Episode 64 - ... Hitam

  

Bintang Tenggara, Panglima Segantang dan Aji Pamungkas melangkah pulang menuju Graha Utama, kediaman Murid Utama yang mereka tumpangi. Wajah Panglima Segantang masih kusut, seperti baru kali ini dalam seumur hidupnya ia melanggar aturan. Aji Pamungkas bersiul ringan, senang sekali hatinya bahwa tak ada yang akan merajam bokongnya hari ini. Bintang Tenggara lebih-lebih lagi senangnya, hari ini ia lebih kaya 100 poin dari hari sebelumnya.

Tenggat waktu yang diberikan Maha Guru Keempat untuk mengumpulkan poin masih tersisa dua hari lagi, pikirnya. Dua hari ini aku akan menghabiskan waktu di Pustaka Purwa, menelusuri kitab-kitab pengobatan, mencari petunjuk akan gejala racun yang diderita tubuh Guru Komodo Nagaradja.

Meski demikian, ada beberapa hal yang masih mengganjal di benak Bintang Tenggara… Satu bulan lagi mereka terpaksa harus mengikuti kejuaraan internal Perguruan. Kelimanya harus meraih tiket sebagai perwakilan Perguruan Gunung Agung di sebuah kejuaraan antar perguruan di Kota Ahli. Bila tidak, hukuman tak boleh meninggalkan Perguruan selama lima tahun akan diberlakukan. Sungguh merepotkan.

Satu hal lain yang juga janggal adalah dari mana asal pengumuman yang dimiliki Canting Emas? Pengumuman menjelajahi reruntuhan Istana Joko Tole setidaknya ditujukan kepada ahli setingkat Kasta Perak atau Guru Muda. Walaupun berasal dari lingkaran dalam Perguruan, tak seharusnya pengumuman itu sampai ke tangan Canting Emas. Siapa gerangan yang memberikan? Terakhir, senyuman Maha Guru Kelima saat menetapkan bahwa mereka harus mengikuti kejuaraan Perguruan sungguh mencurigakan….

Bintang Tenggara kini sedang duduk melamun sendiri di beranda Graha Utama milik Panglima Segantang. Dunia keahlian ini penuh dengan muslihat. Mungkin inilah maksud Bunda Mayang ketika berujar tentang “jalan berliku persilatan dan kesaktian.”

“Murid Bintang Tenggara…,” tegur suara yang rendah dan uzur..

“Oh, Kakek Tua. Malam sudah tiba, mengapa engkau belum pulang?” ujar Bintang Tenggara sopan kepada sang asisten rumah tangga.

“Aku hendak meminta bantuan agar Murid Bintang Tenggara berkenan menyimpan gulungan naskah milik Partai Iblis lebih lama lagi,” ujar Kakek Tua itu sambil mengeluarkan sebuah lencana.

Bintang Tenggara sedikit terkejut. Akan tetapi, ia juga mengeluarkan lencana Pasukan Telik Sandi miliknya. Kedua lencana lalu beresonansi dan bergetar pelan. Kata-kata si kakek juga mengingatkan pada gulungan naskah berwarna hitam yang perlu ia sampaikan kepada seseorang di Perguruan Gunung Agung.

“Saat ini kita tidak mengetahui siapa saja kaki tangan Partai Iblis yang masih menyelinap di dalam Perguruan,” ujar si kakek pelan.

“Kakek Tua, apakah dikau yang me-relay pesan dari kakak Panggalih Rantau tempo hari?” Bintang Tenggara sempat penasaran tentang pesan yang dititipkan ibunya itu. Bagaimana pesan tersebut bisa sampai ke dirinya yang sedang berada di dalam dimensi berlatih?

“Benar. Malam itu aku mengikutimu ketika meninggalkan Aula Budi Arda… di saat menerima pesan itu, aku segera masuk ke dalam dimensi berlatih,” jawab si kakek.

“Kakek Tua, diriku berterima kasih atas bantuanmu. Diriku juga akan menyimpan gulungan naskah tersebut sampai waktunya Kakek Tua membutuhkan.” Bagi Bintang Tenggara, menyimpan naskah tersebut bukanlah permasalahan, karena ditempatkan di dalam ruang dimensi pada mustika retak gurunya.

Seperginya si kakek tua, Bintang Tenggara melanjutkan lamunan.

“Srek… srek….”

“Aji Pamungkas… tidakkah kau tahu bahwa setiap bangunan di Perguruan Gunung Agung dilindungi formasi segel? Kau tak akan bisa mengintip menggunakan mata hati,” ujar Bintang Tenggara di saat mendapati Aji Pamungkas mengendap-endap hendak meninggalkan tempat tinggal mereka.

Bintang Tenggara sudah mengetahui bahwa di Asrama Purwa dan Wisma Madya, terdapat petugas jaga yang bersiaga setiap saat. Mereka juga bertugas untuk memastikan agar murid-murid tidak berkeliaran sesuka hati pada malam hari. Akan tetapi, lain halnya dengan penjagaan di Graha Utama yang relatif lebih longgar. Inilah alasan utama Aji Pamungkas hendak menumpang. Ia ingin bebas mengintip ke mana saja setiap ada kesempatan.

“Heh! Bintang Tenggara… Janganlah membuat kerbau bertanduk panjang. Sebaiknya engkau tidak mencampuri urusan orang lain,” hardik Aji Pamungkas. “Lagipula… tujuanku adalah mengintip langsung, tanpa menggunakan mata hati.”

“Sejak pertama melihatmu, aku selalu merasakan ada yang aneh dari sorot matamu,” ujar Bintang Tenggara. “Lalu, Prasasti Budi Arda melabelmu sebagai ‘Pemanah Buta’….” *

Aji Pamungkas mundur setengah langkah sebelum menjawab, “Ya. Buta adalah buto, dan buto berarti raksasa atau siluman dalam bahasa daerah asalku.”

“Jangan berbohong,” ujar Bintang Tenggara pelan. “Keanehan yang kurasakan dari sorot matamu sesungguhnya adalah formasi segel.”

Bintang Tenggara menjadi yakin betul akan kemampuannya mendeteksi formasi segel ketika mengetahui bahwa Kuau Kakimerah bisa merasakan unsur kesaktian. Jadi, kemampuan mendeteksi sesuatu bukanlah kemampuan yang tak lazim. Formasi segel dalam pandangan ahli secara umum ada yang bersifat transparan, semi transparan dan kasat mata. Segel Penempatan, misalnya, adalah formasi segel yang semi transparan, sedangkan segel Pulau Bunga bersifat transparan. Bagi ahli dengan keterampilan khusus sebagai perapal segel, maka aura segel dapat mereka rasakan terlepas apakah kasat mata atau tidak. 

Formasi segel yang Bintang Tenggara rasakan di kedua bola mata Aji Pamungkas itu bersifat transparan sehingga sulit disadari. Sepertinya formasi tersebut berfungsi mengikat mata hati dengan kedua bola matanya.

“… dan sepasang bola mata itu bukanlah milikmu, namun milik binatang siluman yang dicangkok. Sungguh engkau adalah ‘Pemanah Buta’ karena tak memiliki bola mata,” tutup Bintang Tenggara pelan.

Aji Pamungkas terduduk diam. “Kedua bola mataku diambil oleh siluman sempurna yang tak dikenal di saat aku masih bayi…,” ujarnya pelan, wajahnya pilu. “Namun, sejak bayi pula aku telah membuka mata hati.

Bintang Tenggara mengetahui bahwa pantauan mata hati kebanyakan ahli sifatnya seperti radar yang menjangkau radius tertentu. Akan tetapi, bila perkiraannya benar, berkat sepasang mata siluman dan formasi segel itu, Aji Pamungkas mampu memfokuskan mata hatinya. Dengan kata lain, jangkauan mata hati Aji Pamungkas bukan hanya melingkari diri, tapi dapat difokuskan menjadi jauh lebih panjang… mirip teropong!

“Kemampuanku ini tidak serta-merta diperoleh dengan mudah. Saban hari aku harus berlatih!” seru Aji Pamungkas berupaya terlihat tenang.

Bintang Tenggara memerhatikan Aji Pamungkas dengan seksama. Ia turut bersedih atas nasib Aji Pamungkas… Seperti apakah rasanya tak memiliki sepasang bola mata…?

“Meski demikian…,” ucap Aji Pamungkas menatap dalam ke arah Bintang Tenggara. “Kau tak bisa… Kau tak bisa menghentikan aku berlatih malam ini!” tambahnya cepat sambil berlari seringan angin ke arah gelapnya malam.


***


“Yang Terhormat Maha Guru Keempat, diriku telah berhasil mengumpulkan 50 poin sesuai arahan Maha Guru,” ujar Bintang Tenggara. Kini ia kembali berada di depan gubuk di dalam hutan Kota Tugu.

“Bagus,” jawab lelaki setengah baya tersebut. “Selanjutnya, pergilah ke Gerai Kesaktian untuk membeli daun Sirih Kemuning.”

“Daun Sirih Kemuning?” Bintang Tenggara sedikit kebingungan.

“Daun Sirih Kemuning adalah tumbuhan siluman. Ada banyak manfaat dari Sirih Kemuning, salah satu fungsinya adalah untuk mendeteksi unsur kesaktian. Letakkan di atas telapak tanganmu dan alirkan sedikit tenaga dalammu ke arah daun tersebut.”

Bintang pun segera melangkah menuju Gerai Kesaktian yang berada di Kota Tugu. Bangunan tersebut berlantai tiga. Semakin tinggi lantai, maka semakin mahal barang-barang yang dijual di sana. Rupanya gerai tersebut banyak dipenuhi oleh murid-murid Perguruan.

“Apakah ada yang berukuran lebih besar?” tanya seorang anak remaja bertubuh besar dan berambut cepak.

“Panglima Segantang, apa yang hendak engkau beli?” tanya Bintang Tenggara.

“Oh, Sahabat Bintang. Celanaku yang lama mengecil,” jawab Panglima Segantang ringan.

“Apakah ada pakaian yang dapat membuat pemakainya tak terlihat? Pakaian sakti yang mampu membuat penggunanya tak kasat mata?” terdengar suara seseorang bertanya kepada pelayan di sudut lain gerai.

Bintang Tenggara malas menoleh. Jelas sekali itu adalah suara Aji Pamungkas. Dan jelas sekali pakaian transparan, jika pun ada, akan dipergunakan untuk keperluan ‘berlatih’.

“Tak pernah ada pakaian seperti itu…,” jawab pelayan tersebut sedikit kesal.

“Ah… payah,” terdengar Aji Pamungkas mendengus. “Gerai ini mengecewakan!”

“Apa yang kalian lakukan di sini,” sergah Canting Emas menuruni anak tangga. Sepertinya ia dari lantai atas. Apa gerangan yang ia beli di lantai atas?

“Kakak, di manakah aku bisa membeli Sirih Kemuning?” tanya Bintang Tenggara kepada salah seorang pelayan.

“Sirih Kemuning tersedia di bagian ramuan,” jawab pelayan tersebut sambil menunjuk ke arah depan gerai.

“Oh…? Kau belum mengetahui unsur kesaktianmu?” ujar Canting Emas. “Mengapa tak kau tanyakan kepada Kuau Kakimerah saja?”

Mengabaikan komentar Canting Emas, Bintang Tenggara segera melangkah perlahan. Kini ia diikuti oleh Panglima Segantang, Aji Pamungkas dan Canting Emas. Sungguh tak nyaman….

Di bagian ramuan, Kuau Kakimerah rupanya sedang melihat-lihat barang yang dijajakan. Sepertinya tertarik sekali ia dengan berbagai berbagai jenis tetumbuhan.

“Aku hendak membeli daun Sirih Kemuning,” ujar Bintang Tenggara.

“Harga selembar daun Sirih Kemuning senilai 50 poin. Berapa lembar yang kau butuhkan?” tanya seorang pelayan.

“Bintang di langit tenggara… Benarkah engkau ingin mengetahui unsur kesaktianmu?” sela Kuau Kakimerah ragu.

“Kukame, katakan saja apa unsur kesaktiannya…,” ujar Aji Pamungkas. Tangannya lalu hendak meraih tangan Kuau Kakimerah, yang segera ditepis oleh Canting Emas.

“Gelap… aku tak bisa memastikan unsur kesaktianmu,” gumam Kuau Kakimerah.

“Hm…?” Bintang Tenggara menjadi semakin penasaran.

“Alirkan sedikit tenaga dalammu…” ujar si pelayan setelah menerima pembayaran poin melalui lencana.

“Bila daun Sirih Kemuning terbakar maka bakat kesaktianmu adalah unsur api. Bila melayang maka angin, bila tumbuh akar berarti kayu, bila melapuk berarti tanah, bila berembun berarti air, bila berkerut berarti petir… Jika unsur lain yang jarang, akan ada petanda lain yang dapat dikonsultasikan dengan guru-guru di Perguruan,” tutupnya menjelaskan.

Bintang Tenggara meletakkan selembar daun Sirih Kemuning tersebut di telapak tangan kanannya. Pelan-pelan, ia lalu mangalirkan sedikit tenaga dalam. Kini bukan hanya keempat temannya, bahkan murid-murid lain yang berada di sekelilingnya memerhatikan dengan seksama…. Entah mengapa dada mereka berdebar-debar.

“Aku teringat kala mengetahui unsur kesaktianku…,” ujar Aji Pamungkas.

“Heh… aku sudah tahu unsur kesaktianku pastilah api,” sergah Canting Emas. “Aku tak perlu memastikan menggunakan dedaunan.”

Berapa lamakah biasanya proses ini, pikir Bintang Tenggara dalam hati. Mengapa belum ada perubahan terhadap daun Sirih Kemuning? Bila unsur gravitasi, apa kiranya yang akan terjadi pada daun ini? Hm… mengapa orang-orang ini berkerumun di dekatku?

Puluhan pasang mata masih penasaran menantikan hasil. Kerumunan tersebut bertambah banyak karena murid-murid yang baru tiba ikut menonton. Bahkan, murid-murid yang melintas pun ikut melongok ke dalam Gerai Kesaktian.

Mendapatkan perhatian yang berlebih, Bintang Tenggara baru hendak melangkah meninggalkan kerumunan ketika ia melihat terjadi sedikit perubahan pada daun sirih tersebut… sisi luar dauh sirih mengitam. Warna hitam lalu merambat pelan ke sekujur daun Sirih Kemuning….

“Aduh!” tetiba Bintang Tenggara merasakan rasa sangat perih menyengat telapak tangan kanannya. Ia pun spontan menarik dan mengibaskan telapak tangannya. Daun sirih kemuning menghilang… Telapak tangannya deras mengucurkan darah!

Kuau Kakimerah sigap mengeluarkan kain kasa dari dalam tas selempang lusuh. Ia lalu membalut telapak tangan Bintang Tenggara, segera menghentikan pendarahan.

Canting Emas dan Aji Pamungkas terselak tak bisa bersuara. Tenggorokan mereka ibarat tersedak biji salak!

“Kesaktian unsur apakah itu!?” seru salah seorang penonton.

“Apakah kesaktian unsur darah!?” penonton lain bertanya.

“Bukan, bukan kesaktian unsur darah… aku melihat daun Sirih Kemuning berubah HITAM!” teriak salah seorang penonton.

Bintang Tenggara tidak berasal dari lingkungan yang mengajarkan keahlian sejak kecil. Oleh karena itu, ia tidak mengetahui bahwa di kalangan anak-anak remaja yang tumbuh di lingkungan persilatan dan kesaktian, ada satu hal yang paling membuat mereka cemas… yaitu kesaktian unsur ‘hitam’. Entah sejak kapan, tapi kecemasan tersebut berubah menjadi momok yang pasti melanda setiap generasi ketika ingin mencari tahu unsur kesaktian mereka.

“Bukankah anak itu Murid Purwa yang meminta menjadi anak didik Sesepuh Keempat tempo hari…?”

“Haha… kasihan sekali nasibnya! Bukankah unsur hitam sama saja dengan tidak memiliki bakat unsur kesaktian sama sekali…?”

“Sepertinya… ia hanya dapat mengandalkan senjata pusaka yang telah diimbuh unsur kesaktian.”

Bintang Tenggara tertegun. Apa yang barusan terjadi? Telapak tangan kanannya masih perih, namun yang membuat bingung adalah gemuruh suara penonton.

Tiba-tiba ia merasakan seseorang meraih lengan kirinya! Panglima Segantang menarik sahabatnya itu keluar dari Gerai Kesaktian. Canting Emas, Aji Pamungkas dan Kuau Kakimerah menyusul.

Jauh melayang di udara, wajah Maha Maha Guru Keempat terlihat kusut. Ia lalu menghela napas panjang, memutar tubuh dan terbang kembali menuju kediamannya.

Di satu sudut Kota Tugu, kelima anak remaja tersebut duduk termangu.

“Apa yang terjadi?” tanya Bintang Tenggara memecah kebisuan.

“Sahabat Bintang, engkau memiliki bakat keterampilan khusus segel dan kepiawaian dalam persilatan… jadi janganlah engkau berkecil hati,” ujar Panglima Segantang. Wajahnya tampak sedih.

“Perihal kesaktian, engkau dapat membeli senjata pusaka yang telah diimbuh dengan kesaktian unsur tertentu,” tambah Aji Pamungkas. Baru kali ini ia terlihat begitu serius dalam bersikap.

“Hm?” Bintang Tenggara masih terlihat bingung.

“Tampaknya kau tak memahami apa yang barusan terjadi,” Canting Emas angkat bicara.

Bintang Tenggara mengamati teman-temannya.

“Hitam berarti unsur kesaktian yang tak dapat dilatih,” sambung Canting Emas.

“Kesaktian unsur hitam mencederai, bahkan membunuh ahli yang hendak mempraktekkan unsur tersebut. Namun, seperti yang diungkapkan Panglima Segantang dan Aji Pamungkas, engkau janganlah khawatir. Masih banyak jalan dalam menumbuhkan keahlian… baik melalui keterampilan khusus, maupun persilatan.

“Lalu, ada banyak dijual senjata yang telah diimbuh dengan kesaktian unsur tertentu. Tambahan lagi, ketika engkau mencapai Kasta Perak, kesaktian unsur lain dapat dikembangkan dengan lebih leluasa,” Canting Emas menutup penjelasannya dengan sebuah senyuman. Jarang sekali Canting Emas tersenyum, namun bilamana terseyum, sebuah lesung pipit menghias pipinya yang tirus.

“Aku harus bertemu Maha Guru Keempat dan mengabarkan tentang unsur kesaktian ini,” ujar Bintang Tenggara ringan. Dalam hati ia berpikir, bukankah kesaktian adalah kemampuan melampaui kodrat alam? Mengapa harus berputus asa?

“Maha Guru Keempat, menurut kebanyakan orang, unsur kesaktianku adalah hitam,” ujar Bintang Tenggara ringan.

Maha Guru Keempat hanya menoleh. Tatapan matanya terlihat pilu. Ia telah menyaksikan dan memastikan sendiri unsur kesaktian anak didiknya tersebut.

“Pergilah ke Balai Pengobatan dan sembuhkanlah terlebih dahulu cedera di telapak tanganmu,” akhirnya ia bersuara. “Kembalilah lagi dalam dua hari.”

Setelah mengunjungi Balai Pengobatan, Bintang Tenggara langsung pulang dan kini berada di dalam kamarnya. Sedari tadi, tak terlihat batang hidung Aji Pamungkas dan Panglima Segantang.

Di Balai Pengobatan ia diberitahu bahwa kulit di telapak tangannya terkoyak sebesar kuku ibu jari orang dewasa. Akan tetapi, Bintang Tenggara menyadari bahwa sebenarnya bukanlah terkoyak, untuk lebih tepatnya, kulit tersebut seolah menghilang!

Ia kini sedang menelusuri Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Setidaknya ia ingin mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang kesaktian unsur hitam. Akan tetapi, kitab tersebut pun tak banyak menjabarkan tentang unsur kesaktian itu, kecuali bahwa unsur kesaktian tersebut sangat berbahaya bagi diri ahli yang memilikinya.

“Ehehem…,” terdengar suara berdehem yang dibuat-buat menggunakan mata hati.

“Guru?” Bintang Tenggara sudah menduga bahwa cepat atau lambat, gurunya itu akan muncul dan berupaya mengolok-olok.

“Apakah kau kecewa dengan unsur kesaktianmu?” ujar Komodo Nagaradja ringan.

“Tidak. Masih banyak cara lain untuk menumbuhkan keahlian,” jawab Bintang Tenggara. “Akan tetapi, sangat disayangkan bahkan Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian sekali pun tak memiliki uraian memadai tentang kesaktian unsur hitam.”

“Heh! Apa yang kau harapkan dari sekedar kitab…? Harusnya kau bertanya langsung kepada gurumu yang arif dan bijak ini!”

“Oh? Guru mengetahui tentang kesaktian unsur hitam?” Bintang Tenggara mulai serius.

“Benar. Aku akan memulai dengan sebuah ceritera yang diceriterakan oleh seorang sahabat…,” Komodo Nagaradja berhenti sejenak, seolah ragu untuk melanjutkan.

“Kumohon kepada Guru yang arif nan bijak, agar sudi kiranya berceritera tentang ceritera yang diceriterakan oleh seorang sahabat…,” ujar Bintang Tenggara menjilat.

“Jauh di atas sana… di luar angkasa!” Komodo Nagaradja memulai. “… melewati hamparan langit dan bintang-gemintang, terdapat banyak eksistensi-eksistensi yang misterius.”

“Eksistensi misterius…?” gumam Bintang Tenggara.

“Misterius!” Komodo Nagaradja menegaskan.

“Lalu?”

“Salah satu eksistensi penuh misteri tersebut… Salah satu eksistensi penuh misteri tersebut…”

“Guru…?” ujar Bintang Tenggara.

“Salah satu eksistensi penuh misteri tersebut adalah… LUBANG HITAM!” setelah tiga kali mengulang-ulang kalimat gantung yang sama, tiba-tiba terdengar gemuruh yang dibuat-buat oleh mata hati Komodo Nagaradja.

“Lubang hitam? lalu?” Bintang Tenggara tergelitik.

“Ya,” jawab Komodo Nagaradja.

“Ya?” Bintang Tenggara makin penasaran menantikan kelanjutan...

“Ya, berakhir sudah sebuah ceritera yang diceriterakan oleh seorang sahabat…,” jawab Komodo Nagaradja santai.

“Jadi, sebuah ceritera yang diceriterakan oleh seorang sahabat adalah: Di luar angkasa terdapat banyak eksistensi yang misterius, salah satunya adalah lubang hitam?” ulang Bintang Tenggara. Secara teknis, sebuah kisah memang dapat dirangkum dalam satu kalimat.

“Benar,” jawab Komodo Nagaradja singkat.

“Siapakah gerangan sahabat tersebut?” Bintang Tenggara ingin mendalami lebih lanjut.

“Sahabat tersebut juga kebetulan memiliki unsur hitam sebagai kesaktiannya. Ia biasa dikenal dengan sebutan… Sang Maha Patih.”


Cuap-cuap:

Unsur kesaktian? Hahai…


Catatan:

*) Bintang Tenggara merasakan keanehan dari sorot mata Aji Pamungkas dalam Episode 50, Episode 51, dan Episode 53.