Episode 8 - Latihan Keras



“Sedikit lagi,” ujar Jackal sejurus lompatan Arya yang menghindari tombak-tombak Arga palsu.

Dia benar-benar berbeda dari sebelumnya. Menjalani latihan tanpa sedikit pun protes, Arya mengerahkan segala kemampuannya demi mendapatkan alasan dari Jackal serta membawa kembarannya ke dunia nyata.

Sesaat puluhan tombak raksasa berusaha menghujamnya, Arya tampak siap dengan kendi besi miliknya. Pemuda itu bergegas mengguncang kendinya sampai berdentum nyaring diikuti lima bola api seukuran semangka yang melesat beriringan.

Laut lepas yang menjadi medan pertempuran mereka sontak bergelombang akibat terpaan angin kencang. Arya menyiagakan tubuhnya seraya menyaksikan kelima bola api melumat tombak-tombak musuh dalam ledakan.

“Berhasil,” ucapnya ketika mendapati tombak Arga palsu telah mencair.

Irisnya seketika terarah pada Sang musuh yang senantiasa berdiri di atas pusaran air. Kendi besi masih berada dalam dekapan Arya, terlebih saat indra visualnya menaksir gelagat mencurigakan dari Arga palsu.

Benar saja. Segumpal air besar terlontar ke angkasa. Warnanya senada dengan langit medan pertempuran—lembayung. Bentuknya yang menyerupai bola berduri membuat Arya kian yakin kalau pola serangan musuhnya telah berubah.

Satu-dua detik kemudian bola berduri itu melebar, juga meninggi hingga seukuran pohon kelapa. Sepasang pancuran air di samping tubuhnya perlahan membentuk lengan berselimut duri, begitu pun kakinya yang bergerigi. Jadilah makhluk tersebut—monster air raksasa berkulit lembayung.

Arya terenyak. Sungguh mustahil, pikirnya. Hatinya meragu tentang hasil pertarungan ini. Apakah Arya dapat mengimbangi pertarungan seperti sebelumnya? Hentakan kaki monster itu saja sanggup menciptakan gelombang setinggi tubuhnya. Belum lagi puluhan duri yang menjulang mantap, seakan siap menghunus siapa pun yang berani mendekat.

“Kemampuan memanipulasi akal pikiran untuk melahirkan subjek pelindung juga penting dalam latihan. Subjek tersebut dinamakan Guardian.” Jackal melompat dari jembatan penyeberangan ke samping Arya. “Anda ingat? Teknik semacam ini sudah pernah Saya tunjukkan sebelumnya.”

“Monster yang waktu itu, kah?” Arya teringat pada Gari yang nyaris menghabisinya.

“Guardian merupakan salah satu penunjang untuk naik derajat. Dengannya Anda dapat bertarung lebih bebas. Sebab, ia akan berusaha melindungi Anda sebisa mungkin.” Penjelasan Jackal berbalas anggukan dari Arya, sebelum pemuda itu kembali menatap ke depan—dengan jakun yang naik-turun. “Coba bayangkan sosok yang barangkali membuat Anda merasa terlindungi.”

Arya sontak mengatupkan kedua matanya, membayangkan sosok sesuai kriteria Jackal. Jika Guardian memang bertugas melindungi pemilikinya, maka ia harus membayangkan makhluk yang besar, kuat, menyeramkan, serta cepat. Satu demi satu gambaran terbentuk di benak Arya. Seperti apa pun makhluk yang muncul nanti, dirinya harus memastikan monster ciptaan Arga palsu akan tumbang.

“S-sial!” Arya terhuyung ke belakang sesaat ia sadar pandangannya mulai kabur. Terlebih lagi, tak didapatinya satu sosok pun makhluk yang menyerupai perkiraannya.

“Saya berani bertaruh, pasti Anda membayangkan makhluk yang kuat, cepat, seram, dan besar. Sebenarnya itu hal yang bagus, tetapi terlalu ceroboh,” ujar Jackal seraya menahan tubuh Arya yang nyaris tumbang. “Lakukan Cyrstal Clear!”

“Lucid!!!”

Untungnya cara tersebut benar-benar berhasil, seperti saat-saat sebelumnya. Kini Arya bisa bernapas lega karena batal hengkang dari dunia mimpi, meski makhluk yang dibayangkannya tak kunjung muncul.

“Mengapa kau tahu, Jackal? Apakah menurut pedoman mimpimu kriteria Guardian yang seperti itu tidak diizinkan?” Arya mengerling tajam.

“Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Satu-satunya yang jadi masalah adalah Lucidity Anda.”

“Memangnya kenapa?”

“Ada dua jenis Lucidity, liar dan teratur. Energi yang ada di dalam tubuh Anda itu didominasi oleh Lucidity liar. Sama halnya dengan hewan, apabila tidak dilatih dengan telaten, maka ia akan sulit diatur dan bertindak semaunya.” Jackal bersedekap.

“Jadi maksudmu Lucidity yang ada di tubuhku sulit diatur?” Arya coba memastikan.

“Tepatnya tidak ada hubungan yang sinergis antara kemauan Anda dengan Lucidity tersebut. Akibatnya, ketika lucid dreamer berada di mimpi orang lain, mereka akan kesulitan mempertahankan kejernihan mimpi.”

“Lalu aku harus apa?”

“Bayangkan subjek yang sederhana saja. Akan tetapi, jangan terlalu banyak melibatkan memori.” Jackal kemudian mengambil langkah mundur beberapa jengkal.

“Terserahlah.” Arya kembali menyiagakan diri sambil mengawasi monster air yang masih berdiri di sisi Arga palsu.

  Ditinggalkannya Jackal jauh di belakang, sementara ia sudah melesat penuh nafsu ke hadapan Sang musuh. Untuk sementara, Arya tidak begitu mempermasalahkan batas kemampuannya dalam menciptakan sosok Guardian. Pikiran pemuda hanya berisi ambisi untuk menang, tak berbeda jauh dari hatinya.

Puluhan langkah ia ambil demi menggapai Arga palsu. Lupakan monster raksasa yang berkutat di sampingnya, asalkan Arya berhasil menang, maka latihan ini akan selesai dengan sempurna. Namun, belum sempat kesepuluh jarinya mengepal, Arya sudah dikagetkan oleh tombak air yang jatuh dari kepala Sang moster. Melompat mundur, Arya sukses menghindari serangan tersebut.

Kini ia tahu bahwa puluhan duri yang menghiasi tubuh musuhnya merupakan mata tombak yang kapan saja bisa menghunus tubuhnya. Selain itu, perkataan Jackal tidak bisa diabaikan begitu saja. Guardian benar-benar makhluk yang setia melindungi tuannya.

“Jangan seenaknya menyerang orang!” gerutu Arya sembari mendekap erat kendi besinya yang datang entah dari mana.

Lagi-lagi ia berlari mengelilingi Sang monster. Bedanya, kali ini Arya punya senjata untuk membalas. Diguncangnya kendi tersebut sampai bedentum kencang, dan melesatlah lima bola api sebesar yang sudah-sudah. Kelimanya tepat mengarah ke kepala Sang monster.

Bibir Arya agak bergeser, menyembunyikan keangkuhan dalam dirinya. Pikirnya sebentar lagi bola-bola itu akan meledak dan melenyapkan Sang monster. Maka dari itu, dekapannya pada kendi besi sedikit melonggar.

Dalam sepersekian detik asap hitam kelima bola api sudah menyapa kepala Sang monster. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyaksikan efek ledakan terindah bagi Arya.

“Kena!” pekiknya kegirangan.

Ledakan besar sontak tercipta, menghasilkan deru angin sejauh puluhan meter. Rentetan pohon kelapa di pulau seberang terlihat melambai-lambai dibuatnya. Tak terkecuali Arya yang terpental ke belakang, serta Arga palsu yang terdorong dari pusaran airnya.

Keadaan tampak tak berpihak pada siapa-siapa. Arya terkapar, Arga palsu tersungkur, dan monster air … sialnya dia masih kokoh berdiri tanpa kepala. Arya tersentak kemudian lekas-lekas berdiri.

Lelaki bergigi gingsul itu melongo diikuti mata yang terbeliak. Bagaimana tidak? Begitu jelasnya ia menyaksikan gumpalan air yang perlahan-lahan tumbuh menjadi kepala baru bagi Sang monster. Itu berarti keadaan tidak sepenuhya bersikap netral.

“Hebat,” puji Jackal. Nada suaranya terkesan tidak biasa. “Tanpa bantuan Guardian, Anda sudah mampu menggeser subjek latihan keluar dari posisi amannya.”

Arya mendecak sombong. “Baru tahu? Lain kali jangan keseringan meremehkan orang,” ujarnya seraya bersedekap. Padahal, di detik sebelumnya jantung Arya berdetak kencang.

Nahas untuknya, sebab di saat berkata demikian, tiba-tiba air di sekeliling Arga palsu menyeruak, berubah menjadi tembok setinggi dua meter. Raut angkuh Arya berganti cemas, bahkan tangannya agak gemetar.

“Saya kira Anda benar-benar hebat barusan,” komentar Jackal lalu terkekeh kecil.

“Diam kau!” celetuk Arya.

“Sekarang Anda harus menanggung konsekuensinya.”

“Apa maksudmu?” Arya melirik Jackal di belakangnya.

“Setiap perbuatan mengandung konsekuensi. Alih-alih menghadapi Guardian dengan sesama Guardian, Anda justru repot-repot menggunakan kendi besi. Akibatnya, pertarungan Anda menjadi lebih kompleks.” Jackal maju beberapa langkah hingga sejajar dengan Arya. “Ada dua tugas yang menghadang, terserah Anda mau menyelesaikan yang mana dulu. Membantai Ymir atau menerobos dinding subjek latihan dan mengalahkannya.”

“ Ymir?” ulang Arya.

“Raksasa itu bernama Ymir. Diadaptasi dari legenda nordik dengan tambahan properti baru. Apabila di dunia nyata ia mahir memanipulasi es, maka di sini Ymir adalah pengendali air. Sesederhana itu, jika Anda mau sedikit berpikir.”

Arya masih tidak mengerti, terlebih ketika dirinya terjerat dalam situasi tak menguntungkan. Memanggil Guardian tidak mampu, menyerang dengan senjata pun sama sia-sianya. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengamati kedua musuh yang akan dihadapinya—siap atau tidak.

Setelah mendengus pasrah, pemuda kurus itu melangkah ke depan, lengkap dengan kendi besi di dekapannya. Mata Arya tak kuasa beralih dari Ymir yang tingginya nyaris mencapai langit. Pun demikian, baginya pastilah ada cara guna mengakhiri pertarungan ini dengan kemenangan, tentunya. Satu-dua langkah kakinya menciptakan getaran ringan di air sehingga muncul gelombang kecil menyerupai lingkaran berlapis-lapis. Dan begitu langkah ketiganya dimulai ... Arya terdiam. Ia tersadar akan sesuatu.

“Apa itu? Apa yang Anda sadari?” Jackal—yang tingkahnya bagaikan pembaca pikiran—mulai bertanya.

“Legenda nordik, properti baru. Mungkinkah menciptakan Guardian tidak serumit yang kukira?” Arya menoleh.

“Sudah Saya bilang; segalanya akan jadi sederhana jika Anda mau sedikit berpikir.”

“Ka-kalau begitu, bahan untuk menciptakan Guardian adalah …,”

“… Perpaduan dari memori dengan properti baru.” Kedua orang itu berucap serentak.

“Baiklah! Aku akan membayangkan makhluk mitos dari dunia nyata. Kemudian aku tinggal memodifikasinya agar menjadi properti baru. Begitu, bukan?” ujar Arya antusias.

“Cobalah,” sahut Jackal.

Pemuda itu lekas-lekas mengatupkan indra visualnya sembari berharap usahanya kali ini akan berbuah manis. Pikiran Arya mulai mengingat-ingat makhluk apa yang pantas menjadi seorang Guardian. Pengetahuannya tentang makhluk mitos memang tidak begitu luas. Akan tetapi, barangkali ia tahu segelintir legenda menarik.

“Bagus,” puji Jackal kala merasakan intensitas Lucidity Arya yang meningkat. Selain itu, dirinya benar-benar dikagetkan oleh perubahan jenis Lucidity yang ada di tubuh pemuda itu. Mulanya sangat liar, dan sekarang energi di tubuhnya jadi teratur seketika.

Detik demi detik berlalu, menyisakan rasa penasaran di hati Arya ketika pikirannya usai membayangkan sosok macam apa yang pantas menjadi Guardian. Tak bisa bersabar lebih lama lagi, dia langsung membuka matanya. Dan, Arya sungguh terkesima.

“He-hebat,” gumamnya tak bergerak sedikit pun.

Di depan sana—beberapa langkah dari dirinya—seekor makhluk setinggi lima meter telah siap menanti. Tubuh besarnya memang bungkuk, tetapi otot-otot kekar menghias di sana-sini bagaikan perisai dari daging. Mulut Arya tak kuasa berhenti mendecak kagum ketika menyaksikan bulu kuning berkilauan yang membalut tubuh makhluk tersebut. Sinarnya begitu kemilau layaknya pesona segunung emas.

“Saya terkesan,” kata Jackal.

“I-ini bahkan jauh lebih keren dari dugaanku,” ujar Arya.

Dianugerahi dua pasang sayap lebar yang tiada hentinya berkibar anggun, makhluk benar-benar patut dipuja. Sepasang sayap di bagian punggung tersusun atas bulu-bulu unik seperti daun pepaya, sedangkan yang di bagian pinggang berupa bulu-bulu ramping berujung lancip.

Keheningan di medan pertarungan pecah oleh lengkingan yang berasal dari paruh kokoh monster tersebut. Iris jingga kemerahanya menatap Ymir diikuti kepala yang bergerak patah-patah.

“Harus Saya sebut apa Guardian Anda ini?” tanya Jackal.

“Garuda. Kau akan mengenalnya sebagai Garuda.”

“Saya merasa memori yang Anda pakai terlalu banyak dibandingkan properti baru. Apakah itu benar?” Jackal mendongak ke atas, tepatnya ke bagian kepala Sang monster berparuh bengkok.

“Hehehe … kau benar. Aku hanya menambahkan tanduk di kepalanya agar berbeda dari mitologi dunia nyata,” jawab Arya menyengir malu.

Benar saja. Di kepala Garuda, selain tumpukan bulu berbentuk jambul, juga terdapat sepasang tanduk merah panjang yang berkelok ke samping layaknya milik para banteng penantang matador.

“Bagaimana dengan kemampuannya?”

“Kecepatan,” jawab Arya singkat. “Maka dari itu, kuberikan ia dua pasang sayap.”

“Baiklah. Kelihatannya Anda sudah siap.” Jackal bersuara. “Mari mulai pertarungannya. Dan kali ini, Ymir takkan diam saja.” Ia bersedekap ketika tubuh raksasa Ymir beringsut dari posisinya. Monster itu menjadi agresif dalam sekejap.