Episode 67 - 50 keping perak, 1 keping emas


Cuaca di pagi hari dimana Kejuaraan Internal akan berlangsung demikian cerah. Matahari bersinar gemilang. Awan tipis diarak perlahan oleh hembusan ringan angin.

Di Kota Gapura, lebih dari seribu murid dari berbagai golongan telah hadir mengerubungi salah satu lapangan di sudut kota. Tidak semuanya akan ikut serta dalam kejuaraan. Ada yang sekedar ingin menonton karena merasa belum cukup mampu, ada pula yang telah terlewat umur. Tambahan lagi, banyak pula yang merupakan pendukung dari murid tertentu.

Bagi sekitar 500an murid yang ikut serta, mereka telah mendaftarkan diri sejak beberapa hari sebelumnya dan memperoleh nomor keikutsertaan. Banyak dari mereka akan berupaya semaksimal mungkin menjadi salah satu dari 40 murid yang melewati Babak Penyisihan dan masuk ke Putaran Akhir. Tak sedikit yang menargetkan masuk ke Putaran Akhir saja sudah cukup, tak hendak berangan-angan terlalu muluk menjadi juara kejuaraan.

Selain para murid, diundang pula putra dan putri perguruan-perguruan kecil yang berafiliasi dengan Perguruan Gunung Agung. Mereka dipersilakan menonton, dengan harapan dapat melihat standar tinggi di Perguruan Gunung Agung dan sedikit belajar dari suguhan pertarungan.

Di satu sudut lapangan, tiga orang remaja, dua lelaki dan satu perempuan, berdiri mengamati sekeliling. Mereka merupakan murid-murid dari perguruan kecil yang berkesempatan menyaksikan kejuaraan.

“Itu dia!” tunjuk remaja perempuan saat melihat seorang anak remaja yang berjalan tak beraturan. Jika diperhatikan dengan seksama, anak remaja tersebut melangkah dengan menghindari celah-celah lantai bebatuan di jalan setapak.

“Adik Bintang Tenggara!” panggil salah satu dari mereka cepat.

Bintang Tenggara menoleh ke arah suara yang memanggilnya. “Kakak Pringgarata, Kakak Terara, dan Sembalun?” ia setengah tak percaya.

Dari Kakak Lombok Cakranegara sang Kepala Pengawal Istana Utama, Bintang Tenggara telah mengetahui bahwa ketiga remaja yang berasal dari Kerajaan Parang Batu tersebut saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan-perguruan kecil di Pulau Dewa. Rupanya mereka adalah Murid Tauladan di perguruan mereka masing-masing.

“Kami mendapat undangan dan percaya bahwa engkau akan ikut serta dalam kejuaraan ini,” ujar Terara bersemangat.

“Kami akan menjadi pendukungmu!” tambah Pringgarata.

“Bintang Tenggara!” seru Sembalun kaku.

Tak ada sedikit pun perasaan dendam dari nada bicara dan raut wajah ketiganya. Tentunya, mereka merasa mendapat pelajaran berharga saat dikalahkan dalam latih tarung di Kerajaan Parang Batu tempo hari.

Bintang Tenggara tersenyum. Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya akan memperoleh penggemar dan pendukung dalam kejuaraan ini.

“Bintang Tenggara… apakah kau mengenal Anak Agung Ayu Canting Emas?” tanya Sembalun ragu. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan seakan mencari-cari.

“Haha… Kau tak sabar ingin menyaksikan idolamu, bukan?” ejek Terara.

Bintang Tenggara mengingat bahwa Sembalun memiliki bakat kesaktian unsur api. Wajar saja bila ia mengidolakan seorang ahli yang memiliki unsur yang sama.

“Hm… Canting Emas…?” gumam Bintang Tenggara.

Tiba-tiba, dari arah belakang seseorang menarik lengan Bintang Tenggara, “Hei, kau lihat dimana Kuau Kakimerah?” terdengar suara seorang gadis menegur gelisah.

“Oh… Canting Emas, perkenalkan teman-temanku dari Kerajaan Parang Batu,” ujar Bintang Tenggara cepat.

Sembalun tetiba menjadi kaku dan bisu. Pringgarata dan Terara terkekeh tak mampu menahan tawa.

Usai meninggalkan ketiga remaja tersebut, Bintang Tenggara dan Canting Emas menuju meja panitia untuk mendaftar ulang. Aji Pamungkas tiba, lalu pergi lagi ketika mengetahui bahwa ada murid-murid dari perguruan kecil yang ikut menonton. Panglima Segantang pun belum terlihat batang hidungnya.

“Aku mulai cemas,” keluh Canting Emas. “… dan aku jarang sekali cemas.” Antrian pendaftaran ulang yang tadinya mengular, terlihat mulai memendek.

“Bukankah Kuau Kakimerah menetap bersamamu di Graha Utama?” tanya Bintang Tenggara.

“Ia telah bertolak ketika aku sedang bersiap,” jawab Canting Emas cepat.

“Mungkin tadi sebaiknya aku menyuruh Aji Pamungkas menelusuri,” Canting Emas sudah mulai putus asa.

“Sepertinya kita harus segera masuk. Kemungkinan Panglima Segantang dan Kuau Kakimerah sudah berada di dalam,” ajak Bintang Tenggara.

Bintang Tenggara lalu memasuki wilayah gelanggang berlatih yang demikian luas. Terdapat puluhan panggung-pangung kecil berukuran sekitar sepuluh meter persegi, dengan tinggi sekitar satu meter dari tanah. Sepertinya panggung-panggung tersebut merupakan gelanggang bertarung pada Babak Penyisihan. Di sekeliling wilayah yang luas itu, terlihat pula tribun yang mulai disesaki para penonton.

“Dari mana saja kalian!?” terdengar Canting Emas menghardik. Di hadapannya terlihat seorang anak remaja lelaki bertubuh besar dan seorang gadis mungil.

“Tadi aku melihat Panglima Segantang memasuki gerbang dimensi dan menuju Kota Candi…,” jawab Kuau Kakimerah.

“Sahabat Bintang, hampir saja aku tersalah arah… beruntung aku bertemu Kuau Kakimerah,” ujar Panglima Segantang yang mengenakan celana baru, tetap bertelanjang dada, dan kembali tersalah arah.

“Selamat datang kepada peserta, para undangan, dan penonton di Kejuaraan Internal Perguruan Gunung Agung!” tiba-tiba terdengar suara membahana, yang disambut sorak-sorai dari arah tribun penonton.

“Hari ini adalah hari pertama Kejuaraan, yaitu Babak Penyisihan dengan sistem gugur. Pertarungan satu lawan satu akan berlangsung di atas panggung-pangung kecil di hadapan kita. Kemenangan ditentukan bila lawan tak lagi bisa bangkit dalam hitungan sepuluh, lawan jatuh ke luar panggung, atau bila lawan menyatakan dirinya menyerah. Seluruh peserta diperbolehkan menggunakan senjata, namun dilarang membunuh lawan.”

“Peserta kejuaraan dibagi dalam lima blok: Eka, Dwi, Tri, Catur dan Panca. Delapan peserta terbaik dari tiap-tiap blok akan memasuki Putaran Akhir esok hari.”

Bintang Tenggara mendengarkan dengan seksama. Semua informasi yang disampaikan telah dijabarkan Canting Emas beberapa hari yang lalu.

“Peserta yang berhasil lolos ke Putaran Akhir akan menerima penghargaan dalam bentuk 100 poin dan 50 keping perak!” tambah pengumuman tersebut.*

“Hah!?” Kuau Kakimerah terperangah. “50 keping perak!?”

“Kelima Peserta yang berhasil memenangkan Putaran Akhir di setiap Blok, dan menjadi wakil Perguruan Gunung Agung dalam Kejuaraan Antar Perguruan, akan menerima penghargaan dalam bentuk 250 poin dan 1 keping emas!” tambah pengumuman tersebut, kembali disambut dengan sorak-sorai dari penonton.

“1 keping emas…,” Kuau Kakimerah bergumam. Kedua matanya yang sipit seolah membesar. Semangat bertarungnya tiba-tiba menggebu.

“Aku berada di Blok Catur,” ujar Canting Emas. “Melihat dari jumlah peserta, setidaknya kita harus mengalahkan dua belas orang dalam sehari ini.

“Blok Eka!” Kuau Kakimerah berseru.

“Blok Dwi,” ujar Aji Pamungkas mengulum senyum.

“Blok Tri,” guman Bintang Tenggara sambil melihat sisi belakang Lencana Purwa miliknya. Terdapat tulisan Tri dan angka 8. Rupanya, lencana tersebut juga berfungsi sebagai tanda pengenal selama kejuaraan.

“Blok… Panca,” Panglima Segantang akhirnya menemukan Lencana Utama miliknya.

“Kejuaraan Internal Perguruan Gunung Agung dengan ini… resmi dibuka!” suara pengumuman semakin membahana.

“Blok Eka, peserta no. 1, segera menuju panggung no. 1,” tiba-tiba terdengar suara dari Lencana Madya milik Kuau Kakimerah. Tanpa basa-basi ia pun segera melangkah pergi.

“Ada apa dengannya?” tanya Aji Pamungkas.

“Aku pun tak tahu…,” Canting Emas kebingungan melihat gelagat Kuau Kakimerah yang tak biasa.

“Ayo, kita saksikan pertarungannya,” Panglima Segantang segera menyusul Kuau Kakimerah. Diikuti yang lainnya.

Kuau Kakimerah kini terlihat berdiri di atas panggung. Di hadapannya seorang remaja lelaki bertubuh jangkung berjalan santai.

“Pertarungan dimulai!” ujar seorang wasit yang berdiri di antara mereka. Tugas menjadi wasit dalam setiap pertarungan diemban oleh seorang Guru Muda dari Perguruan.

“Heh… cebol! Kau kupersilakan menyerang terlebih dahulu,” ujar remaja jangkung itu.

“Srek!” Kuau Kakimerah tetiba melompat dan segera mendarat di depan lawannya.

“Buk! Buk! Buk! Buk!” Kepalan kedua belah tangan mungil dengan cepat dan berkali-kali bersarang di ulu hati lawan! Remaja jangkung pun jatuh tergeletak tak berdaya di tempat.

“Blok Eka, peserta no. 1 memenangkan pertarungan,” seru wasit cepat.

“Hah!” Canting Emas terkejut bukan kepalang. Ia adalah yang paling khawatir karena Kuau Kakimerah tak punya motivasi dalam bertarung.

“Apakah kau mengajarkannya persilatan?” bisik Panglima Segantang ke arah Canting Emas.

“Tidak… tapi aku pernah memintanya mengunjungi Kejuruan Persilatan,” jawab Canting Emas masih terlihat ragu.

“Kukame! Selamat!” Aji Pamungkas segera hendak memeluk Kuau Kakimerah yang baru saja turun dari panggung. Namun, tetiba tubuhnya terhalang sebuah parang hitam berukuran besar.

“50 keping perak… 1 keping emas…,” terdengar Kuau Kakimerah bergumam.

“Blok Tri, peserta no. 8 segera menuju panggung no. 35,” kini panggilan untuk Bintang Tenggara.

Di atas panggung, seorang remaja lelaki bertubuh besar telah menunggu. Saat wasit memberikan aba-aba petanda pertarungan dimulai, lawan pun langsung segera menyerang. Namun, entah mengapa, tetiba si lawan seolah tersandung sesuatu dan… terjatuh keluar dari atas panggung. Bintang Tenggara memenangkan pertarungan dimana, secara teknis, ia bahkan tak menyentuh lawan.

“Blok Dwi, peserta no. 69” terdengar suara dari Lencana Madya milik Aji Pamungkas.

“Hehe… kini waktunya peserta bernomor cantik beraksi,” ujar Aji Pamungkas sambil melompat ke atas panggung.

Seorang gadis remaja berparas ayu lalu menyusul naik ke atas panggung. Wajah Aji Pamungkas seketika itu pula berubah. Kedua matanya menyipit, dan moncongnya memanjang. Mereka pun langsung saling menyerang. Pertukaran pukulan berlangsung sengit!

“Buk!” pukulan si gadis ayu menghantam dada kiri Aji Pamungkas!

“Kyaa!” namun justru lawan yang tetiba berteriak. “Dia meraba… dia meraba pinggulku!”

“Gadis ayu, kau menghantam dadaku. Aku kehilangan keseimbangan,” rintih Aji Pamungkas sambil mengusap-usap dada.

“Lanjutkan pertarungan,” ujar sang wasit.

“Aku tak hendak menonton pertarungan ini,” cibir Canting Emas melangkah pergi. Ia disusul Panglima Segantang dan Kuau Kakimerah. Hanya Bintang Tenggara yang bertahan menyaksikan pertarungan.

“Kyaa!” lawan kembali berteriak. “Dia… Dia sengaja menyentuh payudaraku!”

“Hei! Apa yang kau lakukan!?” sergah wasit ke arah Aji Pamungkas.

“Hah… apakah aku tak diperbolehkan menghantam dada lawan? Diskriminasi!” hardik Aji Pamungkas terlihat sebal.

“Kau dilarang melecehkan lawan!” teriak si wasit kehilangan kesabaran.

“Melecehkan? Kumohon wasit tidak melecehkan jurusku…. Aku adalah pewaris tunggal maha jurus silat terkemuka! Pastinya wasit pernah mendengar maha jurus… Belut Darat!” sergah Aji Pamungkas penuh percaya diri. Kedua telapak tangannya bergerak-gerak seperti hendak meraba-raba.

Si wasit melongo kehabisan kata-kata. Tak pernah seumur hidupnya mendengar sebuah maha jurus silat yang bernama Belut Darat…

“Aku menyerah!” teriak lawan Aji Pamungkas.

“Aku menyerah…,” keluh lawan Canting Emas, bahkan sebelum wasit memberikan aba-aba pertarungan dimulai. Anak remaja lelaki tersebut lalu berjalan gontai menuruni salah satu panggung Blok Catur.

“Bak! Buk! Bak! Buk!” Panglima Segantang berhadapan dengan lawan yang juga bertubuh besar. Mereka hanya saling pukul, tak ada yang mengelak atau menangkis. Setelah beberapa pertukaran pukulan, Panglima Segantang memenangkan pertarungan baku hantam itu.

Matahari kini tepat berada di atas kepala. Di salah satu panggung terlihat seorang gadis mungil berhadapan dengan seorang gadis remaja yang meluncurkan kesaktian unsur api. Si gadis mungil melompat ke kiri dan ke kanan, menghindari bola-bola api.

“Cetas!” tiba-tiba seutas rotan berduri memecut bahu gadis yang baru saja melemparkan bola api. Lawan tersebut lalu terjatuh dan tak dapat melanjutkan pertarungan.

Kuau Kakimerah melompat turun dari atas panggung pertarungan. Ia baru saja menyelesaikan pertarungan keenam. Keseluruhan pertarungan dimenangkan dengan status lawan yang KO.

Keempat orang temannya yang menonton melongo. Apa yang terjadi padanya? Benak mereka tak henti mencari-cari jawaban yang paling masuk akal.

“50 keping perak… 1 keping emas…,” terdengar Kuau Kakimerah bergumam.

Canting Emas, Bintang Tenggara, Panglima Segantang dan Aji Pamungkas semakin melongo.

Apakah ia kesurupan mambang mata duitan?” bisik Aji Pamungkas terlalu dekat ke telinga Canting Emas. Jawaban yang ia terima adalah pukulan sikut ke arah rusuk.

Aji Pamungkas telah menyelesaikan lima pertarungan. Tiga lawan perempuan menyerah, dua lawan lelaki terjungkal keluar panggung.

Di Blok Tri, Bintang Tenggara menyingkirkan kelima lawannya. Dua lawan terjatuh ke bawah panggung, satu lawan menyerah, dan dua lawan lagi terkapar tak berdaya setelah menerima satu pukulan yang sangat cepat.

Canting Emas juga menyelesaikan lima pertarungan, dimana dua lawan menyerah sebelum bertarung, satu menyerah setelah setengah babak belur, dan dua lawan lagi babak belur tak sadarkan diri.

Di Blok Panca, Panglima Segantang seperti raksasa yang tak terkalahkan. Keenam kemenangannya diraih melalui baku hantam. Meski, beberapa bagian tubuhnya terlihat membiru.

“Apa yang hendak kau capai dengan cara bertarung seperti itu?” ujar Bintang Tenggara ke arah Panglima Segantang. Kelimanya kini sedang beristirahat makan siang di salah satu rumah keluarga besar Canting Emas.

“Aku hendak menguji kemampuan bertahanku dalam kejuaraan ini,” jawab Panglima Segantang ringan. “Kawan Bintang juga hendaknya melakukan langkah yang sama.”

Bintang Tenggara melanjutkan makan siangnya. Dalam hati ia menggerutu, kemampuan bertahan dalam persilatan adalah kemampuan dalam mengelak atau menangkis serangan lawan. Baku hantam serampangan bukan untuk menguji kemampuan bertahan, tapi lebih kepada menguji seberapa tebal kulitmu.

Di samping Bintang Tenggara, Kuau Kakimerah masih saja bergumam…. “50 keping perak… 1 keping emas”


***


“Sungguh Sesepuh Kelima,” tegur Sesepuh Ketujuh, “tindakanmu menjebak anak-anak itu dengan pengumuman penjelajahan ke Pulau Garam merupakan sesuatu yang tak patut.”

“Tindakan yang tak patut itu kemungkinan menyelamatkan Negeri Dua Samudera dari prahara,” jawab Sesepuh Kelima santai. “Meski, aku sempat khawatir ketika mereka tetiba menghilang dan masuk ke dalam gerbang dimensi di sebuah tebing….”

“Penemuan Cemeti Adipoday adalah kebetulan belaka… Yang sedang kubahas adalah tindakanmu, bukanlah hasilnya,” keluh Sesepuh Ketujuh.

Di depan kedua tetua tersebut, terkembang sebuah layar besar yang terbuat dari formasi unsur kesaktian. Di dalamnya terdapat lagi layar-layar kecil yang menampilkan berbagai kejadian di atas sejumlah panggung pertarungan.

“Peserta no. 1 dari Blok Eka, sungguh menarik…,” ujar Sesepuh Kelima mengalihkan pembicaraan.

“Hm… Peramu Sihir, jika tak salah hasil yang disampaikan oleh Prasasti Budi Arda atas anak itu…,” ujar Sesepuh Ketujuh mengingat-ingat.

“Benar, salah seorang dari teman Canting Emas. Ia berasal dari Pulau Belantara Pusat. Mungkin Sesepuh Ketujuh tertarik mengangkatnya sebagai anak didik?” ujar Sesepuh Kelima menyibak senyum.

“Telah disepakati bahwa kelima pemenang kejuaraan akan mendapatkan bimbingan dari kita para tetua. Bintang tenggara telah memiliki Maha Guru Keempat dan Canting Emas di bawah pengawasan keluarga besarnya. Bilamana kelompok tersebut berhasil memenangkan kejuaraan, maka aku memilih Prajurit Batu dan Pemanah Buta,” ujar Sesepuh Kelima.

“Kejuaraan internal baru dimulai. Kita nantikan saja hasilnya…,” Sesepuh Ketujuh tak hendak berspekulasi.

“Aku hendak membicarakan hal lain yang lebih mendesak…,” Sesepuh Ketujuh terdiam sejenak. “Ini menyangkut hadiah utama yang dijanjikan pada kejuaraan antar perguruan….”

“Oh… perihal ‘pedang’ itu?” Sesepuh Kelima segera menebak kegundahan Sesepuh Ketujuh.

“Firasatku mengatakan ada yang tak kena... Mengapa panitia menjanjikan pusaka yang demikian berharga sebagai hadiah kepada perguruan yang memenangkan kejuaraan…?” Raut wajah sesepuh ketujuh terlihat ragu.

“Dari sisi sejarah, pusaka itu memanglah berharga. Akan tetapi, kekuatannya telah memudar…,” ungkap Sesepuh Kelima kembali menatap layar.



Catatan:

*) Nilai tukar:

1 keping perunggu = Rp1.000

100 keping perunggu = 1 keping perak = Rp100.000

100 keping perak = 1 keping emas = Rp10.000.000