Episode 5 - Sang Pengacau Mimpi



Mulanya hanya tempat gelap tak bersuara, kemudian hitamnya pudar digantikan sebuah ruang tunggal di dalam rumah kecil. Ada tungku perapian yang berderik tiada henti, karpet dari bulu binatang, serta seonggok sofa berbalut kulit zebra. Pemandangan yang asing bagi Arya, terlebih ketika matanya mengerling ke jendela bujur sangkar.

Di luar sana tampak hamparan padang rumput bertabur ilalang, dan dari kejauhan deretan cemara bernuansa seram terlihat membayang. Namun semua itu tidak seaneh Jackal yang kini berdiri di hadapannya sambil bersedekap.

“Kau membawaku melintasi tempat yang tidak kukenal, padahal ini mimpiku. Bagaimana bisa?”

“Alasannya sederhana. Lucidity Saya telah melampaui batas maksimal.”

“Sebenarnya, apa Lucidity itu? Kau terus menyebutnya seolah itu hal yang berharga.” Meski bertanya demikian, sebenarnya Arya mulai muak dengan omongan Jackal.

“Anda sungguh mengecewakan. Saya kira dengan Lucidity setinggi itu, Anda sudah menguasai semua teori tentang Lucid Dream.” Jackal menautkan jemarinya. “Energi di dunia mimpi disebut Lucidity. Semua orang punya tetapi tingkatannya berbeda-beda. Itu yang menentukan seberapa kuat kesadaran Anda ketika bermimpi, dan saat Lucidity Anda melampaui batas maksimal, maka Anda akan naik derajat.”

“Apa lagi ini?!” sela Arya. “Penjelasanmu tidak masuk akal. Siapa yang peduli dengan derajat di dalam mimpi? Omong kosong.”

“Beberapa orang akan peduli, termasuk Anda. Sayangnya pikiran Anda terlalu sempit untuk mengerti hal seluas itu,” sahut Jackal. “Seperti yang Saya bilang, Lucidity Anda cukup tinggi, bahkan nyaris mencapai batas maksimal.”

Arya tampak tidak peduli lagi dengan celoteh orang bertopeng itu. Selagi dia asyik berbicara tak jelas, pikiran Arya terus terfokus pada Arga. Ia merasa bersalah karena sempat memarahinya. Selain itu, berulang kali dicobanya mengintip rambut Jackal yang tertutup tudung putih tetapi tak sehelai pun yang tertangkap matanya. Cukup sial, sebab identitas orang tersebut tersembunyi dengan sangat rapi.

“Lucidity juga bisa mengubah kenyataan hidup Anda.” Kala mendengarnya, kedua mata Arya langsung mendelik. Pikiran yang mulanya kacau, sekarang benar-benar terarah pada satu titik; penjelasan Jackal.

“Beritahu caranya kepadaku!” pinta Arya.

“Wah! rupanya Anda sangat ambisius, ya? Jika mau, Saya bisa melatih Anda. Sebelum itu, mohon pahami dulu faktor yang menghambat Lucidity Anda untuk berkembang.”

“Hah! Memangnya ada?”

“Tentu, tepat di sana.” Telunjuk kiri Jackal merujuk pada seseorang yang berdiri gemetaran di balik jendela. Sungguh, ketika melihatnya wajah Arya jadi pucat pasi.

“Apa yang terjadi dengan Arga?” pekiknya panik.

“Harap tunggu sebentar.” Respons itu memang terkesan aman-aman saja, tidak selaras dengan apa yang terjadi di detik berikutnya.

Rupanya tatapan Arga yang sarat akan ketakutan terarah pada seekor raksasa berkulit cokelat dengan kepala yang menggelembung ditambah mata mencuat seperti buah melon. Dalam bebatan tubuh telanjang nan menjijikkan, ia menggeliat kaku.

Arya bisa mendengar suara dengkuran dari mulut Sang raksasa yang berlumur ludah. Bahkan, ia juga mampu menaksir tinggi makhluk tersebut. Sekitar seratus meter, pikirnya. Namun gundah seketika menghampiri hati Arya, sejurus dengan prasangka buruk di dalam pikirannya.

“Aku takkan memaafkanmu jika kau ….” Arya coba mengancam Jackal.

“TOLONG!!!”

Sudah jelas sangat terlambat! Raksasa tak bermoral itu lebih dulu meremukkan tulang-belulang Arga yang rapuh. Dan Arya, ia membeku bersama tatapan nanar. Lenyaplah sudah kembarannya itu, terperangkap dalam perut yang buncit, membusuk lalu dibuang sebagai kotoran.

“Ti-tidak.” Sebuah cobaan berat bagi Arya. Ia harus berkutat dengan perasaan sedihnya agar tidak terbangun dari tidur, sekaligus membalas perbuatan Jackal. Kedua telinganya benar-benar panas, matanya pun jadi berkaca-kaca. “Akan kubunuh kau!” gelegarnya.

Lagi-lagi aksi Arya terhentikan. Kali ini musababnya bukan dari Sang pengacau mimpi yang bicaranya terlalu formal, tetapi dirinya mendapati Arga sedang duduk santai di sofa, menikmati sebungkus keripik, padahal semenit lalu ia ditelan raksasa.

“Apa-apaan ini?” Tubuh Arya melemas hingga jatuh tersungkur.

“Inilah masalahnya. Anda terlalu sering melibatkan memori dalam memainkan alur mimpi, terlebih ingatan tentang kembaran Anda itu. Perlu diketahui, memori menyebabkan kinerja otak menurun sehingga Lucidity ikut berkurang.” Jackal mulai menjelaskan. “Solusi yang terbaik adalah Anda harus mengatur ulang alur mimpi dengan segala properti baru yang tak ada kaitannya dengan dunia nyata.”

“Memori? Tapi mengapa kau menjadikan Arga sebagai subjeknya?” ucap Arya bersikeras.

“Bukan Saya, tetapi alam bawah sadar Anda yang memproyeksikannya sendiri. Bahkan, sampai ke mana pun Anda pergi, ia akan terus mengikuti seperti hantu pengganggu,” tutur Jackal. “Penggunaan memori yang berlebihan dan terlalu dalam sanggup menciptakan subjek mimpi yang berpikir layaknya orang-orang dari dunia nyata. Kadang mereka membantu, terkadang juga mengganggu.”

“Kau sangat paham dengan semua itu. Kini jawablah pertanyaanku! Siapa dirimu sebenarnya?” Kepala Arya mendongak pasti.

“Begini saja. Apabila Anda sukses menuntaskan sesi latihan berkala bersama Saya, maka Saya akan menjawab pertanyaan tersebut, lengkap dengan bukti. Selain itu, Anda juga berpotensi besar naik derajat.” Kedua telapak tangan Jackal terbuka lebar bermaksud menyambut niat Arya.

“Kelihatannya aku sudah kehabisan pilihan.” Arya menggapai tangan-tangan itu. “Aku … setuju.” Kalimatnya diakhiri bunyi gemuruh dari kejauhan.

“Ada yang mencoba membangunkan Anda,” ujar Jackal.

“Heh?”

“Sampai jumpa lain waktu. Senang Anda tidak menolak penawaran Saya,” katanya. “Dan, selamat menikmati tsunaminya.”

“Tu-tunggu! Ada apa ini?!”

BRUSH!

“Cepat bangun, Dasar Pemalas!”

Arya sontak terlonjak kaget ketika badan kurusnya itu diguyur seember air oleh Sang kakak. Tampangnya memang kusam bekas tidur tetapi ingatannya masih sesegar ketika bermimpi. Ya, dia masih ingat betul pembicaraan dengan Jackal barusan. Dan orang itu bilang, mereka akan bertemu di lain waktu.

“Ada apa denganmu, Arya? Kau tidak gosok gigi, kamarmu berantakan, seragammu kumal. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku bosan menasihatimu.” Romy mengomel seraya menenteng ember biru berselimut butir air.

“Sudahlah! Kau juga seenaknya saja mengguyurku. Sekarang lihat! Aku harus menjemur kasur lagi, kan? Merepotkan saja!” Arya tak mau kalah.

“Kalaupun tidak kulakukan, sudah pasti kau akan menyalahkanku karena terlambat sekolah,” tukas Romy. “Bilang terima kasih apa susahnya, sih!” Ia membenarkan kacamata minusnya yang agak melorot.

Arya melirik jam dindingnya. Itu pukul setengah tujuh, artinya ada waktu tiga puluh menit untuk bersiap-siap, lebih pagi setengah jam dari kemarin. Seharusnya ia bersyukur dan berterima kasih kepada kakaknya, tetapi rasa gengsinya menghalangi.

“Pergilah. Aku mau membereskan kamarku,” ucapnya sok sibuk.

“Semoga kau tidak membual,” sahut Romy sembari menaruh selembar uang sepuluh ribu di kasur. “Aku berangkat cepat hari ini. Setelah siap kau juga harus berangkat.” Kakinya beranjak meninggalkan kamar Sang adik.

“Terserah apa katamu,” gumam Arya, sepelan bisikan.

~~Para Pengendali Mimpi~~

Entah godaan setan mana yang menghampiri, yang jelas hari ini Arya dan hatinya sepakat untuk membolos. Sesaat keberangkatan Romy ke tempat kerja, pemuda kurus itu bergegas ke kamarnya sembari menenteng bungkusan roti. Lampu kamar masih menyala dan tiran jendela juga tak bergerak sejengkal pun.

Di dalam, ia hanya menelan setengah lembar roti tanpa minum lalu merebahkan tubuh karena kepalanya penuh akan sosok Jackal. Setiap kali mencoba untuk membayangkan hal lain, potongan mimpinya tadi malam selalu datang.

“Mengubah kenyataan, dia bilang?” Tatapan Arya menusuk ke langit-langit. “Lalu mengapa dari sekian banyak lucid dreamer, harus aku yang terpilih?” Pertanyaannya berlanjut.

Arya tahu dengan bertanya terus-terusan takkan membuahkan hasil. Ia harus bertemu Jackal untuk memastikan alasan dan motif di balik sosok orang itu. Maka dari itu, ia lekas-lekas mematikan lampu, melapisi kasur basahnya dengan sarung, kemudian barulah badannya berbaring.

“Kita akan bertemu, Jackal!” gumamnya seraya mengatupkan mata.

Tidak sampai setengah menit, Arya sudah diganggu oleh belaian angin sepoi-sepoi berpadu dengan kicauan burung camar. Konsentrasinya seketika buyar, membuat matanya terbuka dengan garang.

“Sial—eh!” Lisannya bungkam saat menyaksikan dirinya sedang berdiri di sebuah jembatan penyeberangan.

Itu jembatan yang sering ia lewati bersama keluarganya apabila hendak berlibur ke Banjarmasin. Arya masih ingat lautan biru yang menjadi alasnya, serta aspal kelabu yang mulai keropos. Selain itu, tempat ini tampak sunyi dari deruman mobil—tidak seperti biasa.

“Anda sudah lihat, bukan?” Ucapan barusan membuat Arya menoleh. “Anda terbiasa mencampur aduk antara kenyataan dengan mimpi. Itu jelas tidak bijak.” Jackal berdiri di sisi yang berlawanan darinya.

“Astaga! Aku tidak menyangka ber-lucid dream secepat ini.”

“Durasinya takkan lama,” sahut Jackal.

Benar saja! Pandangan Arya tiba-tiba memudar. Langit cerah dan birunya laut tidak lagi sejelas tadi, membuat ia terhuyung kepusingan. Namun, sebisa mungkin dirinya mencoba tenang, tidak membiarkan emosi yang menguasai.

“Lakukan Crystal Clear,” perintah Jackal yang menoleh ke arahnya.

“Lucid!!!” Arya berteriak lantang disusul oleh penglihatannya yang membaik. Kulitnya kembali merasakan belaian angin, kedua telinganya juga dapat mendengar simfoni burung camar beserta klakson kapal penyeberangan.

“Anda gagal di latihan pertama.” Jackal menimpali senyum lega Arya. “Agaknya tujuan kita semakin jauh,” lanjutnya seraya mendengus pasrah.

“Tunggu sebentar! Sebelum kau mengaturku lebih jauh lagi, aku ingin tahu apa maksudnya naik derajat? Ma-maksudku, ah! Aku hanya ingin berlatih dengan tujuan yang jelas,” sergah Arya.

Jackal terkekeh, dan kedua tangannya menyilang di dada: “Akui saja, rasa penasaran memang tidak bisa ditahan. Naik derajat itu, bisa dibilang sebuah anugerah. Atau mungkin, kebanyakan orang beranggapan itu imbalan dari kerja keras mereka.”

“Imbalan?” Dahi Arya mengernyit. “Sebenarnya apa yang sedang kita bicarakan?”

“Sebenarnya, Anda terlalu banyak bicara. Jika ingin tahu lebih banyak informasi … selesaikan dulu yang ini!” Jackal melesat, membiarkan kaki kanannya menerjang tubuh Arya hingga terjengkang ke bawah.

Jatuh dari ketinggian berpuluh-puluh meter tidak semudah kelihatannya, meski di dunia mimpi sekali pun. Arya yang sama sekali belum siap sontak kelabakan di udara. Kaki dan tangannya bergerak tak karuan berusaha menggapai apa pun yang terlihat. Namun, sudah terlambat ketika tubuhnya menghantam laut yang seolah berperan sebagai lantai transparan.

“A-apa ini?” Arya kaget sesaat tahu bahwa ia tidak tenggelam, melainkan berpijak di hamparan laut biru bertekstur seperti agar-agar.

“Ingat! jangan pernah mencampur adukkan imaji dengan realita. Jika di kenyataan air itu cair, maka di sini biarkan mereka menjadi padat. Begitulah caranya menciptakan properti baru,” beritahu Jackal.

Rasa penasarannya terjawab dan kini Arya menunggu sejauh mana Jackal mau mempermainkannya. Orang itu, yang penuh dengan misteri, bisa saja membunuhnya di dalam mimpi kalau mau. Akan tetapi, kelihatannya dia memang membutuhkan sesuatu dari Arya.

Sesudah melempar muridnya ke arena latihan, Jackal mulai menyusun daftar-daftar kegiatan di kepalanya. Menciptakan seekor naga mematikan, mengerahkan ratusan prajurit perang, atau mungkin membuat pusaran air maha dahsyat, ia bebas melakukan apapun. Namun, untuk yang kali ini Jackal tidak mau repot-repot merusak latar mimpinya.

“Saya ingin Anda tidak ragu-ragu dalam latihan. Turuti segala yang Saya perintahkan, dan jangan pernah protes atau mundur,” ujarnya.

Lautan biru yang menjadi pijakkan Arya tiba-tiba bergetar. Tidak sebesar getaran tsunami tetapi sanggup membuatnya gusar. Apa lagi ini, pikir Arya. Lima kaki dari posisinya, tiga aliran air tampak memancur lalu saling membelit bagaikan ular. Sepuluh cipratan ke atas menjelma menjadi helai demi helai rambut kehitaman, dua cipratan besar ke samping membentuk sepasang lengan berkulit sawo matang, dan sisanya—yang berupa pancuran utama—berubah menjadi badan serta kepala. Rampunglah sosok tersebut sebagai orang yang paling dikenal Arya.