Episode 16 - Pertarungan Pamungkas


Saat tengah berlari, tiba-tiba langkah Hastabrahma terhenti kembali. Karena berhenti mendadak, ada sebagian prajurit yang terjatuh karena tidak dapat menahan laju lari mereka sendiri. Kami terkejut manakala menyaksikan seekor ular raksasa tengah melilit dan melahap kepala seekor banteng besar, banteng yang hampir sama dengan yang kami jumpai tadi.

“Prabu, sebaiknya kita lewat jalan lain saja,” ujar Tedjo Alur sambil memasang tangan ke pinggir mulutnya untuk memfokuskan bisikannya.

“Tidak apa, semuanya jangan panik! Tetap tenang, ini justru bagus untuk kita. Asal kita tidak mengganggu makanannya kita akan aman. Dia telah memiliki santapan, jadi tidak akan menyantap kita. Dan tidak aka nada hewan buas lain yang berani mengganggu makannya. Jadi, kemungkinan jalan kita ke depan akan aman. Berjalanlah perlahan memutar melewatinya!” bisik Prabu Hastabrahma memberi komando kepada kami.

Kami mengekor di belakang, berjalan perlahan sambil terus memperhatikan ular besar itu, mengantisipasi bila tiba-tiba ular besar itu melancarkan serangannya. Namun ternyata ular itu lebih asyik menyantap makanannya ketimbang memperdulikan kami, dan alhasil kami bisa melewati ular raksasa dengan selamat.

Setelah merasa aman, kami semua kembali berlari dan kembali lagi harus tertahan. Kami melompat berpencar ke balik pepohonan karena ada ratusan anak panah melesat menuju ke arah kami, anak panah itu arahnya tidak beraturan. Aku mendengar suara terompet dan genderang perang, bahkan beberapa kali aku mendengar ledakan dan bunyi gemuruh yang menggema di udara. Aku yakin pasukan yang dipimpin oleh Soka Dwipa dan Surya Kusuma telah sampai dan memulai penyerangannya dari arah selatan.

Aku berusaha merunduk dan mengintip dari balik pohon tempatku berlindung untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata kami telah sampai di dekat Keraton Watugaluh, meski sedikit samar namun aku dapat melihat benteng tempur milik Keraton.

Di dalam benteng tempur itu sepertinya ada pasukan siluman milik Jayalodra. Rupanya mereka tidak fasih dalam menggunakan panahan, sedari tadi tempat yang tidak dijadikan tempat bersembunyi oleh kami bahkan batu sekalipun mereka jadikan sasaran. Menyadari hal tersebut, Hastabrahma tidak segan berlari menuju Keraton Watugaluh.

“Kalian tunggulah di sini! Aku akan membereskan mereka terlebih dahulu... Setelah aku berhasil membobol benteng tersebut barulan kalian masuk ke sana,” ujar Hastabrahma yang disambut dengan kata “Siap!” oleh kami semua.

Sang Prabu berlari sambil menutupi wajahnya dengan gagang pedang yang dipegangnya menyamping. Dari sekeliling tubuhnya mengeluarkan api yang menjadi perisai pelindung baginya. Setiap ada anak panah yang hendak mengarah kepada dirinya akan terbakar habis oleh api yang melindunginya sebelum sempat menyentuh tubuh.

Langkah kaki sang Prabu semakin lama semakin tinggi melayang di udara. Hingga pada satu titik, sang Prabu memutar tubuhnya di udara dan melibaskan pedangnya ke arah benteng tempur Watugaluh. Dari pedang Banaspati yang diayunkannya itu keluar api yang besar, mengarah dan membakar benteng tersebut beserta seluruh siluman di dalamnya. Dari tempatku, dapat terasa hawa panas dari api yang membara itu.

Api yang berasal dari pedang Banaspati miliknya terus melahap benteng tempur Watugaluh tanpa henti. Saking panasnya api tersebut, benteng tempur yang membatasi kami dengan Keraton Watugaluh itu pun perlahan roboh dengan sendirinya. Setelah mendarat, sang Prabu menghisap kembali api yang membakar benteng itu ke dalam mulutnya agar kami dapat melewati benteng tersebut.

“Kita bagi dua kelompok. Kelompok pertama ikut denganku masuk ke dalam Keraton melalui kesatrian di sebalah barat. Sedangkan kelompok kedua ikut bersama Tedjo Alur masuk ke dalam keraton melalui keputren di sebelah timur,” Hastabrahma memberikan komando kepada kami semua.

Dengan sigap kami membagi diri menjadi dua kelompok. Aku ikut dengan Prabu Hastabrahma, sementara yang lainnya termasuk Darojat ikut bersama Tedjo Alur. Kami mulai bergerak cepat. Aku bersama kelompok yang dipimpin Hastabrahma mulai menyusup melintasi taman kecil yang ada di belakang Keraton, masuk ke lorong-lorong menuju kesatrian.

Di sana kami dihadang oleh bala tentara siluman yang telah memenuhi lorong yang ada di hadapan kami. Sepertinya mereka telah mengetahui kedatangan kami, mereka sudah siap bertarung! Ada yang berdiri menghadap ke arah kami, ada pula yang bergelantungan di kayu-kayu yang ada di atap lorong itu. Tanpa mengeluarkan pedang Banaspatinya, Hastabrahma maju dan mulai bertarung dengan makhluk ghaib itu sendirian. Kami tidak ingin hanya menjadi penonton dan ikut membantu sang Prabu. Aku ambil busur panah yang terselempang dipunggungku dan mulai mengarahkan anak panahku pada para siluman yang secara brutal menyerang membabi buta.

Beberapa lesatan panahku mampu menumbangkan beberapa siluman yang kemudian menghilang berubah menjadi asap hitam. Sementara itu, Prabu Hastabrahma berhasil menaklukan begitu banyak siluman hanya dengan tangan kosong. Sang Prabu mengarahkan pukulan-pukulan mematikannya ke arah wajah, leher dan ulu hati para siluman. Beberapa siluman pun kulihat dipatahkan tulang tangan, kaki dan lehernya oleh sang Prabu. Tidak sedikit pula siluman yang dibanting, saling dibenturkan kepalanya, hingga diserang dengan tenaga dalam oleh Sang Prabu.

Benar-benar luar biasa, kukira Prabu Hastabrahma hanya pintar berdharma ternyata ia memiliki kemampuan bertarung dan ilmu kanuragan yang tak kalah hebat dari Ayahandanya dan mendiang Mahapatih Lembu Sutta.

Setelah berhasil melewati pasukan siluman itu, kami berlari menuju ke kesatrian. Sebelum tiba di kesatrian ada jalan setapak yang melintasi taman menuju ke arah Keraton, lalu kami pun berbelok menuju ke arah Keraton. Kami masuk melalui pintu barat menuju ke arah Balai Agung Keraton Watugaluh. Saat kami tiba di Balai Agung, kami disambut oleh Jayalodra yang telah berdiri di tengah Balai Agung lengkap dengan baju perang dan gada milik Prabu Reksa Pawira di tangan kanannya.

“Kupikir kalian akan sampai lebih awal… Ternyata dugaanku salah, kalian sedikit mengecewakanku! Semoga penantian ini sepadan dengan pertarungan yang akan kita lakukan,” cibir Jayalodra yang berdiri angkuh menghadap ke selatan tanpa menoleh kepada kami.

“Tutup mulutmu Jayalodra! kau akan mati di sini!” ujar Tedjo Alur yang baru datang bersama pasukan lainnya dari arah timur.

“Kalau begitu…. Kenapa kalian masih diam saja seperti itu?” ungkap Jayalodra sambil melempar senyum ledekannya.

Tedjo Alur yang terbakar amarah langsung mengambil tombak yang dibawakan oleh prajuritnya dan terbang sambil mengarahkan ujung tombaknya kepada Jayalodra. Jayalodra yang semula hanya berdiam diri di tempat, mulai bergerak manakala tombak yang dihunuskan padanya hampir mencapai kepalanya. Ia memutar gada di tangannya dan menepis tombak tersebut dengan gada. Lalu, dengan cepat memutar tubuhnya dan menyerang Tedjo Alur dengan tenaga dalam melalui tangan kiri.

Tedjo Alur pun terpental namun tidak terjatuh karena ia bisa menahan tubuhnya dengan tombak yang digenggamnya. Kami pun menyerang Jayalodra secara serentak, namun belum sempat mendekatinya kami sudah harus jatuh tersungkur manakala Jayalodra menghantamkan gada yang di pengangnya ke tanah. Hal tersebut juga menyebabkan bumi yang kami pijak terasa bergoncang hebat, bahkan tempat itu menjadi porak poranda.

Hastabrahma mengeluarkan pedangnya dan mulai bertarung dengan Jayalodra. Pertarungan mereka berdua menggoncang bumi dan langit. Terasa getaran di tanah dan gemuruh di langit manakala kedua senjata yang mereka pegang bertemu. Langit siang yang seyogyanya terang pun berubah menjadi gelap, angin yang tadinya teduh berubah bertiup dengan sangat kencang.

Pertarungan keduanya terlihat imbang, tiap sabetan pedang yang dilancarkan oleh Hastabrahma baik dari arah atas, samping, bawah, bahkan hunusan pedangnya pun mampu ditahan Jayalodra dengan gada milik Ayahanda Gusti Prabu Hastabrahma, Prabu Reksa Pawira. Begitu pula sebaiknya, beberapa ayunan gada yang dilancarkan oleh Jayalodra baik secara memutar, hantaman dari atas, serangan dari bawah pun mampu dihindari oleh sang Prabu.

Tedjo Alur yang hendak membantu Prabu Hastabrahma melawan Jayalodra tak mampu mendekati mereka berdua. Bahkan Ia harus terpental karena tak sengaja terkena luapan energi yang meletup-letup dari kedua orang terkuat di Watugaluh itu. Tiap pukulan dan serangan yang dilancarkan oleh satu sama lain, apabila ditahan oleh salah satu, maka akan mengalihkan energi serangan tersebut ke wilayah sekeliling. Jadi, baik Jayalodra maupun Prabu Hastabrahma tidak ada yang terluka, tapi kami yang ada di sini yang terkena imbasnya. Kami harus beberapa kali terhempas oleh energi yang kadang terasa panas, kadang pula seperti gelombang yang memukul tubuh kami.

Surya Kusuma dan Soka Dwipa bersama pasukan yang mereka bawa masuk kedalam Keraton dari arah selatan. Surya Kusuma terbang dan menghampiri mereka berdua sembari menepis letupan energi yang mengarah kepadanya dengan pedangnya. Surya Kusuma bergabung dengan Hastabrahma dan melawan Jayalodra bersamaan. Aku tidak ingin tinggal diam, kuambil anak panahku dan kulesatkan ke arah Jayalodra. Namun sayang, tiap kali aku melesatkan anak panah, arahnya selalu berbelok bahkan ada yang hancur karena energi pertarungan mereka sangat besar.

Tiba-tiba Jayalodra mengeluarkan mustika Karang Abang miliknya dan menyerang Hastabrahma dengan mustika itu. Ditempelkannya mustika yang menyala merah itu ke dada Hastabrahma. Namun sungguh mengejutkan, bukannya terserap energi Hastabrahma oleh mustika itu, malah tangan Jayalodra yang kepanasan memegang mustikanya. Dengan cepat Jayalodra mundur beberapa langkah ke belakang dan memakai mustikanya lagi. Ternyata benar, mustika itu tetap menghisap energi, tapi bukan dari tubuh Hastabrahma melainkan dari baju perang yang dikenakan oleh Sang Prabu yang berasal dari api pedang Banaspati.

“Baju yang kau kenakan itu… Oh, aku mengerti, ternyata dari sana asalnya,” ujar Jayalodra sambil menatap ke pedang Banaspati yang dipegang oleh Hastabrahma.

“Aku memang tidak bisa menghisap ilmu kanuraganmu karena tubuhmu dilindungi oleh pakaian itu... tapi setidaknya aku telah mendapatkan sedikit energi dari pedangmu itu,” ungkap Jayalodra sambil memutarkan gadanya yang tiba-tiba dapat mengeluarkan api.

Diarahkannya gada yang menyala api itu kepada Tedjo Alur, Sang Adipati bisa melompat menghindari serangan itu. Namun sayang, prajurit yang tergeletak di belakangnya terkena serangan itu dan lenyap seketika menjadi abu. Untungnya si Darojat dapat berguling ke belakang meja yang terjatuh sehingga meja yang menghalangi tubuhnyalah yang lenyap.

Melihat hal tersebut, Hastabrahma, Tedjo Alur, dan Surya Kusuma menyerang Jayalodra secara bersamaan. Namun Jayalodra tidak tinggal diam, Ia mengeluarkan Ajian Manik Sukma. Jayalodra mengeluarkan sukma dari tubuhnya dan membelah sukma itu menjadi dua, kini ada tiga Jayalodra di hadapan! Ketiganya sangat mirip, sepintas tidak dapat dibedakan mana Jayalodra yang asli dan mana yang hanya sukmanya saja.

Tapi seperti yang dikatakan oleh Hastabrahma, Jayalodra tidak pintar! Boleh saja ia membuat dirinya menjadi tiga, namun Gada dan mustika Karang Abang hanya dikenakan oleh Jayalodra yang asli. Hastabrahma, Tedjo Alur dan Surya Kusuma pun dapat menyadarinya dengan cepat dan menyerang Jayalodra yang asli. Namun ternyata, sukma dari Jayalodra juga berbentuk fisik, sehingga juga dapat melancarkan serangan dan melindungi Jayalodra yang asli.

Kedua sukma tersebut berhadapan dengan Tedjo Alur dan Surya kusuma, sementara Jayalodra yang asli bertarung dengan Hastabrahma. Setiap kali sukmanya terserang, sepertinya membawa dampak kepada Jayalodra yang asli. Jayalodra yang asli kehilangan fokus dan seperti lemah sesaat apabila sukmanya terkena serangan dari Surya Kusuma maupun Tedjo Alur. Menyadari hal tersebut, Soka Dwipa maju membantu Surya Kusuma. Selain itu, Darojat juga bangkit, mengambil gadanya dan berlari membantu Tedjo Alur.

Aku perlahan berjalan mengendap-endap berusaha mendekati Jayalodra yang tengah bertarung dengan Hastabrahma. Kuletakkan busur panahku agar lebih mudah kuberjalan. Jayalodra sepertinya tidak menyadari pergerakkanku karena tengah sibuk menghadapi Hastabrahma yang menyerangnya secara bertubi-tubi. Aku telah sampai diposisi yang cukup dekat dengan mereka dan menunggu waktu yang tepat.

Jayalodra dan Hastabrahma sama-sama mengayuhkan senjata ke satu sama lain. Kedua senjata pusaka itu bertemu di hadapan mereka dan beradu kekuatan. Aku yang berada cukup dekat dari mereka merasakan energi yang kuat dari arah mereka berdua, tubuhku seperti terdorong ke belakang. Aku coba tiarap agar tidak terpental ke belakang dan menutup kepalaku dengan kedua tangan.

 

Secara bersamaan Soka Dwipa dan Tedjo alur berhasil menghunuskan senjata mereka ke salah satu sukma Jayalodra. Hal tersebut membuat Jayalodra kesakitan dan berteriak dengan keras sambil menyerang Hastabrahma. Sang Prabu terpental, berputar ke belakang lalu mendarat sambil memegang dadanya. Sementara itu, Jayalodra terlihat sempoyongan dan menjatuhkan gada yang dipegangnya. Inilah kesempatanku!

Aku berlari dan berusaha mengambil mustika Karang Abang yang menggelayut di lehernya. Namun, belum sempat menyentuh mustika itu, tanganku berhasil ditangkap oleh Jayalodra.

“Apa-apaan ini?” ujar Jayalodra sambil memegang tanganku yang gemetaran.

“Tunggu dulu… sepertinya aku pernah melihatmu.. Ya, aku ingat! Kau itu…,”

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba entah dari mana ada asap hitam pekat yang melesat cepat ke arah mustika Karang Abang milik Jayalodra. Jayalodra menatap ke arah mustikanya itu, dan saat asap pekat itu mulai menghilang ternyata asap itu menyelimuti sebuah anak panah yang kini telah menancap di Mustika Karang Abang yang dikenakannya.

Mustika itu perlahan retak, tanganku yang dipegang oleh Jayalodra dihempaskannya. Dia sibuk memeriksa mustikanya tersebut yang tiba-tiba pecah dan mengeluarkan bola-bola cahaya yang berterbangan ke mana-mana. Aku melihat ada satu cahaya yang mengarah ke Soka Dwipa dan membuat tubuh sang Adipati Pararaton itu bercahaya. Sepertinya, bola-bola energi itu adalah ilmu kanuragan yang dicuri oleh Jayalodra, yang kini telah kembali ke pemiliknya setelah mustika itu hancur.

Jayalodra terus berteriak hingga tiba-tiba datang lagi anak panah berselimutkan asap hitam menghujam jantungnya, lalu datang lagi mengarah ke paha kanannya.

Aku yang penasaran mencoba melihat ke arah anak panah itu datang dan ternyata anak panah itu dilesatkan oleh... Pendekar Wiraguna dengan Busur Panah Luwuk pemberian Empu Parewang. Sang Pendekar berjalan masuk ke Balai Agung, semua memandang ke arahnya sejenak kemudian beranjak memperhatikan Jayalodra.

Saat mustika itu jatuh ke tanah dan cahaya yang dikeluarkannya sudah habis, tubuh Jayalodra seketika berubah menghitam. Aku sangat yakin hal itu dikarenakan racun dari panah luwuk. Baju perang yang dikenakannya rontok, berubah menjadi debu, disusul dengan kulitnya yang mengering dan kemudian berubah menjadi pasir berwarna hitam. Dan kini yang tersisa hanya tulang belulangnya yang juga telah berubah warna menjadi hitam, terjatuh di atas pasir hitam sisa-sisa jasadnya.

Semua terdiam menyaksikan hal tersebut, hingga setelah beberapa saat Hastabrahma berbicara memecah keheningan.

“Kita bersihkan tempat ini, kita lakukan upacara kematian secara layak untuk Jayalodra. Bagaimanapun, dia juga bagian dari keluarga Keraton dan upacara tersebut juga dilakukan sebagai pengingat, bahwa angkara tidak akan pernah mengalahkan kebajikan. Dan sebagai pengingat, agar kelak tidak ada yang tertipu seperti dia,” ujar Hastabrahma.

“Dan untukmu… Hm… siapa namamu?” tanya Hastabrahma kepada Wiraguna.

“Saya Wiraguna, Kanjeng Gusti,” wiraguna memperkenalkan diri sembari memberikan hormat.

“Masih ada hal yang harus kau tanggung atas perbuatanmu. Kau telah menghancurkan mustika Karang Abang dan membebaskan seluruh Ilmu Kanuragan dari orang-orang yang pernah dihisap kekuatannya oleh mustika itu. Dan itu berarti kau juga telah membangkitkan iblis yang tertidur di gunung Sindoro, Rakyan Pamungkas, penyebab kelahiran Mustika Karang Abang. Kau berangkatlah ke sana dan hentikan dia sebelum Ia melakukan kerusakan di muka bumi,” titah sang Prabu kepada Wiraguna.

“Baiklah kalau begitu, hamba akan menjalankan perintah yang Kanjeng Gusti berikan kepada hamba… Hamba mohon pamit.”

Setelah mendapat titah dari sang Prabu, Pendekar Wiraguna lantas pergi meninggalkan Balai Agung dengan cepat. Aku bahkan tidak sempat menegurnya apalagi berbincang dengannya. Padahal aku sangat ingin melepas rindu dengan guru memanahku itu dan aku pun ingin tahu keadaan paman Bagja, karena sedari tadi aku tidak melihat pria tambun itu.

Selepas hari itu, Watugaluh mulai berbenah memperbaiki apa yang telah dirusak oleh Jayalodra dan pasukan silumannya. Beberapa pasukan di bawah komando Surya Kusuma dan Tedjo Alur dikirim ke kadipaten-kadipaten yang dijajah oleh Jayalodro. Mereka berdua bersama pasukannya masing-masing mengemban tugas untuk membersihkan sisa-sisa pengaruh Jayalodra di beberapa kadipaten tersebut.

Tidak ada perayaan kemenangan setelah kami berhasil merebut kembali Watugaluh dari tangan Jayalodra. Yang ada adalah perayaan pernikahan antara Soka Dwipa dengan Rara Andhini. Dalam perayaan itu juga dilakukan penobatan untuk mengangkat Soka Dwipa menjadi Mahapatih. Selain perayaan pernikahan mereka berdua, beberapa hari setelah Tedjo Alur serta Surya Kusuma kembali dari tugasnya, digelar upacara penobatan untuk mengangkat mereka berdua sebagai Tumenggung Watugaluh.

Meski Prabu Reksa Pawira telah pulih dan Ilmu kanuragannya telah kembali, namun Prabu Hastabrahma tetap menggantikan Ayahandanya. Sebenarnya Hastabrahma sangat ingin kembali berdharma dengan para Guru, namun di sisi lain, ia juga tidak ingin mengulangi kesalahannya dan ingin berbakti kepada Ayahandanya. Jadi Prabu Hastabrahma memutuskan untuk menetap di Watugaluh dan menerima takdirnya sebagai Maharaja.

Sementara itu, setelah menikahi Srinti aku memutuskan untuk pensiun sebagai prajurit Keraton dan memilih menjadi pandai besi, karena Watugaluh tidak lagi memiliki pandai besi. Empu Parewang, satu-satunya pandai besi yang dimiliki oleh Watugaluh, tak diketahui keberadaannya. Maka dari itu, aku merasa perlu untuk mengisi kekosongan itu dan kembali membuat senjata untuk Watugaluh.

Berbeda halnya denganku, kini si Darojat naik pangkat menggantikan Ki Purboyo menjadi Kepala Prajurit Bhayangkara Keraton. Hampir setiap hari pria berwajah sangar itu mengunjungiku dan Srinti di rumah, kadang di besalen. Watugaluh pun kembali damai seperti sedia kala.

----TAMAT----

Catatan:

Terima kasih bagi yang telah mengikuti. Dalam waktu dekat, pengarangnya akan menuliskan karya yang lain.