Episode 1 - Hari di mana Hidupku Menyimpang



Beginilah aku, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Aku sudah bosan. Batinku lelah mencari, terutama tentang keadilan. Semua orang sama saja, mereka terlalu cepat mengambil kesimpulan. Mereka selalu menganggap dunia ini hitam dan putih, sehingga mengabaikan celah abu di antaranya. Sungguh, aku tak tahu harus bagaimana. Sekarang, satu-satunya yang bisa kupikirkan adalah membela diri dari orang-orang yang mengincarku.

Ngomong-ngomong soal mengincar, ada tiga wanita yang selalu memburu ke manapun kakiku melangkah. Bukan dalam konteks suka, tetapi tergila-gila. Yah, tergila-gila untuk membunuhku, membalas dendam padaku, dan juga menyengsarakanku. Gabungan ketiganya kujuluki Trio Ratu Edan.

Wanita pertama adalah murid terbaik dari perguruan bela diri ternama. Tempramennya aneh, dan aku sering salah sangka menebak. Namun, dia selalu berpikir bahwa aku lah pembunuh gurunya. Jadi, dialah Ratu Balas Dendam.

Yang kedua merupakan wanita jahat, setidaknya dalam stigma masyarakat. Kendati demikian, dari pada yang pertama, bagiku sifatnya lebih fleksibel. Terkadang bisa diajak kompromi. Terkadang juga bisa diajak kerja sama. Sayangnya, dia terlampau licik. Selalu memanfaatkanku, juga sering membahayakanku. Yah, alasan dia mengincarku sederhana. Uang. Jadi, dialah Ratu Kesengsaraan.

Yang ketiga, sebenarnya aku tak ingin membahasnya. Dia wanita yang paling kutakuti dan merupakan satu-satunya orang yang tak ingin kulawan dalam pertarungan. Orang-orang memujanya sebagai pahlawan, tetapi tidak bagiku. Dia diktaktor kejam tanpa rasa manusiawi. Benar-benar sifat barbar yang paling kubenci. Jadi, dialah Ratu Pembunuh.

Yah, inilah aku. Seorang sarjana gagal yang malah menjadi buronan paling dicari seantero benua, Penjahat Tiga Negara, Shiang Kresna.

Kisah penyimpangan hidupku dimulai jauh sebelum hari ini.


***


Seingatku tadi malam, beberapa jam sebelum kejadian ini, aku masih tertidur pulas. Ah ... padahal jarang-jarang kudapatkan kesempatan langka itu, tidur bersama teman baikku, sang pangeran. Meski ayahku hanya pejabat kelas tiga dalam Kerajaan Yuan, tetapi pangeran tetap memperlakukanku dengan baik. Walau kami hanya bocah yang belum menginjak umur sepuluh tahun, kerap kali aku dan dia berbagi pandangan hidup, terutama masalah falsafah dan hukum, yah, kedua ayah kami sungguh ketat dalam hal ini. Meski begitu, tak jarang ada pertengkaran kecil di antara kami. Hahaha ... kuingat peristiwa di mana aku memukul kepalanya dengan kuas. Nekat memang, padahal hukuman penggal diberikan bagi siapapun yang menyakiti anggota utama keluarga kerajaan.

Lupakan itu semua, sekarang aku sedang menghadapi masalah. Lihat, para bandit itu mengejarku tanpa ampun. Sumpah, kaki ini sudah tak kuasa lagi berlarian. Dahaga ini, rasa lelah ini, aku ingin sekali menceburkan diri ke sungai. Namun, dalam situasi ini, aku juga bersyukur bahwa para penjahat itu salah sangka. Mereka pikir aku adalah pangeran Kerajaan Yuan, Yen Hwang. Biarkanlah diri ini berkorban untuk seorang teman.

Hwang, tolong aku! Aku takut setengah mati.

“Kejar bocah itu! Hiya ... Hiya ...!”

Dentuman telapak kaki kuda dan cambukan pecut beriringan.

“Jangan biarkan pangeran lolos!”

“Sial ... sialan! Mereka benar-benar gigih,” gumamku dalam hati.

Ah ... yang benar saja! Kalian orang dewasa, sedangkan aku anak kecil. Kalian mengendarai kuda, aku hanya bertapak sepatu. Mana mungkin aku bisa kabur?

Napasku sudah tidak karuan. Tidak kusangka, baju bangsawan ini malah menghambat lariku, tetapi tak mungkin juga aku melepasnya sekarang. Sial, tinggal beberapa dacksal lagi mereka bisa menangkapku.

“Tlak!”

Apa? Keterlaluan.... Tuhan, dewa, surga, atau apapun mereka, benar-benar tidak adil. Aku anak kecil yang dikejar orang jahat dan masih harus tersandung batu? Oke lah ini masih malam, bulan pun bukan purnama, tetapi kalau Mereka memang Maha Melihat, setidaknya berilah keberuntungan di setiap langkahku. Namun, apa ini? Lelucon sebelum kematian?

“Gedubuk, gedebuk, gedebuk!”

Sungguh terlalu! Aku masih harus berguling di tebing? Kenapa? Yang jahat mereka, bukan aku.

“Hiiiiiihhhhhkkk!”

Pelana kuda ditarik. Sebuah kejutan yang membuat para kuda meringkih.

“Bos, bagaimana ini? Dia jatuh ke tebing.” Seorang lelaki bermata tajam bertanya.

“Kalian semua, cepat turun dan kejar anak itu! Tebing ini tidak terlalu curam. Kemungkinan besar dia masih hidup.” Yang ini adalah lelaki berjenggot. Pemimpin kawanan bandit.

“Sleeeeerrrkkkk!”

Dari gerak-geriknya, mereka bukan bandit biasa. Buktinya, mereka meluncur di tebing dengan gesit tanpa gerakan ceroboh dan sia-sia. Bela diri mereka pasti di atas rata-rata. Selain itu, orang nekat mana yang berani menculik pangeran dari kamarnya jika tidak benar-benar memiliki kemampuan mumpuni?

“Hah... aku masih hidup?”

Aku mencoba bangun sekuat tenaga.

Tubuhku ringkih, layaknya ranting pohon, “sakit sekali!”

Belum sempat kuberistirahat, suara gemuruh terdengar dari atas tebing. Sudah kuduga, para bandit itu masih belum menyerah. Sontak, kubangkit lagi mencoba kabur. Sempoyongan, aku berjalan lunglai. Kupegang erat tangan kananku, sepertinya patah tulang. Sial, aku benar-benar akan mati hari ini.

Para bandit sudah mencapai dasar tebing. Beberapa dari mereka sudah menyiagakan pedang dan golok. Ada juga yang membawa obor.

“Bos, sepertinya anak itu berjalan ke arah Hutan Kabut.” Orang ini mengamati jejak dedaunan yang kuinjak.

“Dasar bocah tengik!” ujarnya mendengki, “Ritz, Key, Darwn, kalian ikut aku! Sisanya tunggu di sini! Aku akan memberi tanda jika terjadi sesuatu.”

“Siap!”

Di Kerajaan Yuan ini, hanya orang tuli saja yang tidak pernah mendengar legenda Hutan Kabut.

“Siapapun yang masuk ke dalam Hutan Kabut saat musim hujan, maka dia tidak akan keluar sebelum 10 tahun, dan siapapun yang memasukinya saat musim kemarau, maka dia tidak akan keluar sebelum 5 tahun. Sisanya rahasia.”

Jadi, aku tegaskan lagi. Aku anak kecil yang terluka, dikejar para penjahat, terperangkap di Hutan Kabut, dan aku mempertanyakan sesuatu, orang konyol mana yang menyelipkan frasa sisanya rahasia pada akhir legenda ini? Tak ada satupun petunjuk yang bisa kuambil agar dapat menyelamatkan diri.

Oh Tuhan, dewa, surga, takdir mengapa harus Engkau ciptakan musim pancaroba?

Aku masih tertatih melangkah. Tak kuhiraukan mistisnya hutan. Bagiku, para bandit itu lebih menakutkan. “Yang penting lurus”, setidaknya pikiran ini masih bisa membuatku bertahan -walau sesekali aku menyenggol pepohonan. Jika aku benar-benar mati hari ini, maka biarkanlah aku mati karena kelelahan, bukan karena tertangkap para penjahat. Dan jika aku mati pun, mudah-mudahan tubuhku tidak ditemukan. Aku ingin setidaknya membuat mereka berpikir, Pangeran Yen Hwang hilang di Hutan Kabut. Yah, walau pada akhirnya fakta akan terkuak, tetapi kematianku minimal membuat Hwang lebih waspada.

Temanku, teman baikku ... aku rela berkorban demi keselamatanmu. Jika suatu hari kau menjadi raja, maka buatlah dunia impian seperti yang kita bicarakan dulu.

Sementara itu, berbeda dengan keacuhanku, para bandit sangat waspada dalam melangkah. Mereka orang ahli, pasti tahu bahaya apa saja yang ada di sini. Dan aku yakin, bagi mereka keluar dari Hutan Kabut tidak lebih sulit dari pada menculik seorang pangeran dalam kamarnya.

Sisi lain hutan

“Ini sudah hampir dua jam. Bos dan yang lainnya masih belum keluar. Apa yang harus kita lakukan?” ujar seorang bandit yang menunggu kawanannya.

“Jangan bodoh! Bos belum memberi sinyal apapun. Siapa saja yang bertindak sendiri akan mendapatkan hukuman!” balas seorang lainnya. Ia tampak lebih veteran.

 

***


Dua jam rasanya sudah terlewati. Aku sungguh tidak menyangka diri ini masih kuat melangkah. Apa mereka, yang di atas, benar-benar memberiku keajaiban? Padahal tak ada doa yang terpanjat. Yang ada hanyalah mengulang-ulang kata lurus dalam hati sambil terus berjalan. Sungguh, aku juga heran. Kaki ini sudah mati rasa, tetapi otot dan persendiannya masih mengikuti kemauanku.

Kini, dataran tak lagi berisi pepohonan dan kabut. Tampaknya, ini adalah daerah sentral hutan. Kulihat sebuah gunung menjulang tinggi ke atas. Walaupun begitu, ketinggiannya tak lebih dari 600 dacksal, dan ini adalah gunung berapi. Aku bisa merasakan hawa panas di sekitar. Mungkin, kabut-kabut abadi itu terjadi karena perbedaan suhu yang signifikan. Yang jelas, aku semakin mendekati gunung tersebut dan menghampiri sebuah gua di kakinya.

“Itu dia!” Seseorang berteriak. Rupanya para bandit sudah menemukanku.

“Cepat tangkap!” Tiga orang berlari dengan kuda-kuda khusus.

“Lurus... lurus... lurus...,”

Persetan! Kubuang semua pikiranku dan hanya berharap pada kata lurus. Aku pun memasuki gua sebelum mereka mencapaiku.

Set!

Tiga pengejar tadi berhenti. Mereka tampak khawatir akan suatu hal.

“Bagaimana ini? Dia memasuki Labirin Batu Sesat.”

Mereka saling pandang.

Kemudian, ketua mereka menghampiri. Wajahnya terlihat kesal, “GOBLOK! GOBLOK! GOBLOK kalian semua! Menangkap seorang bocah saja kewalahan.” Ia pukuli satu persatu bawahannya.

“Bos, kami pantas mati! Tolong hukum kami!” pinta salah seorang dari mereka.

Semua bawahannya pun berlutut.

“Mati ... ?”-nadanya rendah, tetapi wajahnya tetap seram-“Bajingan! Bajingan! Bajingan! Bajingan!”-ia tendangi orang lancang tadi-“Membunuh kalian sangat mudah. Kalian pikir kematian cukup untuk membayar kegagalan kita? Kalian membuat malu nama Alactrus! Mau ditaruh mana wajahku dalam ‘dunia bawah tanah’ ini? GOBLOK! GOBLOK! GOBLOK!”

Sungguh malang, ada tiga orang bawahan, tetapi yang menjadi bulan-bulanan hanya seorang. Walaupun darah segar mengalir deras dari wajahnya, siksaan tak berhenti. Dua temannya memandang miris, tetapi tak berani menghentikan, pun berkata-kata.

“Ohokh ...!” Ia muntahkan darah. Untungnya, tendangan juga berhenti.

“Key ... kau tidak apa-apa?” Kedua temannya, Ritz dan Darwn, segera memapah.

“Berdiri kalian semua!”

Sontak, Key pun dipapah hingga berdiri. Mulutnya melumerkan darah disertai batuk beberapa kali.

“Key ... aku beri kau satu kesempatan lagi. Kejar anak itu dan berikan padaku!”

“Bos, tapi Key sudah terluka parah, biarkan aku saja!” Ritz memohon.

“Bug!”

Hantaman keras diterima Ritz tepat pada perut. Namun, ia tak goyah. Satu atau dua pukulan bukan masalah bagi fisiknya, asalkan tidak disiksa seperti Key.

“Mau jadi pahlawan? Berani menentang perintah, yah?!”

“Ampun, Bos! Aku pantas mati!” Ritz berlutut, membiarkan Key dipapah Darwn sendirian.

“Berdiri!”-Ritz menatap ragu-“BERDIRI KUBILANG!”

Ritz berdiri.

“Nyalakan suar kuning!”

“Ah ... baik, Bos!”

Ritz mengambil alat yang terbuat dari potongan bambu. Ia tarik tali pendek yang menggantung pada bagian bawah alat itu. Kemudian, sebuah letupan pun muncul dan melesatkan bola cahaya berwarna kuning. Cahaya itu menyebar dan bertahan beberapa detik di langit yang hampir fajar.

Bos kembali menatap Key. Kerutan matanya membuat Key paham maksud tatapan itu. Begitu pula Darwn dan Ritz, mereka menatap Key untuk melihat keputusan yang akan diambilnya.

“Darwn, lepaskan aku,” desah Key lemah.

“Key...,” seru Darwn.

Darwn tentu tak ingin temannya yang terluka mematuhi perintah gila. Itu namanya bunuh diri. Namun, seruannya tak digubris. Key memaksa lepas dari papahan Darwn. Jika ia tak bertindak sekarang, bosnya mungkin akan membunuh mereka semua di tempat.

“Key, kau yakin?” tanya Ritz.

“Tenang, aku masih punya waktu dua jam. Pasti aku bisa menemukan anak itu. Lagi pula, dia hanya seorang bocah.”

“Tapi, tak ada yang pernah keluar dari Labirin Batu Sesat.”

“Aku akan jadi yang pertama.”

Key sempoyongan mendekati mulut gua sembari melambai lemah meninggalkan komplotannya.

Sementara itu di sisi lain...

“Itu suar kuning!”

“Apa Bos mengalami kendala? Lein, bagaimana ini? Kau kan tangan kanan, Bos. Buatlah keputusan!”

Seseorang yang bernama Lein terlihat berpikir. Bagi Alactrus, suar kuning adalah tanda yang menunjukkan kesiagaan untuk mobilisasi dalam jangka waktu tertentu. Kurang lebih dua jam. Namun, dengan diletuskannya suar kuning, berarti ada masalah di tempat tersebut. Hanya saja, peraturan tetaplah peraturan. Jika mereka ingin mengambil langkah lain, maka harus menunggu suar yang berbeda diletuskan.

Lein pun angkat bicara, “kita patuhi peraturan. Jika dua jam sudah terlewati, barulah kita cepat bantu bos dan yang lainnya.”

Beberapa orang tampak kecewa atas keputusan Lein. Setidaknya mereka butuh kejutan, bukan jawaban yang sudah diduga. Namun kembali, peraturan tetaplah peraturan.

“Ritz, Darwn, ayo kembali!”

“Tapi bos, ini baru sepuluh menit sejak Key memasuki gua,” tanggap Ritz.

“Tolol kalian! Sudah jelas Key tidak akan selamat dari sana. Berjalan pun dia sudah kewalahan, apalagi keluar dari labirin? Biarkan mereka berdua mati di sana! Mereka sama-sama orang sekarat.”

“Bos, misi kita kan seharusnya menculik pangeran? Bukankah itu-” Darwn terheran.

“Dengar, Otak Udang! Sebuah informasi tentang pangeran Kerajaan Yuan yang diculik, sudah cukup untuk membuktikan keberhasilan kita. Klien kita memang membutuhkan dia hidup, tetapi nanti akan kujelaskan padanya. Aku akan mencari anak seumurannya untuk berperan sebagai pangeran palsu. Masalah penampilan juga mudah untuk diurus.”

“KALAU BEGITU, KENAPA KAU KORBANKAN KEY?” Amarah Ritz meluap. Ia dan Key sudah berteman baik sejak lama. Lelucon ini pasti membuatnya geram setengah mati.

Tentu, ocehan Ritz membuat bosnya turut naik darah. Mana ada anjing yang mempertanyakan kelakuan majikan? Untungnya, anjing ini tak sendirian,. Ia memiliki anjing lain yang bisa melindunginya.

“Bug!”

Darwn memukul Ritz hingga terpelanting ke tanah.

“Beraninya kau berbicara begitu pada Bos!” seru Darwn.

Ia tarik Ritz yang terkapar sembari mendekatkan kepalanya, “tahan sebentar kawan,” bisik Darwn.

“Bug! Bug! Bug!”

Penyiksaan yang brutal terjadi. Ini semua untuk mengelabui bos mereka. Jika Darwn tak melakukannya, maka Ritz pasti akan dibunuh. Ritz pun tidak melawan. Ia tahu bahwa Darwn menghindari daerah vital.

“Cukup, Darwn!” seru Bosnya.

Darwn mengusap keringat yang bercucuran.

“Ritz, jika kau tak ingin berakhir seperti Key, maka jangan pernah lakukan itu lagi! Mengerti?”

“Me ... mengerti, Bos,” Ritz yang lemah mencoba bangkit.

Bosnya langsung melangkah pergi. Sementara itu, Darwn yang merasa bersalah, membantu Ritz berjalan. Mereka kembali ke komplotan utama.


***


“Lurus... lurus... lurus....” Aku tetap berusaha menjaga kesadaranku.

Rasa-rasanya, seseorang masih membuntutiku entah di mana. Aku memang tahu mengenai Hutan Kabut, tetapi tak pernah mendengar tentang labirin. Di sini minim penerangan, kecuali dari lumut-lumut cahaya. Yah, organisme khusus yang hanya akan tumbuh di tempat lembab dan gelap. Kurasa aku pernah membaca tentang siklus sporofitnya, tetapi otakku sedang tidak bisa mengingat hal kompleks. Cukup satu kata saja yang harus kuingat sekarang, LURUS.


[Key]

Key merupakan orang yang cukup keras kepala. Dia tahu bahwa bosnya selalu ingin menyingkirkannya sejak dulu. Bodohnya, dia tetap saja patuh pada perintahnya. Kompleksitas hubungan mereka dimulai sekitar 4 tahun lalu. Saat itu, Alactrus mendapatkan pekerjaan untuk membunuh tuan tanah bermarga Fraud. Fraud dan orang-orangnya sedang melakukan perjalanan untuk berniaga, tetapi sayang, karavan mereka diserang oleh bandit gunung. Sementara itu, kelompok Alactrus datang terlambat. Hampir semua orang telah dihabisi oleh kawanan bandit gunung, menyisakan satu saja, putri tunggal keluarga Fraud.

Tak ingin kehilangan muka, Bos Alactrus memerintahkan untuk membantai semua bandit tadi. Setelah semuanya dihabisi, Key menemukan putri Fraud bersembunyi di dalam peti pakaian. Dia memohon kepada bosnya agar tidak membunuh orang yang bukan dalam prioritas misi. Bosnya tentu tak setuju, hanya saja Key mati-matian melindungi wanita itu dari kebiadaban. Berkat aksi heroik ini, teman-temannya merasa iba dan mendukung keputusan Key. Alhasil, suara mayoritas tak bisa dibendung oleh Bos Alactrus.

Awalnya, hubungan Key dan putri keluarga Fraud terbilang buruk. Key sungguh jujur saat menjelaskan situasi yang terjadi tanpa ada yang ditutupi. Sehingga, dilema pun menghinggapi wanita ini. Namun, kejujuran dan keberanian Key membuatnya takjub. Dia akhirnya bisa menemukan alasan untuk mencintai Key. “Walaupun Key awalnya ingin membunuh papah, tetapi bukan dia yang membunuh. Malah, dia berhasil melindungiku serta membalaskan dendam papah. Aku memutuskan untuk bersandar pada lelaki ini. Dia orang yang konsekuen.”

Selang beberapa bulan, Key pun menikahi wanita itu. Saat pernikahan diadakan, semua temannya hadir, termasuk bosnya. Ada pula tamu yang lebih penting, yaitu Ketua Pusat Alactrus, Roy Delsembey. Sebuah kejutan, anggota rendahan sepertinya mendapatkan kehormatan untuk direstui oleh bos dari bosnya. Namun, hal ini layaknya pedang bermata dua. Bos dari Key merasa iri dan entah kenapa mulai melirik istrinya. Suatu malam, bosnya mabuk serta gejolak seksualnya meningkat. Tiba-tiba, ia menerobos masuk rumah Key untuk memperkosa istrinya. Beruntung, Key yang siaga segera menghadang. Mereka terlibat pertarungan sengit hingga Key mengancam, “jika kau berani menyentuh istriku, akan kulaporkan hal ini pada Ketua Delsembey!”

Sontak, nama Delsembey cukup untuk membuat bosnya kabur. Keesokan harinya, bosnya bertingkah bodoh seolah tak ingat apapun. Key pun memaklumi dan tak ingin mengungkit masalah itu.

Maka dari itu, saat ini, motivasi Key sudah lebih dari cukup untuk menculik pangeran Yen Hwang agar bisa bertemu kembali dengan istrinya.

“Aku harus... ohok...,” Key memuntahkan darah segar dan tertunduk lemas, “dasar tua bangka! Dia melukaiku dengan tenaga dalam,” umpatnya.

Key merogoh dalam baju hitamnya. Mengambil dua buah pil berbeda warna. Yang merah adalah racun pelemah otak, dan yang coklat adalah racun pelemah saraf. Lalu, sebuah senjata tajam kecil yang biasa ia gunakan untuk serangan kejutan, kini ia pakai untuk membelah pil-pil itu menjadi setengah bagian. Salah satu dari kedua belahan itu disatukan. Membuat kontras dua warna. Key pun langsung menelan pil gabungan yang ia racik.

Belum berapa lama, tiba-tiba saja ia memotong nadi tangan kirinya. Darah segar muncrat keluar, tetapi ia langsung hisap darah itu layaknya bayi menghisap susu. Dua racun mematikan ini jika digabungkan dan digunakan dalam dosis tertentu bisa berubah menjadi zat anestesi. Namun, untuk dapat bereaksi, dibutuhkan pelarut dalam kadar yang cukup. Jika tidak, efek racun malah akan menguat. Intinya, dia bertaruh pada hal ini.

Dirasa sudah cukup, Key merobek kain untuk membalut lukanya. Ia juga segera mengambil posisi semadi untuk menekan efek racun sekaligus mengeluarkan tenaga dalam bosnya dari tubuh. Luka luar dan luka dalam memang beda penanganan.

“Bwah...!” Key hembuskan nafas untuk mengeluarkan aliran panas dari chi orang lain.

Merasa sudah baikkan, ia kembali berdiri untuk mengejar pangeran, tetapi ....

“Grrrrg .... !”

Bergetar. Labirin ini serasa bergoyang tidak karuan. Tembok-temboknya semakin bergerak dinamis tanpa kepastian. Persimpangan labirin mulai mengacak jalurnya. Di depan Key tadinya hanya ada dua lubang, sekarang berubah menjadi tiga, bahkan empat jika lubang yang atas dihitung.

“Sialan ...!” umpatnya.

Pijakan Key juga ikut bergerak ke sisi berlawanan. Ia intip celah yang mulai melebar. Lahar. Cairan berwarna merah sekaligus panas bisa terlihat. Mungkin jaraknya sekitar 20 dacksal dari tempat Key, tetapi panasnya sudah terasa di kulit. Key cepat mengambil tindakan. Ia berlari dari satu sisi, lalu meloncat ke atas dan bergelantungan di mulut salah satu lubang. Awalnya ia gunakan dua tangan, tetapi luka sayat memaksanya menanggalkan yang kiri.

Perjuangan hidup dan matinya dimulai sekarang.


[Aku]

“Lurus ... lurus ... lurus ....” Aku hampir hilang kesadaran. Semua organku mati rasa, kecuali otak. Tidak juga sih, mungkin dalam konotasi lain, hatiku masih berfungsi. Namun, dalam hitungan menit dari sekarang, rasanya hidupku akan berakhir.

“Grrrrgggg...!”

“Bug!”

Aku terjatuh. Apa ini halusinasi? Tempat ini seperti bergerak. Ah, pandanganku mulai kabur. Selamat tinggal kehidupan, selamat datang kematian!

Tunggu dulu! Terlau cepat untuk mengucapkan perpisahan.

Tubuh pingsanku terombang-ambing dalam labirin. Layaknya ombak, aku hanya mengikuti arus tembok dan lantai. Entah akan terdampar di mana, aku hanya bisa pasrah. Tiba-tiba saja, sepetak lantai di mana tubuhku terbaring, terdorong ke bawah membentuk bidang miring cukup curam. Aku pun meluncur bebas.

“Bug!”

Aku sudah mencapai hilir lubang ini yang ternyata tak jauh dari hulunya. Lalu, tembok di kiriku bergerak dan mendorongku dari samping. Tubuhku tergesek di lantai, pasti lecet sana-sini. Pakaianku juga sobek. Padahal, jarang-jarang aku memakai pakaian bangsawan, kecuali saat bertamu ke istana. Diriku yang malang.

Tembok itu kian mendorongku mendekati lubang lainnya. Namun, lubang yang ini bercahaya.

Aku terjun bebas di udara.

Cahaya merah. Ruangan pengap dan panas. Jurang lava. Tidak, bukan hanya pemandangan itu.

“Ceglek! Ceglek! Ceglek!”

Belasan, tidak, puluhan tiang besar bergerak naik-turun. Aku terselamatkan dari lalapan lava berkat ini, tetapi tubuhku terpelanting ke sana ke mari. Aku berpindah dari satu tiang ke tiang lain. Untung saja aku sudah pingsan, jika tidak, jantungku bisa copot melihat pemandangan gila ini. Walaupun puluhan tiang kebetulan membantu, sayangnya bukan hal mustahil aku masih terjatuh dalam kubangan api cair. Pergerakan masing-masing tiang tak tentu, mekanismenya sulit ditebak. Ting-tiang tersebut memiliki luas permukaan puncak yang cukup sebagai pijakan –layaknya nampan datar, tetapi terdapat celah yang cukup pula untuk meloloskan tiga orang dewasa sekaligus.

Ah ... lagi-lagi aku pasrah.

Aku seperti seonggok sampah di tengah badai. Tubuhku ditimpali hantaman keras. Tulangku remuk. Kalau pun tidak mati di sini, aku hanya akan sekarat menunggu ajal. Namun, entah sejak kapan, aku sudah hampir sampai di sisi lain jurang, sayangnya ....

“Wuinggg...!”

 Tinggal dua dacksal lagi mencapai ujung, aku terjatuh ke bawah. Semakin dekat dan dekat tubuhku terpanggang, tidak, meleleh maksudku.

 Atau seharusnya begitu ...

 “Ceglek!”

 Sebuah tiang ternyata sedang berada di titik terendahnya. Aku yang terjun bebas, dan tiang itu yang mulai merangkak naik pun saling hantam. Aku terhempas ke atas sampai tiang itu mencapai titik tertingginya. Gaya lanjutan membuatku tetap melakukan gerakan ke atas, sementara tiang itu kembali turun. Dan untungnya, Tuhan, takdir, dewa, keberuntungan, atau apapun sebutannya, masih memihakku. Diriku terdampar di sisi lain jurang, tepatnya di atas sebuah lantai batu yang memiliki gambar lingkaran sihir. Entah apa maknanya, tetapi saat darahku menciprat, lingkaran sihir itu mulai bercahaya diikuti suara pergesaran batu seperti labirin tadi.

“Wusshh...!”

 Angin dalam jumlah besar berhembus menghampiriku, tepatnya masuk ke dalam lorong di depanku. Saking besarnya, tubuhku sampai terbawa. Malangya diri ini. Tadi labirin, lalu tiang, sekarang angin? Keadaan sungguh mempermainkanku.

 Berguling.

 Aku lagi-lagi harus berguling di tanah. Namun, artinya aku sudah sampai di ujung lorong.

Sebuah ruangan. Bercahaya redup. Hijau. Lembab. Lima sampai delapan kali lebih besar dari jurang lava tadi. Mungkin, tekanan udara di sini lebih rendah, makanya aku bisa terbawa masuk oleh angin.

Suara pergeseran batu lagi. Ternyata jalur masukku tertutup. Jadi, aku akan mati terisolasi? Harapanku benar-benar dikabulkan. Tampaknya aku beruntung. Terimakasih Tuhan, dewa, surga, atau apapun Engkau.

Yah, sayangnya kutarik kembali ucapanku.

Geraman sesosok mahkluk dalam kegelapan adalah penyebabnya.

MATA YANG BESAR!