Episode 4 - Cantik dan Pekerja Keras


“Sekarang siapa yang mengatakan kalau perempuan tak bisa melakukan pekerjaan laki-laki.”

Di tengah-tengah lapangan. Terdapat sebuah stand yang mengkhususkan meletakkan kerbau untuk dikandangkan.

Seorang gadis sedang berada di situ. Memegang sebuah palu dan membenarkan letak paku lalu memukulnya sampai masuk ke dalam kayu. Memastikan kalau paku itu takkan keluar lagi dari jalurnya.

Si gadis mengelap keringat di dahinya dengan lengan baju.

Wajah cantiknya terlihat dewasa di usianya yang baru 17. Memiliki postur tubuh yang sama dengan yang dimiliki gadis seusianya. Namun sudah terbiasa dengan berdiri tegak, kesan dari gadis itu terlihat sebagai seorang yang tegas.

Rambut panjang sepunggung. Menggunakan jepit rambut di kedua sisi dahinya untuk menghindari terhalaunya pandangan.

“Euis! Kau baik-baik saja?!”

Seseorang berteriak pada gadis itu. Menyebutkan namanya sambil berlari dengan wajah khawatir.

“Rian. Kenapa terburu-buru seperti itu?”

Sesampainya sosok Rian yang kelelahan. Gadis bernama Euis seperti telah mengenal Rian yang memiliki wajah sedikit seram.

“Aku baru saja ikut mengejar kerbau yang lepas. Tapi mereka bilang kau ditinggalkan sendirian di sini dengan para kerbau lain. Karena itulah aku…untuk apa palu itu?”

“Ah ini. Aku baru saja membenarkan posisi paku yang keluar dari jalurnya. Memastikan semua kondisi kandang dalam keadaan baik.”

Mendengar maksud dari Euis. Rian mamandang sekeliling kandang kerbau yang terbuka. Luasnya sekitar 20 x 18. Menampung banyak kerbau gemuk sebanyak 9 ekor.

“Kau melakukannya?”

“Ya iyalah. Memangnya kamu meragukan kemampuan perempuan dalam mengerjakan pekerjaan laki-laki.”

“Kemarikan.”

Euis terlihat sedikit menyombongkan diri dengan kehebatannya. Namun hal itu tak dipedulikan oleh Rian. Mengulurkan tangan, Rian bermaksud meminta palu dari Euis.

Euis menjadi sedikit takut dengan ekspresi yang diberikan Rian. Menuruti perkataannya dan memberikan palu tanpa berkomentar apapun.

“Perempuan tak seharusnya melakukan hal ini.”

Jongkok dan memeriksa kandang. Rian menggumamkan sesuatu. Membuat Euis terdiam memikirkan perkataan Rian barusan,

Suasana hening sempat tercipta. Yang mana Rian masih memeriksa kandang dan sesekali memukul paku yang tertancap kurang dalam. Euis hanya bisa menyandarkan tubuh di papan dan memerhatikan jalannya festival.

“Ngomong-ngomong.”

“Mm.”

“Apa kau melihat Bagas?”

Rian memecah keheningan. Mempertanyakan sosok seseorang yang tak dia lihat pada Euis yang masih dalam keadaan sama.

“Kalau dia…”

***

“Oh iya. Aku tak melihat Bagas dimanapun?”

Erina teringat sesuatu. Berhenti lalu bertanya pada Rini saat mereka sedang duduk di kursi papan setelah cukup berkeliling.

“Kalau dia pasti…”

***

“Haassiiimmm!”

“Wah. Gak biasanya kau bersin begitu.”

Di sebuah lapangan bola basket yang terletak di tengah hutan.

Lapangan basket yang kelihatan tak dipedulikan karena terdapat tanaman yang tumbuh di pagarnya.

Ada dua orang pemuda yang berada di situ. Termasuk Bagas yang baru saja bersin. Seorang yang berbicara dengannya terlihat seusia dengannya.

Namun satu hal yang berbeda dari mereka adalah rambutnya yang pirang. Dan juga kedua mata yang berwarna biru normal.

Memainkan bola basket dengan menembak masuk ke keranjang.

“Hei, enggak apa-apa nih. Kau ninggalin perayaan desa terus datang kesini.”

“Enggak apa-apa. Lagipun aku gak tahu mau ngelakuin apa disana.”

Bagas tak terlihat mengkhawatirkan sesuatu. Berbeda dengan temannya yang malah mengkhawatirkan dirinya.

Posisinya tergeletak di kursi. Melindungi matanya dari sinar matahari.

“Ya udah deh… Kalau kesini juga jangan buat tidur dong.”

“Taruhan siapa yang bisa menembak paling banyak.”

“Haha. Jangan menembak dong. Tapi kalau masukin paling banyak aku gak akan kalah.”

Temannya kelihatan kesal dengan perilakunya. Tetapi dia mengatakan sesuatu yang membuat Bagas bangkit dari tidurnya. Senyuman terlihat di wajahnya ketika mereka akan bertaruh dalam permainan.

***

Selesai dengan pemeriksaannya. Rian mendekat pada Euis.

“Aku ngerasa. Harus minta maaf soal tadi.”

“Hmm… Gak apa-apa kok. Lagipula kita kan teman lama.”

Senyuman dari si cantik diberikan pada Rian yang merasa menyesal. Rian sempat terdiam dan merasa tertegun.

Tak ingin berlama-lama seperti itu. Dia kembali pada sosoknya yang seperti biasa.

“Benar juga.”

“Tapi aku merasa kalau hubungan kita semakin lama semakin jauh.”

Perkataan Euis terdengar sedikit menyedihkan. Membuat Rian yang bahkan memiliki sosok yang menyeramkan kembali tertegun.

“Tentu saja. Karena waktu masih terus berjalan. Semakin lama manusia akan semakin berkembang. Tak ada yang abadi di dunia ini. Di mana sebagian orang akan datang dan sebagian lagi akan pergi.”

Berpikir sejenak sebelum mengatakan sesuatu. Setelah mendapatkannya. Menatap langit, Rian mengatakan beberapa hal yang menurutnya pas dengan suasana kali itu.

 Mendengar perkataan Rian, Euis tersenyum saat menunduk. Menjadi lebih baik, wajahnya di angkat. Dan perasaannya kembali seperti biasa.

“Kamu bisa banget diandalkan di saat seperti ini ya.”

Menyenggol bahu Rian. Euis bercanda dengannya. Memperbaiki suasana yang tak seharusnya buruk sejak mereka bertemu.

“Tentu saja. Karena aku ketua kelas XI TKJ. Dan juga sejak kita kecil. Akulah yang paling bisa menenangkan Beni yang sering menangis.”

***

“A….aaaaa!!”

Teriakan seseorang terdengar saat lukisan yang sedang dalam pengerjaan tergores akibat ulahnya sendiri.

***

“Haha, aku ingat dulu saat dia terjatuh ke lumpur dan menangisi binatang yang masuk ke dalam celananya.”

“Aku juga ingat itu.”

Suasana di tengah lapangan telah menjadi lebih baik dengan beberapa candaan. Menyinggung tentang masa lalu yang membuat mereka tertawa.

“Menyinggung tentang terjatuh. Dulu kau juga pernah terjatuh ke parit bukan. Yang kami pikir kau bercanda saat akan tenggelam.”

“…itu.”

“Untung aja Bagas sigap dalam menanggapi situasi itu. Kalau enggak, gak akan tahu dah gimana jadinya.”

Rian yang kembali menyinggung masa lalu mereka. Membuat Euis terdiam dan lagi-lagi tertegun. Namun dia tak memperlihatkan perasaan sedih miliknya itu.

“Dan dia juga mengatakan sesuatu yang tak masuk akal padaku.”

Malahan dia tersenyum dan berpura-pura ceria saat mereka terus bercerita.

“Tak masuk akal?”

“Kau tak mengingatnya ya. Kalau begitu tak usah dibahas, bukan hal yang terlalu penting kok.”

Dan dia juga menghindari pembahasan yang sedang mereka bicarakan. Membuat Rian sedikit bingung dengan perasaan tersembunyi dari Euis.

“Oh iya. Apa kau sudah bertemu dengan kakak pak Elang?”

“Sudah.”

“Bagaimana menurutmu?”

“Bagaimana menurutmu. Kau sendiri sudah bertemu dengannya?”

Suasana hening sempat tercipta sejak Euis menghindari pertanyaan Rian.

Namun tak ingin berlama-lama seperti itu, dia membuka pembicaraan baru tentang Erina.

“Panjang umur.”

Melihat ada dua orang yang datang. Rian mengucapkan sesuatu tradisi yang diucapkan ketika seorang yang mereka bicarakan datang saat itu juga.

“Ada apa?”

“Tidak. Hanya saja kami baru saja membicarakan seseorang.”

“Seseorang? Siapa?”

Rini bertanya saat jarak mereka sudah dekat. Namun pertanyaannya seperti dihindari dan dia menghadap ke Erina.

“Jadi kakak ini saudara perempuan pak Elang?”

“Iya. Kenalkan, namaku Eruin Leina Lesmana. Panggil saja Erina.”

“Erina... Kalau aku Euis Nur Hasanah. Panggil saja Euis.”

Mereka berdua berkenalan. Saat pertama mendengar nama panggilan Erina membuat Euis bingung. Mengerti setelah berpikir sejenak. Euis pun bergantian menyebutkan namanya.

“Setelah mengenal kalian semua aku sedikit mengerti suatu hal.”

“Tentang apa kak?”

Erina memposisikan tangannya ke dagu. Membuat ekspresi berpikir. Rini pun bertanya tentang hal yang dibicarakan Erina.

“Kalau kalian berbeda suku bukan?”

Pertanyaan Erina dihadapkan pada tiga orang yang lebih muda darinya.

Mereka bertiga menatap secara bergantian. Lalu menunjukkan ekspresi kalau dugaan Erina itu benar.

***

“Oke, sudah selesai.”

Di sebuah stand pinggir lapangan. Terdapat layanan yang bisa memberi nama pada pakaian seseorang dengan ciri khas batik.

Beberapa orang wanita yang menjalankan stand itu. Salah satunya adalah istri dari Elang Lesmana.

Setelah memberi nama pada sebuah baju berukuran anak-anak. Tersenyum pada wajah berseri yang melihatnya bekerja.

Seorang anak perempuan. Terus menatap Ani semenjak dia mengerjakan pakaian miliknya untuk diberi nama.

“Bagaimana, bagus bukan?”

Selesai dengan pekerjaannya. Ani menyodorkan baju milik anak perempuan di depannya.

Ekspresi anak itu pun menjadi lebih cerah setelah melihat hasil kerja Ani.

Mengambil baju miliknya. Lalu menatapnya dengan mata yang berbinar-binar.

Seorang wanita yang berada di belakang anak itu tersenyum. Mengambil sebuah kantung kecil dari tas miliknya dan memberikan itu pada Ani.

“Terima kasih neng Ani.”

“Sama-sama bu.”

Wanita yang diduga ibu dari anak itu berterima kasih. Mengajak anaknya yang memegang baju miliknya dengan erat di dada juga untuk berterima kasih, lalu pergi.

Melihat hal itu menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi pengrajin batik seperti Ani.

***

Sekelompok pria kembali dari mengejar kerbau yang terlepas dari kandang. Kelompok itu kelihatan kacau. Ada yang bermandikan lumpur. Ada juga yang memiliki beberapa luka gores di tangannya.

Termasuk Elang yang berada dalam keadaan bisa terjatuh kapan saja.

“Uwah… apa yang terjadi pak?”

“Ah itu. Terseruduk. Terlempar. Dan beberapa lainnya.”

Pertanyaan Rian dijawab dengan ucapan lemas dari Elang.

“Sepertinya aku akan mati di sini.”

“Haha…jangan gitu dong. Ngomong-ngomong bapak mau tahu sebuah rahasia dari hal barusan.”

Kandang yang berletak di tengah-tengah lapangan. Tadinya di jaga oleh empat orang. Namun para wanita pergi atas saran dari Rian.

Elang yang merasa sudah tak memiliki tenaga duduk bersandar di salah satu kandang. Membuat posisi seperti seorang yang habis bertarung mati-matian.

Melihat hal itu Rian mendekat dan ikut terduduk. Membisikkan satu hal yang membuat Elang sedikit penasaran.

“Apa itu?”

“Sebenarnya ini terjadi setiap tahunnya loh.”

Perkataan Rian membuat sedikit tenaga Elang terisi dan dia tak lagi bersandar.

“Eh…”

Membuat ekspresi bingung. Rian pun berhasil memancing rasa penasaran Elang.

“Setiap kali festival di adakan. Selalu ada masalah yang membuat para pria harus membereskan masalah itu dengan menguras tenaga. Dan kasus kerbau lepas sudah beberapa kali terjadi dalam dua dekade ini.”

“Maksudmu hal itu terjadi karena sebuah kesengajaan begitu.”

“Entahlah. Ada yang mengatakan kalau semua itu ulah penghuni pohon yang ada di dekat pinggir lapangan.”

“H-hal mistis…”

Pembicaraan mereka semakin mengarah ke sesuatu yang menyeramkan. Namun hal itu malah membuat Elang semakin penasaran.

“…aku bercanda pak…”

Ada jeda sesaat sebelum Rian mengerjai Elang dengan cerita karangannya. Dan tawanya di respon dengan rasa kecewa dari Elang.

“…maaf-maaf, itu hanyalah salah satu cara agar para pria bisa menarik perhatian para gadis. Dilakukan agar para pujangga desa tak terlalu lama membujang.”

Ucapannya dibarengi dengan sedikit tawa. Hal itu pula membuat rasa kecewa Elang semakin besar.

Matanya dibuat seperti ikan mati saat menatap Rian. Membuatnya tertawa sedikit lebih lama sebelum dia kembali berbicara.

“Kalau gitu hal tadi seharusnya dilakukan oleh mereka yang masih bujangan bukan.”

“..benar. Tapi sepertinya bapak sedikit mengacaukannya.”

Elang menduga sesuatu. Hal itu pula membuat Rian merespon dengan menunjuk ke sekitar mereka.

Para perempuan yang tak hanya kelihatan masih gadis maupun yang sudah tua melirik mereka berdua. Dan juga para pria di tengah-tengah lapangan.

Tepatnya tatapan dan juga ucapan mereka tertuju pada sosok vampire yang bisa berkeliaran di siang hari dekat dengan Rian.

“Apa hal ini akan menjadi sebuah pertarungan.”

“Jangan khawatir. Bapak kan udah punya kak Ani, jadi gak perlu khawatir. Kecuali bapak mau melakukan poligami.”

Elang sedikit takut dengan keadaan mereka. Dan sekali lagi Rian membuat candaan lalu tertawa kecil.