Episode 63 - Warisan Adipati Joko Tole


“Terlalu banyak! Jangan dihadapi!” seru Arya Pamekasan. Sebagai penunggang Karapan Banteng, atau tukang tongko, ia paham betul kekuatan dari serbuan sekawanan Banteng Karapan. Jangankan tembok tebal, satu bukit pun bisa diratakan oleh derap langkah mereka.

Bintang Tenggara menyaksikan kawanan Banteng Karapan yang siap melabrak. Masing-masing setara dengan Kasta Perunggu Tingkat 6 atau Tingkat 7. Menghadapi satu ekor mungkin masih bisa, namun sekawanan yang terdiri dari puluhan adalah bencana. Inilah alasan utama mengapa hanya kelompok yang setidaknya beranggotakan ahli pada Kasta Perak saja yang dianjurkan menelusuri reruntuhan Istana Joko Tole.

“Brak!” Tetiba terdengar suara keras. Seluruh pasang mata menoleh ke arah kanan. Terlihat Panglima Segantang sedang berhadapan satu lawan satu dengan seekor banteng. Parang Hitam menahan sepasang tanduk besar nan panjang. Keduanya diam tak bergerak saling menahan.

Beberapa ekor Banteng Karapan lain pun mulai merangsek!

“Cres!” Arya Pamekasan bergerak gesit. Celurit di tangan kanannya menyambar cepat dari arah bawah ke atas, menyayat leher Banteng Karapan lain yang sedang hendak menghunuskan tanduk. Darah segar mengalir deras dari leher Banteng Karapan. Ia mengamuk ke sana ke mari sebelum akhirnya rubuh. Aroma darah menyibak amis di udara. Puluhan Banteng Karapan liar lainnya terprovokasi. Serentak mereka menyerbu!

“Gema Bumi, Bentuk Pertama: Kuat Akar Karena Tanah!” seru Panglima Segantang sambil menghentakkan kaki kanan keras-keras ke tanah.

“Wahai Datuk Mambang Tanah, kumohon inayat akan kesuburan… Rotan Bunian: Bebat!” Kuau Kakimerah mengeluarkan rotan berduri.

Kombinasi pertahanan Panglima Segantang dan Kuau Kakimerah menghambat laju amuk Banteng Karapan Liar. Tapi, tak bertahan lama. Gumpalan tanah yang mengunci kaki banteng segera retak dan pecah berhamburan. Lilitan rotan berduri hanya menggores ringan kaki-kaki depan kawanan tersebut, sama sekali tak dihiraukan.

Meski tak lama, upaya tersebut membuahkan kesempatan melarikan diri. Aji Pamungkas berlari paling depan. Disusul Panglima Segantang dan Kuau Kakimerah. Arya Pamekasan, Canting Emas dan Bintang Tenggara paling belakang. Mereka siap berhadapan dengan banteng bilamana perlu.

Banteng Karapan liar segera menyusul. Kecepatan lari mereka tak sebanding dengan ukuran tubuh yang demikian besar. Terlalu cepat! Aji Pamungkas lalu memutar tubuh. Ia berlari mundur. Ya, meski berlari mundur, kecepatan larinya sama sekali tidak menurun!

“Panah Asmara, Bentuk Kedua: Cinta Segitiga!” teriaknya melesatkan tiga anak panah secara bersamaan. Ketiga anak panah tersebut mendarat beruntun untuk menghasilkan suara keras dan parit dangkal tepat di jalur serbuan gerombolan Banteng Karapan liar. Beberapa banteng terkejut dan terperosok ke dalam parit, untuk kemudian dilindas kawanan di belakangnya.

“Jalan buntu!” teriak Aji Pamungkas kemudian. Setelah kembali memutar tubuh, ia adalah yang pertama menyadari bahwa sebuah tebing tinggi dan terjal di hadapan mereka.

Bintang Tenggara memantau jalur lari yang sedang mereka tempuh. Sisi kiri dan kanan merupakan puing-puing tinggi yang tertutup akar merambat dan semak belukar. Akan tetapi, jalur yang mereka tempuh cukup terbuka dan tanahnya seperti jalan setapak yang telah dipadatkan. Terlebih lagi, ia merasakan ada yang aneh dari tebing itu.

Kelompok tersebut tiba tepat di depan tebing. Mereka tak mungkin memanjat tebing yang begitu terjal. Kesempatan hanya terbuka untuk memanjat sisi kiri dan kanan, dimana terdapat puing-puing, akar dan belukar.

“Apa itu?” seru Aji Pamungkas menunjuk ke satu titik di tebing, tepat di hadapan mereka. Sekilas pandang maka akan terlihat sebagai bebatuan biasa. Namun bila diperhatikan dengan lebih seksama, maka akan terlihat seperti ukiran kuda bersayap layaknya patung perunggu di pintu masuk.

“Kita tak punya waktu, segeralah memanjat ke samping!” teriak Arya Pamekasan terlihat cemas. Hanya dirinya seorang yang menganggap serbuan puluhan Banteng Karapan liar sebagai ancaman maut.

Bintang Tenggara mendapat jawaban atas perasaaan aneh yang dipancarkan tebing. Ukiran yang ditemukan Aji Pamungkas mengandung formasi segel! Segera ia mengutak-atik cepat. Di saat yang sama, dua Kartu Satwa sudah siap dalam genggaman, sebagai jaminan. Jika terpaksa, maka barulah ia akan mengeluarkan Harimau Bara dan Siamang Semenanjung.

Tiba-tiba terdengar suara mirip rintihan…

bila musim labuh hujan tak turun

kubasahi kau dengan denyutku

bila dadamu kerontang

kubajak kau dengan tanduk logamku

di atas bukit garam

kunyalakan otakku

lantaran aku adalah sapi karapan

yang menetas dari senyum dan airmatamu **

Arya Pamekasan yang baru hendak memanjat tersentak. Kedua matanya melotot. Bibirnya bergetar. Namun, ia masih cukup sadar untuk berteriak sekuat tenaga…

aku lari mengejar ombak

aku terbang memeluk bulan

dan memetik bintang-gemintang

di ranting-ranting roh nenekmoyangku

di ubun langit kuucapkan sumpah **

“Swush!” Ukiran kuda terbang yang sudah tak lagi jelas bentuknya itu berpendar. Di atasnya, kemudian terbuka sebuah… gerbang dimensi!

“Ayo masuk!” teriak Arya Pamekasan spontan, sambil melompat ke dalam gerbang dimensi.

Keenam anak remaja merasakan diri mereka dilambung gerbang dimensi. Tak lama, mereka pun tiba di dalam sebuah gua. Terlihat stalagtit dan stalagmit berdiri perkasa ditempa alam, tak kalah dengan pilar-pilar raksasa yang dibangun manusia. Gua tersebut tidaklah gelap, pada stalagtit dan stalagmit tersebut tersemat bebatuan alam yang memancarkan cahata berwarna-warni. Secara alami, bebatuan tersebut menerangi sisi dalam gua.

“Apakah yang kau ucapkan tadi?” Bintang Tenggara berujar pada Arya Pamekasan.

“Oh… aku melafalkan bait-bait tentang Pulau Garam. Secara turun-temurun bait-bait tersebut diwariskan di dalam keluargaku.”

Dari posisi mereka, lalu terlihat tiga buah lorong-lorong yang juga diterangi berbagai batu berwarna-warni.

“Kemana langkah kita sekarang?” Panglima Segantang ingin memastikan.

“Aku tak tahu. Bagaimana kalau kita telusuri gua ini perlahan-lahan,” jawab Arya Pamekasan

“Sebentar…,” ujar Canting Emas. Di sebelahnya Kuau Kakimerah sedang berjongkok fokus memperhatikan sesuatu.

“Jejak-jejak telapak kaki…. Kita bukanlah yang pertama tiba di gua ini,” ujar Kuau Kakimerah pelan. “Sekira dua hari yang lalu, delapan orang dewasa… mereka lalu berpencar menelusuri lorong-lorong itu,” tambahnya sambil berdiri.

“Mungkinkah mereka kelompok penjelajah yang dikatakan menghilang dua hari yang lalu?” Arya Pamekasan melangkah ke arah ketiga lorong.

“Kita tak punya banyak waktu,” ujar Canting Emas. “Sebaiknya kita berpecar… Aku akan menelusuri gua paling kiri bersama Arya. Bintang bersama Kuau ke tengah, lalu Panglima dan Aji ke lorong yang kanan.”

“Tunggu dulu! Interupsi! Keberatan! Mengapa aku bersama Panglima Segantang!?” teriak Aji Pamungkas. Akan tetapi, pasangan-pasangan lain telah melangkah cepat memasuki lorong masing-masing.

“Kuau Kakimerah, ceriterakan padaku tentang tanah kelahiranmu,” ujar Bintang Tenggara.

“Bintang di langit tenggara…,” Kuau Kakimerah hanya bergumam.

“Berhentilah memanggilku ‘bintang di langit tenggara’, namaku adalah Bintang Tenggara.”

“Bintang Tenggara, tanah kelahiranku di celah belantara nan subur dan penuh kasih…” jawab Kuau Kakimerah tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.

“Kudengar sistem keahlian di sana berbeda…”

“Benar, di Pulau Belantara Pusat cara memanfaatkan jurus kesaktian unsur alam dilakukan dengan cara yang berbeda. Selain itu, kami tak mengenal Kartu Satwa…,” Kuau Kakimerah lebih leluasa berbicara.

“Bila demikian, apakah alasanmu berguru di Pulau Dewa,” sambung Bintang Tenggara.

“Aku ke Pulau Dewa untuk mencari tahu tentang sebuah ramalan…,” Kuau Kakimerah menatap Bintang Tenggara, lalu secepatnya memalingkan wajah.

“Hm… ramalan seperti apakah itu?” Bintang Tenggara sangat tertarik dengan hal-hal di dalam dunia keahlian yang masih tak ia pahami.

“Berhenti!” mendadak Kuau Kakimerah berseru.

Bintang Tenggara sadar bahwa ia mungkin terlewat batas dalam mengajukan pertanyaan. “Oh…? Maafkan aku bila terlalu banyak ber…,”

“Bukan… maksudku, hentikan langkah kakimu,” ucap Kuau Kakimerah. “Ada perangkap di depan.”

Bintang Tenggara pun mencermati lorong di depan mereka. Ia lalu meraih sebuah batu dan melemparkan ke lorong tersebut.

“Srak!” Di saat batu tersebut menyentuh dasar lorong, tiba-tiba kilatan api menyambar keluar dari sisi-sisi gua. Sambaran api memenuhi lorong.

“Perangkap unsur api…,” gumam Bintang Tenggara.

Ia raih sebongkah batu lagi dan melempar lebih jauh, namun tak ada sambaran api yang keluar. Bintang Tenggara lalu mengambil beberapa bohkan bebatuan lagi dan melempar beberapa kali, sampai akhirnya mendapat perkiraan panjang lintasan perangkap api.

“Lebih kurang delapan meter,” ujar Bintang Tenggara. “Kuau Kakimerah, dari mana kau ketahui akan adanya perangkap?”

“Sejak kecil… dapat merasakan aura unsur kesaktian,” ujar Kuau Kakimerah.

Bagi kebanyakan orang, unsur kesaktian dapat dirasakan menggunakan mata hati hanya bila unsur tersebut telah dikerahkan. Mungkin kemampuan Kuau Kakimerah ini serupa dengan kemampuan diri Bintang Tenggara dalam merasakan aura formasi segel. Tidak ada penjelasan, tahu-tahu bisa saja. Bintang Tenggara tak hendak bertanya lebih jauh. Namun, ada satu hal yang mengganjal…

“Apa unsur kesaktianku?” tanya Bintang Tenggara cepat. Bila Kuau Kakimerah bisa mendeteksi aura unsur kesaktian, bukan tak mungkin ia dapat mengetahui unsur kesaktianku, pikirnya.

Kuau Kakimerah menoleh sekilas, “Sebaiknya kita segera meneruskan langkah.”

“Dua kali lompatan menggunakan Segel Penempatan sudah memadai,” ucap Bintang Tenggara, tak hendak meneror Kuau Kakimerah.

Setelah melewati perangkap unsur kesaktian api, Bintang Tenggara dan Kuau Kakimerah keluar dari lorong dan menemukan diri mereka di dalam sebuah ruang yang sangat luas dan besar. Di kiri dan kanan mereka terlihat sebuah lorong, yang mungkin terhubung ke lorong yang dimasuki pasangan-pasangan lain.

Selang beberapa saat, terlihat Aji Pamungkas keluar dari lorong. Wajahnya kusut, sebagian rambutnya berdiri. Ia disusul Panglima Segantang, yang beberapa bagian di tubuhnya memerah.

“Perangkap apa yang kalian hadapi?” ujar Bintang Tenggara.

“Sialan! Ketika kami sedang berjalan, tiba-tiba petir menyambar!” gerutu Aji Pamungkas.

“Kami berlari sekuat tenaga menghindar dari sambaran petir…,” ujar Panglima Segantang terlihat kesakitan. “Beruntung tak satu pun petir yang menyambar menghantam….”

Tak lama, Canting Emas dan Arya Pamekasan keluar dari satu lorong yang tersisa. Napas mereka terengah-engah, tubuh mereka berkeringat.

“Apa yang telah kalian berdua perbuat!? Hah!?” teriak Aji Pamungkas terlihat emosi. “Arya Pamekasan! Lancang sekali kau!”

“Otakmu yang lancang!” sergah Canting Emas.

“Kami menghadapi perangkap logam,” ujar Arya Pamekasan ringan. “Ratusan pasak paku berukuran besar yang terbuat dari logam tetiba mencuat dari seluruh penjuru lorong.”

Hm… Mungkinkah selain memiliki keterampilan khusus sebagai penempa, Adipati Joko Tole mendalami kesaktian unsur logam, api dan petir? pikir Bintang Tenggara dalam hati. Bila benar, pastilah ia seorang ahli yang digdaya pada masanya.

“Brrrtt…” Tiba-tiba ruang gua bergegar. Dari dasar gua kemudian muncul tiga buah panggung dari tanah. Panggung-panggung tersebut mirip dengan panggung latih tarung di Kerajaan Parang Batu.

Kemudian, semacam kekuatan yang tak kasat mata menarik keenam anak remaja tersebut naik ke atas panggung. Masing-masing panggung berisikan dua dari mereka, dengan kombinasi yang sama dengan ketika menempuh lorong. Bintang Tenggara dan Kuau Kakimerah di atas satu panggung. Aji Pamungkas bersama Panglima Segantang, serta Canting Emas dan Arya Pamekasan. Masing-masing dari ketiga panggung tersebut kemudian dilingkupi oleh dinding formasi segel.

Di salah satu sudut gua, sebuah stalagmit yang menjulang dari dasar gua tetiba bersinar cemerlang. Rupanya stalagmit tersebut terbuat dari kristal yang transparan. Di dalamnya lalu terlihat sebuah cemeti berwarna keemasan dan selembar Kartu Satwa dengan gambar seekor kuda berwarna hitam dan memiliki sepasang sayap lebar…

“Cemeti Adipoday dan Kartu Satwa Kuda Megaremeng,” gumam Arya Pamekasan. ***

Di atas panggung, Bintang Tenggara lalu berjalan ke arah formasi segel. Di saat hendak menyentuh dan mempelajari formasi segel tersebut, ia merasakan panas membara. Sebuah segel yang dilindungi unsur kesaktian api, pikirnya. Kecuali dapat mengatasi api yang melindungi formasi segel, maka tak mungkin dapat mengutak-atik segel tersebut!

“Selamat datang!” tiba-tiba terdengar suara bergema di seluruh penjuru gua nan luas.

“Barang siapa yang mampu bertahan sampai akhir, maka ia berhak menerima warisan Joko Tole, yaitu pusaka Cemeti Adipoday dan Kartu Satwa Kuda Megaremeng!”

“Bertahan…?” gumam Bintang Tenggara, merasa ada sesuatu yang ganjil.

“Bila ada sesiapa yang tak hendak ikut serta, maka ia akan terkurung selamanya. Pemilihan calon penerima warisan Joko Tole dilaksanakan dengan… Carok!”

“Carok? Apakah itu?” gumam Bintang Tenggara. Di saat yang sama, sudut matanya menangkap Canting Emas yang segera mengenakan Zirah Rakshasa dan menggenggam sepasang Kandik Agni. Di panggung lain, Panglima Segantang hendak meraih gagang Parang Hitam.

“Canting Emas! Panglima Segantang!” seru Bintang Tenggara. “Apa yang hendak kalian lakukan?”

“Carok… pertarungan mengadu nyawa!” jawab Canting Emas. Kedua matanya menatap tajam ke arah Arya Pamekasan di hadapan.

Arya Pamekasan lalu meraih celurit yang tersarung di belakang pinggangnya. Bau amis darah binatang siluman Banteng Karapan liar yang belum sepenuhnya kering menyengat hidung. Canting Emas memasang kuda-kuda.

“Trak!”

Semua mata menatap Arya Pamekasan. Ia baru saja melempar celurit miliknya ke tanah.

“Aku menolak!” Arya Pamekasan berseru.

“Kau akan terkurung selamanya, atau dibunuh oleh lawanmu!” terdengar tanggapan yang menggelegar.

“Aku, Arya Pamekasan, menolak kesalahan pengertian tentang carok!” kembali anak remaja itu berseru.

“Lebih baik berputih mata, daripada berputih tulang. Lebih baik mati, daripada malu, adalah dasar carok. Sedangkan lawan di depanku tidak pernah sekali pun menginjak-injak harga diriku, atas dasar apa aku melakukan carok?” Arya Pamekasan mempertanyakan kepada suara penunggu gua.

“Mohon maaf, wahai Tetua, tapi engkau menyalahartikan antara ‘carok’ dengan ‘amuk’,” sambung Arya Pamekasan. “Amuk ditujukan pada orang yang ada di sekitar tanpa pandang bulu. Mengamuk lalu membunuh orang lain tidaklah sama dengan carok!”

Suasana hening. Tak terdengar tanggapan dari suara yang mendiami gua.

“Selain itu, masih ada tata cara sebelum carok dapat dilakukan. Salah satunya adalah memberi peringatan secara baik-baik. Ujug-ujug mendatangi orang lain dan mengajak berduel bukanlah carok! Itu hanya perkelahian tanpa dasar!” hardik Arya Pamekasan.

Hening.

“Selama ratusan tahun aku menunggu. Menguji setiap yang datang dengan tantangan carok. Dengan iming-iming warisan Joko Tole, tak pernah ada yang menolak. Begitu mudahnya mereka saling jagal!” terdengar suara bergumuruh. Gua seakan bergetar.

“Prang!” tetiba terdengar suara seperti kaca yang pecah. Tak dinyana, stalagmit kristal transparan yang menjulang dari dasar gua dan bersinar cemerlang… pecah! Seutas cemeti berwarna keemasan dan selembar Kartu Satwa bergambar seekor kuda berwarna hitam yang memiliki sepasang sayap melayang ringan!

“Kau memiliki hati dan pemahaman memadai untuk menerima warisan Joko Tole… Kupersembahkan padamu wahai Arya Pamekasan, Cemeti Adipoday dan Kartu Satwa Kuda Megaremeng!”

Cemeti Adipoday dan Kartu Satwa Kuda Megaremeng lalu melesat ke tangan Arya Pamekasan. Anak remaja tersebut masih terkejut dengan perkembangan situasi yang baru saja terjadi.

“Sesuai kesepakatan, aku akan memilih terlebih dahulu pusaka yang kuinginkan,” ujar Arya Pamekasan.

“Aku akan menyimpan Kartu Satwa Kuda Megaremeng, kalian diperkenankan membawa Cemeti Adipoday,” ujarnya sambil menyerahkan cemeti logam berwarna keemasan kepada Canting Emas.


***



“Kalian melanggar aturan Perguruan!” hardik Sesepuh Kelima. “Kalian meninggalkan perguruan tanpa ijin!”

Setelah mengucapkan perpisahan dengan Arya Pamekasan, Bintang Tenggara dan keempat temannya kembali ke perguruan. Bersama mereka, adalah senjata pusaka Cemeti Adipoday. Canting Emas memutuskan bahwa senjata pusaka tersebut terlalu berharga, dan berbahaya, sehingga tak mungkin dilepas di Balai Lelang. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyerahkan kepada Perguruan.

Kelima anak muda tersebut kini berada di Aula Budi Arda.

Keringat mengalir deras di wajah Panglima Segantang. Sebagai seorang prajurit, melanggar aturan merupakan sesuatu yang paling ia takuti. Dari raut wajahnya, ia rela melakukan apa saja demi menebus kesalahan ini.

Aji Pamungkas berdiri tepat di sebelah Panglima Segantang, wajahnya pucat. Semoga tak ada yang memecut bokongku, pikirnya.

Kuau Kakimerah hanya tertunduk diam. Hm… biasanya juga ia memang suka memilih diam dan mengamati.

Bintang Tenggara memang curiga sejak awal… darimana Canting Emas memperoleh lembar pengumuman tersebut? Lalu, perilaku Canting Emas saat meninggalkan Perguruan… Ya, sudahlah... saat itu tak ada yang menyuarakan keengganan untuk menjelajah.

“Akan tetapi, penjelajahan kami membuahkan hasil yang sangat berharga!” seru Canting Emas “Kami membawa pulang pusaka Cemeti Adipoday. Senjata pusaka ini dahulu digunakan oleh salah satu pahlawan Perang Jagat, Adipati Joko Tole, atau yang biasa dikenal dengan nama Pangeran Setjodiningrat III, Raja Pulau Garam!”

“Pelanggaran adalah pelanggaran. Kau tak bisa berkelit!” sergah Sesepuh Kelima.

“Tapi…” Canting Emas masih hendak menggugat.

“Masing-masing dari kalian menerima hukuman tidak diperbolehkan meninggalkan perguruan selama lima tahun!” tambah Sesepuh Kelima, sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Akan tetapi…,” kini terdengar suara perempuan tua. “Karena jasa kalian menemukan Cemeti Adipoday, maka Perguruan akan menganugerahi masing-masing dari kalian sejumlah 100 poin,” ujar Sesepuh Ketujuh.

“Tidak adil!” sergah Canting Emas. “Hukuman tersebut terlalu berat, dan kami membawa pulang pusaka yang berharga lebih dari sekedar 500 poin!” Canting Emas masih tak hendak menerima hukuman.

Lima tahun tak diperkenankan meninggalkan Perguruan sama saja dengan memasung pertumbuhan. Tugas-tugas yang memiliki poin-poin tinggi di Balai Bakti seringkali mengharuskan kegiatan di luar perguruan. Tanpa jumlah poin yang memadai, tentunya seorang murid tak akan bisa mengikuti kuliah lanjutan, membeli ramuan mujarab, atau menempa senjata yang lebih baik.

“Sesepuh yang Terhormat…,” Bintang Tenggara tak tahan melihat Canting Emas berupaya membela diri dan teman-temannya.

“Bayangkan bila Cemeti Adipoday jatuh ke tangan orang-orang dari aliran hitam… atau bila jatuh ke tangan Partai Iblis. Bisa dipastikan, akan timbul malapetaka yang tak dapat diperkirakan dampaknya bagi dunia persilatan dan kesaktian,” tambah Bintang Tenggara.

Sesepuh Kelima melotot, lalu ia menggelengkan kepala. “Bila perilaku kalian tidak diganjar hukuman, maka akan banyak murid-murid yang meninggalkan Perguruan tanpa persetujuan demi menjelajahi reruntuhan kota tua… membahayakan diri hanya untuk peruntungan yang belum tentu nyata.”

“Kami mengakui kesalahan, dan berjanji tak akan mengulangi lagi. Namun… kami memohon kebijaksanaan Sesepuh yang Terhormat untuk mempertimbangkan hukuman tersebut,” ujar Bintang Tenggara mencari peluang.

“Baiklah. Dalam sebulan lagi, Perguruan akan menyelenggarakan kejuaraan untuk menentukan lima wakil yang akan dikirim menuju kejuaraan antar perguruan di Kota Ahli. Bila setiap satu dari kalian dapat menjadi wakil perguruan, maka hukuman tidak akan diterapkan,” ujar Sesepuh Kelima memberi syarat. Sebuah senyum tipis menghias ujung bibir orang tua itu.


Catatan:

*) Kuda dengan sepasang sayap besar pernah disinggung pada Episode 59.

**) Penggalan puisi berjudul ‘Madura Akulah Darahmu’ karya D. Zawawi Imron. Ayo baca karya sastra nusantara.

***) Adipoday adalah ayah dari Joko Tole yang dikatakan memberikan cemeti dan kuda terbang.