Episode 59 - Kekuatan Ketiga


Hamparan bata merah berserakan sejauh mata memandang. Di sana-sini terlihat puing-puing tembok yang tinggi dan tebal. Bahkan, samar-samar masih terlihat sebuah gapura yang demikian besar. Di sisi dalam gapura, tergeletak sebuah pintu besar yang terbuat dari logam dengan berbagai ukiran yang indah.

Di tengah-tengah pintu terdapat ukiran megah sebuah matahari dengan delapan sudut. Di dalam matahari tersebut, kemudian terdapat sebuah lingkaran yang tumpang tindih dengan satu lagi bentuk matahari bersudut delapan yang lebih kecil. Baru pada bagian terdalam, terdapat sebuah lingkaran sebagai pusat dari matahari. *

Pada satu bagian, terlihat ukiran kuda dengan sepasang sayap besar. Mungkin ukiran kuda terbang tersebut merupakan ciri khas seniman pembuat pintu logam dan megah itu. Akan tetapi, kondisi pintu logam tersebut sangatlah mengenaskankan. Bentuknya cekung, bak menjadi saksi kekuatan digdaya yang pernah menghantamnya. Sekilas pandang mungkin tak akan ada yang menyangka bahwa onggokan logam tersebut dahulunya merupakan pintu yang indah. Bahkan, keindahannya layak menjadi pintu masuk menuju sebuah tamadun seni dan sastra yang tinggi.

Melewati puing-puing tembok bata merah dan gapura, terlihat struktur kaki-kaki gedung-gedung panjang dan besar. Dahulu kala, rangkaian bangunan merupakan tempat rapat tahunan para pejabat negara, sebuah pasar, serta sebuah persimpangan jalan. Kini akar belukar pepohonan merampas hasil kerja tangan-tangan manusia terampil.

Menapaki persimpangan jalan, maka akan terlihat sebuah gerbang dalam, yang menuju ke sebuah halaman luas. Sekarang gerbang tersebut telah runtuh dan halaman luas tersebut dipenuhi semak belukar. Di sisi kanan dan kiri halaman, terlihat pula puing-puing berbagai macam bangunan suci.

Terus menapak, di ujung selatan halaman terdapat jajaran teras-teras berundak, yang dulunya merupakan bangunan-bangunan tempat tinggal para abdi dalam. Pada sisi barat lapangan berdiri pula puing-puing pendopo, di kelilingi kanal dan kolam tempat orang mandi. Sama seperti pemandangan sebelumnya, akar pepohonan dan semak belukar telah mengubah bentuk asalnya.

Kemudian, berdiri sebuah gerbang keluar dari halaman tadi, menuju halaman yang lain lagi. Di halaman tersebut berdiri puing-puing sebuah Balairung Agung. Sebagian temboknya masih berdiri kokoh. Balairung Agung ini dulunya berfungsi sebagai ruang tunggu para tetamu yang ingin menghadap raja.

Lebih jauh ke dalam, maka akan ditemukan puing-puing istana. Bukan, bukan hanya sebuah istana, melainkan kompleks istana. Di sinilah dahulu sang Sang Maha Patih sempat bertahta.

Lokasi puing-puing yang terabaikan ini dengan demikian merupakan bekas ibukota lama Negeri Dua Samudera, yaitu Sastra Wulan. Lokasinya terletak di belahan timur Pulau Jumawa Selatan. Ibukota ini porak-poranda karena berada dekat dengan pusat pertempuran di akhir Perang Jagat. Bahkan, sekelompok binatang siluman ada yang datang menyerang.

Tak dapat dibayangkan kekacauan yang terjadi kala itu. Penduduk yang selamat, banyak yang mengungsi ke berbagai wilayah lain. Apalagi, kini ibukota Negeri Dua Samudera berpindah ke wilayah barat Pulau Jumawa Selatan. Tak seorang pun pernah kembali menetap, dan Sastra Wulan pun menjadi tamadun yang terlupakan.

Akan tetapi, dari waktu ke waktu, akan ada kelompok penjelajah yang menelusuri reruntuhan Sastra Wulan untuk mencari peruntungan. Mereka menggali di sana sini, hanya untuk berhadapan dengan binatang siluman yang menetap di sekitar reruntuhan.

Di sebuah ruang tersembunyi bawah tanah yang bersemanyam di luar kompleks istana, terlihat api obor menari-nari gemulai dimainkan angin. Cahaya temaram obor membuat ukiran relief-relief di sepanjang tembok dalam ruangan seolah-olah hidup. Mereka mengisahkan kehidupan makmur Negeri Dua Samudera seribu tahun lalu.

Sekelompok orang melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang bawah tanah itu. Obor yang menyala di keempat sudut ruangan yang berukuran sekitar 10 x 10 meter tersebut, lalu diraih dari cangkang-cangkangnya.

Orang-orang itu lalu melangkah menuju ke tengah ruangan. Cahaya yang tersibak pelan lalu menampilkan sebuah altar berbentuk persegi panjang, mirip sebuah tempat tidur tunggal. Tinggi altar mencapai tinggi sedada orang dewasa. Obor lalu disematkan ke setiap sudut altar.

Hanya setelah obor terpasang di sudut altar, baru kemudian terlihat seorang anak remaja lelaki tanpa sehelai benang pun tergeletak di sisi atas altar. Kedua kaki dan tangannya terpasung. Meski kedua matanya terbuka, tak terlihat lagi sinar kehidupan layaknya seorang anak remaja. Sepertinya ia sudah cukup lama terpasung di ruangan ini, dibiarkan tetap bernyawa dan dalam kesendirian sampai jiwanya menjadi beku.

Orang-orang tersebut lalu duduk bersila. Tujuh jumlah mereka, seorang lelaki setengah baya serta tiga lelaki dan tiga perempuan muda. Kesemuanya lalu membuka pakaian bagian atas, mereka bertelanjang dada. Terlihat dari tubuh mereka bekas-bekas gigitan di berbagai tempat.

Masing-masing dari mereka lalu mengeluarkan tungku-tungku kecil, mengisi dengan kulit pohon bergetah, dan mulai membakar perlahan. Asap dan aroma kemenyan segera memenuhi seluruh penjuru ruangan. Tak perlu waktu lama, ruangan menjadi pengap.

Kemenyan memang identik dengan segala sesuatu yang berbau mistis. Bau wanginya saat dibakar dipercaya sebagai jembatan penghubung antara dunia manusia dan dunia lain. Sementara, ketujuh orang ini sepertinya telah melakukan persiapan yang cukup panjang untuk tiba pada hari ini.

Dipimpin oleh lelaki setengah baya, mulut mereka pun mulai berkomat-kamit…

Panggilan dari gunung,

Turun ke lembah-lembah…

Kenapa nadamu murung,

Langkah kaki gelisah… **

Panggilan dari kami,

Kehendak membawa perkara…

Datanglah engkau dinanti,

Wahai Raja Angkara… ***

“Khikhikhi…”

Terdengar rintih tawa melengking yang seolah dapat menyayat jiwa. Kemudian, asap kemenyan di seluruh penjuru ruangan berkumpul menjadi gumpalan asap tebal tepat di atas tubuh anak remaja lelaki yang terpasung di atas altar. Suasana berubah mencekam.

Asap kemenyan berputar, semakin lama semakin deras. Kilatan demi kilatan listrik melesat kecil di berbagai tempat. Tiba-tiba, gumpalan asap membuka… gerbang dimensi!

“Brak!” Kayu-kayu yang memasung anak remaja tersebut pecah dan terlontar deras. Salah satu pecahan membabat leher seorang lelaki muda, sisa kepingan kayu menghantam ke arah dinding ruang.

“Khikhikhi….”

“Selamat datang… wahai Yang Kelam Paduka Raja Angkara.”


***


“Selamat datang, Gubernur Pulau Lima Dendam!” Terdengar teriakan puluhan orang membahana.

“Bupati Utara memberi salam kepada Gubernur Sumantorono,” terdengar suara seorang perempuan menyapa. Penampilannya sangatlah menggoda. Ia mengenakan sebuah kebaya yang sangat ketat. Pesona lekuk tubuhnya akan mampu membuat lelaki mana pun menoleh lebih dari sekali.

“Terima kasih atas penjemputan kalian,” jawab Sumantorono, Gubernur Pulau Lima Dendam, alias bekas Maha Guru Keenam di Perguruan Gunung Agung.

“Bupati Utara, masuklah. Ada yang hendak aku bicarakan.”

Gubernur Pulau Lima Dendam didampingi Bupati Utara memasuki Graha Gubernur. Di dalam, sebuah singasana bersandar megah. Sang Gubernur menaiki beberapa anak tangga, lalu duduk tenang. Pembawaannya sungguh berwibawa.

“Bupati Utara, bagaimana kabarmu?” tegur seorang lelaki berambut panjang memasuki ruang singasana. Di belakangnya terlihat seorang pemuda mengikuti.

“Bupati Selatan, Lintang Tenggara… Kudengar terjadi kekacauan di Pulau Dewa,” ungkap Bupati Utara.

Lintang Tenggara hanya tersenyum. Ia sepenuhnya menyadari bahwa kegagalan menculik Sang Lamafa Muda disebabkan kelengahannya.

“Bahkan aku tak menyangka akan hadir seorang pembunuh bayangan, dan Berawa…,” ujar sang Gubernur.

“Penelitian kita dipastikan terus tertunda,” ungkap Bupati Utara. “Keberadaan kita di Perguruan Gunung Agung pun terbongkar. Akan sulit untuk kembali ke dalam Perguruan.”

“Janganlah khawatir mengenai Perguruan Gunung Agung, aku masih memiliki kaki-tangan di sana…,” ujar sang Gubernur. “Bagaimana dengan tugasmu menelusuri keberadaan Balaputera?” tanya sang Gubernur kepada Bupati Utara.

“Informasi terakhir yang kami peroleh mengatakan bahwa setengah tahun yang lalu, Balaputera terlihat di wilayah tengah Pulau Jumawa Selatan. Lalu, ia bergerak ke timur, menuju Gunung Kahyangan Narada.” Bupati Utara melenggak-lenggok ketika menjelaskan.

“Gunung Kahyangan Narada? Padepokan Kabut… Pembunuh bayangan,” gumam sang Gubernur sambil mengelus-elus janggut pendeknya. Perkiraannya terbukti benar. Kehadiran perempuan pembunuh bayangan tempo hari bukanlah kebetulan. Orang yang mengirim pembunuh bayangan untuk melindungi anak keduanya, tak lain adalah Balaputera sendiri.

“Namun, setelah itu kami tak dapat menelusuri lebih lanjut. Ia menghilang bak ditelan bumi.” Bupati Utara terlihat bersungguh-sungguh menyajikan laporannya.

“Menelusuri jejak Balaputera berujung buntu… Setelah kutimbang-timbang, mungkin menculik putranya pun tak akan memancing kehadirannya…,” Gubernur Pulau Lima Dendam menatap Lintang Tenggara. Dalam hati ia berpikir, bagaimana caranya Balaputera dapat membaca langkah mereka? Ibarat permainan catur, upaya demi upaya yang telah dikerahkan selama bertahun-tahun terbaca dengan mudah, sehingga seringkali kalah langkah.

“Permasalahan ini terpaksa kita kesampingkan untuk sementara waktu…” lanjut sang Gubernur. “Hasil rapat bersama Gubernur lain di Pulau Durjana pagi ini, terdapat kekhawatiran yang lebih mendesak.”

“Apakah pemerintah Negeri Dua Samudera mengendus keberadaan Kepulauan Jembalang?” sela Bupati Utara.

“Bukan… Kekhawatiran Partai adalah pergerakan ‘Kekuatan Ketiga’ yang belakangan ini semakin sulit dipantau….”

“Kekuatan Ketiga?” Bupati Utara bertanya.

“Bila tujuan Partai Iblis adalah menggantikan pemerintahan Negeri Dua Samudera, maka Kekuatan Ketiga bertujuan menghancurkan Negeri Dua Samudera tanpa terkecuali. Kiamat!” sergah sang Bupati.

“Siapakah mereka?” kini giliran Bupati Selatan Lintang Tenggara yang mengajukan pertanyaan.

“Mereka adalah sebuah sekte aliran sesat. Saking sesatnya, mereka hanya menginginkan kehancuran,” jawab Gubernur cepat.

“Bukankah lebih bijak bila kita biarkan saja pemerintah Negeri Dua Samudera yang mengurus permasalahan ini? Kita bisa membisiki mereka dari belakang layar,” sambung Lintang Tenggara.

“Hm… pemerintah Negeri Dua Samudera terlalu angkuh. Mereka tak pernah hendak mengakui keberadaan sekte sesat itu. Kesepakatan hari ini, kelima kekuatan di Kepulauan Jembalang mengemban tanggung jawab atas wilayah-wilayah di Negeri Dua Samudera….”

“Tapi, ada yang lebih mendesak…,” Lintang Tenggara memaksa.

“Bupati Selatan dan Bupati Utara, kita mendapat tanggung jawab memantau pergerakan Kekuatan Ketiga di Pulau Jumawa Selatan. Segera bentuk regu yang terdiri dari lima orang. Dalam jangka waktu dekat, regu tersebut hendaknya bertolak ke Pulau Jumawa Selatan,” ujar sang Gubernur mengabaikan sanggahan Lintang Tenggara.

“Baik, Gubernur!” Bupati Selatan dan Bupati Utara Pulau Lima Dendam menjawab bersamaan.

“Bupati Selatan, pastikan Kum Kecho menjadi bagian dari regu tersebut. Aku hendak memantau kemampuannya,” lanjut sang Gubernur kepada Lintang Tenggara.

“Kum Kecho belum diketahui keberadaannya. Dikarenakan memasuki gerbang dimensi tepat di saat terjadi ledakan, sepertinya ia tersimpang arah…”

“Perkiraanku, formasi inti dari Segel Mustika di ulu hatiku ini merupakan jawaban untuk merampungkan penelitian… Namun, bahkan aku, tak dapat meretas Segel Mustika,” ujar Lintang Tenggara dalam perjalanan kembali menuju Griya Bupati.

“Anjana… Penelitianku menemui jalan buntu… Sedangkan waktuku sudah tak banyak lagi,” sambung Lintang Tenggara.

“Kakak Lintang, terkait usiamu, bukankah masih ada satu kemungkinan untuk memperpanjang usia sekaligus meningkatkan keahlianmu.”

Lintang Tenggara menarik napas panjang. “Kalau yang kau maksudkan adalah dengan mengambil mustika tenaga dalam orang lain dan memindahkan ke ulu hatiku, maka ada dua syarat yang harus dipenuhi... Pertama, haruslah seseorang dengan kasta dan tingkatan keahlian yang sama. Kedua, haruslah seseorang yang memiliki hubungan darah yang dekat."

“Kakak Lintang, dengan demikian, kita hanya perlu menunggu Bintang Tenggara tumbuh.”

“Tingkat keberhasilan cara ini sangatlah kecil… Aku belum menemukan catatan tentang ahli yang berhasil…,” ujar Lintang Tenggara. “Risikonya terlalu tinggi. Lebih baik bagi kita memanfaatkan pengetahuan ayahanda.” Tak ada emosi dari setiap kata-kata Lintang Tenggara.

“Kakak seperguruan, tugaskan aku sebagai perwakilan yang berangkat menuju Pulau Jumawa Selatan. Selain menyelidiki tentang Kekuatan Ketiga yang disebut-sebut Gubernur, aku akan mengutamakan penelusuran jejak Balaputera.


***


“Masih sulit kupercaya bahwa Maha Guru Keenam membelot,” ujar Sesepuh Ketujuh menghela napas panjang. Nada bicara perempuan tua itu mencerminkan keprihatinan yang mendalam.

“Yang tak kuduga adalah Petaka Perguruan masih berkeliaran di luar sana…,” Sesepuh Kelima menambahkan. “Sampai-sampai Guru Muda Anjana pun dipengaruhi…”

“Sungguh sebuah kehilangan… dan kita tak dapat berbuat apa-apa atas keadaan ini…” kini terdengar suara orang tua berbicara.

“Sesepuh Ketiga…” Sesepuh Ketujuh menghentikan kata-katanya setengah jalan.

“Yang dapat kita lakukan saat ini adalah membekali generasi muda sebaik mungkin,” sambung Sesepuh Ketiga .

“Anak yang bernama Bintang Tenggara tak dapat dibiarkan begitu saja. Mengingat jati dirinya, kita perlu melakukan sesuatu.” Kini Sesepuh Ketujuh melanjutkan kalimat yang tadingan terhenti.

“Aku akan menugaskan beberapa orang untuk mengawasi dan melindunginya secara terus-menerus,” ungkap Sesepuh Kelima.

“Kurasa tidaklah bijak untuk memberi pengamanan secara berlebihan. Aku lebih suka bila kita dapat membangun kepribadian dan kemampuannya agar ia dapat tumbuh baik dan mampu melindungi diri sendiri,” ungkap Sesepuh Ketiga.

“Aku setuju,” tukas Sesepuh Ketujuh cepat. “Bila diperkenankan, aku akan mengangkatnya sebagai anak didikku.”

“Sesepuh Ketujuh?” Sesepuh Kelima tak menyembunyikan keheranannya. “Bukankah engkau yang keras menolaknya sebagai murid Perguruan?”

“Dengan perkembangan terbaru, aku berubah pikiran,” ujar Sesepuh Ketujuh santai.

“Sesepuh Ketujuh… tentunya kau sadar bahwa tak pernah ada seorang sesepuh atau maha guru yang mengangkat anak didik dari generasi yang baru masuk ke Perguruan, dan dari kumpulan Murid Purwa pula…,” ujar Sesepuh Kelima.

“Kecuali bila ia mengharumkan nama perguruan,” sela Sesepuh Ketiga.

“Kebetulan! Dalam waktu dekat, akan segera dilangsungkan ‘Kejuaraan Keahlian’ antar perguruan di Pulau Jumawa Selatan,” ungkap Sesepuh Kelima.

“Benarkah akan ada kejuaraan?” Sesepuh Ketujuh setengah tak percaya akan kebetulan yang terjadi.

“Benar. Aku menerima undangan resmi dari panitia penyelenggara di Kota Ahli beberapa hari yang lalu. kejuaraan beregu untuk remaja berusia di bawah 17 tahun akan berlangsung tiga bulan dari sekarang.”

“Namun, apakah bijak bila tiba-tiba mengirimkan wakil yang tak dikenal?” Sesepuh Ketujuh sedikit ragu. “Tidakkah akan mengundang tanya murid-murid lain?”

“Selenggarakan terlebih dahulu kejuaraan internal sesuai usia, sebagai tahapan dalam menentukan wakil Perguruan,” kini sesepuh ketiga memberi solusi. “Pemenangnya akan mendapat bimbingan langsung dari Sesepuh Ketujuh sebagai persiapan menuju Kejuaraan Perguruan di Pulau Jumawa Selatan.”

“Pertanyaan berikutnya… apakah ia memiliki motivasi dan kemampuan bertarung yang memadai?” sambung Sesepuh Ketiga.

“Itu akan bergantung pada peruntungannya… Kita tak diperbolehkan memanipulasi hasil kejuaraan,” ujar Sesepuh Ketujuh.

“Satu hal lagi… Kemanakah Maha Guru Keempat?” tanya Sesepuh Kelima.

“Setelah memberikan laporan atas kejadian itu, ia memohon izin untuk menyendiri…,” ungkap Sesepuh Ketiga.

 

Catatan:

*) Motif matahari ini pernah disinggung dalam Episode 21.

**) Bait dari lagu berjudul ‘Panggilan dari Gunung’ karya Iwan Fals.

***) Raja Angkara sempat disinggung dalam Episode 1.


Cuap-cuap:

Pernahkah merasakan situasi dimana rangkaian nada sebuah lagu masuk ke dalam kepala dan tak mau pergi…? Itulah yang terjadi ketika menuliskan episode ini. Bait lagu Iwan Fals itu terus-menerus melantun di kepala.