Episode 52 - Penempatan


“Kuau Kakimerah!” seru Canting Emas. “Jangan hanya berdiam diri. Kau juga harus menghancurkan Dwarapala agar memperoleh angka!”

Kuau Kakimerah sepertinya tak terbiasa bertarung. Meski demikian, ia menuruti saran Canting Emas.

“Wahai Datuk Mambang Tanah, kumohon inayat akan kesuburan… Rotan Bunian: Rambat!”

Jelas terlihat bahwa jurus-jurus yang dilancarkan Kuau Kakimerah merupakan kesaktian unsur kayu. Akan tetapi, cara mengerahkannya sangatlah berbeda. Kuau Kakimerah terlebih dahulu menebar benih, merapal mantra, baru mengalirkan tenaga dalam. Selain itu, tidak ada penyebutan ‘bentuk’ sebagaimana lazimnya jurus sakti. Bintang Tenggara yang mengamati dari kejauhan menyadari betapa berbeda teknik kesaktian dari Pulau Belantara Pusat.

‘Bentuk’ pertama Jurus Rotan Bunian adalah Tambat, dimana bilah rotan mampu tumbuh sepanjang lebih dari 300 meter dan dijadikan sarana penyeberangan. Kemudian bentuk kedua adalah Bebat, yang merupakan rotan berduri dengan fungsi mengikat dan mengunci gerakan Dwarapala.

Sedangkan jurus ketiga ini, Rambat, dari dalam tanah tumbuh menjalar rotan-rotan yang memiliki akar-akar di sepanjang bilahnya. Jalinan rotan merayap ke beberapa Dwarapala. Akar-akar kecilnya bergerak-gerak menerobos ke dalam pori-pori batu yang merupakan tubuh Dwarapala. Perlahan, terlihat tubuh Dwarapala merekah. Dalam dua atau tiga tarikan napas, rekahan berubah menjadi retakan…

“Dum! Dum! Dum! Dum! Dum!”

Secara berurutan, lima Dwarapala meledak akibat penetrasi akar. Panglima Segantang menoleh, Canting Emas melirik…

“Dum!”

Satu lagi Dwarapala meledak! Aji Pamungkas yang sedang duduk bersila menyerap tenaga alam di dekat Dwarapala itu terpetal lalu tersungkur. Satu jalinan jurus meledakkan enam Dwarapala!

“Jurus Parang Naga, Gerakan Kedua: Cakar Menyayat Rimba!”

Jurus silat! Bilah Parang Hitam melebar karena tenaga dalam. Sabetan Parang Hitam pun menjadi lebih bertenaga. Melihat Kuau Kakimerah beraksi, Panglima Segantang lalu merangsek membabi buta membabat Dwarapala yang masih berdiri. Padahal, ia sudah diingatkan untuk menghemat tenaga dalam!”

“Ksatria Agni, Bentuk Pertama: Dananjaya!” *

Jurus kesaktian unsur api! Saat itu juga kepala kapak Candik Agni di kedua tangan Canting Emas berkobar diselimuti api berwarna kuning. Api yang melapisi tersebut lalu membentuk kepala kapak yang sedikit lebih besar. Api seolah berubah menjadi benda padat! Canting pun bergerak meledak-ledak menghantam Dwarapala.


Dari kejauhan, Bintang Tenggara hanya mendecakkan lidah melihat kelakuan Panglima Segantang dan Canting Emas. Lalu ia berlari cepat menuju salah satu sisi segel di depan mata. Sesampainya, ia pun mengamati formasi segel tersebut, lalu menyentuh dengan jemarinya. Segel ini sangat sederhana, ia menghela napas. Hanya saja, formasi segel dibuat berlapir-lapis sehingga memerlukan waktu cukup panjang untuk membuka.

“Bintang Tenggara,” terdengar suara menegur. “Sebaiknya jangan mengutak-atik segel itu.”

Bintang menoleh dan mendapatkan Guru Muda Anjana sedang tersenyum ramah ke arahnya. Meski tak terbilang tampan, wajah Guru Muda Anjana bersih dan rambutnya rapi. Pembawaannya menyibak perhatian yang menggugah. Bintang pun segera mengeluarkan Lencana Perunggu Perguruan Gunung Agung.

“Guru Muda Anjana, aku hendak mengembalikan lencana ini…,” ungkap Bintang Tenggara pelan.

“Oh… Kau adalah anak dari Pulau Paus waktu itu…?” Guru Muda Anjana tak menyembunyikan keterkejutannya saat mengambil kembali lencana tersebut. “Firasatku tak salah cerna…” lalu ia tersenyum.

Bintang baru hendak bertanya tentang suatu hal yang mengganjal di hati, ketika Guru Muda Anjana menunjuk ke arah langit, atau persisnya sisi atas segel.

“Kau lihat angka itu…? Itu adalah jumlah Dwarapala yang saat ini telah muncul di dalam formasi ini. Jumlah keseluruhan Dwarapala yang akan muncul adalah 1.000, sebelum kalian dapat mengurangi jumlah mereka.”

Bintang Tenggara kemudian melihat angka ‘142’ jauh di sisi atas segel.

“Kau mungkin sudah menebak bahwa angka di atas kepalamu adalah angka yang mewakili jumlah Dwarapala yang berhasil kau hancurkan…” Guru Muda Anjana berhenti sejenak.

“Jumlah tersebut akan menentukan golonganmu nanti bila diterima ke dalam Perguruan… apakah itu Purwa, Madya, atau Utama,” tutup Guru Muda Anjana memberi bocoran.


“Hei! Panglima Segantang! Kemana larinya kawanmu yang pengecut itu?” teriak Canting Emas sambil terus-menerus menghantam Dwarapala demi Dwarapala. Keringat mulai mengalir di dahinya. Cadar yang biasa ia gunakan sudah terlepas. Di atas kepalanya terlihat angka ‘42’.

“Owwwhh… Canting Emas sungguh ayu… Ingin aku memelukmu…” Aji Pamungkas seperti meratap. Angka ‘26’ terlihat di atas kepalanya.

Panglima tak menjawab, ia sedang sibuk menghantam sekelompok Dwarapala yang baru saja muncul setelah Dwarapala sebelumnya ia hancurkan. Senyum tipis menghias sudut bibirnya. ‘44’ adalah angka di atas kepalanya.

Napas Kuau Kakimerah terengah-engah. Saat ini ia hanya mampu meledakkan beberapa Dwarapala. 30 jumlah Dwarapala yang telah ia hancurkan sejauh ini.


“Guru Muda Anjana, dirimu berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5?” tanya Bintang. Ia penasaran bagaimana seseorang yang berada pada tingkatan kasta lebih rendah dari Canting Emas bisa menjadi Guru Muda.

“Hm?” Guru Muda Anjana hanya memberikan tatapan tenang. “Benar,” sambungnya singkat ditutup dengan senyuman.

Sepertinya Guru Muda Anjana tak hendak membahas lebih lanjut tentang kasta dan tingkatan keahlian dengan lawan bicaranya.

“Sewaktu berkunjung ke Pulau Paus, Guru Muda Anjana berujar bahwa tiga atau empat ratus tahun lalu, seorang lamafa berguru di Perguruan Gunung Agung. Siapakah gerangan lamafa tersebut?”

Keterangan dari Kepala Dusun Lembata Keraf, sejak Perang Jagat berakhir tidak ada kelahiran lamafa sejati. Informasi tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Guru Muda Anjana saat itu. Tentu saja hal ini mengganjal di benak Bintang. Ada beberapa kemungkinan jawaban yang telah ia antisipasi, salah satunya melibatkan… Bunda Mayang.

“Mengenai seorang murid yang berasal dari Pulau Paus, dan menyandang gelar lamafa, adalah pembicaraan turun-temurun di setiap angkatan,” jawabnya polos. “Tak pernah ada kepastian… Ada yang menyebutkan dua ratus, tiga ratus, bahkan empat ratus tahun yang lalu...”

“Jadi, kabar burung belaka?” tanya Bintang Tenggara.

“Kalau tiada api, takkan ada asap…” jawab Guru Muda Anjana ragu.

“Apakah tak terangkum dalam catatan perguruan?” Sudut mata Bintang melirik ke arah angka di atas formasi segel. ‘222’.

“Kau dipersilakan menelusuri perihal ini lebih lanjut… bila nanti diterima masuk ke dalam Perguruan,” jawabnya ringan.


“Zirah Rakshasa: Cakra Pranayama!” **

Sebelumnya, pada ‘Zirah Rakshasa: Kandik Agni’ mulut perisai di posisi perut Canting Emas terbuka dan mengeluarkan sepasang candik kembar. Saat ini, hidung besar di baju tempur yang terletak persis di posisi ulu hati, mengembang lalu mengempis… menyerap dan menyuling tenaga alam!

Akan tetapi penyerapan tenaga alam oleh hidung pada zirah itu tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Paling banyak, dalam 15 menit hanya mampu mengisi lima persen dari Kasta Perunggu Tingkat 6. Sebaliknya, jurus Delapan Penjuru Mata Angin dapat memenuhi Kasta Perunggu Tingkat 3 dalam rentang waktu yang sama. Kelebihannya adalah, bahkan dalam keadaan bertarung pun hidung tersebut terus menyerap dan menyuling segelintir tenaga alam.

Dengan tenaga dalam yang perlahan terisi, Canting Emas terus menggasak Dwarapala demi Dwarapala. Panglima pun masih memiliki cadangan tenaga dalam yang memadai untuk terus bertempur. Meski demikian, perlahan langkah kaki mereka mundur selangkah demi selangkah.

“Bila Dwarapala terus menggandakan diri, kita akan terdesak!” seru Canting Emas. “Raih sebanyak mungkin angka dengan menghancurkan Dwarapala,” sambungnya lagi.

“Buk!”

Sebuah gada Dwarapala dari arah belakang menghantam punggungnya. Canting Emas terlontar ke depan, dimana ia memanfaatkan momentum dorongan untuk kembali menghantamkan Candik Agni ke arah beberapa Dwarapala lagi. Lalu kembali mundur.

Kuau Kakimerah sudah tak lagi bisa menghancurkan Dwarapala. Ia hanya bisa menahan Dwarapala untuk tak mendekat.

Sekujur tubuh Aji Pamungkas berkeringat. Pakaiannya basah. Seandainya ada yang memperhatikan, mungkin orang tersebut akan berpandangan bahwa Aji Pamungkas memiliki kesaktian unsur air, bukan angin. Meski demikian, ia masih bisa memanah beberapa Dwarapala.

Canting Emas, Kuau Kakimerah dan Aji Pamungkas berkumpul di tengah padang rumput. Mereka dikelilingi oleh ratusan Dwarapala yang bergerak mendekat.

“Brak!”

Panglima Segantang terlambat menghindar ketika satu Dwarapala menghujamkan gada ke arah kepalanya. Pelipis kanannya tergores dan berdarah, bahunya membiru akibat hantaman gada tersebut. Ia pun segera mundur. Keempatnya kini bertahan di tengah padang rumput.

Ratusan Dwarapala semakin mendekat. Mereka mengelilingi kelompok tersebut. Buah simalakama. Jika menghancurkan Dwarapala dengan sisa kekuatan, maka Dwarapala akan bertambah. Jika bertahan, maka tinggal menghitung waktu sampai kehabisan tenaga dalam. Bahkan Canting Emas, yang sempat berseru untuk mengumpulkan angka pun, hanya terdiam. Napasnya tak lagi teratur.

“Gema Bumi, Bentuk Pertama: Kuat Akar Karena Tanah!”

Panglima Segantang menghentakkan kakinya keras ke tanah tempat ia berpijak. Seketika itu juga tanah di sekeliling bergetar pelan, lalu terlihat gumpalan tanah menjerat kaki-kaki besar puluhan Dwarapala di barisan terdepan. Karena Dwarapala di barisan depan tersebut tak bisa melangkah maju, maka yang di belakang pun tak bisa bergerak.

“Segera pulihkan tenaga dalam!” seru Canting Emas. Ia sadar bahwa Panglima Segantang tak akan dapat berlama-lama menahan mereka. Ia pun sadar, dengan waktu yang tersedia, tak akan banyak tenaga dalam yang dapat dikumpulkan. Pada saat yang sama, aroma keringat Aji Pamungkas membuat kepalanya pening.

“Wahai Nini Mambang Angin, kumohon inayat akan pemulihan… Ilalang Bunian: Pencar!”

Kembali Kuau Kakimerah berkomat-kamit. Jemari tangan kanannya kini memegang sebatang bunga ilalang. Ia lalu meniup pelan. Bunga-bunga ilalang yang berwarna putih kecil-kecil terbang melayang ringan. Beberapa gumpal bunga ilalang menempel lembut di tubuh Canting, Panglima, dan Aji. Ketiganya pun merasakan hampir sepuluh persen tenaga dalam mereka perlahan kembali pulih.

“Aku… aku baru saja ditiup oleh Kukame. Indahnya hidup ini…” Aji Pamungkas berselonjor di rerumputan.

“Terima kasih, adik kecil,” ungkap Panglima Segantang.

“Kuau Kakimerah…” Canting Emas tak melanjutkan kata-katanya.

Kuau Kakimerah lalu terhuyung kehilangan keseimbangan. Namun, ia masih bisa menguasai tubuh untuk duduk perlahan.


“Sepertinya teman-temanmu membutuhkan bantuan,” ujar Guru Muda Anjana.

“Mereka baik-baik saja,” jawab Bintang tenang.

“Mereka tidak baik-baik saja!” seru Komodo Nagaradja. Pada tahap ini, ia tahu bahwa bila muridnya sudah penasaran, maka tak ada yang dapat membendung kelakuan aneh-anehnya.

“Guru Muda Anjana… Satu pertanyaan terakhir…”


“Bersiaplah!” seru Panglima. Kedua telapak tangannya menyentuh tanah. Menyerap dan menyuling tenaga alam. Ia tahu betul bahwa jerat yang ia pasang tak akan bertahan lebih lama lagi.

“Kukame… Canting… mendekatlah… aku hendak memeluk kalian,” Aji Pamungkas berbisik.

“Hentikan kelakuan mesummu!” seru Canting Emas.

“Krek!” Gumpalan tanah di kaki salah satu Dwarapala mulai merekah.

Canting, Panglima dan Aji, sadar bahwa paling banyak mereka hanya memiliki 30an persen tenaga dalam. Sedangkan Kuau, tenaga dalamnya hanya tersisa 10 persen. Bila sedemikian banyak Dwarapala merangsek maju, mereka kemungkinan hanya bisa bertahan sekitar lima menit…

“Dum! Dum! Dum!”

Tetiba terdengar suara ledakan demi ledakan. Keempat anak remaja yang kini dikelilingi oleh ratusan Dwarapala paham betul apa arti dari ledakan tersebut... Bahwa ada yang menghancurkan Dwarapala di barisan belakang sana… secara beruntun!

“Banyak waktu luang untuk mengisi tenaga dalam!” seru Panglima Segantang. Ia sadar bahwa sahabatnya sudah kembali.

Bintang yang telah selesai berdiskusi dengan Guru Muda Anjana, mulai menjagal Dwarapala di urutan belakang. Tiga tinju berkecepatan tinggi dengan mudahnya menghantam satu demi satu Dwarapala yang membelakangi dirinya.

“Konsentrasi untuk menyerap tenaga dalam!” seru Canting Emas. Ia dapat mengira-ngira apa yang sedang terjadi.

“Dududududum!”

Terdengar ledakan yang lebih besar. Kalau diperhatikan dengan seksama, sebenarnya bukanlah ledakannya yang lebih besar, melainkan ledakan terjadi di saat yang hampir bersamaan… Sekali menikamkan Tempuling Raja Naga, maka lima Dwarapala yang berbaris teratur dengan mudahnya ditembus!

“Dududududum!”

“Apa yang kawanmu lakukan? Kesaktian unsur apa yang ia kerahkan?” ujar Canting Emas ke arah Panglima Segantang. Canting Emas masih waspada untuk mempertahankan diri jikalau ada Dwarapala yang terpasung merangsek maju.

Panglima hanya memejamkan mata. Ia benar-benar berkonsentrasi menyerap dan menyuling tenaga alam.

“Dum! Dum! Dum!”

Kembali terdengar ledakan dari arah yang berlawanan. Bintang telah berpindah tempat. Proses menggandakan diri Dwarapala kalah cepat dengan rangkaian serangannya. Ia pun bergerak mencari mangsa di sisi yang lain.

“Dududududum!”

Kembali Tempuling Raja Naga dengan digdaya menembus lima Dwarapala secara berurutan.

Lima menit sudah suara ledakan sahut-menyahut! Belum ada juga tanda-tanda akan berhenti. Canting Emas pun akhirnya memejamkan mata dan berkonsentrasi penuh menyerap tenaga alam.

Lima menit kembali berlalu…

“Duar!”

Tetiba terdengar suara ledakan membahana ke seluruh penjuru lapangan. Butiran-butiran batu tubuh Dwarapala berhamburan kemana-mana. Beberapa Dwarapala di barisan depan pun ikut meledak! Itu bukanlah suara ledakan Dwarapala… ledakan beruntun belasan Dwarapala sekalipun tak mungkin menghasilkan suara demikian keras. 

Itu adalah dentuman Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!

Kepulan debu menjunjung tinggi ke udara. Dari puing-puing puluhan Dwarapala yang bertebaran, Bintang lalu berjalan ringan ke arah empat orang anggota kelompok. Mereka tak lagi berkonsentrasi menyerap tenaga alam… Suara dentuman barusan justru memecah konsentrasi!

“Penempatan berhasil,” gumam Bintang Tenggara pelan.

Penempatan! Sejak awal Bintang menjauh dari kelompok bukan hanya bertujuan untuk mencari kemungkinan membuka segel. Bukan. Ia telah menyadari bahwa ujian ini bertujuan untuk menghancurkan sebanyak mungkin Dwarapala. Ia pun menjauh dengan tujuan utama agar Dwarapala yang memiliki kemampuan menggandakan diri, berkumpul sebanyak mungkin di satu titik. Untuk mencapai tujuan itu, cara paling cepat dan mudah adalah dengan membiarkan kelompok tersebut menjadi sasaran.

Dengan menempatkan mereka di tengah sana, Dwarapala pun akan mudah dijagal. Apalagi, para Dwarapala akan berada dalam posisi membelakangi Bintang yang datang dari sisi luar.

Penempatan!

Sebuah kebetulan yang mempertemukannya dengan Guru Muda Anjana pun dimanfaatkan sebaik mungkin. Pertanyaan terakhir Bintang adalah… “Apakah ada yang menyaksikan ujian ini selain Guru Muda Anjana?” Jawaban lawan bicaranya adalah, “Tidak ada.”

Karena percaya bahwa Guru Muda Anjana adalah pribadi yang baik, jawaban pertanyaan terakhir ini memberikan kesempatan bagi Bintang untuk melepaskan Tinju Super Sakti!

Keempat pasang mata menyaksikan kehadiran Bintang. ‘236’ adalah angka yang muncul tepat di atas kepalanya!



Catatan:

*) ‘Dananjaya’ merupakan nama lain dari Dewa Api, berarti ‘yang menaklukkan musuh’.

**) Cakra dapat diartikan sebagai pusat energi dalam tubuh, tenaga dalam.

      Pranayama berasal dari kata ‘prana’ yang berarti napas dan ‘ayama’ yang artinya peregangan atau perluasan. Pranayama jadi berarti perluasan pernapasan atau ilmu pernapasan.

Semoga tidak membingungkan…

‘Zirah Rakshasa: Kandik Agni’ dan ‘Zirah Rakshasa: Cakra Pranayama’ adalah kemampuan dari Zirah Rakshasa yang dikenakan Canting Emas.

‘Ksatria Agni, Bentuk Pertama: Dananjaya’ adalah jurus sakti unsur api yang dimiliki Canting Emas.

Terima kasih atas tambahan review melalui blog!

http://www.catatanamanda.com/2017/04/Lamafa.html

www.andiyaniachmad.com/2017/04/bintang-tenggara-sang-legenda-lamafa.html 

http://momandnews.blogspot.co.id/2017/04/legenda-lamafa.html?m=1