Episode 61 - Kewajiban


 

Ratusan pasang mata menoleh dan menatap ke arah Bintang Tenggara. Biasanya, murid baru mengambil keputusan bijak untuk mengamati situasi Perguruan terlebih dahulu. Apalagi Murid Purwa, dengan keahlian biasa-biasa saja, lazimnya menahan diri untuk tidak tampil terlalu menonjol atau menyinggung siapa pun, apalagi kakak seperguruan.

“Siapakah anak itu? Besar sekali nyalinya!”

“Anak bodoh, tidakkah ia mengerti sama sekali materi perkuliahan, sampai harus bertanya?”

“Hmph…. Anak dusun.”

Sekarang, Bintang Tenggara malah menempatkan dirinya sebagai sorotan utama. Setelah ini, bukan hanya gunjingan yang akan diterima Murid Purwa itu. Kemungkinan besar, ia akan menjadi sasaran empuk perisakan.

“Hahaha… Anak bodoh,” cerca seorang kakak seperguruan bermuka kambing. “Aku tak perlu bersusah-payah membalas perbuatannya tadi. Ia menggalangkan leher sendiri minta disembelih.”

Maha Guru Keempat menatap Bintang Tenggara. Sejak awal, ia sudah mengetahui jati diri anak itu. Setelah Kerajaan Parang Batu mengirimkan pesan tentang akan adanya Sang Lamafa Muda yang hendak mengikuti ujian masuk ke Perguruan Gunung Agung, ia langsung melesat terbang mengunjungi Kepala Pengawal Istana Keempat. Ia pun mendengar langsung dari orang tua itu tentang latih tarung pada malam sebelumnya.

Tidak sampai di situ. Setibanya Bintang Tenggara di Pulau Dewa, ia juga sudah mengawasi dari kejauhan. Perselisihan yang sempat terjadi dengan Swardana pun berada di bawah pantauannya. Pada akhirnya, ia bahkan turun tangan melerai kemungkinan pertarungan di jalanan. Sungguh sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh seseorang setingkat Maha Guru.

Kemudian, diam-diam ia mengamati ujian masuk tahap kerja sama. Ia menyaksikan kemampuan Bintang Tenggara di padang rumput saat menghadapi Dwarapala. Taktik yang mengerikan, sempat ia berpikir.

Lalu, ada pula sebuah tempuling Kasta Perak, yang kemungkinan berasal dari tulang binatang siluman. Namun, yang lebih mencengangkan lagi, adalah sebuah maha jurus silat yang bahkan ia sendiri tidak mengenal. Jurus yang mampu membuat seorang ahli pada Kasta Perunggu tingkat 4 menjadi sedemikian digdaya!

Setelah itu, pengambilan keputusan untuk menghindari Semut Api Merah… dari mana anak itu memperoleh Kartu Satwa Harimau Bara? pikirnya. Sungguh penilaian Kepala Pengawal Istana Keempat Kerajaan Parang Batu tidak berlebihan.

Terakhir, ada pula kejadian di dalam ruang dimensi berlatih yang melibatkan Guru Muda Anjana dan bekas anak didiknya, Lintang Tenggara. Meski terlambat tiba dan terlibat dalam pertarungan menghadapi Maha Guru Keenam, sebagai seorang ahli berpengalaman ia sudah mendapat gambaran yang memadai tentang kemampuan bertarung Bintang Tenggara.

Siapakah gurunya? Ahli manakah gerangan yang dapat menumbuhkan kemampuan yang sedemikian mengerikan? Tidak mungkin Kakak Mayang Tenggara, pikirnya. Kakak Mayang Tenggara telah mengasingkan diri dari dunia keahlian sejak lama. Lagipula, setelah putra pertamanya menjadi Petaka Perguruan, bukankah Kakak Mayang Tenggara bertekad tak hendak mengajarkan persilatan dan kesaktian kepada putra keduanya…?

Maha Guru Keempat menatap tajam ke arah Bintang Tenggara. “Sebutkan pertanyaanmu, anak muda,” ia berujar.

“Yang Terhormat Sesepuh Keempat, berdasarkan penjelasan tentang Yama dari Astanga Yoga, maka dalam menumbuhkan keahlian dituntut untuk memiliki pemikiran, perilaku, tindakan dan menjalani hidup yang baik…,” Bintang Tenggara berhenti sejenak.

“Lalu, bagaimana dengan ahli aliran hitam? Bagaimana dengan hati busuk, perilaku keji dan perbuatan tercela anggota Partai Iblis? Mereka juga adalah ahli, dan banyak dari mereka mampu mengembangkan keahlian sampai tingkat yang sangat tinggi….”

“Sudut pandang,” jawab Maha Guru Keempat cepat. “Kau masih muda, terlalu asyik belajar memberi arti dan memaknai perbuatan.”

Seluruh perhatian beralih ke Maha Guru Keempat.

“Pemikiranmu didasarkan pada kekuatan akal dan kemampuan nalar. Padahal, kebenaran dan kebebasan seringkali mengemuka setelah kita mengandalkan naluri. Pahami terlebih dahulu arti dan makna di balik Yama, sebelum engkau menyimpulkan bahwa orang lain adalah busuk, keji dan tercela,” Maha Guru Keempat berhenti. Kuliah hari ini ia sampaikan dengan tujuan untuk mengingatkan sebanyak mungkin generasi muda agar tak salah arah. Ia pun mengamati lawan bicaranya.

Bintang Tenggara terdiam. Sedari awal ia sadar bahwa pemahamannya akan dunia sangatlah terbatas. Benar apa yang disampaikan Maha Guru Keempat, jangan mempertanyakan sesuatu yang belum engkau pahami dengan baik.

Bintang Tenggara mengamati sekeliling. Sedari tadi ia mendengarkan berbagai cemooh dan umpatan dari murid-murid di sekelilingnya. Sebagian lagi, ada yang menatapnya dengan iba. Mereka hanya dapat membayangkan kemungkinan perisakan demi perisakan yang akan dihadapi anak itu nantinya.

“Yang Terhormat Sesepuh Keempat, murid menyadari kekurangan pemahaman. Apakah murid diperkenankan mengajukan satu pertanyaan lagi…?”

“Aku bersedia mendengarkan,” jawab Maha Guru Keempat penuh perhatian.

“Yang Terhormat Sesepuh Keempat, sudikah kiranya mengangkat hamba… sebagai anak didik?” sebuah senyum tersimpul di ujung bibir Bintang Tenggara.

“Bah!” Komodo Nagaradja paham betul taktik yang satu ini.

“Hah!” Seluruh murid yang hadir terpana. Gemuruh suara keterkejutan terdengar membahana.

“Lancang sekali anak dusun itu!”

“Hahaha… Murid Purwa… Bagai pungguk merindukan bulan!”

“Mungkin ia tak tahu bahwa Maha Guru Keempat tak pernah mengambil murid? Tapi, apa pun alasannya, seorang Maha Guru yang menentukan anak didik, bukan sebaliknya.”

Maha Guru Keempat tertegun. Ini bukanlah pertanyaan, ini adalah permintaan! Di saat yang sama, ingatannya berkelebat pada kenangan dua ratus tahun lalu. Di hadapannya berdiri Lintang Tenggara, seorang anak yang berbakat, penuh percaya diri dan semangat belajar, memiliki masa depan cerah…

Gemuruh reaksi hadirin mereda. Sekarang pandangan mata mereka menatap ke arah Maha Guru Keempat yang masih melayang di atas bukit. Mereka sudah dapat memperkirakan jawaban dari tokoh tersebut.

Maha Guru Keempat hanya menatap. Sungguh ia tak hendak mengulangi kesalahan masa lalu. Di saat yang sama, akan lebih mudah mengawasi dan melindungi Bintang Tenggara bila secara langsung berada di bawah pengawasannya.

Para hadirin mulai tak sabar. Mengapa Maha Guru Keempat belum juga menolak!?

“Ehem…” Maha Guru Keempat berdehem, meredakan tenggorokan sekaligus gemuruh hadirin yang mulai kembali ramai.

“Esok pagi, datanglah ke kediamanku di Kota Tugu.” Dengan demikian, Maha Guru Keempat melesat menghilang dari bukit yang dikelilingi ratusan murid.

“Apa!?” gemuruh suara tak percaya terdengar membahana. Bahkan, terdengar seperti paduan suara yang kehilangan dirijen, menjadi tak beraturan dan kehilangan harmoni.

Bintang Tenggara memutar badan dan melangkah meninggalkan bukit. Ia melihat puluhan murid yang tadi berdiri di belakangnya. Perlahan mereka bergeser dan membuka jalan.

Bintang Tenggara melangkah santai. Berdasarkan pengetahuannya akan hubungan Maha Guru Keempat dan Lintang Tenggara, maka kecil kemungkinan Maha Guru tersebut akan menolak permintaan darinya. Bintang Tenggara telah merasakan terbentuknya semacam ikatan di antara mereka.

Dalam hati Bintang Tenggara pun tersenyum. Cara untuk menjalani hari-hari yang tenang di Perguruan bukanlah menjadi murid yang tak dikenal dan terkesan lemah. Jalan pintas untuk hidup leluasa di Perguruan adalah menjadi murid yang tak mungkin bisa digugat posisinya. Mirip seperti Canting Emas, pikirnya dalam hati.

Langkah kaki Bintang Tenggara terhenti. Di hadapannya sekelompok remaja berdiri menutup jalan. Mereka menatap tajam ke arahnya. Andai kata pandangan mata dapat mencabik-cabik kulit, maka saat ini seharusnya tubuh Bintang Tenggara sudah bergelimang darah.

“Aku tak sabar menantikan kakak-kakak sekalian merisak calon anak didik Maha Guru Keempat…,” terdengar suara Canting Emas mencibir. Lalu ia melangkah ke samping Bintang Tenggara.

Menyadari risiko menyinggung perasakan seorang Maha Guru, sekelompok remaja tersebut mau tak mau terpaksa mendengus dan menyingkir.

“Aku tak tahu apa isi di dalam kepalamu itu,” bisik Canting Emas. “Mereka adalah kakak seperguruan, Putra dan Putri Perguruan pada angkatan-angkatan sebelumnya. Bahkan mereka belum terpilih menjadi anak didik seorang Maha Guru atau Sesepuh Perguruan.”

Setelah berpisah dengan Canting Emas, Bintang Tenggara tiba di depan Asrama Purwa. Di sinilah tempat tinggalnya sebagai Murid Purwa. Di keempat kota di Perguruan Gunung Agung, akan terdapat satu Asrama Purwa. Begitu pula halnya dengan Wisma Madya dan Graha Utama. Dengan kata lain, murid-murid dalam setiap golongan akan tersebar di setiap kota.

Bintang Tenggara melangkahkan kaki ke dalam asrama. Di depannya berdiri sebuah gedung besar dan bertingkat. Ia kemudian menunjukkan Lencana Purwa kepada petugas yang duduk di depan sebuah meja tinggi.

“Kamar 205. Lantai 2,” ujar petugas tersebut.

Di dalam kamar, Bintang menemukan empat buah tempat tidur, salah satunya terlihat kosong. Ia pun merebahkan tubuh.

“Ehem,” terdengar suara berdehem menggunakan mata hati.

“Guru?” Bintang Tenggara sudah menduga bahwa cepat atau lambat, gurunya itu pasti hendak mempertanyakan kehendaknya menjadi menjadi murid Maha Guru Keempat.

“Guru, muridmu ini belum menemukan petunjuk akan racun seperti apa yang menyerang tubuhmu…,” Bintang Tenggara mengambil inisiatif mengalihkan pembicaraan.

“Kalau mudah bagimu mengetahui hal tersebut, maka aku yang akan memanggilmu guru!” sergah Komodo Nagaradja meledek.

“Adalah ‘kewajiban’ bagi murid untuk menemukan penawar racun apa pun itu dan menyembuhkan tubuh Guru. Setelah itu, kita dapat menyembuhkan mustika retak Guru.”

“Aku tak sudi! Jangan kau korbankan nyawa ahli tak berdosa seperti kakakmu itu!” ujar Komodo Nagaradja dengan nada tinggi.

“Aku akan menyempurnakan teknik menyembuhkan mustika retak.”

“Darimana akan kau dapatkan pengetahun yang memadai?”

“Aku akan membelah kepala dan memakan otaknya,” jawab Bintang Tenggara datar.

“Oh… benarkah? Kuharap kau dapat menyisihkan tulang belakangnya… sudah lama aku tak menyeruput sumsum tulang belakang manusia,” kata-kata Komodo Nagaradja sama datarnya.

“Baiklah, Guru.”

Malam semakin larut, dan pembicaraan guru-murid tersebut semakin absurd.


***


Sesepuh Kelima mengaga. Rahangnya kaku sampai tak bisa mengatum. Hal ini terjadi setelah mendengar langsung ceritera dari Maha Guru Keempat.

“Pembahasan kita sehari yang lalu tiada berguna…,” ujar Sesepuh Ketujuh menghela napas panjang.

“Apa pun itu, kejuaraan internal tetap perlu dilangsungkan untuk menentukan perwakilan Perguruan,” sela Sesepuh Kelima. Rahangnya kembali berfungsi normal.

“Biarlah kejadian langka ini mengalir dengan sendirinya,” ujar Sesepuh Ketiga memaklumi.

“Terima kasih atas pengertian para Sesepuh sekalian,” ujar Maha Guru Keempat. Ia telah memutuskan bahwa membantu perkembangan Bintang Tenggara merupakan sebuah ‘kewajiban’ untuk menebus sebuah kelalaian di masa lalu.


***


“Ia adalah anak yang meminta menjadi anak didik Maha Guru Keempat…,” bisik murid-murid yang berpapasan dengan Bintang Tenggara. Pagi ini, mulai dari Asrama Purwa sampai ke gerbang dimensi antar kota, tidak ada yang tak mengetahui tentang kejadian sehari sebelumnya.

“Dua poin untuk perjalanan menuju Kota Tugu,” ungkap petugas gerbang dimensi.

Bintang menyerahkan lencana logam berbentuk melingkar miliknya. Lalu, ia melangkah masuk ke dalam gerbang dimensi. Tak lama, ia pun tiba di Kota Tugu.

Sebuah Patung Dewa Indra, dewa perang yang agung, berdiri menjulang tinggi mencapai tigapuluh meter ke udara. Ia berdiri di atas seekor penyu raksasa dan dikelilingi dua ekor naga. Dewa Indra ialah penguasa petir dan badai. Tangan kirinya memegang sebuah busur, sedangkan tangan kanannya terlihat seperti menarik dawai busur tersebut. Akan tetapi, sepertinya anak panah telah dilesatkan ke arah barat. Tugu Dewa Indra inilah rupanya yang mewakili nama kota ini.

Setelah bertanya kesana-kemari, akhirnya ia menemukan kediaman Maha Guru Keempat. Atau lebih tepatnya, benteng milik Maha Guru tersebut, di salah satu sudut Kota Tugu. Sebuah tembok tebal dan tinggi, dengan gapura kecil sebagai pintu masuknya, berdiri tegar di hadapan Bintang Tenggara.

Belum sempat tangannya mengetuk, pintu masuk terbuka dengan sendirinya. Seorang kakek tua kemudian melangkah keluar.

“Selamat datang, Tuan Muda,” ujarnya pelan, sambil mempersilakan tamunya masuk.

“Di balik hutan ini terdapat sebuah gubuk. Maha Guru Keempat menantimu di sana,” sambungnya.

Bintang Tenggara menapak ke dalam hutan. Setengah jam kemudian, baru ia menemukan gubuk dimaksud. Dari wilayah yang sedemikian luas, hanya terdapat sebuah gubuk kecil? pikirnya dalam hati.

Di atas dipan gubuk, Maha Guru Keempat duduk bersemedi.

“Salam hormat, Maha Guru Keempat. Bintang Tenggara mengucapkan terima kasih atas undangan Maha Guru.”

Maha Guru Keempat membuka matanya pelan. Bintang Tenggara kini dapat lebih mengamati wajah sang Maha Guru. Segaris parut bekas luka yang memanjang dari bawah mata kanan, ke bawah caping telinga, sampai ke balik leher menjadi ciri utama yang tak bisa terlupakan.

“Pertama, aku mengenal ayahmu, ibumu dan tentunya kakak lelakimu. Kedua, aku tak bisa menerimamu secara resmi sebagai murid, tapi aku dapat memandumu. Ketiga, kuyakin bahwa engkau telah memiliki guru yang tingkat keahliannya jauh berada di atas aku,” ujar Maha Guru Keempat tegas.

“Heh! Aku suka anak ini,” seru Komodo Nagaradja. “Walau, keahliannya baru berada pada Kasta Emas Tingkat 1.”

“Maha Guru Keempat, senang mengetahui bahwa Maha Guru Keempat sangat dekat dengan keluarga murid. Murid berterima kasih atas panduan yang akan Maha Guru berikan. Guru yang selama ini memandu murid adalah salah satu dari Sembilan Jenderal Bhayangkara,” ujar Bintang Tenggara.

“Hei! Jangan mengumbar jati diriku, bocah!?” Komodo Nagaradja sebal.

Dalam catatan sejarah tentang Sembilan Jenderal Bhayangkara, diketahui bahwa beberapa di antara mereka adalah siluman sempurna. Sayangnya, isi pustaka di Kerajaan Parang Batu tidaklah lengkap. Bintang Tenggara sesungguhnya hanya menebak-nebak jati diri gurunya Komodo Nagaradja. Siapa lagi yang memiliki keahlian sedemikian tinggi dan mengetahui dua dari Senjata Pusaka Baginda hanya dari sekilas pandang, jika bukan seorang ahli sekelas Sembilan Jenderal Bhayangkara?

Lalu, Bintang Tenggara berhasil menjebak Komodo Nagaradja melalui pertanyaan Sembilan Jenderal Bhayangkara dengan Tujuh Senjata Pusaka Baginda. Yang terakhir inilah yang membuktikan kebenaran akan asumsinya.

Maha Guru Keempat langsung melompat dan berdiri. Tak ada yang dapat menyembunyikan keterkejutannya. Di kalangan ahli, siapa yang tak akan gemetar bila mendengar legenda Sembilan Jenderal Bhayangkara!

Bintang Tenggara sadar bahwa informasi yang ia berikan sangatlah sensitif bagi ahli mana pun. Namun demikian, dari kata-kata pembukanya, sepertinya Maha Guru Keempat telah menakar kemampuan dirinya. Bersikap terbuka adalah pilihan terbaik. Tentu saja, ia akan menyimpan informasi seputar nama Komodo Nagaradja dan maha jurus Tinju Super Sakti.

Maha Guru Keempat menatap anak remaja di depannya. Pertanyaan yang mengganjal di hati, tentang kemampuan yang ditunjukkan saat ujian masuk tahap kedua dan kemampuan bertahan saat kejadian di dalam salah satu dimensi berlatih, terjawab sudah.

Namun demikian, Maha Guru Keempat sadar bahwa seusai Perang Jagat dan abad-abad kegelapan, tak pernah satu pun dari Sembilan Jenderal Bhayangkara yang muncul ke permukaan dan tak ada satu pun yang tahu dimana keberadaan mereka. Akan tetapi, ia menahan diri untuk bertanya.

“Dugaanku setengah benar,” ujar Maha Guru Keempat. “Aku menyadari bahwa ada seorang guru dengan keahlian tingkat tinggi yang melatihmu. Namun, tak terbayangkan bahkan olehku tentang salah satu dari Sembilan Jenderal Bhayangkara.” Raut wajahnya kini kembali tenang.

“Apa saja jurus yang telah engkau kuasai?” ujar sang Maha Guru.

“Murid dapat melancarkan tinju berkecepatan tinggi yang diimbuh tenaga dalam dan menguasai jurus Silek Linsang Halimun. Murid juga bisa membuat segel sebagai tempat berpijak yang dinamai Segel Penempatan,” ujar Bintang Tenggara cepat.

Maha Guru Keempat terkejut. Silek Linsang Halimun? Darimana ia mempelajari jurus itu…? Lalu, membuat jurus segel sendiri…? Sudahlah, pikir Maha Guru Keempat. Dengan memiliki salah satu dari Sembilan Jenderal Bhayangkara sebagai guru, apa pun yang tak mungkin bisa saja terwujudkan.

“Bagaimana dengan jurus menggunakan tempuling dan apa bakat unsur kesaktianmu?”

“Murid belum memiliki jurus dalam menggunakan tempuling… dan belum mengetahui bakat unsur kesaktian.”

“Pergilah ke Balai Bakti, jalankan tugas Perguruan. Kumpulkan 50 poin dalam sepekan,” ujar Maha Guru Keempat. Kemudian, ia melanjutkan semedi.

“Baik, Maha Guru.”


***


“Paman Balaputera, kuucapkan terima kasih atas pertolonganmu,” ujar Kum Kecho.

Hampir sepekan berlalu sejak dirinya ditemukan pingsan di hutan wilayah selatan Pulau Belantara Pusat oleh Balaputera. Tentu ia tak menyadari siapa sesungguhnya tokoh tersebut, karena memang tidak dilibatkan secara langsung dalam rencana Lintang Tenggara. Meskipun demikian, Kum Kecho yakin bahwa Balaputera adalah tokoh yang cukup tinggi keahliannya.

Buktinya, Balaputera mampu memberi pertolongan pertama pada kepik yang terluka cukup berat akibat tenaga dalam ahli Kasta Emas. Untuk kemudian, menyegel kembali kepik tersebut ke dalam Kartu Satwa. Selanjutnya, teman seperjalanan Balaputera adalah Si Kancil yang diperkirakan hanya selangkah dari evolusi menjadi siluman sempurna. Sungguh diperlukan keahlian maha tinggi untuk dapat bertahan dari suara melengking dan ceritera tiada henti dari Si Kancil itu.

“Hei, mana rasa terima kasihmu untukku,” sergah Si Kancil. “Sudah berapa banyak dongeng yang kau dengarkan dari aku secara cuma-cuma. Agar kau tahu, dongeng-dongengku memiliki kemampuan penyembuhan!”

Seperti biasa, Kum Kecho hanya bisa mengabaikan Si Kancil. Kalau sampai ia meladeni, maka urusannya akan semakin panjang. Ini adalah pelajaran sangat berharga yang hanya bisa didapat dari pengalaman menghabiskan waktu bersama Si Kancil itu.

Tubuhnya telah pulih sejak beberapa hari lalu. Akan tetapi, sengaja ia tidak segera pergi karena penasaran dengan jati diri penyelamatnya itu. Namun, sebagaimana biasanya, Kum Kecho tak sepenuhnya hendak mencampuri urusan orang lain.

Mereka kini sedang menapak lereng terjal di perbukitan.

“Apakah gerangan tujuan Paman Balaputera berkelana seorang diri?” tanya Kum Kecho tak dapat membendung rasa ingin tahu.

“Sendiri? Maksudmu?” sergah Si Kancil dari depan. “Rupanya kau belum pernah mendengar kisah Si Kancil dan Timun Emas….”

Kum Kecho mundur selangkah. Ia melakukan kesalahan…

“Kancil, simpan ceritera itu untuk lain waktu. Mari kita beristirahat di bawah pohon rindang itu,” ujar Balaputera sambil menunjuk ke arah sebuah pohon.

“Dari waktu ke waktu, ada sejumlah ‘kewajiban’ yang perlu aku laksanakan,” jawab pengembara itu menyimpan misteri, setelah tiba di bawah pohon. Jawabannya ini lebih ditujukan kepada diri sendiri, daripada untuk teman seperjalanan yang ia temui tak sadarkan diri itu. Ia pun menghela napas panjang.

“Bagaimana denganmu? Apa yang hendak engkau raih sampai-sampai menolak untuk tidur?” lanjut Balaputera.

“Aku memiliki ‘kewajiban’ untuk membalas dendam.”