Episode 2 - Bangsawan Eropa & Serigala Penyendiri



“Haha, aku menang!”

Di sebuah bangunan yang menjadi pos jaga di belakang pintu gerbang depan sekolah. Tepatnya di teras depan pos jaga ada dua orang yang sepertinya sedang asik memainkan permainan kartu.

“Yah, kalah lagi.”

“Hehe, lain kali akan kuajarkan triknya, mau?”

Seorang pria yang sudah tua terlihat lesu karena telah berulang kali dikalahkan dalam permainan. Seorang lagi yang terlihat seperti bangsawan eropa menggoda pria tua.

“Haha, mau dong. Biar gak kalah terus sama anak-anak muda penjaga di sekolah. Oh iya, ngomong-ngomong, Neng Erina sekarang tinggal dimana?”

Mendengar godaan dari bangsawan eropa itu, pria tua yang memiliki nama Teguh Karya yang dapat ditandai lewat bet nama miliknya, menerima tawaran dengan sedikit rasa senang. Setelah itu dia membuka pembicaraan dengan menanyakan sesuatu pada lawan bicaranya.

“Untuk saat ini aku masih menumpang di rumah kak Afita, yah sesekali aku juga menjaga Ady kecil untuknya.”

“Wah, gak bisa dibayangin deh. Gimana nanti ketika melihat Neng Erina yang berpenampilan seperti ini berjalan berdampingan dengan Neng Afita dengan menggendong Ady.”

“Hmm, mungkin aku akan dikira sebagai selingkuhannya.”

Erina, nama yang disebutkan Teguh untuk memanggil bangsawan eropa itu, menjawab pertanyaan Teguh, dan jawaban yang diberikan membuat mereka saling melemparkan candaan ringan dengan tawa.

***

“Cih.”

Di sebuah danau, yang di kelilingi oleh beberapa pohon rindang. Berdiri seorang pemuda dengan memakai pakaian sekolah SMK.

Mengambil pancing yang dijepitkan di antara dua batu, anak laki-laki itu berdecak ketika pancing yang dia tarik sangat ringan.

Rambut ruby kehitamannya melambai-lambai ketika ditiup oleh angin. Setelah selesai menarik benang pancingnya sampai ke ujung. Anak laki-laki itu pergi dari danau.

***

“Oh iya, sebentar lagi ada acara perayaan panen desa loh.”

“A, aku tahu itu. Mungkin aku akan mencoba pergi dengan Elang dan lainnya nanti.”

“Bagus dong kalau begitu… Mas Bagas..”

Di saat Teguh sedang asik berbincang dengan Erina. Kepalanya sedikit dimiringkan untuk melihat lebih jelas sosok yang akan melewati pintu gerbang.

Wajah datar dengan warna mata biru keabu-abuan di bagian kiri dan biru langit di bagian kanan. Rambutnya yang berwarna merah dengan ekspresi yang membuat kesan kalau dia bukanlah seseorang yang suka diganggu.

“Mas Bagas, bagaimana?”

“Oh Kek Teguh. Emm, tak bagus, umpan kali ini tak seperti umpan kemarin, sama sekali tak tersentuh.”

“Begitu ya.”

Terlihat Teguh sedang membicarakan sesuatu dengan murid laki-laki yang dia panggil Bagas. Anehnya, Teguh seperti terbiasa akrab dengan orang-orang, sampai-sampai dia tak memiliki masalah sewaktu berbicara dengan seorang seperti Bagas.

“Apa yang kalian bicarakan?”

Tak seperti Teguh, Erina terlihat tak mengerti apa yang dia dan Bagas bicarakan. Bahkan untuk mencari tahunya, Erina harus berbisik.

“Oh, ini soal hobi para laki-laki, yaitu tentang memancing. Tapi hal yang ditargetkan Mas Bagas seperti pemancing di kebanyakan channel tv. Seekor ikan monster,lalu… strike!!”

Menjawab pertanyaan Erina, Teguh seperti membicarakan sesuatu yang luar biasa.

Sampai membuatnya menaikkan satu kakinya di atas meja dan membuat posisi seperti pemancing yang mendapatkan hasil yang luar biasa.

“Eh, ehehe.”

Merasa malu dengan tingkah lakunya, Teguh menurunkan kakinya dan duduk dengan ekspresi malu seperti orang tua kebanyakan.

Merespon perilaku Teguh, Bagas menutup matanya membiarkan angin yang melewati wajahnya membuat kesan sedikit keren lalu berkata.

“Tapi aku tak tahu… apakah aku akan mendapatkannya sebelum kelulusan nanti.”

“Ikan seperti apa yang kalian bicarakan?”

Erina terlihat telah mengerti perbincangan dua laki-laki di depannya. Lalu bertanya dengan mengarahkan pandangannya menuju Bagas.

“Ikan pemangsa, rumornya ikan itu telah memangsa salah satu murid dari kelas X TKJ angkatan sebelumnya. Untuk membuktikan hal itu, Mas Bagas ingin menangkapnya dan membuktikan apakah rumor itu benar atau tidak.”

“Ikan pemangsa, kalau soal itu aku sudah sering mendengarnya dari para murid perempuan. Tapi apa itu benar, seekor ikan bisa memangsa seorang anak laki-laki, eh tunggu, kalau memang benar, itu berarti…”

Terlihat berpikir dengan jawaban yang diberikan Teguh, Erina mengatakan suatu dugaan yang pandangannya di hadapkan ke arah Bagas.

“Ikan dengan ukuran monster.”

“Yah, tak aneh juga ikan dengan ukuran besar yang kira-kira memiliki berat lebih dari 200 kilo dapat memakan seorang manusia.”

Bagas dan Teguh berkesinambungan dalam membalas dugaan Erina. Hal tersebut pula membuat Erina terkejut dan menampakkan wajah sedikit ketakutan.

“L-lalu, apa yang terjadi dengan kasus anak itu?”

“Tidak ada yang tahu, kebanyakan kasus manusia yang dimakan oleh seekor binatang buas tak ditindak lanjuti karena, yah membuang-buang waktu seperti itu sudah menjadi hukum alam.”

“…tapi bukannya keluarganya akan sangat bersedih ketika hal itu terjadi!”

“Tentu saja, tapi mereka sudah memaklumi hal itu dan mengikhlaskan kepergiannya. Tapi untuk membuktikan apakah hal itu benar, banyak orang yang mencoba memancing ikan monster itu. Namun dalam kurun waktu satu tahun lebih, mereka menyerah karena ikan itu tak pernah muncul lagi.”

Ketika Erina telah benar-benar mengerti alur pembicaraannya, dia sedikit mengeraskan suaranya sewaktu berbicara dengan Bagas.

Akan tetapi balasan yang diberikan Bagas membuatnya menjadi sedikit tenang namun masih terdapat keraguan di wajahnya.

“Neng Erina tenanglah sedikit, karena itulah Mas Bagas mencoba memancing ikan pemangsa itu. Dia mencoba untuk memecahkan misteri kematian anak laki-laki yang sedang dibicarakan. Lagipula ada kesimpulan lain dalam kematian anak itu…”

Teguh mencoba menenangkan Erina yang sepertinya sedang ketakutan, dan perkataannya berhasil membuatnya menjadi sedikit lebih tenang.

“…danau itu memiliki tiga anak sungai. Lalu para warga mendapat kesimpulan kalau anak itu terbawa arus dan berakhir entah di mana. Dan kedua orang tuanya sedang terus mencoba untuk mencari keberadaan anak itu sekarang.”

“Kalau begitu, apakah anak itu masih hidup sekarang?”

Mendapat jawaban yang lebih rasional, Erina menjadi tenang dan mempertanyakan sesuatu tentang kesimpulan yang baru dia dengar.

“Tidak juga, kesimpulan lain adalah, anak itu mati tenggelam, kesimpulan lain anak itu terbawa arus dan pertanyaannya apakah seorang anak yang dulunya dikenal sangat penakut dapat bertahan di tengah hutan dengan keadaannya yang seperti itu… mungkin sekarang dia sudah menjadi mayat dan mayatnya berada di suatu tempat di kedalaman hutan.”

“Apa yang membuatmu berkesimpulan seperti itu?”

“Hantu dari danau, rumornya hantu itu mirip seperti ciri-ciri anak yang menjadi korban pembullyan yang dimangsa oleh ikan di danau itu. Bahkan mungkin dia sedang berkeliaran di sekitar sekolah sekarang.”

***

Di sebuah jalan sekitar sekolah, tiga orang anak perempuan sedang asik dalam pembicaraan mereka. Namun ada suatu keanehan dalam keadaan itu, seorang murid laki-laki, berpenampilan yang didominasi oleh warna hitam dengan mengenakan syal merah.

Berjalan berlainan arah dengan tiga orang murid perempuan, murid perempuan yang berada di ujung sebelah kanan terlihat akan bertabrakan dengan murid laki-laki itu.

Namun murid perempuan itu tak menyadarinya, dan mereka sedikit bersenggolan yang membuat murid perempuan menghentikan langkahnya.

“Maaf.” Ucap murid laki-laki itu dicsaat mereka bertabrakan, lalu dia melanjutkan langkah kakinya.

Sedangkan untuk murid perempuan yang bertabrakan terlihat kebingungan, dia seperti mendengar dan merasakan ada yang menabraknya. Namun dia tak melihat sosok itu walaupun telah memutar tubuhnya 360o ke segala arah.

Menyadari ada yang aneh, tiga murid perempuan itu berlari ketakutan.

***

“Mungkin juga menyadari hari sudah mulai sore, dia sedang berjalan menuju gerbang ini sekarang.”

“Mas Bagas…”

Selesai dengan ucapannya, Bagas memandang ke jalanan masuk menuju sekolah. Itu seperti dia sedang mengerjai seseorang, melihat hal itu, Teguh memasang ekspresi heran sekaligus bingung dengan tingkah laku Bagas.

“Hh, hmm begitu ya. Oh iya Kek Teguh, aku memiliki janji untuk pulang cepat dengan Kak Afita, sebaiknya aku pergi sekarang. Sampai jumpa.”

Menyadari sesuatu Erina segera bangkit dari kursinya lalu berbicara tanpa jeda kepada Teguh. Setelah berpamitan dia pun mulai melangkah pergi dari pos jaga.

“Eh, oh iya hati-hati di jalan. Mas Bagas.”

“Iya aku tahu. Sampai ketemu besok kek.”

“Iya.”

Setelah membalas pamitan dari Erina, Teguh memandang curiga pada Bagas. Namun maksud pandangan dari Teguh sudah dimengerti olehnya.

Lalu dia pun juga berpamitan dan melangkah keluar dari gerbang sekolah.

Berjalan di antara pepohonan rindang yang hampir menutupi jalanan dari sinar matahari.

Jarak antara Erina dan Bagas saat itu sedikit jauh karena ada sedikit keterlambatan waktu ketika mereka keluar dari wilayah sekolah.

Mereka juga tak berencana untuk berjalan bersama, karena itu mereka tetap meneruskan langkah kaki mereka.

Sesuatu menghentikan Erina, jongkok di pinggir jalan dan tangannya menggali-gali sesuatu di antara rerumputan yang ada disitu.

Bagas terlihat tak mempedulikannya dan terus berjalan, akan tetapi ketika jarak antara dia dan Erina telah sama. Erina kembali berdiri dan mereka terlihat berjalan berdampingan.

“Ku pikir aku menemukan sesuatu yang menarik tadi.”

“Oh.”

Di saat mereka telah berjalan berdampingan, terlihat ekspresi Erina yang sedikit ketakutan ketika berbicara pada Bagas. Jawaban yang diberikan Bagas pun menyelesaikan perbincangan singkat itu.

Dengan matahari yang berada pada jarak 90o di arah barat. Membuat sinarnya tak terlalu panas ketika terkena oleh kulit.

Wajah Bagas saat berjalan berdampingan dengan Erina tampak biasa, datar. Namun Erina yang berada di sampingnya memiliki perasaan yang berbeda. Di wajahnya seperti terlihat.

Canggung banget!

Dengan berteriak dalam hati, dia masih terus diam.

“Hei…”

“Hmm…”

Seketika saat Erina mencoba membuka pembicaraan, Bagas menjawab dengan deheman yang datar. Membuat Erina mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih lanjut.

“Eh, yah maaf, tak jadi.”

***

“Ini dia yang ditunggu-tunggu. Pasangan suami istri tahun ini, Elang Lesmana dan Sri Ani Anjani.”

Beberapa saat setelah Erina dan Bagas berjalan pulang. Dua orang yang di tunggu-tunggu datang. Elang Lesmana & Sri Ani Anjani, pasangan suami istri itu berjalan pulang setelah menyelesaikan urusan mereka.

“Tak usah berlebihan seperti itu pak de. Jadi, ada apa?”

Penasaran dengan perkataan Teguh, Ani bertanya ketika jarak mereka lebih dekat.

“Ah tidak, tadi Neng Erina menunggu kalian pulang.”

“Kak Eruin. Lalu dimana dia?”

Jawaban atas perkataan Ani pun lantas mendapat respon terkejut oleh Elang.

“Dia sudah pulang duluan.”

“Eh, bukannya dia takut untuk berjalan pulang sendirian!”

“Ah tidak kok, dia bersama Mas Bagas sekarang.”

Mengkhawatirkan keadaan seorang yang sepertinya adalah saudara perempuannya. Rasa terkejut Elang semakin besar. Namun balasan dari Teguh membuatnya menjadi lebih tenang.

***

Tinggi mereka berbeda sekitar 10 cm, dan hal itu membuat Erina sedikit kesulitan untuk menyamakan langkah kakinya dengan Bagas.

Berjalan di antara dua sawah yang terbentang lebar, jalan yang setiap sisinya memiliki sisi pejalan kaki dan lebar dari masing-masing jalan aspalnya dapat dilewati oleh satu buah mobil.

“Hei…”

“I-iya.”

“Kenapa kau terkejut seperti itu. Bukannya kau lebih tua dariku.”

“Ah iya itu bukan apa-apa.”

Sapaan memecah keheningan pikiran Erina, membuatnya salah tingkah.

“…”

“J-jadi, ada apa?”

“Nama.”

“Nama?... Ah, maaf, kita masih belum berkenalan ya.”

Mengerti dengan maksud perkataan Bagas. Erina tersadar sesuatu, berhenti dan menghadap ke arah Bagas yang juga menghadap padanya. Kedua tangannya seperti memegang sesuatu dan dikembangkan ke sisi samping.

“Eruin Leina Lesmana.”

Saat-saat itu membuat Bagas terkejut dan tak bisa membuatnya berkata apa-apa selain melihat keanggunan wanita yang ada di depannya. Perkenalan yang benar-benar berkesan seperti seorang bangsawan.

Selesai dengan perkenalan yang dilakukan, Erina kembali pada posisinya dan menghadap Bagas yang ekspresinya sudah terlihat seperti biasa.

Bagas mengulurkan tangan kanannya dan mengarahkan pada Erina. Sesaat hal itu membuat Erina terdiam dalam bingung, butuh waktu beberapa saat untuk mengetahui apa yang harus dilakukan.

“Eh maaf.”

Uluran tangan Bagas diterima oleh Erina, dan jabatan tangan dilakukan untuk memperkenalkan diri.

“Bagas Askara.”