Episode 10 - Keputusan Sepihak Bastian

Upaya menghasut Bang Joe berhasil. Sekarang, Badut, Kirana, dan Bastian tengah makan siang di rumah makan Padang tak jauh dari kios Bang Joe. Usai makanan di piringnya tandas, Bastian membakar rokok. Wajahnya terlihat berpikir. Kemudian, dia mengambil buku catatan, merobek dua lembar kertas, dan menulis entah apa pada keduanya secara bergantian.

“Bang Joe sudah berhasil kita hasut. Kemungkinan besar nanti Claudya dan Daniel bakal menghadapi persoalan besar. Stres pra nikah mereka akan semakin meningkat, dan hubungan mereka jadi rentan. Nah, tugas kita berikutnya adalah menyusupi masalah kecil, sembari berharap mereka memilih pisah,” Bastian menarik napas sejenak, “aku mau tanya sekali lagi, apa yang diinginkan Mas Badut; menghancurkan pernikahan Claudya atau membuat Claudya balik ke pelukan Mas Badut?”

“Claudya balik ke pelukanku!” ucap Badut, mantap.

“Oke! Itu berarti, Mas Badut harus mulai kembali berada di pikiran Claudya, sebab kalau nggak, ketika mereka putus, maka Claudya bisa jadi langsung masuk ke pelukan lelaki yang paling dekat di pikirannya.”

“Siap!” Badut mengangkat tangannya yang terkepal, suaranya penuh keyakinan.

“Jangan main siap-siap saja! Mas Badut harus bisa masuk ke dalam pikiran Claudya sebagai orang baru, bukan sebagai produk gagal masa lalunya.” Bastian mengembuskan asap. “Siap, nggak?!”

“Siaaap!”

“Oke. Sekarang Mas Badut siap menuruti aturan saya, ya.” Bastian menggeser selembar kertas yang ditulisnya ke tangan Badut. “Ini ada daftar pertanyaan sekaligus jawaban. Dan setiap saya bertanya, Mas Badut harus menjawab dengan jawaban yang ada di kertas. Paham? Ini penting untuk membulatkan tekatmu.” Ditanya Bastian, Badut hanya mengangguk-angguk, kemudian membaca tulisan di lembar kertas.

“Kita coba, ya, Mas Badut. Jawab dengan lantang setiap pertanyaan saya!” Bastian menyandarkan rokoknya di bibir asbak. “Mas Badut ingin mendapatkan Claudya kembali dan bersedia berusaha sekeras mungkin untuk melaksanakan keinginan tersebut?!”

“Mendapatkan Claudya adalah keinginan terdalam saya!”

“Mas Badut siap mengubah apa yang ada di dalam diri Mas Badut sehingga bisa menjadi sosok yang baru untuk Claudya?!”

“Jadi sosok baru untuk Claudya adalah apa yang akan terus saya upayakan tanpa kenal lelah!”

“Mas Badut rela mengurangi karbohidrat dan mulai berolahraga?!”

“Karbohidrat adalah kata asing yang belum ada serapannya di kamus kehidupan saya, dan olahraga adalah kegiatan favorit saya!”

“Mas Badut siap lebih sehat, atletis, dan sedikit metroseksual?”

“Lelaki atletis, metroseksual, wangi, dan klimis adalah potret masa depan saya!”

**

Seminggu lewat. Badut mengisinya tanpa terbebani janji yang diucapkannya main-main pada Bastian. Dia tetap makan dan minum sembarang. Karbohidrat dia sikat, minuman bersoda dia tenggak. Memang nafsu makannya semakin menggila lantaran merasa dalam euforia kemenangan. Padahal, dia belum sepenuhnya menang sebab toh tak ada indikasi apa pun yang menegaskan Claudya bakal kembali ke pelukannya.

Sekarang, di rumah kontrakannya yang mungil, Badut tersudut oleh tatapan mata Bastian dan Kirana setelah dipaksa menimbang berat badan.

“Kamu percaya pepatah yang mengatakan bahwa tak satu pun hal di dunia ini yang bisa luput dari kesalahan?” ucap Badut.

Bastian hanya bergeming.

“Oke, maksudku. Aku yakin bahwa timbangan ini pasti tidak luput dari kesalahan,” timpal Badut.

“Ya, aku pun berpikir hal yang sama sampai aku menyadari bentuk perut Mas Badut semakin menjijikkan,” ucap Bastian, datar.

Badut menunduk. Menatap tonjolan memalukannya dan kehilangan kata-kata.

“Na,” Bastian menoleh ke arah Kirana, “sepertinya kita harus ambil keputusan tegas. Kita nggak bisa meletakkan kepercayaan kita sama Mas Badut.”

Kirana hanya mengernyit, tak paham arah ucapan Bastian.

“Sekarang, kita terpaksa harus tinggal di sini dan mengontrol penuh perilaku Mas Badut.”

“Lho, lho. Kamu nggak bisa seenaknya gitu dong, Bas. Kan aku belum setuju!”

“Mas Badut, dengar, ya. Ini bukan soal Mas Badut setuju atau nggak. Ini soal bagaimana aku dan Kirana mau berkorban. Bayangkan, betapa sulitnya untuk orang seperti aku yang mesti meninggalkan kenyamanan hidup untuk tinggal di tempat kumuh bersama seorang pecundang seperti Mas Badut,” ucap Bastian.

Badut menoleh Kirana, meminta bantuan. Namun, Kirana hanya bisa menggeleng sembari tersenyum geli.