Episode 71 - Sapta Nirwana



*

Hamparan bebunga terbentang seluas mata memandang. Semilir angin sejuk bertiup menjadi melodi yang membuat kelopak-kelopak bunga menari-nari. Di atas langit beberapa ekor burung turut berdansa riang. Sungguh alam menyajikan suasana yang menenangkan.

Jika memasuki bentangan bunga dan mendekat, maka akan terlihat setiap jalinan bebunga yang tersusun atas kelopak berwarna putih yang bertekstur lembut. Kelembutan kelopak bunga bahkan dapat disandingkan dengan kelembutan benang-benang wol. Lebih lanjut, kepala bunga berwarna kekuningan, dengan ukuran sebesar kuku jari kelingking orang dewasa. Jumlah kelopak setiap bebunga mungil ini hanya terdiri sekitar lima sampai dengan enam saja.

Bebunga jenis ini hanya tumbuh di dataran tinggi dan sejuk. Malah, hanya tumbuh pada ketinggian di atas 2.000 meter dari permukaan laut. Di seluruh penjuru Negeri Dua Samudera, bebunga ini hanya tumbuh di tujuh gunung. Sementara bebunga yang sedang dibahas kali ini, tumbuh di gunung tertinggi di Pulau Jumawa Selatan

Nama bebunga langka ini adalah Bunga Senduro, atau juga biasa dikenal sebagai Bunga Edelweiss Jumawa. Melewati hamparan bebunga, terlihat sebuah hutan pinus nan lebat. Di balik hutan pinus, terlihat megah puncak sebuah gunung. Gunung tersebutlah yang dikenal dengan nama Gunung Kahyangan Narada.

“Aku memaklumi bahwa kau baru saja kembali…,” terlihat seorang perempuan dewasa yang mempertahankan pesona muda berujar pelan. Ia duduk bersila di pinggiran sebuah telaga yang airnya sangat dingin, sampai-sampai terlihat kabut yang menyibak dari telaga tersebut.

“Akan tetapi, misi kali ini sangatlah mendesak,” sambung perempuan itu pelan. Wajahnya sangat menawan. Namun, di balik wajah muda, sinar matanya mengungkapkan bahwa usianya mungkin sudah ratusan tahun.

“Sejak Maha Guru mengangkat anak yatim dan piatu ini, kemudian membesarkan, dan mengajarkan persilatan dan kesaktian… tak terbilang betapa besar anugerah yang telah murid terima. Murid akan terus berbakti tanpa batas,” terdengar jawaban dari balik kabut di tengah telaga.

Pelan-pelan kabut tebal menyibak ringan. Samar-samar terlihat seorang gadis remaja berdiri mengapung di tengah telaga. Selembar kain selendang melayang ringan mengitari, seperti hendak membalut, tubuhnya.

Andai saja ada seorang lelaki yang menyaksikan pemandangan di tengah telaga, maka ia pasti akan segera melompat untuk segera berenang menuju gadis tersebut. Bahkan lelaki tersebut akan mengabaikan risiko kematian karena berenang di telaga yang teramat dingin. Mengapa? Karena keindahan lekuk tubuh gadis remaja tersebut layak mewakili perwujudan dewi kesuburan.

Meski terlindung kabut dan sebuah selendang melayang mengitari tubuhnya, dapat diketahui dengan pasti bahwa sang dewi kesuburan dalam keadaan tanpa sehelai benang pun. Bentuk payudaranya bulat menyembul sempurna, dengan ukuran di atas rata-rata, serta kelembutan yang mengalahkan pesona Bunga Senduro. Pinggangnya ramping, bertolak belakang dengan pinggul lebar menggairahkan. Bila diperkenan menarikan jemari dari pinggang ke arah pinggul tersebut, pastinya akan menyajikan sensasi syurgawi.

“Embun Kahyangan… sebagai Pewaris Padepokan, dua purnama lagi engkau hendaknya memimpin regu menuju Kota Ahli,” ujar perempuan cantik yang duduk bersila di pinggir telaga. “Sebagai perwakilan Padepokan Kabut, kalian akan mengikuti kejuaraan antar perguruan untuk memenangkan sebuah ‘senjata’ yang kali ini menjadi hadiah utama.”


***


Bintang Tenggara tetiba merasa bahwa ia harus memenangkan pertarungan melawan Gundha bagaimana pun caranya. Entah motivasi yang datang dari mana, semangat bertarungnya berkobar menyala-nyala!

“Hyah!” Bintang Tenggara bergerak cepat. Ia melompat ke kanan dan ke kiri. Menghindari pilar-pilar stalagmit yang merangsek ke arahnya.

Satu lagi kelemahan serangan Gundha… Bahwasanya, pilar-pilar yang mencuat dari tanah selalu berbaris lurus ke depan. Jadi, begitu pilar pertama dan kedua terlihat mencuat, maka arah pilar-pilar batu berikutnya dapat diperkirakan dengan akurat. Hal inilah sesungguhnya yang menjadi alasan utama Gundha selalu berupaya menyelesaikan pertarungannya secepat mungkin.

“Asana Vajra!” gumam Bintang Tenggara, sambil bergerak ringan.

‘Asana’ merupakan tangga ketiga dari Astanga Yoga, yang berarti olah tubuh. Sedangkan ‘Vajra’ berarti halilintar, dan pada saat yang sama Vajra merupakan nama dari senjata yang dimiliki oleh Dewa Indra, sang penguasa petir. Dari ratusan jurus yang ada dalam penerapan kesaktian unsur petir, Maha Guru Keempat merasa bahwa jurus ini adalah yang paling cocok untuk anak didiknya itu.**

Di atas panggung terlihat Bintang Tenggara bergerak pelan di tempat, seolah mengambil posisi layaknya hendak memasang kuda-kuda. Pertama, ia mengangkat kedua tangan ke atas sambil menekuk kedua lutut. Posisi tubuhnya itu persis seperti sedang duduk di kursi dengan menumpukan berat badan pada tumit. Gerakan ini adalah Utkatasana atau ‘pemberani’.

Kemudian, ia melakukan gerakan Virabhadrasana atau ‘prajurit’. Bintang Tenggara membuka lebar kedua kaki, lalu membelokkan sedikit kaki kiri serta memosisikan kaki kanan ke depan. SeteIah menyelaraskan ujung kaki dengan tumit, ia menekuk lutut kaki kanan yang ada di depan dan mendorong kaki kiri ke belakang. Kedua tangannya pun direntangkan ke depan dan belakang sejajar pundak.

Terakhir, Bintang Tenggara menutup dengan postur yang mirip ‘pohon’ atau Vriksasana. Ia berdiri dan bertumpu pada kaki kiri dan menekuk kaki kanan. Telapak kaki kanan kemudian ditempelkan pada paha bagian dalam di kaki kiri. Kedua tangannya diangkat tinggi ke atas, dengan menempelkan telapak tangan ke udara.

Dengan demikian, ketiga gerakan tersebut adalah bentuk-bentuk dari jurus Asana Vajra – Bentuk Pertama: Utkatasana (pemberani), Bentuk Kedua: Virabhadrasana (prajurit), dan Bentuk Ketiga: Vriksasana (pohon). Selama sebulan terakhir, Bintang Tenggara membangun pemahaman, merumuskan penafsiran, lalu meraih pencerahan akan jurus kesaktian unsur petir melalui Asana, atau olah tubuh. Karena belum sepenuhnya terbiasa, maka ia harus membuka jurus dengan tetap melakukan gerakan-gerakan tubuh. **

“Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana!” seru Bintang Tenggara, sambil mengaktifkan Sisik Raja Naga.

“Zzzztt…” kilatan listrik mengalir dari Cincin Gundala ke arah kedua belah kakinya.

Di satu sudut di udara, salah seorang Maha Guru melayang tenang. Postur tubuhnya semampai. Ia turut menonton pertarungan, dan memicingkan mata saat Bintang Tenggara mengaktifkan kesaktian unsur petir. Ia lalu menyilangkan lengan di depan dada.

“Zzzztt…” Bintang Tenggara lalu bergerak cepat ke arah Gundha.

“Tanadewa!” Gundha, yang sedari tadi terpana bersama para penonton menyaksikan gerakan Bintang Tenggara, menjadi waspada. Segera ia mengayunkan pacul dan melesatkan pilar-pilar stalagmit dari bebatuan keras ke arah lawan!

Akan tetapi, sebagaimana diketahui, lintasan pilar-pilar tersebut bergerak lurus ke satu arah. Sebaliknya, langkah Bintang Tenggara yang sangat cepat tidak memiliki lintasan yang teratur layaknya kilatan halilintar. Inilah bentuk pertama dari kesaktian unsur petir yang telah Bintang Tenggara kuasai, yaitu peningkatan gerak dan kecepatan. Ia merangsek semakin mendekati posisi Gundha!

Gundha masih melepaskan beberapa serangan lagi… Akan tetapi, kesemuanya tak dapat mengenai lawan yang gerakannya tak terduga itu.

“Brak!” Sebuah pilar stalagmit kokoh dari batu yang menjulang lebih dari dua meter menghentikan langkah Bintang Tenggara.

“Asana Vajra, Bentuk Kedua: Virabhadrasana!”

“Zzzztt…” Terlihat kilatan listrik menari-nari di kedua lengan Bintang Tenggara, yang kemudian berpusat ke setiap ujung jemarinya. Ia membuka kedua telapak tangan dan menekuk setiap jemari seperti hendak menyakar. Kemudian, ia mencabik pilar stalagmit besar yang melindungi Gundha!

“Beledar!” Petir yang yang keluar dari jemari di kedua lengan Bintang Tenggara merayap ke sekujur pilar stalagmit batu sebelum meledakkan pilar tersebut. Kekuatan yang dihasilkan seolah petir benar-benar menyambar dari atas langit.

Secara prinsip, unsur tanah menetralisir petir. Hal ini terjadi karena unsur tanah dapat menyerap dan membiaskan petir. Akan tetapi, prinsip tersebut hanya berlaku bilamana kedua unsur berada pada tingkatan kekuatan yang setara. Dalam pertarungan ini, terlihat jelas bahwa unsur petir yang dihasilkan oleh Bintang Tenggara berkali lipat lebih perkasa dari unsur tanah yang dimiliki Gundha.

Bintang Tenggara dan Gundha kini berdiri hadap-hadapan. Mereka hanya terpisah beberapa langkah. Tak ada lagi pilar stalagmit batu yang memisahkan keduanya.

“Asana Vajra, Bentuk Ketiga: Vriksasana!”

Aliran listrik terlihat menari tidak hanya di kaki dan lengan, melainkan di sekujur tubuh Bintang Tenggara. Kilatan petir lalu mencuat keluar dari ujung kepala. Aliran listrik tersebut merangkai diri dan terus tumbuh ke atas setinggi hampir tiga meter. Lalu, terlihat dahan-dahan listrik yang kemudian berpencar menjadi ranting-ranting listrik, dan terangkai menjadi… sebuah pohon petir!

Gundha terpana. Spontan ia melompat mundur ke belakang. Ia menyaksikan pemandangan yang tak pernah ia saksikan seumur hidupnya. Begitu megah, sungguh agung. Ia seperti menyaksikan seorang bangsawan yang baru saja turun dari nirwana.

Karena memiliki unsur tanah, maka Gundha juga dapat merasakan bahwa wujud pohon petir dihadapannya belum diaktifkan. Apabila dikerahkan, maka pohon petir itu kemungkinan besar akan menciptakan badai petir. Setidaknya, badai petir tersebut dapat memenuhi penjuru wilayah di atas panggung, memporak-porandakan apa pun yang ada dalam cakupannya!

Rangkaian dari ketiga bentuk jurus unsur petir yang dikerahkan tadi memerlukan waktu yang cukup panjang untuk dilukiskan dalam kata-kata. Pada kenyataannya, kejadian tersebut berlangsung sangat, sangat cepat. Bahkan, ungkapan ‘secepat kilat’ seolah khusus diciptakan bagi seorang ahli yang kini berdiri di tengah panggung.

“Aku menyerah,” seru Gundha tanpa ragu.

Suasana masih hening. Sebagian besar penonton berdiri dan terdiam membisu menyaksikan sebuah pohon petir berdiri gemilang di tengah panggung. Bagi sebagian lagi, mereka seperti lupa cara bernapas. Tak pernah dalam bayangan mimpi sekalipun mereka akan mendapat kesempatan menyaksikan perwujudan dari unsur kesaktian.

“Bintang Tenggara memenangkan pertarungan dan menjadi juara di Blok Tri!” terdengar suara membahana yang disusul oleh gemuruh sorak-sorai para penonton di seluruh penjuru tribun. Bahkan, beberapa orang Guru Muda dan Guru dari Perguruan Gunung Agung turut bersorak kegirangan.


“Inikah tingkatan di Perguruan Gunung Agung…,” gumam Sembalun yang terkesima dari satu sudut panggung.

“Secara umum, memanglah demikian…,” ujar Pringgarata ringan. “Namun, yang baru kita saksikan tadi adalah tingkatan adik Bintang Tenggara,” tutupnya sambil menyibak senyum kekaguman.


“Maha Guru Keempat memanglah jeli…,” ujar Sesepuh Kelima.

“Tak kusangka ia menemukan pewaris yang sepadan untuk mengembangkan salah satu dari Sapta Nirwana, tujuh jurus utama milik Perguruan,” sambung Sesepuh Ketujuh.

Keduanya tak lagi berada di dalam ruangan pemantauan. Sesaat melihat Bintang Tenggara menyibak gerakan-gerakan Asana dari Astanga Yoga, keduanya segera melesat untuk menyaksikan langsung dari satu titik di udara.


“Zzzztt…” aliran listrik mereda dari sekujur tubuh Bintang Tenggara. Jurus Asana Vajra sudah tak lagi dirapal.

“Sejak kapan kau menjadi tukang pamer, hei bocah!?” cibir Komodo Nagaradja.

“Ugh… Super Guru… Rangkaian jurus ini memakan 90 persen tenaga dalam…,” rintih Bintang Tenggara. Rupanya, ini adalah kali pertama ia melancarkan ketiga jurus tersebut secara bersamaan. Dampak hentakan balik jurus pun terasa berat. Seluruh sendi dan otot di sekujur tubuhnya terasa perih.

“Selalu akan ada hentakan balik dari jurus yang digdaya. Semakin sering berlatih, maka hentakan balik semakin dapat dibatasi,” Komodo Nagaradja mengingatkan. “Sungguh jurus yang agung… Kau masih saja beruntung…,” meski demikian, Komodo Nagaradja pun tak menyembunyikan kekagumannya. Khususnya pada kemampuan sang murid yang menguasai jurus hanya dalam rentang waktu sebulan.


“Canting Emas, 14 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 6. Salam hormat kepada kakak sepupu,” ujar Canting Emas sopan. Meski demikian, sebentuk baju Zirah Rakshasa dan sepasang Kandik Agni siap menghadapi lawan.

“Rembulan Kaca, 16 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 7.” Terlihat lawan menggerakkan tangan tanda merapal jurus selayaknya Canting Emas ketika hendak mengenakan baju zirahnya. “Adik Canting, senang dapat berhadapan denganmu,” ujar gadis remaja tersebut sambil menyibak senyum.

“Murid Utama Canting Emas berhadapan dengan Murid Utama Rembulan Kaca dalam penentuan pemenang Blok Catur. Pertarungan dimulai!” suara membahana kembali terdengar. Seperti sebelum-sebelumnya, sorak-sorai dari tribun penonton terdengar ramai.

Bintang Tenggara saat ini sedang merapal jurus Delapan Penjuru Mata Angin untuk menyerap tenaga dalam. Ia sudah berada di tribun khusus para pemenang bersama Kuau Kakimerah dan Aji Pamungkas. Kedua matanya menyaksikan Canting Emas yang telah menggenggam sepasang kapak berukuran sedang, Candik Agni. Lawannya pun mengeluarkan baju zirah yang serupa tapi tak sama dan senjata berupa sepasang parang pendek.

“Zirah Barong, Wedhung Agni!” seru Rembulan Kaca sambil melompat lincah ke arah Canting Emas.

“Trang!” Dalam sekelebat mata, terjadi pertukaran puluhan pukulan yang mempertemukan candik dan wedhung. Keduanya bergerak lincah ke kiri dan ke kanan. Sampai sejauh ini, belum terlihat siapa yang lebih unggul di antara mereka.

“Ksatria Agni, Bentuk Pertama: Dananjaya!” seru Canting Emas melingkupi sekujur kepala kandik dengan nyala api.

Melihat lawannya mulai mengerahkan unsur kesaktian, Rembulan Kaca pun mengambil langkah yang sama, bahkan jurus yang sama. Sepasang wedhung di kedua belah tangannya berkobar. Rakshasa melawan barong. Api melawan api!

Puluhan pertukaran pukulan terjadi kembali. Dan lagi-lagi, belum terlihat siapa yang lebih unggul di antara keduanya.

“Trang!” Sejurus sesudah wedhung bertemu candik, Rembulan Kaca melancarkan sebuah tendangan yang menghantam dada Canting Emas. Meski terkena tendangan, Canting Emas memutar tubuh untuk melesatkan tendangan yang menghantam bahu Rembulan Kaca. Keduanya mundur beberapa langkah.

“Ksatria Agni, Bentuk Kedua: Dhumaketu!” teriak Canting Emas.

Dananjaya pada bentuk pertama merupakan nama lain Dewa Agni yang berarti ‘yang menaklukkan musuh’, sedangkan Dhumaketu juga merupakan nama lain dari dewa api tersebut. Dhumaketu berarti ‘yang bermahkota asap’. Dengan melancarkan bentuk kedua ini, bukan hanya sepasang kandik di kedua tangan Canting Emas yang menyala. Berawal dari kobaran mahkota api di atas kepala, kini sekujur tubuh Canting Emas mengobarkan api berwarna kuning!

Penambahan jurus Canting Emas dijawab oleh Rembulan Kaca dengan jurus yang sama. Dapat dipastikan bahwa Ksatria Agni merupakan jurus yang diturunkan di dalam keluarga besar Canting Emas dan Rembulan Kaca.

Puluhan pertukaran serangan kembali terjadi. Dari tribun penonton, pemandangan di atas panggung terlihat seperti ada dua bola api yang sedang bermain-main. Keduanya bergerak maju dan mundur, ke kiri dan kanan. Kadang bersentuhan, bergesekan, bertabrakan… lalu terpencar, untuk kembali saling beradu lagi.

“Adik Canting Emas… sungguh pesat perkembanganmu,” ujar Rembulan Kaca menyibak senyum. Keduanya memiliki unsur kesaktian yang sama, jurus yang serupa, serta zirah yang senada. Akan tetapi, kepribadian Rembulan Kaca sepertinya ramah dan lembut, bertolak belakang dengan Canting Emas yang garang dan ketus.

“Ksatria Agni, Bentuk Ketiga: Saptajihwa!” teriak Rembulan Kaca. Seketika itu juga api dari tubuh Rembulan Kaca berkobar dan meluas.

‘Saptajihwa’ merupakan satu lagi nama lain dari Dewa Agni. Saptajihwa berarti yang berlidah tujuh. Dan itu pulalah yang terjadi di atas panggung. Rembulan Kaca terlihat mengobarkan jilatan api ke tujuh penjuru wilayah panggung, dan segera akan melahap bola api di depannya.

Wajah Canting Emas terlihat cemberut. Ia belum mampu merapal bentuk ketiga ini. Ia pun tahu persis bahwa bentuk ketiga ini akan berdampak dalam satu wilayah. Apa pun itu yang berada dalam wilayah jurus, maka akan terbakar habis menjadi abu.

Para Guru Muda dan Guru sontak bersiaga. Seluruh penonton berdiri, tak terkecuali Bintang Tenggara. Napas para penonton tertahan, mereka terpesona menyaksikan kobaran api yang demikian digdaya, yang panasnya mulai terasa merambah ke arah tribun. Akan tetapi, beda halnya dengan Bintang Tenggara, ia berdiri karena melihat ada kesamaan jurus tersebut dengan jurus yang ia kerahkan tadi.

Ksatria Agni, Bentuk Ketiga: Saptajihwa dan Asana Vajra, Bentuk Ketiga: Vriksasana… sama-sama menciptakan ruang kehancuran dalam radius tertentu. Dengan kata lain, kedua jurus tersebut memiliki sifat dan potensi yang sama dalam hal membinasakan segala sesuatu dalam jangkauannya.

Canting Emas terdesak. Meski memiliki kesaktian unsur api serta dilindungi oleh baju zirah dan api di sekujur tubuhnya, ia mulai merasakan panas yang selama ini belum pernah ia rasakan. Rasa panas menyesakkan dada, bahkan kesadarannya perlahan memudar. Saat ini, Canting Emas memahami bahwa ia kemungkinan besar tak bisa bertahan lebih lama lagi.

Benak Canting Emas lalu memunculkan bayangan-bayangan… Ada Kuau Kakimerah, Aji Pamungkas, Panglima Segantang, Bintang Tenggara… Masih berupaya keras mempertahankan kesadaran, ia segera menenggak tiga butir pil Cakra Raga.***

Saat ini, Canting Emas mengetahui bahwa ia hanya memiliki dua pilihan, yaitu: melompat keluar dari panggung bertarung, atau…

“Ksatria Agni, Bentuk Ketiga: Saptajihwa!” teriak Canting Emas menggeretakkan gigi.

Canting Emas memilih… dan memaksakan diri untuk merapal jurus yang belum pernah ia lakukan sebelumnya! Seketika itu juga bola api kecil yang nyaris dilahap oleh lidah api… menyala cemerlang!

Semua yang menyaksikan tercengang. Canting Emas yang seharusnya telah dilahap api masih mampu merapal jurus. Tambahan lagi, ada yang berbeda dari bentuk tujuh penjuru api milik Canting Emas… Terlihat samar bahwa api yang mulai menyebar dari tubuhnya berwujud seperti kelopak bunga yang perlahan-lahan mekar…

“Ah! Jurus Ksatria Agni yang memiliki wujud!” Sesepuh Kelima yang masih menonton dan melayang di kejauhan melotot.

“Oh? Mungkinkah seorang lagi murid yang mampu menguasai satu dari Sapta Nirwana?” Sesepuh Ketujuh spontan terbang mendekat ke arah panggung pertarungan. “Sungguh kejadian langka…,” gumamnya perlahan.

Mengabaikan rasa panas yang semakin menjadi, Bintang Tenggara tetiba melenting tinggi ke atas. Berbekal beberapa segel penempatan, kini ia berdiri tinggi di udara. Di saat itu, kedua matanya menyaksikan bahwa api yang mekar dari Canting Emas mirip sekali dengan wujud tujuh kelopak bunga… bunga teratai. Ia pun lalu teringat jelas akan sesuatu…

“Ksatria Padma...,” gumam Bintang Tenggara pelan. ****



Catatan:

*) Ilustrasi gerakan Asana Yoga di atas diambil dari http://www.yogaartandscience.com

**) Asana sebagai tahap ketiga dari Astanga Yoga pernah disinggung oleh Maha Guru Keempat dalam Episode 60.

***) Canting Emas membagi-bagikan pil Cakra Raga kepada teman-temannya dalam Episode 68.

****) Dalam Episode 54, Prasasti Budi Arda mengumumkan Canting Emas sebagai ‘Ksatria Padma’.


Cuap-cuap:

Untuk menemani para ahli baca sekalian, di hari Sabtu telah terbit 'Legenda Pendekar Naga' dan di hari Minggu 'Heterochrome'. Sungguh membebaskan dari Episode Bayangan.