Episode 57 - Segel Mustika


 

Hentakan tenaga dalam seorang ahli Kasta Emas menyibak ke segala penjuru arah. Pepohonan besar-besar bergegar, menggugurkan dedaunan seolah hutan sedang menangis meraung-raung. Dampak hentakan tenaga dalam Maha Guru Keempat juga membatalkan jurus sakti yang mengendalikan daya tarik gravitasi pada radius sepuluh meter dari perapalnya.

Kum Kecho mundur setengah langkah. “Tenggara…?” gumamnya pelan. Ekspresi wajahnya menyibak kesan mendalam.

Dada Bintang Tenggara berdegup kencang! “Seorang lamafa beberapa ratus tahun lalu… bukan Mayang Tenggara… Lintang Tenggara…” Benaknya segera mencoba menjalin benang merah.

“Maha Guru Berawa…”*

“Jangan kau sebut namaku!” bentak Maha Guru Keempat ke arah Lintang Tenggara, alias Petaka Perguruan, alias Bupati Pulau Lima Dendam dari Partai Iblis.

“Sejak kau menjagal 50 murid Perguruan 200 tahun lalu… kau bukanlah lagi anak didikku!” ujar Maha Guru Keempat masih penuh amarah. Akan tetapi, terbersit kesedihan mendalam dari pancaran sinar matanya.

“Aku hanya mengorbankan beberapa sampah yang senang merisak… 40an murid lain adalah mereka yang menyerangku. Aku hanya membela diri!” jawab Lintang Tenggara.

“Apa pun alasannya… kau mengorbankan dan menjagal sesama murid Perguruan! Saudara-saudaramu sendiri!”

“Alasan…? Semua yang kulakukan semata-mata demi kemajuan dunia persilatan dan kesaktian. Aku melakukan penelitian untuk…”

“Penelitian yang menjadikan sesama ahli sebagai kelinci percobaan!?” sela Maha Guru Keempat. “Tak bisa diterima!”

“Oh, Maha Guru Keempat… Maha Guru Berawa… Untuk meningkatkan keahlian, bukankah para ahli melibatkan diri dalam pertarungan? Bukankah untuk membuktikan jurus-jurus yang ampuh… para ahli mencari siapa yang paling unggul melalui pertumpahan darah? Bukankah tak jarang ada pula yang menikam dari belakang?” Lintang Tenggara berhenti sejenak.

“Sungguh, yang kulakukan lebih terpuji daripada pertarungan tanpa harga diri dan arah pasti.”

“Singkirkan omong kosongmu!” Tenaga dalam Maha Guru Keempat terasa meningkat. Semua yang berada di lokasi merasakan tekanan yang teramat besar!

“Sebagai bekas gurumu… akan kuakhiri nyawamu di tempat ini!” Maha Guru Keempat melangkah maju. Setiap langkah yang ia ambil tak sedikit pun menunjukkan keragu-raguan. Ia sudah memantapkan diri untuk mencabut nyawa bekas anak didiknya itu sejak menyadari bahwa sang Petaka Perguruan berpeluang meracuni pikiran murid-murid yang lebih muda.

“Kakak Berawa… Maha Guru Keempat…” lalu terdengar suara membahana dari atas. Meski tak lantang diucapkan, kata-kata tersebut memiliki kekuatan yang tak kalah dengan tenaga dalam Maha Guru Keempat.

“Biarlah generasi muda menyelesaikan persoalan mereka sendiri. Janganlah kita yang tua-tua ini ikut campur. Mereka akan belajar untuk menemukan jalan masing-masing….”

Maha Guru Keempat menengadah dan memicingkan mata… “Maha Guru Keenam,” gumamnya pelan.

“Maha Guru Keenam… apakah engkau hendak membela Petaka Perguruan?” umpat Maha Guru Keempat.

“Jikalau Maha Guru Keempat memaksa, maka terpaksa pula aku turun tangan…,” jawab Maha Guru Keenam ringan. Namun di balik kata-katanya, tersirat sebuah ancaman.

“Heh! Aku akan menyelesaikan urusan yang telah lama tertunda terlebih dahulu…,” Maha Guru Keempat melesat cepat ke arah Lintang Tenggara!

Lintang Tenggara hanya berdiam berdiri. Ia seolah pasrah menerima serangan dari bekas gurunya itu.

“Bum!”

Tinju yang dilepaskan Maha Guru Keempat ditangkis oleh Maha Guru Keenam yang tiba-tiba muncul di hadapan Lintang Tenggara. Pertemuan kekuatan dua ahli pada Kasta Emas membuat seluruh hadirin terpental puluhan langkah ke segala penjuru!

Puluhan pertukaran pukulan lalu terjadi ketika keduanya melesat tinggi ke udara. Dari bawah terdengar dentuman demi dentuman pukulan yang dilepaskan dan ditangkis. Langit seolah meredup, walau terkadang terlihat sambaran dan kilatan cahaya. Tanah bergegar, langit bergemuruh. Demikianlah yang dapat dirasakan bilamana para ahli pada Kasta Emas bertempur!

Tak terasa, posisi kedua ahli dengan Kasta Emas tersebut menjauh dari lokasi dibangunnya segel sementara. Di satu sudut ruang dimensi tersebut, akhirnya mereka berhenti.

“Sumantorono, apa tujuan kalian menculik anak itu?” tanya Maha Guru Keempat.

“Aku tak perlu memberitahu…,” jawab Maha Guru Keenam.

“Kau hanya berpura-pura menolak ia sebagai murid perguruan…,” lanjut Maha Guru Keempat.”

“Tidak. Akan lebih mudah menciduk Bintang Tenggara bila ia masuk ke perguruan kecil. Kami terpaksa melancarkan rencana ini karena kami yakin bilamana ia diterima ke Perguruan Gunung Agung, akan banyak mata yang memantau, termasuklah dikau.”

Sebelumnya, Maha Guru Keempat merasa ada yang janggal ketika melihat Guru Muda Anjana meninggalkan Aula Budi Arda bersama Bintang Tenggara. Setelah beberapa saat, ia pun memutuskan untuk menyelidiki. Sedangkan Maha Guru Keenam, merasa lebih tak nyaman lagi ketika menyaksikan Maha Guru Keempat berpeluang mengancam rencananya.

“Sudah berapa lama kalian bekerja sama?”

“Cukup lama….”

“Beraninya kau berkhianat pada perguruan!” damprat Maha Guru Keempat.

“Kesetianku pada keahlian,” terdengar jawaban ringan. “Demi perkembangan dunia keahlian, bukankah sebagai ahli kita berhak menghalalkan segala cara?”

“Kau meninggalkan kemanusiaan!” Kembali Maha Guru Keempat membentak.

“Heh… meninggalkan kemanusiaan? Kau meninggalkan anak didikmu, Lintang Tenggara, seorang diri! Kau bertualang entah kemana bersama ayahnya. Di saat ia paling membutuhkan panduan, kemana pergi kalian!?”

Kata-kata Maha Guru Keenam menyerang telak Maha Guru Keempat. Ia terdiam. Lidahnya kelu. Sinar matanya mencerminkan kepedihan tak terperi.

“Apakah engkau yang membuat ia tersimpang arah!?”

“Tentu saja tidak… Aku hanya memfasilitasi penelitian untuk memajukan dunia keahlian. Bayangkan, mustika tenaga dalam yang retak dapat kembali pulih… Lintang Tenggara mewujudkan sebuah konsep yang selama ini hanyalah angan-angan semata.” Maha Guru Keenam terlihat senang.

“Dengan mengorbankan mustika dan nyawa ahli lain… dalam jumlah yang cukup besar… hanya untuk memulihkan satu ahli!?” Maha Guru Keempat mencibir.

“Penelitian belum rampung…,” jawab Maha Guru Keenam ringan.

“Kalian sudah mengabaikan kemanusiaan… tak lagi memiliki akal dan budi!” Maha Guru Keempat terlihat muak, ia segera merangsek menyerang!


“Aku harus melindungi sahabatku!” seru Panglima Segantang.

“Lawan berada pada Kasta Perak!” sergah Canting Emas. “Kita perlu menyusun rencana dan bergerak bersama-sama.”


Lintang Tenggara mendarat tepat di hadapan Bintang Tenggara!

“Siapakah engkau!?” hardik Bintang.

“Bagaimana kabar Bunda Mayang?” tanya Lintang Tenggara mengabaikan pertanyaan lawan bicaranya. “Bunda Mayang pastilah merahasiakan keberadaan kakak kandungmu ini….”

“Apakah tujuanmu!?” Kembali Bintang Tenggara menghardik. Saat ini ia belum bisa menenangkan diri.

“Ikutlah denganku… Tujuanku menyanderamu adalah untuk memancing kehadiran ayahanda. Tidakkah kau ingin bersua ayahanda?” ujar Lintang Tenggara meyakinkan.

“Apa tujuanmu!?” Bintang Tenggara mengulang pertanyaan yang sama. Secara reflek, ia pun menyibak kembangan. Kini ia sudah sedikit lebih tenang.

Lintang Tenggara lalu mengangkat bajunya. “Lihatlah ini!” ia berseru.

Bintang Tenggara menyaksikan aura segel yang melingkar persis di ulu hati Lintang Tenggara. Rumit sekali formasinya.

“Ayahanda seperti apa yang menyegel mustika tenaga dalam anaknya sendiri!?” sergah Lintang Tenggara. Terlihat emosinya meningkat. “Segel Mustika ini mencegah keahlianku tumbuh. Aku terpasung di Kasta Perak Tingkat 1!”

“Kakak seperguruan, waktunya kita bertolak… Gerbang dimensi sementara tak akan bertahan lama,” terdengar suara Guru Muda Anjana menyela. Tubuhnya tidak lagi berotot membengkak. Ia telah kembali ke bentuk normal.

Sebuah bayangan kilas balik mencuat di benak Bintang Tenggara. Ia mengingat kala di Pulau Paus sekira empat atau lima bulan lalu. Ia teringat lirikan mata Guru Muda Anjana ke arahnya, lalu menyerahkan Lencana Perunggu Perguruan Gunung Agung kepada Lembata Keraf.

Bintang Tenggara menoleh, lalu berujar, “Guru Muda Anjana, ketibaanmu di Pulau Paus saat itu bukanlah suatu kebetulan semata….” Bintang sudah sepenuhnya tenang, dan mulai dapat menyusun teka-teki ini.

“Tentu saja,” Guru Muda Anjana menjawab sambil menyibak senyum. “Kami merencanakan agar engkau dapat meninggalkan Pulau Paus. Kami pun sempat kebingungan ketika selama lebih kurang empat bulan engkau menghilang. Beruntung kami mendapati kehadiranmu di Pulau Sabana, lalu memastikan di Kerajaan Parang Batu,” tambahnya.

“Mengapa tidak menjemputku di Pulau Paus? Mengapa harus bersusah-payah?” tanya Bintang sambil mengulur-ulur waktu. Ia sebenarnya sudah memiliki perkiraan jawaban atas pertanyaan ini.

“Hm… Ayahanda hanya menyegel mustika tenaga dalamku. Kalau sampai aku bertemu Bunda Mayang, mungkin mustika tenaga dalamku dihancurkan dan tubuhku dipasung di bawah gubuk,” sela Lintang Tenggara. Ekspresinya terlihat sedikit khawatir.

“Tidakkah kau memiliki keterampilan khusus segel… sampai-sampai mampu menciptakan cara memperbaiki mustika yang retak?”

“Segel Mustika hanya bisa dibuka oleh penciptanya. Pencipta dan satu-satunya ahli yang bisa merapal Segel Mustika tidak lain adalah ayahanda,” jawab Lintang Tenggara, terlihat kecemasan dari sorot matanya.

“Kakak, sudah waktunya,” ujar Guru Muda Anjana ke arah Lintang Tenggara.

“Bawa dia!” perintah Lintang Tenggara.

“Hragh!” Panglima Segantang melompat menyerang Guru Muda Anjana, diikuti Canting Emas! Kuau Kakimerah menyibak lilitan demi lilitan rotan ke arah Lintang Tenggara dan Guru Muda Anjana! Aji Pamungkas melesatkan tiga runtutan anak panah berkali-kali!

Di tengah kemelut, Bintang Tenggara segera melompat menjauh. Saat Maha Guru Keempat dan Lintang Tenggara sedang berdebat tadi, ia mengeluarkan Lencana Pasukan Telik Sandi dari ruang dimensi penyimpanan. Ia pun menyempatkan diri mendengarkan isi pesan yang disampaikan melalui lencana tersebut.

Dengan menebar mata hati ke lencana, Bintang Tenggara tadi mendengar suara Panggalih Rantau berujar, “Bintang Tenggara, pesan dari ibumu: ‘Bilamana bertemu dengan seorang lamafa, segeralah lari sejauh dan secepat mungkin!’”

Di saat berlari, sudut mata Bintang Tenggara menyaksikan Panglima Segantang, Canting Emas, Kuau Kakimerah dan Aji Pamungkas bertekuk lutut. Mereka tak dapat melawan daya tarik gravitasi!

“Bum!” Terdengar suara seperti meteor jatuh dan meninggalkan kawah besar di tanah tak jauh dari lokasi gerbang dimensi sementara. Dari dalam kawah, lalu terlihat sesosok tubuh melompat keluar. Meski seolah ia terkena hantaman dan terjatuh, tak terbersit sama sekali bahwa ia menderita cedera.

“Lintang Tenggara, kita harus segera pergi!” seru Maha Guru Keenam sambil merapikan pakaiannya. “Aku tak bisa menahan Maha Guru Keempat lebih lama lagi tanpa sepengetahuan Perguruan!”

Lintang Tenggara mengetahui bahwa bila dua orang ahli Kasta Emas bertarung, maka walaupun berada di dalam dimensi terpisah, Perguruan pastilah akan menyadari fluktuasi kekuatan yang ditimbulkan. Para tetua lain pasti dapat menyadari akan adanya bertarungan ahli tingkat tinggi. Demikianlah kekuatan mereka yang berada pada Kasta Emas.

Maha Guru Keenam dan Guru Muda Anjana lalu berlari dan melompat ke dalam gerbang dimensi yang sudah aktif. Sepertinya tak lama lagi gerbang dimensi tersebut akan menghilang.

Lintang Tenggara menyusul di belakang. Masih berjarak lebih kurang sepuluh meter dari depan gerbang dimensi, ia mengangkat lengan dan mengarahkan telapak tangannya yang terbuka ke arah Bintang Tenggara.

Bintang rupanya berada dalam radius sepuluh meter dari Lintang Tenggara. Segera ia merasakan kekuatan daya tarik yang demikian besar. Sedari tadi, Lintang Tenggara hanya menarik lawan secara vertikal ke arah bawah menggunakan kesaktian unsur gravitasi miliknya. Siapa yang menyangka bahwa gaya gravitasi juga bisa digunakan untuk menarik lawan secara horizontal!

Bintang Tenggara tak dapat melawan daya tarik yang melingkupi. Tubuhnya melesat ke arah lawan. Panglima Segantang, Canting Emas, Kuau Kakimerah dan Aji Pamungkas telah terlepas dari pengaruh daya tarik gravitasi. Akan tetapi, mereka hanya dapat terpana menyaksikan tubuh Bintang Tenggara melayang ditarik lawan.

Maha Guru Keempat terbang mengejar dari kejauhan. Ia lengah. Hantaman tinju yang ia lepaskan tadi dimanfaatkan oleh Maha Guru Keenam untuk mendarat di dekat gerbang dimensi sementara.

Bintang Tenggara hanya terpaut beberapa meter dari lawan yang menarik tubuhnya. Mungkinkah aku akan bertemu ayahanda? Ataukah orang yang mengaku sebagai kakak itu akan menjadikanku kelinci percobaan…?

Satu meter lagi jarak antara Bintang Tenggara dari cengkeraman tangan Lintang Tenggara… tetiba bintang merasakan rasa empuk dan hangat menghimpit dadanya. Meski terbuai, ia sadar bahwa sosok berwarna ungu menerkam tubuhnya!

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Keempat: Kabut Archapada!

Persis di saat ia menerkam dan memeluk tubuh Bintang Tenggara, Embun Kahyangan merapal jurus sakti unsur kabut ke ruang kosong di antara Bintang dan Lintang. Senjata pusaka Selendang Batik Kahyangan pun berpendar. Jurus keempat dari Panca Kabut Mahameru ini tidak menutup pandangan mata dan pantauan mata hati, tidak menjebak dalam dunia ilusi, juga tidak mengunci gerakan lawan…

Kabut tebal yang berpendar dari Bentuk Keempat itu menciptakan… gerbang dimensi!

Daya tarik gravitasi Lintang Tenggara justru dimanfaatkan oleh Embun Kahyangan untuk membawa Bintang Tenggara… Keduanya segera masuk ke dalam gerbang dimensi yang diciptakan oleh sebuah jurus sakti.

“Swush!” kabut berwarna ungu segera menguap setelah tujuannya sebagai gerbang dimensi terpenuhi.

Lintang Tenggara terkejut bukan kepalang! Tapi, yang lebih mengejutkan lagi adalah sesuatu yang besar melesat cepat ke arahnya. Dari kejauhan, Maha Guru Keempat melempar sebatang pohon yang diimbuh tenaga dalam layaknya tombak!

Sudut mata Lintang Tenggara lalu menangkap Kum Kecho yang berlari ke arah gerbang dimensi. Kum Kecho yang terlupakan, juga hendak melarikan diri menggunakan gerbang dimensi yang sama.

“Keluarkan kepikmu!” teriak Lintang Tenggara sambil mundur ke arah gerbang dimensi. Ia lalu membuka telapak tangannya ke arah Kum Kecho dan menarik anak remaja berjubah hitam itu!

Kepik Cegah Tahan!

“Brak!” Batang pohon besar yang diimbuh tenaga dalam menghantam kubah kepik dan mendorong Lintang Tenggara bersama Kum Kecho ke dalam gerbang dimensi.

“Bum!” Gerbang dimensi itu pun meledak! Gerbang dimensi sementara itu memang sejak awal tidaklah stabil. Akan tetapi, ledakan bukan disebabkan oleh gerbang dimensi, melainkan dari tenaga dalam besar yang diimbuh ke batang pohon.

Samar-samar, terlihat sosok paling akhir yang masuk ke dalam gerbang dimensi memuntahkan darah!

Kum Kecho…

 

Catatan:

*) Berawa, bahasa Sanskerta yang berarti: gagah perkasa, menakutkan.

Cuap-cuap:

Jurus kesaktian unsur kabut adalah jurus pertama yang terpikir saat hendak memulai ‘Legenda Lamafa’.