Episode 69 - Seruan dari sisi panggung


Masing-masing dari mereka telah mengantongi satu kemenangan di Putaran Akhir.

Dengan jumlah peserta Putaran Akhir sebanyak delapan orang, maka dalam sistem gugur ini mereka harus bertarung sebanyak tiga kali sebelum akhirnya menjuarai Blok. Jadi, tersisa dua pertarungan lagi yang masih harus dijalani.

Di Blok Catur, Canting Emas kembali menaiki panggung untuk menghadapi lawan kedua.

“Canting Emas, Murid Utama, 14 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 6.” Sebentuk baju Zirah Rakshasa dan sepasang Kandik Agni siap menghadapi lawan.

“Balangnipa, Murid Utama, 15 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 7,” jawab remaja lelaki yang menjadi lawan Canting Emas berikutnya. Ia lalu menyibak kuda-kuda.

“Hyat!” Canting Emas melompat cepat ke arah lawan dan dengan lincah menebaskan sepasang Kandik Agni. Lawan yang tak bersenjata hanya dapat berkelit dan menghindar. Meskipun demikian, kecepatan Balangnipa tak kalah gesit dibandingkan Canting Emas.

“Badai Brubu!” tetiba Balangnipa mengerahkan kesaktian unsur angin. Canting Emas segera terdorong ke belakang. Kecepatan angin tak berkurang barang sedikit pun, bahkan makin lama makin deras. Canting Emas terus terdorong sampai ke ujung panggung!

“Brak!” Canting Emas menghantamkan Kandik Agni ke lantai panggung! Sepasang kapak tersebut kini berfungsi sebagai jangkar yang menambat di dasar panggung. Akan tetapi, badai angin masih saja bertiup deras, tak ada tanda-tanda bahwa badai tersebut akan berhenti dalam waktu dekat.

Bintang Tenggara memerhatikan Balangnipa yang membuka telapak tangan dan terus mengerahkan kesaktian unsur angin. Cara ia mengerahkan kesaktian sangat berbeda dengan Ammandar Wewang yang meniup deras dari mulut. Meski demikian, badai tetaplah badai. Ia memiliki kekuatan besar dalam menyapu apa pun yang berada dalam lintasannya.

Balangnipa menyadari bahwa dalam hal persilatan dan kesaktian, ia bukanlah lawan yang seimbang bagi Canting Emas. Oleh karena itu, Balangnipa berpikir sederhana saja. Ia mengerahkan seluruh tenaga dalam dari Kasta Perunggu Tingkat 7 untuk mendorong lawan keluar dari panggung. Berhasil atau tidaknya taktik tersebut, ia berserah kepada nasib.

Canting Emas tak memperkirakan bahwa akan ada lawan yang akan mempergunakan taktik sedemikian sederhana. Yang ia sadari adalah bahwa bila badai tak kunjung reda, maka bukan tak mungkin baginya untuk benar-benar terlontar keluar panggung. Canting Emas bagai telur di ujung tanduk.

“Kawanmu itu harus belajar bahwa selalu ada langit di atas langit…,” gumam Komodo Nagaradja.

“Guru, apakah tak ada yang dapat dilakukan melawan dorongan angin yang demikian deras?”

“Heh… mengapa belakangan ini otakmu semakin tumpul…?” cibir Komodo Nagaradja. “Apa unsur kesaktian kawanmu itu? Apa kaitan antara unsur kesaktian mereka?”

“Hm…?” Bintang Tenggara berpikir sejenak. “Canting Emas! Ledakkan diri!” kemudian ia berteriak sekuat tenaga dari sisi panggung.

Canting Emas masih merunduk dan menahan agar genggaman jemarinya tak terlepas dari Kandik Agni, dan pada saat yang bersamaan memastikan bahwa Kandik Agni tak tercabut dari lantai panggung. Sayup-sayup ia mendengar teriakan Bintang Tenggara.

Di saat genting, Canting Emas lalu mengalirkan seluruh tenaga dalamnya untuk menciptakan kobaran api. Tidak hanya dari Candik Agni, bahkan tubuhnya mengobarkan api berwarna kuning. Api memerlukan angin untuk menyala. Seketika itu juga api yang menyelimuti tubuh Canting Emas membesar tak terkendali!

Seluruh panggung kini dipenuhi kobaran api. Udara panas bahkan mulai terasa sampai ke tribun penonton.

“Swush!” tetiba beberapa orang guru yang mengamati pertarungan dari sisi panggung bergerak serempak. Mereka membangun formasi segel yang mengelilingi panggung bertarung Blok Catur agar kobaran api tidak menjalar keluar dan membahayakan peserta di panggung lain atau bahkan penonton di tribun.

Api terus menjalar lurus ke atas, mengkonsumsi sebanyak mungkin udara agar terus dapat berkobar. Setelah beberapa lama, kobaran api pun perlahan-lahan mereda dan menyibak Canting Emas yang berdiri dengan napas terengah-engah. Tak terlihat lawannya di atas panggung.

Balangnipa rupanya telah terlebih dahulu melompat keluar dari atas panggung ketika merasakan kobaran api akan membesar. Ia sudah menyadari bahwa taktik yang ia kerahkan memiliki risiko menyulut kobaran api yang sangat besar. Akan tetapi, baginya hanya taktik tersebut yang dapat membuka peluang untuk mengalahkan Canting Emas. Setidaknya ia telah berupaya semaksimal mungkin, walau pun pada akhirnya harus menerima kekalahan.

“Terima kasih,” ujar Canting Emas saat berpapasan dengan Bintang Tenggara. Kelihatan tenaga dalamnya banyak terkuras. Ia perlu beristirahat dan menyerap tenaga alam.

Dari arah yang sama, dari Blok Panca, terlihat Panglima Segantang berdiri tegar di tengah panggung. Wajahnya sangatlah kusut. Rupanya lawan yang seharusnya ia hadapi, meski memperoleh kemenangan dalam pertarungan sebelumnya, terluka cukup berat. Dengan demikian, lawan tersebut tak dapat melanjutkan pertarungan untuk berhadapan dengan Panglima Segantang.

“Panglima Segantang, turunlah segera!” seru Bintang Tenggara dari sisi panggung. Panglima Segantang masih tak bergeming.

“Apa yang kau sedihkan…?” keluh Bintang Tenggara setelah akhirnya Panglima Segantang diusir dari atas panggung oleh seorang wasit. Sungguh ia iri dengan Panglima Segantang yang melenggang tanpa harus menjalani pertarungan. Dengan dua kemenangan yang telah diraih, Canting Emas dan Panglima Segantang tinggal menunggu pertarungan terakhir.

Peserta yang paling menonjol dalam kejuaraan kali ini justru bertubuh mungil. Salah satu penyebab ia tampil menonjol, tak lain karena banyak lawan yang meremehkan kemampuan dirinya. Bahkan, sebagian besar penonton pun awalnya mengira bahwa gadis mungil tersebut akan tersingkir di Babak Penyisihan. Namun demikian, Kuau Kakimerah terlihat telah bersiap di atas panggung.

“50 keping perak… 1 keping emas…,” masih saja ia menggumamkan kata-kata tersebut.

“Namaku Ramaprasad,” ujar seorang remaja lelaki berwajah tampan menyapa terlebih dahulu. “Usia 16 tahun, Murid Utama, Kasta Perunggu Tingkat 7.”

“Kuau Kakimerah, 13 tahun, Murid Madya, Kasta Perunggu Tingkat 4,” balas Kuau Kakimerah memperkenalkan diri.

Lawan segera memasang kuda-kuda. Ramaprasad lalu mengambil inisiatif menyerang. Sepertinya, ia tak hendak meremehkan lawan walau bertubuh mungil, lebih muda, dan memiliki peringkat keahlian lebih rendah.

Gerakan Ramaprasad cukup lincah, namun Kuau Kakimerah masih dapat berkelit menghindar ke kiri dan kanan. Beberapa kali pula Kuau Kakimerah mencoba menyarangkan serangan balik, yang dapat ditangkis lawan dengan mudahnya.

“Srek!” tetiba bahu Kuau Kakimerah terluka dan berdarah. Terlihat segaris sayatan yang untungnya tak terlalu dalam, hanya menggores kulit. Sejak awal Kuau Kakimerah telah menyadari bahwa lawan memiliki kesaktian unsur logam. Oleh karena itu, Kuau Kakimerah secara sadar pula selalu menjaga jarak aman dari Ramaprasad.

Dari sisi luar lengan Ramaprasad terlihat keluar sebilah besi nan tajam, mirip sebuah pedang yang melengkung. Panjang bilah besi tersebut hampir sama panjang dengan lengannya sendiri. Jadinya, Ramaprasad adalah ahli silat dengan kesaktian unsur logam!

Ahli silat dengan kesaktian unsur logam selalu ditakuti karena banyak dari mereka dapat mengeluarkan senjata tajam dari bagian tubuh tertentu. Kuau Kakimerah semakin waspada. Dengan bilah nan tajam itu di sisi luar kedua lengan, menggunakan rotan bukanlah pilihan terbaik.

Ramaprasad kembali menyerang. Kuau Kakimerah kini hanya dapat menghindar ke kiri, kanan dan belakang. Karena kecepatan Ramaprasad, ruang geraknya semakin lama semakin sempit. Yang lebih memberatkan lagi, pasti dan berkesinambungan, gerakan-gerakan Ramaprasad tumbuh semakin cepat!

“Lawannya berat,” ujar Panglima Segantang menghela napas panjang.

“Ia sampai ke tahap ini pun, sudah di luar perkiraanku…,” gumam Canting sambil mencoba menerima kemungkinan Kuau Kakimerah akan kalah.

“Panggil Siamang Semenanjung!” teriak Bintang Tenggara dari sisi panggung.

Kuau Kakimerah segera melompat ke belakang menghindar ayunan lengan yang memiliki sebilah pedang tajam tersebut. Menyadari teriakan yang datang dari Bintang Tenggara, ia pun meraih selembar Kartu Satwa dari dalam tas selempang lusuh.

“Siamang Semenanjung!” teriak Kuau Kakimerah mengibaskan selembar Kartu Satwa. Seketika itu juga gerbang dimensi berpendar dari Kartu Satwa dimana seekor binatang siluman tinggi besar dan berambut hitam lebat hadir. Ia berdiri persis di belakang dan memayungi tubuh Kuau Kakimerah.

Ramaprasad dan seluruh hadirin yang menonton dari tribun terkejut. Apakah Kuau Kakimerah memiliki keterampilan khusus pawang binatang siluman serta kesaktian unsur kayu? demikian benak mereka bertanya-tanya. Bila iya, maka sungguh digdaya gadis mungil dengan kaki kanan berwarna merah itu…

Tentu saja, jawabannya adalah tidak. Kartu Satwa memang biasanya hanya dapat dipersiapkan oleh seseorang yang memiliki keterampilan khusus sebagai pawang. Namun, Kartu Satwa biasa pula diperjualbelikan dengan memindahkan kepemilikan, atau disewakan dengan cara menetapkan kepemilikan bersama. Hal terakhir inilah yang sesungguhnya terjadi.

“Trang!” lengan Siamang Semenanjung yang panjang menangkis tebasan lawan. Ramaprasad bahkan mundur dua tiga langkah karena kekuatan lengan kera tersebut. Ia juga menyadari bahwa di balik rambut lebat pada lengan binantang siluman tersebut, tersembunyi bilah-bilah besi.

“Rotan Bunian, Bebat,” gumam Kuau Kakimerah pelan.

Rotan-rotan berduri segera mengikat kedua kaki Ramaprasad. Ia pun segera menebas jalinan rotan tersebut, lalu melompat mundur. Jalinan rotan mengejarnya untuk kembali mengikat. Berkali-kali pula Ramaprasad menebas jalinan rotan tersebut.

Ramaprasad mulai kehabisan akal… Dalam hati, ia menyadari bahwa bilamana terjerat rotan, maka nantinya akan menjadi sasaran empuk hantaman lengan Siamang Semenanjung. Ia tak mengetahui bahwa Kuau Kakimerah hanya mampu mengeluarkan binatang siluman tersebut. Siamang Semenanjung tidak dapat diperintah layaknya seorang pawang dalam pertarungan. Sedangkan gerakan Siamang Semenanjung, hanyalah merupakan naluri melindungi semata.

“Aku menyerah… Kuakui kelebihan adik Kuau Kakimerah,” ungkapnya ringan. Ia pun memberi hormat kepada wasit, sebelum turun dari panggung.

Di saat yang sama, Aji Pamungkas juga menuruni panggung Blok Dwi. Wajahnya sama kusut dengan Panglima Segantang, bahkan mungkin sedikit lebih kusut. Lawannya, seorang gadis remaja berparas cantik dan berpostur tubuh semampai, memutuskan untuk menyerah daripada bergumul di atas pangung dan menjadi korban jurus benjang Beulut Darat!

Hari pun beranjak siang. Matahari sebentar lagi bersinar tepat di atas kepala. Kejuaraan Internal Perguruan Gunung Agung berlangsung ramai dan seru. Hanya Blok Tri yang belum menentukan siapa peserta yang akan menjadi dua besar di Putaran Akhir ini.

Sebagaimana diketahui, di Blok Eka Kuau Kakimerah melaju setelah mengalahkan sesama murid dengan kesaktian unsur kayu. Kemudian, ia baru saja ia mengalahkan seorang murid dengan kesaktian unsur logam.

Di Blok Dwi, pada pertarungan pertama, Aji Pamungkas dengan jujur mengalahkan seorang murid persilatan dengan menerapkan teknik benjang, atau apa pun itu jurus rahasia yang bisa mengeras. Pertarungan kedua, ia kurang beruntung. Lawannya, seorang gadis cantik bertubuh semampai enggan berhadapan dengan jurus Belut Darat dan memilih menyerah.

Canting Emas, yang berada di Blok Catur, berhadapan dengan seorang murid silat. Kemudian, ia berhadapan juga dengan seorang murid yang memanfaatkan kesaktian unsur angin. Kedua pertarungan berhasil dilalui dengan kemenangan.

Panglima Segantang merasa kurang beruntung. Di Blok Panca, lawan pertamanya hari ini adalah seseorang yang memiliki keahlian unsur tanah, namun dapat mudah dikalahkan menggunakan persilatan saja. Lawan kedua menderita cedera cukup dalam meski memenangkan pertarungan sebelumnya, sehingga tak dapat meneruskan pertarungan. Panglima Segantang pun memenangkan pertarungan kedua tanpa harus bertarung.

Di Blok Tri, Bintang Tenggara terlihat sedang bersiap di atas panggung. Lawannya adalah seorang gadis remaja yang terlihat seperti beberapa tahun lebih tua. Kali ini, Bintang Tenggara telah meluangkan waktu untuk mengamati pertarungan lawan sebelumnya.

“Salam kenal. Namaku Gayatri. Usia 16 tahun, Murid Utama, Kasta Perunggu Tingkat 7.”

Setelah memperkenalkan diri, Bintang Tenggara lalu menunggu lawan untuk mulai bergerak.

“Elang Laut Dada Merah!” seru Gayatri sambil mengeluarkan binatang siluman tersebut dari Kartu Satwa.

Bintang Tenggara sudah menyadari sejak awal siapa lawannya… Seorang pawang siluman yang memiliki binatang siluman yang bisa menyerang dari udara. Pertarungan kali ini akan merepotkan, keluhnya dalam hati.

Elang Laut Dada Merah yang berukuran mirip seekor sapi itu terbang tinggi di udara. Setelah beberapa kali berputar, ia lalu menukik deras ke arah Bintang Tenggara!

“Swush!” Bintang Tenggara menghindar dari sepasang cakar tajam milik Elang Laut Dada Merah.

“Tring!” Sepasang Sisik Raja Naga di lengan menepis sebilah belati terbang yang di arahkan ke tubuhnya di saat berhasil menghindar dari cakar sang elang. Benar, Gayatri memerintahkan binatang silumannya untuk menyerang. Bila lawan menghindar, maka ia sudah memperkirakan langkah mundur lawan dan melempar sebilah belati. Sungguh taktik bertarung yang sangkul dan mangkus.

Bintang Tenggara kini menjaga jarak aman dari jangkauan belati terbang. Meski demikian, Elang Laut Dada Merah menyerang dari arah belakang. Sehingga ia terpaksa berkelit ke samping, tetap waspada dari kehadiran belati terbang yang melayang mengincar tubuhnya.

Setiap kali setelah menukik, Elang Laut Dada Merah terbang berputar-putar tinggi di udara. Ia menunggu saat yang tepat untuk kembali menukik dan melesatkan sepasang cakar. Dengan kombinasi serangan tersebut, Bintang Tenggara harus memerhatikan lawan di atas dan di depan. Ia pun segera menyibak kembangan, agar dapat bergerak secara berkesinambungan. Ia berharap agar sang elang kesulitan dalam mengincar lawan.

Namun, pemikiran Bintang Tenggara itu adalah teori belaka. Elang Laut Dada Merah terbiasa dalam mengincar mangsa yang bergerak cepat sekali pun. Kembali sang elang menukik tajam ia kini mengincar dari sisi samping kanan. Sudut mata Bintang Tenggara pun mendapati Gayatri telah menyiapkan sebilah belati yang siap dilemparkan.

“Swush!” Cakar Elang Laut Dada Merah mencabik bayangan Bintang Tenggara.

Silek Linsang Halimun, Bentuk Kedua: Tegang Mengalun Kendor Berdenting!

Berkat jurus tersebut, Bintang Tenggara menghindari cakar elang dan belati terbang di saat yang bersamaan. Di saat yang bersamaan pula, ia merangsek menyerang Gayatri. Berdasarkan pengamatannya, sang elang memerlukan beberapa saat setelah menukik untuk kembali mengudara dan bersiap untuk menukik kembali.

“Hop!” Gayatri melompat ke atas elang yang setelah menukik, terbang memutar ke arah tuannya. Kini, Gayatri ikut mengudara di atas Elang Laut Dada Merah!

Keadaan ini membuat Bintang Tenggara benar-benar merasa terancam. Perkiraannya, di saat sang elang menukik nanti, Gayatri akan melemparkan belati terlebih dahulu untuk menutup ruang gerak!

Mengapa hanya aku yang mendapatkan lawan berat…? keluh Bintang Tenggara dalam hati. Ingin rasanya ia menyerah saja daripada menjadi mangsa elang. Akan tetapi, bukan hanya hukuman perguruan yang berat, ia juga harus menjaga nama baik Maha Guru Keempat. Jadi kemenangan adalah mutlak harus diraih.

Andai saja dirinya dapat mengerahkan maha jurus Tinju Super Sakti, maka Bintang Tenggara percaya bahwa ia dapat dengan mudah melumpuhkan sang elang. Namun, sebagaimana diketahui, maha jurus tersebut terlalu menarik perhatian.

Elang Laut Dada Merah menukik bersama dengan tuannya. Sesuai perkiraan, Gayatri telah menyiapkan belati untuk dilemparkan.

“Srek!” Tetiba sang elang terlihat seolah kehilangan keseimbangan! Bintang Tenggara telah melempar empat segel penempatan di lintasan menukik burung raksasa tersebut. Meski tak mungkin menjatuhkan sang elang, Segel Penempatan dapat dengan mudah menciptakan peluang beberapa detik bagi Bintang Tenggara melompat ke atas satu Segel Penempatan di arah lain, lalu melenting cepat ke atas tubuh binatang siluman yang sedang menukik tersebut!

Gayatri terkejut bukan kepalang! Ia sudah sering berlatih bersama binatang siluman miliknya itu. Bersama-sama mereka mengulang-ulang skenario menyerang dan bertahan. Berkat ketinggian dan kecepatan terbang sang elang, ia tak pernah berpikiran akan ada lawan yang cukup waras untuk melompat dan menumpang bersama-sama di atas pundak elang.

Ketinggian Elang Laut Dada Merah kini hanya sekitar delapan meter di atas panggung. Mendapati ada beban tambahan, secara naluri sang elang langsung memutar tubuh. Bintang Tenggara dan Gayatri bersama-sama terlontar dari tubuh sang elang!

Bintang Tenggara mendarat ringan memanfaatkan Segel Penempatan, bak menuruni anak tangga. Gayatri terlontar sedikit di luar panggung, namun Elang Laut Dada Merah memutar arah dengan cepat dan melayang luwes menjemput pawangnya.

“Srek!” Gayatri mendarat ringan di atas pundak Elang Laut Dada Merah.

“Bintang Tenggara memenangkan pertarungan dan layak melanjutkan ke pertarungan selanjutnya!” seru wasit dari sisi panggung.

“Hah!?” Seluruh peserta yang mengamati pertarungan dan seluruh hadirin yang menonton sama terkejutnya.

“Apa yang membuat Gayatri kalah!?” sontak mereka berseru di saat pertarungan sedang panas-pansnya.

“Apakah wasit sudah buta!?” banyak penonton yang tak hendak percaya.

Gayatri menuruni Elang Laut Dada Merah. “Aku menerima kekalahan,” ujarnya menahan pilu. “Saat menyambut aku yang terjatuh, ekor Elang Laut Dada Merah menyentuh tanah di luar panggung.”


***


Seluruh binatang siluman yang mendiami reruntuhan ibukota tua Sastra Wulan bergejolak resah. Naluri mereka mengisyaratkan bahwa telah terlahir kembali sesuatu yang sangat mengerikan.

“Khi… khikhikhi….”

“Wahai Yang Kelam Paduka Raja Angkara…,” tegur seorang lelaki setengah baya sambil bersembah sujud.

“Khi… khikhikhi….”

“Akhirnya tubuh baru itu dapat mulai berfungsi selayaknya…,” sambung lelaki setengah baya tersebut.

“TthuUBbuh… iNnhi… kkUuRrraAnGg… pAannTtasS…,” terdengar suara rintihan bergema seolah dua atau tiga orang berbicara di saat bersamaan.

“Wahai Yang Kelam Paduka Raja Angkara… kiranya diperlukan sedikit waktu untuk menyesuaikan diri…,” lelaki setengah baya terlihat gelisah.

“Wahai Yang Kelam Paduka Raja Angkara…,” kini suara perempuan muda yang sedari tadi duduk bersimpuh menyela. “Hamba mendapati bahwa ‘senjata’ itu berada di… Kota Ahli.”