Episode 56 - … Tenggara


 

“Sepertinya memang tak ada jalan lain,” gumam Bupati Pulau Lima Dendam. Ia lalu merapal semacam kunci pembuka segel dan melemparkan formasi kunci tersebut ke arah Guru Muda Anjana. Tindakan ini semakin memperlambat upayanya menyusun gerbang dimensi sementara.

“Hmph!” Guru Muda Anjana menghentakkan napas. Lalu mustika Kasta Perunggu Tingkat 5 di ulu hatinya menggelembung. Yang terjadi bukanlah proses menerobos naik tingkat, dimana mustika tenaga dalam mengembang, pecah dan dirangkai kembali. Yang terjadi adalah perubahan!

Kasta Perunggu Tingkat 6… Tingkat 7…

Kum Kecho yang berada di belakang Guru Muda Anjana terheran-heran.

Kasta Perunggu Tingkat 8…

“Jurus apakah gerangan ini…?” Komodo Nagaradja pun tiada menduga.

Kasta Perunggu Tingkat 9!

Bintang teringat ceritera Canting Emas tentang Guru Muda Anjana beberapa tahun lalu berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9, namun gagal menerobos ke Kasta Perak. Bila demikian adanya, saat ini adalah keadaan dimana Guru Muda Anjana berada dalam kondisi prima!

“Hyahh!” Setelah mencapai Kasta Perunggu Tingkat 9, kembali Guru Muda Anjana menghentakkan napas. Lalu terlihat tubuhnya mengembang sampai-sampai bajunya terkoyak. Celana di bagian paha pun robek. Otot-otot di sekujur tubuhnya berkontraksi dan membesar. Jika diperhatikan dengan lebih seksama, maka sesungguhnya tulang di sekujur tubuhnya pun bertumbuh!

“Sulih Wujud: Gerakan Raga Bima!” *

Sebuah jurus silat dengan gerakan tunggal. Tubuh Guru Muda Anjana yang tadinya biasa-biasa saja, kini berubah bagas.** Tulang dan otot-ototnya bahkan lebih besar dari Panglima Segantang. Tinggi tubuhnya kini hampir mencapai dua meter!

Wajah Guru Muda Anjana yang biasanya terlihat ramah, kini berubah menjadi sangar. Rambutnya acak-acakan tak menentu. Kulit di sekujur tubuhnya berubah abu-abu, layaknya terbuat dari baja! ***

“Kum Kecho, kau beristirahatlah terlebih dahulu. Aku akan menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya, bahkan suaranya terdengar garang. Ia lalu menancapkan pedang panjang ke tanah.

Kum Kecho hanya terdiam. Luka di paha kirinya cukup dalam, tapi seharusnya tak menurunkan kemampuan bertarungnya. Akan tetapi, karena perkembangan situasi saat ini tak ada sangkut-paut langsung dengan dirinya, ia pun setuju saja untuk berdiam diri dan menyaksikan pertarungan mereka. Ia bahkan tak mengabari tentang bahaya sebuah maha jurus silat milik Bintang Tenggara.

“Berbahaya…,” bisik Embun Kahyangan. Ini adalah kali pertama ia berbicara dengan pasangan bertarungnya. “Kasta Perunggu Tingkat 9… dengan ketangguhan raga setara Kasta Perak!”

Bintang Tenggara pun merasakan tekanan yang membahayakan. “Sebaiknya kita mencari jalan untuk melarikan diri atau bersembunyi,” bisik Bintang.

Bersembunyi... Bintang Tenggara sadar betul bahwa ia tak bisa menerapkan jurus Silek Linsang Halimun, Bentuk Pertama: Terhimpit di Atas, Terkurung di Luar dikarenakan keberadaan Kum Kecho, atau lintah miliknya.

Dalam hal melarikan diri, kecepatan larinya biasa-biasa saja. Satu-satunya harapan adalah menyarangkan Tinju Super Sakti. Akan tetapi, ia juga menyadari bahwa Guru Muda Anjana telah menyaksikan jurus tersebut di saat ia menghancurkan Dwarapala siang tadi.

“Bum!” Guru Muda Anjana merangsek, meninggalkan bekas dalam di tanah tempatnya berpijak. Ia lalu melayangkan tinju lengan kiri ke arah Embun Kahyangan, yang berkelit mundur. Sebatang pohon yang terkena sapuan lengan langsung patah dan tumbang.

Menyadari sasaran pertamanya luput, Guru Muda Anjana memutar tubuh dan melontarkan tinju ke arah dada Bintang Tenggara. Tempuling Raja Naga menangkis, Sisik Raja Naga pun meredam getaran tinju. Bintang memanfaatkan kekuatan dorongan lawan untuk mundur belasan meter ke belakang.

Guru Muda Anjana terus merangsek. Akan tetapi, ia yang hendak melakukan serangan susulan, terhambat sejenak. Segel Penempatan yang telah Bintang lemparkan menjalankan fungsi mereka dengan baik dalam menahan langkah kaki.

“Kakak Ahli, apakah Kakak masih bisa merapal jurus yang menutup pandangan mata dan pantauan mata hati?” tanya Bintang saat tiba di sebelah Embun Kahyangan. “Aku memerlukan jeda waktu selama tiga tarikan napas.”

Embun Kahyangan hanya mengangguk pelan.

“Bum!” Kembali Guru Muda Anjana menyerang. Setiap langkah kakinya sungguh perkasa. Tenaga yang mengikutinya sungguh digdaya. Di saat ia mendekat…

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Pertama: Kabut Ranu Kumbolo…

Kabut berwarna ungu menyibak tebal menutup pandangan mata, bahkan mengunci kemampuan pengamatan dari mata hati. Meski demikian, jurus sakti ini hanya bisa diterapkan dengan aman kepada lawan yang berada pada tingkatan kasta setara atau lebih rendah. Bila diterapkan pada lawan yang lebih kuat, maka penggunanya akan menerima dampak hentakan balik jurus.

Darah mengalir dari kedua lubang hidung Embun Kahyangan. Meski demikian, ia tetap terus merapal jurus kesaktian unsur kabut itu.

Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!

“Lindungi dadamu!” teriak Kum Kecho cepat. Ia yang berada di luar jangkauan kabut ungu, serta berbekal kemampuan mata hati di atas rata-rata, dapat memperkirakan serangan Bintang Tenggara di balik kabut.

“Duar!” Suara membahana memekakkan telinga. Dari gumpalan kabut, Bintang Tenggara terlontar keluar dan mendarat belasan meter ke belakang. Tangan kanannya bergetar deras. Tangan kirinya memegang dada, lalu ia terbatuk dan… memuntahkan darah!

Kabut pun tersibak. Terlihat tubuh besar Guru Muda Anjana menyilangkan kedua lengan di depan dada. Ia tak berada di posisi awal, melainkan beberapa langkah ke belakang. Guratan di atas tanah menunjukkan bahwa ia terseret mundur. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Kedua lengannya bergetar tak hendak berhenti.

“Hm… 70% tenaga dalam Kasta Perunggu Tingkat 4 berhadapan dengan 50% tenaga dalam Kasta Perunggu Tingkat 9, ditambah pula kekuatan tubuh Kasta Perak… Muridku, kau kurang beruntung,” ujar Komodo Nagaradja.

Bintang Tenggara masih merasakan sesak di dadanya… Ia merasakan organ dalam tubuhnya pastilah sempat bergeser saat ledakan Tinju Super Sakti menghentak balik. Kemungkinan luka dalam. Jurang pemisah tingkatan tenaga dalam antara mereka terlampau lebar untuk bahkan ditembus oleh maha jurus itu. Setidaknya, lima pukulan tinju beruntun masih belum cukup…

“Guru, kumohon sedikit melonggarkan segel pada jurus Delapan Penjuru Mata Angin…,” rintih Bintang Tenggara menggunakan mata hati. Tenaga dalamnya hanya bersisa 20%.

Sebagaimana diketahui, Komodo Nagaradja menyegel kemampuan penyerapan dan penyulingan tenaga alam dari jurus Delapan Penjuru Mata Angin menjadi hanya satu persen. Hal ini dilakukan karena kecepatan penyerapan jurus tersebut sangatlah membahayakan bagi ahli yang hanya memiliki mustika penampungan tenaga dalam pada Kasta Perunggu.

“Baiklah,” jawab Komodo Nagaradja ringan. “Dua setengah persen… lebih dari itu maka tubuhmu akan meledak… dan aku ikutan mati. Kita tak hendak hal itu terjadi, bukan?”

“Terima kasih, Guru!”

“Swush!” Bintang Tenggara membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin, menyerap sekaligus menyuling tenaga dalam. Meskipun demikian, ia sepenuhnya sadar bahwa luka dalam yang diderita tak akan sembuh dengan hanya mengisi mustika tenaga dalam…

Guru Muda Anjana berdiri tegap dan menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Kedua lengannya mati rasa. Ia yakin bahwa andai saja tadi Kum Kecho tak memberi peringatan, dan ia terlambat membangun perisai tenaga dalam di kedua lengan… maka kemungkinan dirinya akan menderita cedera yang cukup berat.

Jurus yang sama saat meluluhlantakkan Dwarapala… Jurus apakah itu? Sungguh digdaya… pikir Guru Muda Anjana terkesima.

“Guru Muda Anjana!?” tiba-tiba terdengar Canting Emas setengah berteriak. “Apa yang sedang terjadi!?”

Di belakang Canting emas kemudian muncul Panglima Segantang, Kuau Kakimerah dan Aji Pamungkas!

Sekira lima belas menit sebelumnya…

Sudut mata Panglima Segantang menangkap Bintang meninggalkan Aula Budi Arda bersama Guru Muda Anjana. Guru Muda Anjana pastilah hendak menenangkan hati Sahabat Bintang. Aku juga harus berada di sisi sahabatku itu… demikian pikirnya. Segera Panglima Segantang melangkahkan kaki hendak menyusul.

Di saat yang sama, Canting Emas justru ingin mengetahui apa alasan Bintang Tenggara dimasukkan ke dalam golongan Murid Purwa. Kemungkinan Guru Muda Anjana dapat memberikan penjelasan lebih lanjut. Ia pun segera menuju kumpulan Murid Madya dan menarik Kuau Kakimerah. Tindakan Kuau Kakimerah menyembuhkan tenaga dalam anggota kelompok meninggalkan kesan yang mendalam bagi Canting Emas. Ia tak hendak membiarkan kawan baru yang kikuk itu berdiri tanpa pengawasan di tengah-tengah orang banyak.

Lain pula pemikiran Aji Pamungkas. “Hm… sepertinya Canting Emas dan Kukame hendak segera membasuh diri…,” gumamnya pelan. “Kesempatan baik!”

Tak lama Canting Emas dan Kuau Kakimerah mendapati Panglima Segantang sedang berdiri diam di depan sebuah prasasti.

“Kulihat Sahabat Bintang dan Guru Muda Anjana masuk melalui gerbang dimensi di balik prasasti ini…,” ia berujar saat mendapati kedatangan Canting Emas dan Kuau Kakimerah.

Canting Emas lalu menyentuh prasasti beberapa kali sebelum akhirnya dapat membuka gerbang dimensi di balik prasasti tersebut.

“Wow, lokasi pemandian Perguruan Gunung Agung berada dalam dimensi tersendiri,” ujar Aji Pamungkas yang berhasil menyusul. “Apakah pemandian campuran laki-laki dan perempuan?”

“Ada apa dengan isi kepalamu!?” bentak Canting Emas sebelum melompat ke dalam gerbang dimensi.

Canting Emas tentu saja mengenali Guru Muda Anjana walaupun telah berubah wujud. Jurus silat Sulih Wujud: Gerakan Raga Bima merupakan jurus andalan Guru Muda Anjana dulu di saat sebelum terjadi petaka. Akan tetapi, saat ini seharusnya ia tak lagi bisa merapal jurus tersebut.

“Segera ringkus Sang Lamafa Muda!” ujar Bupati Pulau Lima Dendam. “Gerbang dimensi sudah rampung. Hanya perlu menunggu beberapa saat sebelum ia aktif dan dapat digunakan.”

Bupati Pulau Lima Dendam lalu mengangkat lengan kanan setara dada, dan membuka telapak tangannya ke arah depan. Seketika itu juga, semua orang dalam radius sepuluh meter dari lokasi ia berdiri merasakan tubuh mereka seolah ditarik oleh bumi. Demikian beratnya sampai tubuh tak bisa bergerak sama sekali.

Jurus Delapan Penjuru Mata Angin terhenti bekerja! Bintang Tenggara terpaksa berlutut, lalu bertumpu pada satu kaki. Embun Kahyangan yang tenaga dalamnya hampir terkuras akibat memaksakan penggunaan jurus meringkuk tak berdaya di atas tanah. Sedangkan kelompok yang baru datang pun dipaksa bertumpu pada sebelah lutut. Bahkan, Kum Kecho yang sedari tadi mengamati pertarungan  terpaksa turut bertumpu pada satu lutut, sementara luka di kaki kirinya kembali terbuka mengeluarkan darah. Guru Muda Anjana terpaku, namun ia dapat tetap berdiri tegak karena kekuatan jurus silat yang sedang ia kerahkan.

“Gravitasi! Sungguh unsur kesaktian yang sangat langka!” sergah Komodo Nagaradja. “Siapakah dia!?”

“Gadis kabut… siapa pun engkau, aku tak mengenalmu dan tak mengetahui alasanmu. Akan tetapi, karena mengancam rencanaku, kau harus mati.” Bupati Pulau Lima Dendam lalu mengeluarkan sebuah bilah panjang, lebih kurang empat meter… terbuat dari bambu.

Kedua mata Bintang Tenggara melotot… “Apakah itu…? Tempuling?”

“Hm…? Muridku, salah satu koleksi lencana yang engkau simpan di dalam dimensi penyimpanan bergetar…,” keluh Komodo Nagaradja merasa terganggu.

“Swush!” Bilah bambu panjang tersebut dilemparkan ke Embun Kahyangan. Berkat tambahan daya tarik gravitasi, bilah tersebut melejit cepat. Embun Kahyangan yang sedang meringkuk tak berdaya, tak mungkin dapat menghindar!

Jarak Bintang Tenggara dengan Embun Kahyangan terpaut lebih dari lima meter. Dalam kondisi normal maka akan mudah untuk melakukan penyelamatan. Akan tetapi, dengan keberadaan daya tarik gravitasi yang demikian berat, maka hampir mustahil!

Bilah mambu semakin mendekat!

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!

Seketika itu juga Bintang Tenggara muncul tepat di samping tubuh Embun Kahyangan. Ia lalu melilitkan lengan di pinggang ramping, lalu kembali menghilang untuk muncul sedikit di luar radius daya tarik gravitasi. Teleportasi jarak pendek!

“Brak!” bilah bambu menancap di tanah tempat Embun Kahyangan tadinya meringkuk.

“Uhuk!” Bintang Tenggara kembali terbatuk memuntahkan darah! Dua kali ia memaksakan penggunaan Bentuk Ketiga dari jurus Silek Linsang Halimun dalam kondisi tubuh menderita luka dalam. Jurus tersebut tidak hanya menguras tenaga dalam, tapi juga memberikan tekanan yang berlebih berat pada tubuh.

Guru Muda Anjana segera bergerak mengejar, meski daya tarik gravitasi menghambat laju langkahnya. Melihat kedatangan lawan, Bintang Tenggara segera melompat meninggalkan Embun Kahyangan. Ia berpikiran bahwa lebih baik Guru Muda Anjana hanya terfokus pada dirinya seorang.

Di saat Guru Muda Anjana hendak meringkus Bintang Tenggara…

“Guru Muda Anjana! Hentikan tindakan bodohmu saat ini juga!” terdengar suara membahana.

Dari arah atas lalu terlihat turun sosok lelaki dewasa bertubuh tegap. Segaris parut bekas luka memanjang dari bawah mata kanan, ke bawah caping telinga, sampai ke balik leher. Aura kekuatan teramat besar tersibak dari sosok tersebut.

“Maha Guru…,” gumam Bupati Pulau Lima Dendam.

“Maha Guru Keempat!” Guru Muda Anjana terkejut bukan kepalang.

“Patuhi kata-kataku!” sergah Maha Guru Keempat sambil menyapu pandang. Wajahnya sedikit kusut. “Apakah engkau hendak menghianati Perguruan?”

“Hah! Patuh!? Menghianati Perguruan!? Perguruanlah yang terlebih dulu menghianati aku!” teriak Guru Muda Anjana. Wajah beringas akibat jurus silat perubahan wujud semakin terlihat ganas.

“Aku menyerahkan jiwa dan raga demi Perguruan! Tapi apa yang Perguruan berikan ketika aku tertimpa bencana!?”

“Tak ada yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan mustika tenaga dalam yang retak!” jawab Maha Guru Keempat.

“Dusta! Buktinya mustika tenaga dalamku dapat kembali pulih!” jawab Guru Muda Anjana beringas.

“Tapi...,” Maha Guru Keempat mulai terlihat ragu.

“Tapi Perguruan tak hendak berkorban!” seru Guru Muda Anjana.

“Tapi yang kau lakukan melanggar etika dunia persilatan dan kesaktian!” sergah Maha Guru Keempat.

“Persetan dengan etika!” teriak Guru Muda Anjana. Dadanya naik turun karena emosi. “Aku berupaya, aku mencari tahu sendiri… membongkar catatan-catatan lama. Menemukan tragedi Petaka Perguruan.”

“Berapa banyak nyawa ahli yang melayang? Puluhan… Ratusan… hanya agar mustika tenaga dalammu kembali pulih!?” hardik Maha Guru Keempat.

“Aku tak peduli!” Guru Muda Anjana melotot.

“Kembalilah… dan aku akan berdiri untuk membelamu,” Maha Guru Keempat sedikit melembut.

“Tidak! Sudah terlambat… Aku menelusuri… mencari-cari… akhirnya menemukan jejaknya. Aku memohon ia menyembuhkan mustika retak,” Guru Muda Anjana tersenyum. “Kesetiaanku kini hanya kuberikan kepada Petaka Perguruan!” sambungnya sambil menunjuk ke arah Bupati Pulau Lima Dendam.

Bupati Pulau Lima Dendam menarik napas panjang. Gerbang Dimensi sudah rampung dan aktif. Gerbang dimensi sementara itu tak akan bertahan lama. Mereka harus segera meraih Sang Lamafa Muda.

Dengan santun Bupati Pulau Lima Dendam lalu berujar, “Maha Guru Keempat… Sampai detik ini pun aku masih sangat menghormatimu… Kumohon biarkan kami pergi. Aku berjanji untuk tak melukai adik kandungku sendiri…”

“LINTANG TENGGARA! TUTUP MULUTMU!” Maha Guru Keempat tak dapat membendung amarah!

 

 

Catatan:

*) sulih/su•lih/ n ganti

**) bagas/ba•gas/ a tetap kuat (tentang badan)

***) Perubahan wujud Guru Muda Anjana hanyalah mirip dengan ‘The Incredible Hulk’. Demikian.


Cuap-cuap:

Jangan lewatkan "Para Pengendali Mimpi" yang terbit setiap Selasa. Ditulis oleh pengarang muda berbakat. :)