Episode 3 - Hasrat yang Terpenuhi


Tidak ada yang menarik di sekolah hari ini bagi Arya, tentunya selain kedatangan Adam Wijaya—seorang lelaki berambut ikal dari Jakarta. Meski sesuatu yang mengejutkan, tetapi ia kurang menyukai Adam. Pertama, sudah jelas segala hal negatif berdesakan di pikirannya ketika ia beranggapan bahwa Adam itu anak orang kaya. Kedua, padahal baru hari pertama masuk tapi Adam sudah nekat mencampuri urusan Arya dan kedua temannya—apalagi kali ini pasal lucid dream yang sangat rahasia.

Maka dari itu, kayuhan kaki Arya pada sepedanya tampak gontai. Hasratnya pudar digantikan desahan malas. Antusiasnya sirna tertutup kekecewaan. Setelah melewati padatnya jalan raya, ia menikung di pertigaan—masuk ke jalan yang lebih kecil dan minim kendaraan. Di kanan-kirinya terlihat rumah beton berjejer, ditambah beberapa ruko yang sepi pembeli.

Teriknya matahari menciptakan manik-manik keringat di pelipis Arya, ia sangat kelelahan. Namun, rasa penat di tubuhnya seketika hilang saat mata beralis tebalnya mendapati Adam tengah berjalan santai mendekati sebuah kos—sialnya, tempat itu ada di samping rumah Arya yang bertingkat dua. Dia anak kos, pikirnya agak ragu.

Arya tidak berani mendekati anak itu, ia terlalu gengsi. Diamatinya Adam dari balik gardu listrik, jaraknya sekitar satu setengah meter. Awalnya ia masih berkutat dengan sifat angkuh yang kian menjadi-jadi, namun congkaknya itu berakhir pada rasa prihatin.

Mungkin saja Adam sudah tidak punya orangtua dan keluarganya lepas tangan begitu saja. Ia jadi terkatung-katung menjalani hidup, rela merantau ke mana-mana demi menuntut ilmu. Sungguh hidup yang menyedihkan.

Merasa bersalah, Arya cepat-cepat mengayuh sepedanya mendekati Adam yang barusan merogoh kunci dari ranselnya. Ketika anak itu sampai, mata Adam agak melotot.

“Kau?” ujarnya sangsi.

“Ya.” Arya menjawab pelan seraya menyodorkan senyum canggung. “Ja-jadi kau tinggal di sini?”

“Begitulah. Aku tidak punya banyak uang untuk beli rumah.” Adam membuka pintu kayu rumahnya yang sudah terkelupas. “Isinya masih berantakan. Maaf kalau kurang nyaman.” Ia memperlihatkan kamar kosnya yang diisi banyak barang bak kapal pecah. Puluhan baju berserakan di lantai, kotak-kotak kecil pun tergeletak tak karuan.

“Bagaimana kau mengangkut barang-barang ini dari Jakarta? Apakah ada saudaramu atau semacamnya?” tanya Arya.

“Ayahku baru saja kembali ke Jakarta setelah membantuku pindah rumah.”

“Ayahmu?” Arya mendelik.

“Dia nakhoda kapal barang. Kebetulan ada banyak barang yang harus dikirim ke Kalimantan, jadi aku disuruh ikut,” ujar Adam. “Ia ingin aku hidup damai, jauh dari keluargaku yang kacau. Di sini, setidaknya aku bisa tidur tanpa harus mendengar pamanku berteriak sambil memecah botol bir.”

Bibir Arya berkedut ke samping, perasaan iba menjalari hati kecilnya. Sesaat Adam melepas ransel untuk ditaruh, ia pun berucap: Rumahku tepat ada di sebelah sini. Bila kau ingin mampir, silakan saja.”

Raut kaget sempat terlukis di wajah putih cokelat Adam, namun lagi-lagi ekspresinya berganti dingin—seolah kini dirinya-lah yang dibutuhkan oleh Arya.

“Tentu, tentu aku akan mampir. Akan tetapi, kedatanganku mungkin takkan menyenangkanmu,” katanya seraya mengerling pada Arya.

“Maksudmu?”

“Kau masih ingat dengan topik yang kita bicarakan di kantin, bukan? Sebenarnya aku ingin tahu lebih jauh.” Adam menyeringai riang.

“Kalau kau memang tertarik, kurasa tak ada salahnya jika mengajarimu,” ucap Arya pasrah.

“Benarkah?” Pipi Adam berkedut saking senangnya. “Baiklah, ayo kita ke rumahmu!” Seolah akan mati besok, dia bergegas mengunci pintu kosnya lalu menarik lengan Arya ke rumah sebelah—meninggalkan sepedanya teronggok begitu saja.

“Jadi kau benar-benar senang, Adam?” tanya Arya di tengah-tengah lari mereka.

“Sangat,” ujarnya. “Aku sangat senang.”

Sesampainya di rumah, Arya langsung mendorong pagar besi kemudian berjalan pelan ke depan pintu kayu ukir. Ia mengeluarkan kunci dari saku celananya, berniat membuka pintu.

“Tidak ada orang di rumah?” ucap Adam ragu.

“Kakakku sedang bekerja,” jawabnya sok sibuk.

“Orang tuamu?” Akhirnya pertanyaan yang paling dihindari Arya terngiang dari mulut Adam. Ternyata gaya sok sibuknya tak banyak membantu. Alhasil, memori buruk itu kembali terulang di kepalanya.

“Mereka sudah tiada,” jawabnya singkat berbalas anggukan bersalah dari Adam.

Pintu terbuka, dan kedua lelaki itu segera masuk. Ruang tamu Arya tampak sedikit berdebu, mungkin karena Romy maupun dirinya terlalu sibuk. Hanya ada sepasang sofa merah bersama meja kaca di tengahnya, lalu beberapa langkah ke depan terdapat sekat yang berakhir pada ruang keluarga bercat biru.

Arya melempar kaus kakinya ke dekat lemari televisi layar datar, sebelum dirinya mengajak Adam menaiki bordes menuju kamar. Di sana Adam dipersilakan duduk di atas kasur berantakan. Maklum saja, Arya menjadi pribadi yang kurang disiplin semenjak ayah dan ibunya meninggal. Beberapa potret dirinya tergantung di dinding putih yang tercemar noda hitam. Selain itu, gipsum di langit-langit kamar juga sangat berdebu.

“Orang yang mampu ber-lucid dream dinamakan lucid dreamer. Biasanya butuh waktu satu sampai dua minggu untuk menembus membran pembatas dunia nyata dengan dunia mimpi. Tapi entahlah, itu semua tergantung seberapa kuat kemauan kita.” Arya menjelaskan sambil mengobrak-abrik laci meja belajarnya. “Ini dia. Jurnal mimpi!”

“Eh? Apa itu jurnal mimpi?”

“Seorang lucid dreamer pemula takkan bisa ber-lucid dream lebih dari setengah menit. Maka dari itu, mereka membutuhkan jurnal untuk mencatat mimpi-mimpi itu agar durasi mimpi di hari berikutnya bertambah panjang.” Arya menyerahkan buku tulis usang itu pada Adam. “Aku tidak membutuhkannya. Kesadaranku di dalam mimpi sudah di atas standar pemula. Jadi, simpanlah untuk bahan belajarmu.”

“Terima kasih. Lalu, soal Reality Check itu bagaimana?” Satu pertanyaan lagi terlontar dari mulut Adam.

“Oh, tentang itu. Reality Check hanya semacam ritual guna menciptakan kesadaran pada dirimu saat bermimpi. Ingat ini baik-baik, Adam! Semakin tinggi tingkat kesadaranmu ketika bermimpi, maka semakin besar pula kesempatanmu untuk mendapatkan lucid dream.”

“Jadi, begitu. Di dunia mimpi itu kita bisa berbuat semaunya, bukan?”

“Ya, kau bisa mengatur duniamu sendiri. Singkatnya, tidak ada kata mustahil di dalam mimpi.”

Mereka yang keasyikan membahas lucid dream menjadi lupa waktu. Jarum jam serasa berputar terlalu cepat sampai-sampai Arya kaget melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul lima sore.

Seragamnya sama sekali belum lepas dari tubuh, sehingga bau apak pun menjalar ke mana-mana. Namun Adam, ia masih sama antusiasnya dengan beberapa jam yang lalu. Mulut anak itu tak bisa berhenti melontarkan bertubi-tubi pertanyaan demi memuaskan hasrat ingin tahunya.

“Agaknya hari sudah mau senja.” Arya coba berbasa-basi. “Dan kurasa kau perlu merapikan barang-barangmu.” Ia menyengir.

“Oh, kau benar.” Adam yang asyik menyimak jurnal milik Arya seketika bangun, lalu melangkah ke jendela persegi di samping kasur. “Cuacanya bagus. Kuharap malam ini aku bisa mendapat lucid dream.”

“Semoga berhasil.”

Mereka menuruni bordes dengan terburu-buru. Arya teringat pada sepeda fiksinya, membuat ia pergi menghampiri Adam sambil menggerutu. Keduanya sempat berpamitan—Adam di ambang pintu kos-nya sedangkan Arya menunggangi sepeda yang agak hangat.

Senyum ramah mengakhiri pertemuan mereka, setidaknya untuk hari ini. Dalam hati kecilnya, Arya berharap teman barunya itu bisa merasakan sensasi lucid dream agar mereka punya kisah untuk dibahas. Akan tetapi, dirinya sempat meragu: Apakah yang kulakukan sudah benar? Adam telah mengumpulkan banyak informasi. Bahkan, jurnal mimpi Arya sudah digenggam olehnya.

“Entahlah.” Arya mulai mengayuh sepedanya.

~~Para Pengendali Mimpi~~

“Paman akan berkunjung minggu depan. Ia juga bilang akan menginap,” ujar Romy yang sibuk mencuci piring di bak.

“Benarkah? Rasanya sudah lama si penakut itu tidak mampir,” respons Arya. Kedua tangannya bertumpu pada meja makan.

“Hush! Jaga omonganmu! Bukannya penakut, paman hanya mencintai istrinya.”

“Bagiku itu sama saja. Istrinya yang seperti iblis itu selalu memengaruhi Paman. Dia bilang tak perlu mengurus anak dari adiknya, tinggalkan saja mereka sengsara di rumah. Dan! Lalu sekonyong-konyong ia bilang ingin datang ke sini. Dasar tak tahu malu.” Arya mengomel panjang, meluapkan rasa jengkel di hatinya.

“Kau tahu, Arya? Tanpa sepengetahuanmu, kadang kala paman mengirim uang untuk kita. Sebenarnya ia peduli, hanya saja pria itu perlu lebih banyak waktu untuk keluarga kecilnya,” beritahu Romy.

“Halah! Paling cuma sisa gajinya. Kalau memang peduli, seharusnya ia kirim segepok uang untuk kita tiga kali seminggu. Dia kan pejabat.” Semburat merah menjalari tampang Arya saat ia berucap demikian. Dengan terburu-buru, kedua kaki kurusnya berjalan menaiki bordes.

“Sebelum tidur gosok gigimu dulu!” Romy mengingatkan.

“Tentu saja!” sahutnya sama keras.

Sebetulnya jawaban tadi hanya gurauan. Arya anak yang malas, bahkan untuk sekadar gosok gigi malam. Satu-satunya yang ingin ia lakukan adalah berbaring di kasur, menarik selimut, lalu mulai bermimpi. Ya, ia sudah kecanduan bermimpi. Kalau bisa, seharian penuh ingin dihabiskannya dengan meringkuk di kasur. Sayang ia masih punya banyak urusan di dunia nyata.

Arya duduk di sisi kasur empuknya, memadatkan bantal kemudian menghela napas beberapa kali. Dia berusaha menjaga dirinya tetap tenang. Segala masalah harus dilupakan—diganti dengan pikiran positif serta imajinasi terbaik. Seiring napasnya yang kian teratur, pemuda itu pun merebahkan diri. Dipandanginya sekeliling kamar sejenak, sebelum matanya terlelap santai.

Setengah jam semenjak berbaring, Arya mulai merasakan hal tak beres pada tubuhnya. Napas yang mulanya teratur, kini menjadi sesak. Tubuhnya seketika membeku, seolah ada seseorang yang mengekangnya dengan tali. Buruknya lagi, kedua telinganya diisi oleh teriakan histeris seorang gadis dan keributan mesin pabrik. Namun, Arya sama sekali tidak terganggu—sepertinya. Ia seakan menikmati keanehan demi keanehan yang singgah tak berkabar.

Beberapa saat kemudian semua keanehan itu usai berganti sesuatu yang sulit dijelaskan. Arya merasa dirinya sedang berdiri di tengah ruangan super gelap tanpa bisa membuka mata. Ia hanya diam, menunggu hal ini berakhir.

Belum sempat napasnya berembus tiga kali, tiba-tiba tubuhnya serasa melayang ke angkasa—terperangkap di tatanan galaksi yang sinarnya terasa getir. Ia agak panik tetapi masih sanggup bertahan. Kilauan redup menyelusup ke sela matanya yang kurang rapat, membuat konsentrasi Arya sedikit terganggu.

“Selamat datang!” Lengkingan seram menyerupai jerit kelelawar dan lolongan serigala seketika terdengar.