski Sesepuh Ketujuh yang akan menemani perjalanan kalian, jangan sekali pun engkau lengah,” Maha Guru Keempat belum dapat mengusir kegundahan hatinya.

“Maha Guru Keempat, setangguh apakah Petaka Perguruan?” akhirnya Bintang Tenggara mengajukan pertanyaan yang menjadi penyebab utama kegundahan hati gurunya itu.

“Lintang Tenggara berada pada Kasta Perak Tingkat 1, dan aku berada pada Kasta Emas Tingkat 1, bagaimana pandanganmu?” ujar Maha Guru Keempat.

“Jurang pemisah antara Kasta Perak dan Kasta Emas bagai langit dan bumi,” jawab Bintang Tenggara cepat.

“Benar,” Maha Guru Keempat terlihat serius. “Pandangan umum akan menyimpulkan demikian. Namun, lain halnya bila kita berbicara tentang Lintang Tenggara.”

“Maksud Maha Guru?” Bintang Tenggara terlihat bingung.

“Lintang Tenggara memiliki pemahaman sangat mendalam terkait keterampilan khusus segel. Ia memiliki unsur kesaktian yang digdaya. Ia pun menguasai satu dari Sapta Nirwana. Saat melarikan diri, ia pun membawa salah satu senjata pusaka milik Perguruan…,” nada bicara Maha Guru Keempat terdengar pilu.

“Dengan kombinasi tersebut, bila bertarung satu lawan satu menghadapi Lintang Tenggara, maka bahkan aku terpaksa mengerahkan seluruh kemampuanku untuk berupaya meraih kemenangan…,” sambung Maha Guru Keempat.

Bintang Tenggara terdiam. Bagaimana mungkin seorang ahli dengan Kasta Perak Tingkat 1 bisa mengimbangi ahli dengan Kasta Emas Tingkat 1? Sungguh tak bisa dicerna nalar. Mungkinkah ini yang dimaksud oleh pesan Bunda Mayang? “Bilamana bertemu dengan seorang lamafa, segeralah lari sejauh dan secepat mungkin!”

Maha Guru Keempat memerhatikan raut wajah Bintang Tenggara yang sedang membatin. Sungguh ia tak melebih-lebihkan kemampuan Lintang Tenggara. Bekas anak didiknya tersebut kemungkinan besar adalah ahli pertama yang mendobrak konsep kasta keahlian. Bila diceriterakan kepada banyak ahli digdaya di jaman ini, maka tak seorang pun akan percaya bila belum pernah berhadapan langsung. Bahkan, di antara para tetua di dalam Perguruan Gunung Agung pun, banyak yang tak percaya akan kemampuan luar biasa dari Petaka Perguruan.

“Apakah kau pernah mendengar tentang Ganesha?” lanjut Maha Guru Keempat, memecah keheningan.

“Ganesha berkepala gajah, berlengan empat, bertubuh gemuk,” jawab Bintang Tenggara cepat. “Beliau dikenal sebagai perlambang pengetahuan dan kecerdasan… juga sebagai pelindung, penolak bala… serta kebijaksanaan.”

Maha Guru Keempat menghela napas panjang, “Saat ujian masuk Perguruan, Prasasti Budi Arda mengumandangkan Lintang Tenggara sebagai… Titisan Ganesha.”


***


“Kalian akan ditugaskan ke Pulau Jumawa Selatan untuk menyelidiki tentang Kekuatan Ketiga,” ujar Bupati Selatan Pulau Lima Dendam, Lintang Tenggara. Di sebelahnya berdiri melengak-lenggok Bupati Utara Pulau Lima Dendam.

Terlihat lima orang remaja berdiri di hadapan mereka, dengan tenang menerima perintah. Paling tengah adalah Guru Muda Anjana. Di sebelah kirinya, seorang anak remaja lelaki dan perempuan dengan pakaian dan perawakan yang sangat mirip. Mereka adalah sepasang kakak-adik kembar dari kubu Bupati Utara.

Di sebelah kanan, berdiri dua orang remaja yang mengenakan jubah berwarna hitam. Mereka adalah Kum Kecho dan Melati Dara!

“Rincian tugas akan dijabarkan lebih lanjut oleh Anjana sebagai pemimpin dalam misi kali ini,” tambah Lintang Tenggara.

“Sesuai kesepakatan di antara kami…,” Bupati Utara angkat bicara. “Kalian juga memiliki tugas sampingan untuk menyelidiki tentang keberadaan Balaputera.”

Kum Kecho mengernyitkan dahi sepintas, namun tetap tenang untuk menyembunyikan keterkejutannya. Pulau Jumawa Selatan? Jikalau Balaputera yang mereka sebut-sebut adalah orang yang sama, maka tokoh tersebut berada di Pulau Belantara Pusat, pikir Kum Kecho dalam hati. Akan tetapi, tentu saja ia tak berkomentar apa-apa karena Balaputera adalah penyelamat dirinya. Sebuah pertanyaan lalu mencuat, siapakah jati diri sesungguhnya Paman Balaputera sampai diburu oleh Partai Iblis?

“Mulai pekan depan, kalian berlima akan berlatih bersama selama sebulan sebagai persiapan sebelum berangkat ke wilayah pusat Pulau Jumawa Selatan,” tambah Lintang Tenggara sambil memerhatikan Kum Kecho.

“Anjana, sepintas aku menangkap reaksi tak wajar dari Kum Kecho saat mendengar nama ayahanda,” ungkap Lintang Tenggara setelah membubarkan regu.

“Hm?”

“Pantau juga gerak-geriknya… Aku selalu merasakan ada sesuatu yang ia sembunyikan. Lalu cincin itu, andai saja aku bisa mengamati lebih seksama…,” keluh Lintang Tenggara.

“Apakah perlu kuambil paksa cincin itu?” tanya Guru Muda Anjana lirih.

“Belum perlu.”

“Tuan Guru… aku menagih janji!” Melati Dara setengah merengek… Keduanya dalam perjalanan kembali ke wisma mereka.

“Aku tak pernah berjanji akan mandi bersamamu, budak!” jawab Kum Kecho pedas.

“Eh… Bukan itu…,” Melati Dara tertunduk.

“Janji apa?”

“Tuan Guru berjanji akan menemani aku membalas dendam bila berhasil menarik pedati seberat 200 kg.”



Catatan:

*) Pertemuan pertama Bintang Tenggara dan Panglima Segantang disebabkan oleh Komodo Nagaradja dalam Episode 34.