Episode 54 - Hasrat

 


  

“Swush!”

Begitu kelima anak remaja tersebut lalu menapakkan kaki di dalam pura di puncak bukit, mereka langsung ditarik ke dalam gerbang dimensi.

Bintang Tenggara kembali merasakan gejala kepala pening dan perut mual. Ia masih belum terbiasa menempuh perjalanan melalui gerbang dimensi… Tak lama berselang, mereka kembali terdorong keluar. Kali ini ketibaan tidak di ketinggian, melainkan sejajar dengan lantai.

Bintang mengamati sekeliling. Mereka berada di dalam sebuah ruangan luas. Terlihat pilar-pilar besar menjulang, menyangga langit-lagit yang tinggi. Ia juga mencium bau dupa dan bunga yang bercampur membangun harmoni yang menyegarkan.

“Selamat datang di Aula Budi Arda,”* seorang perempuan dewasa menegur. “Panggil aku Guru Nilawarsa.** Kalian adalah kelompok kedua yang tiba di aula ini,” sambungnya.

Seorang lelaki muda terlihat berdiri di belakangnya. Ia adalah Guru Muda Anjana, yang tak menyembunyikan ekspresi bangga.

Meski demikian, Canting Emas justru terlihat terkejut. Ia yakin betul bahwa dengan kecepatan mereka bergerak di padang rumput dan keputusan menghindar dari Semut Api Merah di hutan, maka akan menempatkan mereka sebagai kelompok yang pertama tiba di Aula Budi Arda.

“Setelah melewati tahap pertama ‘usia dan keahlian’, lalu tahap kedua ‘kerja sama’, maka kini kalian berhak mengikuti tahap ketiga ‘hasrat’,” ujar Guru Muda Anjana.

“Tahapan ini tidaklah serumit tahapan sebelumnya, namun merupakan tahapan paling penting. Dengan menyentuh Prasasti Budi Arda, kita akan memperoleh informasi apakah kalian memiliki motivasi yang senada atau tidak dengan nilai-nilai Perguruan. Para Guru nantinya akan melakukan interpretasi atas hasrat kalian. Selain itu, tak jarang hasil dari Prasasti Budi Arda menyajikan gelar yang cocok bagi kalian,” tutup Guru Muda Anjana.

Mereka lalu diarahkan ke salah satu sudut aula. Di sana terlihat sebuah prasasti besar. Ukurannya lebih tinggi dan lebar dibandingkan Dwarapala yang mereka hadapi pada tahapan ujian masuk sebelumnya. Bedanya, prasasti tersebut merupakan lempengan batu.

Canting Emas mengambil inisiatif maju dan menempelkan telapak tangannya di permukaan prasasti.

“Anak Agung Ayu Canting Emas,” ia berujar, sepertinya sudah mengetahui prosedur yang perlu dilakukan.

Tak lama, terdengar suara yang berat dan terkesan tua sekali datang dari Prasasti Budi Arda. “Ksatria Padma!”

Ksatria Padma? Apakah maksudnya? Bintang Tenggara membatin. Sepertinya Canting Emas memanglah berdarah ksatria. Padma, kalau tak salah berarti bunga teratai… Apa hubungannya dengan motivasi…? Ah, mungkin diperlukan kebijaksaanaan seorang Guru untuk mengetahui maknanya.

“Panglima Segantang!” seru anak remaja bertubuh besar dan berambut cepak itu sambil menempelkan telapak tangannya di prasasti.

“Prajurit Batu!” terdengar jawaban Prasasti Budi Arda.

“Kuau Kakimerah…” disusul jawaban, “Peramu Sihir!”

Hm… kembali Bintang Tenggara membatin. Panglima Segantang memang prajurit dan memiliki bakat kesaktian unsur tanah… dan keras kepala. Jadi, sebutan Prajurit Batu sangat sesuai. Apakah Kuau Kakimerah memiliki keterampilan khusus sebagai peramu? Keahlian dari Pulau Belantara Pusat memang sungguh misterius, layaknya sihir.

“Bintang Tenggara.” Kini tiba giliran Bintang menempelkan telapak tangannya pada prasasti. “Pemburu Ilmu,” terdengar jawaban.

Pada dasarnya lamafa memanglah pemburu… dan harus diakui pula ilmu pengetahuan memang kegemaran. Bintang tertegun beberapa saat. Luar biasa sekali Prasasti Budi Arda ini!

“Namaku menghias…”

“Sebutkan hanya nama lengkapmu tanpa embel-embel yang tak perlu,” sela Guru Muda Anjana.

“Gusti Raden Pangeran Aji Pamungkas!”

Hening.

“Mengapa tak ada jawaban?” keluh Aji Pamungkas gelisah. “Apakah ada kesalahan dari namaku? Apakah aku bukan anak dari Ayahanda Kanjeng Gusti Adipati?”

Bersabarlah sejenak…” jawab Guru Muda Anjana malas.

“Pemanah Buta!” terdengar prasasti akhirnya memberikan jawaban.

“Hmph…” Canting Emas terkekeh. “Cocok sekali. Hatimu memanglah buta.”

“Pemanah Buta…?” gumam Bintang pelan.

“Hehe…” Aji Pamungkas melempar senyum ke arah Canting Emas. “Dalam bahasa daerah asalku, buta itu adalah buto… dan buto berarti raksasa… Aku memang ditakdirkan memanah cinta ke arah seorang gadis yang mengenakan baju zirah raksasa,” sambungnya sambil mengedipkan mata.

“Ck…” Canting Emas membuang muka.

“Matanya…,” gumam Bintang lagi.


***


“Yang Terhormat Para Tetua Perguruan, seratus kelompok pertama yang melewati ujian tahap ‘kerja sama’ telah tiba di Aula Budi Arda,” ujar Guru Nilawarsa menyampaikan laporan. Ia kini berada di dalam ruangan yang lebih kecil di belakang Aula.

“Bagaimana hasilnya?” terdengar suara lelaki tua bertanya.

Yang Terhormat Sesepuh Ketiga, seorang anak remaja bernama Ghunda* menghancurkan 244 Dwarapala, disusul Bintang Tenggara dengan 236 Dwarapala dan Canting Emas dengan 227 Dwarapala,” jawab Guru Nilawarsa.

“Hm… siapakah Ghunda itu?”

“Ghunda berasal dari keluarga petani kecil di wilayah utara Pulau Dewa…” jawab Guru Nilawarsa.

“Anak asli Pulau Dewa… bagus. Canting Emas berada pada urutan ketiga…” gumam Sesepuh Ketiga.

“Bintang Tenggara… Pastilah ia memiliki hubungan darah dengan Petaka Perguruan!” Terdengar suara perempuan menghardik. Ia adalah sesepuh Ketujuh.

“Terima kasih atas laporan Guru Nilawarsa… Jika tak ada tambahan, kumohon dapat menunggu sejenak di luar. Ada beberapa hal yang hendak kami bahas.” Sesepuh Kelima menyela dan memberi perintah.

“Baik, Sesepuh Kelima. Nilawarsa akan menantikan pertimbangan para Tetua. Satu hal yang hendak kusampaikan adalah seorang calon murid dari kelompok pertama menderita cedera cukup parah.” Guru Nilawarsa lalu bergegas meninggalkan ruangan yang ditempati para tetua. Sebuah tanda tanya besar menggantung di benaknya.

“Sesepuh Ketujuh, tak perlulah terlalu berlebihan dalam menyikapi,” ungkap Sesepuh Kelima, setelah Guru Nilawarsa meninggalkan ruangan.

“Sesepuh Kelima, aku pun tidak setuju menerima anak remaja bernama Bintang Tenggara itu. Kalau hanyalah seorang lamafa, mungkin aku tak berkeberatan… tapi jati dirinya…,” Maha Guru Keenam ikut angkat bicara.

“Maha Guru Keempat, bagaimana tanggapanmu?” tanya Sesepuh Ketiga berupaya menengahi.

“Aku merasa tak memiliki suara dalam hal ini…,” jawab Maha Guru Keempat. “Aku hanya bisa bisa melaporkan bahwa anak remaja bernama Bintang Tenggara itu… adalah benar keturunan dari Balaputera dan Mayang Tenggara.”

“Tak ada lagi yang perlu didiskusikan!” sergah Sesepuh Ketujuh.

“Janganlah sampai kita memutuskan sesuatu yang tak adil…” gerutu Sesepuh Kelima. “Hasil Prasasti Budi Arda menyebutkan bahwa ia adalah ‘Pemburu Ilmu’, sehingga tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku pun bersedia menjadikan diriku sebagai jaminan untuk anak itu.”

“Siapakah dia bagimu?” hardik Sesepuh Ketujuh.

“Aku mengenal ayahnya…,” jawab Sesepuh Kelima. “Maha Guru Keempat, bukankah ayahnya adalah sahabatmu?” ia terlihat membutuhkan dukungan suara.

“Sesepuh Ketujuh, Sesepuh Kelima, Maha Guru Keenam, Maha Guru Keempat… Adalah kita berlima yang bertanggung jawab dalam ujian masuk kali ini. Para tetua lain sedang dalam tapa, ada yang mengasingkan diri, ada pula yang tak peduli…” Lagi-lagi Sesepuh Ketiga menengahi.

“Bagaimana bila perihal ini kita putuskan melalui pengambilan suara… Maha Guru Keempat, kumohon keikutsetaanmu…” lanjut Sesepuh Ketiga.

Sesepuh Ketujuh: “Aku tak setuju menerima lamafa itu!”

Sesepuh Kelima: “Aku setuju… dan bersedia menjadi penjamin.”

Maha Guru Keenam: “Aku masih berkeberatan.”

Maha Guru Keempat: “…”

“Maha Guru Keempat, apakah kau masih mengenang tragedi masa lalu? Kumohon suaramu…” Sesepuh Ketiga setengah berharap.

“Aku… Aku setuju menerimanya ke dalam Perguruan,” akhirnya Maha Guru Keempat memberi jawaban. Terlihat ekspresi wajahnya kusut.

“Aku pun setuju,” ungkap Sesepuh Ketiga.

“Adapun alasanku… dikarenakan lahirnya Petaka Perguruan merupakan kelalaian kita 200 tahun lalu. Adalah tanggung jawab para tetua agar bencana serupa tak terulang kembali. Meski demikian… meski memiliki prestasi cukup baik dalam ujian masuk, anak remaja bernama Bintang Tenggara akan mendapat penanganan khusus...”


***


Bintang Tenggara, Panglima Segantang, Canting Emas dan Kuau Kakimerah menyaksikan satu persatu kelompok bermunculan di dalam aula. Sesuai tahapan ujian masuk, mereka yang baru tiba segera menuju Prasasti Budi Arda. Aji Pamungkas tak diketahui berpetualang kemana, kemungkinan sedang sibuk mengganggu anak-anak remaja perempuan di kelompok-kelompok lain.

Sebelum mereka, hanya ada satu kelompok yang tiba terlebih dahulu. Akan tetapi, menurut informasi dari Guru Muda Anjana, salah seorang anggota kelompok tersebut terluka. Setelah menyentuh Prasasti Budi Arda, para anggota kelompok pertama lalu memutuskan untuk menunggu di balai pengobatan.

Pada akhirnya hanya ada seratus kelompok yang tiba. Menurut Canting Emas, kelompok yang tidak termasuk dalam seratus besar akan dengan sendirinya dibawa oleh gerbang dimensi kembali ke lapangan di depan Monumen Genta. Bila ada yang tak lulus tahap ketiga, maka Guru yang bersiaga di Monumen Genta akan membawa calon terbaik menuju Aula Budi Arda.

Masih menurut Canting Emas, adapun kegiatan setelah ini adalah menempatkan murid-murid ke dalam golongan Purwa, Madya atau Utama.

“Canting Emas,” sapa Bintang Tenggara. “Mengapa Guru Muda Anjana hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5?” Rupanya Bintang masing sangat penasaran.

Canting Emas menatap Bintang, lalu menghembuskan napas panjang, sebelum akhirnya menjawab. “Guru Muda Anjana dulu adalah salah seorang Murid Tauladan, dan Putra Perguruan…. Suatu hari, ketika hendak menerobos ke Kasta Perak, sebuah kecelakaan terjadi… petaka,” Canting Emas terdiam sejenak.

“Mustika tenaga dalam Guru Muda Anjana pecah… bahkan nyawanya berada di ujung tanduk. Beruntung saat itu seorang tetua mengawasi. Dengan segala daya upaya, tetua tersebut berusaha merajut kembali mustika yang pecah itu. Untungnya jiwa Guru Muda Anjana dapat diselamatkan… namun mustika di ulu hatinya retak dan ia hanya bisa memiliki mustika tenaga dalam pada Kasta Perunggu Tingkat 5.” Canting Emas yang biasa terlihat angkuh, kita malah terlihat berduka.

“Meski demikian, Guru Muda Anjana adalah pribadi yang tekun. Dengan keterbatasan yang ada, ia tak lagi mendalami persilatan dan kesaktian… Ia mengasah pengetahuan untuk berbagi dengan murid-murid baru,” tutup Canting Emas.

Bintang Tenggara tertegun. Sepertinya Guru Muda Anjana memiliki ketertarikan akan ilmu pengetahuan. Sama seperti dirinya.

“Pengumuman!” terdengar suara membahana di dalam Aula Budi Arda. Suara ini adalah suara yang sama dengan yang berkumandang di Lapangan Genta pagi tadi. Lalu suara yang menarik perhatian itu dilanjutkan oleh suara seorang perempuan dewasa, Guru Nilawarsa, di atas sebuah mimbar.

Kehadiran Guru Nilawarsa dibarengi pula dengan kemunculan lima orang tetua yang duduk di sisi belakang mimbar. Mereka adalah Sesepuh Ketujuh, Sesepuh Kelima, Maha Guru Keenam, Maha Guru Keempat dan Sesepuh Ketiga.

“Aku akan mengumumkan nama-nama para murid baru, serta golongan mereka di dalam perguruan. Para Murid Purwa akan berkumpul di sebelah kiri, Murid Madya di Kanan dan Murid Utama majulah ke tengah aula.”

Dengan demikian, Guru Nilawarsa pun memanggil nama para murid satu persatu. Dimulai dari kelompok yang pertama tiba, yang kini telah terlihat memasuki aula. Hanya berempat, anggota satunya lagi pastilah masih dirawat di balai pengobatan.

“Canting Emas… Murid Utama, Putri Perguruan.”

“Panglima Segantang… Murid Utama, Putra Perguruan.”

Canting Emas dan Panglima Segantang bukan hanya masuk ke dalam golongan Murid Utama, mereka juga langsung menjabat sebagai Murid Tauladan!

“Kuau Kakimerah… Murid Madya.”

“Aji Pamungkas… Murid Madya.”

Pencapaian keduanya memang tidak secemerlang Canting Emas dan Panglima Segantang. Terakhir dari kelompok tersebut adalah…

“Bintang Tenggara… Murid Purwa.”

“Hah!” Canting Emas, Panglima Segantang, Kuau Kakimerah, bahkan Aji Pamungkas tak percaya apa yang mereka dengar!

Dari taktik menghadapi Dwarapala, serta dasar teknik yang dimiliki, tak seorang pun di dalam kelompok merasa lebih baik dari Bintang Tenggara. Mereka semua juga menyadari bahwa koleksi Dwarapala terbanyak dari kelompok mereka adalah milik Bintang Tenggara. Canting Emas bahkan merasa bahwa Bintang Tenggara akan menjadi Putra Perguruan, lalu bersama Panglima Segantang akan menjadi rival terberatnya.

Mereka lalu menyaksikan Bintang Tenggara berjalan santai menuju ke posisi Murid Purwa. Panglima Segantang segera melangkahkan kaki hendak mendatangi Guru Nilawarsa di atas Panggung. Canting Emas sedikit ragu, namun segera menyusul.

“Panglima Segantang, Canting Emas… bersabarlah sejenak,” ujar Guru Muda Anjana menghalangi niat keduanya mengajukan sanggahan. “Menjadi Murid Purwa bukanlah akhir dari segalanya. Perguruan pastilah memiliki alasan tersendiri… Pada waktunya nanti, Bintang Tenggara dapat melangkah pelan menuju posisi kalian,” sambungnya.

Panglima Segantang menghentikan langkah. Ia tadi juga mendengar ceritera Canting Emas tentang tragedi yang menimpa Guru Muda Anjana. Kata-kata yang keluar dari mulut Guru Muda Anjana menyadarkannya agar menahan emosi. Canting Emas pun turut menghentikan langkah kakinya. Mereka segera kembali ke posisi tempat Murid Utama berkumpul.

Bintang menghela napas panjang. Ia justru khawatir akan kemungkinan menjadi Murid Utama, apalagi Murid Tauladan. Perhatian yang berlebih tak banyak manfaatnya. Lebih baik menjalani hari-hari yang tenang sebagai Murid Purwa, sambil menelusuri pustaka perguruan. Baiklah… sesekali boleh saja berlatih bersama Panglima Segantang. Sesekali saja.

Perihal pustaka perguruan membuat Bintang Tenggara membayangkan koleksi buku yang berlimpah ruah… Oh, indahnya…

“Murid Bintang Tenggara… Apa yang engkau lamunkan?” Suara Guru Muda Anjana menarik Bintang kembali ke alam nyata.

“Eh… Aku sedang berpikir, Guru Muda…”

“Sudikah kiranya kau ikut denganku sebentar saja?” sela Guru Muda Anjana menyibak senyum.

Sepertinya masih banyak waktu sampai Guru Nilawarsa selesai menyebutkan satu persatu nama murid dan golongan mereka. Di tengah seluruh perhatian yang terpusat ke atas mimbar, Bintang pun melangkah bersama Guru Muda Anjana meninggalkan Aula Budi Ardha.

Di luar aula, matahari terlihat menggantung jauh di ufuk barat. Pohon-pohon besar masih membiaskan sinar matahari petang. Udara begitu segar dan suasana dingin mulai merayap pelan. Sebentar lagi malam tiba.

Bintang Tenggara menyadari bahwa mereka tak lagi berada di Kota Taman Selatan di pesisir Pulau Dewa. Sebaliknya, kini mereka berada di pedalaman gunung.

Mereka melewati lapangan, lalu sejumlah pura dengan berbagai ukuran, sampai langkah kaki Guru Muda Anjana berhenti di depan sebuah batu prasasti. Ukuran prasasti tersebut layaknya seorang anak kecil berusia lima tahun.

"Di seluruh penjuru perguruan akan kau temukan berbagai jenis prasasti," ungkap Guru Muda Anjana. "Di antara prasasti-prasasti tersebut, ada yang menuju dimensi gelanggang berlatih, dengan berbagai macam tantangan. Prasasti ini akan membawa kita ke salah satu gelanggang berlatih tersebut." Ia pun menyentuh prasasti, membuka gerbang dimensi, lalu melangkah masuk.

Bintang Tenggara menatap ragu. Apa yang hendak Guru Muda Anjana tunjukkan padaku? pikirnya. Lalu menyusul masuk ke dalam lubang hitam tersebut.

Mereka tiba di sebuah hutan dengan pohon besar-besar dan tinggi-tinggi. Di hutan yang rindang tersebut, hari masih siang!

"Apa yang hendak Guru Muda Anjana tunjukkan padaku?" tanya Bintang ringan.

Guru Muda Anjana meletakkan sebuah batu di atas tanah. Kemudian, ia menggerak-gerakkan jemari tangannya di atas batu tersebut. Ia seolah merapal formasi segel. Setelah selesai, ia berdiri di sebelah Bintang Tenggara.

Bintang terus mengamati gerik-gerik Guru Muda Anjana. Seberkas keraguan mulai terpancar dari tatapan matanya.

“Guru Muda Anjana, apa yang…”

"Sreett!" Belum selesai Bintang Tenggara menyelesaikan kalimatnya, tetiba seutas tali panjang melilit sekujur tubuh. Lengah. Ia pun jatuh tergolek!

"Guru Muda Anjana!?"

"Bersabarlah sejenak," tukas Guru Muda Anjana.

Dari balik salah satu pohon, mata Bintang Tenggara lalu menangkap siluet seseorang yang sedang mengenakan jubah.

“Kau terlambat,” tegur Guru Muda Anjana ke arah sosok di balik pohon.

“Terpaksa aku berpura-pura cedera dan mengungsi ke balai pengobatan,” jawab suara dari balik pohon. Bintang mengenal suara tersebut. Rambut di tengkuknya pun merinding…

“Rupanya kaulah Anggota Partai Iblis yang harus kulindungi…” Kini terlihat seorang anak remaja berjubah hitam keluar dari balik pohon. Wajahnya pucat, garis hitam bergelayutan di bawah kedua kantung matanya.

Kum Kecho!

Cedera… ke balai pengobatan… Apakah Kum Kecho merupakan salah satu anggota kelompok yang pertama tiba di Aula Budi Arda? Benak Bintang berpikir keras, sama kerasnya dengan ikatan tali yang sedang melilit sekujur tubuhnya. Anggota Partai Iblis… Guru Muda Anjana… tak mungkin!

Ketika sedang mengira-ngira apa yang sedang terjadi dan masih tergolek di tanah, sudut mata Bintang Tenggara menangkap sepasang kaki mulus sampai ke pangkal paha melangkah ke arah mereka. Terlihat selendang bermotif batik berwarna ungu. Lalu ia mendengar suara perempuan bergumam…

“Panca Kabut Mahameru, Bentuk Pertama: Kabut Ranu Kumbolo…”

Lalu, kabut tebal berwarna ungu turun menutup pandangan mata, bahkan mengunci kemampuan pengamatan dari mata hati.


Catatan:

*) Budi Arda, bahasa Sanskerta yang berarti: hasrat atau nafsu.

**) Nilawarsa, bahasa Sanskerta yang berarti: : hujan bercampur angin.

***) Gundha, bahasa Sanskerta yang berarti: tetumbuhan di sawah.

Terima kasih atas review Legenda Lamafa dari beberapa blog lagi.

http://www.melfeyadin.web.id/2017/04/legenda-lamafa-dari-negeri-dua-samudera.html

http://www.kompasiana.com/fawwazibra/petualangan-bintang-tenggara-menjadi-lamafa-muda_59036580d47a618533515f26

http://www.riyardiarisman.com/2017/04/terbaru-dari-ceriteranet-legenda-lamafa.html