Episode 58 - Si Kancil


 

Bintang Tenggara tersadar. Ia tak lagi berada di dalam dimensi khusus untuk berlatih di Perguruan Gunung Agung. Segera ia duduk, di bawah kakinya terasa butiran-butiran pasir. Ia mengamati dan memastikan sekeliling. Dalam gelap, samar-samar terdengar gemuruh ombak di kejauhan. Aroma laut yang ia kenal dekat terasa begitu menyegarkan.

Sebuah batu kuarsa segera ia raih dari dalam tas punggung. Selain kepingan-kepingan perunggu, Kepala Pengawal Istana Utama Kerajaan Parang Batu, Lombok Cakranegara, juga memberikan batu tersebut sebagai bekal. Selain batu kuarsa itu pun, masih ada beberapa benda lain, tentunya.

Sinar termaram tersibak dari batu kuarsa begitu mendapat sedikit aliran tenaga dalam. Kedua mata Bintang Tenggara lalu menangkap selembar selendang berwarna ungu tergeletak di samping tubuhnya.

“Selendang Batik Kahyangan,” gumamnya.

Menurut gurunya Komodo Nagaradja, Selendang Batik Kahyangan, bersama dengan Dayung Penakluk Samudera, adalah dua di antara Tujuh Pusaka Baginda milik Sembilan Jenderal Bhayangkara. Hm? hitungannya tidak pas. Bagaimana dengan dua Jenderal Bhayangkara lagi, apakah mereka tak menggunakan senjata?

Tunggu… bila Selendang Batik Kahyangan tergeletak di sini, dimanakah pemiliknya?

Bintang Tenggara segera menebar mata hati. Dari satu titik tak jauh dari tempat ia duduk, terasa samar-samar aura mustika tenaga dalam. Bintang pun segera bangkit, masih memegang penerangan seadanya. Ia hendak menuju lokasi tersebut dan memastikan apakah itu aura penyelamatnya. Begitu berdiri, Bintang Tenggara segera jatuh terjerembab. Dadanya sesak, sekujur tubuhnya nyeri. Ia baru teringat bahwa dirinya menderita cedera dalam yang tak ringan. Meski, cedera tersebut saat ini tak membahayakan jiwa.

Perlahan Bintang Tenggara mengalirkan tenaga dalam ke seluruh penjuru tubuh. Meski tenaga dalamnya hanya bersisa sekitar dua puluh persen, ia masih dapat mengimbuh tenaga dalam untuk sedikit meredakan cederanya. Atau setidaknya, mengurangi nyeri seperti saat disengat racun di Telaga Hijau dulu.

Tertatih, Bintang Tenggara lalu berdiri dan melangkah menuju aura mustika tenaga di balik kegelapan. Di tangan kiri ia menenteng Selendang Batik Kahyangan dan di tangan kanan batu kuarsa. Sinar dari batu kuarsa yang temaram membantunya mencari arah. Setelah beberapa meter, ia melihat bayangan tubuh tergeletak.

Batu kuarsa perlahan menerangi sepasang kaki yang putih, lalu betis, kemudian paha yang mulus. Jantung Bintang Tenggara berdetak kencang. Kalau benar perkiraannya, bahwa yang ada di genggaman tangannya adalah Selendang Batik Kahyangan, maka tubuh gadis penolongnya…

Sinar temaram batu kuarsa perlahan menampilkan seluruh tubuh gadis tersebut… jantung Bintang Tenggara berdetak semakin keras! Lalu, di luar perkiraannya, gadis tersebut ternyata mengenakan… pakaian dalam!

Meski demikian, pakaian dalam tak dapat mengimbangi kemolekan tubuh yang tergeletak demikian menggoda. Temaran sinar dari batu kuarsa malah membiaskan keindahan dari setiap lekuk tubuh yang begitu sempurna.

“Heh! Mengapa tadi jantungmu berdebar-debar?” gelak Komodo Nagaradja. “Apa yang kau pikirkan, hai bocah tanggung?” sambung sang guru, setengah mengejek.

“Bagaimanakah cara kerja Selendang Batik Kahyangan ini?” Bintang Tenggara mengalihkan pembicaraan.

“Selendang Batik Kahyangan hanya dapat digunakan oleh seseorang yang memiliki kesaktian unsur air ‘dan’ angin. Ia mengubah kedua unsur tersebut menjadi kabut dan memperkuat kekuatan kabut tersebut. Jadi, penggunaannya tidak secara langsung. Ia adalah pusaka dengan ciri pendukung. Sayangnya, gadis ini belum dapat memanfaatkan seluruh kemampuannya.”

“Hm… Guru, bila terdapat Sembilan Jenderal Bhayangkara tetapi hanya Tujuh Pusaka Baginda, maka senjata apakah yang Guru gunakan?”

“Aku tak memerlukan senjata!” hardik Komodo Nagaradja.

Hening…

“Heh! Apakah tadi pertanyaan jebakan!?” sambungnya beberapa saat kemudian.

Mengabaikan gurunya, Bintang Tenggara menghela napas panjang. Ia lalu memeriksa sekilas napas si gadis kabut… Rupanya tertidur, mungkin karena kelelahan. Bintang lalu menyelimuti tubuh si gadis dengan Selendang Batik Kahyangan. Ia keluarkan pula jubah berwarna ungu yang sempat ia beli di salah satu gerai di Pulau Dewa, untuk menambah tebal selimut. Niatnya, jubah tersebut hendak dihadiahkan kepada Bunda Mayang bilamana ia pulang nanti. Akan tetapi, gadis ini lebih membutuhkan jubah tersebut, pikirnya. Dan tidak hanya untuk saat ini, untuk seterusnya bilamana memungkinkan.

Bintang Tenggara lalu menyalakan api unggun kecil sambil menunggu si penolongnya siuman. Mengapa ia menolongku sampai sedemikian gigih?

Benak Bintang Tenggara lalu meninjau ulang pengalaman hari ini. Ia memulai dengan mengikuti ujian masuk ke Perguruan Gunung Agung. Ujian tahap pertama lulus. Ujian tahap kedua juga, begitu pula ujian terakhir. Ia telah resmi menjadi Murid Purwa Perguruan Gunung Agung. Status Murid Purwa pun adalah status yang ideal. Menjadi salah satu dari 300 murid biasa-biasa saja dalam satu angkatan tentu tak akan banyak menarik perhatian.

Lalu Benak Bintang Tenggara beralih ke ruang dimensi yang ia kunjungi bersama Guru Muda Anjana. Siapa yang mengira bahwa Guru Muda Anjana adalah anggota Partai Iblis!? Siapa yang dapat mengira bahwa Kum Kecho mengikuti ujian masuk, bahkan membawa kelompoknya menjadi kelompok yang pertama menyelesaikan tantangan tahap kedua?

Benaknya lalu mengingat sebuah tempuling bambu… dan Lintang Tenggara. Benarkah ia kakak kandungku? Keberadaan Lintang Tenggara sesungguhnya menjawab teka-teki tentang seorang lamafa yang menjadi murid Perguruan Gunung Agung 200 tahun lalu… Namun, bila benar adanya kata-kata Lintang Tenggara, maka berapakah umur ayahanda dan bunda?

Benak Bintang Tenggara berputar-putar. Jawaban atas satu pertanyaan, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang sama rumitnya.

“Guru, benarkah usia ahli Kasta Perak terpaut pada angka 250 tahun?”

“Bila tak mampu menerobos ke Kasta Emas, sebagian besar ahli Kasta Perak tutup usia setelah 250 tahun,” jawab Komodo Nagaradja. Gurunya itu masih terdengar sebal karena terjebak mengungkap jati dirinya.

Katakanlah di Perguruan, Lintang Tenggara menetap hingga berusia 15 atau 20 tahun, dan itu 200 tahun lalu… Jika demikian adanya, dan bila sesuai perhitungan, maka Lintang Tenggara hanya memiliki sekitar 25-30 tahun sisa umur, pikir Bintang.

Mungkinkah ini alasan utama mengapa Lintang Tenggara rela menempuh segala cara demi mencabut Segel Mustika? Setelah Segel Mustika dicabut, nantinya Lintang Tenggara akan memiliki waktu selama kurang lebih 25-30 tahun untuk menerobos ke Kasta Emas…

Jadi, ayahanda adalah pencipta… sekaligus orang yang merapal Segel Mustika terhadap anaknya sendiri. Sungguh keji. Bukankah tindakan tersebut sama saja dengan pelan-pelan membunuh sang anak?

Akan tetapi, bila ditilik lebih lanjut, Lintang Tenggara telah melakukan tindakan yang tabu di dunia keahlian dengan menjadikan sesama ahli sebagai kelinci percobaan. Mungkin ayahanda ingin memberi kesempatan agar ia bertobat. Meski demikian, bila dilihat dari tindakannya saat ini, Lintang Tenggara berada jauh dari pertobatan. Bintang Tenggara menghela napas panjang.

“Lintang Tenggara… sosok seperti apakah ia?” gumam Bintang. Terbersit dalam benaknya harapan akan sosok seorang kakak. Lamunan Bintang Tenggara lalu membawa dirinya terbaring di sebuah meja. Ia tak bisa bergerak. Kedua kaki dan kedua tangan terikat! Kemudian, Lintang Tenggara datang dengan senyum dan menenteng sebuah belati kecil, siap membedah dirinya…

“Lintang Tenggara salah asuhan…” gumam Embun Kahyangan. Suaranya demikian lembut.

Bintang Tenggara terkejut dan tersadar dari lamunannya! Hampir saja… pikirnya. Hampir saja Lintang Tenggara membedahku!

Embun Kahyangan telah siuman sejak beberapa saat lalu. Sambil menyerap tenaga alam, ia hanya diam menyaksikan Bintang Tenggara yang hanyut dalam lamunan. Setelah kembali mengenakan Selendang Batik Kahyangan, barulah ia menegur.

“Namaku Embun Kahyangan,” ucapnya sebelum ditanya. “Misiku adalah melindungimu.”

“Misi…? Melindungiku…?” gumam Bintang Tenggara.

“Maha Guru Padepokan Kabut adalah sahabat ayahmu,” ujar Embun Kahyangan. “Paman Balaputera meminta Maha Guru untuk mengirimkan wakil demi melindungimu saat tiba di Perguruan Gunung Agung.”

“Padepokan Kabut?” gumam Bintang Tenggara.

“Padepokan Kabut adalah perguruan asalku. Letaknya di Gunung Kahyangan Narada di Pulau Jumawa Selatan. Seluruh muridnya adalah perempuan,” jawabnya.

“Kakak Embun Kahyangan mengenal ayahanda?” Bintang Tenggara masih setengah tak percaya.

“Paman Balaputera bahkan secara khusus meminta bahwa aku yang diutus…,” jawabnya cepat. Matanya yang sayu tidaklah memberi kesan tak adanya motivasi, mata itu justru melengkapi kecantikan wajahnya.

“Oh?” Bintang Tenggara sedikit terkejut. Dari mana ayahanda mengetahui bahwa aku berangkat ke Perguruan Gunung Agung? Mengapa bukan ia sendiri yang datang melindungiku? pikirnya dalam hati.

“Kau menyelamatkan nyawaku…,” tiba-tiba Embun Kahyangan bergumam.

“Kakak Embun terlebih dahulu menyelamatkan aku,” jawab Bintang Tenggara.

“Adalah misiku menyelamatkanmu… kau tak perlu membalas dengan menyelamatkan aku. Seharusnya engkau segera lari menggunakan jurus itu.”

Bintang Tenggara terdiam. Teleportasi jarak pendek dari Bentuk Ketiga Silek Linsang Halimun: Kata Berjawab, Gayung Bersambut memang dapat membantunya melarikan diri. Akan tetapi, dalam situasi yang mengancam jiwa Embun Kahyangan saat itu, naluri menyelamatkan teman mengalahkan naluri melarikan diri. Bintang Tenggara teringat kejadian ketika ia menyelamatkan Lamalera dari hantaman Paus Surai Naga. Sebuah kebetulan yang mempertemukannya dengan Komodo Nagaradja.

“Karena menyelamatkan aku… kau kuizinkan menyentuh salah satu payudaraku…,” ungkap Embun Kahyangan polos sambil membusungkan dada. Sepasang payudara ranum setengah menyembul dengan subur.

“Hah!?” Bintang Tenggara hampir melompat meskipun masih menderita cedera dalam. Dari mana datangnya pemikiran seperti itu? ia membatin.

“Kau akan menjadi yang pertama menyentuhku,” ujarnya datar. “Bukankah anak remaja seusiamu sangat ingin menjelajahi tubuh seorang gadis? Demikian menurut buku yang dipinjami oleh kakak seperguruanku…,” tambah Embun Kahyangan ringan.

Bintang Tenggara membatu. Ia kehilangan kata-kata. Buku seperti apa yang beredar di sebuah perguruan yang seluruh anggotanya adalah perempuan?

“Hm…? sepertinya Maha Guru Keempat dari Perguruan Gunung Agung segera tiba,” tiba-tiba Embun Kahyangan berujar.

“Tunggu…,” Bintang Tenggara masih memiliki banyak pertanyaan yang hendak ia ajukan.

“Kau tidurlah terlebih dahulu…” bisik Embun Kahyangan lembut. “Aku menantikanmu di Padepokan Kabut untuk membayar utangku….”

Embun Kahyangan berdiri lalu berbisik, “Panca Kabut Mahameru, Bentuk Kedua: Kabut Oro-oro Ombo….”

Kabut tipis berwarna ungu kembali turun. Bintang Tenggara merasakan tubuhnya berpindah ke pantai di dusun Peledang Paus. Suasana hari begitu teduh dan sejuk. Terdengar sayup-sayup suara ombak membelai pantai. Angin pun bertiup sepoi-sepoi. Ia merasakan terbebas dari hiruk-pikuk dunia keahlian… matanya berat… mengantuk…

“Bawalah jubah itu…,” gumam Bintang Tenggara pelan sebelum tertidur pulas.

Embun Kahyangan meraih jubah berwarna ungu di sebelahnya. Ia pun mengenakan jubah tersebut, sebelum melangkah pergi dengan gemulai.

“Bintang Tenggara… menyelamatkan nyawaku dan menghadiahi aku sebuah jubah… Pada pertemuan kita berikutnya, kau berhak menyentuh kedua belah payudaraku….”


***


“Sresh… Sresh…”

Sepertinya ada sesuatu yang mengendus-endus telinga kiriku… geli.

“Akh!” seketika itu juga anak remaja itu terjaga. Ia membuka mata. Di depannya terlihat jalinan atap layaknya sebuah gubuk yang terdiri dari lapis demi lapis daun rumbia. Berkas cahaya mentari menembus dari sela-sela atap daun. Berkas cahaya kemudian menerpa wajahnya… hangat.

Ia menoleh ke kanan, rupanya sebuah jendela menggantung di dinding gubuk. Lalu terasa angin bertiup pelan… sejuk. Ia menoleh ke kiri, dan hanya pada jarak sekitar satu atau dua meter menemukan sebuah pintu yang terbuka. Gubuk ini kecil dan tak terawat, pikirnya.

Di manakah aku…?

Ia hendak bangun… tapi tak bisa. Sekujur tubuhnya mati rasa. Ia tak merasakan kedua kaki. Jemari tanggannya pun tak hendak bergerak bahkan ketika ia memaksa memberi perintah.

Apakah yang terjadi…?

Tiba-tiba ia merasakan sensasi yang sama dengan sensasi yang membangunkannya. Ada yang mengendus-endus di telinga kiri… Ia segera mendongak, dan menemukan moncong seekor binatang…

“Apa yang kau lakukan, kambing!?” bentak Kum Kecho.

Binatang itu segera melompat lincah ke belakang. Ukuran tubuhnya memang mirip seekor kambing. Warna rambutnya cokelat muda. Di bawah lehernya, terdapat garis-garis rambut keperakan. Motif yang sama juga terlihat di kedua sisi luar kaki belakangnya.

“Lancang sekali, kau!” terdengar suara melengking menyanggah, senada dengan gerakan moncong binatang itu.

“Tidakkah kau tahu siapa aku!? Aku adalah Si Kancil!”

Kedua mata Kum Kecho melotot.

“Tidakkah pernah kau mendengar kisah-kisahku? Si Kancil dan Harimau, Si Kancil dan Buaya, Si Kancil dan Siput… dan masih banyak lagi!”

Kum Kecho memejamkan mata. Suara melengking yang bertubi-tubi membuat kepalanya pening. Ia berharap ini adalah mimpi buruk dan segera akan terbangun.

“Baiklah,” ujar Si Kancil. “Aku akan mengisahkan petualanganku ketika menghadapi buaya...”

Kum Kecho membuka mata. Binatang itu masih terus mengoceh.

“Pada suatu hari…” Si Kancil memulai ceriteranya. “Si Kancil yang cerdik berjalan-jalan di dalam hutan. Ia hendak menikmati hangatnya mentari dan sejuknya angin pagi. Tiba-tiba, di seberang sungai ia melihat kebun ketimun…”

“Hentikan!” sergah Kum Kecho.

“Hm…? Aku baru memulai ceritera! Sungguh tak sopan perangaimu…,” sergah Si Kancil.

“Kebun ketimun…”

“Hentikan, kataku! HENTIKAN!” Masih terbaring dan tak berdaya di atas dipan, Kum Kecho berteriak dengan sekuat tenaga.

“Apakah yang terjadi?” tiba-tiba terdengar suara dari luar, disusul derap langkah kaki bergegas masuk ke dalam gubuk.

“Ia mengamuk ketika aku baru memulai ceritera,” ungkap Si Kancil setengah kebingungan.

“Oh… Kau sudah siuman?” Kini jelas terdengar suara lelaki yang telah melangkah masuk ke dalam gubuk.

Kum Kecho melihat seorang lelaki dewasa bertubuh tinggi. Rambutnya terurai panjang tak terurus. Kumisnya terlihat tebal, dan janggutnya lebat panjang. Perawakannya membuat ia terlihat lebih tua dari umurnya.

Kum Kecho terus mengamati lelaki tersebut. Ia mengenakan pakaian seadanya. Lusuh. Bila hanya dilihat sepintas, lelaki itu mirip sekali dengan… gelandangan.

“Apakah yang terjadi dan dimanakah aku!?” seru Kum Kecho.

“Hei, kau tidak sopan,” hardik Si Kancil.

“Semalam aku menemukanmu pingsan di dalam hutan,” jawab lelaki tersebut. “Kau sekarang berada di selatan Pulau Belantara Pusat.” Tatap matanya menunjukkan perhatian yang mendalam.

Kum Kecho kini dapat mengingat lebih jelas. Ia terdorong ke dalam gerbang dimensi yang meledak. Pastilah terjadi penyimpangan arah, rintihnya.

“Sepertinya engkau terpapar tenaga dalam seorang ahli tingkat tinggi,” ungkap lelaki tersebut sedikit khawatir.

Kum Kecho mengingat sebatang pohon yang diimbuh tenaga dalam Maha Guru Keempat menghantam kepik. Lalu ia sendiri memuntahkan darah.

“Seberapa parah cederaku?” tanya Kum Kecho lagi.

“Tidak seberapa,” lelaki itu tersenyum. “Luka di paha kirimu sudah kering dan dengan istirahat yang cukup, kemungkinan esok atau lusa engkau sudah dapat beraktivitas seperti sedia kala.”

“Bila demikian, mari kita lanjutkan perjalanan,” sela Si Kancil.

“Kita harus menemaninya sampai ia pulih betul,” jawab lelaki tersebut kepada ‘kambing’ yang bisa berbicara.

“Ini adalah Si Kancil, teman seperjalananku. Tak lama lagi ia akan menjelma menjadi siluman sempurna. Maafkan bila ia mengganggu istirahatmu,” sambungnya ke arah Kum Kecho.

“Kau apakan jubah dan kartu satwaku!?” sergah Kum Kecho. Ia tak begitu peduli dengan Si Kancil atau ceritera tentangnya.

“Jubahmu telah kucuci dari berkas noda darah, saat ini sedang dijemur. Lima lembar Kartu Satwa ada di bawah bantal kepalamu,” jawab lelaki tersebut. Kemudian ia keluar dan kembali dengan membawa semangkuk makanan.

“Aku baru selesai memasak. Kuharap kau tak keberatan dengan bubur beras ala kadarnya ini.”

Kum Kecho merasakan bahwa perutnya keroncongan. Ia memang sangat lapar. Tapi, dalam kondisi ini…

Lelaki tersebut lalu meraih bahu Kum Kecho, dan meletakkan bantal tegak di sisi gubuk. Perlahan ia menyandarkan tubuh lemah Kum Kecho. Kum Kecho melirik ke lima Kartu Satwa miliknya, bahkan si kepik sudah tersegel kembali di dalam kartu. Padahal, ia tak mengingat sempat mengembalikan binatang siluman itu ke dalam Kartu Satwa.

“Buka mulutmu…,” ujar lelaki itu pelan.

“Aku tak perlu disuapi!” sergah Kum Kecho.

Lelaki itu tetap menyuapi Kum Kecho perlahan. “Hehe… ini mengingatkan pada ketika aku menyuapi anak-anakku dulu.” Lelaki itu tersenyum, namun dari sorot matanya terlihat seberkas kepedihan.

“Ijinkan aku mendongeng untuk kalian,” ujar Si Kancil tak sabar. “Pada suatu hari di Negeri Antah Berantah, hiduplah seorang pengembara…”

Kum Kecho segera menelan bubur beras. Ia hendak mengakhiri keadaan yang tak nyaman ini secepat mungkin. Ia pun berupaya mengabaikan suara melengking Si Kancil.

“Siapakah gerangan namamu?” ujar lelaki tersebut.

“Kum Kecho!” terdengar jawaban singkat.

“Hehe… Kum Kecho? Tentunya ini bukan nama aslimu…” lelaki itu tersenyum. Perhatian yang ia berikan sangatlah tulus. Kembali ia menyuapi Kum Kecho.

“Siapakah gerangan nama paman?” Kum Kecho balik bertanya, kini dengan nada yang lebih sopan.

“Panggil saja aku… Balaputera.”



Catatan:

Babak Kedua sudah berakhir. Jumlah episode pada babak ini lebih banyak dari perkiraan awal.

Bilamana berkenan, silakan share ceritera ini melalui tombol facebook, twitter atau wattsapp yang tersedia di halaman: http://ceritera.net/stories/11-legenda-lamafa

Terima kasih karena kesediaan mengikuti sampai di sini. Babak selanjutnya akan segera dimulai!

Terima kasih kepada Sagtavilia yang meluangkan waktu mendengarkan Pendekar Bayang bercuap-cuap dan mengilustrasikan Bintang Tenggara. Arigato! 

Ilustrasi ini adalah Bintang Tenggara di usia 17 tahun, atau sekitar 3-4 tahun dari sekarang. Ada beberapa detil yang telah digambarkan walaupun belum dikisahkan di dalam cerita bersambungnya. Semoga suka.