Episode 60 - Perguruan Gunung Agung


 

Bintang Tenggara berjalan meninggalkan Balai Pengobatan. Dua malam yang lalu, menurut informasi petugas di Balai Pengobatan, ia diantarkan dalam keadaan tertidur oleh Maha Guru Keempat. Sekarang tubuhnya sudah lebih baik. Hatinya pun sedikit lega. Ayahanda sepertinya dalam keadaan sehat di Padepokan Kabut, sebuah perguruan yang seluruh anggotanya perempuan. Apakah aku perlu mengunjungi ayahanda? Apakah aku perlu mengabarkan bahwa ayahanda dikelilingi banyak perempuan kepada Bunda Mayang? Bintang Tenggara menimbang-nimbang. 

Karena kejadian dua malam sebelumnya pula, Bintang Tenggara melewatkan sesi pengenalan perguruan. Meski, ia memperoleh sesi berkenalan dengan kakak Embun Kahyangan... Untunglah, dari petugas di Balai Pengobatan ia memperoleh informasi yang lebih mendalam tentang Perguruan Gunung Agung.

Perguruan Gunung Agung terdiri dari empat kota yang mengelilingi sebuah gunung yang dikenal dengan nama Gunung Istana Dewa. Keempat kota tersebut berjuluk Kota Tugu, Kota Candi, Kota Sanggar dan Kota Gapura. Setiap kota dipimpin oleh seorang Punggawa Kota, yang merupakan sesepuh dari perguruan. Bintang sekarang berada di Kota Sanggar.

Dalam hal pengajaran keahlian, Perguruan Gunung Agung membagi displin ilmu ke dalam Kejuruan. Setiap Kejuruan dibina oleh seorang sesepuh utama Perguruan. Mereka ini yang dikenal sebagai Tri Baghawan Agung, yaitu: Sesepuh Kedua, Sesepuh Ketiga dan Sesepuh Keempat. Jabatan mereka berada di atas Punggawa Kota.

Setelah itu, setiap Kejuruan dibagi pula dalam beberapa Bidang. Setiap Bidang dipimpin oleh seorang Maha Guru. Jabatan mereka dikenal sebagai Punggawa Bidang dan setara dengan jabatan Punggawa Kota. Jadi, Sesepuh adalah jabatan struktural dan Maha Guru adalah jabatan fungsional. Secara bersama-sama mereka dikenal sebagai Tetua Perguruan.

Adapun susunan Kejuruan dan Bidang di dalam Perguruan Gunung Agung adalah sebagai berikut:

1. Kejuruan Kesaktian

    - Bidang Unsur Api

    - Bidang Unsur Angin

    - Bidang Unsur Air

    - Bidang Unsur Tanah

    - Bidang Unsur Lainnya

2. Kejuruan Persilatan

    - Bidang Tarung Dekat

    - Bidang Tarung Menengah

    - Bidang Tarung Jauh

    - Bidang Tarung Lainnya

3. Kejuruan Keterampilan Khusus

    - Bidang Penyegel

    - Bidang Peramu

    - Bidang Penyembuh

    - Bidang Penempa

    - Bidang Peramal

    - Bidang Lainnya

Ketiga Kejuruan dan Bidang di bawahnya, terbuka bagi seluruh murid, sesuai syarat dan kententuan yang ada. Sebagai tambahan, Perguruan Gunung Agung menerima murid dari seluruh wilayah di Negeri Dua Samudera tanpa terkecuali. Tentunya, para murid diharuskan melewati ujian masuk.

Bintang Tenggara sudah memiliki gambaran umum ke bidang mana saja nantinya ia hendak berkunjung.

Langkah kaki Bintang Tenggara kemudian melewati dua buah balai besar yang dipisahkan oleh sebuah jalan di tengahnya. Di depan salah satu balai, belasan anak-anak remaja berbaris teratur. Sementara itu, balai lain di seberangnya dikerumuni oleh puluhan anak-anak remaja.

“Biaya perkuliahan sebesar 3 poin!” terdengar suara seorang petugas dari balai yang banyak dikerumuni. Lalu, terlihat seorang anak menyerahkan lencana mereka. Lencana tersebut lalu ditempelkan di sebuah lencana lain.

Balai-balai yang sepi pastilah balai dimana perkuliahan diberikan cuma-cuma. Kuliah tingkat dasar, pikir Bintang Tenggara. Sedangkan balai di depannya, kemungkinan balai yang mewajibkan murid perguruan melakukan barter poin.

Demikianlah sistem di dalam Perguruan Gunung Agung, dan perguruan-perguruan besar lain. Perkuliahan dasar diberikan cuma-cuma. Sedangkan perkuliahan tingkat lanjutan memaksa murid-murid menyerahkan poin. Meski ada sedikit poin yang didapat cuma-cuma setiap bulan, tentulah tidak memadai jumlahnya. Untuk memperoleh poin, murid harus menjalankan tugas-tugas yang diberikan Perguruan.

Bintang Tenggara melanjutkan langkah kakinya. Kini ia berdiri di depan sebuah gedung yang besar. Beberapa murid-murid perguruan terlihat keluar masuk silih berganti melalui sebuah pintu besar. Di sisi atas pintu, dipajang sebuah tulisan ‘Balai Bakti’.

“Balai Bakti,” gumam Bintang. “Bukankah ini balai dimana tugas-tugas perguruan dapat diperoleh?” Kedua matanya lalu melihat sebuah papan pengumuman besar. Ditempel di permukaan papan tersebut adalah beraneka jenis tugas. Ada tugas mengumpulkan tetumbuhan siluman, tugas membersihkan aula Perguruan, tugas membantu masyarakat sekitar, sampai tugas memburu binatang siluman. Masing-masing tugas disertai penjelasan dan jumlah poin yang dapat diperoleh ketika menyelesaikan tugas tersebut.

Bintang Tenggara hendak melanjutkan langkah kakinya ketika kedua matanya bertatapan dengan seorang remaja berambut panjang.

“Oh, bukankah engkau salah satu dari pahlawan kesiangan beberapa hari lalu?” ujarnya remaja tersebut ringan.

Bintang Tenggara mengingat tokoh tersebut. Ia adalah remaja yang ia dan Panglima Segantang temui di jalanan Kota Taman Selatan. Swardana, namanya. Di belakang Swardana, Bintang lalu melihat remaja bermuka kambing. Tak salah lagi. Mereka ini adalah regu perisak, cibir Bintang dalam hati.

“Benar sekali,” jawab remaja bermuka kambing menimpali cepat.

“Mana temanmu yang bertubuh besar itu?” tanya Swardana lirih.

Bintang Tenggara pura-pura tak mendengar. Ia pun melangkah menjauh.

“Hahaha…” Swardana tertawa mengejek. “Aku tak tahu apakah engkau berani atau mungkin bodoh… Yang jelas, engkau mengabaikan kakak seperguruanmu yang menyapa dengan niat baik.”

Remaja bermuka kambing lalu melangkah menyusul Bintang Tenggara. “Sebaiknya kau ikut dengan kami…”

“Bug!”

Belum sempat remaja bermuka kambing merangkul bahu Bintang Tenggara, tiga buah pukulan keras telah terlebih dahulu menghantam ulu hatinya. Ia serta merta roboh dua tiga langkah ke belakang!

“Kau!” Swardana bersiap menyerang…

“Kakak Swardana, apakah gerangan yang terjadi di sini?” terdengar suara seorang gadis menyapa.

Swardana berhenti di tempat. Bintang Tenggara menoleh dan menemukan seorang gadis remaja mengenakan cadar berwarna biru. Di belakangnya, seorang gadis mengintil. Siapa lagi kalau bukan Canting Emas dan Kuau Kakimerah.

“Oh… Adik Canting Emas… Sudah lama kita tak bersua.” Swardana tersenyum lebar.

“Kakak Swardana, menyingkirlah dari hadapanku…,” ucap Canting Emas ringan.

“Eh… Canting Emas?” Swardana berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

“Sekarang!” hardik Canting Emas.

“Ah… aku baru teringat. Tenggat waktu penugasan menangkap binatang siluman sebentar lagi berakhir… Kita harus segera melapor ke Balai Bakti dan mengambil poin imbalan,” ujar Swardana kepada teman-temannya, lalu segera ia pergi. Dua orang temannya segera membopong remaja bermuka kambing yang masih merintih kesakitan di atas rerumputan.

“Bintang Tenggara…,” tegur Canting Emas. “Apakah kau tahu bahwa melukai sesama murid Perguruan dapat diganjar hukuman berat?”

Bintang Tenggara hanya melongo. Baru saja ia hendak menjawab…

“Bintang Tenggara!” terdengar teriakan dari kejauhan. Lalu sesosok tubuh menerkam dirinya… Sigap, Bintang melompat ke samping.

Sosok yang hendak menerkam kehilangan sasaran, kemudian terjatuh berguling-guling di rerumputan. Ia lalu bangkit dan berseru, “Siapakah dewi kesuburan berkemben ungu yang bersamamu dua malam lalu!? Aku melihat kalian berpeluk-pelukan mesra sebelum menghilang!” hardik Aji Pamungkas. Wajahnya beringas.

“Hentikan omong kosongmu itu,” sela Canting Emas.

“Omong kosong!? Dan kau Ca-Em… kapan waktunya engkau bertelanjang dada!? Bukankan demikian kebiasaan perempuan di Pulau Dewa?!” Aji Pamungkas berseru.

“Plak! Plak! Plak!” Canting Emas menampar Aji Pamungkas.

“Jangan kau hina budaya Pulau Dewa!” seru Canting Emas. “Sudah sejak seribu tahun lalu kami beradaptasi. Kau tak akan lagi menemukan perempuan Pulau Dewa yang bertelanjang dada!”

“Dusta!” seru Aji Pamungkas menyeringai. “Kau hanya tak percaya diri dengan dadamu yang rata!”

“Plak! Plak! Plak!” Canting Emas kembali menampar Aji Pamungkas.

Bintang Tenggara diam-diam melangkah pergi. Di sudut sebuah bangunan, ia segera berbelok. Akan tetapi, langkahnya segera terhenti. Matanya melotot. Kedua tangannya bergetar. Tepat di depannya, sebuah gedung bertingkat tiga berdiri megah. Sebuah papan nama membentang perkasa…. ‘Pustaka Madya’.

Segera ia bergegas masuk. Seorang petugas menyapanya. “Mohon tunjukkan Lencana Perguruan,” ujarnya.

Bintang mengeluarkan sebuah lencana besi. Ukiran di permukaannya mirip dengan lencana perunggu milik Guru Muda Anjana, sebuah gunung yang diapit oleh sepasang gapura simetris. Akan tetapi, bentuk lencana Bintang adalah bundar. Lencana besi berbentuk bundar adalah lencana milik Murid Purwa. Murid Madya memiliki lencana berbentuk persegi empat, dan lencana Murid Utama berbentuk persegi lima.

“Mohon maaf, namun ini adalah pustaka yang diperuntukkan bagi Murid Madya,” ungkap si petugas.

“Jadi, aku tak diperbolehkan masuk?”

“Benar,” jawab petugas ringan. “Pustaka Purwa terletak di Kota Candi. Biaya keanggotaan Pustaka Purwa adalah 10 poin per bulan. Biaya gerbang dimensi menuju Kota Candi adalah dua poin sekali jalan.” Tutup petugas tersebut dengan senyuman. Sepertinya ia tahu betul bahwa anak remaja di depannya adalah murid baru.

Bintang Tenggara menebar mata hati ke Lencana Murid Purwa di tangannya. ‘10’ adalah jumlah poin yang tersedia. Sebagai Murid Purwa, ia mendapat jatah 10 poin dan sejumlah keping perunggu sebulan sekali. “Apakah aku harus ke Balai Bakti dan mengerjakan tugas-tugas dari Perguruan?” gumamnya pelan.

Dengan hati lesu, Bintang Tenggara mengangkat kakinya dari gedung Pustaka Madya. Petugas gedung juga memberitahu bahwa dibandingkan Pustaka Purwa, Pustaka Madya memiliki koleksi kitab dan buku yang lebih lengkap. Lebih lengkap lagi adalah Pustaka Utama. Para Murid Utama diperbolehkan mendaftarkan diri di semua pustaka.

Bintang Tenggara menghela napas panjang. Memang Murid Utama memiliki lebih banyak fasilitas pendukung. Mungkin tak ada salahnya menjadi Murid Utama, pikirnya lagi.

“Cepat, cepat…” tiba-tiba terdengar suara bergegas.

“Benarkah…? Jarang sekali seorang Maha Guru turun gunung untuk memberikan perkuliahan,” terdengar suara ragu.

Bintang menyaksikan beberapa murid Perguruan setengah berlari.

“Dalam sepuluh tahun sekali pun tak pernah terjadi… Biasanya para Maha Guru hanya mengajar kepada anak-anak didik mereka yang terpilih…”

“Bukankah anak didik para Maha Guru biasanya adalah Putra dan Putri Perguruan…,” timpal suara lain lagi.

Sekelompok murid lain kini terlihat berlari-lari ke arah yang sama dengan murid-murid sebelumnya.

“Maka dari itu… kudengar Maha Guru Keempat sedang memberikan perkuliahan cuma-cuma di puncak bukit…”

“Aku pernah mendengar bahwa Maha Guru Keempat, selama 200 tahun terakhir tak pernah mengangkat murid…”

“Maha Guru Keempat?” gumam Bintang Tenggara. Ia pun bergegas melangkah mengejar kumpulan murid-murid tersebut.

Tak lama, Bintang tiba di kaki sebuah bukit kecil. Ia menyaksikan bahwa seluruh penjuru bukit telah diisi oleh ratusan murid-murid Perguruan. Dari kejauhan juga terlihat masih ada murid-murid lain yang datang berbondong-bondong. Mungkin berita tentang seorang Maha Guru yang memberikan perkuliahan cuma-cuma sudah menyebar sampai ke kota-kota lain.

Di puncak bukit, Bintang Tenggara lalu melihat seorang lelaki dewasa berdiri. Perlahan, kemudian ia melayang sekira sepuluh meter di atas puncak bukit kecil itu.

“Hari ini aku akan membahas salah satu dari delapan tahap dalam pemurnian tubuh, pikiran dan jiwa… serta pengaruhnya terhadap perkembangan keahlian,” ungkap Maha Guru Keempat. Suaranya tidaklah keras, namun setiap orang dapat mendengarkan dengan tingkat kejelasan yang sama. Ia mengimbuhkan tenaga dalam di suaranya itu.

Yama atau pengendalian diri, Niyama atau disiplin diri, Asana atau olah tubuh, Pranayama atau pernapasan, Patyahara atau penarikan diri, Dharana atau konsentrasi, serta Dhyana yaitu meditasi.” Maha Guru Keempat berhenti sejenak.

“Kedelapan tahap dalam pemurnian tubuh, pikiran dan jiwa ini dikenal dengan nama Astanga Yoga,” sambungnya pelan.

Murid-murid yang hadir mendengarkan dengan seksama. Ada yang mencatat, ada yang memejamkan mata sambil meresapi setiap satu dari Astanga Yoga.

“Seperti yang aku sampaikan di awal, hari ini kita tak akan membahas keseluruhan Astanga Yoga,” sambungnya. “Hari ini aku akan menekankan pada Yama.”

Meskipun perkuliahan terbuka telah dimulai. Masih terlihat beberapa murid datang ke bukit itu. Bahkan, beberapa yang memiliki binatang siluman atau pusaka untuk terbang, mencermati perkuliahan dari udara.

“Yama, atau pengendalian diri, adalah pengetahuan tentang etika dan moral yang patut dipatuhi dan merupakan dasar bagi perkembangan keahlian. Aspek ini akan berpengaruh pada kesehatan mental, psikologi serta jiwa seorang ahli dalam menapak masa depannya.” Maha Guru Keempat melayang sedikit lebih tinggi.

“Yama dibagi menjadi lima aspek, yaitu: Ahimsa, Satya, Asetya, Brahmakarya, dan Aparigraha…” Maha Guru Keempat menyapu pandang ke seluruh yang hadir. Pandangan matanya lalu bertemu dengan tatapan mata Bintang Tenggara.

Maha Guru Keempat menarik napas panjang lalu melanjutkan. “Ahimsa berarti tidak menyakiti atau melukai makhluk hidup baik melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ini adalah bagian yang tersulit di dalam dunia keahlian. Akan tetapi, yang perlu dicermati adalah niat yang tumbuh dari dalam diri. Interpretasi dari Ahimsa, pada akhirnya, tergantung pada masing-masing individu.”

Wajah sejumlah murid terlihat kusut, ada yang menganggukkan kepala, ada pula yang mulai terlibat dalam diskusi dengan murid-murid lain.

“Yang kedua, diartikan sebagai pemikiran yang tepat dalam mencapai kebenaran. Banyak yang mengartikan Satya sebagai sikap jujur atau tidak berbohong. Namun, sungguh, Satya memiliki makna yang lebih mendalam terkait kebenaran. Sedangkan kebenaran itu sendiri bersifat sangat relatif.”

Bintang Tenggara bergumam, “Jika demikian, apakah kebenaran itu?”

“Asetya menekankan pada hak. Asetya berarti tidak mencuri. Seorang ahli seringkali sangat tergoda untuk mengambil apa-apa yang bukan haknya. Apakah ada di antara kalian yang bisa menunjukkan bahwa sebuah pencerahan dapat dicuri dari ahli lain?” Maha Guru Keempat berhenti sejenak. “Tentu tidak.”

Semakin banyak murid-murid yang mengangguk-angguk. Apakah itu petanda mengerti atau sebaliknya… hanya mereka sendiri yang tahu.

“Keempat adalah Brahmakarya. Secara harfiah Brahmakarya berarti melekat pada brahma. Pemahamanku menyimpulkan bahwa Brahmakarya berarti menjaga kemurnian tubuh, pikiran dan emosi. Intinya, janganlah jatuh ke jurang nafsu. Sadarlah bahwa setiap satu dari kalian memiliki keahlian dalam mengendalikan nafsu. Kenali nafsu di dalam diri masing-masing, lalu kendalikanlah!”

Bintang Tenggara merasakan kegetiran yang mendalam dari setiap kata-kata yang disampaikan oleh Maha Guru Keempat tadi.

“Yang kelima dan terakhir, Aparigraha. Dalam membangun pemahaman, merumuskan penafsiran, lalu meraih pencerahan; lakukanlah dalam kesederhanaan. Hiduplah dalam kesederhanaan karena kederhanaan pulalah yang pada akhirnya akan menuntun pertumbuhan dan perkembangan keahlian.”

Seluruh murid yang hadir terdiam.

“Apakah kiranya ada pertanyaan?” ungkap Maha Guru Keempat membuka kesempatan tanya-jawab.

Suasana hening.

Bintang Tenggara menoleh ke kiri dan ke kanan. Tak satu pun murid yang hadir berani mengajukan pertanyaan. Entah karena sudah mengerti, atau mungkin terlalu kebingungan, sampai-sampai mengajukan pertanyaan pun tak bisa.

Maha Guru Keempat masih melayang ringan di atas puncak bukit. Kedua tangannya dilipat ke belakang. Bekas luka di wajahnya membuktikan bahwa perjalanan dunia keahlian tidak mudah adanya.

“Yang Terhormat Sesepuh Keempat, diriku memiliki satu pertanyaan,” tukas Bintang Tenggara di tengah kesunyian.



Catatan:

Nantikan Episode Bayangan pada waktu dan tempat seperti biasa. :)