Episode 2 - Adam Wijaya dari Jakarta



Bel sekolah berdering keras—menjadi tanda bahwa jam pelajaran pertama di SMA Garuda akan dimulai. Tidak ada satu pun murid yang nekat berdiam di depan kelas. Mereka semua masuk lalu membaca doa sebelum memulai kegiatan pembelajaran.

Arya yang duduk di kursi paling depan tanpa sengaja melihat Pak Ahmad—yang mengenakan kemeja bergaris dan celana hitam panjang datang bersama seorang anak. Sesaat pemimpin doa kembali ke kursinya, mereka berdua pun masuk ke kelas.

“Wah-wah! Sepertinya kelas sebelas IPA Dua telah kedatangan penghuni baru,” kata Pak Ahmad setengah bercanda. “Perhatian! Di depan kalian ini adalah murid baru pindahan dari Jakarta. Namanya Adam Wijaya.” Pria berumur tiga puluh tahun itu berujar sambil menepuk-nepuk bahu pemuda di sampingnya.

Pemuda itu tersenyum canggung, menampakkan lesung pipit di wajahnya. Dengan rambut hitam ikal dan kulit putih bersih, sudah bisa dipastikan kalau anak bernama Adam itu akan jadi idola para siswi. Namun, agaknya ia bukan tipe orang yang suka jadi pusat perhatian—terbukti dari kepalanya yang terus menunduk ketika berdiri di depan.

“Baiklah, Adam. Silakan duduk di kursi yang kosong itu.” Telunjuk Pak Ahmad terarah pada bangku di barisan belakang.

Suara bisik-bisik merasuk ke telinga Adam sejurus langkahnya ke belakang. Bukan sesuatu yang bagus, dan ia yakin dirinya akan jadi orang paling asing di sini. Setelah duduk di kursinya, Pak Ahmad bergegas meninggalkan kelas setelah sebelumnya meminta seluruh murid sebelas IPA Dua untuk tetap tenang.

“Menurutmu mengapa dia repot-repot pindah dari Jakarta ke Kotabaru?” bisik Arya yang sesekali melirik Adam.

“Mungkin karena pekerjaan orangtuanya,” sahut Danu sama pelannya.

“Ah, benar. Pasti anak orang kaya.” Lirikan Arya berubah jadi tatapan sinis. “Paling tidak dia tidak mungkin bisa mengendalikan mimpinya.”

“Jadi bagaimana, Arya? Apakah rancangan yang kutulis ini sesuai dengan mimpimu?” Danu menghentikan prasangka buruk Arya dengan menunjukkan buku berisi rancangan komik terbarunya. “Aku ingin ceritanya lebih menarik dari yang kemarin. Kau tahu, kan? Penerbit lokal selalu meminta lebih.”

“Nyaris sesuai,” jawabnya singkat. “Di mimpiku, Sang pembunuh adalah panglima perang, bukannya bandit padang pasir.” Arya menyengir kuda.

“Huh, sepertinya akan kurevisi lagi nanti. Ah! Omong-omong komikku kemarin sudah laku banyak,” ucap Danu antusias. “Mereka bilang cerita tentang bertahan hidup di planet mars cukup menarik.”

“Benarkah? Senang mendengar mimpiku digemari banyak orang. Dan baiknya lagi, itu bukan sekadar karangan tetapi sebuah kisah nyata.” Arya tersipu.

“Mimpi hanyalah mimpi, Kawanku,” sahut Danu—alisnya terangkat sehingga membentuk raut sedih. “Aku takut jika keseringan bermimpi, kau tidak bisa lagi membedakan kenyataan.”

“Oh, tenanglah! Aku masih sadar kalau kompetisi basket antar-galaksi itu tak ada di dunia nyata, kok.” Arya bersikeras membela diri.

“Aku hanya coba mengingatkan. Menurutku kau tidak harus ber-lucid dream setiap hari. Setidaknya tiga kali seminggu, itu sudah bagus.”

“Lucid dream bagaikan hidup keduaku, Danu. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan daripada mengatur duniamu sendiri, memainkan peran sebagai Tuhan.” Tiba-tiba saja raut bersemangat Arya dihujani kesedihan, matanya sayup menerawang ke bawah. “Maksudku adalah … terkadang kenyataan yang diberikan Tuhan tidak sesuai dengan rencana kita. Maka dari itu, aku ingin mengulangnya di duniaku sendiri. Aku mau semuanya berjalan baik dan sesuai skenarioku.”

“Kau masih memikirkannya?” Danu melayangkan tatapan prihatin pada teman sebangkunya. “Aku tahu kau telah kehilangan banyak hal. Akan tetapi, berdiam pada satu masalah saja takkan membuahkan hasil.”

“Kau tahu, Danu? Aku sudah bisa merelakan kedua orang tuaku, tetapi tidak untuk Arga. Dia saudara kembarku, dan kehilangannya bagaikan kehilangan setengah jiwaku.”

“Tentu, kau berhak memprotes nasibmu.” Kali ini Danu tak mau memperpanjang masalah. Pandangan ibannya beralih ke papan tulis putih. Meski berkata demikian, sejujurnya ia kurang setuju dengan sikap Arya. Arga, saudara kembarnya itu sudah meninggal dua tahun lalu bersama kedua orangtuanya—dan seperti hal kebanyakan, sesulit apa pun masalahnya tetaplah harus dilewati, bukannya dipelihara.

~~Para Pengendali Mimpi~~

Jam pelajaran diakhiri oleh deringan bel istirahat, dan tentunya hal ini disambut antusias oleh sebagian besar murid SMA Garuda. Mereka yang bagaikan zombi kelaparan beramai-ramai menyerbu kantin sekolah demi mendapat asupan bergizi.

Begitulah kebiasaan warga sekolah yang satu ini. Hanya ada satu kantin besar di SMA Garuda sehingga para murid harus mengantre untuk membeli makanan, walaupun sebenarnya kantin tersebut diisi lima warung jajanan.

“Aku mau duduk di situ saja,” ujar Arya seraya menunjuk kursi melingkar di ujung kantin. Dia terjebak dalam antrean warung mie ayam bersama Danu.

“Ya.” Danu mengangguk. “Hey, lihat!” Mata beriris hitam anak itu terarah pada seorang gadis yang berjalan mendekati kantin.

“Yunita! Dia sudah lama tidak kelihatan di sekolah,” sahut Arya.

“Kudengar dia barusan keluar dari rumah sakit,” tukas Danu yang belum mengubah pandangannya.

Makin lama gadis yang mereka bicarakan itu semakin mendekat. Penampilannya memang modis berpadu dengan rambut pirang sepunggung dan mata beriris biru cerah. Ketika bibir tipisnya tersenyum, aura kecantikan Yunita semakin bertambah—membuat jantung Arya dan Danu jumpalitan. Sungguh gadis yang menarik, dan untungnya ketiga orang yang kini berpandangan itu sudah saling kenal sejak lama.

Begitu Arya dan Danu berhasil memegang semangkuk mie ayam favorit mereka, kedua pemuda itu langsung tancap gas mendekati Yunita yang duduk di kursi melingkar dekat jendela. Mereka bahkan mendapat sambutan hangat dari gadis berparas jelita itu.

“Apa kabar, Teman-teman?” ujarnya tersenyum sumringah, membuat hidung mancungnya sedikit terangkat.

“Baik, Yun.” Arya balas menyahut. “Bagaimana denganmu? Katanya kau baru keluar dari rumah sakit.” Ia menaruh mangkuknya di meja bundar.

“Ya, begitulah.” Raut gembira Yunita seketika dihinggapi kemurungan. “Besok aku harus berobat lagi ke Banjarmasin.”

“Mau?” Danu menawarkan mie ayamnya.

“Tidak. Aku sudah makan bekal di kelas.”

“Omong-omong kau masih menekuni lucid dream-mu? Kalau jarang diasah, bakat alamimu bisa hilang, lho,” kata Arya kemudian menyeruput makanannya.

“Ah, rasanya sudah jarang sekali. Kalian tahu, kan? Selama sakit aku harus istirahat dan obat dari dokter juga membuatku tidur nyenyak,” ujar Yunita sembari memilin rambut pirangnya.

“Ah, sayang sekali. Padahal kau cukup beruntung karena punya bakat istimewa sejak lahir.” Kalimat Arya diakhiri desahan kecewa.

“Kurasa lebih baik begitu. Kehidupan nyatamu lebih penting daripada dunia mimpi.” Danu mengomentari di sela-sela acara makannya. “Eh! Arya justru semakin meningkatkan frekuensi lucid dream-nya. Dia bermimpi sadar hampir setiap hari.”

“Lalu kenapa?” ketus Arya. “Itu tidak merugikanku sama sekali, kok.”

“Arya, ingat pesanku saat pertama kali mengajarimu teknik lucid dream?” tanya Yunita. “Aku memintamu untuk menggunakannya secara bijak. Walau tidak berdampak di kehidupan nyata, keseringan ber-lucid dream dapat membutakan logikamu. Akibat paling buruk, realita dan imajinasi menjadi satu.”

Wajah Arya masih sama ketusnya saat mendengar nasihat Yunita. Semua orang, bahkan teman-temannya sendiri terkesan menyalahkan dirinya. Padahal mereka tahu bahwa apa yang dialaminya selama ini sangatlah buruk. Kehilangan kedua orangtua, tidak diperhatikan keluarga dan yang paling buruk, ia harus kehilangan Arga untuk selamanya. Apakah semua itu masih belum cukup, pikir Arya.

“Maaf, Arya. Ka-kami tidak bermaksud menyudutkanmu. Aku dan Yunita hanya ingin kau baik-baik saja,” kata Danu.

“Ya, tak apa,” ujar Arya setengah hati.

“Pembicaraan kalian sepertinya menarik sekali,” celetuk seseorang. “Omong-omong apa itu lucid dream?” Rupanya Adam, si siswa pindahan dari Jakarta dari tadi asyik menguping. Iris hitam berkilaunya tampak antusias menatap Arya, Danu, dan Yunita yang duduk berjejer—sementara ia memutuskan duduk menghadap mereka.

“Kau Adam, kan? Anak pindahan itu.” Arya melempar tatapan sinis ke sorot mata Adam.

“Benar, lagi pula kita satu kelas, kan?” Anak berambut ikal itu tersenyum, menampilkan gigi tengahnya yang sedikit renggang. “Maaf karena tidak sopan, tetapi aku benar-benar penasaran. Apa sebenarnya lucid dream itu?”

Arya, Danu, serta Yunita sontak saling bertatapan—merundingkan apakah Adam pantas untuk tahu topik yang mereka bicarakan. Baru tiga detik, Arya langsung memutar bola matanya—tanda bahwa ia sangat tidak setuju. Namun, Danu dan Yunita berpendapat lain. Selama Adam tidak berusaha menggali pengalaman mereka mengenai lucid dream, maka memberitahunya sedikit informasi sah-sah saja.

“Jadi, Adam …,” Arya mendehem coba mencegat omongan Yunita. Ia tahu gelagat gadis yang terlalu lugu itu. Akan tetapi, meskipun lugu, Yunita bukan tipe orang yang pelit ilmu. Ia akan memberi ilmunya kepada siapa pun selama itu tidak merugikan.

“ … Lucid dream adalah kemampuan seseorang dalam meraih kesadaran saat bermimpi. Ketika kau sadar dirimu bermimpi, maka kau bebas memanipulasi mimpimu. Terbang, menembus dinding, menciptakan makhluk kreasi sendiri, kau bisa lakukan segalanya.” Yunita berhenti bicara, sementara hati Arya panas-dingin.

“Wow! I-itu menakjubkan! Apakah itu nyata? Lalu bagaimana cara melakukannya?” Adam terlihat amat antusias.

Reality Check merupakan kunci dasar masuk ke dunia mimpi. Jika kau dapat melakukannya saat bermimpi, maka mimpi itu sepenuhnya milikmu,” sahut Danu.

“Reality Check?” ulang Adam.

“Seperti memeriksa jumlah jarimu secara berkala, sebab di dunia mimpi, jumlah jarimu bisa berkurang atau bahkan bertambah. Kemudian tutup hidungmu sekuat mungkin, di dunia mimpi kau akan tetap bernapas saat melakukannya. Dan yang paling penting, ketika kau telah sadar di dalam mimpi, teriakanlah ‘Lucid’ sekeras-kerasnya, itu membuat mimpimu semakin jelas,” tutur Yunita.

“Sangat keren, Teman-teman! Apakah kalian semua pernah mengalaminya? Jika iya, aku ingin belajar pada kalian.” Ucapan Adam tidak mendapat gubrisan positif.

“Maaf, kami tidak bisa memberitahumu. Tetapi, setiap manusia punya potensi menjadi lucid dreamer. Kita hanya perlu berusaha dan pantang menyerah. Sebab, ketika dirimu menyerah di tengah-tengah usaha, maka keberhasilan akan semakin jauh meninggalkanmu.” Yunita menutup perbincangan mereka, karena di detik berikutnya bel masuk kembali berdering keras.

Semua murid yang asyik makan cepat-cepat membayar makanan mereka lalu berlarian kembali ke kelas. Arya dan Danu juga tampak menyerahkan bayaran, walaupun mie ayam mereka baru habis setengah. Yunita sudah lebih dulu kembali ke kelasnya, sedangkan Adam—yang kelihatannya anak baik-baik—berdiri santai di depan pintu kantin, menunggu dua rekannya selesai membayar.

“Kalau mau, kau bisa langsung ke kelas saja,” ucap Arya sesaat mendekati Adam.

“Tidak-tidak, bersama kalian lebih baik. Lagi pula aku tidak punya teman di sekolah ini.”

“Sekarang kau punya dua.” Arya menyahut, matanya lurus ke depan.

“Tiga, maksudmu?” celetuk Danu. “Kau, aku, dan Yunita.”

“Hanya kau dan Yunita.” Setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya, Arya cepat-cepat pergi ke kelas, meninggalkan Adam dan Danu.

“Begitulah dia, keras kepala dan agak sombong. Tapi kalau sudah kenal, sifatnya akan berubah, kok,” ujar Danu.

“Tidak apa-apa.” Jawaban Adam terkesan datar, pasalnya ia sama sekali tidak memerhatikan Danu. Mata tajamnya itu hanya mengikuti Arya yang kian menjauh—entah karena apa.