Episode 68 - Benda Keras


Hari pertama berlangsung cepat. Sesuai perkiraan, Bintang Tenggara dan teman-temanya melangkah mulus ke Putaran Akhir. Kini delapan murid terbaik dari setiap blok telah terkumpul semua.

Ada beberapa murid yang tampil menonjol pada Babak Penyisihan, misalnya Gundha yang tahun ini berada pada peringkat pertama ujian masuk perguruan. Selain itu, nama Canting Emas dan Panglima Segantang pun melambung tinggi. Akan tetapi, yang paling menonjol di antara semua justru seorang gadis bertubuh mungil bernama… Kuau Kakimerah!

Seluruh kemenangan Kuau Kakimerah diraih dengan meng-KO lawan. Banyak yang tak percaya bahwa gadis mungil itu sangat tangguh. Terlebih, bahkan keempat temannya sendiri sulit memercayai hal tersebut.

Kelimanya kini melangkah ke lokasi kejuaraan. Dari puluhan panggung pertarungan, di depan mereka kini tinggal ima panggung utama yag berjejer. Sama seperti Babak Penyisihan, Putaran Akhir akan berlangsung bersamaan bagi tiap-tiap blok. Untuk menjadi juara, seorang murid peserta harus melewati tiga pertarungan. Bila tak ada halangan berarti, maka Babak Penyisihan akan rampung di hari ini.

“Terima ini,” ujar Canting Emas sambil menyerahkan sebutir pil kepada masing-masing temannya. “Ini adalah pil Cakra Raga. Ia dapat menambah sekitar 10% tenaga dalam dan mempercepat penyembuhan luka ringan yang diderita tubuh.”

“Apakah kita diperbolehkan mengkonsumsi pil penguat seperti ini?” ujar Bintang Tenggara meragukan.

“Kutanya padamu… bagaimana caranya seorang ahli dengan keterampilan khusus sebagai peramu dapat bertarung di atas panggung bila tak menggkonsumsi ramuan mereka?” ujar Canting Emas meledek.

“Terima kasih. Akan kugunakan bilamana perlu,” ujar Panglima Segantang yang memang sudah sangat berpengalaman dalam kejuaraan atau latih tarung di atas panggung.

Bintang Tenggara pun menerima dan menyimpan pil tersebut di dalam ruang dimensi mustika retak milik Komodo Nagaradja. Ia juga sempat melihat ke dalam lencana miliknya dan menemukan tambahan 100 poin. Keping-keping perak sebagai imbalan lolos menuju Putaran Akhir dapat diambil di meja panitia nanti.

“Putaran Akhir akan segera dimulai!” terdengar pengumuman membahana. Setiap peserta dianjurkan untuk selalu berada di panggung masing-masing.”

“Blok Eka, Kuau Kakimerah dipersilakan naik ke atas panggung,” terdengar panggilan dari arah panggung Eka.”

Kuau Kakimerah segera meniti tangga ke atas panggung. Terdengar sorak-sorai dukungan dari arah tribun penonton. Rupanya ia telah memiliki jajaran pendukung sendiri.

Di hadapan Kuau Kakimerah, berdiri seorang remaja perempuan…. “Namaku Sungguminasa, 16 tahun, Murid Utama, Kasta Perunggu Tingkat Enam.”

“Aku… Kuau Kakimerah, 13 tahun, Murid Madya, Kasta Perunggu Tingkat 4,” balas Kuau Kakimerah memperkenalkan diri.

“Ketapang Raksasa, Bentuk Pertama: Lengan Rambah!” seru Sungguminasa ketika wasit menyatakan pertarungan dimulai.

Lalu, dari lantai panggung yang terbuat dari tanah, tumbuh sebuah pohon ketapang besar setinggi lebih dari tiga meter. Uniknya, pohon ketapang tersebut hanya memiliki tiga cabang dahan. Bila diperhatikan dengan seksama, maka pohon tersebut terlihat mirip dengan raksasa yang kurus kering. Dua dahan di kiri dan kanan terlihat seperti sepasang lengan, sedangkan satu dahan di tengah sangat mirip dengan kepala. Kesaktian unsur kayu!

Kuau Kakmerah berdiri tenang menyaksikan lawan yang juga memiliki bakat kesaktian unsur kayu. Ia pun melangkah ringan mendekati Sungguminasa. Ketika memasuki jarak serang lawan, tetiba pohon ketapang tersebut mengayunkan dahannya seolah raksasa menyayunkan lengan!

Bintang Tenggara menyaksikan Kuau Kakimerah menghindar beberapa langkah ke belakang dan menahan diri untuk menyerang. Ia menyimpulkan bahwa Sungguminasa adalah ahli unsur kayu yang menekankan pada pertahanan. Siapa pun yang masuk dalam radius sekitar tujuh atau delapan meter dari pohon ketapang, maka akan menerima hantaman keras dari dahan pohon tersebut.

Kuau Kakmerah berdiri tenang menyaksikan lawan yang juga memiliki bakat kesaktian unsur kayu. Ia pun kembali melangkah ringan mendekati lawan dan masuk ke dalam jarak serangan pohon ketapang. Pohon ketapang segera mendapat perintah untuk menyerang!

“Wahai Datuk Mambang Tanah, kumohon inayat akan kesuburan… Rotan Bunian: Bebat!”

Kesaktian unsur kayu melawan kesaktuan unsur kayu. Dahan melawan akar. Ketapang melawan rotan. Seketika itu juga rotan berduri milik kuat kaki merah membelit erat pohon ketapang milik Sungguminasa. Pohon ketapang hanya bisa bergetar, tak dapat bergerak banyak.

“Terlalu muluk bagiku yang masih jauh dari matang dalam menggunakan kesaktian unsur kayu… untuk berhadapan dengan seorang ahli dari Pulau Belantara Pusat,” ujar Sungguminasa ringan. “Aku menyerah.”

Dengan demikian, Kuau Kakimerah melangkah ke empat besar Blok Eka. Kali ini, ia tidak meng-KO lawan layaknya pertarungan Babak Penyisihan. Meski demikian, terdengar gemuruh seruan kekaguman dari arah tribun penonton.

Pertarungan pertama di blok-blok lain pun rampung. Kejuaraan dilanjutkan. Di Blok Tri, Bintang Tenggara menaiki panggung pertarungan. Di Blok Catur dan Blok Panca, Canting Emas dan Panglima Segantang juga naik ke atas panggung. Ketiganya akan bertarung di saat yang bersamaan di blok masing-masing.

“Aku bernama Kanigoro. 15 tahun, Murid Madya, Kasta Perunggu Tingkat 6,” ujar lawan sambil memasang kuda-kuda.

“Bintang Tenggara, 13 tahun, Murid Purwa, Kasta Perunggu tingkat 4.”

Bintang Tenggara menyaksikan lawannya yang sudah siap memasang kuda-kuda. Seorang remaja lelaki yang terlihat sangat siap bertarung, meski ia tak memegang senjata apa pun. Dari kuda-kudanya, Bintang Tenggara dapat memastikan bahwa lawan tersebut menekankan pada persilatan.

“Pertarungan dimulai!” seru si wasit.

“Srek!” tetiba Kanigoro sudah melompat ke samping dan melepaskan tendangan tinggi ke arah kepala!

Bintang Tenggara sempat menangkis, namun tubuhnya terjungkal ke samping. Sedikit saja lagi, maka mungkin ia akan terjatuh keluar dari panggung pertarungan. Sungguh hantaman yang sangat keras.

“Srek!” Kanigoro kembali melesatkan sebuah tendangan menusuk ke arah ulu hati. Bintang Tenggara bahkan tak sempat melempar Segel Penempatan. Namun, Sisik Raja Naga segera aktif melindungi kedua lengannya untuk menahan tendangan tersebut. Lalu, ia mundur delapan atau sembilan langkah ke belakang.

Lengah. Bintang Tenggara lengah, karena di Babak Penyisihan tadi ia kebetulan bertemu dengan lawan-lawan yang tak terlalu tangguh. Ia juga keasyikan menyaksikan teman-temannya sendiri bertarung, sampai terlupa mengamati pertarungan-pertarungan lain di Blok Tri.

Putaran Akhir ini lain cerita, pikirnya dalam hati. Segera ia menyibak kembangan. Sambil bergerak secara berkesinambungan mengitari lawan dalam gerakan setengah lingkaran, ia pun memperhatikan kuda-kuda lawannya. Kaki Kanigoro terlihat sangat panjang. Jelas bahwa lawan mengandalkan tendangan deras dan keras.

“Srek!” Kanigoro melompat maju dan melancarkan tendangan sapuan ke bawah, sapuan ke tubuh, lalu melompat untuk melancarkan tendangan tinggi ke arah kepala. Sebuah serangan kombinasi! Bintang Tenggara hanya mampu bertahan mengandalkan Sisik Raja Naga.

“Srek!” kembali lawan menyerang cepat. Tendangan ke rusuk, tendangan sapuan ke kaki, tendangan tusukan ke arah dada, lalu ditutup dengan tendangan tinggi ke arah kepala. Sungguh kombinasi tendangan yang sangat cepat, keras dan akurat!

Bintang Tenggara terlihat mulai kepayahan. Bahkan, mengandalkan Sisik Raja Naga dan melindungi sekujur lengan dan kaki menggunakan tenaga dalam pun ia masih sangat kesulitan menangkis. Sedangkan dalam hal kecepatan, sepertinya lawan memiliki kesaktian unsur angin yang dipadukan dengan persilatan.

Di lain sisi, Kanigoro merasa dirinya berada di atas angin. Kombinasi tendangan memang sagat berbahaya -- serangan yang pertama memadukan tiga rangkaian tendangan, kombinasi serangan kedua tadi malah merangkai empat tendangan seolah menjadi satu gerakan. Baru dua jenis kombinasi sudah membuat lawan kepayahan.

Kanigoro yakin bahwa bila ia melancarkan kombinasi serangan dengan lima rangkai tendangan beruntun, maka akan dapat menjatuhkan lawan dengan mudahnya.

“Srek!” Kanigoro kembali membuka rangkaian tendangan kombinasi. Tendangan samping ke arah rusuk, tendangan memutar mengincar dada, tendangan sapuan ke bawah, tendangan menusuk ke arah ulu hati…

Empat rangkaian tendangan berkecepatan tinggi dan berkekuatan deras satu demi satu membuka pertahanan Bintang Tenggara. Keadaan ini mirip dengan penempatan, dimana lawan tersebut pelan-pelan menempatkan Bintang Tenggara ke posisi yang ideal sebelum merangkum dengan serangan terakhir yang mematikan.

“Swush!” tendangan terakhir mengincar kepala Bintang Tenggara yang terbuka, karena kedua tangannya tadi menahan tendangan ke ulu hati…

“Wush!” Akan tetapi, betapa terkejutnya Kanigoro ketika menyadari bahwa tendangannya hanya melintasi bayangan kepala Bintang Tenggara.

“Bug!” merasa berada di atas angin dan yakin sekali bahwa tendangannya terakhirnya akan meng-KO lawan, ia menjadi lengah! Bintang Tenggara leluasa melancarkan tiga tinju berkecepatan tinggi yang menghantam ulu hati!

Taktik Tempur No. 62 versi Komodo Nagaradja: Parang Gabus Menjadi Besi. Arti sesungguhnya dari peribahasa tersebut adalah: orang yang lemah berubah menjadi orang yang kuat. Dalam konteks ini, Bintang Tenggara berpura-pura kepayahan sambil membaca pola serangan lawan. Yang paling kentara, setiap rangkaian tendangan Kanigoro selalu ditutup dengan tendangan tinggi ke arah kepala. Meski serangan cepat, atau dalam hal ini tendangan, bila sudah terbaca tentunya dapat dengan mudah dihindari. Apalagi, Bintang Tenggara menggunakan jurus yang memang memiliki keunggulan untuk menghindar, yaitu Silek Linsang Halimun, Bentuk Kedua: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting.

“Kemenangan diraih Bintang Tenggara!” seru wasit cepat.

Bintang Tenggara menuruni panggung. Di panggung paling ujung, terlihat Panglima Segantang juga baru menyelesaikan pertarungan. Di panggung di antara mereka, panggung Blok Catur, Canting Emas masih bertarung melawan seorang remaja lelaki yang bersenjatakan tombak trisula.

“Siapa lawanmu barusan,” tanya Bintang Tenggara kepada Panglima Segantang saat tiba di panggung Blok Catur dan menyaksikan Canting Emas yang sedang bertarung.

“Seseorang yang memiliki keahlian unsur tanah, namun kukalahkan dengan menggunakan persilatan saja…,” ujar Panglima Segantang kurang puas.

“Candik Agni, Dananjaya!” seru Canting Emas di atas panggung sambil merangsek menyerang bertubi-tubi. Sekujur kapak berukuran sedang di kedua belah tangannya menyalakan api. Irama gerakannya pun sangat lincah. Perlahan-lahan, lawan terdorong ke salah satu sudut panggung.

“Bum!” kedua belah lengan Canting Emas menebaskan Kandik Agni secara bersamaan. Lawannya menahan dengan bilah tombak trisula. Namun, dorongan dari ledakan kesaktian unsur api melempar lawan tersebut ke luar dan terjatuh dari panggung!

“Canting Emas memenangkan pertarungan!” seru si wasit mengumumkan.

Di Blok Dwi, terlihat Aji Pamungkas sedang naik ke atas panggung. Lalu, menyusul seorang gadis berambut pendek dan bertubuh gempal.

“Hehe… sungguh tampan wajah lawanku,” ujar si gadis terlihat senang.

“Terima kasih. Kuperkenalkan diriku yang selalu disebut-sebut oleh setiap ahli siang dan malam. Tak ada yang tak mendambakan kehadiranku. Aku adalah Aji Pamungkas!” teriaknya penuh percaya diri sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi bak hendak meraih awan.

“14 tahun umurku, Kasta Perunggu Tingkat 5 peringkat keahlianku. Murid Madya golonganku,” tambah Aji Pamungkas penuh percaya diri.

“Namaku Salasika, 16 tahun, Murid Madya, Kasta Perunggu Tingkat 6,” ungkap lawan. Ia tersenyum melihat Aji Pamungkas di hadapan.

“Pertarungan harus berlangsung adil dan sepantasnya. Para peserta dilarang melecehkan lawan…,” ujar seorang guru muda yang bertindak sebagai wasit mengingatkan. Sepertinya ia sudah tahu bahwa Aji Pamungkas memiliki kebiasaan yang tercela dalam pertarungan. Akan tetapi, menyaksikan penampilan lawan yang akan dihadapi, si wasit merasa tak perlu terlalu khawatir.

“Hyat!” Salasika merangsek menyerang. Dari kuda-kuda dan teknik menyerangnya, terlihat jelas bahwa Salasika merupakan ahli silat dengan gaya bertarung jarak dekat.

Aji Pamungkas berupaya menghindar. Ia bergerak mundur… lalu mengelak ke kiri dan ke kanan. Akan tetapi, meski tubuh Salasika padat berisi, serangannya cukup gesit untuk terus mengikuti.

“Buk!” Aji Pamungkas menyarangkan pukulan ke perut Salasika. Akan tetapi, tinjunya tak menimbulkan dampak apa pun sama sekali. Malahan, kepalan tangannya terasa seperti menghantam tembok besi.

“Hehe… Tak akan mudah bagimu menembus jurus silatku,” ungkap Salasika.

“Hm? Itu jurus silat Raga Baja,” ujar Canting Emas yang baru tiba di samping Bintang Tenggara dan Panglima Segantang, turut menyaksikan pertarungan di panggung Blok Dwi. “Satu tingkat di bawah jurus silat Raga Bima milik Guru Muda Anjana…”

“Aji Pamungkas sebaiknya menjaga jarak dan memanfaatkan busur panahnya secepat mungkin,” ujar Panglima Segantang yang setengah berharap dapat bertukar tempat dengan Aji Pamungkas. Sungguh ia ingin berhadapan dengan ahli silat.

Di atas panggung, Aji Pamungkas mulai kelihatan kesulitan menghindar. Pukulan cepat yang ia lontarkan tak berdampak sama sekali. Sedangkan lawannya, sedang menunggu waktu yang tepat untuk memperoleh momentum menyerang bertubi-tubi.

Dalam keadaan yang makin mendesak, tiba-tiba terlihat perubahan di wajah Aji Pamungkas. Kedua matanya menyipit dan moncong bibirnya memanjang ke depan, seperti hendak memberi kecupan. Kuda-kudanya pun berubah. Sebelumnya ia bergerak ringan bagai angin. Namun kini, ia berdiri diam, menekuk lutut dan sedikit merunduk.

“Grab!” Aji Pamungkas melesat ke depan dan memeluk pinggang Salasika. Di saat yang sama, ia mengait satu kaki lawan dan terus mendorong.

“Apa yang ia lakukan!?” seru Canting Emas tak habis pikir. “Saat ini bukan waktunya bermain-main!”

“Bruk!” Salasika terjatuh ke belakang. Aji Pamungkas lalu bergerak menangkap lengannya. Spontan Salasika berupaya untuk bangkit, akan tetapi Aji Pamungkas mengaitkan tangannya di balik lutut Salasika. Gadis remaja bertubuh gempal tersebut kehilangan keseimbangan dan kembali terjatuh. Bahkan, kini ketiaknya terkunci oleh pitingan Aji Pamungkas!

“Hah!” Panglima Segantang terlihat terkejut, alisnya pun berkerut. “Dorong… banting… susup… piting… Itu adalah teknik… benjang!”

“Benjang? Maksudmu teknik gulat dari daerah Beurung di wilayah barat Pulau Jumawa Selatan!?” seru Canting Emas seratus persen tak percaya. “Tapi… tapi, si mesum itu berasal dari wilayah pusat Pulau Jumawa Selatan!” tambahnya.

Benjang merupakan teknik persilatan yang menekankan pada kontak fisik. Teknik benjang sarat dengan dorongan, bantingan, susupan dan pitingan. Benjang sangat efektif dalam mengunci gerakan lawan. Meski demikian, tak banyak ahli silat yang menerapkan teknik ini karena sifat dasarnya yang merupakan gulat di atas tanah. Di daerah asalnya, atraksi benjang bahkan seringkali diiringi oleh musik tradisional, dan sering pula ditampilkan dalam upacara syukuran.*

Bintang Tenggara menyaksikan dengan seksama. Inikah sebenarnya jurus Belut Darat yang Aji Pamungkas sebut-sebut sehari yang lalu? pikirnya dalam hati. Tunggu, sebenarnya bukan ‘Belut’, dari cara Aji Pamungkas mengucapkannya, penulisan yang benar seharusnya ‘Beulut’! Walaupun artinya sama saja, yaitu moa atau lindung, binatang seperti ikan yang tak memiliki sirip dan sisik, berbentuk tabung, licin dan panjang.

Saat itu, tak ada yang percaya bahwa jurus Beulut Darat benar-benar ada, karena dapat dipastikan bahwa Aji Pamungkas hanya mencari-cari alasan untuk meraba-raba lawan perempuan. Selain itu, Aji Pamungkas juga memiliki kebiasaan mengganti nama jurus. Misalnya, Panah Asmara kemungkinan besar bukanlah nama asli jurus sakti unsur angin yang biasa ia gunakan. Hm… setelah dipikir-pikir lagi, Beulut Darat pun mungkin bukan nama asli dari teknik benjang tersebut.

Berkali-kali Salasika berupaya melepaskan diri dari Aji Pamungkas yang membelit tubuhnya. Akan tetapi, upayanya tak kunjung berhasil, karena ada saja cara lawan mengunci. Bahkan, tubuh Salasika yang gempal sekali pun tak banyak membantu dalam upaya melepaskan diri. Salasika mulai terlihat frustasi.

Kini, posisi mereka berbaring menyamping di atas panggung. Aji Pamungkas menempel di belakang tubuh lawannya. Tangan kanannya menerobos ketiak kanan dari belakang, lalu memutar ke pundak, dan menekan belakang leher Salasika ke bawah. Tangan kirinya mengunci tangan kiri lawan di depan dada, dimana jarinya mencengkeram erat payudara sebelah kanan. Sedangkan pada bagian bawah tubuh, kaki kanan dan kiri Aji Pamungkas mengait dan mengunci masing-masing kaki Salasika.

Meski terkunci, Salasika masih dapat bertahan. Ia hanya merasa sangat tidak nyaman, karena ini adalah kali pertama seorang anak remaja lelaki meremas payudaranya. Meski demikian, ia sadar betul kondisi seperti ini merupakan risiko yang harus dijalani ketika seorang gadis mendalami persilatan dan tak mengandalkan kesaktian unsur tertentu.

“Aku sudah tak dapat menahan lebih lama lagi,” bisik Aji Pamungkas dari balik tubuh Salasika. “Sebaiknya engkau menyerah….”

“Tidak akan!” rintih Salasika dalam keadaan terjepit.

Salasika memiliki percaya diri tinggi akan kemampuan tubuhnya. Setiap hari ia gigih menempa raga dan mental. Jika pertarungan ini berakhir menjadi pergelutan daya tahan, maka ia akan bertahan sampai titik darah penghabisan.

Salasika memiliki kepribadian yang positif. Sebagai seorang gadis, dari segi fisik ia tak terlalu menarik perhatian remaja lelaki. Ia berharap suatu hari akan bertemu dengan seseorang yang akan melihat dirinya tidak hanya dari penampilan saja, tetapi dari kepribadian yang gigih dan baik hati.

Tetiba, Salasika merasakan sesuatu yang aneh dari kuncian Aji Pamungkas yang masih menempel erat di sekujur punggung sampai ke pinggang. Apakah lawan memiliki teknik mematikan dalam mengerahkan jurus gulat ini? pikirnya. Perlahan, namun pasti… Salasika merasakan ada sesuatu yang mengganjal di posisi pinggang bagian belakang, tempat di mana bagian tertentu dari tubuh Aji Pamungkas menempel… benda yang ia rasakan itu terus mengeras layaknya sebatang kayu. Rasanya seperti… seperti…

“A… aku menyerah!” seru Salasika dengan wajah semerah kepiting rebus!



Catatan:

*) Salah satu teknik benjang dikenal sebagai ‘beulit’ yang mungkin diadaptasi menjadi ‘beulut’ dalam jurus Beulut Darat.