Episode 3 - Tampan dan Mempesona



Di sebuah lapangan terbuka, yang di dominasi oleh penduduk yang sedang mengadakan suatu acara.

Acara festival panen.

Di mana semua warga desa berkumpul untuk merayakan acara itu dengan berbagai hal.

Seperti sebuah acara yang mempertandingkan kerbau siapa yang paling gemuk dan sehat.

Tanaman siapa yang paling segar.

Dan berbagai macam hal lagi yang bisa dilihat dan dinikmati dalam festival itu.

Atau orang-orang bisa saja meramaikan acara dengan beberapa hal seperti yang dilakukan seorang pemuda.

Duduk di depan sebuah kanvas, memegang kuas dan papan cat. Berlokasi di pinggir sudut lapangan.

Perawakannya seperti orang korea, wajah tampan dengan postur tubuh yang ideal. Matanya yang tajam bergantian menatap ke arah kanvas dan seorang yang duduk di depannya.

Mulutnya mengapit sebuah kuas yang terlihat lebih besar dari yang dia pegang sekarang. Lalu matanya mencari sebuah ruang untuk menempatkan cat berwarna biru yang terserap oleh kuas.

Menggoresnya dengan lembut sedikit demi sedikit di daerah mata.

Sedikit lagi.

Pikirannya sangat tenang. Dibantu dengan lagu instrumental yang didengarkan lewat earphone. Membuatnya menjadi lebih konsentrasi.

Keseriusan yang tak sengaja dibuat. Menjadikan seorang yang berada di depannya merasa tegang.

Tangannya menghentakkan udara. Beberapa tetes cat tersirat membuat mereka yang berada di sekitar sedikit terkejut.

Tak disangka, walaupun lokasi stand pemuda itu berada di sudut lapangan. Bisa menarik banyak perhatian untuk melihatnya melukis.

Sinar matahari yang tertutupi oleh awan seraya ikut membuat suasana menjadi tegang.

Tangan yang cekatan mencolek cat dengan kuas. Lalu mempoles kanvas yang penuh dengan warna. Menjadikan sosok seorang yang duduk di depannya menjadi tampak nyata.

“Selesai.”

Setelah menuliskan sebuah nama di ujung kanvas dengan “Kang Beceng”. Seketika kedua tangan yang memegang kuas dan papan cat di turunkan dengan pasrah. Membuat kesan terjatuh.

Orang-orang yang berada di belakangnya mulai sibuk untuk mendatangi pemuda itu. Memujinya dengan sedikit berlebihan. Ada pula yang meminta untuk menggambarkan wajahnya setelah itu.

Menghiraukan perkataan orang-orang di belakangnya. Pemuda tampan itu mengambil lukisan dan memberikannya pada pelanggan.

Pelanggan yang puas memuji dan berterima kasih. Memberikan sebuah kantung kecil lalu pergi.

Suasana pun menjadi ramai. Orang-orang yang melihat barusan meributkan siapa yang akan menjadi pelanggan selanjutnya.

“Maaf semuanya. Ini sudah waktunya istirahat.”

Tiba-tiba saja suara seseorang menghentikan hiruk pikuk yang mengelilingi si pemuda. Pemuda yang kelihatan bingung dan juga orang-orang yang mengerumuninya sekejap mengubah arah pandang mereka.

Melihat ke belakang, ditemukanlah seorang gadis. Wajahnya cantik. Mengenakan baju dan rok panjang yang hanya memperlihatkan ujung kaki dan tangan. Rambutnya di kucir kebelakang dengan sebuah pita berbentuk bunga melati.

Pesonanya membuat orang-orang mendengarkan perkataannya dengan baik.

Respon yang diberikan pun bermacam-macam. Ada yang mengerti dan pergi. Ada pula yang kecewa dan meminta untuk cepat dilukis wajahnya.

“Maaf. Tapi ini waktunya makan siang. Setelah itu kalian memiliki waktu sampai sore kok.”

Lembut suaranya membuat mereka yang mendengarkan tak memiliki pilihan lain selain menerima. Pergi dengan sedikit rasa malu yang mana dominan adalah laki-laki.

“Kau baik-baik saja?”

“…dewi.”

“A-apa sih yang kau bicarakan. Nih.”

Gadis itu berbicara pada si pemuda. Membuat si pemuda terkagum akan kedatangannya.

Si gadis membawa keranjang. Yang sepertinya berisikan sebuah bungkusan berbentuk segitiga. Mengambil satu dan memberikannya pada si pemuda.

“Wah nasi bungkus! Enaknya. Terima kasih dewiku.”

Membuka bungkus yang berisi setumpuk nasi beserta lauk. Kali ini pemuda mengagumi sosok si gadis dengan sedikit berlebihan.

“Hentikan. Jangan panggil aku begitu lagi. Kalau tidak…”

“Memangnya kenapa?”

“Bukan apa-apa. Sebaiknya kamu makan saja, biar aku yang membereskan kekacauan ini.”

Si gadis merasa aneh ketika pemuda mengaguminya. Membuatnya merasakan malu yang di sembunyikan.

Si pemuda pun terheran dengan perilaku si gadis.

“Hei, biar aku aja.”

“Sudahlah. Selesaikan saja makanmu. Kamu lapar bukan? Sendok juga ada di keranjang.”

Menghentikan si gadis yang akan membereskan kekacauan yang di buat si pemuda. Namun malah si gadis yang membuat si pemuda menuruti perkataannya.

Si pemuda mulai memakan nasi bungkus dengan lahap. Sedangkan si gadis mengambil peralatan lukis si pemuda yang berceceran.

“Boleh aku lihat penghasilanmu.”

Selesai dengan beres-beresnya. Si gadis mendatangi si pemuda dan meminta sesuatu yang ada di keranjang milik si pemuda.

“Cuma segini?”

Si gadis bertanya mengenai belasan kantung kecil yang ada di keranjang. Karena masih dalam keadaan mengunyah, si pemuda hanya merespon dengan beberapa anggukan.

“Seharusnya bisa dapat lebih banyak lagi bukan. Kamu saja yang terlalu baik atau mereka yang jahat sih.”

Si gadis sedikit kecewa dengan si pemuda.

Duduk di tumpukan rumput yang memenuhi seisi lapangan membuat mereka tak khawatir kalau pakaian mereka akan jorok.

Si pemuda yang selesai dengan makannya. Menerima botol mineral dari si gadis. Meneguknya dengan sedikit cepat yang membuat si gadis khawatir.

“Hei pelan-pelan!”

“Fiuh.”

Mengeluarkan perasaan bahagianya setelah kenyang. Si pemuda mengambil beberapa waktu untuk terdiam. Lalu dengan cepat wajahnya di dekatkan pada si gadis.

“A-apa?”

Si gadis terkejut dengan perilaku si pemuda. Merasakan malu dan menciptakan hawa panas yang membuat pipinya sedikit merah.

“Ku pikir kita adalah teman lama Rini.”

“Ha? Kenapa membahas itu sekarang.”

Si pemuda kembali duduk ke posisi normal dan melipat kedua tangannya. Perkataannya membuat aura yang keluar dari si gadis sedikit berbeda.

“Ituloh. Kau kan sudah mengenalku sejak kecil. Jadi seharusnya sudah tahu bagaimana sifatku.”

“Maksudmu sifatmu tak berubah sama sekali sejak dulu?”

Pertanyaan yang di berikan setelah mendengarkan perkataan pemuda terdengar sedikit seram. Namun si pemuda tak menyadari keseraman si gadis dan tetap bersikap seperti biasa.

“Tentu saja. Memangnya kau berharap aku akan berubah jadi apa. Power rangers. Setiap orang tak bisa begitu saja mengubah sifat mereka. Lagipula… R-rini…a-ada sesuatu yang menyeramkan di belakangmu.”

Sampai si gadis berdiri dengan aura yang lebih menyeramkan. Membuat si pemuda takut dan tergagap saat berbicara.

“Seperti biasa kalian selalu akrab ya.”

“Rian!... Rini, rini berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan.”

Seseorang menenangkan suasana itu. Merasa terselamatkan si pemuda berlari dan bersembunyi di belakang laki-laki seumuran yang dia panggil Rian.

Wajah yang kelihatan sedikit seram dan memiliki kesan serius yang tinggi. Tubuh tegap namun masih kalah tinggi dengan Beni. Serta kacamata yang membuat kesan serius darinya semakin terlihat.

“Tentu saja. Itu karena kau enggak-“

“Apa yang membuatmu kemari, Rian?”

Rini memotong pembicaraan dua laki-laki di depannya.

Aura menyeramkan yang diciptakan telah menghilang dan dia kembali bersikap normal.

“Ah, enggak. Aku cuma mau lihat stand Beni. Tapi sepertinya penghasilan yang dia dapat tak sesuai perkiraanku.”

Rian menjawab pertanyaan Rini dengan memperhatikan keranjang milik teman yang bersembunyi di belakangnya.

Seperti yang dikatakan. Memang apa yang dilakukan oleh Beni benar-benar sesuatu yang hebat. Tetapi kenyataannya dia tak mengambil banyak keuntungan dari itu.

“Tentu saja. Karena bagi seorang seniman, pengakuan adalah nomor satu. Dan penghasilan adalah nomor empat.”

Beni merasa bangga dengan dirinya sendiri. Hal itu pun membuat Rian sedikit tertawa dan Rini bingung karenanya.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan untuk menghabiskan waktu istirahat ini?”

“Tentu saja dengan istirahat bukan.”

“Oh iya, namanya juga istirahat ya.”

Setelah berbicara hal yang sedikit tak wajar. Dua orang pemuda itu tertawa dengan keakrabannya.

Rini yang melihat itu pun tersenyum karena apa yang dia lihat seperti hal yang biasa yang mereka lakukan.

“Oh iya. Aku mendengar kalau kakak tiri pak Elang datang ke desa.”

Rini membuka pembicaraan setelah suasana menjadi tenang.

“Ah aku juga dengar. Katanya dia adalah bangsawan eropa asli.”

“Kalau itu aku sempat melihatnya tadi.”

“Eh masak. Dimana?”

Rian yang telah mengetahui hal itu sebelum Beni. Membuatnya penasaran lalu bertanya seperti orang yang ketinggalan suatu informasi.

“Kalau itu dia ada di sini.”

“H-halo.”

Seseorang menyela pembicaraan. Membuat mereka memalingkan pandangan menuju sumber suara.

Seorang pria berambut putih dengan seorang wanita berambut pirang. Datang dan menyapa mereka.

Pandangan mereka tertuju pada wanita yang berambut pirang. Memakai pakaian sederhana seperti Rini. Hanya saja lengannya sedikit terlihat.

Tatapan yang diberikan oleh 3 orang pemuda spontan membuat si wanita merasa canggung.

“E-eh, ada apa?”

“Hei, di sini juga ada seorang yang menarik loh.”

Tak mau kalah dari pesona yang diberikan wanita. Si pria juga ikut menarik perhatian 3 pemuda. Namun perhatian 3 pemuda tak berpaling dari si wanita.

“Tak mirip… sama sekali.”

“Sama sekali!?”

Rian memberikan pernyataan. Pernyataan itu pula mengejutkan Elang.

“Yah ituloh. Setidaknya walaupun kalian saudara tiri. Seharusnya ada kesamaan yang ada pada kalian. Tapi aku tak melihat itu sama sekali.”

“A! Kau membuat bapak kecewa Rian.”

Menyambung pernyataannya. Hal itu pula membuat Elang semakin lesu.

Erina hanya bisa melihat tanpa bisa berkata apapun. Sampai Rini menghampiri dan berbicara padanya.

“Halo kak. Namaku Rini Jasmine.”

Rini mengulurkan tangan dan diterima dengan baik oleh Erina.

“Aku Eruin Leina Lesmana.”

“Wah nama yang bagus. Ngomong-ngomong, apa benar kakak memiliki hubungan saudara dengan pak Elang.”

Setelah berkenalan. Rini mendekatkan mulutnya lalu berbisik pada Erina.

“Sebenarnya. Aku juga tidak yakin.”

“Aku dengar itu woi.”

Erina membisikkan sesuatu yang membuat Elang kesal.

“Aku Riansyah Hasibuan. Salam kenal kak Eruin.”

“Salam kenal. Kamu boleh panggil aku Erina kok.”

Rian berkenalan dengan Erina. Mereka berkenalan tanpa bersalaman. Di lanjutkan dengan Beni yang menyapa dari belakang.

“Kalau aku Beni. Gabungan dari Eruin dengan Leina ya. Bagus,”

Saat Beni yang bergantian memberi salam dengan sedikit menduga darimana asal nama panggilan Erina. Rini menyahut.

“Bukannya kamu juga seperti itu.”

“Beni juga?”

Mendengar sahutan dari Rini dengan ucapan Beni. Erina penasaran dengan itu dan bertanya.

“Ah itu karena-“

“Aaa!”

“Ada apa sih?”

Saat Rini akan menjawab pertanyaan Erina. Beni buru-buru memotong perkataannya.

Di saat mereka sedang asik berbincang. Elang dan Rian tampak di panggil oleh seorang tua.

“Kita di panggil Rian. Rini, bisakah kamu menolong bapak mengajak keliling kak Eruin?”

“Siap.”

Sebelum pergi, Elang menitipkan Erina pada Rini.

Setelah berbicara untuk berkumpul di suatu tempat sehabis acara. Rian dan Elang berlari kecil menuju sumber suara yang memanggil mereka.

“Sepertinya mereka akan sibuk.”

Melihat kepergian dua temannya. Rini bergantian menatap Beni.

“A-apa sih?”

“Tak ada. Hanya ku pikir melukis menjadi alasanmu untuk tak ikut membantu.”

“Y-ya enggaklah.”

Seolah mengerti dengan maksud tersembunyi Rini. Beni menolak dugaan yang menjelekkan dirinya.

Melihat tingkah laku dua orang yang lebih muda darinya. Erina hanya bisa tertawa kecil.

“O, maaf kak Erina.”

“Tak apa kok. Aku hanya merasa kalian sangat dekat.”

Rini tersadar kalau mereka berdua menghiraukan sosok Erina. Erina pun kembali tersenyum merespon permintaan maaf Rini. Dan mewajarkan perilaku mereka.

“Itu karena kami adalah teman sejak kecil. Ahhaa!”

Saat Beni menyahut perkataan Erina. Rini yang berada di sebelahnya kelihatan kesal. Lalu sesuatu menyakiti kaki Beni.

Bukannya tak heran. Erina sedikit mengerti tentang keadaan mereka berdua.

“Aduduh. Apaan sih!?”

“Jadi kak Erina, ayo kita pergi. Tak perlu membuang-buang waktu berada disini.”

“Hei, itu jahat tahu!”

Beni mengeluh pada Rini tentang perlakuannya.

Menghiraukan perkataan Beni. Rini mengajak Erina pergi. Tak ingin merespon secara langsung. Erina hanya mengikuti langkah kaki Rini dari belakang.

“Kupikir perilakumu padanya sedikit terlalu berlebihan.”

Saat langkah kaki mereka telah selaras. Erina membujuk Rini yang sedang cemberut.

“Tidak kok. Aku hanya melakukan hal yang biasa kami lakukan.”

“Benarkah? Kupikir kamu melakukan hal itu karena memiliki perasaan istimewa yang tak tersampaikan padanya.”

Rini mencoba mengelak. Namun dugaan yang dikatakan Erina membuatnya berhenti, tertunduk dan wajahnya memerah.

“A-apa sejelas itu?”

Perasaan malu menyertai ucapannya. Tubuhnya sedikit bergetar saat meminta kejelasan lebih lanjut dari Erina.

“Eh, yah, kupikir hanya orang bodoh saja yang tak mengetahui hal sejelas itu.”

“O-orang bodoh…”

Mendengar kejelasan dari Erina. Rini menjadi lemas. Kakinya tak mampu menahan gelombang terkejut dari pikiran dan perasaannya. Membuatnya terjongkok dengan lemahnya.

“R-rini, tunggu, apa aku mengatakan sesuatu yang jahat. Maafkan aku.”

“Enggak apa-apa kok, kak. Cuma… aku sepertinya terlalu berharap padanya. Membuatku seperti gadis lemah yang memohon untuk cinta.”

Erina menjadi panik setelah melihat tingkah laku Rini. Tetapi hal itu tak menjadi masalah bagi Rini.

Mengatakan sesuatu yang masih dalam keadaan lemas.

Kejadian itu terjadi di tengah-tengah lapangan. Membuat mereka yang melihatnya ikut terkejut dan mencoba membantu.

“Maaf semuanya. Aku sudah tak apa kok. Ayo kak Erina.”

Namun Rini mencoba berdiri dengan tenaganya yang mulai kembali. Meminta maaf kepada mereka yang mengkhawatirkannya lalu mengajak Erina untuk kembali berjalan.