Episode 72 - Harkat Wujud


“Aku akan membekalimu dengan salah satu dari Sapta Nirwana, tujuh jurus utama Perguruan Gunung Agung,” ujar Maha Guru Keempat beberapa waktu lalu. Saat itu, Bintang Tenggara sedang berlatih keras untuk memanipulasi kesaktian unsur petir.

“Sapta Nirwana diwariskan turun-temurun di antara para tetua di Perguruan. Keluarga besar Canting Emas, misalnya, mengajarkan salah satu dari Sapta Nirwana ke setiap anak cucu mereka yang memiliki bakat kesaktian unsur api.”

Bintang Tenggara mendengarkan dengan seksama. Ia telah menyadari bahwa jurus kesaktian unsur api Ksatria Agni yang dikuasai oleh Canting Emas bukanlah jurus biasa. Akan tetapi, baru kali ini ia mendengar tentang Sapta Nirwana, dan jurus Ksatria Agni merupakan salah satu darinya.

“Bagimu… aku wariskan Asana Vajra!”

“Olah tubuh… halilintar…,” Bintang Tenggara sekedar menerjemahkan ‘Asana’ dan ‘Vajra’ secara harfiah.

“Janganlah terkesima oleh sekadar jurus,” sergah Maha Guru Keempat menasehati.

“Maksud, Maha Guru…?” Bintang Tenggara belum sepenuhnya menangkap arah pembicaraan sang Maha Guru.

“Harkat suatu jurus kesaktian bukan ditentukan dari penggolongan jurus, atau usia jurus, apalagi dari sebutan jurus…,” Maha Guru Keempat menarik napas panjang.

“Harkat suatu jurus sakti ditentukan oleh tingkat keserasian antara ahli yang merapal, dengan jurus sakti itu sendiri. Bila keserasian keduanya mencapai harkat di atas 80%, maka suatu jurus sakti akan memasuki tingkatan selanjutnya!”

“Keserasian jurus sakti… Harkat…,” Bintang Tenggara berupaya mencerna sebaik mungkin.

“Akan tetapi, keadaan dimana keserasian antara ahli dan jurus saktinya mencapai tingkat di atas 80%, sangatlah langka… Mungkin jumlahnya hanya satu berbanding seribu di antara sekian banyak ahli…”

“Maha Guru Keempat, bagaimana kiranya mencapai tingkat keserasian di atas 80%, dan bagaimana kiranya mengetahui pencapaian tingkat keserasian yang sedemikian tinggi?” Bintang Tenggara sedikit penasaran.

“Untuk mencapai tingkat keserasian di atas 80% mensyaratkan dua hal, yaitu: kerja keras dan keberuntungan,” jawab Maha Guru Keempat ringan. “Sedangkan petanda harkat keserasian jurus yang sedemikian tinggi, adalah ketika suatu jurus sakti memiliki ‘wujud’.”

“Hei, bocah! Kau memanggil anak itu sebagai Maha Guru, sedangkan aku hanya Guru…,” sela Komodo Nagaradja menebar mata hati.

“Hm… apakah Guru Komodo Nagaradja terlupa…?” nada Bintang Tenggara seolah tak percaya akan sesuatu.

“Apa yang terlupakan olehku…?” ujar Komodo Nagaradja sambil berupaya mengingat-ingat.

“Benarkah Guru yang arif nan bijak terlupa?” Bintang Tenggara mengulur-ulur.

“Katakan segera, bocah!” Komodo Nagaradja mulai tak sabar.

“Murid tak percaya bila Guru terlupa… Apakah Guru sedang mengujiku?” nada Bintang Tenggara masih seolah tak hendak percaya.

“Jangan mengulur-ulur…,” Komodo Nagaradja seolah menggeretakkan gigi.

“…”

“Katakan segera!” seru Komodo Nagaradja.

“Hm, sepertinya Guru benar terlupa… bahwa sesungguhnya gelar lengkap Guru adalah… Super Guru!”

“Super Guru…? Benarkah demikian…?” Komodo Nagaradja masih menelusuri ingatannya. Walau, terdengar jelas bahwa ia cukup senang.

“Memanglah demikian adanya…,” ujar Komodo Nagaradja lagi terdengar puas. “Super Guru memang jauh lebih tinggi dari sekedar Maha Guru. Sekarang, jangan kau singkat dengan Guru saja… haruslah lengkap supaya tak ada kesalahpahaman,” mata hati Komodo Nagaradja merasa lebih lega.

“Baik, Super Guru.”


***


Bintang Tenggara, Kuau Kakimerah, Aji Pamungkas dan Panglima Segantang saat ini berdiri tepat di depan salah satu ruangan Balai Pengobatan di Kota Gapura. Wajah keempat anak remaja tersebut kusut.

Hanya selang beberapa saat yang lalu, suatu prahara terjadi ke gelanggang kejuaraan. Pertemuan bentuk ketiga dari dua jurus Ksatria Agni menimbulkan ledakan teramat besar sampai menghancurkan segel pertahanan yang melingkupi panggung bertarung!

Meski demikian, beberapa tetua Perguruan bertindak cepat untuk memasang segel tambahan sehingga ledakan tak mencapai tribun penonton, dan tak ada korban jiwa. Hanya ada tiga atau empat orang Guru Muda di dekat panggung yang menderita luka bakar ringan.

Panggung bertarung yang tadinya setinggi satu meter, telah berubah menjadi kawah dalam yang berbentuk bunga teratai dengan tujuh kelopak. Di bagian pusatnya, Canting Emas berdiri, sebelum akhirnya jatuh tergeletak tak berdaya. Sedangkan lawannya, Rembulan Kaca, telah melompat dari atas panggung sesaat menyadari bahwa Canting Emas kehilangan kendali jurus. Di saat kritis, Rembulan Kaca diselamatkan oleh seorang Maha Guru yang berpostur tinggi.

Secara teknis, Canting Emas memenangkan pertarungan. Namun, ia terpaksa dilarikan ke Balai Pengobatan karena hampir kehabisan tenaga dalam akibat memaksakan penggunaan jurus. Saat ini anak gadis tersebut belum sadarkan diri.

“Krek…,” pintu ruang gawat darurat perlahan terbuka. Seorang perempuan setengah baya keluar dengan raut wajah gelisah.

“Oh…? Kalian masih di sini?” ujar Sesepuh Ketujuh, segera mengganti raut wajah gelisah dengan menyibak senyum ramah.

“Sesepuh, nagaimana keaadaannya?” tanya Kuau Kakimerah cemas.

“Ia baik-baik saja dan telah dipindahkan ke ruang perawatan.”

“Sesepuh, apakah ada cedera jangka panjang?” Bintang Tenggara hendak memastikan.

Sesepuh Ketujuh kembali tersenyum ramah. “Jika yang kau maksud adalah apakah terjadi sesuatu terhadap mustika tenaga dalamnya… maka jawabku adalah tidak. Di saat genting, Canting Emas sempat mengaktifkan Cakra Pranayama dari Zirah Rakshasa . Oleh karena itu, tenaga dalamnya tidak benar-benar terkuras habis,” urai Sesepuh Ketujuh dengan sabar.

“Jadi… Canting Emas baik-baik saja…?” Panglima Segantang ingin memastikan sekali lagi.

“Ia perlu banyak istirahat. Kemungkinan besar memerlukan waktu sebulan untuk pulih benar,” jawab Sesepuh Ketujuh memberi kepastian. “Kalian kembalilah ke gelanggang pertarungan. Bukankah masih tersisa satu pertarungan terakhir?”

“Sesepuh, ijinkan aku tinggal dan menemani,” pinta Kuau Kakimerah.

“Aku juga berkenan menemani,” sambung Aji Pamungkas.

“Ayo kita kembali…,” ujar Bintang Tenggara sambil menarik lengan Aji Pamungkas.

“Tunggu sebentar…, sela Sesepuh Ketujuh. “Bintang Tenggara, ada yang hendak aku sampaikan.”

“Aku dan Aji Pamungkas akan berangkat ke panggung terlebih dahulu,” ujar Panglima Segantang yang kini setengah menyeret Aji Pamungkas.

“Bintang Tenggara…,” ujar Sesepuh Ketujuh setelah mereka ditinggal berdua. “Kuyakin kau telah mengetahui tentang ‘wujud’ dari jurus kesaktian, bukankah demikian?”

“Benar, Sesepuh.”

“Pohon petir milikmu dan padma api milik Canting Emas adalah ‘wujud’ dari jurus kesaktian kalian masing-masing. Apakah kau mengetahui tentang risiko yang mengikutinya?”

“Bilamana jurus mengambil wujud, maka ia akan menguras tenaga dalam dengan jumlah yang sangat besar dalam periode tertentu,” jawab Bintang Tenggara.

“Selain itu…?”

“Jurus kesaktian yang mengambil wujud memiliki kecenderungan tak terkendali,” tambah Bintang Tenggara.

Sebenarnya, inilah alasan mengapa Bintang Tenggara hanya merapal bentuk ketiga dari Asana Vajra, namun tidak mengerahkan jurus unsur petir itu saat menghadapi Gundha. Sejak awal, memang ia tak ada niatan melancarkan jurus tersebut karena memahami risikonya. Yang ia lakukan di atas panggung, sepenuhnya untuk mengelabui Gundha agar menyerah. Jikalau pertarungan dilanjutkan, maka akan berlarut-larut karena Gundha memanglah sangat tangguh.

Singkat kata, saat itu Bintang Tenggara menerapkan satu lagi dari 99 Taktik Tempur versi Komodo Nagaradja, yaitu ‘No. 19: Pamer’. ‘Pamer’ adalah nama taktik, berhasil atau tidaknya memamerkan sesuatu bergantung sepenuhnya pada nasib.

“Sedikit nasehat,” sambung Sesepuh Ketujuh. “Sebaiknya jangan merapal jurus kesaktian yang memiliki wujud sebelum mencapai Kasta Perak. Di Kasta Perak, nanti kau sudah memiliki tenaga dalam yang memadai untuk menopang wujud, serta kemampuan mata hati yang mumpuni untuk mengendalikannya,” tutup Sesepuh Ketujuh.


***


Setelah berbincang-bincang empat mata dengan Sesepuh Ketujuh, Bintang Tenggara bergegas kembali ke gelanggang kejuaraan. Di tengah gelanggang, beberapa orang Guru Muda yang memiliki kesaktian unsur tanah, baru saja membangun panggung yang baru. Kedua matanya pun menangkap Panglima Segantang yang sedang berjalan ke arah panggung.

“Kami memohon maaf pertarungan terpaksa tertunda,” terdengar pengumuman membahana.

“Pertarungan terakhir, memperebutkan gelar juara Blok Panca, Murid Utama Panglima Segantang berhadapan dengan Murid Utama Atyasa!”

Bintang Tenggara memicingkan mata. Ia tak sempat mengamati lawan yang satu ini karena pertarungan mereka berlangsung berbarengan. Yang jelas, tubuhnya tinggi besar menyamai Panglima Segantang.

“Ia adalah ahli yang menekankan pada persilatan… Hampir dipastikan bahwa ia berada pada Kasta Perunggu Tingkat 7,” ujar Aji Pamungkas setengah hati.

“Dari mana kau tahu?” tanya Bintang Tenggara curiga, karena biasanya Aji Pamungkas hanya tertarik pada gadis-gadis saja.

“Ia adalah teman lelaki dari gadis tinggi semampai yang menyerah melawanku… Aku melihat mereka bermesraan,” jawab Aji Pamungkas jengah.

Pertanyaanku… dari mana kau tahu ia menekankan pada persilatan dan tingkatan keahliannya…, keluh Bintang Tenggara dalam hati, sebal mendapat jawaban yang tak nyambung.

Panglima Segantang lalu menancapkan Parang Hitam di sudut panggung. Rupanya ia memahami bahwa lawan merupakan petarung tangan kosong. Dengan demikian, ia hendak mengadu jurus-jurus persilatan tangan kosong pula.

“Srek!” keduanya melompat bersamaan. Belasan pertukaran pukulan membawa mereka dalam kemelut yang seperti tanpa ujung.

“Brak!” Tinju Panglima Segantang mendarat berat di dada Atyasa. Remaja tersebut kemudian terpukul mundur beberapa belas langkah ke belakang.

“Sulih Wujud: Gerakan Raga Bima!” teriak Atyasa merapal jurus silat dengan gerakan tunggal.

Seluruh tubuh Atyasa bergetar. Tulang, otot, daging, sampai pembuluh darah di sekujur tubuhnya mengembang. Dengan kata lain, tubuhnya membesar. Akan tetapi, sepertinya pakaian yang ia kenakan terbuat dari bahan khusus sehingga ikut melar. Kulit di sekujur tubuh Atyasa pun menguat dan berubah warna, menjadi abu-abu.

Akan tetapi, tak hanya sampai di situ. Ekspresi wajah Atyasa lalu berubah sangar. Rambutnya acak-acakan tak menentu. Dan yang paling penting, kapasitas penampungan mustika tenaga dalam pun mengembang. Atyasa lalu segera menelan dua putir pil untuk menambah tenaga dalam!

Panglima Segantang mengernyitkan dahi. Ia pernah menyaksikan jurus ini sebelumnya. Ya, jurus yang sama dengan yang dipergunakan oleh Guru Muda Anjana. Bahkan, saat itu kesaktian unsur gravitasi pun tak terlalu berpengaruh pada jurus ini.

“Pencak Laksamana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti!”

Gerakan Pertama: Tuah Sakti Hamba Negeri dari jurus lisat Pencak Laksamana laut menambah kekuatan dan Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang menambah kecepatan. Sedangkan gerakan ketiga ini, baik kekuatan maupun kecepatan Panglima Segantang berlipat ganda pada saat yang bersamaan!

“Hyat!” Panglima Segantang dan Atyasa merangsek bersamaan!

Puluhan pertukaraan serangan pun terjadi bertalu-talu, berlangsung sampai menimbulkan suara-suara keras yang bertalun. Tanpa disadari, degup jantung penonton pun mulai mengikuti irama hantaman yang berlangsung di atas panggung. *

Dari sudut pandang penonton, bahkan Bintang Tenggara dan Aji Pamungkas, serangan Panglima Segantang lebih cepat dan tepat sasaran. Sedangkan gerakan Atyasa terkesan serampangan. Dari sisi keahlian bertarung, maka dapat dipastikan Panglima Segantang lebih unggul.

Akan tetapi, hanya Panglima Segantang yang menyadari bahwa pukulan-pukulan telak yang ia lesatkan ke tubuh Atyasa, tak satu pun berdampak mendalam. Bahkan, Panglima Segantang merasakan seperti berkali-kali menghantam tebing batu kokoh yang tak hendak bergeming!

“Brak!” Hantaman tinju Atyasa menghantam dada Panglima Segantang! Untunglah, di detik-detik sebelum tinju Atyasa mendarat, naluri Panglima Segantang mengisyaratkan kepada kedua kakinya untuk melompat ke belakang, sehingga hantaman tak mendarat telak. Akan tetapi, sekira limapuluh persen tenaga pukulan yang tersisa tetap membuat darah mengalir dari sisi bibir Panglima Segantang!

Bintang Tenggara tersontak berdiri. Bahkan ia yang berada cukup jauh di tribun khusus juara blok, menyadari betapa besar kekuatan tinju yang hanya bersisa limapuluh persen tenaga tersebut. Ia pun mendapat pemahaman tambahan atas jurus silat Sulih Wujud: Gerakan Raga Bima, bahwa jurus tersebut mengorbankan kecepatan untuk menopang kekuatan yang teramat besar!

Panglima Segantang melirik ke arah Parang Hitam yang sebelumnya ia tancapkan di salah satu sudut gelanggang berlatih. Bila mengkombinasikan jurus silat Pencak Laksamana Laut dengan jurus Parang Naga, maka tentu ia akan memiliki daya dobrak yang lebih besar.

“Hragh!”

Panglima Segantang merangsek menyerang! Harga dirinya menyatakan bahwa jika lawan menggunakan tangan kosong, maka ia pun tak akan menggunakan senjata. Akan tetapi…

“Parang Naga, Gerakan Ketiga: Taring Mencabik Lautan!” teriak Panglima Segantang.

Sekedar mengingatkan, jurus silat Parang Naga, Gerakan Pertama: Cakar Menyayat Rimba membuat bilah Para Hitam melebar dan Gerakan Kedua: Tanduk Menikam Gunung membuat bilah Parang Hitam memanjang. Sedangkan pada gerakan ketiga yang kini dirapal, tentu saja berdampak pada bilah Parang Hitam yang melebar sekaligus memanjang. Akan tetapi, bukankah Panglima Segantang sedang tidak menggenggam Parang Naga!?

Parang Hitam sesungguhnya hanyalah medium, dan medium dapat digantikan. Panglima Segantang yang tak lagi menggenggam senjata besarnya, tapi membuka telapak tangan dan merapatkan jemarinya. Lalu, muncul bayangan ilusi khas tenaga dalam yang seolah menjadikan kedua lengannya sebagai parang. Dengan kata lain, Pangglima Segantang menggantikan Parang Hitam sebagai medium, dan membuat kedua lengannya menjadi medium.

Dengan kombinasi jurus silat Parang Naga yang ditopang jurus silat Pencak Laksamana Laut, Panglima Segantang siap menggempur lawan. Kecepatan dan kekuatan serangannya berlipat ganda. Jangkauannya memanjang dan melebar. Ini adalah keadaan terkuat Panglima Segantang!

“Bum!”

Panglima Segantang menghunuskan kedua lengannya membabat bahu, menebas rusuk, menikam dada. Atyasa tak cukup cepat untuk menghindar. Ia menahan gempuran demi gempuran sebisa mungkin. Raut wajahnya berubah cemberut menahan pilu. Selangkah demi selangkah ia mundur…

“Brak!”

Mengabaikan gempuran di sekujur tubuh, Atyasa menyatukan kedua lengan dan memukul dari arah atas. Panglima Segantang cekatan menghindar kesamping. Lantai panggung yang menerima hantaman kedua lengan Atyasa menghamburkan tanah, menyibak pasir dan mengangkat debu.

Menyadari lawan dalam posisi yang tak seimbang setelah serangannya luput, Panglima Segantang segera menghujam punggung Atyasa. Hantaman yang demikian keras dan telak membuat Atyasa jatuh tersungkur di lantai.

Panglima Segantang lalu mundur beberapa langkah dan mengambil napas. Dadanya naik-turun sangat deras. Meski, ia yakin betul bahwa serangan terakhirnya tadi pastilah menimbulkan luka dalam yang berat. Akan tetapi, batapa terkejutnya ia ketika perlahan-lahan tubuh Atyasa kembali berdiri. Darah terlihat mengalir dari sudut bibirnya.

Sepasang mata garang Atyasa memelototi Panglima Segantang. Andai saja tak mengerahkan Raga Bima, kemungkinan tubuhku akan tercabik-cabut setelah menerima pukulan tadi, pikirnya dalam hati. Sungguh Panglima Segantang ini memiliki kepiawaian silat di atas rata-rata, pikirnya lagi.

Matahari semakin condong ke arah barat. Sebentar lagi hari beranjak petang. Hampir dua ribu pasang mata di tribun penonton masih terus bersemangat mengikuti kelanjutan pertarungan.

Jauh tinggi di udara, ratusan pasang mata lain yang juga sabar menantikan siapa yang pada akhirnya lebih ungul. Di antara mereka, beberapa orang para Maha Guru dan Sesepuh Perguruan mengetahui pasti bahwa Raga Bima yang Atyasa gunakan merupakan satu lagi Sapta Nirwana, tujuh jurus utama perguruan. Dalam dua pertarungan sebelumnya, Asana Vajra dan Ksatria Agni sukses meraih kemenangan.

Atyasa kembali memasang kuda-kuda dan Panglima Segantang menyibak kembangan. Di tengah panggung mereka siap kembali mengadu kekuatan. Meski, mulai terlihat perbedaan yang kentara. Dada Panglima Segantang naik-turun dengan deras, sedangkan napas Atyasa masih ringan seperti sedia kala.

Atyasa lalu melangkah pelan ke arah Panglima Segantang. Perawakannya yang sangar terlihat begitu percaya diri. Di saat jarak memendek, ia pun merangsek cepat sambil melontarkan pukulan.

“Bugh!”

Panglima Segantang menyilangkan dada di depan dada untuk menahan pukulan. Ia pun mundur beberapa langkah. Belum sempat kembali menyibak kembangan, Atyasa tiba-tiba muncul di sini kanan melayangkan pukulan sapuan yang tertahan bahu Panglima Segantang. Kembali Panglima Segantang terdorong.

Bintang Tenggara mengamati kecepatan Atyasa. Apakah remaja tersebut selama ini sengaja menyembunyikan kecepatannya?

“Bak! Buk! Bak! Buk!”

Tak terbilang berapa banyak kepalan tinju setengah siku yang datang bertubi-tubi ke sekujur tubuh Panglima Segantang. Pukulan juga dikombinasikan dengan tinju lurus ke arah wajah. Panglima Segantang kini hanya dapat menahan dengan menekuk lengan melindungi dada, leher dan wajah. Sebisa mungkin ia berupaya untuk terus berkelit dari serangan Atyasa. Bahkan, naluri bertarungnya tak dapat berbuat banyak atas kekuatan yang demikian mendominasi. **

“Bugh!”

Sebuah tinju menohok ke atas menghantam telak ke ulu hati Panglima Segantang. Darah segar melesak keluar dan mulutnya, sebelum roboh di tempat.***

“Panglima!” teriak Bintang Tenggara yang segera tiba di samping panggung pertarungan menggunakan bentuk pertama Asana Vajra. Kilatan petir masih menari-nari di kedua kaki yang dilindungi sisik Raja Naga.

“Panglima Segantang!” teriak Bintang Tenggara lagi. “Bangkit segera!”

Panglima Masih dalam keadaan telungkup di atas panggung. Wasit sudah mulai menghitung.

“Panglima Segantang!” teriak Bintang Tenggara lagi.

Perlahan tubuh Panglima Segantang bergetar. Rupanya kesadarannya belum sirna. Ia pun beranjak bangun, perlahan bertumpu pada satu lutut. Kemudian, tubuhnya sedikit terhuyung sebelum dapat sepenuhnya bangkit berdiri. Wasit menghentikan hitungan.

Atyasa menatap ke arah Panglima Segantang. “Sudah waktunya kau tidur,” ujarnya lirih. Dan ia pun melontarkan satu tinju kait sekuat tenaga tepat ke wajah Panglima Segantang. ****

“Bruk!”

Panglima Segantang pun terlontar empat sampai lima langkah sebelum mendarat dan tergeletak tak berdaya di sudut panggung. Darah mengalir deras dari mulut, hidung dan telinganya.

“Super Guru! Kumohon lakukan sesuatu!” teriak Bintang Tenggara lantang. Mungkin karena panik, ia berteriak seperti biasa tanpa menyibak jalinan mata hati.


Catatan:

*) talu/ta•lu,/ bertalu-talu/ber•ta•lu-ta•lu/ v terus-menerus tiada henti-hentinya; tidak putus-putus; berulang-ulang

    talun/ta•lun/ kl, bertalun/ber•ta•lun/ v bersipongang, bergaung, bergema

**) Tinju setengah siku = jab;   tinju lurus = straight

***) Tinju menohok ke atas = uppercut

****) Tinju kait = hook