Episode 3 - Tekad Seorang Bocah


Entah mau berkata apa, mengingat hal ini juga kualami sebelumnya. Guru, dia benar-benar menjilat bandit sekarat ini layaknya hidangan pembuka. Jika saja aku tak mengetahui cara Guru mengobati, sudah pasti mental pengecutku akan muncul lagi. Dan pastinya, aku akan mempermalukan diri sendiri jika itu terjadi.

Walaupun kami sudah resmi menjadi guru dan murid, aku masih mempertanyakan banyak hal. Bagaimana caranya seekor naga mengajari manusia? Jujur, aku sama sekali tak pernah berlatih bela diri. Bahkan, aku membencinya. Sekitar enam bulan lalu, aku dipaksa Hwang untuk menonton Festival Raja Silat yang diadakan di dalam istana. Namun, aku sungguh tak menikmati. Yang kulihat adalah ketegangan, kecemasan, dan kengerian. Bagaimana tidak? Kuingat betul, ada sebuah pertarungan antar pendekar dari perguruan berbeda, di mana salah satunya dinyatakan kalah karena tangannya terpotong.

Benar-benar tergeletak begitu saja! Gila bukan?

Namun, yang tak kuhabis pikir adalah riuh tepuk tangan penonton setelahnya. Bahkan untuk Hwang, aku bisa lihat dia tersenyum gembira menyaksikan kebrutalan itu. Ya, aku memang mendengar Raja Yen Jian, ayah Hwang, itu sakti. Dia menguasai kitab Tapak Bumi.

Lima belas tahun silam, konon saat Kerajaan Yuan berperang dengan Kerajaan Bizantum di barat, ayahnya menjadi jenderal utama. Bukan karena tak ada jenderal lain yang kompeten, tetapi memang karena pangeran saat itu memiliki kapabilitas di atas semuanya. Catatan kerajaan menyebutkan, Raja Yen Jian sering bertarung sebagai garda depan. Dia bukanlah tipe jenderal duduk santai. Dalam taktik perang, hal ini terdengar ceroboh. Namun, berkat ilmunya, ia mampu melibas seratus musuh sekali tebas. Entah ini dilebih-lebihkan atau memang nyata, hanya dialah yang tahu.

Walau demikian, tetap saja, apakah mereka harus gembira melihat kebrutalan di depan mata?

Yang pasti, satu-satunya perbedaan besarku dengan Hwang adalah sudut pandang kami tentang persilatan. Dugaanku, dia sebenarnya tertarik dengan dunia itu. Namun, entah apa, ada sesuatu yang menahan dirinya masuk lebih dalam. Mudah-mudahan ia tak menemukan alasan untuk terjun ke sana. Sedangkan bagiku, persilatan adalah dunia di mana membunuh disejajarkan dengan bernafas. Dibiarkan mengalir dan berulang. Hukum kerajaan seperti tak berpengaruh jika berhadapan dengan para pendekar yang saling berbalas dendam. Semua orang maklum, seakan itu adalah bagaimana manusia seharusnya hidup.

Dulu, saat umurku enam tahun, pernah kulihat dua orang pendekar bertarung hidup-mati. Mereka porak porandakan segala barang yang ada di jalanan. Semua orang lari ketakutan, tapi semua orang juga ingin melihat. Ayahku langsung menggendongku pulang. Sayang, aku yang bocah merasa penasaran. Dari balik pundaknya, aku mencuri-curi pandang akan pertarungan tersebut. Itu adalah kesalahan besar. Aku yang kecil untuk pertama kalinya melihat kematian tragis dan kejam. Sebuah proses di mana kepala terpisah dari tubuh, darah berceceran, dan senyum puas seorang pembunuh. Lalu, saat umurku delapan tahun, barulah ayah memberitahu betapa biadabnya persilatan.

Saat ini, aku memang mengalami dilema. Bisa dibilang, aku malah mempelajari apa yang kubenci. Namun, apa boleh buat? Jika tak kulakukan, selamanya aku tak kan pernah bertemu Hwang.

“Uh...”

Aku mendengar dengusan kecil dari bandit ini. Ia mulai tersadar. Pandangannya lemah menatap langit-langit. Tiba-tiba, ia mendongakkan leher, matanya memanjat ke arah jidat, ditemukanlah diriku sedang duduk bersila sambil mengawasi.

Aku menatap sinis.

Ia tampak tak menyukai raut wajahku. Dengan rahangnya yang menggetuk, aku tahu dia marah. Sontak, badannya berbalik dan hendak menerjangku, tapi...

“Tunggu dulu, mau ke mana kau?” Guru menjulurkan kuku panjangnya. Ia hentikan gerakan bandit itu dengan mudah.

Kaget, dengan refleks cepat bandit itu berjungkir balik menjauh. “I-Iblis apa kau ini?” tanyanya ngeri. Namun, kuda-kuda siaganya tak goyah.

“Astaga, tadi dikira penjaga neraka, sekarang kau sebut aku iblis? Memangnya mata kalian tidak bisa membedakan mana naga, mana mahkluk lain, apa? Terlebih, aku sudah menyelamatkan nyawamu, seharusnya kau berterima kasih. Dasar orang tidak tahu balas budi!”

Sepertinya Guru juga menyindirku.

“Ka-kau bisa bicara?”

“Hah, memangnya kau pikir aku bayi yang baru lahir? Yah, aku tahu keherananmu. Caraku bicara sedikit berbeda dari kalian. Bukan dengan lidah, tapi pernapasan perut.”

Pernapasan perut? Pantas saja saat Guru bicara aku tak pernah melihat rahangnya bergerak.

“Di-diam kau! Jangan berani macam-macam!” Ia menunjuk-nunjuk dengan kasar.

Bandit ini sungguh tidak tahu diri. Tidak, atau harus kusebut terlalu percaya diri? Bagaimana bisa manusia kerdil seperti kita memerintah naga raksasa?

Tiba-tiba, Guru menggerakkan salah satu jarinya. Aku bisa merasakan aliran energi yang sangat kuat menarik bandit itu dengan paksa. Bandit itu terkapar di tanah, Guru menahannya dengan jari tadi. Aku sedikit was-was, tak terbayang jika Guru benar-benar melahapnya.

“Guru, apa yang akan Guru lakukan padanya?” Kuberanikan diri untuk menenangkan situasi ini.

“Kresna, inilah orang jahat dan tidak tahu diri yang mencoba mencelakaimu. Walaupun kau menyuruhku untuk menyelamatkannya, tapi dia sendiri yang cari mati. Jadi, hukuman apa yang paling pas buatnya? Mencingcangnya? Meremukkannya? Atau menelannya bulat-bulat?”

Aku cepat berlari ke arah mereka. Kutarik kerah bandit itu dan meneriakinya. “Hoi! Cepatlah minta maaf pada Guru! Apa kau mau mati di sini? Bukannya kau ingin keluar? Bukannya ada orang yang menunggumu pulang? Alicia kan, namanya?”

Dari tatapannya yang berubah, aku bisa tahu ia merenungi perkataanku, “bo-bocah ini... ada benarnya. Alicia, yah, dia menungguku untuk pulang. Aku tidak bisa mati di sini. Aku harus menangkap bocah ini dan kembali untuknya. Sepertinya aku akan sedikit bersandiwara.”

“Tuan Naga Yang Mulia, maafkan kelancanganku tadi. Aku tidak bermaksud kurang ajar. Aku hanya ketakutan melihat sosok agungmu. Tolong, ampunilah manusia hina sepertiku ini!” Dia berkata layaknya penyair.

“Baiklah, karena mempertimbangkan posisi muridku, Kresna, kali ini kau kulepaskan.” Guru mengangkat jarinya dari tubuh pria ini.

“Terima kas—“ ekspresinya mendadak berubah, “Kresna? Bukankah namamu Yen Hwang?”

“Kau baru sadar bandit sialan?” gunjingku dalam hati.

“Hahaha, baiklah, akan kuberitahu yang sebenarnya. Sejak awal, yang kalian culik adalah diriku, Shiang Kresna, bukan Putra Mahkota Kerajaan Yuan, Yen Hwang. Bagaimana rasanya tertipu? Enak, bukan? Makanya, jangan coba-coba mencelakai sahabatku!”

Sontak, dia marah dan langsung berdiri mencekikku, “bocah tengik! Kurang ajar kau! Kau menipu-...”

“Duumm!”

“Whooossh!!”

Sebuah sentilan kuat dari Guru menghempaskan tubuhnya puluhan dacksal.

“Ohokh-ohokh!” Aku terlapas dari genggamannya dan terbatuk-batuk. Belum pernah kurasakan sensasi cekikan sebelumnya. Tenggorokkanku terasa gatal, tapi juga sakit. Mataku berair dan mungkin sedikit merah.

“Kresna, kau baik-baik saja? Sudah kuduga, orang itu layak dibunuh!”

Tiba-tiba, aku melihat sebuah cahaya dari jari Guru. Itu adalah lingkaran sihir. Aku tak tahu untuk apa, tapi yang jelas pasti berbahaya.

“GURU, TUNGGU!” teriakku.

Beruntung, Guru sepertinya sedikit terpengaruh. Lingkaran sihir itu lenyap.

“Kenapa? Jangan bilang kau mau menyelamatkannya lagi?”

“Aku paham,...”

“Paham apa?”

“Aku paham alasannya marah. Itu wajar, dia mengejarku sampai terluka parah, tapi ternyata yang ia dapat bukanlah tujuannya. Jika aku dalam posisinya, aku mungkin akan marah juga.”

“Tidak, Kresna. Kau terlalu dangkal menilai dirimu. Jika kau diposisinya, kupikir kau hanya akan terkejut, lalu mencoba menanyaiku bagaimana caranya keluar dari sini tanpa mencoba membunuh orang lain. Kresna, dia tidak sebaik dirimu. Dia pantas mati. Sekarang...”

Lingkaran sihir kembali dibentuk. Aku bergegas memposisikan badan dihadapan Guru, mencoba menghalanginya untuk menyerang. Tanganku merebah lebar-lebar.

“Guru, jika kau tetap ingin membunuhnya, maka aku tidak mau belajar teknik bela diri darimu!”

“LANCANG! KAU PIKIR DIRIMU YANG MENENTUKAN ITU SEMUA?”

“Guru, bukankah aku sudah mengatakan impianku padamu? Aku ingin membuat dunia di mana memaafkan lebih mudah dari mendemdam. Dunia tanpa peperangan, pertikaian, dan permusuhan. Dunia yang menganggap semua kehidupan bernilai sama. Bukankah Guru juga medoakan agar impianku terwujud?”

Dari jauh, setelah terbatuk beberapa kali, bandit itu melihat tindakanku. “Bocah ini, dia mencoba melindungiku? Apa yang dipikirkannya?”

“Haaaah, baiklah,” Guru menghentikan sihirnya, “tapi, jika orang itu menyerangmu lagi, aku tidak akan menyelamatkanmu kecuali kau memintaku untuk membunuhnya. Bagaimana dengan kondisi tersebut?”

“Baiklah, Guru! Aku akan membuktikan bahwa orang sepertinya juga bisa berubah. Aku yakin, dia tidak akan menyerangku lagi. Namun, untuk kasus terburuknya, jika dia memang tetap menyerangku, akan kuatasi dengan kekuatanku sendiri.”

 “Terserahmu saja lah!” Guru mengubah pandangannya, “kau yang terkapar di sana! Sebaiknya kau tiru kebajikan bocah ini. Jika dia tidak membelamu, bisa dipastikan dirimu tinggallah abu. Bela dirimu tidak seberapa bagiku, tenaga dalammu juga sangat lemah, apalagi kau tidak bisa sihir. Tapi untuk bocah sepertinya, kau tetaplah ancaman. Ingat, jika berani macam-macam lagi, aku bisa menghapus keberadaanmu dari dunia hanya dengan menggerakkan jari!”

Dia berdiri memegang dadanya. Ia hanya menatap kami tanpa berani mendekat. Darah melumer dari mulutnya. Wajar memang, walau hanya dengan sentilan ringan, Guru mementalkannya sangat jauh. Kalau itu aku, pasti langsung mati ditempat. Untungnya, orang ini memanglah praktisi bela diri yang lumayan hebat.

Namun, dari semua itu, aku tetap terharu. Sesuatu di dalam diriku mengatakan bahwa tindakanku untuk melindunginya sangat tepat. Apakah ini yang dinamakan membela keadilan? Apakah ini yang dinamakan keteguhan hati? Apakah ini yang dimaksud membulatkan tekad? Entahlah, yang kutahu, hati ini terasa hangat. Aku merasa bangga bisa menggerakkan orang lain lewat tindakan. Apalagi guruku sendiri yang seekor naga. Aku merasa lega bisa mengutarakan isi hati dan perasaan. Sekarang, tugasku tinggal mengubah bandit itu menjadi manusia yang cukup baik.

Hwang, semoga kita lekas bertemu kembali. Aku ingin mengubah dunia ini bersamamu, sebagai sahabat, penasihat, sekaligus rakyat. Hwang, akan kupastikan impian kita benar-benar terwujud. Hwang, tunggulah aku, setelah belajar Teknik Bela Diri Naga, akan kuceritakan semua pengalaman ini padamu. Setiap detailnya, setiap harinya, hingga kau tidak akan bisa tidur sampai mendengarkan kisahku selanjutnya.

Hwang, di sinilah sahabatmu sekarang. Di sebuah gua, di dalam gunung, bersama seorang bandit dan seekor naga.