Episode 1 - Tidak Seperti Biasanya



“Terus jaga jalur sebelah barat! Aku akan menyusul sebentar lagi.”

“Baik, Pak!”

Dia terus berlari bersama zirah merah berkilauan—seringan angin namun sangat mematikan. Tanah cokelat berlumpur menjadi saksi bisu tumbangnya puluhan prajurit bertombak yang dengan gagah berani menyerbu musuh mereka. Akan tetapi, orang yang kali ini—walaupun seorang diri—sangatlah sulit dikalahkan, bahkan terbilang mustahil.

Rambut hitam sekeningnya berkibar diterpa angin dingin, tepat sebelum pedang lancip di tangan kanannya menghunus jantung salah seorang prajurit. Yang ditusuk pun memekik sekeras-kerasnya, mengisyaratkan rasa sakit tiada tara. Dia tumbang setelah darah segar memancar ke luar.

Sang pembunuh menyeringai bengis, menatap puluhan prajurit lain yang siap membinasakannya. Mereka menyiagakan tombak mengilap sembari memasang raut beringas. Kala itu langit masih jingga kemerahan, dan beberapa ekor gagak tampak bertengger di rerantingan pohon kenari. Begitu napas terakhir diembuskan oleh prajurit yang tertusuk, rekan-rekannya pun sontak berlarian menyerbu Sang pembunuh.

Gebu nafsu mereka mengiringi tiap serangan yang berakhir dengan kekecewaan. Satu per satu prajurit gugur di medan pertempuran, menyisakan genangan darah yang getir, senada dengan suasana hari itu. Sang pembunuh menghabisi hampir semua lawannya tanpa mendapat luka secuil pun, betapa hebatnya dia.

“Aku nyaris selesai,” ujarnya seraya mendelik tajam pada dua orang prajurit yang lumpuh termakan takut.

“Bagus, Pak! Kami juga berhasil memukul mundur pasukan di penjuru barat.” Jawaban tegas menggema di kepalanya. Tak bermulut, tak berwajah, bahkan tak ada wujudnya. Suara itu hanya terlintas di benak Sang pembunuh, seolah ia sedang menghubungi seseorang.

Setelah menyelesaikan perbincangan, mata beriris hitam gelapnya segera terarah pada dua prajurit yang tersisa. Wajah berjanggut mereka pucat pasi layaknya rembulan di langit mendung. Sontak saja Sang pembunuh kembali menyeringai, kemudian ia menutup matanya.

 Gelap pun menyeruak seketika. Cukup aneh melihat perilakunya yang tak masuk akal itu, tetapi saat dibukanya mata tersebut, kedua prajurit yang mulanya cuma meringkuk ketakutan, kini justru tewas tercabik-cabik oleh seekor singa raksasa. Surai emasnya tercemar merah darah kedua prajurit, sungguh mengerikan, terlebih ketika taring pedangnya menusuk perut Sang mangsa.

“Misi selesai,” ujar Sang pembunuh tersenyum puas. “Hei, Arga! Bagaimana kabarmu di penjuru barat?” tanyanya kemudian.

Lagi-lagi suara tanpa wujud itu terdengar, tetapi kali ini agak sayup tertutup bunyi dengungan keras: “Pak! Pak! Kami diserbu! Ka-kami kalah!” Mata Sang pembunuh langsung terbelalak.

Walau situasi mulai memburuk, ia tetap menjaga emosinya agar tetap stabil. Sesudahnya, lelaki itu kembali memejamkan mata. Dan tak berapa lama, kejadian yang terpampang di depannya benar-benar berubah. Puluhan mayat prajurit sudah tiada, begitu pun singa ganas yang tadinya asyik menyantap onggokan daging.

Kini Sang pembunuh berada di medan pertempuran yang berbeda, bukan tanah berlumpur di tengah rentetan pohon kenari, melainkan gurun maha luas dengan dua matahari yang menggelantung di langit biru. Di tengah dera panas yang tak terkira, tampak dua kubu prajurit saling menyerbu. Salah satu berzirah hijau zamrud, satunya lagi mengenakan baju besi berwarna keperakan lengkap dengan deretan duri kecil di bagian punggung.

“Pak! Akhirnya Anda di sini,” seru seorang pemuda berperawakan tegap dengan wajah menyerupai Sang pembunuh. Alis kanannya yang terbelah oleh bekas luka tampak tak kuasa menahan aliran keringat, dan tudung besi yang dipakainya berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari. “Tadinya kami nyaris menang, tetapi tiba-tiba pasukan berseragam misterius datang.”

“Benarkah? Kalau begitu siapkanlah dirimu, Arga! Kita akan bergabung dengan yang lainnya,” sahut Sang pembunuh seraya melempar pandangannya ke medan pertempuran

Sebelum beranjak pergi, ia sempat memejamkan mata untuk kesekian kali dan entah bagaimana sebuah pistol hitam bisa tergenggam di tangannya, menggantikan pedang lancip.

“Ayo!” teriaknya lalu berlari menyerbu kubu musuh.

Bunyi benturan besi menggema, mengisi sunyinya gurun tak berujung. Dan tepat ketika Sang pembunuh menarik pelatuk pistolnya, timah panas pun terlontar menembus dada salah satu prajurit berzirah perak. Ia jatuh tak bernyawa, menyisakan kewaspadaan di hati yang lain. Riuhnya pertempuran sontak berhenti digantikan tatapan heran dari kubu musuh.

“Benar-benar visualisasi yang buruk. Aku bahkan lupa telah membayangkan kalian,” ujar Sang pembunuh seraya menyiapkan tembakan yang kedua.

Sesaat ia mulai membidik, seruan tegas seketika terdengar: “Bukan visualisasimu, Kawanku! Aku hanya kebetulan ingin mengadu imajinasi.”

Sang pembunuh tercekat, tak habis pikir mengenai jawaban barusan. Pupilnya melebar mengiringi mata yang terbelalak. Sungguh mustahil, pikirnya. Apa yang telah terjadi benar-benar di luar skenario, dan itu seharusnya tidak mungkin.

“Ba-bagaimana bisa kau bertindak tanpa izinku?” Sang pembunuh menyeru agar orang itu menjawab keraguannya.

“Sederhana,” ujarnya dari kejauhan.

Senyap datang menyapa tanpa memberi banyak pilihan untuk diperbuat. Jawaban yang terkesan tanggung itu belum sanggup memuaskan Sang pembunuh. Ia butuh lebih banyak kata.

Dengan terbata-bata dicobanya kembali bertanya. Namun, orang yang ditanya ternyata sudah ada di belakang bersama sebilah pisau berkilauan.

“Karena aku bukan karakter mimpimu.”

Pisau yang mulanya diam seketika berayun menghunus pinggang Sang pembunuh. Ia terenyak menahan rasa kejut yang amat mendadak. Matanya terbeliak tak percaya.

“Selamat tinggal.” Kata itulah yang terakhir bergema.

BLUK!

Seorang pemuda terjatuh dari ranjangnya, membentur lantai kayu yang berderit keras. Ia meringis pelan seraya mengusap kepalanya yang nyeri. Sungguh hari yang sial, bahkan hanya untuk bermimpi.

Ia perlahan bangkit dengan tubuh basah bak diguyur keringat. Paling tidak dirinya masih bisa selamat meski ditusuk pisau oleh orang misterius.

Lucid dream macam apa itu?” gerutunya.

Tampang pemuda itu masih sama dengan Sang pembunuh yang beraksi di dunia mimpi, terkecuali pakaiannya yang berganti oblong dan celana hitam pendek. Badannya agak kurus terbungkus kulit kuning langsat dan hidungnya terbilang mancung.

Pemuda tersebut bergegas membuka tirai jendela sehingga saat matanya diterpa cahaya matahari, ia pun sontak mendecak kesal.

“Ah, sialan!” makinya bergegas membuka pintu lalu berlari kecil menuruni bordes. “Romy! Kenapa kau tidak membangunkanku?” gelegarnya sesaat mendapati kakaknya tengah asyik menyantap bubur.

“Tiga kali, Bodoh. Aku sudah mencoba membangunkanmu tiga kali.” Sang kakak sontak beranjak dari kursi makan seraya menyeka noda bubur di kumis tipisnya. “Kau tahu, Arya? Akhir-akhir ini kau tidur seperti orang mati.”

Arya lagi-lagi mendecak kesal. Tanpa menghiraukan omelan kakaknya, pemuda bergigi gingsul itu memutuskan minggat dari dapur, menuju kamarnya di lantai atas. Tak ada waktu untuk sarapan, mematut diri, bahkan hanya untuk mandi. Dengan paniknya ia mengenakan seragam putih bercelana kelabu panjang.

Sesudah mengencangkan sabuknya, Arya menyempatkan diri untuk membasuh muka kemudian memungut tas di lantai. Suara gaduh kakinya saat menurut bordes benar-benar mengganggu, membuat Romy yang baru selesai mencuci piring langsung mengomel.

“Awas kau, ya!” teriak kakaknya di ambang pintu.

“Terima kasih!” Arya segera menunggangi sepeda fiksi putih bergaris hitamnya lalu pergi terburu-buru.

Bukan hubungan yang baik memang, tetapi setidaknya mereka mampu bertahan hidup bersama meski tanpa bantuan orangtua. Rasanya sudah dua tahun semenjak meninggalnya ayah dan ibu Arya akibat kecelakaan pesawat ke tanah suci. Ia dan kakaknya yang menunggu di rumah sontak terpukul. Dan benar saja, ketika pemakaman kedua orangtuanya, Arya tak kuasa menahan tangis di atas pembaringan terakhir mereka.

Akan tetapi kejadiannya sudah lama. Tidak ada waktu lagi untuk menangisinya, sebab hidup terus berjalan. Setelah lulus kuliah, Romy—kakaknya diterima sebagai kasir di minimarket. Meski gajinya tidak seberapa, paling tidak mereka masih bisa bertahan hidup sampai ada penerimaan pegawai negeri sipil di tahun mendatang.

Matahari kian terik. Jalan raya pun semakin dipadati oleh mobil-mobil bermacam warna. Sementara itu, Arya tampak mengayuh sepedanya cepat-cepat, takut jika gerbang ditutup sebentar lagi. Dilihatnya masih ada beberapa siswa yang berjalan di trotoar, artinya nasibnya belum tamat.

Sepuluh kayuhan ke depan, akhirnya Arya tiba dan untungnya Pak Satpam yang berkumis tebal itu baru saja ingin menutup gerbang.

“Cepatlah! Dasar lambat,” makinya marah-marah.

“Ma-maaf, Pak.” Arya tersenyum canggung sebagai balasan. Keringat dingin menggenangi pelipisnya akibat menahan malu.

Sesampainya di lapamgan parkir—yang sudah dijejali oleh puluhan sepeda fiksi serupa—lelaki itu bergegas turun dari sepedanya lalu berlari kecil melewati gerbang kedua yang lebih kecil serta sempit menyerupai pintu. Setelah itu, langkahnya terhenti di sisi lapangan basket. Tampak regu basket kebanggaan sekolah tengah mengadakan latihan dadakan untuk pertandingan hari ini.

“Aku pernah juara basket antar-galaksi dua kali,” gumamnya seraya tersenyum angkuh. “Dan kemenangan itu kuraih tanpa latihan,” timpalnya sendirian.

Langkah Arya kembali berlanjut, menyusuri sisi lapangan basket hingga sampai ke kelasnya yang halamannya digelantungi banyak tanaman hidroponik, dan tentunya seonggok kursi panjang terlihat di sebelah pintu hijaunya.

Ia tahu bahwa kelasnya ini tidak sebaik kelas-kelas yang lain, tetapi setidaknya pertemanan penghuninya terjalin erat. Tidak ada istilah geng atau kelompok, tak ada perseteruan besar ataupun perkelahian. Kelas yang satu ini terkesan damai-damai saja.

“Hei, Danu!” seru Arya pada seorang anak yang asyik membaca komik di kursi panjang. Tubuhnya agak gempal terbungkus kulit sawo matang. Rambut hitam tipis adalah ciri khasnya ditambah tahi lalat kecil di bawah mata kiri. “Aku sudah dapat mimpi menarik untuk seri baru komikmu,” lanjut Arya yang sebelumnya beranjak lima langkah ke samping Danu.

“Benarkah?” Danu tampak antusias. “Ceritakan padaku, Arya!”

“Ah, benar! T-tapi mimpi kali ini agak aneh. Bahkan, tidak seperti mimpi-mimpi biasanya,” tukas Arya—wajahnya diliputi keraguan. “Tak apalah, akan kuceritakan saja.” Ia memutuskan duduk di samping Danu.

“Kau tahu, kan? Biasanya aku selalu mengatur skenario mimpi dengan apik sehingga menyerupai film. Tidak pernah ada karakter yang bertindak tanpa izinku, tetapi mimpi yang ini sangat berbeda.” Omongan Arya memancing rasa penasaran Danu. “Ketika sedang berperang melawan pasukan misterius yang datangnya entah dari mana, tiba-tiba saja terdengar suara orang yang bilang ingin mengadu imajinasi. Aneh, bukan? Parahnya lagi, tak diduga ia sudah berada di belakang dan menusuk pinggangku memakai pisau sampai aku terbangun.”

“Mu-mustahil! Bukankah kau bilang diri kita adalah Tuhan di mimpi kita sendiri?” Danu tak mau melepaskan pandangannya dari Arya.

“Seharusnya begitu. Namun, entah mengapa hal seaneh ini bisa terjadi,” ujar Arya. “Menurutmu mungkinkah lucid dream punya semacam fitur untuk berbagi mimpi dengan orang lain? Semacam Bluetooth atau Hostspot, mungkin.”

Bibir Danu menggeliat dan matanya menunduk—tampak tengah memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian, ia mendengus pelan lalu mulai berucap: “Entahlah. Aku bahkan belum pernah merasakan lucid dream, meski sudah berusaha sedemikian keras. Akan tetapi, tidak ada yang mustahil di dunia ini, Arya. Semua akan terjawab pada saatnya.”

“Ya, kau benar.” Arya perlahan menegakkan posisi duduknya seraya menatap langit biru pucat.