Episode 6 - Jackal dan Segala Keraguan Tentangnya



“Arga?!”

“Mohon kalahkan dia.” Jackal memberi arahan.

“Ta-tapi, i-itu tidak mungkin, bukan?” Sontak saja Arya protes.

“Anda sudah berjanji untuk mengikuti perintah Saya. Kalahkan orang itu agar latihannya selesai.”

Arya mendecak kesal seraya mengusap buku-buku jarinya. Selama kurang lebih dua tahun dia berusaha menciptakan alur mimpi bersama Arga, dan hari ini—tepat sejak Jackal masuk ke hidupnya—Arga dijadikan musuh dalam sekejap.

“Maafkan aku!” teriaknya sesaat berniat melibas kembarannya itu dengan tangan kiri.

Belum sempat kepalan tangannya menghajar, Arya sudah terpental akibat aliran air yang menghantam tubuhnya. Rupanya Jackal tidak main-main. Orang itu telah melengkapi Arga dengan kemampuan super sehingga melawannya perlu tenaga serta kecerdasan.

“Anda bebas mengeksplorasi potensi Anda di sini.” Ucapan Jackal mengalun di tengah suramnya keadaan.

“Baiklah!” Arya segera bangkit.

Kakinya bergerak lincah di atas permukaan air, dan mata Arya tak henti-hentinya mengawasi pergerakan Arga. Pemuda itu tampak diam dengan tatapan kosong, sementara air di bawah kakinya mulai berputar. Sepersekian detik diperhatikan, gerakan airnya kian cepat hingga membentuk pusaran besar.

“Sial!” Arya lekas-lekas memejamkan matanya.

Sejurus dengan mata yang terbuka, tangan kanan Arya telah menggenggam kendi kecil. Terbuat dari besi, kendi tersebut dihiasi sembulan garis yang meliuk-liuk anggun, tetapi di dalamnya terkandung kepulan asap merah yang meraung-raung.

Pusaran air di bawah Arga menyeruak, berubah menjadi sepuluh tombak raksasa yang berderet mantap. Dalam satu jentikan jari, kesepuluhnya langsung melesat ke hadapan Arya. Semua celah mereka sambangi. Dan ketika Arya sudah terkepung di antara tombak-tombak mengerikan, dia mulai menyiagakan benda yang didekapnya erat.

“Rasakan ini!” Mengguncang kendinya tiga kali, Arya berhasil tertolong oleh sepuluh bola api yang melesat di antara asap merah yang dimuntahkan benda tersebut. Bola-bola dari batu terbakar itu menerjang semua tombaknya hingga lenyap tak berbekas.

Arya tersungkur diiringi dadanya yang kembang-kempis. Dia memang berhasil—cukup bagus—tetapi dirinya terlalu bodoh karena tidak tahu-menahu mengenai peraturan mutlak dunia mimpi. Situasi berangsur aman sejurus dengan sirnanya kepulan asap bekas ledakan yang menyesakkan napas. Arga masih berdiri di atas pusaran airnya, sementara Arya tidak sanggup bertindak lebih jauh lagi.

“Ah, Anda benar-benar ceroboh.” Jackal berucap seraya bersedekap di jembatan penyeberangan. “Ada sebuah buku bernama pedoman dunia mimpi, jika Anda ingin tahu. Di sana jelas tertulis bahwa Lucidity berperan penting ketika Sang lucid dreamer tidak berada di dalam mimpinya. Dari latarnya, kita memang berada di Mimpi Anda. Namun, sebenarnya ini adalah mimpi Saya. Mengerahkan Lucidity terlalu besar di mimpi orang lain berpotensi mengeluarkan Anda dari dunia mimpi.”

Arya terbeliak, disusul kepalanya yang mendongak kaget. Di atas sana, Jackal tampak santai-santai saja, sedangkan dirinya dipaksa berkelahi tanpa diberitahu hal sepenting barusan. Bukan itu saja, Arya juga tidak rela jika usaha kerasnya hanya dihargai dengan kritik.

Betapa angkuhnya pemuda itu. Meski dengan kondisi ini Arya terkesan menjadi korban, tetapi sebenarnya perangai mereka—baik Jackal maupun Arya—pada akhirnya takkan berbeda. Tujuan dan hasrat, segala yang ditawarkan Jackal kepada dirinya tidak jauh dari keinginan Arya. Ia mau saudaranya bangkit dari kematian. Dia mau Arga kembali ke dekapannya, di dunia nyata.

“BODOH!” Arya mendengking keras sampai urat lehernya menyembul keluar. “Aku tidak peduli! Aku tidak peduli ada di mimpi siapa! Hey, Jackal. Cepat katakan tujuanmu melakukan semua ini padaku!” Napasnya memburu terbakar amarah.

Jackal tiba-tiba terkekeh. Suara riang orang misterius itu menggema di tengah kesunyian. Bahkan, dengung klakson kapal tertutup karenanya. Badan Jackal bergetar, dan lambat laun kekehnya berganti menjadi gelak tawa. Tawa yang benar-benar sarat akan licik dan hasut.

“Anda orang yang sangat bersemangat,” ujarnya sehabis terbahak. “Selain itu, Lucidity Anda sangat menarik buat Saya. Lihatlah! Walau meluapkan emosi sebesar barusan, Anda tetap bertahan di dunia mimpi. Menakjubkan.” Ia kemudian melompat dari jembatan, menuju ke hamparan laut biru, tepat di depan Arya yang masih tersungkur.

“A-apa maumu?” Arya bertanya pelan.

“Menuruti kemauan Anda tentunya,” sahutnya singkat. “Kompetisi adalah satu-satunya jawaban yang paling tepat untuk mewakili tujuan Saya. Anda tahu? Ada ribuan lucid dreamer di luar sana yang berambisi mendapat kesempatan seperti Anda. Kiranya Anda dapat mempertimbangkan ucapan Saya.”

“Mempertimbangkan apanya?!” celetuk Arya.

“Kesempatan yang telah Saya beri.”

“Untuk apa? Untuk apa aku mempertimbangkan penawaran yang bahkan tak kutahu gunanya?” Arya perlahan bangkit, meskipun pandangannya masih kabur akibat menggunakan Lucidity terlampau besar.

“Bukankah kita sudah pernah membahasnya? Jika mengikuti sesi latihan sampai selesai, maka Anda berpotensi naik derajat dan mengubah kehidupan Anda di dunia nyata. Itu yang Anda inginkan, bukan? Membawa saudara Anda sebagai manusia sejati, manusia yang benar-benar hidup.” Jackal mengalihkan pandangannya pada Arga.

“Sialan kau!” Arya merangkam jubah Jackal sehingga wajah mereka terpaut beberapa senti. “omonganmu hanya berputar-putar. Tidak ada satu pun informasi baru yang kudapat dari celotehmu itu, Bedebah! Menurutmu kau hebat? Menurutmu aku segan dengan gaya bicaramu yang formal itu? Tidak sama sekali! Aku akan mengusirmu dari mimpiku sekarang juga.” Sejurus dengan lepasnya cengkeraman Arya, mereka pun segera mengambil posisi berjauhan.

“Saya sangat tidak menganjurkan ini. Memaksakan diri melawan orang yang derajatnya jauh di atas Anda bukan pilihan bijak.” Jackal coba mempengaruhi muridnya.

“Aku tidak peduli. ENYAH KAU!” Bagai deru mesin pembunuh, Arya berlari mendatangi musuhnya. Kedua tangan pemuda itu mengepal kuat, seakan dirinya akan menghabisi Jackal dalam sekali pukul.

Sesaat mata Arya mengerjap, guci kecil yang tadi dibuangnya langsung terpegang. Benda itu berasap-asap garang, bersiap menghanguskan apa pun yang menghadang. Terlihat begitu tenang, hanya itu reaksi Jackal yang tampak dari sorot dendam Arya.

Mereka akan bertemu. Satu-dua detik bisa jadi apa saja di dunia mimpi, tak terkecuali pertumpahan darah secara tidak normal. Begitu posisinya terpaut lima langkah dari Jackal, Arya lekas-lekas mengguncang kendinya sehingga lima bola api terlontar dari sana, meluncur bersama jejak asap yang pekat.

Bagaikan hujan meteor, kelima bola api menukik ke bawah perlahan-lahan, tepat di atas kepala Jackal yang tiada cemas sedikit pun. Arya memandang penuh harap, bibir tipisnya menyeringai angkuh. Sebentar lagi ledakan besar akan terjadi, yang tentunya takkan berimbas secuil pun kepada dirinya.

“Selesaikan ini!” Suara Jackal bergaung di antara topeng dan derik api.

Sontak saja, dalam sekejap aura ungu kehitaman menyeruak dari topengnya. Bukan laser maut atau tembakan petir, melainkan sesosok makhluk tinggi besar yang meremukkan kelima bola api dalam sekali libas menggunakan lengan kekarnya.

Monster setinggi tiga meter itu mengentak ke laut, menimbulkan getaran kuat sehingga ombak-ombak besar tercipta. Arya jatuh terpelanting ketika ombak mengenai dirinya, dan kendinya terpental entah ke mana. Sesuatu di luar perkiraannya telah terjadi begitu cepat. Kini Arya yakin bahwa orang yang coba diusirnya bukan sosok yang hanya berlindung di balik gaya bicara formal. Akan tetapi, seseorang yang telah merasakan nikmatnya naik derajat.

Makhluk yang dipanggil Jackal meraung-raung ke angkasa. Telinga kelinci ungunya melambai cepat, menyerupai gerakan patah-patah. Belum lagi moncong berujung hitam yang dihiasi deret gigi kecil lagi runcing, terlihat mengancam.

Sungguh seram, apalagi ia dilengkapi perawakan yang kekar. Otot besar melekat di mana-mana; perut, lengan, bahkan paha dan kakinya. Dalam bebatan kain lusuh seperti sarung putih yang membentang dari bawah pusar sampai pangkal paha, makhluk itu sudah memenuhi kategori sebagai monster mematikan.

“Cukup, Gari!” Sang monster segera bungkam, membiarkan tuannya bersedekap untuk beberapa menit. “Bagaimana? Anda masih berniat mengadu imajinasi?” Dia mulai bertanya.

Arya langsung berdiri. Ingatannya terbawa ke mimpinya kemarin, saat ia berperan sebagai panglima perang tak terkalahkan. Cukup masuk akal bila ia bilang itu mimpi yang aneh karena ada karakter mimpi yang berbuat di luar skenario. Dan, lebih masuk akal lagi jika ia berspekulasi bahwa yang menyerangnya kala itu bukanlah karakter mimpi, melainkan Jackal yang memang berniat mengacaukan mimpinya.

“Cih! Kau sudah mengawasiku sejak lama, bukan?” Arya mengerling ke depan sesaat kepalanya menunduk.

“Bukan salah Saya. Lucidity Anda yang begitu besar membuat Saya merasa rugi jika meninggalkannya begitu saja,” sahut Jackal.

Arya tersenyum tipis lalu ambruk. Pandangannya benar-benar kabur, bahkan terkesan buta. Pemuda itu, entah mengapa bisa tertawa keras, sementara air mata bercucuran melewati pipinya. Tawa yang terdengar sendu, dan di sela-sela napasnya terdapat isak.

“Hidupku sungguh tragis, bukan?” Ia menatap Jackal dengan mata merah berkaca-kaca. “Aku tidak punya kesempatan hidup bahagia, bahkan di dunia mimpi. Sialan!”

Di detik berikutnya—tepat sehabis emosinya meluap—Arya tersentak karena lengan kirinya digenggam oleh seseorang. Iris hitam pemuda itu sontak mendelik tajam pada sosok yang berani menyentuhnya. Tidak lain dan tidak bukan, Arga yang mulanya berperan sebagai pemuda dingin dan kaya akan bakat ternyata memberanikan diri menenangkan saudara kembarnya.

Tangis Arya terhenti, berganti tatapan heran bersama kedua mata yang terbeliak. Dia tahu yang memegang tangannya ini bukan Arga yang asli. Namun, kulit mereka yang bersentuhan seolah membawa Arya mundur dua tahun ke belakang, tepatnya momen ketika ia melepas kepergian orangtua dan saudara kembarnya.

Kala itu Arga sempat mengurungkan niat pergi ke tanah suci karena Arya tidak mau ikut bersamanya. Ceroboh sekaligus beruntung ketika Arya bilang bahwa dirinya belum siap pergi ke sana. Selain itu, ia juga disibukkan berbagai macam urusan sekolah, tak berbeda jauh dengan Romy yang keasyikan kuliah. Alhasil, berpisahlah mereka untuk pertama kali—sebab sebelumnya mereka selalu bersama, pergi ke mana pun serta menghadapi situasi apa pun.

Pada akhirnya, Arya dan Arga memang ditakdirkan untuk berpisah. Jika tak ada satu pun orang yang mampu menjauhkan mereka, maka saat itu maut yang memegang kendali. Sampai detik ini Arya tidak pernah rela akan perpisahannnya. Dia berniat, sangat berambisi membawa Arga yang telah tiada kembali ke kehidupannya.

“Jangan menyerah.” Mata Arga berbinar pada Arya.

“Eh?!” Arya kaget ketika tahu Arga kreasi Jackal masih berdiri di tengah pusarannya, tidak bergerak sejengkal pun. Namun, ada Arga lain yang sekonyong-konyong datang memegang lengannya.

“Memori Anda semakin pekat di sini,” ujar Jackal menanggapi kebimbangan Arya. “Sudah Saya bilang, jika melibatkan subjek yang berhubungan erat dengan memori, maka ia akan selalu muncul di mimpi Anda. Kadang menyusahkan, kadang menguntungkan, begitulah faktanya.”

“Ja-jadi?” Pupil Arya melebar. “Arga!” Ia lekas-lekas memeluk Arga di sampingnya. Pelukan yang amat erat seolah takkan pernah lepas.

“Jangan pernah menyerah,” ucap Arga membalas pelukan tersebut. “Kau harus membawaku kembali ke dunia nyata, Saudaraku.”

“Pasti. Aku pasti akan melakukannya,” tukas Arya mengikat janji setia.

Kini mereka saling menatap. Rambut hitam sekening Arya berkibar diterpa angin laut, tetapi mata rabunnya tak kunjung mengerjap. Ia tersenyum melihat alis kanan Arga yang terbelah akibat goresan silet semasa kecil. Tanda itu selalu membuat Arya mempercayai bahwa ia mampu mengubah kenyataan, ia mampu membangkitkan kembali saudaranya. Luka Arga sudah bagaikan api semangat yang menempa tekadnya.

“Baiklah.” Arya mendengus pasrah. “Aku akan mengikuti perintah darimu sepenuh hati,” lanjutnya seraya memandang Jackal.

Sang pria misterius terkekeh keras, kemudian berucap: “Jangan pernah berubah pikiran untuk kesekian kalinya. Sebab, setelah ini tujuan dari latihan kita akan terealisasi.” (Bersambung)