Episode 4 - Ayah dan Sahabat


Paviliun Ketiga Istana Kerajaan Yuan, sehari setelah hilangnya Kresna.

Ini adalah ruangan yang megah. Barang antik, barang langka, barang mewah, semuanya ada. Buku-buku berjejeran rapi, beberapa gulungan bambu juga menemani. Selain itu semua, terdapat tiga orang manusia, salah satunya bocah lelaki, sisanya wanita muda.

Kendati masih bocah, karisma serta perawakannya cukup menarik pandang. Bajunya terbuat dari sutra kualitas tinggi yang dirajut benang emas. Rambutnya pun dikuncir dengan ikat kepala emas. Matanya hitam tajam. Wajahnya putih bersih. Satu-satunya hal yang memburamkan semua pesona itu adalah rasa gelisahnya. Kakinya terus mengetuk tanpa henti. Ia hanya terduduk di singgasana dengan muka suram.

Berbeda dengannya, kedua wanita muda itu hanyalah para dayang istana. Pakaian mereka biasa, tak mewah, tetapi rapi dan bersih. Warna yang mencolok adalah merah muda. Kesan feminim memang sangat kental, meskipun wajah mereka tak seberapa, apalagi ekspresi mereka datar. Mereka hanya mematung, berdiri di dekat majikkannya. Kecuali ada perintah, tak berani mereka bergerak, pun berbicara.

Terdengar derap langkah kaki. Asalnya dari luar, tetapi semakin mendekati paviliun. Siluet hitam terlihat dari sekat pintu. Ditilik dari tinggi dan bentuk kepala yang tampak memakai pelindung, kemungkinan besar dia pengawal istana.

“Pangeran, Ye Qin datang melapor!” ujar sebuah suara.

Layaknya suami yang menerima kabar kelahiran anaknya, bocah ini lekas berdiri, ekspresinya sedikit berubah walau rasa cemas masih menghantui. “Masuklah!” Ia sudah memberi titah. Namun, seolah tak sabar, ia berjalan mendekati pintu.

Seorang lelaki dewasa yang gagah perkasa datang. Zirahnya tampak kukuh tak terkalahkan. Pedang panjang terhunus di pinggang. Meski memakai pelindung lengan, ototnya masih menyembul, membuat aura dirinya mendominasi. Untuk ukuran prajurit, dia pasti memiliki pangkat yang tinggi. Ia melepas helm besinya dan langsung memposisikan diri setengah berlutut. “Pangeran,” ujarnya menunggu titah lanjutan.

“Jenderal Ye, apa kau mendapatkan kabar tentang Kresna?” tanya bocah ini cepat. Ia tak lain adalah Yen Hwang. Seorang pangeran, putra mahkota, sekaligus sahabat dekat Shiang Kresna.

“Pangeran, kami sudah mencari seharian jejak penculik Shiang Kresna. Mereka menuju ke arah barat. Kemungkinan besar, mereka menuju perbatasan. Hamba sudah mengirim pesan pada penjaga perbatasan barat untuk mengecek setiap orang yang ingin keluar. Namun, hingga sekarang masih belum ada kabar lanjutan.”

“Jenderal Ye, kenapa kau tidak melanjutkan pencarian?”

“Maafkan hamba, saat berada di jalan lembah dekat Hutan Kabut, jejak para penculik itu menghilang. Selain itu...”

“SELAIN ITU APA?” Hwang membentak.

“Siap, selain itu hamba mendapatkan perintah untuk kembali ke istana.”

“Hah? Perintah? Dari siapa?”

Belum sempat Jenderal Ye menjawab, sebuah suara menyahut pertanyaan itu, “Perintah dari Kaisar Yen Jian!”

Dengan insting tajamnya, Jenderal Ye cepat berbalik dan mengambil kuda-kuda menyerang sambil mencabut pedang. Dilihatnya seorang lelaki berumur empat puluhan. Pakaiannya dari sutra biru, rapi dan lumayan mewah. Badannya juga hampir menyainginya. Yang menjadi pembeda adalah, pakaian yang ia kenakan tak mempertontonkan otot-otot perkasa. Namun, hampir bisa dipastikan tubuhnya juga terlatih.

“Paman Shiang, ada apa kemari?” Hwang cepat menjawab lelaki misterius itu.

“Shiang? Jadi dia ayah Shiang Kresna? Untuk ukuran pejabat rendah, dia memiliki aura menakutkan. Kehadirannya bahkan tak kurasakan tadi,” ungkap Jenderal Ye dalam batin.

“Jenderal Ye, tenanglah, tidak perlu begitu,” ucapnya pada Jenderal Ye. Ye Qin pun tanggap dan menyarungkan pedangnya.

“Pangeran, maafkan kelancangan hamba yang masuk tanpa izin.” Shiang menundukkan kepalanya, tetapi tak sampai berlutut.

“Tidak apa Paman Shiang. Lagi pula, paman pasti gelisah atas hilangnya Kresna. Namun, apa maksudnya dengan Kaisar menyuruh pasukan Jenderal Ye untuk kembali? Terlebih, bukankah Kaisar sedang dalam pelatihan meditasi di gua bawah tanah?”

“Ah, Pangeran, Kaisar baru saja kembali dari pelatihannya. Lalu, dia memintaku untuk memberitahu Anda bahwa pencarian anakku, Shiang Kresna, dihentikan.”

“Apa? Tidak mungkin! Paman, jangan Paman kira aku bodoh. Kaisar tak mungkin melakukannya. Dia baru saja kembali, tak mungkin langsung mengambil keputusan sembrono atas situasi ini. Terlebih, seharusnya Kaisar sadar, jika bukan Kresna yang diculik, itu pasti aku. Setidaknya, aku tahu Kaisar, tidak, ayahku adalah orang yang tahu balas budi.”

“Sudah saya duga, Pangeran pasti tidak semudah itu percaya. Baiklah, sejujurnya, saya sendiri yang meminta kepada Kaisar untuk menghentikan pencarian ini.”

Hwang kaget dan secara spontan mendekati Shiang. “Apa? Apa Paman sudah gila? Itu Kresna, anakmu sendiri, kenapa Paman tega menelantarkannya?”

“Itu karena saya sudah mengetahui siapa para penculik itu.”

“Memang siapa mereka?”

“Kelompok pembunuh bayaran yang terbesar di dunia gelap, Alactrus!”

“Alactrus? Bukankah mereka kelompok yang berisi orang-orang Austris?”

“Benar, tapi bukan itu masalahnya. Saya tahu betapa lihainya kelompok ini dalam membunuh. Namun, kali ini mereka hanya menculik. Saya curiga ada sesuatu dibalik ini. Terlebih, bukankah tadi Jenderal Ye mengatakan bahwa belum ada respon dari penjaga perbatasan barat? Saya pikir, mereka sudah lolos dari inspeksi dan sudah berada di Kerajaan Bizantum sekarang. Jika pencarian dilanjutkan di luar perbatasan, Kerajaan Bizantum dapat menemukan alasan untuk kembali berperang setelah gencatan senjata selama dua tahun belakangan.”

“Tapi Paman, Kresna itu sahabatku. Aku tidak bisa meninggalkan dia begitu saja. Tadi malam, kami baru saja membicarakan posisi rasi bintang...”

“Pangeran...,” sahut Shiang.

“...bukan hanya itu, kami juga bermain weiqi...”

“Pengeran...,” sahutnya lagi.

“... aku menang enam kali, dia menang empat kali, lalu, lalu...”

“PANGERAN!” untuk yang ketiga, Shiang membentak. Ia sadarkan Hwang dari lamunan rasa bersalahnya.

Tentu, Jenderal Ye marah. “Kurang ajar! Kau berani membentak Pangeran? Sadari posisimu!”

“Justru karena saya sadar, makanya saya lakukan itu.”

Ye Qin menarik kerah Shiang, tetapi tak lama, respon Hwang mencegah keributan menjadi lebih panas, “ Jenderal Ye, cukup!”

“Tapi Pangeran, dia telah berlaku kasar...,” tegas Ye Qin.

“KUBILANG, CUKUP!” Kali ini, Hwang yang membentak. Tindakan itu cukup untuk membuat Ye Qin berlutut meminta maaf.

“Maafkan hamba! Hamba tidak bermaksud melanggar perintah.”

Tanpa menghiraukan Ye Qin, Hwang membalikkan badan. “Paman Shiang, terima kasih telah menyadarkanku! Sebagai putra mahkota, aku tidak seharusnya bertindak emosional. Aku tahu, Paman Shiang yang seharusnya merasa paling kehilangan. Tapi Paman, biar kutanyakan lagi, apa paman rela mengorbankan Kresna begitu saja?”

“Pangeran Yen Hwang, saya sebagai ayah Shiang Kresna, sangat berterima kasih pada Anda karena mau menjadi teman sebayanya. Bocah itu selama hampir sepuluh tahun selalu sendiri. Karena ibunya meninggal muda, dia hanya punya saya dan adiknya untuk berbicara. Namun, saya cukup sibuk mengurus pekerjaan, adiknya pun masih sangat kecil. Bisa dibilang, satu-satunya orang sepantaran yang mampu berbicara dengannya adalah Anda, Pangeran Yen Hwang.

Akan tetapi Pangeran, dapat saya tegaskan, pengorbanan bocah itu bukanlah kesia-siaan. Satu nyawa yang dikorbankan untuk melindungi ribuan nyawa adalah sebuah jasa yang besar. Apalagi, ini untuk melindungi garis keturunan Kaisar Yen Jian. Sebagai hamba sekaligus teman lama Kaisar, saya, Shiang Li, tidak ada penyesalan sedikit pun! Terlebih, selama saya masih bernapas, akan saya cari Kresna semampu saya. Walau tinggal arangnya sekali pun, tetap akan saya bawa pulang.”

Suasana hening seketika. Namun, semua orang di paviliun bisa mendegar isak tangis Hwang. Walau ia coba menahan kuat-kuat kesedihannya, tetap saja, sebagai bocah sepuluh tahun, air matanya menetes.

“Pa... Paman Shiang,” ia coba menarik masuk ingusnya, “kau, kau boleh pergi sekarang...!”

“Baik, Pangeran!”

Sigap dan cepat, Shiang Li melangkah pergi. Jenderal Ye Qin terus memperhatikannya. Sebagai orang yang belum memiliki momongan, ia penasaran apa yang sebenarnya dirasakan Shiang Li. Kalau dibilang sedih, ekspresinya sama sekali tak berubah. Sorot matanya masih tajam. Kalau dibilang senang, itu jelas mustahil.

Namun, Jenderal Ye Qin bukan hanya penasaran akan hal itu. Yang paling membuatnya bertanya-tanya adalah kebenaran jati diri Shiang Li. Memang, bukannya seorang pejabat tak boleh berlatih bela diri. Malahan, dikalangan bangsawan atas, bela diri merupakan salah satu faktor penentu superioritas selain harta, tahta, dan wilayah. Hanya saja, sebagai sesama praktisi bela diri, dia paham betul seberapa hebat tingkatan Shiang Li.

Bahkan sekarang pun, Jenderal Ye Qin bisa melihat aura mengerikan dari balik punggung orang ini. Sebuah aura yang mengatakan, “akan kubunuh siapapun yang menghalangi jalanku!” Mungkin saja, di masa lalunya, orang ini sudah melalui banyak pertarungan hidup mati. Ah, benar juga, Ye Qin mengingat sesuatu. Kalau tak salah, keluarga Shiang adalah bangsawa baru yang diangkat derajatnya langsung oleh Kaisar Yen Jian. Dengan kata lain, garis keturunan pertama dari keluarga bangsawan ini adalah Shiang Li sendiri. Dia merasa, hubungan masa lalu antara Kaisar Yen Jian dengan Shiang Li pasti merupakan kunci dari itu semua.

Sayangnya, hal ini bukan menjadi urusannya. Entah hubungan seperti apa yang mereka miliki, entah kejadian seperti apa yang mereka alami, yang jelas, Kerajaan Yuan sangat beruntung tidak membuat orang sehebat Shiang Li menjadi musuh. Jika saja ia adalah salah seorang jenderal perang dari kerajaan lain, Ye Qin sekalipun tidak yakin bisa mengalahkannya dalam duel satu lawan satu. Tidak, bahkan jika ia dibantu seorang jenderal lain, ia masih merasa kalah.

“Pangeran, kalau begitu hamba juga undur diri.” Ye Qin memutuskan pergi setelah tersadar dari lamunannya.

“Jenderal Ye Qin, tunggu sebentar!” Hwang menahannya, Ye Qin pun kembali berbalik.

“Siap, ada lagi yang bisa hamba bantu?”

“Jenderal Ye, aku ingin kau mengirim satu atau dua prajurit terhebatmu untuk membantu Paman Shiang mencari Kresna. Tapi ingat, lakukan ini secara diam-diam, aku takut Paman Shiang tidak mau menerima bantuan ini.”

“Pangeran, Anda memang sangat baik dan bijaksana,” Ye Qin tersenyum dalam hati. “Siap, hamba akan melaksanakan perintah tersebut!” imbuhnya.

 “Kalau begitu, kau boleh keluar!”

 Ye Qin bergegas pergi dari paviliun. Ia berencana segera mengirimkan bawahan terbaiknya untuk membuntuti Shiang Li.

 Sementara itu, di gerbang masuk istana, Shiang Li sudah berada di luar. Ia menuju kereta kuda yang ditunggangi kusir tua. Setelah majikkannya masuk, kusir pun bertanya. “Tuan Li, apakah Anda ingin langsung pulang atau pergi ke tempat lain?”

 “Kita akan pergi ke tempat yang lumayan jauh.”

 “Kalau boleh tahu, ke mana tujuan kita?”

 “Kita akan ke barat, menuju perbatasan!”

 Kusir pun terkejut, ia mencoba berbalik, barmaksud mengklarifikasi ucapan majikkannya. “Hah? Bukankah itu sangat jau-...”

Sialnya, bukanlah kepastian yang diterima kusir, melainkan kengerian tiada tara. Tatapan majikkannya yang sangat tajam. Kerutan dahi yang menakutkan. Juga ekspresinya saat menggenggam sebuah pedang yang masih tersarung. Mungkin, mulai sekarang, itu semua akan menjadi mimpi buruk di hari tuanya.

 “Kresna, maafkan ayahmu ini. Jika saja ayah tidak ragu-ragu untuk mengajarimu bela diri. Jika saja ayah tidak menjadi pengecut seperti sekarang. Pasti kau tidak akan diculik semudah itu. Maafkan ayah, ini semua salah ayah karena ingin meninggalkan dunia persilatan. Kresna, tenang saja! Ayah bersumpah akan membunuh satu persatu orang yang mencelakaimu. Dan juga, ayah pasti akan membawamu pulang, walaupun kau sudah berubah menjadi abu sekalipun.”

 Shiang Li, mantan pendekar hebat yang misterius. Seorang praktisi bela diri tingkat tinggi. Kini, dengan sumpahnya, setelah bertahun-tahun meninggalkan dunia persilatan, akhirnya dia kembali. Kembali untuk mengambil lagi anaknya. Atau mungkin juga, kembali untuk mengakhiri hidupnya.