Episode 53 - Petaka Perguruan

  

Apakah aku belum layak menjadi guru? Apakah ada kesalahan dalam pengajaranku? Apakah aku mendidik bakal petaka? Demikian batin Komodo Nagaradja berkutat memikirkan kelakuan muridnya. Ia adalah satu-satunya yang menyadari bahwa tindakan Bintang itu berdasarkan pada ‘Taktik Tempur No.8: Tebar Umpan, Raup Ikan’. Akan tetapi, Komodo Nagaradja sekalipun tak pernah mengumpankan teman tanpa persetujuan. Terakhir, dan yang paling penting, Komodo Nagaradja memang suka berlebihan.

Bintang melihat jumlah Dwarapala yang berhasil dihancurkan oleh masing-masing anggota kelompok. Canting berhasil meraih angka 87, Panglima 83, Aji 49, dan Kuau 45. Sedangkan ia sendiri telah menghancurkan 236 Dwarapala!

“Kau menjadikan kami sebagai umpan untuk meraih angka tertinggi!” seru Canting Emas, sambil menunjuk dengan Kandik Agni di tangan kanannya.

“Selamat! Kalian berhasil melewati tantangan pertama dengan menghancurkan 500 Dwarapala!” Tiba-tiba Guru Muda Anjana muncul dari belakang Bintang Tenggara.

“Kini ke-500 Dwarapala telah berkembang menjadi 1.000 Dwarapala!” Terlihat 1.000 Dwarapala sedang berbaris. Mengambil posisi di antara kelompok tersebut dengan puncak bukit tempat dimana pura berdiri.

Guru Muda Anjana lalu melanjutkan penjelasan bahwa Dwarapala tidak akan lagi menggandakan diri bilamana dihancurkan. Kemudian, kelompok tersebut dipersilakan memilih antara menghancurkan seluruh Dwarapala atau membelah jalur untuk melewati mereka. Tujuan utama tetap mencapai pura di atas bukit, secepatnya. Tantangan akan dimulai ketika mereka menyerang Dwarapala pertama.

Setelah menyampaikan petunjuk, Guru Muda Anjana mengibaskan tangan kanannya. Lalu, tenaga dalam di mustika kelima anak remaja tersebut kembali penuh. Kelelahan yang mereka rasakan pun sirna. Ia pun kembali menghilang.

“Maafkan tindakanku sebelumnya,” ucap Bintang tenang. “Tujuanku adalah memastikan bahwa langkah kita tak terhenti pada tantangan tadi.”

Canting Emas memahami bahwa bila Bintang Tenggara bergabung bersama mereka sejak awal, maka kemungkinan besar akan memerlukan waktu yang cukup panjang untuk menumbangkan 500 Dwarapala. Menyerang Dwarapala dari belakang adalah langkah yang paling tepat. Namun, ia tetap tak senang dikelabui.

“Langkah berikutnya adalah membelah kerumunan Dwarapala di depan,” ujar Canting Emas. “Utarakan rencanamu, jangan lagi mengelabui kami!” tambahnya ke arah Bintang Tenggara.

“Panglima hendaknya maju paling depan. Di belakangnya disusul Kuau, lalu Aji. Canting dan aku akan bergerak di kedua sisi.”

“Aku setuju,” ucap Canting Emas cepat. “Panglima membuka jalan dengan Parang Hitam, Kuau menghambat gerakan Dwarapala di depan Panglima. Aku di kanan dan Bintang di kiri akan menghadapi Dwarapala yang muncul dari samping. Paling belakang, Aji memastikan bahwa bila ada Dwarapala yang lolos dari depan dan kedua sisi, maka akan ia hancurkan.”

“Tapi bagaimana dengan sisi belakang? Aku takut diserang dari belakang…” tanya Aji Pamungkas memelas, sambil meraba-raba bokongnya sendiri.

“Aku dan Bintang akan bergantian menjaga sisi belakang,” jawab Canting Emas.

“Aku lebih suka bila Canting yang menjaga bokongku…”

Canting melotot ke arah Aji Pamungkas, “Sebentar lagi kita akan bergerak,” ucapnya.


***


“Bagaimana dengan penerimaan murid baru tahun ini, apakah ada yang menonjol?” terdengar suara berat seorang lelaki tua berbicara pelan.

“Sesepuh Ketiga, kita belum bisa memastikan… Ujian masuk perguruan sedang berlangsung” suara lain menjawab.

“Sesepuh Kelima... bagaimana dengan Canting Emas?”

“Kalau tak ada kendala, dengan bakat dan kemampuannya, Canting Emas dipastikan menjadi salah satu Putri Perguruan,” jawab Sesepuh Kelima.

“Kuharap ia akan tumbuh dengan baik. Masa depan Perguruan kemungkinan akan bergantung pada dirinya…” Sesepuh Ketiga berujar pelan.

“Apakah benar kabar berita tentang keberadaan seorang lamafa dari Pulau Paus yang mengikuti ujian masuk?” Kembali Sesepuh Ketiga bertanya.

“Kerajaan Parang Batu mengirimkan pesan tentang kehadiran Sang Lamafa Muda… Kita belum bisa memastikan secara langsung,” Sesepuh Kelima menjawab.

“Hm…? Apakah kita hendak mengulang tragedi 200 tahun lalu?” kini suara seorang perempuan tua terdengar gelisah.

“Sesepuh Ketujuh, kurasa kejadian yang lalu tak ada kaitannya dengan keadaan saat ini,” tegur Sesepuh Kelima.

“Mohon maaf, Sesepuh Kelima, namun aku berpandangan sama dengan Sesepuh Ketujuh. Janganlah sampai kita menanam padi, namun ilalang yang tumbuh.”

“Maha Guru Keenam, engkau terlalu sopan,” suara Sesepuh Ketujuh kembali terdengar. “Sesepuh Kelima, apakah engkau hendak mengulang bencana kelahiran petaka di perguruan?”

“Semoga Sesepuh Kelima tidak melupakan betapa besar upaya kita dalam menguburkan tragedi itu…” tambah Maha Guru Keenam.

“Sudah. Hentikan. Kita nantikan saja perkembangannya…,” Sesepuh Ketiga menyela. “Apakah Maha Guru Keempat telah kembali?”


***


Kelompok yang terdiri dari lima orang anak remaja tersebut mulai hendak bergerak. Tepat di hadapan mereka, 1.000 Dwarapala berbaris berjajar. 50 x 200 adalah formasi mereka. 50 berbanjar dan 200 bersaf. Formasi segel pun menyempit. Dengan kata lain, mereka harus menempuh 200 lapisan Dwarapala!

Bintang menyaksikan Dwarapala di hadapan. Karena mereka tak bisa terbang, jadi memang tak ada jalan lain. Lalu, formasi segel persis mengapit barisan Dwarapala. Rintangan kali ini memang harus dihadapi dari depan.

“Perubahan rencana,” seru Bintang. “Kita akan membuka jalan dari sisi kiri. Dengan demikian, kita tak akan terjepit dari dua sisi. Kita hanya perlu berhadapan dengan Dwarapala dari depan dan sisi kanan.”

“Panglima tetap membuka jalan di depan. Di belakangnya Kuau, dan aku di sisi kanan. Lalu Aji dan Bintang di sisi belakang. Pembagian tugas masihlah sama,” tambah Canting Emas cepat.

“Jurus Parang Naga, Gerakan Ketiga: Taring Mencabik Lautan!” seru Panglima Segantang. Tenaga dalam yang dialirkan membuat bilah Parang Hitam melebar dan memanjang di saat yang bersamaan.

“Wahai Datuk Mambang Tanah, kumohon inayat akan kesuburan… Rotan Bunian: Rambat!” Kuau Kakimerah merapal mantra. Rotan yang berakar itu mampu menahan sekaligus menghancurkan Dwarapala.

“Zirah Rakshasa: Kandik Agni! Cakra Pranayama!” seru Canting Emas. Mengeluarkan kapak kembar dan menyerap tenaga alam di saat bersamaan.

“Ksatria Agni, Bentuk Pertama: Dananjaya!” sambung Canting Emas, meliputi kepala Kandik Agni dengan kobaran api berwarna kuning.

“Busur Mahligai Rama-Shinta!” seru Aji Pamungkas, mengeluarkan busur besar yang indah, tapi berkemampuan biasa-biasa saja.

“Panah Asmara, Bentuk Kedua: Cinta Segitiga!” Kini tiga buah anak panah dengan unsur kesaktian angin, siap dilesatkan kapan saja.

“Sisik Raja Naga!” Bintang Tenggara terpancing melafalkan senjata pusaka. Sisik tersebut menyelimuti kedua lengan dan kakinya. Namun, ia tak mengeluarkan Tempuling Raja Naga. Pada posisinya sekarang, mengeluarkan tempuling justru berisiko membabat kawan. Sesungguhnya posisi ideal Bintang adalah di sebelah Panglima, dimana Canting Emas kini berdiri. Akan tetapi, ia tak hendak berebut posisi. Jadi, Bintang hanya melapisi tinju dan memperkuat otot dan sendi dengan tenaga dalam.

“Mari kita mulai!” Panglima Segantang menebaskan Parang Hitam tepat di dada Dwarapala pertama. Seketika itu pula seluruh Dwarapala tersadar dan mulai bergerak!

“Dum! Dum! Dum! Dum! Dum!”

Kombinasi serangan Panglima Segantang dan Canting Emas membuka jalan dengan cepat. Mereka membabat tanpa henti seolah-olah sedang berlomba mengumpulkan cangkang kerang dalam permainan congklak. Sebuah senyum tersimpul di ujung bibir Panglima Segantang. Ia sangat menikmati permainan ini.

Berkat bantuan Kuau Kakimerah, Dwarapala tak bisa bergerak bebas. Bahkan, cukup banyak Dwarapala yang meledak karena jeratan Rotan Bunian. Jikalau pun ada Dwarapala yang terlewat, maka Aji Pamungkas dengan jitu akan memanah dan menghancurkan. Bahkan, Aji Pamungkas tak hanya menunggu Dwarapala yang mendekat, ia malah memanah Dwarapala yang berada di kejauhan. Bahkan, beberapa kali Aji Pamungkas menyerobot Dwarapala yang hendak dihancurkan Canting Emas.

Sedangkan Bintang… Bintang Tenggara hanya mendorong Dwarapala. Sejauh ini, tak satu pun Dwarapala yang ia hancurkan. ‘236’ saja adalah angka yang terlalu menonjol. Kalau terus bertambah nantinya hanya akan menarik perhatian yang tak diinginkan.

Kelompok tersebut telah sampai di posisi tengah. Tanpa sepengetahuan mereka, Dwarapala pun mengubah formasi. Perlahan Dwarapala di sisi ujung kanan bergerak ke arah belakang. Sehingga, yang awalnya mereka harus menempus 200 lapis Dwarapala, kini lapisan tersebut bertambah. Selain itu, Dwarapala di kiri depan pun berupaya menggiring mereka ke tengah.

“Kuau Kamimerah,” seru Canting Emas. “Fokus pada Dwarapala di kiri depan. Aji Pamungkas! Jangan bermain-main!”

Bintang Tenggara membiarkan Canting Emas menyetir arah dan menjaga agar kelompok selalu berada pada posisi terbaik.

“Bintang Tenggara!” seru Canting Emas. “Sampai kapan kau hendak bertahan seperti itu.”

“Sampai kalian bisa mengejar ketertinggalan…” jawab Bintang setengah mengejek. Kini ia hanya meninju kaki Dwarapala, atau melempar Segel Penempatan. Menghambat gerakan mereka.

Lalu, tetiba Bintang Tenggara melenting tinggi ke atas. Berpijak pada Segel Penempatan, ia melihat bahwa matahari sudah mulai condong ke barat. Ia juga menyaksikan bahwa sekian banyak Dwarapala bergerak dari samping dan berkumpul di sisi kiri depan. Pantas saja tak ada habisnya, pikir Bintang Tenggara dalam hati.

“Canting Emas,” tegur Bintang Tenggara sesaat mendarat kembali di posisinya. “Dwarapala mengubah formasi…. Tiga langkah dari sekarang, segera terobos ke kanan. Dwarapala di sisi samping sebentar lagi menipis.”

“Tapi keadaan sedang seru!” sela Panglima Segantang hendak menolak. Ia tak masalah bila harus membabat 1.000 Dwarapala sekalipun.

“Kita tak pasti bahwa tak ada lagi tantangan setelah ini,” jawab Bintang Tenggara cepat.

“Kita akan mendobrak ke kanan!” Canting Emas menghela napas panjang. Seperti halnya Panglima Segantang, ia sebenarnya sedang lagi senang-senangnya mengayunkan Candik Agni di kedua tangan. Namun, kemungkinan masih akan ada tantangan lain juga terbuka lebar.

“Tunggu aba-aba dariku,” sambung Canting Emas.

Kelompok ini sangat ideal, pikir Bintang Tenggara. Kemampuan setiap individu cukup baik, dan saling mengisi. Panglima dapat berfungsi sebagai penyerap serangan di garis depan. Kedua kandik di tangan Canting memiliki kemampuan menyerang dengan cepat dan akurat. Kuau dapat menghambat gerakan lawan, serta menyembuhkan tenaga dalam bila terpaksa. Terakhir, Aji adalah penembak jitu jarak jauh. *

Selain itu, karakter setiap anggotanya juga menunjukkan kecocokan. Meskipun Canting terkesan angkuh dan Panglima keras kepala, keduanya seperti memiliki hobi yang serupa. Kuau sangat pemalu, padahal biasanya pemilik unsur kesaktian kayu memiliki percaya diri yang tinggi. Aji terlalu mesum… ada yang aneh dari tatapan matanya… Secara umum, dinamika dalam kelompok cukup baik.

“Sekarang!” teriak Canting Emas sambil memutar tubuh dan menghujamkan Kandik Agni membabat Dwarapala.

Panglima Segantang menghentakkan napas dan menebas beberapa Dwarapala di arah depan sebelum bergerak ke samping kanan menyusul Canting Emas. Kuau Kakimerah memperkuat pertahanan di sisi luar Panglima Segantang dan Aji Pamungkas melepaskan tiga anak panah beruntun untuk membantu Canting Emas menerobos. Bintang Tenggara berpindah posisi ke belakang Panglima Segantang dan Kuau Kakimerah. Jadi, formasi baru mereka kini mirip dengan lima titik di atas permukaan dadu.

Lima langkah setelah itu, mereka berhasil menerobos ke samping. Di sisi kiri terbentang lurus jalan melewati Dwarapala. Kelompok tersebut segera berlari menyusuri sisi belakang formasi Dwarapala menuju ke arah perbukitan.

Setelah keluar dari formasi segel di padang rumput, mereka melihat hutan lebat di perbukitan. Hanya setelah melewati hutan tersebut baru mereka akan mencapai pura di atas bukit.

“Kita beristirahat sejenak,” ucap Canting Emas sambil menyeka keringat.

“Ca-Em… kumohon engkau tidak menyeka keringat. Sungguh aku senang melihat engkau berkeringat…” ucap Aji Pamungkas.

“Hentikan pikiran-pikiran mesummu itu!” hardik Canting Emas. "Sekali lagi kau panggil aku Ca-Em, akan kutebas lehermu!" Canting Emas mengayunkan Kandik Agni. 

“Canting Emas, sepertinya Dwarapala kembali berjumlah seribu…” Bintang Tenggara menunjuk ke arah padang rumput.

“Formasi Seribu Dwarapala adalah mekanisme pertahanan Perguruan Gunung Agung,” jawab Canting Emas cepat. “Kekuatan mereka hari ini mungkin hanya seperseratus dari kekuatan mereka sesungguhnya…”

“Sekuat itukah mereka…” Panglima Segantang tak menyembunyikan kekagumannya.

Kelima orang anak remaja lalu melanjutkan perjalanan menuju pura di balik hutan di atas bukit. Canting Emas melangkah paling depan, disusul Kuau Kakimerah. Tiba-tiba Kuau Kakimerah menghentikan langkah kakinya…

“Ada apa?” Canting Emas siaga memerhatikan sekeliling. Tak berapa lama baru ia merasakan kehadiran titik-titik mustika. Ratusan jumlah mereka.

“Binatang Siluman,” ujar Aji Pamungkas menebar mata hati. Sebagai pemanah, wajar bila mata hatinya memiliki jangkauan yang lebih jauh. “Ratusan binatang siluman. Paling belakang, kemungkinan satu ekor binatang siluman Kasta Perak!”

“Binatang siluman apa?” tanya Panglima Segantang.

Bintang Tenggara mengamati dengan seksama. Tak lama, terlihat seekor semut besar bergerak keluar hutan, lalu mundur dan masuk kembali. Ukuran semut itu hampir sebesar seekor kambing. Semut… Serangga… mengapa lagi-lagi aku harus berhadapan dengan serangga…? keluhnya dalam hati. Rambut di tengkuknya berdiri. Merinding.

“Binatang siluman Semut Api Merah…,” ucap Canting Emas.

Semut api pastilah berwarna merah… kini Bintang Tenggara merintih dalam hati. Tapi mengapa ukurannya harus sebesar itu… Aku tak suka serangga…

“Baik, kita susun ulang formasi…” ujar Bintang Tenggara. “Panglima di depan. Disusul Canting dan Kuau. Aji paling belakang… Aku akan menunggu di sini sampai kalian berhasil mengalahkan semut-semut itu…”

“Jangan bergurau!” sergah Canting Emas. “Kita harus tiba di pura bersama-sama.”

Bintang Tenggara lalu merogoh ke dalam tas punggungnya…

“Siamang Semenanjung!” serunya.

Seekor binatang siluman tinggi besar dan berbulu hitam lebat keluar dari gerbang dimensi yang mengurungnya di dalam Kartu Satwa. Lengannya panjang, tingginya hampir dua meter… Ia segera berdiri memayungi Bintang Tenggara.

“Panglima, segera keluarkan Harimau Bara,” sambung Bintang ke arah Panglima Segantang.

“Harimau Bara!” teriak Panglima Segantang sambil melambaikan Kartu Satwa ke atas. Namun… tak ada gerbang dimensi yang berpendar… tak ada Harimau Bara yang keluar.

“Sahabat Bintang,” wajah Panglima Segantang kusut. “Sepertinya aku belum bisa mengeluarkan Harimau Bara…”

Bintang Tenggara menghampiri dan meraih Kartu Satwa.

“Harimau Bara…” ujar Bintang setengah hati. Antara berhadapan dengan serangga dan berurusan dengan Harimau Bara, ia lebih rela mengeluarkan harimau liar itu daripada dikejar-kejar binatang siluman semut. Namun, bukan berarti hatinya senang.

Seekor harimau kanak-kanak sepanjang lebih dari 3 m dan seberat lebih 150 kg meraung keluar dari gerbang dimensi Kartu Satwa. Pola lorengnya seperti kelebat api berwarna hitam, warna dasar bulunya jingga.

“Harimau Bara sungguhan!” Canting Emas setengah menjerit. Ia segera menghampiri dan mengelus-elus harimau tersebut. Karena sesama memiliki kesaktian unsur api, keduanya langsung terlihat akrab. Akan tetapi, Harimau Bara tetap menghampiri dan mengeluskan tubuhnya ke lengan Panglima Segantang.

“Kedua binatang siluman ini akan mengalihkan perhatian kerumunan Semut Api Merah di dalam hutan. Seberapa cepat langkah lari kalian?” ujar Bintang Tenggara.

“Langkah kakiku ringan,” jawab Kuau Kakimerah. Kini mulai terlihat lebih percaya diri.

“Aku terbiasa dikejar-kejar oleh Ayahanda,” Aji Pamungkas menggaruk-garukkan kepala. Bagaimanapun juga, ia memiliki dasar kesaktian unsur angin.

Canting Emas dan Panglima Segantang hanya diam. Canting Emas tak diragukan lagi memiliki kecepatan di atas rata-rata. Panglima Segantang mampu berlari sambil membawa beban berat, akan tetapi kecepatan larinya… tak bisa dibanggakan.

Akhirnya mereka keluar dari hutan setelah berlari memutar, menghindar dari binatang siluman semut. Canting dan Kuau keluar terlebih dahulu, disusul Aji dan Bintang. Panglima terakhir. Meski demikian, mereka masih harus menantikan Harimau Bara kembali setelah puas bermain-main dengan kerumunan Semut Api Merah di dalam hutan.

Kelima anak remaja itu pun melangkah ke dalam pura.



*) Cuap-cuap:

Bila ‘Legenda Lamafa’ ini dijadikan game MMORPG atau MOBA, maka:

Panglima Segantang : Tank

Canting Emas : Hitter/Fighter

Kuau Kakimerah : Mage/Support/Healer

Aji Pamungkas : Marksman

Bintang Tenggara : AFK ?

Apakah ada yang main ‘Mobile Legend’? Bikin grup, yuk...