Episode 70 - Gundha


Setiap Blok kini telah mendapatkan dua murid terbaiknya. Mereka akan menjalani pertarungan terakhir untuk memperoleh satu tiket sebagai perwakilan Perguruan Gunung Agung. Kuau Kakimerah merupakan salah satu finalis di Blok Eka, begitu pula Aji Pamungkas di Blok Dwi, Bintang Tenggara di Blok Tri, Canting Emas di Blok Catur, serta Panglima Segantang di Blok Panca.

Panas matahari menyengat terik. Suasana terasa semakin panas akibat teriakan-teriakan penonton yang mendukung murid tertentu. Meski demikian, tak ada petanda akan munculnya gesekan antar para suporter.

Banyak titik-titik hitam terlihat melayang tinggi di udara. Sebagian dari mereka adalah murid-murid perguruan yang berada pada Kasta Perak. Di antara mereka, ada yang menonton sendiri, ada pula yang berada dalam gerombolan. Semakin jauh, beberapa guru pun juga terlihat menonton.

Pertarungan final akan berlangsung satu per satu, tidak lagi berbarengan seperti halnya pertarungan terdahulu. Sesuai urutan, maka penentuan juara masing-masing blok akan dimulai dari Blok Eka, dan diakhiri dengan Blok Panca. Kini, di tengah-tengah hanya ada satu panggung yang lebih luas dan lebih tinggi.

Seluruh peserta tidak diperkenankan meninggalkan wilayah dimana kejuaraan berlangsung. Kelima sekawan sedang berkumpul di tribun khusus peserta di dekat panggung. Bintang Tenggara telah menyempatkan waktu untuk mengamati pertarungan-pertarungan lain, dan memahami secara garis besar peta kekuatan lawan masing-masing. Meski demikian, ia hanya diam.

“Kuau Kakimerah, Murid Madya!” terdengar suara membahana. Tak kalah membahana, adalah teriakan para pendukung yang selama dua hari ini terus mengikuti pertarungan-pertarungan gadis mungil tersebut.

“Berhadapan dengan Kadasa, Murid Utama!” lanjut suara tersebut memperkenalkan seorang gadis remaja berusia sekitar 16 tahun.

Keduanya saling berhadapan. Kuau Kakimerah sudah merasakan bahwa lawannya memiliki kesaktian unsur angin. Jadi, ia menantikan bagaimana Kadasa menerjemahkan unsur angin ke dalam serangan, apakah menciptakan badai atau bergerak cepat.

“Swush!” Kadasa seolah menghilang dari hadapan lawannya. Rupanya gerakan tubuh nan cepat melesat ke arah Kuau Kakimerah. Kadasa menyerang deras sambil menghunuskan sepasang belati pendek di kedua belah tangan.

“Srek!” Jalinan rotan berduri sebesar tiga jemari tangan mengelilingi tubuh Kuau Kakimerah dalam radius setengah meter.

Kadasa segera menghunuskan belatinya untuk menebas jalinan rotan berduri. Meski gerakan kedua tangan yang menghunuskan belati bergerak cepat, ia hanya mampu menebas beberapa bilah rotan berduri. Kadasa lalu mundur ke belakang, karena walau rotan berduri berhasil ditebas, akan ada rotan pengganti yang tumbuh menggantikan.

“Belati Bayu Biru…,” gumam Kadasa melancarkan jurus kesaktian unsur angin dimana kedua bilah belatinya berubah menjadi berwarna biru. Ia kembali merangsek menyerang.

Kuau Kakimerah merasakan ancaman nyata dari hadapan. Ia pun menggandakan jalinan rotan berduri untuk bertahan dari tebasan deras. Akan tetapi, upaya tersebut hanya dapat menahan agar Kadasa tak bergerak terlalu dekat, karena akibat unsur angin yang melingkupi bilah belati, maka mata belati menjadi berkali-kali lipat lebih tajam. Dengan jurus sakti unsur angin Belati Bayu Biru, membabat rotan semudah memotong tahu mentah menggunakan pisau silet!

Kuau Kakimerah tak kehabisan akal. Ia melecutkan jalinan rotan berduri ke arah Kadasa. Akan tetapi, belati-belati di genggaman kedua tangan Kadasa bergerak sangat tajam memangkas jalinan rotan.

“Hmph!” Kadasa menghentakkan napas lalu bilah belati yang tadinya hanya sejengkal, memanjang menjadi sepanjang dua jengkal.

Perubahan ini mirip dengan jurus Parang Naga, Gerakan Kedua: Tanduk Menikam Gunung. Bedanya, pada jurus Parang Naga, parang besar milik Panglima Segantang memanjang karena diimbuh tenaga dalam. Sedangkan dalam jurus milik Kadasa ini, belati memanjang karena tenaga dalam dan kesaktian unsur angin. Dengan demikian, keampuhan jurus Belati Bayu Biru dua kali lebih unggul dari jurus Parang Naga!

Kuau Kakimerah melompat mundur ke belakang. Sekujur lengannya tersayat-sayat kesaktian unsur angin. Untungnya, unsur angin hanyalah mengiris kulit luar. Akan tetapi, rasa perih yang ia rasakan sungguh tak terperi.

Kadasa segera menyusul Kuau Kakimerah! Ia tak hendak memberikan ruang gerak kepada lawan. Kembali Kuau Kakimerah menumbuhkan rotan dari permukaan panggung. Namun, kali ini jalinan rotan berduri tidaklah melindungi tubuhnya, melainkan menjerat lawan.

Merasa bahwa gerakannya akan terhenti, bahkan tubuhnya kemungkinan akan terjerat rotan, Kadasa berputar cepat. Jalinan rotan yang merambat tak bisa berbuat banyak ketika dibabat habis oleh kedua bilah belati unsur angin. Akan tetapi, Kuau Kakimerah mendapat kesempatan untuk terus mundur dan menjaga jarak.

Kadasa tersenyum kecut. Perkiraannya, melawan kesaktian unsur kayu adalah perkara mudah. Berbekal kecepatan dan ketajaman unsur angin, menurut hitung-hitungan di atas kertas, maka unsur kayu bukanlah lawan yang setara. Gadis remaja tersebut tak menyangka bahwa lawannya memberikan perlawanan yang cukup berarti.

“Siamang Semenanjung!” seru Kuau Kakimerah.

Siamang bertubuh besar dan berbulu lebat tersebut lalu berdiri memayungi tubuh. Meski Kuau Kakimerah tak memiliki kemampuan mata hati untuk memerintah binatang siluman tersebut, setidaknya naluri bertahan Siamang Semenanjung akan membuat Kadasa sulit menyerang. Pada akhirnya, Kuau Kakimerah berencana membuat pertarungan akhir ini menjadi pertarungan daya tahan.

“Ck…,” Kadasa hanya dapat mendecakkan lidah ketika menyaksikan kehadiran Siamang Semenanjung. Ia pun segera dapat membaca rencana lawan untuk menunda-nunda pertarungan.

“Swush!” Kadasa melompat menyerang!

Siamang Semenajung mengayunkan lengannya untuk menghantam lawan namun hanya menerpa angin. Kadasa bergerak gesit menghindar ke kiri dan ke kanan lalu merangsek cepat ketika memperoleh celah dari serangan siamang untuk langsung menebas Kuau Kakimerah.

“Rotan Bunian: Bebat…,” ujar Kuau Kakimerah.

Kadasa membabat habis setiap jalinan rotan yang berupaya menjerat tubuhnya. Akan tetapi, kali ini jalinan rotan tumbuh tak henti-henti. Kadasa berputar di tempat dan berniat menebas setiap jalinan rotan yang mengarah ke dirinya. Ia berpikiran bahwa pasti ada batas dari rotan yang tumbuh. Terlebih, ada jurang pemisah sebesar dua peringkat kasta antara dirinya dan Kuau Kakimerah. Kasta Perunggu Tingkat 6 melawan Kasta Perunggu Tingkat 4, tentu saja Kadasa memiliki lebih banyak cadangan tenaga dalam.

Rotan terus tumbuh dan Kadasa terus menebas. Kadasa pun semakin mendekati posisi Kuau Kakimerah yang kini berdiri di salah satu sudut panggung.

“Srek!” Kadasa yang masuk ke dalam ruang pertahanan Siamang Semenanjung dengan gesitnya menghindar tamparan ke samping. Spontan, ia bergerak ke arah kanan dimana jalinan rotan paling tipis.

“Buk! Buk! Buk! Buk!” Kuau Kakimerah menghantam ulu hati Kadasa bertubi-tubi. Rupanya, ia sengaja mempertipis jalinan rotan dengan tujuan memancing pergerakan lawan. Sebuah serangan balik yang apik!

Penempatan. Secara naluriah, Kuau Kakimerah melancarkan penempatan. Ia sudah banyak kali melihat latih tarung Bintang Tenggara dan Canting Emas, sampai-sampai secara tak sengaja ia menyerap gaya bertarung ala Bintang Tenggara.

“Kuau Kakimerah memenangkan pertarungan dan menjadi juara di Blok Eka!” terdengar suara membahana yang disambut oleh tepuk tangan riuh rendah dari penonton yang menyaksikan.

Bintang Tenggara mengamati Kuau Kakimerah yang menuruni panggung dan sedang diarahkan menuju tribun khusus bagi para juara. Sungguh ia tak menyangka bahwa justru Kuau Kakimerah yang pertama memperoleh tiket menuju kejuaraan antar perguruan. Ia pun kagum bahwa gadis bertubuh mungil tersebut mampu melancarkan penempatan. Namun, yang lebih menarik perhatiannya adalah luka di sekujur lengan Kuau Kakimerah telah sembuh, yang tersisa hanyalah sedikit bekas-bekas darah yang tadinya mengalir dari luka.

“Penentuan juara Blok Dwi…,” kembali terdengar suara membahana. “Murid Madya Aji Pamungkas berhadapan dengan Murid Utama Drawana!

Dua orang anak remaja lelaki kemudian naik ke atas panggung pertarungan. Tampang Aji Pamungkas terlihat mencibir ketika memandang seorang remaja tinggi dan tampan di hadapannya. Muak sekali sepertinya ia.

“Aku telah menyaksikan pertarunganmu yang tak beradab,” cemooh Drawana ke arah lawan. “Ijinkan aku memberi hukuman atas tindakanmu yang suka melecehkan kaum perempuan.”

Aji Pamungkas hanya menjawab dengan senyuman kecut. Tak ada yang menarik baginya dalam pertarungan ini. Menghadapi seorang remaja lelaki sama saja dengan mengotori tubuhku, mungkin demikian pikirnya dalam hati. Lagipula, ia tak merasa pernah melecehkan siapa pun. Baginya, mengambil kesempatan dalam pertarungan adalah lumrah adanya. Semua ahli mencari kesempatan untuk menang, apa salahnya dengan sedikit bersenang-senang? Malah, diperlukan teknik tingkat tinggi untuk menghadapi lawan perempuan tanpa mencederai mereka, demikian prinsipnya.

“Cetas!” Drawana melecutkan cambuk air ke arah Aji Pamungkas. Meski jarak mereka setidaknya terpisah sekitar sepuluh meter, cambuk air tersebut dapat menjangkau dengan cepat, tepat dan kuat. Bahkan ubin dipermukaan panggung yang terkena hantaman cambuk tersebut pecah berhamburan!

Aji Pamungkas, tentu saja, telah berkelit dengan gesit. Ia lalu mengeluarkan Busur Mahligai Rama-Shinta dan membalas dengan melepaskan beberapa anak panah secara beruntun. Meski demikian, setiap anak panahnya tertahan oleh gumpalan-gumpalan air yang mengapung di sekeliling tubuh Drawana.

Drawana, yang memiliki kesaktian unsur air, dapat menyerang dari jarak jauh menggunakan cambuk air, dan bertahan menggunakan gumpalan-gumpalan air. Aji Pamungkas semakin gusar. Taktik yang ia terapkan hanyalah berlari-lari mengitari lawan sambil terus-menerus melepaskan anak panah guna mencari celah pada pertahanan Drawana.

“Sebaiknya kau menyerah dan bertobat atas kesalahan-kesalahan yang telah kau perbuat,” ujar Drawana. Ia terlihat sebagai individu yang penuh dengan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Aji Pamungkas terlihat semakin muak.

“Cetas!” Hampir saja cambuk air milik Drawana melecut ke tubuh Aji Pamungkas.

Aji Pamungkas terus melompat dan berlari menjaga jarak dari Drawana. Ia pun terus menghujani lawan dengan lesatan-lesatan anak panah. Meski, tak satu pun anak panah dapat menembus pertahanan air milik Drawana. Anehnya, setiap gerakan dalam memanah yang ia lakukan dibuat-buat agar kelihatan elegan. Kadang ia memanah dengan berdiri sambil menekuk lutut, sambil melompat, berputar, berbalik arah, bahkan memindahkan busur ke tangan kanan… Kini, bahkan ia terlihat memanah sambil mengibaskan rambutnya yang belah tengah. Setiap gerakan memanah ibarat pose seorang model lukisan.

“Cih! Sampai kapan dia mau bermain-main!?” seru Canting Emas tak sabar.

“Ia menunggu waktu yang paling tepat,” ujar Panglima Segantang ringan.

Bintang Tenggara yang menyaksikan pertarungan dari pinggir lapangan pun penasaran. Aji Pamungkas seharusnya dapat menembus pertahanan air lawan dengan jurus sakti unsur angin. Dari gelagat dan pose-posenya, Bintang Tenggara lalu berkesimpulan bahwa Aji Pamungkas ingin menebar pesona seluas mungkin, agar ia menjadi sumber kekaguman banyak gadis-gadis. Pertarungan seperti apa ini? Bintang Tenggara semakin tak habis pikir.

“Heh! Berapa banyak anak panah yang kau miliki di dalam Batu Biduri Dimensi itu?” ujar Drawana meremehkan. Ia menyembunyikan fakta bahwa tak satu pun lecutan cambuknya menggores tubuh lawan

Aji Pamungkas masih saja mengitari sambil berpose dan memanah. Posenya semakin aneh-aneh. Ia memanah dari kolong selangkangan, sambil bersalto, sambil berjingkrak, bahkan kini terlihat ia mencoba menarik dawai busur menggunakan giginya. Sebentar lagi, kesan elegan akan berubah menjadi mirip orang kerasukan.

“Panah Asmara, Bentuk Kedua: Cinta Segitiga!” teriaknya sekuat tenaga agar terdengar sampai barisan paling belakang tribun penonton. Lalu, tiga bilah anak panah yang diimbuh kesaktian unsur angin melesat dan menembus pertahanan air. Satu anak panah menggores bahu kanan lawan. Satu lagi menggores leher sisi kiri, dan satunya lagi menggores pipi kanan. Sungguh tingkat akurasi tiada banding!

“Brak!” ketiga anak panah menancap bersamaan di lantai panggung di belakang tubuh Drawana. Drawanan terpaku di tempat. Di hadapannya, Aji Pamungkas berdiri menyamping, dengan memegang busur dan membidikkan anak panahnya. Sungguh sempurna pose yang ia kerahkan!

“Simpan ceramah sok sucimu untuk orang lain…,” ujar Aji Pamungkas sambil mengibaskan rambutnya yang belah tengah itu.

Drawana sadar bahwa bila Aji Pamungkas sengaja tidak menghabisinya. Ia juga sadar bahwa bila lawannya itu mengulang jurus yang sama, maka berakhir sudah pertempuran ini. Drawana hanya terdiam.

“Hei, wasit!” sergah Aji Pamungkas. “Apa kau hendak membiarkan aku menghabisinya?”

“Aji Pamungkas memenangkan pertarungan dan menjadi juara di Blok Dwi!” terdengar suara membahana yang kemudian disambut oleh tepuk tangan riuh rendah dari penonton yang menyaksikan.

“Selanjutnya… penentuan juara Blok Tri!” suara membahana kembali terdengar. “Murid Purwa Bintang Tenggara berhadapan dengan Murid Utama Gundha!”

Gundha… Bintang Tenggara mengamati anak remaja lelaki sepantaran yang berdiri tegap di sisi tribun peserta. Ia mengingat bahwa lawannya itu berada pada urutan teratas saat ujian masuk perguruan. Ia pun menyadari bahwa Gundha berada dalam satu kelompok yang sama dengan Kum Kecho.

Keduanya naik ke atas panggung secara bersamaan. Bintang Tenggara lalu melihat Gundha mengeluarkan sebuah senjata pusaka yang menyibak aura Kasta Perak. Akan tetapi, ketika dilihat lebih seksama, senjata tersebut sesungguhnya adalah… pacul! Ya, pacul atau cangkul. Alat sederhana yang biasa digunakan untuk membajak sawah atau menggali sumur.

“Tanadewa!” tetiba Gundha berteriak kencang sambil bergerak memacul panggung yang terbuat dari tanah dan dilapisi ubin. Seketika itu juga tanah panggung mencuatkan pilar-pilar batu berbagai ukuran, dengan tinggi maksimal sekitar satu meter. Bentuk pilar-pilar batu tersebut mirip dengan stalagmit yang biasanya mencuat dari dasar gua. Pilar-pilar stalagmit lalu merangsek deras layaknya taring-taring naga!

Bintang Tenggara sempat menyaksikan beberapa pertarungan Gundha. Kesemuanya diakhiri dengan cepat melalui serangan pembuka, yang sekaligus berfungsi sebagai serangan penutup. Dengan kata lain, Gundha hanya mengerahkan satu serangan kesaktian unsur tanah, untuk menerkam lawan-lawannya. Dengan kesaktian unsur tanah yang sedemikian apik, maka wajar bila ia dapat mengalahkan banyak Dwarapala saat ujian masuk tahap kedua.

Seluruh tanah di wilayah panggung bergemuruh deras. Serangkaian pilar lalu mengarah ke Bintang Tenggara. Menyaksikan ancaman di depan mata, ia pun melenting ke atas. Dengan bermodalkan beberapa segel penempatan, Bintang Tenggara kemudian melampaui serangan kesaktian unsur tanah tersebut, lalu mendarat tepat di hadapan Gundha.

“Brug” Tiga tinju beruntun Bintang Tenggara dihadang oleh sebuah pilar batu tunggal nan kokoh setinggi hampir dua meter. Baru Bintang Tenggara hendak memutar dan menyerang, bebatuan di kiri dan kanan tubuhnya mencuat deras hendak menghantam sekaligus menjepit tubuh!

Sigap, Bintang Tenggara melompat mundur. Akan tetapi, tubuhnya tertahan satu lagi pilar tunggal. Sudut matanya menangkap Gundha mengayunkan pacul yang menyebabkan pilar-pilar batu mencuat dan merangsek menyerang. Terdesak. Satu-satunya arah menghindar adalah ke arah atas!

“Plop!” Silek Linsang Halimun, Bentuk Pertama: Terhimpit di Atas, Terkurung di Luar! Di saat genting, Bintang Tenggara memutuskan untuk bersembunyi di balik baying-bayang pilar.

Sesuai dengan pengamatanku atas beberapa pertarungan sebelumnya, pikir Bintang Tenggara dalam hati. Bila banyak ahli dengan kesaktian unsur tanah memfokuskan diri pada pertahanan, maka Gundha adalah sebaliknya. Pilar-pilar stalagmit yang mencuat dari tanah itu memiliki kemampuan menyerang tingkat tinggi!

Gunda menarik kembali jurus kesaktiannya. Tanpa bayangan pilar, jurus kesaktian yang memiliki tujuan utama untuk menyembunyikan diri, dengan sendirinya batal. Bintang Tenggara dan Gunda kembali berhadapan di atas panggung yang mulai tak jelas lagi bentuknya.

Keduanya masih diam saling berhadapan. Para penonton pun menahan napas, menantikan atraksi seperti apa yang akan menjadi lanjutan pertarungan kedua anak remaja di atas panggung.

Bintang Tenggara menyadari bahwa Gundha memiliki pertahanan yang tak mudah ditembus. Pilar-pilar stalagmit tunggal itu dapat mencuat cepat dari tanah di sekitar tubuhnya untuk dijadikan tameng kokoh. Menggunakan tempuling tak akan berdampak banyak, melancarkan Tinju Super Sakti terlalu menarik perhatian. Satu-satunya cara paling efektif adalah memanfaatkan kesaktian unsur petir, akan tetapi…

“Brak!” serangkaian pilar stalagmit menyerbu ke arahnya berdiri, memecah lamunan Bintang Tenggara. Ia lalu melompat cepat, dan berkat Segel Penempatan, melenting tinggi ke arah samping demi terus menjaga jarak. Rangkaian pilar stalagmit keras kembali menyerbu, dan seperti sebelumnya, Bintang Tenggara melompat untuk menjaga jarak.

“Swush!” tetiba sebongkah batu sebesar seekor kambing melesat cepat mengincar Bintang Tenggara yang sedang berada di udara. Segera ia menebar sejumlah Segel Penempatan untuk berpindah-pindah arah di udara. Terdapat lebih dari satu bongkah batu keras yang perlu dihindari.

Bila diperhatikan dengan seksama, maka Gundha menggunakan kesaktiannya untuk memadatkan tanah dan mengubah massanya menjadi batu. Lalu, ia membuat bebatuan berbaris menyerang lawan, atau menjadi pilar tunggal untuk menahan serangan. Tambahan lagi, kini Gundha mendorong bebatuan menggunakan pilar yang mencuat cepat dari permukaan tanah.

Bongkahan batu yang berhasil dihindari terus melayang ke arah tribun penonton. Akan tetapi, bebatuan tertahan oleh formasi segel yang membentengi tribun. Dalam menyelenggarakan kejuaraan antar para ahli, tentu saja panitia telah menyiapkan upaya perlindungan yang matang.

Kembali Bintang Tenggara mendarat ringan di ujung panggung. Kedua matanya tak lepas memantau gerak-gerik lawan. Pilar keras untuk bertahan, pilar yang berbaris menyerang, dan pilar yang medorong bongkahan batu besar sebagai serangan jarak jauh. Sungguh komplit variasi jurus milik Gundha, Murid Utama, Putra Perguruan Gunung Agung.

Akan tetapi, Bintang Tenggara pun menangkap sebuah kelemahan. Gundha sepertinya tak memiliki kemampuan persilatan. Selama pertarungan, dia hanya diam di tempat, dan sepenuhnya merapal kesaktian unsur tanah dengan mengayunkan paculnya. Andai saja aku bisa melewati dan masuk ke dalam wilayah pertahanan Gundha, pikirnya dalam hati sambil menyusun rencana.