Episode 9 - Episode 9

Selli membuka facebooknya. Masih dengan kecepatan internet yang payah. Sekuat tenaga tidak mengetik nama Elren di pencarian.

*

Elren membuka facebooknya. Dengan kecepatan internet yang rata-rata. Mencari nama Selliana di pencarian. Dan muncul dua ratus Selliana.

*

Siapa pun yang tidak membawa tabel kimia akan diusir dari kelas. Dan siapa pun yang diusir dari kelas pastilah akan digiring ke ruangan bimbingan konseling. Dan siapa pun yang berada dalam ruangan konseling sudah pasti bermasalah. Dan siapa pun yang bermasalah dosanya akan tercatat sepanjang tahun.

Selli tidak membawa tabel kimia. Dia tidak tahu harus mendapatkan benda itu dari mana. Dan dia tidak tahu kalau benda itu harus dibawa setiap hari Rabu. Orang pertama yang Selli beritahu adalah Flora.

“Itu kabar buruk. Beredar kabar kalau Mr. Hot terlahir dengan toleransi setipis benang.”

“Terima kasih sudah mengingatkan. Jadi, apakah kira-kira ada solusi?”

“Mungkin kamu bisa mencoba untuk pinjam ke kelas lain.”

“Aku tidak mengenal siapa pun di sini.”

“Saya juga.”

“Kita bisa membuat fotokopi-annya?”

“Seharusnya itu ide yang bagus. Tapi akan jadi masalah yang lebih besar kalau ketahuan.”

“Jam berapa pelajaran Kimia?”

“Setelah istirahat.”

“Kita masih punya empat jam untuk mencari cara.”

Elren meletakkan tasnya di kursi, menggantung jaket dengan kupluk bintangnya di punggung kursi, dan langsung duduk sambil menghadap ke belakang.

“Apa aku bisa mengetahui nama akun facebookmu?” pertanyaan pertama Elren.

“Jangan sekarang,” jawab Selli, menubrukkan kepalanya pelan ke atas meja.

“Ada masalah?”

 “Selli tidak membawa tabel kimia,” timpal Flora.

“Ada yang lebih buruk lagi?” tanya Elren.

“Tidak, hanya itu.”

“Aku bisa membawakanmu tabel-sialan-kimia itu,” kata Elren.

“Jangan berlagak,” kata Selli.

“Aku bisa pergi dari sekolah saat jam istirahat. Aku mengenal beberapa penjual Tabel Kimia yang bahkan tidak tahu mengapa mereka harus menjual benda itu. Sepuluh menit jika ditempuh naik sepeda.”

“Benarkah? Berapa aku harus membayarmu?” seberkas harapan terpancar dari mata Selli.

“Dengan nomor teleponmu?”

“Lupakan.”

“Bercanda. Aku satu dari sekian banyak orang yang tidak akan menerima bayaran sebelum pekerjaanku selesai. Jadi, kau bisa membayarku setelah Tabel Kimiamu sampai.”

“Terima kasih.”

“Kembali.”

*

Nyatanya Elren memang menghilang selama jam istirahat. Selli sedikit membuntutinya dengan jarak yang aman. Memastikan apakah memang semudah itu keluar dari sekolah saat jam istirahat. Dari jarak Selli berdiri, terlihat Elren menaiki sepedanya mengatakan sesuatu kepada satpam penjaga, Elren juga menunjuk-nunjuk jam tangannya—bahkan mereka terlihat sedang melakukan duet pantomim, kemudian satpam membiarkannya pergi dan Elren langsung memakai kupluk jaketnya.

Tabel-Kimia-Keparat.

Selli sudah menamai tabelnya. Elren memberikannya tepat dua menit sebelum bel tanda masuk berdering.

“Kita bisa hitung-hitungan saat jam pulang. Aku harus mengisi formulir ekstrakurikuler yang sempat kuabaikan saat hari pertama di ruang Osis.” Itu adalah kalimat terakhir Elren hari itu selama jam kelas berlangsung. Sebab ia baru kembali saat bel pulang berbunyi.

“Baiklah, aku kena beberapa masalah,” kata Elren setelah Selli melemparkan tabel kimia miliknya ke meja yang berada di depannya. Tersisa mereka berdua di dalam kelas, “1. Tidak ada satu pun tempat yang menjual tabel kimia semacam itu di sekitar sini. Mereka hanya ada di toko buku besar dan jaraknya amat jauh, 2. Aku tidak mau menghadapi guru kimia mana pun yang bisa marah hanya karena muridnya tidak membawa benda tipis yang tingkat kegunaannya sangat minim itu, 3. Aku tidak bisa melihat gadis sepertimu dihukum di minggu pertama.”

Gadis sepertimu dia bilang.

Memangnya aku seperti apa?

“Dan 4. Tidak ada formulir ekstrakurikuler yang kau isi. Kita bahkan belum genap seminggu,” kata Selli.

 “Ya, kau benar.”

“Ke mana kau?”

“Aku bersembunyi di toilet.”

“Jadi, kau jadi sok pahlawan?”

“Tidak juga. Aku tidak suka pelajaran kimia. Dan seandainya kau tidak mengumumkan bahwa kau melupakan tabel kimiamu, aku tetap akan berada di toilet.”

“Kau bisa melakukan dengan cara yang lebih normal, kan? Seperti, ‘Selli, ini tabel kimiaku, aku mau bolos dulu’ yah, semacam itu.”

Elren sedikit membuat tatapan menerawang.

 “Yah, itu bakal kurang dramatis,” jawabnya.

“Aku tidak butuh tabel kimiamu. Lagipula kau benar-benar menamai tabel kimia milikmu? Ya ampun. Culun banget.”

“Memang apa salahnya menamai sesuatu?”

“Tapi, kan, itu tabel kimia. Tabel kimia-mu. Dan ada nama Elren di situ. Dan kau memberikan milikmu itu padaku seolah kau baru saja pergi menyebrangi atlantik untuk benda sialan itu. Kau hampir berhasil untuk bertingkah sok jagoan.”

“Jadi, menurutmu aku melakukan sesuatu yang salah?”

“Dalam pengertian yang paling lugu. Ya.”

“Oke, aku minta maaf.”

“Tidak perlu. Aku mau pulang. Dan mencari tabel kimia milikku sendiri. Ambil tabel kimia milikmu dan hargai itu.” Dan Selli melewati Elren dengan cara yang jelas-jelas membawa peringatan jangan-ikuti-aku.

Elren mengambil tabel kimianya, bertanya-tanya dalam hati apakah cewek itu punya kanker otak atau semacamnya sampai-sampai tindakannya sering tidak masuk akal. Elren memerhatikan tabel kimianya. Dalam beberapa detik baru sadar kalau ada yang tidak beres dari tabel itu. Tidak beres dalam arti yang merangsangnya untuk bertindak. Entah bertindak apa.

Tiap kolom tabelnya tertulis angka.

Dengan pulpen biru menyala.

Bukan susunan angka acak.

Tapi sebuah nomor.

Nomor telepon.

Dan Elren tersenyum.