Episode 55 - Keserasian


 

“Guru Mayang, ada apakah gerangan?”

Mayang Tenggara sedang berdiri gelisah menatap laut. Jemari tangannya menyentuh salah satu dari empat buah liontin* yang bergelayutan di Untaian Tenaga Suci.** Keempat liontin tersebut tadinya berwarna biru lembayung, tapi kini salah salah satu dari liontin tersebut berubah menjadi berwarna kemerahan. Lalu, tubuh Mayang Tenggara berkelebat menghilang.

Panggalih Rantau sedang merapikan barang dagangannya. Ia kini sedang singgah di pesisir selatan Pulau Sabana, lebih tepatnya di Pulau Karang, pulau kecil milik sahabatnya si Kakek Karang.

Meski diburu anggota Partai Iblis, sebagai saudagar keliling yang bermartabat, maka tetap ia harus menjaga komitmen kepada para pelanggan setia. Siapa tahu, mungkin saja di antara para pelanggan, ada kiranya seorang gadis yang akan menjadi jodohnya.

“Tuan Panggalih Rantau… aku meminta bantuanmu.”

Panggalih Rantau hampir saja melompat ke laut karena saking terkejutnya… Kedua matanya pun melotot.

“Bu… Bunda Mayang!” Panggalih Rantau setengah berteriak. “Apa kiranya bantuan yang dapat hamba berikan?” ia berupaya kembali dari keterkejutan. Kakek Karang yang tersadar akibat keterkejutan tamunya, hanya mengintip dari dalam gubuk, tak berani ia keluar.

“Kumohon gunakan jaringan telik sandi, dan sampaikan pesan kepada putraku Bintang…,” ujar Mayang Tenggara cepat.

Panggalih Rantau kembali terkejut… Bunda Mayang mengetahui bahwa dirinya adalah anggota Pasukan Telik Sandi? Bagaimana bisa? Sejak kapan? Namun, sepertinya saat ini bukan saat yang tepat untuk memastikan. Pastilah ada sesuatu yang mendesak. “Apakah gerangan pesan yang hendak Bunda Mayang sampaikan?”

“Mohon sampaikan bahwa, bilamana bertemu dengan seorang … ” ungkap Mayang Tenggara cepat, berbarengan dengan gemuruh angin dan debur ombak. Bahkan Kakek Karang tak menangkap utuh kalimat pesan tersebut.

“Hah!” kembali Panggalih Rantau terkejut. Namun, segera ia fokuskan pikiran.

“Lencana Telik Sandi dapat mengirim dan menerima pesan hanya dalam radius 10 km. Hamba akan mengirim pesan ini kepada anggota pasukan yang lain, lalu mereka akan me-relay pesan tersebut dari satu lencana ke lencana berikutnya… Kupastikan pesan akan tiba ke Lencana Telik Sandi milik Adik Bintang sesegera mungkin,” ungkap Panggalih Rantau tanpa berbasa-basi. ***

Panggalih Rantau kemudian segera melompat ke atas Undan Paruh Cokelat. Ia perlu segera masuk ke dalam radius Lencana Telik Sandi milik anggota lain. Barang dagangan yang masih setengah berserakan ia tinggalkan begitu saja.

“Terima kasih,” ungkap Mayang Tenggara sebelum berkelebat menghilang.

Panggalih Rantau pun memacu Undan Paruh Cokelat dan sudah menghilang dari pandangan Kakek Karang. Bintang Tenggara adalah penyelamat jiwanya. Nanti saja pertanyaan tentang jati diri Bunda Mayang… yang terpenting adalah isi pesan tersebut harus segera diterima!

Dalam hati ia pun berharap… semoga Silek Linsang Halimun sebagai bekal yang ia berikan dapat bermanfaat.


***


“Swush!”

Tetiba kabut berwarna ungu menyusut!

“Kasta Perunggu Tingkat 8… siapakah gerangan engkau?” terdengar suara menegur ramah. Sesosok tubuh muncul dari balik gerbang dimensi instan yang tadinya disiapkan Guru Muda Anjana.

Embun Kahyangan mundur beberapa langkah. Jurus sakti unsur kabut yang baru saja ia rapal digagalkan paksa oleh tokoh yang baru muncul tersebut. Sebuah kerambit berukuran kecil digenggam dalam posisi seperti hendak menikam di tangan kirinya. Lingkaran kecil di hulu senjata silat ini diisi oleh jari telunjuk. Mata bilahnya yang melengkung mirip arit kecil seukuran dua jemari. Meski terkesan imut, kerambit adalah senjata yang mudah disembunyikan dan mematikan. Saat dikerahkan, banyak ahli silat yang kesulitan menyadari keberadaannya.

“Terima kasih, Kakak Seperguruan,” ungkap Guru Muda Anjana. Darah mengalir dari luka gores di lehernya. Andai saja si Kakak Seperguruan tersebut terlambat datang bertindak, maka kemungkinan besar bukan saja urat lehernya yang putus, bahkan mungkin kepala Guru Muda Anjana akan terpenggal dibabat kerambit.

“Bupati Pulau Lima Dendam…” gumam Kum Kecho pelan. Bahkan, ia juga tak sempat bertindak ketika kabut ungu membelenggu mata dan indera keenam.

“Adik Anjana, aku akan menyiapkan gerbang dimensi sementara untuk meninggalkan Perguruan, dan membawa pergi Sang Lamafa Muda itu. Tentunya akan memerlukan sedikit waktu,” ujar sosok tersebut.

“Kum Kecho, bantulah Adik Anjana menghadapi gadis itu,” sambung Bupati Pulau Lima Dendam memberi perintah.

“Jadi kalian bertujuan menculik anak itu?” tanya Kum Kecho ringan sambil menunjuk ke arah Bintang Tenggara, yang sedang tergolek tak dapat bergerak. Ia enggan bertindak lebih jauh tanpa mengetahui alasan.

“Benar,” jawab Guru Muda Anjana. “Hanya ada satu gerbang dimensi untuk keluar-masuk Perguruan Gunung Agung dan tentunya selalu dijaga ketat. Kita harus membangun gerbang dimensi sementara bila hendak segera meninggalkan Perguruan. Aku hanya mampu merapal gerbang dimensi untuk membuka pintu masuk…”

Bintang Tenggara yang masih tergolek tak berdaya hanya bisa mengamati. Ia menyaksikan seorang remaja perempuan berwajah jelita, kedua kelompak matanya menggantung seperti mengantuk. Sedari awal ia hanya bersuara saat merapal jurus. Yang sulit dipercaya adalah cara berpakaian yang sangat terbuka itu. Tubuhnya hanya dibalut kemben minimalis berwarna ungu, sehingga menampilkan belahan buah dada yang demikian ranum dan paha yang demikian mulus.

Yang juga sulit dipercaya adalah kehadiran Kum Kecho. Apa tujuannya menyelinap ke dalam Perguruan? Dari cara bertuturnya, seolah pawang binatang siluman itu tak sepenuhnya terlibat dalam rangkaian kejadian ini.

Yang lebih sulit lagi dipercaya adalah kelakuan Guru Muda Anjana. Sepertinya Guru Muda Anjana terlibat dalam sebuah rencana penculikan. Sedangkan yang akan menjadi korban penculikan adalah dirinya sendiri. Untuk apa mereka menculikku? Bunda Mayang tak memiliki cukup uang untuk membayar tebusan… apa sebenarnya yang terjadi?

“Guru Nagaradja, bisakah guru mengeluarkan belati yang ada di dalam dimensi penyimpanan?” Sesungguhnya Bintang tak perlu bertanya, karena mata hati gurunya dapat melakukan permintaannya dengan mudah.

“Selendang Batik Kahyangan,” gumam Komodo Nagaradja. “Hanya berselang beberapa hari, satu lagi Senjata Pusaka Baginda hadir di hadapanku…”

Selendang Batik Kahyangan? Mungkinkah kemben itu sebenarnya adalah selendang? pikir Bintang… Tunggu… “Guru!”

“Oh… muridku, ada apakah gerangan?”

“Guru, muridmu ini sedang terikat dan terancam menjadi korban penculikan…. sudikah guru mengeluarkan belati yang ada di dalam ruang dimensi penyimpanan?”

“Maksudmu belati yang kau kutil dari ruang penyimpananku di Pulau Bunga?”

“Benar, Guru…” Bintang mulai tak sabar.

“Nanti saja,” jawab Komodo Nagaradja malas. “Aku ingin menyaksikan kepiawaian gadis itu dalam menggunakan Selendang Batik Kahyangan.”

Embun Kahyangan menyilangkan sikut kirinya sejajar dada. Sebilah kerambit yang ia genggam di tangan kiri, kini persis berada di depan dagu. Lengan kanannya ditekuk ke arah lengan kiri. Perlahan ia menurunkan kedua lutut. Setiap gerakan yang ia lakukan menggoyang sepasang payudara yang setengah terbuka itu.

Sorot kedua mata sayu Embun Kahyangan kini tajam menatap lawan, seolah hendak mengiris-iris tubuh mereka.

“Kau bukan dari Perguruan Gunung Agung,” seru Guru Muda Anjana, sambil mengeluarkan sebilah pedang lurus dengan dua sisi mata tajam. Panjang pedang itu tak kalah dengan panjang Parang Hitam milik Panglima Segantang.

“Cih… Selendang Batik Kahyangan,” decak Kum Kecho. Suara berdenging lalu terdengar ketika seribu nyamuk beterbangan keluar dari balik jubah hitamnya.

“Panca Kabut Mahameru, Bentuk Kedua: Kabut Oro-oro Ombo…” bisik Embun Kahyangan pelan. Seketika itu juga kabut berwarna ungu kembali turun. Hanya saja, kini lebih tipis.

Guru Muda Anjana dan Kum Kecho lalu merasa seolah tubuh mereka berpindah ke sebuah padang rumput luas. Pemandangan begitu indah dan teduh. Terdengar sayup-sayup suara kicau burung. Angin pun bertiup sepoi-sepoi. Keduanya merasakan terbebas dari beban dunia… mata mereka berat… mengantuk…

“Cres!”

Kum Kecho melompat cepat ke belakang. Kerambit yang mengincar lehernya hanya sempat menggores kulit luar… Ketika merasakan kantuk tadi, Kum Kecho masih sempat berpikir jernih, dan memerintahkan seekor nyamuk untuk menggigit lengannya. Rasa sakit yang ia rasakan menyadarkan dari perangkap ilusi jurus lawan!

Kerambit yang digenggam di tangan Embun Kahyangan kini mengincar leher Guru Muda Anjana.

Seribu Nyamuk Buru Tempur!

Serangan kerumunan nyamuk memaksa Embun Kahyangan bergerak mundur. Guru Muda Anjana pun segera terbebas dari pengaruh jurus ilusi.

“Hati-hati!” seru Bupati Pulau Lima Dendam yang sedang berkonsentrasi menyusun gerbang dimensi sementara. “Lawan kalian adalah pembunuh bayangan!”****

Embun Kahyangan dalam posisi terjepit. Secara teknis ia sedang menghadapi tiga orang ahli. Seorang pawang binatang siluman, seorang ahli berpedang yang belum diketahui jurus atau unsur saktinya, serta seorang lagi yang sedang mempersiapkan gerbang dimensi dan memberi petunjuk kepada dua temannya.

"Hadapi dia dari dua penjuru. Jangan beri ruang gerak. Bila ia menyerang menggunakan kesaktian unsur kabut, langsung menjauh secepat mungkin," ujar Bupati Pulau Lima Dendam memberi aba-aba. Konsentrasinya sedikit terpecah, namun ia segera meneruskan upaya membangun gerbang dimensi.

Embun Kahyangan kembali memasang kuda-kuda. Sebagai pembunuh bayangan, ia telah kehilangan inisiatif, dua kali pula. Pembunuh bayangan secara umum bukanlah petarung terbuka dalam arena satu lawan satu. Sesuai namanya, pembunuh bayangan beraksi dari balik bayangan, atau dalam hal Embun Kahyangan, dari balik kabut. Bila jurus-jurus kabutnya terbaca oleh lawan, maka justru ia yang berada dalam posisi bahaya.

Guru Muda Anjana segera bergerak lincah ke arah belakang Embun Kahyangan. Ia bermaksud mengepung.

Walau dikepung dan tak bisa menyerang, tentu Embun Kahyangan masih memiliki 1001 cara untuk menyelamatkan diri. Pilihan yang tersedia adalah mundur dan mencari perlindungan di antara pepohonan, lalu menyerang diam-diam layaknya seorang pembunuh bayangan. Akan tetapi, cara ini membuang-buang waktu, bisa saja gerbang dimensi yang sedang disusun selesai sehingga misi kali ini berpeluang gagal.

Ketika memikirkan misi, kedua mata sayu Embun Kahyangan bertemu dengan tatapan mata Bintang Tenggara yang sedang terikat dan tergolek.

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Ketiga: Kabut Kalimati!

Kabut kembali menyebar di sekeliling Embun Kahyangan. Akan tetapi, kali ini kabut tidak mematikan indera penglihatan dan mata hati, atau menjebak dalam ilusi. Kabut yang berpendar di sekitar tubuh lawan seolah mengeras. Baik Kum Kecho di arah depan, maupun Guru Muda Anjana di belakang terkunci tak bisa bergerak!

Embun Kahyangan lalu merangsek maju ke arah Kum Kecho di depan. Gerakannya cepat, kerambit di tangan kiri pun siap mengayau leher lawan.

“Hentakkan tenaga dalam kalian!” seru Bupati Pulau Lima Dendam. Kembali konsentrasinya terpecah. Setiap kali konsentrasinya terpecah, maka kegiatan menyusun gerbang dimensi pun melambat.

“Hyah!” Guru Muda Anjana dan Kum Kecho bersama-sama mengalirkan tenaga dalam ke seluruh penjuru tubuh secara mendadak. Hentakan tenaga dalam rupanya berhasil melepaskan diri mereka dari kurungan kabut berwarna ungu.

Namun, terlambat… Embun Kahyangan bukan mengicar Kum Kecho… Ia telah memutuskan tali yang membelit sekujur tubuh Bintang Tenggara!

“Kakak Ahli, terima kasih atas bantuanmu,” Bintang Tenggara berujar pelan ke arah gadis remaja di sebelahnya. Dari penampilan gadis tersebut, pastilah ia beberapa tahun lebih tua dari diri Bintang.

Setelah berdiri tegak, Sisik Raja Naga di kedua lengan dan kaki segera aktif. Tempuling Raja Naga pun kini dalam genggaman. Siap ditikamkan kapan saja!

Mendengar ucapan Bintang Tenggara, Embun Kahyangan hanya diam. Menoleh pun ia tidak. Posisi mereka sekarang saling memunggungi. Bintang menghadap Guru Muda Anjana dan Embun Kahyangan menghadap Kum Kecho.

“Guru Muda Anjana, apa maksud dari semua ini?”

“Adik Bintang, kami tak hendak mencederaimu. Ikutlah dengan baik-baik bersama kami… dan kau akan mengetahui jati dirimu,” jawab Guru Muda Anjana.

Bintang Tenggara sangat ingin memercayai Guru Muda Anjana. Andai saja tadi Guru Muda Anjana tidak mengikat tubuhnya, dan Kum Kecho tidak ikut-ikutan muncul, maka mungkin saja ia rela pergi bersama Guru Muda Anjana dan pria misterius itu.

Sedari tergolek di tanah dan dibelit temali, Bintang tak bisa memerhatikan sosok pria misterius yang sedang menyiapkan gerbang dimensi sementara. Namun kini, ia dapat mengamati pria tersebut. Ada kesan tak asing dari pria itu. Sungguh aneh.

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Ketiga: Kabut Kalimati!

Bintang Tenggara melihat kabut kembali menyebar di sekelilingnya. Embun Kahyangan kembali merapal jurus kesaktian unsur kabut. Bintang menyadari bahwa ini adalah kabut yang mengunci gerak tubuh. Namun, kabut tersebut tidak mengunci gerakannya. Sepertinya kabut dapat dikendalikan sedemikian rupa agar tak berdampak pada teman. Kabut segera kembali mengunci gerak Guru Muda Anjana, Kum Kecho, serta kerumunan nyamuk.

Bintang Tenggara segera melenting tinggi menikam ke arah… Kum Kecho!

Trio Kutu Gegana Ledak!

Melihat tempuling yang deras mengarah ke tubuhnya, Kum Kecho menghentakkan tenaga dalam sambil mengeluarkan ketiga ekor kutu yang melompat-lompat. Satu ekor melompat ke arah Bintang Tenggara, sedangkan dua ekor lagi melompat ke depan, ke arah Embun Kahyangan yang juga merangsek menyerang!

Namun, ketiga ekor kutu tiba-tiba terdiam! Mereka yang tadinya dapat bergerak bebas, tetiba terkena dampak jurus Panca Kabut Mahameru! Sebuah jebakan yang sangat baik dari Embun Kahyangan.

“Ledak!” teriak Kum Kecho memberi perintah. Rupanya, jurus Trio Kutu Gegana Ledak dapat diledakkan kapan saja. Tidak perlu menunggu kutu-kutu tersebut bersentuhan dengan tubuh lawan.

Saat ledakan terjadi, memanfaatkan satu Segel Penempatan, Bintang Tenggara segera menghindar ke samping lalu kembali menikamkan tempuling yang bobotnya sudah diperberat. Empat Segel Penempatan berada antara dua kutu dan Embun Kahyangan, yang berfungsi membiaskan kekuatan ledakan agar tak mencederai pasangan bertarung. Meski sempat terhenti, Embun Kahyangan segera kembali menyerang.

Kum Kecho kembali terancam dari atas dan bawah!

Kepik Cegah Tahan!

“Brak!” Tempuling ditahan oleh kumbang berkubah keras yang berbintik-bintik merah muda. Kum Kecho merasakan tekanan yang lebih berat dibandingkan saat menahan tempuling di Pulau Kuda! Ia pun melompat ke belakang, meninggalkan kepiknya terhentak ke tanah.

“Cres!”

Kerambit Embun Kahyangan menyabet paha kiri Kum Kecho. Di saat hendak mengejar, Embun Kahyangan merasakan tekanan dari belakang. Ia pun segera menghindar ke samping.

“Buk!” tebasan pedang panjang Guru Muda Anjana hanya menghajar tanah. Meski serangannya luput, ia terus bergerak ke arah Kum Kecho.

Senyuman kecut terlihat di sudut bibirnya. Bintang Tenggara dengan Kasta Perunggu Tingkat 4 dan seorang gadis pembunuh bayangan dengan Kasta Perunggu Tingkat 8. Kum Kecho dan dirinya sama-sama memiliki Kasta Perunggu Tingkat 5. Dari segi tingkatan kasta mereka tertinggal. Namun yang lebih penting, dari segi kerja sama berpasangan, mereka tertinggal lebih jauh lagi!

Bintang Tenggara mendarat dan bergerak mendekat pasangan bertarungnya. Dalam hati ia merasa bahwa gaya bertarung mereka serasi, bahkan saling melengkapi. Si gadis berkemben setengah terbuka memiliki kemampuan mengunci gerak lawan, memberikan Bintang kesempatan untuk melancarkan penempatan dengan lebih leluasa.

“Kakak seperguruan, aku mohon maaf,” ungkap Guru Muda Anjana ke arah pria misterius. “Sepertinya lawan tak mungkin bisa dibawa tanpa paksaan.”

Pria misterius hanya terdiam. Ia masih berkonsentrasi.

“Kakak Seperguruan, kumohon Kakak bersedia membuka segel mustika tenaga dalamku,” tambah Guru Muda Anjana.

 


Catatan:

*) Keempat Liontin berwarna biru lembayung milik Mayang Tenggara pernah disingggung dalam Episode 2 dan Episode 22.

**) Untaian Tenaga Suci dibahas dalam Episode 22.

***) Relay: dalam konteks meneruskan sinyal, biasanya menggunakan pemancar.

****) Pembunuh bayangan: Assassin.

Tambahan gambar kerambit di bawah di ambil dari Kaskus.