Episode 7 - Kebebasan yang Tak Berarti



Arya mengangguk pasti. Tidak ada keraguan di hatinya untuk kali ini, sebab saudara kembarnya sendiri yang meminta untuk yakin. Ke mana pun Jackal akan membawanya, dalam situasi apa pun, bahkan jika itu latihan yang digelarnya sekehendak hati, maka Arya akan tetap mengiyakan.

Gari yang berdiri bungkuk di sisi Jackal tiba-tiba menjelma menjadi bola cahaya ungu yang lenyap di detik berikutnya. Kini tersisalah si orang misterius bersedekap seraya memandang ke depan. Postur tubuhnya agak condong ke depan seolah tengah menahan tawa, dan Arya masih berkutat dengan raut penuh keyakinan di wajahnya.

“Lucidity Anda menurun drastis. Sebaiknya kita akhiri latihannya sampai di sini,” kata Jackal, bersuara lembut khas dirinya.

“Hah?! Ta-tapi aku masih ....”

“Tidak! Kesadaran Anda tidak mencukupi untuk melakukan latihan lanjutan,” sergahnya. “Bangunlah dan nikmati hidup Anda di dunia nyata untuk beberapa saat.” Ia kemudian melesat selama sepersekian detik hingga tangannya mencengkeram leher Arya. Dan saat itu juga Arya gelagapan kehabisan napas.

“JACKAL!” Arya terlonjak dari kasur. Kepalanya membentur lantai cukup keras.

Pemuda itu meringis jengkel kemudian beranjak dari kamarnya. Jam dinding—dari lirikan mata Arya—telah menunjukkan pukul sepuluh. Waktu tidur yang lumayan lama, terlebih jarak tidur malam dan paginya terpaut sebentar.

Arya melangkah gontai menuruni bordes, berbelok ke kiri—melewati satu sekat ruangan—lalu berhenti di dekat meja makan. Kepala Arya masih pusing dan matanya berkunang-kunang. Pasti karena tidur terlalu lama, pikirnya. Dalam balutan kaos bola serta celana pendek, ia menyambar segelas teh yang disediakan kakaknya bersama sepiring nasi goreng.

Sesudah menenggak habis tehnya, Arya memutuskan duduk sejenak, memikirkan kejadian yang barusan ia alami di dunia mimpi. Baru kali pertama—selama kiprahnya dalam urusan lucid dream—Arya mengetahui bahwa dunia tersebut memiliki buku pedoman yang mengatur begitu banyak hal. Jangankan memahami semua informasi yang terkandung di dalamnya, letak pedoman itu saja Arya tak tahu.

Cukup lama melamun, tiba-tiba Arya dikagetkan oleh deringan belum rumah—seseorang mungkin tengah berkunjung—dan pemuda itu bergegas menyambut Sang tamu.

“Halo, Kawan.”

“Adam! K-kau tidak sekolah?” Dahi Arya mengernyit, heran bercampur kaget.

Adam yang mengenakan baju biru tak berlengan serta celana jin selutut tampak menyengir. Aneh bagi Arya, sebab mereka tidak hadir ke sekolah di hari yang sama. Padahal sudah jelas Adam itu murid pindahan, sehingga ia harus rajin demi membangun reputasi yang baik di sekolah.

“Malas, itu saja,” sahutnya sambil bersedekap. “Kau sendiri?”

“Kurang lebih sama sepertimu.” Arya bergeser beberapa jengkal, membiarkan teman barunya itu masuk ke dalam.

Mereka duduk di sofa tamu, yang bercorak loreng-loreng dari kain berumbai. Ekspresi wajah Adam terlihat semringah, membuat Arya melirik curiga. Bahkan saat duduk pun, wajah cerita pemuda ikal itu tidak sanggup berpaling dari Arya.

“Ada apa?” ketus Arya.

“Ini tentang mimpiku tadi malam,” Adam berujar begitu antusias. “Aku ... nyaris mendapat lucid dream!” Ia berseru kegirangan.

“Nyaris?” Mata Arya menyipit. “Dan kau sudah sebangga itu. Astaga, kau benar-benar cepat puas, ya?”

“Hey, bukankah itu kemajuan yang besar? Baru kemarin aku mengetahui lucid dream lalu tadi malam aku hampir mengalaminya.” Adan agak memajukan posisinya seraya tersenyum bangga. “Jurnal mimpimu juga menarik, setelah kubaca-baca.”

“Terserah.” Arya memutar bola matanya dengan malas. “Jadi, kau hanya ingin membicarakan itu?” Pandangannya kembali ke depan.

Senyum Adam kian lebar sampai mata sipitnya tinggal segaris. Sementara Arya, ia mengamati lengan kanan temannya yang merogoh saku celana. Tak berapa lama, tampak sebuah ponsel digenggam erat oleh Adam—smartphone hitam dengan fitur layar sentuh—membuat Arya sedikit tertarik.

“Sedang apa kau?” ucapnya penasaran.

“Jujur saja, aku tidak yakin kau akan terkesan. Namun, izinkan aku menunjukkannya sebentar,” sahut Adam keasyikan mengutak-atik ponselnya. “Ini dia!” Ia berseru antusias.

“Eh?” Dahi Arya mengernyit kala mendapati artikel di ponsel temannya. Judul berhuruf besar jelas tertulis di bagian atas: Pencetus Lucid Dream yang Misterius.

“Kau sudah tahu?” Adam bertanya.

“Tidak. Aku tidak ingin tahu. Astaga, ini terlalu membuang waktu,” jawab Arya bergegas mengalihkan pandangan.

“Tunggu!” Adam berlari kecil ke samping temannya dengan layar ponsel yang terisi penuh tulisan kecil-kecil. “Kau harus tahu ini. Sebuah informasi penting, sangat penting. Kau harus melihatnya.”

“Hentikan!” Arya menepis ponsel Adam yang dipajang tepat pada batang hidungnya.

“Baiklah. Kalau tidak mau baca, maka biar aku saja.” Adam mundur beberapa langkah. “Frederik Willem, seorang lelaki berkebangsaan Belanda yang meraih gelar sebagai pencetus sekaligus lucid dreamer pertama. Teorinya yang logis dalam menjelaskan fenomena lucid dream membuatnya dikenal luas oleh para ilmuwan ....”

“ ... Tidak penting! Tidak penting!” teriak Arya sok sibuk.

“Tu-tunggu,” sergah Adam yang pelipisnya sudah penuh keringat. “Namun, di balik popularitasnya sebagai pencetus teori teranyar tahun itu, Frederik Willem tiba-tiba menghilang dari muka bumi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan darinya semenjak Sang kakak meninggal dunia. Frederik dinyatakan hilang dan kasusnya tak pernah terpecahkan sampai kini.” Adam berhenti menggulirkan layar ponselnya. Iris hitam pemuda itu terfokus pada Arya. “Menurutmu apa yang menarik dari artikel ini?”

“Tidak ada.” Saking bosannya, bahkan Arya sampai pura-pura menguap lalu beranjak dari sofanya. “Aku tidak butuh informasi sekonyol itu, kau tahu? Aku ini lucid dreamer handal. Bahkan, Lucidity-ku-eits!” Arya lekas-lekas membungkam mulutnya.

“Hah?! Ada apa?” Alis Adam terangkat sebelah.

Jantung Arya terasa jumpalitan untuk sesaat karena ia takut persekongkolannya dengan Jackal serta keberadaan energi bernama Lucidity diketahui oleh Adam. Akan tetapi, agaknya pendengaran pemuda itu tidak terlalu tajam.

“Tak perlu dipikirkan.” Arya melambaikan tangannya santai. “Ah! Omong-omong aku jadi penasaran tentang hal menarik di artikel itu,” ujarnya coba berkelit.

“Bagus!” Umpan Arya sukses. “Menurutku kasus hilangnya Frederik dengan teori lucid dream memiliki hubungan.”

“Hubungan macam apa, Adam? Lama-lama kau jadi sok tahu.”

“Ma-maksudku, teori Frederik mengenai eksistensi lucid dream tercipta dari pengalaman nyatanya. Sekarang aku ingin tanya; jika kau sangat mencintai sesuatu sampai kau begitu paham mengenainya, apa yang akan kau lakukan, Arya?”

“Apa-apaan ini? Pertanyaanmu aneh, tahu!” protes Arya.

“Jawab saja!” bentak Adam tak sabar.

“Tentu, tentu aku akan mencari cara agar bisa selalu berada di dekatnya. Tidak peduli kata orang, risiko, atau dampaknya bagi orang di sekitarku.” Arya mengakhiri dengan dengusan pasrah.

“Ya, dan dalam kasus ini Frederik sangat mencintai lucid dream. Jadi ia akan melakukan apa pun demi hidup di dunia mimpi. Seperti yang kita tahu, Frederik Willem berhasil. Ia lenyap dari kenyataan, menyusul kakaknya yang sudah tiada.” Adam menjelaskan seraya menautkan kesepuluh jarinya.

“Tapi bagaimana? Itu terdengar mustahil. Bisa saja ia mati bunuh diri atau mungkin diculik lalu mayatnya dimutilasi, ah! Mungkin juga organ-organnya ....”

“... Hentikan! Semasa hidupnya Frederik dikenal sebagai ilmuwan yang paranoid dan sederhana. Ia bahkan mencurigai sopirnya telah bekerja sama dengan mafia ketika membawa mobilnya ke perpustakaan umum.” Mata Adam berkilat-kilat saat berucap.

“Dari mana kau tahu semua itu? Apakah kau jadi maniak lucid dream dalam sehari?”

“Sepertinya begitu. Sejujurnya aku hanya ingin mengetahui seluk beluk lucid dream. Aku tidak ingin hidup tanpa pengetahuan di dunia mimpi suatu saat nanti. Yah, barangkali aku butuh semacam pedoman atau buku panduan, jika benar-benar ada.”

Perkataan Adam barusan—yang menyinggung pedoman dan buku panduan—membawa ingatan Arya kepada Jackal. Dirinya sempat dianggap lucid dreamer lemah karena rendahnya pengetahuan mengenai lucid dream. Bagi Arya, lelaki misterius sepertinya amat memahami dunia mimpi, seakan ia adalah penghuni dunia tersebut. Atau dia memang benar-benar makhluk mimpi yang handal, pikir Arya.

“Hey, Arya. Menurutmu apakah ada sesuatu yang seperti itu?”

Keadaan sempat hening sejenak. Tak ada kata yang terlontar terkecuali derum sejumlah kendaraan yang kebetulan lewat.

Arya tertunduk bimbang, sementara Adam masih memandang penasaran. Pergelutan batin pecah di hati Arya. Sebuah pertanyaan besar menghantui: Apakah dirinya harus jujur atau berdusta? Tentu egonya meminta untuk berkelit, tetapi nuraninya bertahan pada kejujuran. Mata pemuda itu sayup termakan dilema, dan pikirannya mulai dibayangi oleh sosok Jackal.

“Tidak ada,” katanya pasti. “Dunia mimpi adalah dunia yang bebas. Jadi tidak perlu repot-repot mengikat diri kita dengan peraturan.”

“Benarkah? Ah, kurasa memang benar.” Wajah Adam berkerut kecewa.

Walau berkata demikian, Arya sendiri tahu bahwa dunia mimpi tidak sebebas kedengarannya. Bahkan, ia juga tahu kalau tidak ada yang namanya kebebasan mutlak.

Di mana pun manusia berada, di mana pun mereka berpijak, selalu ada aturan yang membatasi pergerakan. Atau untuk hal yang lebih buruk; mengekang diri mereka dalam kebebasan yang fana. Serigala berbulu domba, penjara berselimut keleluasaan, begitulah yang Arya mengenal kehidupannya hingga sekarang.

“Dengarkan aku! Tidak peduli seketat apa peraturan itu, berusahalah untuk merasa bebas. Sebab, manusia selalu punya batas. Dan untuk mengerti arti kebebasan, kita harus melampaui batas tersebut.” Kedua lengan Arya mengepal kuat.

“Eh? Sejak kapan kau jadi sebijak ini, Arya? Sepertinya lucid dream memang mampu mengubah kepribadian manusia,” komentar Adam. “Kalau dipikir-pikir, manusia itu walaupun lahir dengan sempurna, tetap saja penuh akan kekurangan. Benar, kan?”

“Entahlah. Akan tetapi, ada beberapa hal yang takkan bisa kita gapai, meski dalam mimpi sekali pun,” ujar Arya. “Adam, jika kau telah mendapat lucid dream pertamamu, sebaiknya buatlah sesuatu yang benar-benar menyenangkan untukmu. Jangan berniat melakukan sesuatu yang mustahil atau yang berpotensi membuatmu terkekang pada janji. Karena ketika kau nekat melakukannya, maka lucid dream akan jadi sebatas ajang keserakahan.”

Adam mengangguk pasti. Cukup mengherankan mendengar Arya berucap kata-kata penuh makna serta petuah padanya. Setahu Adam, pemuda itu adalah orang sombong sekaligus pemurah. Dia punya dua sisi kepribadian yang sangat menarik. Di balik sifat egoisnya, ternyata Arya juga seorang perenung sejati. Pantas saja ia menjadi lucid dreamer handal, pikir Adam.