Episode 4 - Luapan Amarah Arya


Arya sontak membuka mata dan mendapati dirinya tidak lagi berada di kamar. Kasurnya lenyap, begitu pun dinding kamar yang buram. Kini ia berdiri di hadapan sebuah bangunan besar seperti kastil dengan selusin menara beratap lancip serta sepasang cerobong yang memuntahkan asap pekat.

 Dicobanya melewati gerbang keemasan yang merupakan jalan masuk ke tempat tersebut. Tidak ada penjaga, melainkan suara desau angin di tengah langit lembayung. Gerbangnya berderak akibat terpaan angin dan itu cukup menakutkan. Arya berhenti di lapangan kastil itu. Ia menatap tanah landainya, meyakinkan diri sekali lagi.

Kaki Arya melangkah pelan tetapi langsung berhenti. Tak sengaja ia melihat jari kanannya yang bertambah satu, salah satu indikator dalam Reality Check. Apabila jumlah jari tanganmu bertambah atau habis, itu artinya ….

“Aku bermimpi!”

Lembayung kelam menjelma biru cerah bercampur totol awan benderang. Desauan angin pun beranjak pelan. Dan sekarang gerbang emas di belakang sana sudah dijaga pria besar berbadan bungkuk. Arya menyeringai mendapati piama tidurnya terbungkus jubah hitam dari satin.

“Kawan!” seru seseorang dari belakang.

“Arga!” Arya menyapa setelah menoleh. “Ada di mana kita?” Ia bertanya.

“Ada apa denganmu? Amnesia, kah? Kita ada di akademi Garuda, sekolah sihir terbaik di Kotabaru!”

“Sungguh?! Astaga, ini lebih keren dari bayanganku.” Arya merespons antusias.

“Di mana tongkatmu, Kawan? Kau tidak boleh masuk kalau tidak punya,” ujar Arga—dahinya mengernyit.

Arya gusar untuk sesaat, tetapi di detik berikutnya ia tahu apa yang harus dilakukan. Pemuda itu memejamkan matanya seraya membayangkan sebilah tongkat dari kayu jati berwarna hitam cemerlang dengan kedua ujungnya bercorak putih bersih. Sejurus pikirannya menaksir ukuran tongkat tersebut, tangan kanan Arya mulai merasakan sesuatu menggeliat pelan. Cepat-cepat ia membuka mata, dan didapatinya tongkat sepanjang dua puluh lima senti tergenggam mantap—siap digunakan.

“Keren!” puji Arga. “Sihir apa itu? Bisa ajarkan padaku?”

“A-anu ….”

“Hey, Kalian! Jam pelajaran akan dimulai!” gelegar seorang pria. Arya tahu betul siapa yang barusan bicara. Dia Pak Ahmad dengan jubah hitam dan topi lancip berdebu. Kostumnya pastilah saat konyol kalau ini dunia nyata. “Kalian tidak dengar omonganku, hah?” Mata besar Pak Ahmad melotot.

“Ba-baik, Pak!” Arga menyahut gugup.

“Ayo, Arga!” Tanpa membalas, Arya segera menyambar lengan kembarannya seraya berjalan memasuki sepasang pintu besi besar. Mereka menarik gelang-gelangnya sehingga suara deritan menggema.

Meski terik, sepertinya belum ada siswa yang datang. Pak Ahmad itu marah seolah mereka terlambat. Namun, nyatanya akademi Garuda cuma berisi dua siswa. Keadaan sesepi ini tentu membuat Arya tidak nyaman. Lantai pualam yang dingin, tembok kusam berdebu, puluhan tangga yang meliuk seram, dan masih banyak lagi benda-benda yang serasa mengawasi mereka.

“Benarkah hanya kita berdua?” Akhirnya pertanyaan tersebut keluar dari mulutnya.

“Se-sebenarnya aku tidak ingat. Tapi, rasa-rasanya … ah! Aku tidak tahu.” Jawaban Arga yang terkesan ragu sontak mengingatkan Arya bahwa saudaranya itu, biar bagaimanapun hanyalah seorang karakter mimpi. Ia tidak punya ingatan dan terlalu mudah dimanipulasi. Maka dari itu, rencana brilian terbesit di benak Arya.

Arya diam seraya menutup matanya—membayangkan koridor sepi ini akan penuh sesak oleh kumpulan siswa akademi Garuda. Kelas-kelas kelam di setiap sisi sekolah akan diisi oleh puluhan pelajar yang sibuk memerhatikan penjelasan guru, dan ia benar-benar berharap ada gerombolan orang yang bermain sapu terbang di angkasa, keluar-masuk melalui selasar.

Benar saja! Sesaat mata beriris hitamnya terbuka, Arya dan Arga tidak lagi menjadi penghuni tunggal akademi Garuda. Bahkan, kini mereka terjebak di antara sekian banyak orang yang berlalu lalang di koridor. Di langit-langit, Arya bisa melihat tiga pemuda yang bermain kejar-kejaran sapu terbang, mereka meliuki-liuk bagaikan naga raksasa.

“Ini hebat!” teriaknya bersemangat. “Kau lihat, Arga?” serunya kemudian, memandang Arga yang melompat-lompat di tengah lautan manusia.

“Luar biasa, Kawanku!” katanya begitu senang.

Bermenit-menit mereka berusaha menerobos kerumunan itu sebelum akhirnya sampai ke kelas, di mana pelangnya bertuliskan jurusan Biologi. Arya hanya bisa terengah-engah, sementara saudaranya tampak menghela napas dalam-dalam. Diliriknya kelas tersebut sudah memulai pelajaran dengan puluhan murid yang asyik memerhatikan penjelasan dari Pak Ahmad. Namun, fokus mereka seketika terarah pada Arya dan Arga.

“Astaga! Mengapa kalian selalu terlambat?” Pak Ahmad bersungut-sungut.

“B-bukankah Anda tadi di—tapi kenapa sekarang ada di …”

“Diam!” gelegar beliau membungkam Arya. “Akan kulaporkan hal ini kepada kepala sekolah, dan aku yakin pasti ada hukuman yang setimpal!”

Arga berdiri gemetar. Kepalanya terus menunduk bersama matanya yang menyipit ketakutan. Itu memang wajar karena ia tidak menyadari siapa pengendali dunia ini. Bukannya panik, Arya justru tersenyum angkuh. Dirinya itu seakan menantang Pak Ahmad—meragukan apakah guru itu berani mengadukannya kepada kepala sekolah.

“Berani-beraninya kau?!” Pak Ahmad menarik kerah jubah Arya, wajahnya merah padam.

“Aku memang berani.” Anak itu lagi-lagi memicingkan matanya, tidak lama memang. Dan begitu ia selesai, Pak Ahmad tiba-tiba melepaskan cengkeramannya. Ia kelihatan seperti penjahat yang dipergoki polisi, berkeringat serta pucat. Kemudian, pria itu kembali duduk di kursinya disusul seringai puas Arya.

“Beri tepuk tangan untukku!” ujarnya membuat seisi kelas bergemuruh.

“Apa yang kau lakukan, Kawan? Jangan-jangan kau sudah memantrai guru kita!” Arga bertambah gugup.

“Tenanglah! Selama ada aku, takkan ada yang berani menyentuhmu, Arga. Tidak ada, bahkan para guru sekalipun. Semuanya berada di bawah kendaliku karena … akulah pemilik dunia ini!” Arya lagi-lagi menyeringai angkuh, seolah dirinya adalah Dewa tak terkalahkan.

Mereka melangkah menuju sepasang bangku di barisan depan diiringi tatap ketakutan Pak Ahmad. Para murid—yang keseluruhannya merupakan karakter mimpi—hanya bisa bungkam seraya memerhatikan Sang Pengendali mimpi duduk di takhtanya, bersama Arga.

“Hey, kau!” Arya menunjuk seorang pemuda berkacamata yang duduk di barisan paling belakang. Ia sontak kelabakan. “Menarilah di udara!”

Dia menggaruk-garuk kepala, dan di kala wajahnya dijalari kebingungan—pemuda itu menjawab: “A-anu, se-sebenarnya itu cukup sulit. Aku masih murid baru.”

Seketika itu juga Arya mengacungkan tongkat sihirnya, sejajar dengan kepala lawan bicaranya. “Aku tidak mau tahu! Laksanakan perintah atau kusiksa kau!”

“Arya! Apa-apaan kau ini?!” Arga coba membujuknya. “Dia tidak bersalah.”

“Aku yang terhebat di sini. Guru kita pun gentar menghadapiku,” sahutnya menyipitkan mata. “Jadi, diam dan lihatlah!”

Lelaki berponi sekening itu berdiri tegap. Tangan kirinya masih mengacungkan tongkat, sementara yang kanan menjulur ke atas. Alis Arya melengkung jengkel, sebab kemauannya tak dituruti. Padahal ia sendiri tahu bahwa ini hanya permainan. Tentulah pemuda berkacamata itu tak tahu apa-apa tentang sihir, terlebih Arya memang mengatur pikirannya demikian.

“Lakukan atau tidak sama sekali!” Sekali lagi ancaman menyelusup dari bibir merah mudanya.

“Sudah kubilang, bukan? Aku tidak bisa!”

“Melayang!” Si pemuda berkacamata tiba-tiba terangkat membentur langit-langit. Ujung tongkat Arya tampaknya yang menyebabkan semua itu. Selagi ia masih melayang-layang, Arya kembali melontarkan pertanyaan. “Sekarang, siapa yang terkuat di sini?”

“K-kau! K-kau yang terkuat!” ujarnya takut setengah mati.

Pak Ahmad yang melongo juga tak mampu berbuat banyak. Pikiran beliau telah dimanipulasi oleh Arya. Tiada keberanian maupun hasrat, melainkan rasa takut yang tertanam kuat di hatinya. Kalau Arga lain lagi. Ia bersusah payah meminta saudara kembarnya itu untuk berhenti, tetapi membujuk Arya sama halnya memerintahkan batu raksasa untuk bergulir sendiri, itu artinya mustahil!

“Meledak!” Arya merapal mantra kedua, membuat si pemuda lenyap seketika. Percikan kecil berjatuhan ke lantai seolah-olah barusan ada petasan yang meledak.

“Kau gila!” Arga menjerit, begitu pun murid yang lain.

“Melayang!” Arya menerbangkan teman-teman sekelasnya. “Meledak” Mereka lenyap dalam sekejap.

Kedua mantra terus berkumandang sampai-sampai yang tersisa hanya Arga dan Pak Ahmad. Tatapan mereka diliputi ketakutan. Dan Arga, ia perlahan mengambil langkah mundur diikuti napas yang memburu.

“Ada apa?” tanya Arya sok suci.

“Kau … kau benar-benar gila!” Mata Arga berkaca-kaca akibat syok.

Sorot mata Arya berubah kelam: “Sebenarnya … aku cuma ingin tahu reaksi keluarga mereka. Apakah sesedih diriku? Sesengsara diriku? Atau mungkin sekacau pikiranku?” Wajah bengisnya mendongak ke atas. “Aku ingin mereka tahu rasanya kehilangan!”

“Apa yang kau bicarakan? Siapa yang telah hilang darimu, Bodoh?” sahut Arga geram, memancing tatapan kosong Arya ke arahnya.

“Dia saudara kembarku.” Senyum pahit terpatri di raut sedihnya. “Kau tahu, Arga? Sejujurnya aku berharap bisa mati bersamanya. Namun, Tuhan Yang Maha Adil itu kurang setuju. Dia lebih suka aku hidup bersama kesunyian.”

“Bodoh!” Tanpa pikir panjang Arga merangkam kerah jubah Arya. “Aku yakin saudaramu takkan tenang jika kau berlaku begini. Sadarlah, Kawan!” Gigi-giginya menggertak.

“K-kau ini …” Arya tak percaya untuk sesaat. Namun kemudian ia sadar bahwa yang dihadapinya bukanlah Arga—orang itu hanya replika pelampiasan rindu. “Pergilah!” Arya mendorong kembarannya hingga terhuyung ke belakang.

Mereka saling menatap sengit. Terbesit keinginan Arya untuk membinasakan Si Arga palsu itu. Beruntung pikiran tersebut segera ditepisnya, mengingat bahwa lucid dream ini ia ciptakan agar bisa bertemu sosok Arga selamanya.

Pemuda berjerawat merah itu mendengus pasrah seraya mengatupkan indra visualnya—bermaksud beralih ke latar mimpi yang lain. Akan tetapi, seseorang terasa menggenggam lengannya, dan itu sangatlah kuat.

Arya terlonjak lalu mendapati pria setinggi dirinya dalam balutan jubah putih. Wajahnya yang diselubungi topeng rubah merah sukses membuat Sang pemilik mimpi gentar. Bagaimana orang ini mampu bertindak sesukanya, pikir Arya.

“Jangan-jangan ….” Belum sempat ia menduga, pria tersebut langsung melempar dirinya menembus lembaran kaca jendela. Arya jatuh menggilas tanah sampai-sampai jubahnya jadi kecokelatan. Sejumlah pecahan kaca juga menggores di lengannya.

Dalam kondisi semacam ini, sebuah keberuntungan dirinya tidak terbangun dari tidur—meski di satu sisi ia harus menerima siksaan dari karakter yang suka bertindak seenaknya. Namun, di sisi lain Arya dapat menguak identitas dari orang itu.

Si pria misterius melangkah pelan, tubuhnya menembus tembok sekolah—seakan ia adalah hantu yang menyusup ke dalam mimpi. Mata Arya terbeliak. Satu hal yang mengagetkannya; Tidak ada karakter mimpi yang mampu menembus dinding.

“Kau bukan orang dari mimpiku,” ujarnya gemetar. “Siapa kau?”

“Mereka sering memanggil Saya Jackal.” Jawaban samar terdengar dari balik topeng rubah tersenyumnya. “Lucidity Anda sungguh kuat. Saya kira itu energi dari gerbang Pandora, tetapi sepertinya dugaan Saya salah.”

Bibir Arya menggeliat geram. “Aku tidak mengerti maksudmu.” Ia perlahan bangkit. “Satu-satunya yang ingin kutahu adalah bagaimana caramu masuk ke sini, ke dalam mimpiku!”

“Santai saja.” Jackal terkekeh di balik topengnya. “Sebelum menjawabnya, Saya ingin tahu seberapa tangguh Lucidity Anda itu.” Lengannya seketika memanjang—menggapai tangan Arya hingga keadaan di sekitar mereka menjadi buram.