Episode 62 - Penjelajahan


Hari jelang petang. Bintang Tenggara melangkah gontai kembali ke Wisma Purwa. Empat hari belakangan ini ia mengerjakan berbagai macam pekerjaan yang tersedia bagi Murid Purwa dari Balai Bakti. Membabat rumput di lapangan, membersihkan saluran air, mengumpulkan daun lontar, melilit sate, mendorong gerobak padi, mencari anak kucing yang tersesat…

Pekerjaan-pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang aman ia lakukan. Meski, upahnya sangatlah kecil, dimana tiap-tiap pekerjaan itu hanya bernilai 2 atau 3 poin. Seluruh pekerjaan tersebut dilakukan di dalam Kota Sanggar. Karena, bila mengambil pekerjaan di kota lain, maka harus bermodalkan 4 poin sebagai biaya gerbang dimensi pulang-pergi antar kota. Sungguh, kehidupan di Perguruan tidak sesuai dambaan hati.

Seharian ini ia membersihkan Pustaka Madya di Kota Sanggar. Awalnya ia berharap dapat mencuri baca beberapa kitab atau buku yang tersedia. Sungguh malang nasibnya, pekerjaan membersihkan pustaka sangat menyita waktu. Terdapat begitu banyak lorong dan rak yang perlu disapu dan diseka.

Secara keseluruhan, Bintang Tenggara kini memiliki 21 poin. Dari 10 poin jatah bulanan, ia telah mengeluarkan 4 poin sebagai biaya pulang-pergi menuju kediaman Maha Guru Keempat di Kota Tugu. Lalu, pekerjaan-pekerjaan remeh hanya menghasilkan 15 poin saja. Bagaimana caranya aku mengumpulkan kekurangan 29 poin lagi? Tinggal tiga hari tersisa dari tenggat waktu mengumpulkan 50 poin sesuai perintah Maha Guru Keempat.

Bintang Tenggara kini berselonjor di tempat tidur. Tiga orang teman sekamarnya belum kembali. Mereka adalah sesama Murid Purwa. Di antara murid Purwa di dalam wisma, ada yang menjaga jarak ada pula yang berlebihan ramahnya. Bintang Tenggara tak ambil pusing. Yang penting, sejauh ini tak ada murid-murid yang berani merisak dirinya.

“Tok! Tok! Tok!” terdengar suara pintu kamar diketuk.

“Brak!” pintu kamar didobrak paksa. Bintang Tenggara segera bangkit.

“Sahabat Bintang!” seru Panglima Segantang. “Sekian lama aku mencari-cari keberadaan dirimu. Aku sangat khawatir!”

Anak remaja bertubuh bongsor itu lalu menarik lengan sahabatnya dan meraih tas punggung yang tergeletak di lantai.

“Hari ini aku cukup lelah, lain hari saja bila hendak berlatih,” keluh Bintang Tenggara. Ia sudah menduga, cepat atau lambat Panglima Segantang akan mengetuk pintu… bukan, tepatnya mendobrak pintu!

Panglima Segantang lalu membawanya ke gerbang dimensi, melakukan pembayaran, dan mereka pun menuju Kota Candi. Sudut mata Bintang Tenggara sempat melirik poin yang dimiliki Panglima Segantang di dalam lencana Murid Utama. 32 poin adalah jumlah yang tersisa.

Bintang Tenggara terlupakan satu fakta penting. Murid Purwa mendapat jatah bulanan sebanyak 10 poin, Murid Madya 20 poin, Murid Utama 30 poin. Sedangkan Murid Tauladan atau Putra dan Putri Perguruan, mendapat jatah 40 poin setiap bulannya.

“Aman…,” guman Bintang Tenggara. Jikalau terdesak, ia bisa saja meminjam poin dari Panglima Segantang -- karena memang poin dapat dipindahtangankan antar murid Perguruan.

Hari semakin malam. Panglima Segantang dan Bintang Tenggara kemudian melangkah memasuki kompleks Graha Utama, kediaman Murid Utama. Bintang menyaksikan bahwa kediaman Murid Utama bukanlah asrama, melainkan rumah-rumah kecil yang terpisah antara satu sama lain. Mereka pun melewati rumah-rumah tersebut dan tiba di pekarangan yang lega. Sebuah rumah berukuran lebih besar di antara rumah-rumah Murid Utama lain berdiri di tengah pekarangan tersebut.

“Sahabat Bintang hendaknya menetap di sini,” seru Panglima Segantang.

Mereka melangkah masuk. Bintang Tenggara mendapati rumah tersebut memiliki satu ruang tengah, ruang makan, dapur, dan dua kamar tidur. Di sisi belakang, masih terdapat pekarangan lagi.

“Tuan Panglima Segantang,” seorang tua lalu menegur. “Tuan dilarang membawa teman menginap di Graha Utama. Kamar tidur yang tersedia hanya diperuntukkan bagi anggota keluarga yang berkunjung.”

“Kakek Tua, ini adalah Bintang Tenggara. Ia adalah anak didik Maha Guru Keempat,” ujar Panglima Segantang. Rupanya khabar tentang aksi Bintang Tenggara justru mengundang kedatangan seorang perisak bernama Panglima Segantang untuk menjemput.

Kakek Tua hanya menatap diam.

Sungguh luar biasa fasilitas yang diberikan bagi Putra Perguruan. Bukan hanya rumah sendiri-sendiri dengan perkarangan yang lega, Panglima Segantang bahkan memiliki asisten rumah tangga!

“Spada… Spada…” terdengar suara dari arah pintu depan. Panglima Segantang, Bintang Tenggara dan Kakek Tua melangkah ke luar.

“Kumohon… Ijinkan aku menetap di sini,” terdengar suara memelas seorang anak remaja yang menenteng sebuah buntelan. “Teman sekamarku menyeramkan….”

“Aji Pamungkas!” seru Panglima Segantang. “Kau dipersilakan menetap di ruang tengah.”

“Beklah!” jawab Aji Pamungkas cepat. Ia melompat masuk ke dalam rumah. Padahal, Wisma Madya tempat tinggal Aji Pamungkas hanya memuat dua orang Murid Madya per kamar.

Pagi-pagi sekali, Bintang Tenggara bangkit dari tempat tidurnya. Di ruang tengah, terlihat Panglima Segantang sedang membangunkan Aji Pamungkas. Mereka pun berangkat lari pagi.

“Mengapa aku harus ikut berlari!?” keluh Aji Pamungkas. Padahal, berlari secara alami sangatlah mudah bagi ahli yang memiliki bakat unsur angin sepertinya.

“Hei! Kemarilah!” terdengar panggilan dari arah sebuah taman. Telihat Canting Emas dan Kuau Kakimerah melambaikan tangan. Mereka baru saja selesai melakukan senam pagi.

“Panglima Segantang dan Bintang Tenggara! Janganlah kalian bermalas-malasan!” sergah Aji Pamungkas tiba-tiba bersemangat.

“Canting Emas! Kukame! Apakah kalian lelah? Mari kupijit pundak kalian!” Semangat Aji Pamungkas terlihat sangat berlebihan.

“Singkirkan pikiran mesum dan tangan kotormu itu!” seperti biasa Canting Emas menghardik Aji Pamungkas.

“Bintang Tenggara, lihatlah ini,” Canting Emas menyodorkan secarik kertas.

       “Ekspedisi Istana Tua

Raih Berbagai Pusaka Langka”

Bintang Tenggara mengamati kertas tersebut. Sebuah pengumuman tentang salah satu reruntuhan di Pulau Garam. Disebutkan bahwa para ahli yang lebih senior telah menemukan dan membersihkan reruntuhan sebuah istana tua dari binatang siluman berbahaya.

Sebagaimana diketahui umum, di berbagai lokasi di Negeri Dua Samudera terdapat reruntuhan kota-kota yang dahulu luluh-lantak akibat serangan kawanan binatang siluman. Sebagian besar dari kota-kota tersebut merupakan kota-kota maju sebelum tragedi Perang Jagat. Secara berkala, satu demi satu kota-kota yang hilang tersebut dikuak oleh kelompok-kelompok penjelajah. Tak jarang mereka menemukan pusaka-pusaka langka atau harta karun yang tersembunyi.

“Bukankah kelompok penjelajah biasanya menyapu bersih reruntuhan yang mereka buka?” Bintang Tenggara sedikit ragu.

“Tidak seluruhnya. Masih ada beberapa wilayah yang belum tersentuh,” ujar Canting Emas. “Hasil temuan nantinya dapat dibawa ke Balai Lelang. Di sana, orang-orang akan menawar dengan poin tinggi.”

“Hm?” Bintang Tenggara si fakir poin mulai tergoda.

“Tamasya!” seru Aji Pamungkas. “Jangan lupa membawa pakaian renang....”

“Aku suka bermain ke hutan,” gumam Kuau Kakimerah.

“Sudah lama aku tak bertarung dengan binatang siluman,” ujar Panglima Segantang, Sang Siluman Silat.

“Kita berkumpul di sini dalam satu jam,” Canting Emas memutuskan.

Kelompok yang terdiri dari lima anak remaja tersebut melangkahkan kaki menuju gerbang dimensi di Kota Candi.

“Lima orang menuju Monumen Genta,” ujar Canting Emas kepada petugas gerbang dimensi.

“Apakah kalian memiliki ijin meninggalkan Perguruan?” petugas gerbang dimensi hendak memastikan.

“Tentu saja!” hardik Canting Emas seolah tak senang dipertanyakan. Ia pun menyerahkan lencana Murid Utama kepada petugas yang segera mengurangi 10 poin.

Satu persatu mereka melompat masuk ke dalam gerbang dimensi. Sekitar lima menit kemudian, mereka menemukan diri keluar dari gerbang dimensi di Monumen Genta di Kota Taman Selatan.

“Apakah kalian memiliki ijin meninggalkan Perguruan?” sergah seorang petugas gerbang.

“Tentu saja!” Canting Emas tak kalah galak.

Kelimanya lalu menelusuri jalanan Kota Taman Selatan untuk mencapai gerbang dimensi yang meninggalkan Pulau Dewa.

“Kami hendak menuju ke Pulau Garam,” ujar Canting Emas mengeluarkan beberapa keping perak. Sungguh ia memiliki banyak keping perak untuk membiayai perjalanan lima orang anak remaja menggunakan gerbang dimensi.

“Dimana kami dapat menemukan seorang pandu?” Segera Canting Emas bertanya kepada petugas gerbang dimensi di Pulau Garam.

Kaoh dapat pergi ke padang di sisi selatan kota. Hari ini sedang ada Karapan Banteng. Banyak pemandu berkumpul di sana,” ujar petugas itu.

Setibanya di lokasi yang ditunjukkan oleh petugas gerbang dimensi, Bintang Tenggara menyaksikan puluhan binatang siluman Banteng Karapan yang berukuran besar, hampir sebesar gajah. Napas mereka berat. Tanduk mereka panjang dan tajam. Mereka siap mengikuti Karapan Banteng.

Karapan Banteng adalah sebuah tradisi perlombaan memacu Banteng Karapan. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk memberi dorongan generasi muda agar terus meningkatkan ternak banteng dan membangun semangat persaingan yang sehat.

Debu mengepul tinggi ke udara. Derap langkah perkasa menggetarkan tanah. Penonton pun bersorak-sorai menyaksikan sepasang banteng yang terhubung oleh kaleles melesat cepat dikomandoi seorang tukang tongko sebagai joki, yang sebagian besarnya adalah anak-anak remaja. Mereka terlihat terombang-ambing mengendalikan banteng. Diperlukan keterampilan tinggi untuk menjaga harmoni tubuh dengan gerakan banteng. Terjatuh saat banteng melesat, lalu dilindas oleh banteng di belakang, pastilah berakibat fatal.

“Hayo, hayo!” teriak Panglima Segantang memberi semangat.

“Ayo bergerak, kita tak punya waktu luang untuk menonton,” ujar Canting Emas memacu langkahnya.

Perlombaan pun berlangsung cepat, terlihat seorang anak remaja berkulit gelap memenangkan lomba balap banteng.

“Apakah ada pandu di antara kalian?” Canting Emas bertanya pada sekelompok anak remaja yang sedang berkumpul di satu sudut.

“Kemana kalian hendak pergi?” tanya salah satu dari mereka.

“Kami hendak menuju reruntuhan Istana Joko Tole.”

“Istana Joko Tole!? Hanya penjelajah yang berada pada Kasta Perak yang dianjurkan masuk ke sana,” jawab seorang anak remaja.

"Tidakkah kalian tahu bahwa dua hari yang lalu sekelompok penjelajah menghilang,” tambah seorang anak remaja lain.

“Aku tak hendak ke sana… tak akan ada pandu yang akan mengantarkan kalian ke sana, berapa pun bayarannya…,” tutup anak remaja lain lagi.

“Sepertinya kita terpaksa pulang dengan tangan kosong,” ujar Bintang Tenggara, yang sejak awal meragukan keabsahan undangan dan perilaku Canting Emas. Mulai dari asal undangan, izin meninggalkan Perguruan, anjuran Kasta Perak, menghilangnya penjelajah; semua ini mengacu kepada petanda buruk. Sebagai calon korban penculikan, ia merasa kejanggalan-kejanggalan ini hanya akan membawa pada sebuah bencana.

“Hmph! Kita akan berangkat tanpa pemandu!” jawab Canting Emas sambil meninggalkan kerumunan anak remaja tersebut.

“Canting Emas, pikirkanlah sekali lagi… Lebih baik kita ke pantai saja,” usul Aji Pamungkas.

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan,” ujar Panglima Segantang dengan percaya diri luar biasa.

“Aku memiliki firasat buruk,” gumam Kuau Kakimerah.

“Aku bersedia menjadi pandu,” tiba-tiba terdengar suara menyahut dari bawah bayangan salah satu kandang Banteng Karapan.

Bintang Tenggara mengamati anak itu. Ia mengenakan kaos bergaris-garis mendatar dengan warna merah dan putih berselang-seling. Celananya setengah tiang berwarna hitam. Di dahinya, melingkar sebuah ikat kepala yang terbuat dari kain batik.

“Aku mendengar kalian hendak menjelajahi reruntuhan Istana Joko Tole. Aku bersedia menjadi pandu.” Ia melangkah pelan, sambil menyarungkan sebuah celurit berwarna putih berukuran sekitar dua jengkal ke pinggang sisi belakang.

Setelah keluar dari balik bayangan, baru terlihat jelas wajah anak remaja berkulit gelap itu. Usianya pun mungkin sepantaran.

“Hm? Bukankah kau salah satu pemenang Karapan Banteng tadi?” tanya Bintang Tenggara yang sempat sepintas menyaksikan lomba.

“Benar. Namaku Arya Pamekasan.”

“Berapa imbal jasa yang kau pinta?” sela Canting Emas tak hendak berbasa-basi.

“Aku tak memerlukan imbal jasa.”

“Lalu, apa maumu?” Canting Emas setengah tak percaya.

“Aku menginginkan kesempatan memilih di antara barang-barang yang kalian temukan nanti. Hanya satu.”

“Bisa saja kau mengambil satu harta karun yang paling berharga, dan bagaimana bila kita tak menemukan apa-apa?” sela Aji Pamungkas.

“Kedua hal tersebut adalah risiko yang kita emban bersama. Kalian menempuh risiko kehilangan pusaka berharga, aku pun berisiko tak mendapatkan apa-apa sebagai pandu,” ujar Arya Pamekasan ringan.

“Sepakat!” seru Canting Emas cepat. “Silakan tunjukkan arah.”

“Ceriterakan kepada kami tentang Istana Joko Tole,” ujar Bintang Tenggara di saat mereka sedang menapaki jalan setapak di perbukitan. Jalan setapak itu terlihat baru dibuat, mungkin oleh tim ekspedisi yang menemukan reruntuhan.

“Adipati Joko Tole awalnya adalah seorang pandai besi nan sakti, yang mampu mengimbuh senjata yang ia tempa dengan unsur kesaktian,” jawab Arya Pamekasan. “Bahkan, ia adalah yang sosok yang membangun gerbang megah di ibu kota lama, Sastra Wulan.”

Arya Pamekasan lalu menceriterakan bahwa Adipati Joko Tole mendapat mandat dari Sang Maha Patih untuk menjabat sebagai seorang Adipati dan memimpin di Pulau Garam. Adipati Joko Tole juga dikenal karena memiliki binatang siluman kuda terbang dan senjata pusaka cemeti. *

Ceritera Arya Pamekasan berlanjut ke saat Perang Jagat, di saat Pulau Garam diserang oleh siluman sempurna bernama Dempo Abang. Dempo Abang mengendarai sebuah bahtera yang dapat berlayar di atas gunung, di antara bumi dan langit. Bermodalkan cemeti sakti dan menunggang kuda terbangnya, Adipati Joko Tole bertarung sengit selama berhari-hari menghadapi Dempo Abang.

“Adipati Joko Tole juga memiliki kelebihan lain,” ujar Arya Pamekasan bersemangat. “Ia bisa mendengarkan bisikan dari jiwa pamannya. Di saat akhir pertarungan, Adipati Joko Tole memperoleh panduan dari pamannya itu. Walhasil, sang Adipati memenangkan pertempuran.”

“Sungguh hebat penguasa Pulau Garam… dapat mengalahkan siluman sempurna dalam Perang Jagat!” seru Panglima Segantang. Sepertinya pahlawan idola anak remaja itu bertambah satu lagi.

“Aku pernah mendengar tentang kisah itu,” sela Canting Emas.

“Kukame, berhati-hatilah saat melangkah… sini kakang bantu,” ujar Aji Pamungkas ke arah Kuau Kakimerah, yang justru berupaya menjauh.

“Guru Nagaradja, apakah guru mengenal Adipati Joko Tole?” tanya Bintang Tenggara menggunakan mata hati.

“Ya, aku mengenal baik Joko Tole,” jawab sang guru. “Setelah kupikir-pikir mungkin hubungan Jolo Tole dengan pamannya itu mirip seperti kau dan aku. Bedanya, tanpa bimbingan dariku, kau tak ada apa-apanya.”

“Guru…,” Bintang Tenggara hendak membalas, namun akhirnya menahan diri.

“Tapi… hubungan Joko Tole dan Sang Maha Patih cukup rumit…” tambah Komodo Nagaradja seolah menghela napas.

“Jadi, Adipati Joko Tole bukanlah salah satu dari Sembilan Jenderal Bhayangkara?”

“Bukan. Walau dari segi keahlian, Joko Tole memiliki kemampuan yang lebih kurang setara dengan sebagian Jenderal Bhayangkara... Sabetan cemetinya perkasa membelah gunung, kecepatan kuda terbangnya deras membelah lautan!”

“Jadi, apakah cemeti atau kuda terbang yang menjadi incaranmu?” tanya Bintang Tenggara tanpa basa-basi ke arah Arya Pamekasan.

“Hm…,” Arya Pamekasan hendak menjawab, tapi mengurungkan niatnya. “Sebentar lagi kita akan tiba.”

Keenam anak remaja tersebut memasuki bentangan puing-puing yang luas. Yang paling menarik perhatian adalah patung seekor kuda yang terbuat dari tembaga berdiri di kedua kaki belakang. Kedua kaki depannya mengarah ke atas, seperti hendak menerkam. Di pundaknya, sepasang sayap besar mengepak perkasa. Tak diragukan lagi, bahwa mereka telah berada di pintu masuk kompleks Istana Joko Tole.

“Kelompok penjelajah telah membuka wilayah barat yang merupakan bangunan utama istana. Kita akan menyisir ke utara, mencoba peruntungan di sana,” ujar Arya Pamekasan. Anak muda tersebut terlihat sangat berhati-hati.

Arya Pamekasan berjalan paling depan, disusul Canting Emas dan Kuau Kakimerah. Aji Pamungkas bersikeras bahwa ia harus berada tepat di belakang kedua anak gadis tersebut. Lalu, Panglima Segantang dan Bintang Tenggara. Sambil menjalani kebiasaan menghitung langkah, Bintang Tenggara mengamati sekeliling.

“Berhenti!” seru Arya Pamekasan waspada. Mereka telah jauh melangkah ke arah utara, lebih jauh lagi mereka nantinya akan menemukan padang rumput luas.

Di saat yang sama, terdengar dengus napas berat dari balik puing-puing di arah depan. Perlahan terlihat sejumlah sosok mengemuka. Hitam warna mereka, besar dan tinggi. Lalu, dari samping kiri mereka pun muncul sosok-sosok yang sama besar dan tingginya.

“Banteng Karapan liar…,” decak Arya Pamekasan. “Puluhan jumlah mereka.”

“Bentuk formasi!” Canting Emas segera mengenakan Zirah Rakshasa dan mengeluarkan sepasang Kandik Agni.

“Formasi yang mana? Bagiku di atas atau di bawah sama saja!” seru Aji Pamungkas terlihat bingung. Meski demikian, Busur Mahligai Rama-Shinta terlihat indah di tangan kirinya.

“Hyah!” Panglima Segantang melompat ke depan bersama Parang Hitam, siap membabat.

Dalam diam, Kuau Kakimerah pun menyiagakan rotan berduri miliknya.


Catatan:

*) Kuda dengan sepasang sayap besar pernah disinggung dalam Episode 59.