Episode 65 - Cincin



“Canting Emas… tak kusangka malam ini engkau mengajakku ke tempat sunyi dan sepi seperti ini. Lakukanlah keinginanmu… renggutlah aku… Aku pasrah….”

“Aji Pamungkas… lepaskan tanganmu dari pundakku,” Canting Emas setengah berbisik.

“Ca-Em… bila engkau hendak menghabiskan waktu berduaan memadu kasih… mengapa engkau ajak mereka…?” Sebulir keringat mengalir di pelipis Aji Pamungkas. Ia pun menoleh, di belakangnya terlihat berdiri Panglima Segantang dan Kuau Kakimerah.

“Plak!” Canting Emas menepis tangan Aji Pamungkas.

“Canting Emas, aku menolak bersubahat dalam sebuah tindak kejahatan,” ujar Panglima Segantang gugup.

“Kita tidak melakukan tindak kejahatan. Ini adalah rumahku!” seru Canting Emas.

“Lalu… mengapa kita mengendap-endap di tembok luar rumahmu seperti ini?” sela Panglima Segantang.

“Ada yang perlu aku ambil,” jawab Canting Emas. “Kita sudah sepakat betapa pentingnya rencana ini. Kau tak perlu masuk. Kau dan Aji Pamungkas lakukan saja tugas kalian mengawasi sekeliling!”

Canting Emas lalu menoleh ke arah Kuau Kakimerah, “Kumohon buatkan temali rotan untuk kita memanjat.”

“Canting Emas, benarkah engkau tinggal di istana ini?” tanya Kuau Kakimerah setiba di sisi atas tembok batu nanti tinggi itu.

“Ini bukanlah istana, ini adalah kompleks rumah asli Pulau Dewa. Bagian rumah memang terbagi dalam sembilan bagian,” bisik Canting Emas. “Sudahlah… ikuti aku.”


***


Bintang Tenggara melangkah santai menuju gerbang dimensi. Ia hendak menuju kediaman Maha Guru Keempat di Kota Tugu.

Hatinya lebih tenang. Semalam ia mendapat informasi yang sangat berharga. Menurut Guru Komodo Nagaradja, yang merupakan salah satu dari Sembilan Jenderal Bhayangkara itu, sesungguhnya unsur kesaktiannya adalah lubang hitam. Jadi, bukan sekedar hitam sebagaimana yang dimaklumi oleh banyak ahli. Apa pun itu lubang hitam, adalah perkara lain. Setidaknya, ada seorang ahli digdaya di masa lampau yang juga memiliki unsur kesaktian yang sama. Adalah Sang Maha Patih, legenda penyelamat yang mempersatukan segenap kekuatan di Negeri Dua Samudera untuk angkat senjata di saat Perang Jagat.

“Kenakanlah ini!” tiba-tiba terdengar suara berseru.

“Tap!” Tangan kanan Bintang Tenggara menangkap sesuatu yang dilemparkan ke arahnya. Sedikit nyeri rasanya, karena luka akibat Sirih Kemuning belum sembuh benar.

Kedua mata Bintang Tenggara lalu melihat Canting Emas si pelempar. Di sampingnya berdiri Panglima Segantang dengan tampang kusut, Kuau Kakimerah yang matanya merah, serta Aji Pamungkas yang di sudut bibirnya terlihat bekas air liur mengalir. Apa yang mereka lakukan semalam? Sepertinya mereka belum tidur…? pikirnya dalam hati.

Bintang Tenggara lalu memerhatikan dengan seksama benda kecil yang kini berada di telapak tangannya. Sebentuk cincin logam keemasan tanpa batu, dengan ukiran-ukiran kecil yang tak ia kenal.

“Cincin apakah ini?” tanya Bintang Tenggara penasaran. “Aku tak bisa menerimanya.”

“Aku tak memberikan cincin itu padamu. Kukatakan untuk kau kenakan!” seru Canting Emas, galak seperti biasanya.

“Tapi, cincin ini…”

“Sahabat Bintang, kenakanlah cincin itu…,” ujar Panglima Segantang terlihat seperti sedang memanggul beban berat di pundaknya.

“Bintang di langit tenggara…,” Kuau Kakimerah, yang kini juga bermata merah, bergumam.

“Tapi, cincin ini… terlalu besar,” ujar Bintang Tenggara.

“Kau bisa kenakan cincin itu di ibu jarimu…,” ujar Aji Pamungkas sambil menari-narikan ibu jari kanannya, menunjukkan cincin Batu Biduri Dimensi yang demikian besar.

“Pada Kasta Perunggu, seorang ahli mengembangkan unsur kesaktian sesuai bakatnya. Bakat tersebut adalah bawaan lahir, tapi belum tentu diturunkan dari garis keluarga. Walau, ada sejumlah ahli memiliki peruntungan terlahir dengan lebih dari satu bakat unsur kesaktian,” terang Maha Guru Keempat.

“Pada Kasta Perak, walaupun hanya memiliki bakat satu unsur kesaktian, seorang ahli bisa mulai mempelajari lebih dari satu unsur. Unsur kesaktian, dengan demikian, terbagi menjadi unsur utama dan unsur pendukung,” sambung Maha Guru Keempat.

“Pada Kasta Emas, unsur kesaktian utama atau unsur kesaktian pendukung berpotensi menjadi unsur ‘Inti’. Inti berarti, unsur kesaktian tertentu mencapai puncak terkuatnya. Hanya satu unsur yang dapat menjadi unsur Inti.”

Bintang Tenggara mencerna informasi dari Maha Guru Keempat. Informasi ini terkandung juga di dalam Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian, namun ia belum menelusuri sampai sejauh itu.

“Kau lihat Patung Dewa Indra yang berdiri megah di kota ini?” tanya Maha Guru Keempat.

“Diceriterakan bahwa Dewa Indra merupakan dewa perang. Penguasa petir dan badai,” jawab Bintang Tenggara cepat.

“Aku berada Pada Kasta Emas Tingkat 1. Bakat kesaktianku dulu adalah unsur petir dan kesaktian unsur Inti yang kumiliki saat ini adalah juga unsur petir,” ujar Maha Guru Keempat, sambil mengangkat lengan kanan setinggi dada. Telapak tangannya dibuka dan jemari rapat.

“Petir adalah unsur kesaktian yang tak stabil. Ia ibarat pedang bermata ganda. Petir bisa menyengat lawan, namun juga bisa mencelakai penggunanya,” sambung Maha Guru Keempat

“Zzzztt…” Tiba-tiba percikan listrik mengalir dari ujung jemarinya. Percikan tersebut kemudian bertambah luas dan melingkupi seluruh lengan, lalu sekujur tubuhnya.

“Zzzzztt…” Tiba-tiba Maha Guru Keempat melejit gesit. Akan tetapi, lintasan langkahnya tidaklah lurus, tidak pula zig-zag. Lintasannya larinya… sama sekali tak beraturan. Dengan cepat ia tiba di depan sebatang pohon besar yang berjarak sekira seratus meter dari posisinya tadi!

“Petir dapat diimbuh ke otot dan sendi untuk menambah kecepatan yang lintasannya tak terduga…,” Maha Guru Keempat telah kembali tiba di hadapan Bintang Tenggara. “Dan konsumsi tenaga dalam saat menggunakan unsur kesaktian tertentu, tak akan sebanyak saat engkau melepaskan jurus Silek Linsang Halimun.”

Bintang Tenggara masih melongo melihat atraksi Maha Guru Keempat. Ia menyadari bahwa jurus Silek Linsang Halimun adalah rangkaian jurus untuk menyembunyikan dan melarikan diri. Silek Linsang Halimun bukanlah jurus menyerang.

“Zzzzztt…” sekali lagi Maha Guru Keempat melejit ke arah pohon yang sama. Lintasannya berbeda lagi dari sebelumnya. Lalu, ia menghunuskan jemari tangan yang telah diimbuh unsur petir!

“Beledar!” Batang pohon besar itu hancur berantakan layaknya disambar halilintar! Bintang Tenggara teringat akan halilintar yang menyambar tiang kapal perang Kerajaan Parang Batu saat berlayar menuju Pulau Dewa beberapa waktu lalu.

“Petir dapat pula dialirkan untuk menghasilkan serangan mematikan,” Maha Guru Keempat kembali berdiri di hadapan Bintang Tenggara. “Akan tetapi, diperlukan waktu yang sangat panjang untuk membiasakan diri menggunakan unsur kesaktian ini.”

Bintang Tenggara terpaku di tempat. Sungguh gesit gerakan Maha Guru Keempat, dan sama sekali tak terduga lintasan langkahnya. Bintang Tenggara pernah menyaksikan kesaktian unsur-unsur lain saat dikerahkan. Akan tetapi, baru kali ini ia melihat langsung betapa ampuhnya kesaktian unsur petir.

“Akan tetapi, unsur petir memiliki kelemahan yang signifikan. Ia tak memiliki kemampuan dasar untuk bertahan…,” ujar Maha Guru Keempat, sambil memerhatikan anak didiknya yang baru itu.

“Hei… jangan melamun!”

Bintang Tenggara tersadar. Aku ingin menguasai unsur petir! ia bersorak dalam hati.

“Bagi seorang ahli dengan bakat kesaktian unsur petir, yang perlu dilakukan sangatlah sederhana. Cukup mengalirkan tenaga dalam ke bagian tubuh tertentu, lalu menggunakan mata hati untuk mengaktifkan kilatan petir,” kembali lengan Maha Guru Keempat dilingkupi kilatan demi kilatan listrik. Ia lalu terdiam sejenak. Kedua matanya seperti memerhatikan sesuatu yang dikenakan anak didiknya.

“Darimana kau dapatkan cincin yang tersemat di ibu jari kananmu itu?”

Canting Emas meminjamkan cincin ini padaku…,” jawab Bintang Tenggara yang sedang memerhatikan kilatan listrik di tangan Maha Guru Keempat. Sejak awal ia sudah curiga pada cincin itu, namun kini kecurigaannya semakin dalam. Apakah mereka tak tidur semalaman karena mencuri?

“Canting Emas…,” Maha Guru Keempat terdiam. “Mungkinkah ini takdirmu…?”

“Hm…?” Bintang Tenggara terlihat bingung.

“Itu adalah Cincin Gundala… Si Putra Petir.”*

Bintang Tenggara spontan mengangkat lengan kanannya, sambil mencermati cincin yang tersemat di ibu jarinya itu.

“Cobalah alirkan sedikit tenaga dalam ke Cincin Gundala itu, lalu menggunakan mata hati, bayangkan dan perintahkan unsur petir agar mengemuka dari cincin itu,” ujar Maha Guru Keempat.

“Ouch!” rintih Bintang Tenggara terkena sengatan listrik.

“Kau perlu berlatih keras untuk membiasakan diri,” ungkap Maha Guru Keempat, sambil menghela napas panjang.

Sebelum hadirnya cincin tersebut, Maha Guru Keempat berencana hendak mengimbuhkan kesaktiannya ke dalam tempuling dari tulang binatang siluman milik Bintang Tenggara. Berbekal unsur kesaktian Inti Petir yang ia miliki, maka tindakan mengimbuhkan unsur kesaktian ke dalam senjata pusaka bukanlah hal yang mustahil. Lagipula, dalam legenda perang antara Dewa Indra dan Ashura, Dewa Indra sendiri memiliki senjata yang terbuat dari tulang.

Bintang Tenggara mengangguk pelan. Dari mana mereka mendapatkan Cincin Gundala ini? pikirnya sambil membayangkan teman-temannya itu.

“Heh! Kau masih ingat apa unsur kesaktianku, wahai bocah?” sergah Komodo Nagaradja tetiba menggunakan mata hati.

“Unsur tanah, Guru.”

“La… lu…?” nada Komodo Nagaradja terdengar merendahkan.

“Lalu… unsur tanah… menetralisir… petir…,” jawab Bintang Tenggara ragu.

“Yaaa…?” Komodo Nagaradja sepertinya menikmati permainan ini.

“Sisik Raja Naga…,” gumam Bintang Tenggara pelan sambil mengaktifkan perisai tersebut di lengan kanannya.

“Zzzzztt…” Bintang Tenggara kemudian melingkupi sekujur lengan kanannya dengan kilatan-kilatan listrik. Tak sedikit pun unsur petir yang dihasilkan menyengat lengannya.

“Perisai apakah itu!?” sergah Maha Guru Keempat, mata melotot menyaksikan perisai bersisik berwarna merah bata di sekujur lengan anak didiknya.


***


“Paman Balaputera dan Si Kancil, sekali lagi kuucapkan terima kasih atas pertolongan yang telah diberikan,” ungkap Kum Kecho. Saat ini ia sedang duduk di atas kepala seekor ular raksasa.

“Sungguh malang nasib binatang siluman ini,” ungkap Balaputera.

“Ia menyerang kita tanpa alasan,” jawab Kum Kecho cepat. “Sepertinya ia memang hendak mengantarkan nyawa.”

Balaputera menghela napas panjang. Ia tak hendak berdebat.

“Kau memiliki keterampilan khusus sebagai pawang,” ujar Balaputera mengalihkan pembicaraan. “Di saat yang sama, jurus silatmu sungguh digdaya dan unsur kesaktianmu sangatlah unik… Andai saja kau memanfaatkan keahlianmu untuk kebajikan…”

“Tak ada kebajikan yang bermanfaat. Kebajikan hanya menyisakan kepedihan,” jawab Kum Kecho datar. “Aku ketahui bahwa Paman Balaputera adalah orang baik, tapi… aku bukan Paman Balaputera.”

“Sebaik-baiknya makhluk hidup adalah yang paling bermanfaat bagi makhluk lain, demikian seruan para pendahulu yang menjadi tauladan kita,” ungkap Balaputera.

“Kebaikan terdiri dari banyak ragam, yang utama menyangkut: kebaikan dalam menyebarkan ilmu, kebaikan dalam berbagi harta benda, kebaikan dalam menyumbangkan tenaga, serta kebaikan dalam bersikap dan berprilaku,” tambah Balaputera.

“Heh… aku mengenal betul seseorang yang memiliki prinsip yang senada. Malangnya… ia mati konyol!” jawab Kum Kecho mencibir.

“Sungguh aku berharap suatu hari kelak engkau akan menemukan kebaikan di dalam dirimu,” kembali Balaputera menghela napas panjang.

“Daftar dongengku kini bertambah… Si Kancil dan Kum Kecho…,” ujar Si Kancil pelan. Terlihat ia bersedih.

“Terimalah ini,” Balaputera menyerahkan sesuatu kepada Kum Kecho.

“Cincin apakah ini?” jawab Kum Kecho ragu.

“Cincin itu adalah pusaka keluargaku. Suatu hari nanti mungkin akan bermanfaat bagimu,” jawab Balaputera sambil menyibak senyum.

Setelah mengucapkan perpisahan kepada Balaputera dan Si Kancil, Kum Kecho mendatangi salah satu gerbang dimensi Partai Iblis di Pulau Belantara Pusat. Menggunakan gerbang dimensi tersebut, ia kini telah kembali berada di Pulau Lima Dendam.

Hari sebentar lagi malam. Kum Kecho tiba di kediamannya dan langsung menuju ke arah pintu belakang. Di halaman belakang, ia menemukan sebuah rumah mungil yang tertata rapi.

“Hei, Budak! Keluar sekarang!” sergahnya ke arah rumah mungil itu.

Melati Dara baru saja selesai mandi dan sedang menyisir rambut panjangnya. Betapa terkejutnya ia kala mendengar panggilan dari suara yang sangat ia kenal. Tergopoh-gopoh, Melati Dara segera melangkah ke luar. Bahkan, ia terlupa bahwa masih mengenakan… selembar handuk.

“Apa yang sedang engkau lakukan, budak pemalas!?”

“Ha… hamba baru selesai membasuh tubuh… Tuan,” jawab Melati Dara sambil bersimpuh. Baru ia sadari bahwa masih mengenakan handuk. Tangan kirinya segera menggenggam erat handuk bagian atas agar tak melorot, sedangkan tangan kanannya menarik bagian bawah agar bokongnya tidak terpapar.

Hidung Kum Kecho menghirup wangi semerbak yang khas dari sosok gadis remaja. “Siapa yang membangun rumah ini?”

“Para pemuda anggota Partai Iblis yang tempo hari mengantar… mereka yang membuatkan…,” jawab Melati Dara cepat.

 “Jadi kau berbuat cabul selama kepergianku!?” tanya Kum Kecho lirih.

“Ti… tidak, Tuan. Budakmu masih suci.” Melati Dara memejamkan mata keras-keras. Ia tahu bahwa akan segera menerima jambakan. Namun, yang membuatnya lebih gugup adalah handuk yang sepertinya sebentar lagi akan melorot!

“Dusta!” seru Kum Kecho sambil menjulurkan tangannya hendak menjambak. Namun, ia sedikit memalingkan wajah karena pakaian dan posisi tubuh Melati Dara sungguh tak beradab.

“Srek…” jambakan jemari tangan Kum Kecho luput, padahal ia yakin bahwa rambut Melati Dara sudah berada dalam genggamannya. Ia pun menjambak sekali lagi, kini sambil memerhatikan dengan seksama…

“Srek…” Betapa terkejutnya Kum Kecho ketika mendapati bahwa sesungguhnya rambut Melati Dara… mengelak dari jambakan!”

“Budak, apa yang kau lakukan dengan rambutmu!?”

Melati Dara membuka mata perlahan, “Rambut…?” ia terlihat bingung.

“Jawab aku!” sergah Kum Kecho mulai tak sabar.

“Ha… hamba membaluri rambut dengan Tonik Rambut seperti yang tertulis dalam kitab ramuan milik Tuan,” jawab Melati Dara menyadari kemungkinan melakukan kesalahan. **

“Hah!” Kum Kecho terkejut. Ia menyadari bahwa ‘Tonik Rambut’ yang dimaksud adalah ramuan sakti bagi binatang siluman. Dengan membaluri ramuan tersebut pada binatang siluman yang berambut tubuh panjang, misalnya Domba Curug Garut, maka rambut mereka akan menjadi kuat dari serangan senjata lawan.

“Bagaimana proses engkau menyiapkan ramuan tersebut?” Kum Kecho mengajukan pertanyaan susulan.

“Ha… hamba meramu Tonik Rambut dari bahan-bahan sisa… menggunakan lesung batu bekas meramu Intisari Darah… Mohon maafkan hamba, Tuan…,” Melati Dara bersimpuh semakin dalam, mengabaikan handuk yang sudah mulai memaparkan kulit mulus bernuansa sawo matang.

Mungkinkah tindakan budak bodoh ini membuat ramuan menggunakan lesung batu yang kotor menyebabkan reaksi kimiawi, sehingga tak sengaja menghasilkan ramuan baru? pikir Kum Kecho. Melihat posisi Melati Dara yang masih bersimpuh, ia mendekat, lalu meraih sisi handuk di wilayah punggung…

“Tu… Tuan… Jangan, jangan sekarang…,” desah Melati Dara…

“Sret!” Kum Kecho menarik paksa handuk Melati Dara… Di saat handuk tersebut lepas dari tubuhnya… tetiba helai demi helai rambut di kepala Melati Dara memanjang dan serta-merta bergerak cepat membungkus tubuh tanpa busana itu!

Melati Dara pun terkejut bukan kepalang melihat rambut di kepalanya bergerak sendiri. Apakah yang terjadi? pikirnya.

“Hm… sesuai perkiraanku…,” gumam Kum Kecho. “Kau tak sengaja membuka bakat kesaktian unsur… rambut.” Kum Kecho hanya sedikit melirik, karena saat menarik handuk tadi ia memalingkan wajah.

Jika Kum Kecho menatap dengan seksama, maka ia dapat melihat setiap lekuk tubuh Melati Dara yang dililit tipisnya jalinan rambut. Melati Dara tidaklah bertubuh sintal layaknya Embun Kahyangan, atau langsing seperti Canting Emas. Tubuh Melati Dara berada di tengah-tengah. Payudaranya berukuran sedang, begitu pula pinggulnya. Proporsional.

Wajah Melati Dara merah padam. Secara teknis, saat ini ia tidak mengenakan pakaian sama sekali. Meski demikian, ia tetap berdiri menghadap tuannya.

“Tuan…,” ujar Melati Dara ragu. “Beberapa hari yang lalu Bupati Selatan Pulau Lima Dendam datang berkunjung. Lalu… ia mengangkatku sebagai anggota Partai Iblis…”

Kum Kecho melirik.

“…tapi di dalam hati ini hamba tetaplah budakmu!” sambung Melati Dara cepat.

Kum Kecho membalikkan tubuhnya. “Esok kita akan memulai berlatih unsur kesaktianmu.”

“Baik… Tuan… Guru…,” Melati Dara terbata-bata.

“Baik Tuan Guru,” ia mengulangi dengan nada yang lebih percaya diri. Entah mengapa, air mata mulai menetes pelan dari kedua belah matanya.

“Lintang Tenggara…” Kum Kecho menggeretakkan gigi.

“Brak!” maha jurus silat Tapak Suci menghantam dan merobohkan pintu. Lintang Tenggara yang saat itu sedang membaca, sangat terkejut. Dari ruangan lain, Guru Muda Anjana segera berlari menuju ruang tengah. Di halaman, terlihat puluhan orang pengawal tak lagi bernyawa.

“Lintang Tenggara!” seru Kum Kecho muncul dari balik debu-debu yang mengudara akibat hancurnya pintu depan Graha Bupati.

“Oh? Kum Kecho… Kau sudah kembali rupanya,” tegur Lintang Tenggara, Bupati Selatan Pulau Lima Dendam.

“Lancang sekali kau!” seru Guru Muda Anjana sambil mengeluarkan pedang hendak menyerang.

“Anjana, tahan…,” tegur Lintang Tenggara.

“Kum Kecho, aku meminta maaf karena terkesan menjebakmu dua pekan lalu…,” sambung Lintang Tenggara menduga-duga niat dari kehadiran dan ketidakpuasan Kum Kecho.

“Apakah kau putra dari Gemintang Tenggara!?” sergah Kum Kecho tak hendak berbasa-basi. ***

“Gemintang Tenggara? Siapakah gerangan ia?” Lintang Tenggara terlihat kebingungan.

Mungkinkah hanya kebetulan pada nama yang mirip? pikir Kum Kecho dalam hati. Ataukah mungkin…, reaksi wajah Kum Kecho sedikit berubah. ****

“Kebetulan sekali… ada penugasan untukmu,” Lintang Tenggara berujar tenang. Ia mengabaikan kenyataan bahwa Kum Kecho membantai puluhan pengawal serta menghancurkan pintu depan kediamannya.

“Siapakah nama orang tuamu!?” hardik Kum Kecho. Sepenuhnya mengabaikan kata-kata Lintang Tenggara sebelumnya.

“Bukan urusanmu!” sergah Guru Muda Anjana semakin tak sabar dengan sikap kurang ajar Kum Kecho.”

Kum Kecho terdiam. Hampir dua pekan ia telah bersabar hendak menanyakan jati diri Lintang Tenggara. Meski demikian, ia tak bisa berbuat gegabah. Guru Muda Anjana berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9, sedangkan Lintang Tenggara Kasta Perak Tingkat 1. Ia masih cukup percaya diri untuk berhadapan satu lawan satu dengan Guru Muda Anjana, tapi lain ceriteranya bila berhadapan dengan Lintang Tenggara.

“Baiklah, aku menerima penugasan,” ujar Kum Kecho datar. Kedua tangannya lalu memasang tutup kepala Jubah Hitam Kelam.

“Eh? “Lintang Tenggara menyeringai. “Dari mana kau dapatkan cincin itu? Sepertinya pernah kulihat di suatu tempat…”

Kum Kecho memutar tubuh dan meninggalkan Graha Bupati.

Catatan:

*) Diilhami oleh pahlawan super ‘Gundala Putra Petir’, serial komik klasik nusantara yang diciptakan oleh Hasmi (Harya Suraminata) dan pertama terbit di tahun 1969.

**) Episode 46 pernah menyinggung tentang ‘Tonik Rambut’.

***) Gemintang Tenggara, atau Lamafa Mata Api, pernah dibahas dalam Episode 18 dan Episode 23.

****) Dalam Episode 57, Kum Kecho ikut terkejut ketika mendengar nama ‘Tenggara’.

Ilustrasi Kum Kecho!