Episode 1 - Bunga Desa & Pangeran Vampire



 “Iya benar, itu dia… mm, saya pikir harus ada revisi sedikit di bagian itu… ya, sama-sama. Huft…”

Ruangan yang kelihatan penuh dengan suasana pengetahuan. Mengingatkan siapapun untuk terus berusaha menimba ilmu sampai hari tua.

Ruangan yang mencukupkan untuk diduduki oleh 40 orang siswa. Setiap meja dan kursi terpasang satu unit Personal Computer dengan spesifikasi yang cukup memadai untuk menjadi alat praktek belajar.

Terduduk di meja yang disediakan seorang guru, pria berambut putih keperakan, matanya yang berwarna merah dibarengi dengan kacamata baca, dan juga pakaian seperti seorang professor yang dia pakai menambah kesan kepintarannya.

Setiap kali mulutnya terbuka, empat buah taring terlihat di dalamnya. Membuat kesan kalau dia seorang yang lumayan menyeramkan.

Setelah berbicara dengan seseorang lewat smartphone, pria itu mengambil kaleng minuman yang ada di meja dan meneguk air di dalamnya.

Meletakkan smartphone miliknya, dia berdiri dan berjalan menuju jendela yang terbuka. Angin meniup horden di jendela dan memperlihatkan suasana di luar ruangan.

Tubuhnya tinggi, tapi tak terlalu memiliki banyak nutrisi yang mengatakan kalau dia adalah orang yang cukup kurus.

“Menjadi tenang saja tak cukup untuk menghilangkan penat ya.”

Pria itu bergumam di depan jendela, menutup matanya dan merasakan angin yang masuk ke dalam.

Setelah beberapa saat, pria itu berjalan kembali ke meja dan memeriksa tas satu tangan miliknya.

“Hmm?”

Ada sesuatu yang aneh di dalamnya . Sebuah kain yang cukup tebal.

Tersenyum seakan telah mengerti sesuatu, pria itu berjalan menuju dinding yang menghadap ke belakang ruangan. Punggungnya disandarkan, dan tubuhnya merosot ke lantai dengan kesengajaan.

“Huhh, apa aku akan kena marah jika ketahuan melakukan ini ya? Sebaiknya kita cari tahu saja langsung.”

Setelah selesai bergumam, pria itu menyelimuti tubuhnya dengan kain yang dia ambil. Namun kain itu hanya cukup untuk menutupi tubuh dimulai dari bahu sampai lututnya saja.

“Yah, lebih baik daripada tidak sama sekali.”

***

Di depan sebuah gerbang sekolah, berdiri seorang perempuan yang kelihatan sangat cantik.

Rambut hitamnya di ikat seperti ekor kuda. Lekukan lehernya terlihat menggoda. Walaupun pakaian yang dia pakai cukup sederhana, tapi itu tak mengurangi tingkat pesonanya.

Ekspresi serius dari wajah cantiknya memberikan kesan kalau dia perempuan yang berpikir dewasa.

“Neng Ani?”

Seorang memanggil perempuan barusan, wajahnya memperlihatkan kalau umurnya sudah hampir mencapai setengah abad.

Memakai seragam seorang security. Seorang tua itu mengatangi Ani.

 “Ah pak de. Selamat siang.”

Menjawab panggilan seorang yang dipanggil pak de. Ani menyapa dengan lembut, tapi terdapat kesan serius dari nada suaranya.

“Menjemput pak Elang?”

“Ya, lagipula ini sudah lewat jam pulang. Apalagi dengan matahari yang sudah cukup mengarah ke barat.”

Mengganti pandangannya, pak de melihat ke arah timur laut dari tempat mereka berdiri.

“Pak de rasa pak Elang masih sibuk di dalam laboratorium sekarang.”

“Hmm, kalau begitu aku akan menunggunya disini, bolehkan?”

“Tidak.”

“Eh?”

Pak de mengira-ngira kalau Elang masih berada di dalam laboratorium, lalu perkiaraannya itu diterima oleh Ani. Akan tetapi saat Ani bertanya untuk tinggal di pintu gerbang, jawaban pak de membuatnya bingung.

Pergi ke dalam pos jaga, pak de mengambil sebuah bet nama, yang di dalam kertasnya bertuliskan ‘Tamu VIP’ dan memberikannya pada Ani.

“Ini?”

“Pergilah temui dia, mungkin dia mendapat sedikit masalah dengan pekerjaannya.”

Mengerti dengan maksud pak de, Ani memakai bet nama itu.

“Terima kasih pak de.”

“Berterima kasihlah pada seorang yang membuat bet nama ini neng Ani.”

“Siapa dia?”

“Maaf, ini masalah privasi. Tapi yang pasti dia seorang yang dekat dengan eneng.”

“Begitu, baiklah. Aku pergi menjemput Elang dulu.”

Berbincang sebentar, ada sesuatu yang membuat Ani penasaran dengan perkaatn pak de. Namun pertanyaannya tak dijawab dan dia langsung masuk ke wilayah sekolah.

Wilayah sekolah yang terlihat sangat luas, batu yang dibentuk serupa dengan segi enam disusun dan menjadikan jalan yang enak untuk tapaki.

Pohon-pohon di sekitar wilayah berukuran sedang, melindungi orang-orang dari panasnya sinar matahari. Bahkan hanya ada daun-daun yang berjatuhan dari pohon yang dapat dikatakan sampah, hal itu menambah poin dalam kehidupan berseri dari sekolah.

Berjalan ke arah timur laut, melewati pohon-pohon rindang yang menggoda setiap pejalan untuk tidur di bawahnya.

Saat itu tak ada orang-orang yang dekat dengannya untuk disapa, hanya ada beberapa saja yang berjarak sekitar 10 meter darinya.

Melihat ke arah mereka. Ani memberikan senyuman manis pada kelompok murid laki-laki itu.

Kejadian barusan pun memicu keributan di antara kelompok. Meributkan siapa yang di berikan senyuman barusan. Padahal hal itu hanyalah bentuk dari keramahannya.

Tak jauh dari tempat kejadian, ada sekelompok murid perempuan mengelilingi seseorang yang sepertinya sedang kebingungan menghadapi mereka. Bukannya tidak, sekelompok gadis sekolah itu seperti berebut siapa yang ingin berbicara lebih dahulu.

“E-eh teman-teman, bisakah kalian tenang.”

Suaranya yang terkesan mempesona mencapai seluruh gadis sekolah.

Blazer wanita model terbaru beserta celana berwarna hitam. Rambut pirang diikat rapi kebelakang dengan mata berwarna ungu berkilauan.

Di tambah dengan wajahnya sangat cantik dan elegan yang menjadikannya rebutan bagi sekelompok gadis sekolah itu.

“Terima kasih karena telah mau mendengarkan… itukan.”

Kembali mencoba menenangkan seluruh gadis, matanya beralih kepada Ani yang masih berjalan menuju timur laut.

Saat itu hanya berlangsung seketika sampai wanita tadi kembali dikerumuni oleh gadis-gadis sekolah.

“Woa-woa!”

Membuatnya berteriak karena akan tenggelam oleh kerumunan.

Kembali lagi melihat Ani yang berjalan semakin jauh ke dalam wilayah sekolah, daerah dengan banyak pohon berakhir. Memperlihatkan beberapa bangunan besar yang dijadikan sebagai tempat belajar mengajar.

Tiga buah bangunan pesegi panjang di susun sedemikian rupa agar nyaman untuk dipandang. Selain itu, beberapa bangunan kecil juga terlihat di sekitar daerah itu.

Tak ingin membuang-buang waktu, Ani berjalan dari pinggir agar menghindari beberapa kelompok pelajar yang sedang berjalan kesana-kemari.

Wajahnya terlihat seperti mengkhawatirkan sesuatu, dan dia mempercepat langkah kakinya.

Yang pada akhirnya langkah kakinya membawanya ke sebuah bangunan yang berada di bagian paling timur wilayah sekolah.

Bangunan itu terlihat berbeda dari yang lainnya, bagaimana tidak, bangunan yang lain berbahan dasar batu dan semen. Sedangkan untuk bangunan itu masih berbahan dasar papan.

Melangkah naik melewati tiga anak tangga, ekspresinya sedikit takut ketika dia mendekat menuju pintu. Namun tak ingin membuang-buang waktu, Ani mengetuk pintu dengan tiga ketukan.

“Tok! Tok! Tok!”

Akan tetapi tak ada jawaban, mengulangi hal yang sama, Ani mencoba membuka suaranya.

“Tok! Tok! Tok!”

“Elang, apa kamu di dalam?”

Suaranya dibuat selembut mungkin, karena di sekitar terlihat sepi dan sedikit menyeramkan. Memeluk dadanya dengan kedua tangan, Ani masih menunggu jawaban yang tak kunjung datang.

Tangan kanannya dibuka, meletakkannya ke gagang pintu dan mencoba menariknya ke bawah. Saat mengetahui pintu tak terkunci, Ani sedikit terkejut dan melanjutkan membuka pintu.

Mendorongnya masuk, di dalam ruangan terlihat sepi, namun ada sekumpulan kertas dan buku di atas meja guru. Mselangkah masuk, menapaki lantai kayu yang setiap langkahnya membuat bunyi yang unik.

Sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, Ani melihat sesuatu yang aneh berada di pojok depan ruangan.

Pertama yang dia lihat, kaki seorang laki-laki memakai sepatu kulit. Melangkah lagi, dia menemukan tubuh seorang yang sedang tertidur.

Helaian rambut putih di dahinya melayang di terpa oleh angin yang masuk dari jendela. Wajah tampannya yang terlihat sangat lelah, dapat meluluhkan hati siapapun yang melihatnya.

“Sudah kuduga, sekarang aku tak tahu harus marah atau malah kasihan denganmu.”

Mendekat pada sosok laki-laki itu, Ani membenarkan kain yang hampir terjatuh.

Posisinya duduk dengan kakinya sebagai bantalan, berada di sebelah kiri laki-laki itu. Tersenyum saat melihat lebih dekat wajahnya, Ani membenarkan poni yang menutupi wajah laki-laki itu.

“Pangeran Vampire, entah kenapa julukan itu cocok denganmu, Elang.”

Mencoba untuk duduk bersandar di sebelah tubuh Elang, Ani memperhatikan seluruh ruangan dengan senyuman berada di wajahnya.

“Ah..”

Terkejut saat kepala seseorang jatuh ke bahunya, Ani melihat wajah Elang semakin dekat dengannya.

“Sekarang lihat, siapa yang menggoda untuk dihisap darahnya.”

“Eh.. Elang-tunggu, ah.”

Sekali lagi Ani dikejutkan oleh suara Elang yang telah terbangun dari tidurnya, tak hanya itu. Elang juga menyerang Ani saat itu juga.

Menggigit lehernya yang menggoda dengan giginya yang memiliki taring, tangan kirinya mencapai tubuh Ani dan menghentikan penolakan yang akan diberikan oleh kedua tangannya.

Aksinya tak berhenti saat itu, semakin lama Elang melakukannya, semakin dalam pula erangan yang keluar dari Ani. Tak ingin membiarkan hal itu berlanjut, Ani mencoba membujuk Elang dengan perkataannya yang terpatah-patah.

“E-elang, kita tak bisa melakukannya disini?”

“Memangnya kenapa, hubungan kita sudah tak lagi dilarang untuk melakukan ini bukan.”

“Y-ya ta-tapi ka, mm. Elang kumohon berhen-ah.”

Serangan Elang semakin dalam mengena pada Ani, membuatnya memeluk erat tangan kiri Elang yang ada dipelukannya.

“Elang tolong hentikan, itu akan membekas.”

Meminta Elang untuk menghentikan perilakunya, kata-katanya berhasil untuk sementara. Namun setelah itu tangan kirinya mencoba untuk masuk ke dalam baju Ani, dan mulutnya meraih telinga lalu menggitnya.

“Ah, Elang, kumohon he-hentikan. Bagaimana j-jika orang lain datang dan melihat kita?”

“Hal itu takkan terjadi, karena laboratorium ini berada di pinggiran sekolah yang takkan ada satupun orang akan datang di jam seperti ini.”

“Y-ya tapi kita tak bisa, ah…”

***

“Mereka masih lama tidak ya?”

Di belakang pintu gerbang sekolah. Berdiri seorang yang sangat cantik yang telah terlepas dari sekelompok gadis sekolah yang mengerumuninya.

Lalu di wajahnya terdapat ekspresi bertanya-tanya pada orang yang dia tunggu.

“Neng Erina, kenapa masih disini?”

“Kek Teguh. Ah iya itu, aku masih menunggu kak Ani dan Elang.”

Datang dari arah belakang pos jaga, seorang yang dipanggil kek Teguh menyapa Erina. Seorang yang memiliki wajah cantik yang sedang menunggu Elang dan Ani.

Hal itu juga membuat kek Teguh bertanya-tanya.

“Hmm, kupikir mereka seharusnya sudah kembali sekarang. Apa harus ada yang memeriksa mereka?”

“Tidak perlu, kurasa mereka punya urusan yang harus diselesaikan.”

“Urusan?”

Erina bingung dengan perkataan kek Teguh.

Wajah elegannya menatap ke arah timur laut. Arah menuju laboratorium komputer.

“Baiklah. Kalau begitu aku akan menunggu di sini. Bolehkan kek?”

“Boleh. Tapi temani kakek untuk bermain sesuatu.”

“Bermain?”

***

“Apa kita benar-benar akan melakukannya disini?”

“Kita hanya perlu mengusir mereka yang akan datang, mudah bukan?”

“Mm, bodoh, emm.”