Episode 66 - Dayang Kuntum


Hampir sebulan berlalu sejak Bintang Tenggara berlatih di bawah bimbingan Maha Guru Keempat. Dari waktu ke waktu Panglima Segantang datang berkunjung dan mereka berlatih bersama. Maha Guru Keempat pun dengan senang hati memberikan tunjuk ajar kepada keduanya.

Karena tempat tinggal Maha Guru Keempat adalah bentangan hutan yang dikelilingi tembok tinggi, maka Siamang Semenanjung dan Harimau Bara bisa dilepas tanpa pengawasan. Kedua binatang siluman tersebut sudah saling mengenal, sehingga dapat bermain bersama. Toh, kalau pun Harimau Bara berbuat jengkel, ada Maha Guru Keempat yang berada pada Kasta Emas Tingkat 1 yang dapat dengan mudah membungkam harimau liar itu.

Bukan hanya Panglima Segantang, bahkan Aji Pamungkas pun beberapa kali sempat datang berkunjung. Aji Pamungkas datang hanya untuk menciptakan kesan bahwa ia memiliki hubungan baik dengan Bintang Tenggara dan Maha Guru Keempat. Dengan demikian, ia selalu berhasil berkelit dari murid-murid yang senang merisak, sekaligus mendapat peluang mendekati gadis-gadis di Perguruan. Akan tetapi, pernah satu waktu Aji Pamungkas bertanya kepada Maha Guru Keempat tentang kesaktian badai yang dimiliki Dewa Indra.

Canting Emas dan Kuau Kakimerah pun rutin datang berkunjung. Bintang Tenggara dan Canting Emas beberapa kali menjalani latih tarung. Dalam latih tarung tersebut, Bintang Tenggara meraih tiga kali kemenangan, tiga kali seri dan tiga kali kalah. Sedangkan Kuau Kakimerah, ia hanya bermain dan tidur siang di dalam hutan. Mungkin ia merindukan kerimbunan dan kesuburan Pulau Belantara Pusat.

“Dua hari lagi adalah pembukaan Kejuaraan Internal Perguruan Gunung Agung,” ujar Canting Emas kepada empat orang temannya yang memang pagi ini dijadwalkan untuk bertemu di Kediaman Maha Guru Keempat.

“Kalian tentu masih ingat betapa pentingnya kejuaraan ini... Masing-masing dari kita harus memperoleh satu tiket menuju kejuaraan antar perguruan di Kota Ahli, agar terhindar dari hukuman tak adil Perguruan…,” Canting Emas menghela napas panjang dan menatap bimbang ke arah Bintang Tenggara.

“Aku tak suka menyaksikan kalian tatap-tatapan!” seru Aji Pamungkas. “Berapa kali sudah kalian berlatih tarung di balik semak-semak!?”

“Kuau Kakimerah, terimalah ini…,” Bintang Tenggara menyodorkan Kartu Satwa Siamang Semenanjung. Kekhawatiran Bintang Tenggara dan Canting Emas adalah… Kuau Kakimerah. Ia tak memiliki motivasi bertarung yang memadai.

“Terimalah Kartu Satwa itu,” bisik Canting Emas pelan.

Kuau Kakimerah terlihat ragu.

“Kukame, kakang mengerti bahwa dirimu sungkan menerima Siamang Semenanjung… Bagaimana bila kakang saja yang disegel di dalam Kartu Satwa? Dirimu nantinya dapat memanggil kakang kapan saja,” rayu Aji Pamungkas.

Kedua tangan Kuau Kakimerah spontan menggapai Kartu Satwa Siamang Semenanjung. Rupanya perasaan sungkan, langsung dapat dikalahkan oleh perasaan ngeri. Bintang Tenggara segera memastikan bahwa Siamang Semenanjung kini juga dapat dipanggil oleh Kuau Kakimerah.

Canting Emas melanjutkan dengan menjabarkan aturan kejuaraan tersebut. Kejuaraan hanya terbuka bagi murid Perguruan Gunung Agung yang berusia di bawah 17 tahun. Tidak ada batasan kasta dan peringkat. Hal inilah yang menjadi tantangan terbesar.

Kejuaraan dibagi dalam ‘Babak Penyisihan’ dan ‘Putaran Akhir’. Babak Penyisihan menjaring 40 peserta terbaik. Ke-40 peserta tersebut kemudian akan terbagi dalam lima Blok dan berhak mengikuti Putaran Akhir. Masing-masing Blok nantinya terdiri dari 8 peserta. Juara Putaran Akhir dari tiap Blok yang akan memperoleh satu tiket ke kejuaraan antar perguruan mewakili Perguruan Gunung Agung.

“Bagaimana bila nantinya kita berada dalam Blok yang sama?” sela Aji Pamungkas.

“Janganlah khawatir tentang hal itu,” sanggah Canting Emas.

“Canting Emas, janganlah berbuat curang!” seru Panglima Segantang.

“Tidak ada kecurangan. Aku telah mendatangi Sesepuh Kelima. Karena keikutsertaan kita dalam kejuaraan ini adalah kewajiban, maka sejak awal babak penyisihan, kita sudah dipastikan akan masuk ke grup yang terpisah.

Atas anjuran dari Maha Guru Keempat, Bintang Tenggara beristirahat dari latihan fisik. Dalam dua hari menjelang kejuaraan, ia lebih banyak menghabiskan waktu di Pustaka Purwa. Sekarang, ia tak hanya menelusuri informasi seputar berbagai jenis racun, ia juga semakin mendalami catatan-catatan tentang Sang Maha Patih. Anehnya, juga tak banyak informasi yang tersedia tentang ahli yang disebut-sebut sebagai penguasa Negeri Dua Samudera di masa lalu dan pahlawan di saat Perang Jagat tersebut.


***


“Jangan malas bergerak!” seru Kum Kecho tegas.

“Baik, Tuan Guru!” jawab Melati Dara. Meski, napasnya terengah-engah, dadanya naik turun, dan sekujur tubuhnya bermandikan keringat. Terlebih lagi, otot-ototnya terasa perih sekali dan kepalanya pening bukan kepalang.

Melati Dara tak pernah berlatih fisik sebelumnya. Ia yang memiliki keterampilan khusus sebagai peramu, lebih banyak menghabiskan waktu menelusuri kitab-kitab ilmu terkait tumbuhan dan binatang siluman. Hanya sesekali, dan bila mendesak sekali, maka baru ia akan masuk ke hutan atau naik gunung demi mendapatkan bahan-bahan dasar ramuan yang segar.

Tak pernah terbayang seumur hidupnya bahwa ia akan melatih fisik. Pagi ini, Melati Dara sedang menapak bukit. Rambut hitam panjangnya digelar ke belakang. Kemudian, terlihat bahwa rambut tersebut mengikat sebuah pedati beroda empat. Di atas pedati, Kum Kecho duduk bersila di samping beberapa gumpal batu. Andai saja ada yang memodali Kum Kecho dangan seutas pecut, maka pemandangan ini layak disebut sebagai perbudakan pada tingkat paling kejam. Sebagai catatan, Sang Maha Patih dulu menghapus segala macam bentuk perbudakan.

“Aku hanya menambah beban seberat 50 kg dan kau sudah kepayahan sekali,” keluh Kum Kecho ibarat seorang tuan tanah dari atas pedati.

“Aku masih kuat, Tuan Guru!” seru Melati Dara menahan kelehahan dan rasa sakit.

“Bila engkau berhasil menarik beban 200 kg, aku akan menemanimu mencari salah seorang yang membantai keluargamu,” ujar Kum Kecho ringan. Tiba-tiba pedati bergerak sedikit lebih cepat.

Jelang siang, Kum Kecho dan Melati Dara sudah kembali ke wisma megah mereka. Melati Dara segera membersihkan diri di rumah mungilnya di belakang wisma itu. Ia lalu menyiapkan makan siang untuk tuan dan dirinya sendiri. Biasanya kegiatan makan siang berlangsung dengan Kum Kecho menyantap di atas meja makan, sedangkan Melati Dara duduk bersimpuh di lantai. Yang membuat hati Melati Dara senang adalah apa pun yang ia masak, sang Tuan Guru akan menyantap lahap tanpa komentar.

Seusai makan siang, Melati Dara akan memilah tetumbuhan dan daging binatang siluman untuk disajikan pada binatang siluman peliharaan Tuan Guru. Pekerjaan ini tidaklah terlalu rumit karena telah dikerjakan setiap hari. Lalu, pemuda-pemudi anggota Partai Iblis yang dulu pernah menyerang gubuk mereka seringkali datang membawakan pesanan bahan baku. Entah apa alasan mereka membantu, mungkin karena mereka memang berhati mulia, atau terkesan pada keahlian Kum Kecho, atau hanya merasa iba pada sesama anggota Partai yang masih menjalankan pekerjaan sebagai budak.

Jelang petang, Melati Dara melanjutkan latihan. Latihan ini justru yang paling berat baginya. Dikarenakan, ia harus berkonsentrasi penuh.

“Bentangkan rambut menjadi enam bagian,” ujar Kum Kecho.

“Hyah!” Melati Dara segera mengalirkan tenaga dalam ke rambut di kepalanya. Ia pun menebar mata hati ke setiap helai rambut agar berpilin menjadi enam gumpal. Bagian inilah yang paling berat, dimana ia harus memecah mata hati dan pada saat yang sama tetap fokus.

“Nginggg…” Tetiba terdengar denging nyamuk beterbangan.

“Enam ekor nyamuk, hadapi setiap satunya agar tak seekor pun mengigitmu,” ujar Kum Kecho perlahan. Ia juga mengeluarkan seekor kutu untuk menu latihan berikutnya.

Melati Dara terus berkonsentrasi. Bukan perkara mudah untuk memberikan perintah agar setiap jalinan rambut bergerak dengan kecepatan dan arah berbeda.

Latihan petang akhirnya usai. Tubuh dan kepala terasa seperti hendak remuk. Namun, Melati Dara masih memiliki satu harapan yang tak pernah terpenuhi sampai saat ini.

“Tuan Guru… berkat kerja keras Tuan Guru melatih hambamu ini, tubuh tuan guru kotor ditempeli peluh dan debu…,” ujar Melati Dara. “Ijinkan hari ini, untuk pertama kalinya, Tuan Guru sudi hamba mandikan…,” wajah Melati Dara memerah.

“Ck…,” Kum Kecho hanya mendecakkan lidah dan menatap kosong, lalu segera memutar tubuh dan melangkah masuk ke dalam wisma.

Sejak latihan dimulai sekira sebulan lalu, Melati Dara setiap petang menawarkan diri untuk memandikan tuannya. Banyak budak-budak lain di Partai Iblis yang berkesempatan untuk mandi bersama tuan mereka. Akan tetapi, belum sekali pun Kum Kecho menerima permohonan budaknya itu.

Melati Dara hanya bisa menelan ludah kekecewaan. “Mungkin hari ini belum waktunya…,” gumamnya pelan.

Hari pun beranjak malam. Melati Dara baru selesai meramu Jamu Pasak Raga. Jamu ini merupakan ramuan sakti tingkat dasar yang banyak dikonsumsi para ahli Kasta Perunggu. Manfaatnya adalah memulihkan kelelahan sekaligus meningkatkan stamina. Inilah salah satu kelebihan dunia keahlian, dimana banyak tersedia pilihan ramuan sakti untuk menunjang pertumbuhan. Jadi, esok pagi Melati Dara dapat kembali berlatih dalam kondisi yang prima.

“Tok! Tok! Tok!” terdengar suara pintu wisma milik Kum Kecho diketuk.

Melati Dara sedang membaluri rambutnya dengan Tonik Rambut. Dari arah belakang wisma, ia kemudian berlari cepat ke arah depan dan membukakan pintu. Ia melihat seorang pemuda yang wajahnya lebam dan darah menetes dari pelipis. Pemuda tersebut adalah salah satu dari anggota Partai yang dulu menyerang gubuk, dan kini menjadi salah seorang teman Melati Dara.

“Kakak Selong, apakah yang terjadi? Siapa yang memukulimu?”

“Kami sedang berlatih, lalu tiba-tiba dirisak oleh kelompok orang yang tak kami kenal,” ratap Selong. “… yang lain sedang dianiaya.”

Melati Dara menyadari bahwa sejak Kum Kecho membunuh junjungan mereka, nasib anggota Partai Iblis tersebut terkatung-katung. Mereka tak lagi punya seseorang yang menjadi andalan, sehingga sering menjadi sasaran perisakan.

“Kebetulan sekali…,” terdengar suara Kum Kecho dari balik Melati Dara. “Budakku, persiapkan dirimu. Malam ini adalah kesempatan untuk berlatih tarung.”

“Siap, Tuan Guru!” jawab Melati Dara cepat. “Ijinkan hambamu mengganti pakaian terlebih dahulu.

Kum Kecho dan Melati Dara melangkah cepat di tengah kegelapan malam yang diterangi bulan purnama. Melati Dara mengenakan jubah berwarna hitam yang dibuat semirip mungkin dengan Jubah Hitam Kelam milik Kum Kecho. Sejak kapan budak ini menyiapkan jubah itu? pikir Kum Kecho dalam hati. Di depan mereka, Selong berlari tertatih-tatih menuntun arah. Samar-samar di arah depan lalu terlihat sekelompok api obor menari-nari dimainkan angin.

“Serahkan harta benda, kalian!” perintah seseorang terhadap beberapa remaja yang tergolek dan babak belur.

“Swush!” Melati Dara melompat cepat ke arah para perisak. Jubah hitam yang ia kenakan tertinggal di tempat.

“Demi Tuan Guru yang Luhur, aku akan membasmi kejahatan kalian! Bertobatlah karena pertobatan adalah satu-satunya harapan demi menyelamatkan jiwa di dunia dan akhirat!” terdengar ceramah singkat ibarat seorang pahlawan super hendak beraksi menumpas kejahatan.

Lalu, di depan bulan purnama yang sedang bersinar terang terlihat siluet hitam seorang perempuan. Lekuk tubuh siluet tersebut demikian sempurna ibarat sang dewi yang sedang turun langsung dari bulan. Tiba-tiba, muncul bayangan hitam seperti bunga melati mekar berkelopak enam melatarbelakangi bagian kepala sang dewi. Sungguh pemandangan yang memesona sekaligus menyeramkan.

Enam orang yang sedang merisak terkesiap melihat bayangan yang bagi mereka demikian perkasa dan, di saat yang bersamaan, anggun.

Sosok perempuan tersebut lalu mendarat ringan sambil menjinjitkan kaki sekira sepuluh meter dari mereka. Enam kelopak bunga melati mekar dan berwarna hitam di balik kepalanya lalu memendek sampai batas pinggul.

Kini, bukan hanya para perisak, bahkan Kum Kecho yang menyaksikan setengah tertegun. Gadis remaja tersebut mengenakan pakaian super ketat yang terbuat dari bahan kulit. Pakaian berwarna hitam mengkilap itu menutup dari ujung kaki sampai tulang selangka sedikit di bawah leher. Di beberapa bagian pakaian, terlihat ikatan-ikatan pengencang mirip pengikat pada sabuk. Lalu, pada posisi leher, melingkar sebuah kalung tali kekang dengan duri-duri pendek dari besi yang mengkilap! *

Kum Kecho melotot. Pakaian seperti apa itu? Ia sangat berharap bahwa gadis tersebut bukanlah budaknya. Kum Kecho pun mengamati wajah si gadis dengan seksama. Bibirnya diolesi gincu berwarna hitam dan kedua matanya mengenakan celak hitam tebal. Iya, tak salah lagi, itu adalah Melati Dara. Entah bagaimana caranya budak itu melompat sambil berdandan, keluh Kum Kecho dalam hati.

“Siapakah gerangan engkau!?” seru salah seorang perisak mengamati seorang perempuan dengan Kasta Perunggu Tingkat 5, yang berpakaian ketat dan menggairahkan.

“Kalian dapat memanggil aku dengan nama… Dayang Kuntum!” seru Melati Dara.**

Rahang Kum Kecho spontan menganga. Selain penampilan yang sungguh ajaib, kini Melati Dara bahkan memiliki nama samaran! Ingin rasanya ia segera memutar tubuh dan secepatnya melangkah pulang ke wisma.

“Kau hanya sendiri, sedangkan kami berenam!” seru salah satu dari mereka mengancam.

“Haha… sebaiknya kau lepaskan pakaian ketat itu…,” salah seorang dari mereka terlihat genit.

“Srek!” Dayang Kuntum alias Melati Dara melompat menyerang. Dua gumpalan rambut berbentuk kelopak bunga melati memanjang dan melesat ke tanah di belakang tubuhnya untuk memberikan dorongan pada kecepatan lompatan. Dua kelopak rambut lagi melesat ke arah kiri dan kanan, dan menancap di batang pohon. Ia lalu menarik dengan kedua tangannya, semakin menambah kecepatan lompatan. Di saat yang sama, dua gumpal rambut melesat dan melecut keras ke arah kepala dua lawan di kiri dan kanan.

“Brak!” sepasang telapak kaki Dayang Kuntum alias Melati Dara yang bergerak cepat menghantam dada seorang lawan paling depan. Sementara itu, dua kelopak rambut yang awalnya mendorong, telah kembali melindungi tubuhnya dari serangan beberapa orang di bagian tengah.

Rupanya, rambut Dayang Kuntum alias Melati Dara dapat digunakan untuk melontarkan tubuh, menghantam lawan, serta melindungi dari serangan. Sungguh rambut-rambut tersebut dapat bergerak sangat leluasa dan cepat.

“Cres!” Dua kelopak dari rambut yang tadinya berfungsi untuk menarik tubuh, berpilin tajam menusuk lengan dan bahu dua orang lagi lawan di hadapan. Lima orang lawan rubuh dalam satu tarian gemulai kelopak rambut.

“Dayang Kuntum, Bentuk Pertama: Cupak Tertegak, Suri Terkembang!” seru Dayang Kuntum alias Melati Dara seusai merapal jurus sakti yang membuat rambutnya bagai enam kelopak bunga nan lincah bergerak. Rupanya Dayang Kuntum adalah nama samaran, sekaligus nama jurus! **

Karena belum pernah diketahui akan ahli yang memiliki kesaktian unsur rambut, maka Kum Kecho mengarahkan Melati Dara untuk menciptakan jurus-jurus sendiri. Jurus pun tercipta karena mengacu pada teknik melatih ala Kum Kecho, yang memanfaatkan binatang siluman nyamuk sebagai lawan uji coba. Meski demikian, bentuk kelopak bunga melati yang sedang mekar dan nama jurus, merupakan kreativitas Dayang Kuntum alias Melati Dara sendiri.

“Heh… cukup lumayan jurus saktimu,” seru lawan terakhir, sepertinya ia adalah yang terkuat dari rombongan perisak ini.

Pemuda tersebut lalu mengeluarkan sepasang parang berukuran sedang yang ia kira dapat dengan mudah membabat jalinan rambut. “Akan kupangkas rambutmu dan kucabik-cabik tubuhmu!” serunya sambil menghunuskan parang. Ia lalu merangsek menyerang, mengayunkan parang membabi buta!

Dayang Kuntum alias Melati Dara berdiri diam, setengah menjinjit. Dengan tenang, ia membuka dan mengarahkan telapak tangannya ke pemuda yang sedang menyerang. Lalu, dari balik tubuhnya menyebar jalinan rambut berbentuk kelopak bunga melati. Jalinan rambut tersebut lalu menerkam dan membungkus lawan di depan, persis bentuknya seperti bunga yang kuncup!

Andai saja si lawan mengetahui bahwa bila seekor kutu milik Kum Kecho meledakkan diri, maka ledakannya dapat diredam di dalam kuncup rambut tersebut. Pada saat yang sama, bila Melati Dara membungkus diri sendiri dengan jurus sakti ini, maka ledakan seekor kutu tak akan mampu mencederai dirinya.

“Dayang Kuntum, Bentuk Kedua: Bunga Kembang Berbalik Kuncup,” gumamnya pelan. Sungguh kebiasaan yang berbeda. Bila biasanya para ahli melafalkan nama jurus sebelum atau ketika jurus dirapal, maka Melati Dara alias Dayang Kuntum melafalkan nama jurus sesudah jurus tersebut dikerahkan. ***

Lawan yang dibungkus oleh kelopak rambut yang kuncup, akhirnya dilepaskan. Ia tergeletak pingsan. Melati Dara alias Dayang Kuntum berdiri setengah menjinjit. Ia mengamati sekeliling.

Entah mengapa, benaknya melambung akan ingatan pada keluarga. Ayah dan ibunya adalah pasangan saudagar kelas menengah. Selama hidup mereka tak pernah berbuat curang. Hari-hari mereka berjalan biasa-biasa saja. Lalu, kakak dan adiknya sangat riang. Setiap kali pulang saat liburan di perguruan, maka keduanya akan menantikan dan tak sabar mendengarkan ceritera-ceritera seru seputar dunia persilatan dan kesaktian.

Namun, mereka telah tiada. Satu-satunya keluarga yang Melati Dara alias Dayang Kuntum miliki adalah seorang juru selamat. Juru selamat tersebut membawanya pergi saat tertangkap basah membunuh salah seorang yang memfitnah keluarganya di atas perahu. Juru selamat tersebut memberikan penawar terhadap Ramuan Pelumat Jiwa. Juru selamat tersebut memberinya tempat berteduh. Juru selamat tersebut juga yang membela dirinya dari genggaman anggota Partai Iblis yang suka menyiksa budak. Juru selamat tersebut lalu mengajarkan dan memupuk keahlian...

Melati Dara alias Dayang Kuntum segera menuju dan bersimpuh di hadapan Kum Kecho. Ia menantikan pandangan atas penampilannya dari sang juru selamat, satu-satunya orang yang ia anggap sebagai keluarga.

“Melati Dara adalah nama yang bagus,” ujar Kum Kecho pelan. “Kau tak perlu mengganti namamu… Dayang Kuntum cukup sebagai nama jurus saja.” Kum Kecho segera memutar tubuh dan melangkah pergi.

Melati Dara tertegun. Kedua kelopak matanya sembab.



Catatan:

*) Dalam Episode 46, Melati Dara menemukan sejumlah pakaian kulit ketat di ruang ‘penyiksaan’.

** dayang/da•yang/ n 1 gadis pelayan di istana; 2 kl anak perempuan, gadis;

    kuntum/kun•tum/ n 1 kuncup bunga yang hampir mekar

***) Nama ‘Bentuk’ jurus Dayang Kuntum disadur dari beberapa peribahasa.