Episode 2 - Guruku adalah Seekor Naga


“Ah,...” gumamku, seraya membuka mata perlahan.

 Untuk sesaat, aku terbaring seperti orang ling-lung, melamun sejenak memikirkan keadaan. Langit-langit batu membuatku bertanya. Aura hijau aneh juga membingungkan. Tanganku mulai meraba lemah. Kasar. Pastinya ini bukan kasur. Namun, sensasi ini mengingatkanku pada sesuatu.

 Aku angkat telapak tangan kanan dan kulihat lengan baju yang terkoyak. Ada juga sedikit cairan lengket, tetapi aku tak tahu apa itu. Ah, aku ingat sekarang. Seharusnya aku sudah mati. Ini pasti akhirat, tetapi aku tak yakin ini surga atau neraka. Aku pun menoleh perlahan ke kanan. Kulihat kristal-kristal hijau memendarkan kilauan cahaya yang indah, membuatku tersenyum puas karena merasa tempat ini adalah surga.

Atau setidaknya begitu hingga aku menoleh ke sisi lain.

Mustahil! Apa aku masuk neraka? Kulihat sosok mengerikan sedang tertidur. Nafasnya mendengus cukup keras. Aku menelan ludah, tak bisa berkata-kata. Keringat dingin pun bercucuran. Sungguh mahkluk yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku hanya bisa melihat kepalanya yang besar, sedangkan sisa tubuhnya tersembunyi dalam gelapnya lubang. Itu seperti sarang. Yang pasti, kepala mahluk ini lebih besar dari sapi, apalagi badannya. Sisik berwarna merah juga menambah kesan seram.

“Bocah, kau sudah sadar?” gumamnya yang masih terpejam.

Ba ... bagaimana bisa? Dia berbicara? Aku benar-benar hilang akal. Sontak, rasa takut ekstrim membuatku bangkit. Dalam posisi duduk, aku langsung menjauh mati-matian darinya.

“Bug!”

Punggungku menabrak kristal besar, membuatku tak bisa lagi menjauh. Secara mendadak, mahluk itu membuka matanya yang lebar, menambah tekanan batinku.

“Ahhhhh...,” aku menjerit, “Ayah, tolong, tolong, tolong! Ayah, tolong!” sudah lama aku tak bertingkah seperti ini. Meminta bantuan ayahku saat menghadapi masalah.

Oh Tuhan, dewa, surga, takdir, atau apapun sebutannya. Dosa apa yang telah kuperbuat hingga harus disiksa di neraka?

“Bocah, apa kau gila? Lihat sekelilingmu! Tak ada orang lain.”

Entah kenapa, saat mahkluk ini berbicara untuk kedua kalinya, batinku menenang. Hati kecilku merasa dia bisa diajak kompromi. Aku spontan mengikuti kemauannya. Kulihat keadaan sekitar sambil terengah-engah. Benar-benar sunyi. Tak ada suara apapun kecuali air yang mengalir. Tempat ini didominasi oleh batuan dan kristal hijau. Sangat luas. Namun, tak berani diriku menilik lebih jauh lagi.

“Ka-kau sebenarnya apa? Apa kau penjaga neraka?” kukumpulkan keberanian untuk bertanya.

“Hahahaha...,” dia tertawa lepas, “penjaga neraka? Lucu. Sangat menghibur. Sudah ratusan tahun aku tak tertawa seperti ini. Bocah, siapa namamu?” tanyanya.

“Na-namaku Shiang. Shi-shiang Kresna.”

Aku masih gugup. Tawanya tadi membuatku bingung. Tak tahu apakah dia senang atau murka.

“Shiang Kresna? Baiklah, akan kuberitahu padamu. Aku adalah Naga Api Legendaris,”-dia mulai bergerak keluar dari sarangnya-“Namaku Shenlong!” senyum tipis tersimpul dari rahang kuatnya.

Sepuluh dacksal, tidak, lima belas dacksal. Kurasa dia setinggi itu. Belum sempat kuterkejut, kesadaranku pupus karena rasa takut berlebih yang mencuat.

     ***

[Shenlong]

“Sluuurrrpp!”

Naga itu, Shenlong, menjilat tubuh Kresna secara menyeluruh. Kini, untuk kedua kalinya, lendir lengket melapisi setiap sudut tubuhnya.

“Bocah...,” dia memanggil lemah menunggu sahutan, “Bocah, bangun, Bocah!”

Kresna perlahan tersadar. Matanya mulai terbuka, tetapi apa yang dia lihat adalah naga raksasa. Rasa takut kembali menjalar.

“Ahh....,” Kresna berteriak lepas, “jangan makan aku! Dagingku tidak enak!”

“Bocah, seharusnya kau berterima kasih padaku. Bukannya menganggapku seperti orang jahat. Kalau aku tidak menjilatmu, kau sudah mati dari tadi. Lihat sekarang, lukamu sembuh semua, kan? Tidak kusangka, aku menggunakan lendirku dua kali untuk mengobatimu.”

Kresna menilik sekujur tubuhnya. Walau lendir itu agak menjijikan, tetapi ia tahu semua lukanya menghilang. Rasa sakit pun sirna entah ke mana.

“Kalau begitu, apa aku belum mati?”

“Bocah, tidak, Shiang Kresna, kau ini benar-benar lucu. Kalau kau mengira dirimu sudah mati, mengapa harus takut padaku?”

“Habisnya kupikir, aku masuk neraka.”

“Hahaha ... memangnya dosa apa yang bisa dibuat anak kecil sepertimu sampai harus masuk neraka?”

“....” Pikiran Kresna mengawang. Ia tak tahu harus menjawab apa.

“Sudahlah, yang lebih penting, ceritakan padaku bagaimana caramu masuk ke sini?”

“Soal itu...,”

Kresna mulai bercerita panjang lebar. Rasa takutnya menipis setelah percakapan hangat terjadi.

     ***

[Aku]

“Jadi intinya, aku juga tidak tahu kenapa bisa sampai ke tempat ini,” ujarku yang selesai bercerita.

“Hahaha... kalau dari sudut pandangku, kau termasuk bocah yang beruntung. Biasanya, orang-orang yang datang kemari masuk melewati lubang-lubang di sana.”

Shenlong menunjukkanku lubang-lubang yang tercecer acak hampir di seluruh sudut tempat ini. Aku pun mencoba bertanya.

“Apa lubang-lubang ini mengarah ke labirin?”

“Tepat sekali! Lubang-lubang ini bisa tertutup atau terbuka, tergantung dari pergerakan labirin. Tapi sungguh, kau benar-benar beruntung bisa masuk lewat pintu utama. Padahal, bisa saja kau jatuh ke jurang lahar. Hahahah, takdir memang tidak bisa ditebak.”

“Pintu utama? Apa maksudnya?”

“Lihat batu besar yang mempunyai ukiran unik di sana?”-aku mengangguk-“dari sanalah kau datang terbawa oleh angin.”

“Hmmm, begitu ya. Ngomong-ngomong, sudah berapa lama aku pingsan?”

“Kalau dihitung sejak kedatanganmu, mungkin sudah setengah hari.”

“Setengah hari? Mungkin para penjahat itu sudah menyerah mencariku,” pikirku dalam hati, “Paman Shenlong, tidak, Kakek Shenlong, bisakah menolongku untuk keluar dari sini? Aku ingin segera kembali menemui Hwang.”

“Mau keluar? Bisa saja. Kau lihat pedang yang tertancap di sana?”

Aku melirik arah yang Shenlong tunjukkan. Sebuah pedang panjang tertancap pada kristal. Uniknya, warna kristal itu merah darah, berbeda dari kristal lainnya yang memendarkan cahaya hijau. Hebatnya lagi, perpaduan itu dipersembahkan pada sebuah altar agung. Aku pun cukup terkesima melihatnya.

“Hm,” aku mengangguk, mencoba memahami.

“Tinggal kau cabut saja pedang itu dari sana. Maka pintu utama akan terbuka. Nanti, aku baru akan membawamu keluar.”

“Ah....”

Aku membenturkan tangan pertanda mengerti.

Tanpa pikir panjang, aku berlari cepat. Semakin kudekati, datarannya semakin menjorok ke bawah. Untungnya, terdapat sebuah tangga, aku pun menuruninya dengan hati-hati. Ternyata di sisi ini, selain pedang itu, ada pula kolam yang indah. Airnya jernih, tetapi berasap. Sepertinya itu kolam air panas. Ada pula tanaman merambat yang tumbuh di pojok dinding. Buahnya berwarna putih, mirip anggur, tetapi aku tak yakin. Yah, walaupun tertarik, aku tak ingin membuang waktu bermain di sana. Aku sudah semakin dekat dengan altar.

Sejarak tiga puluhan langkah, diriku mulai berjalan pelan. Kuamati pilar-pilar yang menjulang tinggi mengitari altar itu. Aku terpesona oleh kokohnya pilar. Beberapa kali jariku mencolek halus, dingin rasanya. Tampaknya, pilar ini terbuat dari logam khusus. Buktinya, aku bisa melihat pantulan bayangku, walaupun tak jelas dan tak berbentuk.

Altar itu kupanjat. Anak tangganya perlahan kupijaki. Semakin tinggi, dan semakin tinggi, aku pun sampai di tujuan. Dengan senyum lebar, kepercayaan diriku merambat ke tingkat yang lain.

Hwang, aku pulang!

     ***

Satu kata yang pasti, “aku malu”, ternyata dua kata.

Tidak, belum cukup! Aku belum puas mengekspresikan kekecewaanku.

Aku malu karena lemah.

Aku malu karena terlalu percaya diri.

Dan, aku malu karena telah dibodohi naga itu.

Aku, Shiang Kresna, seorang bocah yang belum genap sepuluh tahun, mempertaruhkan hidupnya dari kejaran bandit, masuk ke Hutan Kabut, terjebak dalam labirin, dan masih dibodohi oleh seekor reptil raksasa. Sungguh, aku benar-benar sial.

“Hahaha ...,” Shenlong, tidak, reptil ini terbahak tanpa henti, “Shiang Kresna, kau memang lucu. Bagaimana bisa seorang anak kecil mencabut pedang itu sendirian?”

Menyebalkan. Jika saja dia bukan monster setinggi lima belas dacksal, aku akan coba memukul wajahnya. Aku memang tak suka kekerasan, hanya saja, aku lebih tak suka diremehkan. Setidaknya, jika itu tidak menghilangkan nyawa seseorang, masih bisa kutoleransi pada beberapa jenis kekerasan.

“Jadi, apa yang harus kulakukan agar bisa mencabut pedang itu?”

“Untuk mencabutnya, ada tiga syarat yang perlu kau penuhi.”

“Lanjutkan,” ucapku.

Shenlong terdiam sejenak, ia menatapku penuh heran. Pasti ia tak habis pikir kenapa aku bisa sesantai itu. Namun, bukannya aku santai, seperti kataku tadi, aku sudah muak dipermainkan.

 Ia mulai berbicara lagi, “pertama, kau harus belajar Teknik Bela Diri Naga dariku. Kedua, panggil aku guru. Dan yang terakhir, jangan pernah kecewakan aku. Bagaimana? Bisa kau penuhi?”

“Baiklah. Walau aku tidak pernah belajar bela diri sebelumnya, tapi syaratmu terdengar mudah.”

“Oh, baguslah kalau begitu. Sekarang kita bisa mula—....” ucapannya terhenti.

Suara benda jatuh. Asalnya dari salah satu lubang labirin. Itu... itu orang jahat yang menculikku. Dia terbaring, tetapi masih sadar. Dilihat dari kondisinya, dia terluka cukup parah. Pasti hal yang sulit juga menimpanya. Namun, bukan itu yang membuatku dan Shenlong terpaku. Orang itu benar-benar gigih. Dengan sisa tenaganya, dia merangkak di tanah, mencoba untuk meraih tempatku berada. Akalnya mungkin sudah hilang. Buktinya, ia tak gentar dengan keberadaan Shenlong yang notabene seekor naga. Atau mungkin ia tak menyadarinya? Yang ia lakukan hanyalah melanturkan nama seseorang.

“Alicia..., Alicia..., Alicia...,” gumam pria ini.

Entah siapa yang dia maksud, yang jelas, aku cukup salut atas keuletannya mengejarku. Memang aneh, tapi aku merasa tekadnya sama kuat dengan tekadku melindungi Hwang. Dia terus mendekatiku, tapi aku tak bergeming. Bukan karena takut, bukan juga berani, yang aku tahu, pria ini tidak akan bisa mencelakaiku sekarang.

Benar saja, dia pingsan sebelum benar-benar menyentuhku.

“Wah, wah, tidak kusangka ada dua manusia yang bisa mencapai tempatku berada. Shiang Kresna, apa kau mengenal orang ini?”

“Sepertinya, dia salah seorang yang mengejarku. Pakaian hitamnya terlihat sama.”

“Jadi, dia orang jahat, ya? Shiang Kresna, apa yang akan kau lakukan padanya? Membunuhnya?”

Aku terdiam. Pertanyaan mudah, tapi sulit untuk menjawabnya. Sebuah tindakan tak beradab yang paling kubenci. Membunuh! Apa itu satu-satunya jalan keluar? Apa dengan begini masalahku akan selesai? Aku tidak yakin. Yang aku tahu, jika diri ini melakukannya, maka percuma saja prinsip keadilan yang telah kutanam bersama Hwang. Dunia di mana yang kuat melindungi yang lemah. Dunia di mana memaafkan lebih mudah dari mendendam.

“Jika aku tidak akan melakukan apa-apa padanya, apa yang akan Kakek-, Guru Shenlong lakukan?”

“Memakannya!”

Haaaa ...! Gila! Jawaban yang tidak kuduga. Ternyata, reptil ini benar-benar berbahaya.

“Me-memakannya?” aku menelan ludah.

“Hahahah...! Sudah kuduga, mengerjaimu sungguh menyenangkan. Tenang, aku tidak suka daging manusia. Jangan takut begitu! Jadi, Shiang Kresna, kau sungguh tak ingin melakukan apa-apa?”

“Huhh... untung hanya bercanda.” Bantinku lega.

Sekali lagi, aku terdiam cukup lama. Berpikir tentang dia, diriku, dan juga Hwang. Namun, lebih banyak tentang Hwang. Bukan tentangnya dalam arti sempit, tetapi tentang masa-masa di mana aku menemukan apa artinya teman, apa artinya mengutarakan pikiran pada orang yang sepadan, dan juga arti dari kehidupan. Terdengar berat untuk anak kecil, tetapi diriku memang aneh, tak bisa bergaul dengan yang sebaya. Pola pikirku sudah tidak manja. Aku tahu konsekuensi dari sebuah tindakan. Ayahku benar-benar tegas mendidikku. Belajar dan belajar, membuat pandanganku terhadap dunia melebar. Namun dari semua itu, mentalku tetaplah bocah. Saat kuhadapi masalah orang dewasa, diriku hanya bersembunyi di balik bayang ayahku.

Hwang... dialah satu-satunya bocah sepantaran yang mengerti aku. Kehidupannya sebagai putra mahkota memaksanya dewasa lebih cepat. Aku kenal dia baru satu tahun, itu pun dengan catatan pertemuan yang bisa dihitung jari. Akan tetapi, diriku sangat terbuka pada Hwang. Selain ayah dan adik kecilku, tak pernah kurasakan perasaan sedekat itu dengan seseorang. Untuknya, mati pun aku sanggup.

Sekarang, aku siap mengambil keputusan...

“Guru, sebagai murid barumu, aku punya sebuah permintaan.”

“Wah, wah, apa itu?”

“Tolong..., tolong selamatkan orang ini seperti Guru menyelamatkanku tadi.” Aku berlutut.

“Hahahaha...! Shiang Kresna, kau benar-benar unik. Membiarkannya sekarat masih bisa kumaklumi. Namun, menolong nyawa orang yang menculik dan mencelakaimu, aku sungguh tidak habis pikir. Kau hanya anak kecil, tetapi sifatmu seperti kesatria sejati.”

Aku menyela omongannya, “Guru, sebenarnya, selama ini aku hanyalah seorang pengecut. Selama ini, aku selalu memendam seluruh perasaanku saat melihat orang lain menderita. Aku terus menganggap diriku belum pantas untuk membela keadilan. Aku tahu, itu semua hanya alasanku untuk melarikan diri. Aku hanya bisa menghujat dalam hati. Bahkan, bicara pun aku masih ragu. Namun, sejak aku bertemu Hwang, anak yang memiliki pemikiran sama sepertiku. Aku mulai sadar bahwa bicara saja tidak cukup untuk mengubah dunia. Yang dibutuhkan adalah tindakan.

Aku ... yang kuinginkan sekarang hanyalah mulai berubah. Jika aku keluar dari sini, aku ingin menemui Hwang. Aku ingin mewujudkan dunia yang kami impikan. Dunia di mana yang lemah melindungi yang kuat. Dunia di mana memaafkan lebih mudah dari pada mendendam. Dunia di mana tidak ada perang, permusuhan, dan pertikaian. Dunia di mana tidak ada diskriminasi. Dunia di mana setiap kehidupan bernilai sama. Aku... aku sungguh ingin mewujudkannya. Hiks ... hiks ...!”

Ah ..., tidak kusangka aku meluapkan perasaanku dan menangis tersedu-sedu di depan seekor naga. Entah ini memalukan atau memilukan, yang jelas, aku lega.

“Hmmm..., Shiang Kresna, mimpimu, tidak, mimpi kalian benar-benar luar biasa. Aku bahkan tidak berani menanggung impian sebesar itu. Baiklah, sebagai murid baruku, akan kukabulkan permintaanmu untuk menyelamatkan orang ini. Sebelum itu, kita lakukan dulu ritual murid dan guru. Bagaimana ya, aku tidak meminta yang terlalu formal. Cukup sujud tiga kali di hadapanku. Yang pertama sebagai rasa terima kasihmu padaku, yang kedua sebagai bukti pada bumi dan langit agar merestui hubungan kita, dan yang ketiga sebagai doa agar impianmu bisa terwujud.”

Aku tersentuh dengan ucapan itu. Air mataku yang sempat surut, kini kembali mengalir. Tanpa pikir panjang, aku mulai sujud di depannya. Melakukan ritual murid dan guru pada umumnya.